MAKALAH PPG

download MAKALAH PPG

of 33

  • date post

    13-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    483
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of MAKALAH PPG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman (Suryana, 2003). Pangan merupakan kebutuhan hidup terpenting bagi manusia setelah udara dan air. Oleh karenanya ketahanan pangan individu, rumah tangga, dan komunitas merupakan hak azasi manusia (Krisnamurthi, 2003). Ketahanan pangan menurut Undang-undang No.7 Tahun 1996 tentang pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi seluruh rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau (Departemen Pertanian, 2004). Mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan telah disepakati menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional di Indonesia. Paling tidak ada tiga alasan penting yang melandasi kesepakatan tersebut : Pertama, ketahanan pangan merupakan prasyarat bagi terpenuhinya hak azasi atas pangan setiap penduduk; kedua konsumsi pangan dan gizi yang cukup merupakan basis bagi pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas; ketiga, ketahanan pangan merupakan basis bagi ketahanan ekonomi, bahkan bagi ketahanan nasional. Situasi krisis pangan yang dialami oleh berbagai bangsa, termasuk Indonesia memberikan pelajaran bahwa ketahanan pangan harus diupayakan sebesar mungkin bertumpu pada sumberdaya nasional, karena ketergantungan yang besar pada pangan impor menyebabkan kerentanan terhadap gejolak ekonomi, sosial dan politik. Pertanyaan pokok mengenai ketahanan pangan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan rakyat banyak terutama rakyat miskin dilihat dari aspek

ketersediaan, jumlah, mutu, harga, kontinuitas, keterjangkauan dan stabilitas. Fenomena yang ada saat ini menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut masih belum dapat dijawab secara tuntas. Kasus gizi buruk dan busung lapar NTT dan NTB juga ancaman busung lapar di daerah Solo dan Boyolali dan juga jatah Raskin di daerah Klaten yang tidak mencukupi serta daerah-daerah lain yang rawan pangan merupakan bukti dari pertanyaan yang belum bisa dijawab. Sebagai negara agraris dengan kondisi iklim, kesuburan tanah dan para ahli pertanian yang begitu banyak hampir semua produk pangan yang dibutuhkan pada dasarnya dapat diproduksi di Indonesia. Namun, ironisnya Indonesia yang pernah berswasembada beras pada tahun 1984 ternyata kini harus mengimpor sebagian besar kebutuhan pangannya. Bahkan pada tahun 2003 Indonesia adalah Negara pengimpor beras terbesar di dunia, walaupun sesuai informasi terakhir menyatakan bahwa sampai akhir Juni 2005 pemerintah sudah tidak perlu mengimpor beras lagi karena produksi nasional sudah mencapai 30 juta ton. Namun dengan terjadinya banyak kekeringan lahan persawahan yang terjadi akhir-akhir ini akan dapat mengancam ketersediaan pangan untuk waktu-waktu yang akan datang. Ketahanan pangan merupakan persoalan hidup mati suatu bangsa. Seseorang atau sekelompok masyarakat bila tidak makan dalam jangka waktu tertentu akan menemui ajal. Bila makan, tetapi dengan asupan yang tidak memenuhi standar gizipun hanya menghasilkan generasi yang lemah, kurang sehat, tidak cerdas dan malas. Dewasa ini, harga sembako seperti beras, beras, kedelai dan minyak goreng semakin hari semakin tidak terjangkau oleh daya beli rakyat Indonesia. Akibatnya, prahara kekurangan pangan dan gizi buruk merebak di berbagai daerah. Berita tentang adanya sejumlah rakyat yang kelaparan, makan nasi aking, lumpuh layu dan bunuh diri lantaran tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok menghiasi media massa hampir setiap hari. Penderita gizi buruk semakin bertambah. Jika pada tahun 2005 anak balita yang menderita gizi buruk sebanyak 1,8 juta jiwa, pada tahun 2007 menjadi 5 juta jiwa (prakarsa-rakyat.org).

Sumber lain memaparkan hal yang lebih memprihatinkan lagi, tercatat 2 sampai 4 dari 10 anak balita di 72 kabupaten terkena busung lapar, sekitar 11 juta dari 13 juta anak usia sekolah di seluruh Indonesia kini mengalami anemia gizi (republika.co.id). Fenomena tersebut sungguh ironi yang memilukan, karena terjadi di negara agraris dan maritim terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan maritim terbesar, namun pada kenyataanya masih sangat banyak rakyatnya yang kelaparan dan terkena gizi buruk. Fenomena gizi buruk sebagian besar terjadi akibat kemiskinan, diperparah dengan perilaku para komprador pemburu keuntungan yang selama ini kecanduan mangimpor secara besar-besaran aneka bahan pangan, mulai dari beras, kedelai, gula, daging sampai buah-buahan. Impor bahan pangan yang berlebihan dapat menyengsarakan para petani, meningkatkan pengangguran, menghamburkan devisa dan membunuh sektor pertanian yang mestinya menjadi keunggulan kompetitif bangsa. Dewasa ini Indonesia mengimpor sekitar 2,5 juta ton beras/tahun (terbesar di dunia); 2 juta ton gula/tahun (terbesar ke dua); 1,2 juta ton kedelai/tahun; 1,3 juta ton jagung/tahun; 5 juta ton gandum/tahun dan 550.000 ekor/tahun. Sungguh angka yang mencenganngkan bagi sebuah negara yang memiliki kondisi agroekologis nusantara cocok untuk budi daya semua bahan pangan tersebut. Buktinya Indonesia pernah mengukir prestasi menumental yang diakui dunia (FAO), yaitu swasembada beras pada tahun 1984. indonesia juga pernah mencapai swasembada gula, jagung dan kedelai (prakarsa-rakyat.org). Tragedi kerawanan pangan dan gizi memang sungguh ironis terjadi di Negara sesubur Indonesia. Padahal pemerintah terus berupaya meningkatkan dari APBN untuk bantuan bagi rakyat miskin diantaranya melauli asuransi lesehatan rakyat miskin (Askeskin). Jika pada tahun 2005 anggaran yang disiapkan untuk rakyat miskin (Askeskin) adalah sebesar 2,3 triliun, tahun 2006 sebesar 3,6 triliun, tahun 2007, 2,2 triliun dan untuk 2008 dianggarkan 4,6 triliun (lampungnews.com).

Nampaknya ada banyak hal yang perlu dicermati dari kebijakan-kebijakan pemerintah beserta pelaksanaanya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat maka penulis mencoba menyusun sebuah karya ilmiah berjudul Kebijakan Pangan dan Masalah Gizi di Indonesia B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakan diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu: 1. Bagaimana kebijakan pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat? 2. Bagaimana aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi yang ada di masyarakat? 3. Apa penyebab munculnya permasalah gizi di Indonesia? 4. Apa dampak terjadinya permasalahan gizi di Indonesia? 5. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia? C. Tujuan Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk: 1. Mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. 2. Mengetahui aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi yang ada di masyarakat. 3. Mengetahui penyebab munculnya permasalahan gizi di Indonesia. 4. Mengetahui dampak terjadinya permasalahan gizi di Indonesia. 5. Menawarkan solusi untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Ketahanan Pangan Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Kinerja dari masing-masing subsistem tersebut tercermin dalam hal stabilitas pasokan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, serta pemanfaatan pangan (food utilization) termasuk pengaturan menu dan distribusi pangan dalam keluarga. Kinerja dari ketiga subsistem ketahanan pangan akan terlihat pada status gizi masyarakat, yang dapat dideteksi antara lain dari status gizi anak balita (usia di bawah lima tahun). Apabila salah satu atau lebih, dari ke tiga subsistem tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi masalah kerawanan pangan yang akan berdampak peningkatan kasus gizi kurang dan/atau gizi buruk. Dalam kondisi demikian, negara atau daerah dapat dikatakan belum mampu mewujudkan ketahanan pangan. B. Kebijakan pangan Kebijakan pangan merupakan bagian integral dari kebijakan pembangunan nasional. Secara spesifik, kebijakan tersebut dirumuskan untuk mengelola potensi nasional, memanfaatkan peluang, serta mengatasi masalah dan tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Beberapa rekomendasi kebijakan pangan yang perlu diterapkan dan dilanjutkan adalah sebagai berikut:1. Adanya jaminan ketersediaan pangan bagi penduduk miskin dan rawan pangan di

seluruh pelosok tanah air termasuk daerah-daerah yang tertimpa bencana alam.

2.

Perlu adanya kebijakan untuk mengelola pertumbuhan penduduk yang bertujuan mengharmoniskan kualitas dan kuantitas kependudukan. Mengefektifkan kebijakan yang mengembangkan sistem insentif untuk mengendalikan konversi lahan pertanian dan mendorong persebaran penduduk dengan menyebarkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa.

3.

4.

Untuk mengatasi kekeringan, kebijakan yang harus ditempuh antara lain : upayaupaya konkret seperti penyiapan dan pemberian bantuan bahan pangan dan air minum/air bersih; realisasi pemberian kredit pedesaan untuk aktivitas ekonomi dan alternatif lapangan kerja nonpertanian; disamping itu kebijakan untuk memperbaiki pengelolaan sumber daya air melalui konservasi air.

5.

Pemerintah harus terus menerus memberikan perangsang pada petani produsen beras domestik agar bergairah meningkatkan produksi beras jika perlu melalui berbagai subsidi sarana produksi termasuk kredit usaha tani.

6. 7.

Melanjutkan pelaksanaan program akselerasi peningkatan produktivitas industri gula nasional. Di tingkat paling dasar pemerintah dan Bulog beserta jajarannya di daerah wajib melaksanakan tugasnya, yaitu melaksanakan pengadaan beras, membeli gabah petani sesuai harga dasar (HPP) atau paling tidak harga di tingkat petani jangan sampai terlalu jauh dari harga referensi.

8.

Pemerintah memberi kemudahan bagi importer dan distributor pada saat produksi dalam negeri anjlok karena hal-hal yang sukar dihindari , sehingga impor beras justru sangat diperlukan serta diikuti sanksi hukum bagi semua pelaku impor illegal. Pemerintah juga harus tetap melaksanakan kebijakan subsidi di daerahdaerah rawan pangan. Sebaliknya pada musim panen raya atau pada saat produksi domestik melimpah, pengenaan bea masuk impor jelas sangat relevan, karena petani harus dilindungi dari ancaman anjloknya tingkat harga.

9.

Semangat otonomi daerah harus dijadikan modal utama untuk segera melakukan desentralisasi manajemen stok beras.

Akhirnya pemerintah harus segera merumuskan suatu kebijakan pangan yang menyeluruh serta menjadi acuan semua pihak, yang meliputi kejelasan keterkaitan antara kebijakan harga dasar (HPP), kebijakan tariff, konversi lahan, pembangunan infrastruktur, sistem perbankan, riset dan lain-lain. Kebijakan pangan yang komprehensif tersebut harus mengurangi ketergantungan yang berlebihan pada beras dengan menyeimbangkan harga relatif beras terhadap pangan lain dan mengembangkan berbagai infrastruktur penunjang bagi pengembangan kegiatan non beras., walaupun kebijakan perberasan masih merupakan salah satu komponen utamanya. A) Sub Sistem Ketersediaan Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Terdapat acuan kuantitatif untuk ketersediaan, yaitu Angka Kecukupan Gizi (AKG) rekomendasi Widya Karya Pangan dan Gizi VIII tahun 2004, dalam satuan rata-rata perkapita perhari untuk energi sebesar 2.200 Kilo kalori dan protein 57 gram. Angka tersebut merupakan standar kebutuhan energi bagi setiap individu agar mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Di samping itu juga terdapat acuan untuk menilai tingkat keragaman ketersediaan pangan, yaitu Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100 sebagai PPH yang ideal. Kinerja keragaman ketersediaan pangan pada suatu waktu dapat dinilai dengan metoda PPH (suaramerdeka.com). Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari tiga sumber yaitu: (1) produksi dalam negeri, (2) impor pangan dan (3) pengelolaan cadangan pangan. Dengan jumlah penduduk cukup besar dan kemampuan ekonomi relatif lemah, maka kemauan untuk menjadi bangsa yang mandiri di bidang pangan harus terus diupayakan. Karena itu, bangsa Indonesia mempunyai komitmen tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangannya dari produksi dalam negeri. Impor pangan merupakan pilihan akhir,

apabila terjadi kelangkaan produksi pangan dalam negeri. Hal ini sangat penting untuk menghindari ketergantungan pangan terhadap negara lain, yang dapat berdampak pada kerentanan oleh campur tangan asing baik secara ekonomi maupun politik. Hal yang perlu disadari adalah, bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi sendiri, khususnya bahan pangan pokok, juga menyangkut harkat martabat dan kelanjutan eksistensi bangsa. Impor pangan sebagai alternatif terakhir untuk mengisi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan pangan dalam negeri, diatur sedemikian rupa agar tidak merugikan kepentingan para produsen pangan di dalam negeri, yang mayoritas petani skala kecil, juga kepentingan konsumen khususnya kelompok miskin. Kedua kelompok produsen dan konsumen tersebut rentan terhadap gejolak perubahan harga yang tinggi. Cadangan pangan merupakan salah satu sumber pasokan untuk mengisi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan dalam negeri atau daerah. Stabilitas pasokan pangan dapat dijaga dengan pengelolaan cadangan yang tepat. Cadangan pangan terdiri atas cadangan pangan pemerintah dan cadangan pangan masyarakat. Cadangan pangan masyarakat meliputi rumah tangga, pedagang dan industri pengolahan. Cadangan pangan pemerintah (pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota) hanya mencakup pangan tertentu yang bersifat pokok. Untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan produksi pangan domestik diperlukan kebijakan yang kondusif, meliputi insentif untuk berproduksi secara efisien dengan pendapatan yang memadai, serta kebijakan perlindungan dari persaingan usaha yang merugikan petani. Seperti dibahas di muka, kebijakan perdagangan perlu diterapkan dengan tepat untuk melindungi kepentingan produsen maupun konsumen. B) Subsistem Distribusi Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien, sebagai prasyarat untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat

memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu, dengan harga yang terjangkau. Bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar musim menuntut kecermatan dalam mengelola sistem distribusi, sehingga pangan tersedia sepanjang waktu di seluruh wilayah. Kinerja subsistem distribusi dipengaruhi oleh kondisi prasarana dan sarana, kelembagaan dan peraturan perundangan. Sebagai negara kepulauan, selain memerlukan prasarana dan sarana distribusi darat dan antar pulau yang memadai untuk mendistribusikan pangan, juga input produksi pangan ke seluruh pelosok wilayah yang membutuhkan. Untuk itu penyediaan prasarana dan sarana distribusi pangan merupakan bagian dari fungsi fasilitasi pemerintah, yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan aspek efektivitas distribusi pangan sekaligus aspek efisiensi secara ekonomi. Biaya distribusi yang paling efisien harus menjadi acuan utama, agar tidak membebani produsen maupun konsumen secara berlebihan. Lembaga pemasaran berperan menjaga kestabilan distribusi dan harga pangan. Lembaga ini menggerakkan aliran produk pangan dari sentra-sentra produksi ke sentra-sentra konsumsi, sehingga tercapai keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan. Apabila lembaga pemasaran bekerja dengan baik, maka tidak akan terjadi fluktuasi harga terlalu besar pada musim panen maupun paceklik, pada saat banjir maupun sungai (sebagai jalur distribusi) mengering, ketika ombak normal maupun ombak ganas, saat normal maupun saat bencana. Peraturan-peraturan pemerintah daerah, seperti biaya retribusi dan pungutan lainnya dapat mengakibatkan biaya tinggi yang mengurangi efisiensi kinerja subsistem distribusi. Di samping itu, keamanan di sepanjang jalur distribusi, di lokasi pemasaran maupun pada proses transaksi sangat mempengaruhi besarnya biaya distribusi. Untuk itu, iklim perdagangan yang adil, khususnya dalam penentuan harga dan cara pembayaran perlu diwujudkan, sehingga tidak terjadi eksploitasi oleh salah satu pihak terhadap pihak lain (pihak yang kuat terhadap yang lemah). Dalam hal ini,

penjagaan keamanan, pengaturan perdagangan yang kondusif dan penegakan hukum menjadi kunci keberhasilan kinerja subsistem distribusi. Stabilitas pasokan dan harga merupakan indikator penting yang menunjukkan kinerja subsistem distribusi. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani produsen, pengolah, pedagang hingga konsumen, sehingga berpotensi menimbulkan keresahan sosial. Oleh sebab itu hampir semua negara melakukan intervensi kebijakan untuk menjaga stabilitas harga pangan pokok yang mempengaruhi kehidupan sebagian besar masyarakat. Dalam kaitan ini Pemerintah telah menerapkan kebijakan stabilitasi harga pangan, melalui pembelian maupun penyaluran bahan pangan (beras) oleh Perum Bulog. Sistem perdagangan pangan global yang semakin terbuka dapat menjadi kendala dalam upaya stabilitasi harga pangan. Kebijakan-kebijakan subsidi domestik, subsidi ekspor dan kredit ekspor yang diterapkan oleh negara-negara eksportir telah menyebabkan harga pangan global terdistorsi dan tidak merefleksikan biaya produksi yang sebenarnya. Untuk melindungi produsen dalam negeri dari persaingan yang tidak adil, diperlukan kebijakan proteksi secara selektif dengan perhitungan yang cermat. C) Subsistem Konsumsi Subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalan, Di samping juga efisiensi untuk mencegah pemborosan. Subsistem konsumsi juga mengarahkan agar pemanfaatan pangan dalam tubuh (food utility) dapat optimal, dengan peningkatan kesadaran atas pentingnya pola konsumsi beragam dengan gizi seimbang mencakup energi, protein, vitamin dan mineral, pemeliharaan sanitasi dan higiene serta pencegahan penyakit infeksi dalam lingkungan rumah tangga. Hal ini dilakukan melalui pendidikan dan penyadaran

masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemauan menerapkan kaidah kaidah tersebut dalam pengelolaan konsumsi. Kinerja subsistem konsumsi tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga. Pola konsumsi dalam rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kondisi ekonomi, sosial dan budaya setempat. Untuk itu, penanaman kesadaran pola konsumsi yang sehat perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan formal dan non-formal. Dengan kesadaran gizi yang baik, masyarakat dapat menentukan pilihan pangan sesuai kemampuannya dengan tetap memperhatikan kuantitas, kualitas, keragaman dan keseimbangan gizi. Dengan kesadaran gizi yang baik, masyarakat dapat meninggalkan kebiasaan serta budaya konsumsi yang kurang sesuai dengan kaidah gizi dan kesehatan. Kesadaran yang baik ini lebih menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi masing-masing anggota keluarga sesuai dengan tingkatan usia dan aktivitasnya. Acuan kuantitatif untuk konsumsi pangan adalah Angka Kecukupan Gizi (AKG) rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) ke-VIII tahun 2004, dalam satuan rata-rata per kapita perhari, untuk energi 2.000 Kilo kalori dan protein 52 gram. Acuan untuk menilai tingkat keragaman konsusi pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100 sebagai pola yang ideal. Kinerja keragaman konsumsi pangan pada suatu waktu untuk komunitas tertentu dapat dinilai dengan metoda PPH (suaramerdeka.com). Dalam kondisi kegagalan berfungsinya salah satu subsistem di atas, maka pemerintah perlu melakukan tindakan intervensi. Berbagai macam intervensi yang dapat dilakukan adalah: (a) pada subsistem ketersediaan berupa bantuan/subsidi saprodi, kebijakan harga pangan, kebijakan impor/ekspor, kebijakan cadangan pangan pemerintah; (b) pada subsistem distribusi berupa penyaluran pangan bersubsidi, penyaluran pangan untuk keadaan darurat dan operasi pasar untuk pengendalian harga pangan; dan (c) pada subsistem konsumsi dapat dilakukan pemberian makanan tambahan untuk kelompok rawan pangan/gizi buruk, pemberian bantuan tunai untuk meningkatkan kemampuan mengakses pangan.

C. Akibat Gangguan Gizi terhadap Fungsi Tubuh Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bilamana tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebih, sehingga menimbulkan efek toksik atau membahayakan. Baik pada status gizi kurang maupun status gizi berlebih berarti terdapat ganguan gizi. Gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer atau sekunder. Faktor primer adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas dan kualitas yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distrubusi pangan, kemiskinan, ketidaktahuan, kebiasaan pola makan yang salah dan sebagainya. Faktor sekunder meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah makanan di konsumsi. Misalnya faktor-faktor yang menyebabkan terganggunya pencernaan, seperti gigi-geligi yang tidak baik, kelainan struktur saluran cerna dan kekurangan enzim. Faktor-faktor yang menggangu absorbsi zat-zat gizi adalah adanya parasit, penggunaan laksan/obat pencuci perut dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme dan utulisasi zat-zat gizi adalah penyakit hati, kencing manis, kanker, penggunaan obat-obat tertentu, minuman beralkohol dan sebagainya. Di beberapa bagian di dunia terjadi masalah gizi kurang atau masalah gizi lebih secara epidemis. Negara-negara berkembang seperti sebagian besar Asia (termasuk Indonesia), Afrika, Amerika Tangah dan Amerika Selatan pada umumnya

mempunyai masalah gizi kurang. Sebaliknya, negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat pada umumnya mengalami masalah gizi lebih (Almatsier 2006).

D. Pemecahan Masalah Gizi yang Pernah Dilakukan Sejak pelita I sampai dengan pelita V dalam PJP I, masalah gizi utama yang dihadapi masyarakat di Indonesia adalah berturut-turut KEP (Kurang Energi Protein), KVA (kurang vitamin A), AGB (Anemia Gizi Besi), dan GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium). Hal tersebut berarti terdapat urutan prioritas masalah gizi yang harus ditangani pemerintah, baik karena prevalinsinya maupun dampak gangguan fisik yang ditimbulkannya. Pada saat itu (pelita I-V), berbagai instrumen telah digunakan untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat, terutama melalui Posyandu, UPGK maupun PKK. Sebagai bukti keberhasilan penerapan instrumen tersebut, ditunjukkan oleh survei nasional vitamin A tahun l987 dan susenas tahun 1992 bahwa telah terjadi penurunan prevalensi KEP dari 18,9% menjadi 11,8%.

BAB III ANALISIS MASALAH DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Masalah-masalah pemenuhan gizi masyarakat tentunya sangat berkaitan erat dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah mengenai pemenuhan kebutuhan pangan terutama bagi rakyat miskin. Berikut dipaparkan mengenai kebijakan pemerintah serta aplikasinya terkait kebutuhan gizi masyarakat. A. Kebijakan Pemerintah Terkait Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masayarakat Permasalaha pemenuhan kebutuhan gizi sudah muncul sejak puluhan tahun yang lalu. Oleh karena itu, sudah ada beberapa upaya dari pemerintah yang diharapkan dapat mengurangi atau bahkan menyelesaikan permasalahan gizi. Upaya pemerintah tersebut diantaranya dituangkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi. Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum, mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk memberikan jaminan kepada warganegaranya agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin. Amanat tersebut antara lain tersurat pada Pasal 28 A, Ayat 1 UUD 1945 Amandemen ke dua yang menyebutkan Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal 34 menjamin hak warganegara atas perlindungan dari diskriminasi. Undang-Undang (UU) No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia pasal 9 ayat 1 menyebutkan Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. Walaupun secara eksplisit hak atas pangan tidak disebutkan, kedua ayat tersebut secara implisit memuat perintah kepada

penyelenggara negara untuk menjamin kecukupan pangan dalam rangka memenuhi hak azasi pangan setiap warganya dan menyatakan pentingnya pangan sebagai salah satu komponen utama dalam mencapai kehidupan sejahtera lahir dan batin. Undang-Undang yang secara eksplisit menyatakan kewajiban mewujudkan ketahanan pangan adalah UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. UU tersebut menjelaskan konsep ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah bersama masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan. UU tersebut telah dijabarkan dalam beberapa Peraturan Pemerintah (PP) antara lain: (i) PP Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan yang mengatur tentang Ketahanan Pangan yang mencakup ketersediaan pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, peran pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat, pengembangan sumberdaya manusia dan kerjasama internasional; (ii) PP Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan yang mengatur pembinaan dan pengawasan di bidang label dan iklan pangan untuk menciptakan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; dan (iii) PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, yang mengatur tentang keamanan, mutu dan gizi pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan ke wilayah Indonesia, pengawasan dan pembinaan, serta peranserta masyarakat mengenai hal-hal di bidang mutu dan gizi pangan. B. Fakta Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat Dengan banyaknya kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi yang dibuat, memang sangat ironis jika di negara sebesar dan sesubur Indonesia masih terjadi kekurangan gizi pada rakyatnya. Jika permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi masih banyak terjadi, maka perlu dipertanyakan kembali perihal kebijaksanaan pemenuhan kebutuhan gizi beserta aplikasi/pelaksanaannya.

Nampaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi ketahanan pangan Indonesi sedang terpuruk. Ketahanan pangan nasional tercapai manakala kebutuhan pangan setiap rumah tangga mampu dipenuhi, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau sesuai yang diamanatkan pada UU No. 7/1996. Beranjak dari definisi tersebut, nampaknya masih sangat berbeda jauh dengan kondisi riil di Indonesia saat ini. Hal tersebut tercermin dari banyaknya kasus gizi buruk yang dialami oleh rakyat terutama balita. Masalah gizi buruk akhir-akhir ini mulai mencuat kembali, apalagi setelah ditemukannya beberapa korban meninggal akibat gizi buruk. Di akhir Pebruari, 2008 media massa dihebohkan dengan meninggalnya Dg Basse (35 th) penduduk kota Makassar bersama bayi berusia tujuh bulan yang dikandungnya. Kematian mereka dinyatakan akibat gizi buruk (dehidrasi akut) (kompas.com). Selain kasus tersebut, penyakit busung lapar juga banyak ditemukan di beberapa daerah atau kota seperti Lombok, NTB, NTT, Majene Sulawesi Barat, Serang Banten, Papua dan bahkan di Ibu Kota Negara Jakarta juga tidak ketinggalan. Mungkin saja masih banyak kasus busung lapar yang terjadi di penjuru negeri ini yang belum tercium pemberitaan. Artinya, masalah gizi telah terjadi secara bersamaan dan dalam skala luas di segenap penjuru nusantara, seperti terjadi di tahun 80-an (kompas.com). Sebenarnya fenomena masalah gizi yang terjadi di masyarakat dapat diumpamakan sebagai fenomena gunung es. Jika kasus busung lapar sudah ditemukan di masyarakat dalam jumlah hanya sekitar 10 orang, maka sesungguhnya telah tersimpan kurang energi protein (KEP) kategori ringansedang dalam jumlah yang banyak. Busung lapar adalah istilah yang diberikan oleh masyarakat dan sebenarnya tergolong masalah gizi KEP kategori berat. KEP merupakan masalah gizi yang paling mudah dan cepat terjadi di masyarakat bilamana mereka itu sedang mengalami

ketidakseimbangan konsumsi zat-zat gizi sehari. Golongan masyarakat yang peling rawan menderita KEP adalah bayi dan anak usia bawah lima tahun (balita). Karena pada usia ini anak sudah mulai memasuki masa penyapihan, sementnara tidak diikuti pemberian makanan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Menilik catatan-catatan berita tentang busung lapar di NTT di tahun 2005 menggambarkan betapa parahnya kasus ini. ampung Pos (14/06/05) memberitakan bahwa dalam kurun waktu lima bulan ada 20 orang yang meninggal akibat kelaparan di NTT. Yang mengenaskan, tujuh di antaranya sudah meninggal dunia pada saat mendapat perwatan di RSU dan 10 pasien busung lapar lainnya meninggal dunia di di panti-panti perawatan milik Care International. Di TTS sendiri hasil survai mencatat ada sekitar 26 balita menderita busung lapar, sementara 2.257 anak lainnya mengalami gizi buruk saat itu. Sementara itu pelacakan terhadap 2.000 anak balita di Kabupaten Timor Tengah Utara, 400 di antaranya mengalami status gizi buruk. Juga di Alor, dari 400 anak balita yang disurvai, 20 persen mengalami gizi kronis yang mengarah pada marasmus (Kompas, 27/5/2005). Menurut catatan Dinas Kesehatan NTT, di propinsi itu anak yang mengalami gangguan gizi buruk akut dan kronis hingga busung lapar mencapai 66.685 orang (Kompas, 07/06/05). Gizi buruk dan kasus busung lapar di Nusa Tenggara Timur telah menambah potret buram generasi penerus bangsa. Betapa mengenaskan nasib anak-anak kita. Kasus busung lapar tidak hanya melanda NTT. Paling sedikit 23,63 juta penduduk Indonesia terancam kelaparan saat itu. Busung lapar juga melanda daerah lainnya seperti di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat yang tergolong daerah lumbung beras di Indonesia. Yang juga patut disimak, kasus gizi buruk pada balita juga ditemukan di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan angka 8455 balita menderita gizi buruk (Kompas, 10/06/05). Mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00.

Seharusnya gizi buruk, busung lapar atau kelaparan di NTT, bukan sesuatu muncul secara tiba-tiba dan kemudian disebut sebagai suatu "Kejadian Luar Biasa". Terlepas dari definisi ilmu epidemiologi, jika melihat beberapa indikator indeks pembangunan manusia (IPM) di NTT, maka kasus-kasus ini harusnya sudah bisa diprediksikan. Secara nasional, tingkat kesejahteraan NTT hanya menempatiposisi 24 dari 30 propinsi. Data juga menunjukkan bahwa presentasi penduduk miskin di NTT mencapai 28.62 % (2003) itu pun kalau data itu benar - bisa jadi lebih dari angka yang dipaparkan. Menurut Data dan Informasi Kemiskinan, tahun 2003, BPS Jakarta, Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) NTT dengan jumlah penduduk miskin 28,62 persen (1.166 juta jiwa). Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka adalah 3,94 persen, sedangkan pengangguran terselubung 58,38 persen. (Kompas, 05/06/2005). C. Penyebab Terjadinya Permasalahan Pemenuhan Gizi Dalam beberapa hari belakangan ini kasus penyakit Busung Lapar telah banyak bermunculan di beberapa daerah/kota. Fenomena ini membuat sibuk pemerintah khususnya Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri, para gubernur, serta Presiden dan Wakil Presiden sekalipun tanpa kecuali. Jika ditelusuri lebih saksama apa penyebab timbulnya kembali masalah gizi ini, yang sesungguhnya berkisar satu dekade belakangan ini telah secara potensial terpendam dalam masyarakat, maka akan ada beberapa pertanyaan spekulatif penyebab utama yang berkembang. Apakah karena negara ini sedang mengalami kurang pangan dalam skala nasional? Ataukah telah terjadi pendistribusian pangan yang tidak merata di negara ini? Ataukah karena negara ini telah melakukan kekeliruan pengambilan kebijakan dalam penanganan masalah gizi masyarakat pada beberapa waktu lalu? Berikut disajikan beberapa hal yang dirasa memberikan kontribusi besar terjadinya permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan (gizi). 1. Kemiskinan Kondisi yang dialami rakyat belakangan ini sungguh memasuki fase yang memiriskan hati. Lonjakan harga berbagai bahan pangan dan komoditas strategis

membuat daya beli rakyat makin tergerus. Tak dapat dielakkan lagi jumlah penduduk berkategori miskin berlipat. Tak ada lagi cerita harga murah untuk beras, gula, minyak goreng, minyak tanah, gandum, kedelai, dan sembako lainnya. Semua itu akan menimbulkan efek berantai yang luar biasa mengerikan. Standar dan kualitas pemenuhan gizi rakyat akan semakin sulit terjangkau. Jika hal ini tidak segera ditindaklanjuti, fenomena gizi buruk secara massal akan menjadi kenyataan. Tidak tersedianya pangan dalam jumlah dan mutu yang memadai dapat diartikan sebagai telah terjadinya kemiskinan karena ada hak-hak dasar seseorang atau sekelompok orang yang tidak dapat terpenuhi. Oleh karena itu dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan maka ketersediaan pangan yang kemudian dikenal sebagai ketahanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya strategis dalam penanggulangan masalah kemiskinan. The World Food Summit (WFS) menyatakan ketahanan pangan dapat terwujud saat semua orang setiap saat memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhannya dan juga pemenuhan pangan bagi kehidupan yang sehat. Empat pilar utama dari ketahanan pangan ini adalah ketersediaan pangan, stabilitas suplai pangan, akses, dan pemanfaatan pangan. 2. Bencana Alam Tidak bisa dipungkiri bahwa sering terjadinya bencana alam merupakan salah satu penyebab adanya gizi buruk di Indonesia. Banjir, tanah longsor, tsunami, letusan gunung berapi dan bencana alam lain akan menghambat pemenuhan gizi di Indonesia. Wilayah Indonesia yang terletak di antara 2 paparan (Paparan Sunda dan Paparan Sahul) memungkinkan sering terjadinya bencana alam. Letak persinggungan 2 lempeng tersebut mengakibatkan sering terjadinya pergeseran lempeng dan gempa bumi sehingga hal tersebut berpotensi menyebabkan bencana alam. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, permasalahan pemenuhan bahan pangan bukan hanya terkait ada atau tidaknya bahan pangan namun juga terkait

dengan pendistribusian yang tidak merata. Bencana alam berpotensi menghalang proses distribusi bahan makanan sehingga bahan pangan yang ada tidak terdistribusi dengan baik. Sehingga daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau menjadi kekurangan bahan pangan yang dalam waktu relatif lama dapat menyebabkan gizi buruk.3. Korupsi

Korupsi tampaknya merupakan akar dari semua permasalahan di negeri ini. Tidak terkecuali kasus kekurangan gizi di Indonesia. Mengapa demikian? Juka ditelusuri lebih jauh hampir semua permasalahan di Indonesia berakar dari korupsi. Pantas saja negeri sebesar ini yang memiliki kekayaan alam begitu melimpah ruah belum mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, itu semua karena korupsi yang terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat. Keterkaitan korupsi dengan masalah kekurangan gizi dapat ditinjau dari banyaknya anggaran yang disiapkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, namun faktanya pembagian dana tersebut tidak tepat sasaran dengan bukti permasalahan yang tidak segera selesai. Menurut Hidayat Nurwahid, ketua MPR RI, orang yang melakukan korupsi tidak lagi memikirkan tentang dirinya dan keluarganya, bagaimana ia telah menjadikan dirinya diburu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bagaimana ia menafkahi keluarganya dengan harta haram yang tidak akan mambawa berkah bagi rumah tangganya. 4. Budaya Mc Donalisasi Budaya Mc Donalisasi adalah budaya serba instan atau dengan kata lain budaya tidak produktif. Tampaknya budaya Mc Donalisasi ini tengah merambah ke berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia. Jika dilihat dari aspek ketahanan pangan di Indonesia, budaya Mc Donalisasi inilah yang tengah menjajah bangsa ini sehingga melahirkan generasi yang malas, tidak produktif yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan diantaranya adalah pola konsumsi masyarakat.

Jika ditengok ke belakang, sewaktu budaya ini belum menyerang Indonesia, masyarakat masih bersemangat untuk produktif, menanam kebutuhan pangan yang bisa ditanam di halaman rumah. Misalnya dengan menanam sayuran di halaman rumah, sehingga sewaktu-waktu hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Namun ketika budaya ini mewabah ke seluruh sendi kehidupan bangsa Indonesia, budaya menanam bahan pangan sendiri itu sudah hampir terkikis bahkan tidak ada. Masyarakat lebih menyukai membeli produk-produk instan seperti fast food dan junk food yang memiliki kadar gizi relatif rendah. Hal ini diperparah dengan menjamurnya waralaba yang bisa ditemui di setiap tempat sehingga mewadahi budaya Mc Donaldisasi ini. Budaya ini akan meninabobokan masyarakat Indonesia dari bangkit untuk menjadi masyarakat yang produktif. Jika saja budaya produktif dikembangkan diberbagai lini kehidupan, dipastikan bangsa Indonesia akan lebih cepat berkembang, termasuk mengenai permasalah pemenuhan bahan pangan.5. Stereotip Masyarakat Tentang Gizi

Salah satu penyebab lain dari kasus gizi buruk di Indonesia adalah stereotip tentang masyarakat mengenai pentingnya kecukupan gizi. Anggapan tentang gizi yang menyebutkan bahwa gizi adalah suatu barang kebutuhan yang mahal. Padahal anggapan itu tidak selamanya benar. Gizi tidak hanya bisa didapat dengan harga yang mahal, dengan harga yang relatif murah pun gizi dapat didapat dengan mengetahui bahan-bahan bernilai gizi tinggi. Anggapan masyarakat mengenai gizi masih terpaku pada empat sehat lima sempurna, yaitu (hanya) nasi/beras yang menjadi sumber karbohidrat, sayur, lauk seperti ayam, daging sebagai sumber protein, buah-buahan yang bagi masyarakat awam hanya dimakan pada saat-saat tertentu saja, misalnya ada acara/hajatan, susu menurut stereotip kebanyakan masyarakat awam hanya diminum oleh orang kaya. Pandangan seperti itulah yang menyebabkan banyak kasus kurang gizi bagi orang-orang yang awam terhadap kandungan gizi bahan-bahan pangan.

Hendaknya masyarakat membuka wawasannya bahwa bukan hanya beras yang menjadi sumber karbohidrat, bukan hanya daging yang menjadi sumber protein, susu sangat penting bagi pertumbuhan anak.6. Kurangnya Sosialisasi Program Peningkatan Kesejahteraan

Tidak dapat dipungkiri pada dasarnya ada beberapa usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Namun jika ditilik lebih jauh nampaknya pelaksanaannya masih membutuhkan berbagai perbaikan, diantaranya mengenai sosialisasi. Sebagus apapun program yang ditawarkan, jika sosialisasinya gagal maka percuma saja. Untuk program-program peningkatan kesejahteraan, misalnya bantuan langsung tunai (BLT) yang diberikan kepada masyarakat berkategori miskin hendaknya merata dengan sosialisasi yang baik.7. Kebijakan Pemerintah Terkait Pengadaan Bahan Pangan

Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah terkait pengadaan bahan pangan tentu mempunyai andil yang cukup besar terhadap keberadaan bahan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat berikut harganya. Pemerintah berwewenang mengambil kebijakan untuk impor atau ekspor bahan pangan. Selama ini pemerintah masih banyak mengimpor bahan pangan untuk memenuhi kekurangan bahan pangan dari dalam negeri. Namun impor bahan pangan yang tidak dikendalikan, dapat memperparah keterpurukan ekonomi Indonesia, karena hal tersebut dapat membunuh sektor pertanian yang seharusnya menjadi andalan bangsa ini. Kebijakan pemerintah yang berperan dalam pengadaan bahan pangan tidak hanya mengenai impor, namun juga kebijakan-kebijakan sebagai wujud perhatian kepada para petani. Kebijakan-kebijakan tersebut meliputi kebijakan sebelum tanam, masa pemeliharaan dan pascapanen. Kebijakan yang diharapkan petani untuk dapat menunjang perekonomiannya antara lain harga pupuk yang tidak mahal (terjangkau), harga gabah/beras yang tinggi. Dengan demikian sedikit demi sedikit perekonomian petani sebagai pengelola langsung sektor agraris yang sangat vital akan terangkat.

D. Dampak Permasalah Pemenuhan Kebutuhan Gizi1. Lost Generation

Dampak tidak langsung adanya permasalahan pemenuhan gizi atau dalam hal ini gizi buruk, adalah Lost Generation atau generasi yang hilang. Suatu masyarakat yang berkembang dalam keadaan kurang gizi akan melahirkan generasi yang tidak berkualitas. Anak yang lahir dalam kondisi kurang gizi akan menjadi anak yang lemah, rentan penyakit dan yang paling parah adalah IQ yang rendah. Dapat dibayangkan jika di suatu negara terjadi endemik kasus gizi buruk maka anak-anak yang dilahirkan yang notabene adalah generasi penerus bangsa akan menjadi generasi yang lemah, rentan penyakit dan tingkat intelegensi yang rendah. Jika generasi yang diharapkan untuk meneruskan perkembangan bangsa adalah generasi yang tidak berkualitas, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di negara tersebut telah kehilangan generasi atau lebih dikenal dengan Lost Generation.2. Kematian

Dampak yang paling fatal dari adanya permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi adalah kematian. Dewasa ini telah begitu banyak kematian warga yang didiagnosa akibat kurang gizi akut. Kematian terjadi karena tubuh tidak lagi mampu mentolelir kekurangan zat-zat gizi yang diperlukan, artinya kekurangan gizi tersebut sudah benar-benar parah.

E. Upaya Mengurangi Permasalah Pemenuhan Kebutuhan Gizi a) Penerapan sistem agrobisnis Ketahanan nasional tercapai manakala rakyat mampu memenuhi kebutuhan pangan setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik

jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau (UU No 7/1996). Beranjak dari definisi ini dan dengan mempertimbangkan segenap potensi serta permasalahan yang ada, sedikitnya sepuluh agenda harus kita laksanakan uuntuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.1.

Peningkatan Produksi Bahan Pangan Secara Efisien dan Berkelanjutan. Kecuali gandum, semua jenis bahan pangan dapat kita produksi di tanah Indonesia. Oleh sebab itu, bahan pangan yang bisa diproduksi sendiri tidak usah diimpor lagi. Konversi lahan pertanian produktif harus diakhiri untuk kawasan industri, permukiman, dan lainnya. Petani harus diberdayakan agar mampu menguasai dan menerapkan teknologi budi daya pertanian. Pemerintah wajib membantu para petani, peternak, dan pembudi daya ikan agar mampu berusaha sesuai daya kapasitas yang dimilikinya.

2.

Pengembangan Program Diversifikasi Pangan. Sejak 1987 ketergantugan kita pada beras dan terigu sangat besar, 62% dari total asupan makanan harian. Padahal yang baik menurut ilmu gizi adalah jumlah maksimum bahan pangan dari serelia adalah 50%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bangsa indonesia merupakan konsumen beras tertinggi di dunia yaitu 139 kg/kapita/tahun, jauh melampaui bangsa Jepang (60 kg), Malaysia (80 kg), Thailand (90 kg), dan rata-rata dunia (60 kg). Tingginya konsumsi beras mengakibatkan 31 juta ton beras yang kita hasilkan setiap tahun tidak mencukupi kebutuhan nasional. Hal inilah yang dijadikan dalih oleh para komprador untuk terus mengimpor beras. Oleh sebab itu, mulai sekarang kita harus secara serius dan kontinyu mengurangi konsumsi beras sampai tingkat ideal, yakni 87 kg beras/kapita/tahun. Secara simultan kita lakukan diversifikasi pangan seperti ubi kayu, ubi jalar, sagu, kentang, ganyong, garut, dan jagung. Agar pangan nonberas tersebut mudah didapat dan praktis, maka harus kita proses menjadi tepung. Dalam sektor pengonsumsian daging sapi, karena dirasa memang kurang dan memerlukan waktu yang lama untuk memproduksinya, kita dapat mengurangi impor sapi dengan meningkatkan konsumsi ikan yang stoknya

masih sangat besar terutama dari perikanan budi daya yaitu lebih dari 50 juta ton/tahun dan baru dimanfaatkan sekitar 7 juta ton/tahun. 3. Pengembangan Industri Pascapanen Pengembangan industri pasca panen yang mencakup penanganan dan pengolahan hasil pertanian serta pengemasannya. Industri ini dapat mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian. Penerapan teknologi pascapanen juga membuat produk pertanian dapat disimpan dalam waktu lama serta mudah ditransportasikan ke seluruh pelosok tanah air dan mancanegara.4.

Pengembangan Prasarana dan Sarana Transportasi serta Komunikasi. Hal ini dimaksudkan untuk mendistribusikan produk pertanian dari sentra produksi ke daerah konsumen (pasar) di seluruh pelosok nusantara maupun ke pelabuhan-pelabuhan ekspor secara efisien. Selain dapat mendongkrak produktivitas, efisiensi, dan daya saing produk pertanian, sistem transportasi dan komunikasi yang bagus juga menjamin seluruh warga negara dapat mengakses bahan pangan di mana pun mereka berada.

5.

Pengembangan Industri Peralatan dan Mesin Pertanian Beserta Industri Penunjangnya. Dengan memproduksi peralatan dan mesin pertanian (seperti traktor, kincir air tambak, alat penangkapan ikan, mesin pabrik penggilingan padi, pengolahan cokelat, pengolah CPO menjadi belasan produk hilir, dan mesin cold storage) di dalam negeri. Tentu produksi pangan dan hasil pertanian lainnya akan lebih besar, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.

6.

Pengembangan Sistem Informasi Pertanian secara Terpadu Pengembangan sistem informasi pertanian secara terpadu sebagai basis untuk proses perencanaan, pengambilan keputusan, pemantauan, dan pengendalian keseluruhan mata rantai dan proses pembangunan pertanian.

7.

Penguatan Program Penelitian dan Pengembangan (Research & Development) Penguatan program penelitian dan pengembangan (research & development) untuk menghasilkan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor pertanian secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Peran pemerintah dan para peneliti sangat diperlukan.

8.

Pengembangan Kerja Sama Internasional di Berbagai Bidang Pengembangan kerja sama internasional di bidang IPTEK, pembangunan, perdagangan, dan lainnya yang saling menguntungkan serta mengutamakan kepentingan nasional.

9.

Pengembangan SDM Pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan secara terpadu dan berkesinambungan.

10. Penyediaan permodalan yang cukup

Penyediaan permodalan yang mencukupi dan atraktif untuk investasi dan bisnis di sektor pertanian baik melalui perbankan maupun lembaga nonperbankan. Dengan mengimplementasikan agenda pembangunan di atas melalui pendekatan sistem agrobisnis terpadu, diyakini bukan hanya ketahanan pangan yang bakal terwujud, tetapi juga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis bioteknologi dan agroindustri yang mampu menyediakan lapangan kerja dalam jumlah besar dan menyejahterakan rakyat di seluruh wilayah Nusantara. Lebih dari itu, sebagai negara dengan kekayaan biodiversity tertinggi di dunia, asalkan kita konsisten menciptakan iklim usaha, kepastian hukum, dan kebijakan politik-ekonomi (seperti fiskal-moneter, perdagangan, dan otonomi daerah) yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya sektor pertanian (SDA hayati) secara luas, niscaya kita juga dapat berswasembada bioenergi dan sekaligus menjadi eksportir produk-produk industri SDA hayati dan bioteknologi terbesar di dunia. Saat itulah, insya Allah 2025, kita menjadi bangsa maju, adil-makmur, dan berdaulat. b) Penggalakan Program Kesehatan

Dari berbagai permasalahan yang ada, rupanya penyuluhan merupakan upaya yang harus dilaksanakan oleh pemerintah. Peyuluhan sangat penting dilakukan sebagai upaya sosialisasi program-program yang telah direncanakan oleh pemerintah. Program-program untuk meningkatkan gizi perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka mengerti dan paham akan pentingnya gizi dalam makanan yang mereka makan sehari-hari. Program-program pemerintah yang sudah pernah dilakukan antara lain posyandu dan PKK, PMT bayi dan anak balita, Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, Usaha Perbaikan Gizi Institusi, Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi. Program-program tersebut cukup strategis dalam mengatasi masalah gizi di Indonesia. Oleh karena itu sangat disayangkan jika program yang telah disusun dengan sedemikan rupa namun penggalakannya kurang sehingga tidak dapat memberikan hasil yang maksimal. Dewasa ini program yang masih dikenal masyarakat adalah posyandu, yang sudah jarang terlihat aktivitasnya padahal telah terbukti posyandu dapat memonitor dan menjadi dasar evaluasi perbaikan gizi masyarakat. Oleh karena itu peningkatan peran posyandu harus terus dimaksimalkan mengingat fungsinya yang sangat vital. Sebagai alat monitor dan sarana evaluasi, posyandu memiliki mekanisme pencapaian sasaran melalui sistem SKDN. S berarti semua anak balita yang ada di wilayah kerja Posyandu, K berarti semua anak balita yang terdaftar di salah satu kelompok posyandu. D berarti semua balita yang datang dan ditimbang berat badannya, dan N berarti semua anak balita yang ditimbang dan naik berat badannya. Oleh karena itu penyuluhan pentingnya asupan gizi yang cukup melalui posyandu merupakan salah satu cara yang tepat dilakukan saat ini.

c) Pelatihan Kejujuran Selain mengalami krisis moneter yang parah, Indonesia juga mengalami krisis kejujuran dan kepercayaan yang tidak kalah parahnya. Hal ini terbukti makim meluasnya budaya korupsi di negara ini. Peringkat 2 dunia yang di sandang Indonesia

sebagai negara terkorup tampaknya tidak membuat bangsa ini jera. Dampak dari budaya korupsi ini adalah terjadinya kehancuran dalam berbagai sektor kehidupan. Hal yang sangat bisa dirasakan yaitu dalam bidang ekonomi, yang mengakibatkan harga-harga bahan pokok semakin melambung tinggi. Hal tersebut membuat daya beli masyarakat cenderung rendah sehingga pemenuhan gizi semakin terhambat. d) Transmigrasi Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari daerah berpenduduk pada menuju daerah berpenduduk jarang/kurang. Transmigrasi diharapkan dapat mengurangi permasalahan gizi yang sangat terkait dengan kemiskinan. Dalam hal ini, transmigrasi bukan diartikan sebagai pemerataan kemiskinan. Rakyat/masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah yang merupakan masyarakat rawan kurang gizi dipindahkan ke daerah baru (yang jumlah penduduknya rendah) untuk membangun perekonomian baru yang lebih baik. Diharapkan dengan keadaan ekonomi yang lebih baik, jumlah penderita kurang gizi atau gizi buruk dapat dikurangi. e) Pelestarian Budaya Kerja Keras Terkait dengan merajalelanya budaya Mc Donaldisasi (budaya instan) di negeri ini, untuk menandinginya diperlukan budaya kerja keras yang harus ditingkatkan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu indikasi kurangnya budaya kerja keras di negeri ini adalah masih adanya budaya tidur siang dalam masyarakat Indonesia. Bila dibandingkan dengan masyarakat bangsa barat atau bangsa-bangsa yang memegang kukuh budaya kerja keras (seperti Jepang dan Cina), maka budaya tidur siang ini tidak ditemukan. Mereka mengisi waktu dengan bekerja dan bekerja. Berbeda sekali dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Budaya tidur siang ini akan berpengaruh pada pola makan. Biasanya tidur siang ini dilakukan setelah tidur siang, dengan demikian terjadi adanya penumpukan energi, dampak yang bisa dirasakan adalah malasa untuk melakukan aktivitas.

Indikasi lain dari kurangnya budaya kerja keras adalah kurangnya produktivitas pertanian sehingga negeri ini harus banyak mengimpor bahan pangan dari bangsa lain. Sedangkan budaya mengimpor ini akan melemahkan budaya produktif petani. Inilah rupanya lingkaran syetan yang membelit negeri ini. Jika saja pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan kebijakan-kebijakan yang lebih mengedepankan nasib rakyat, kekurangan pangan di negeri ini akan bisa teratasi. Untuk lepas dari hal tersebut, penggalakan dan pelestarian budaya kerja keras harus dioptimalkan. Salah satu caranya yaitu penanaman mental budaya kerja keras sejak dini. Anak-anak dilatih untuk kerja keras sejak dini. Misalnya, melalui pelatihan di rumah, dilarang menyuruh orang lain untuk hal-hal yang bisa dilakukannya sendiri. f) Kebijaksanaan yang Mendukung Sektor Agraris Salah satu faktor yang dapat diupayakan untuk dapat mengurangi permasalahan kebutuhan gizi di Indonesia adalah pembuatan kebijakan-kebijakan yang mendukung sektor agraris sebagai sektor yang dapat diadalkan bagi negara agraris seperti indonesia. Hendaknya pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung kemajuan sektor agraris sehingga dapat memotivasi para petani untuk meningkatkan usahanya. Dengan demikian sektor agraris dapat dikembangkan dan selain itu dengan kebijakan yang mendukung sektor agraris dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. Dengan meningkatnya kesejahteraan petani yang merupakan matapencaharian sebagian besar masyarakat terutama di desa, diharapkan permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi dapat di dikurangi atau bahkan diatasi.

BAB IV PENUTUPA. Kesimpulan

1) Banyak kebijakan yang telah dibuat pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan

gizi masyarakat, diantaranya yang paling banyak diperbincangkan adalah Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum, mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk memberikan jaminan kepada warganegaranya agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin, UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan yang menjelaskan konsep ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah bersama masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan.2) Aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi

masih belum sesuai harapan, masih banyak warna negara yang kekurangan bahan pangan yang belum tersentuh aparat pemerintah. 3) Penyebab munculnya permasalahan gizi di Indonesia antara lain:

Kemiskinan Bencana alam Korupsi Budaya Mc Donaldisasi Stereotip masyarakat yang kurang mengenai pentingnya gizi Kurangnya sosialisasi program-program peningkatan kesejahteraan Kebijakan pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan gizi Faktor-faktor teknis lain seperti keterlambatan distribusi bahan

masyarakat

pangan.4) dampak terjadinya permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi di Indonesia

yang paling buruk adalah kematian, namun selain itu gizi buruk juga menyebabkan kehilangan generasi penerus bangsa yang bisa diharapkan untuk melanjutkan tombak perjuangan bangasa atau lebih dikenal dengan istilah Lost Generation.

5) Solusi mengatasi masalah gizi di Indonesia antara lain: B. Saran1. Hendaknya pemerintah lebih serius lagi dalam menangani kasus kurang gizi

penerapan sistem agrobisnis penggalakan program kesehatan pelatihan kejujuran transmigrasi pelestarian budaya kerja keras kebijaksanaan pemerintah yang mendukung sektor agrobisnis.

yang terjadi di masyarakat karena masalah kurang gizi ini adalah permasalahan yang paling mendasar bagi keberlangsungan suatu bangsa.2. Hendaknya masyarakat senantiasa menambah pengetahuannya mengenai

pentingnya gizi cukup serta merubah pandangan bahwa yang bergizi adalah yang mahal dan menghilangkan budaya Mc Donaldisasi dan menumbuh kembangkan budaya kerja keras demi peningkatan kesejahteraan hidup bersama.3. Hendaknya mahasiswa senantiasa meningkatkan kepekaannya terhadap

masalah-masalah yang berkembang dimasyarakat dan senantiasa berupaya menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Arifin, Bustanul, 2004. Ekonomi Pertanian Indonesia. Penerbit Buku Kompas, Jakarta Darmawan, Thomas dan Masroh, Antuji H, 2004. Pentingnya Nilai Tambah Produk Pertanian. Dalam Pertanian Mandiri, Pandangan Strategis Para Pakar untuk Kemajuan Pertanian Indonesia, 2004. Penebar Swadaya Jakarta Departemen Pertanian, 2004. Kebijakan dan Kondisi Ketahanan Pangan Indonesia. Badan Bimas Ketahanan Pangan, Jakarta. Krisnamurthi, Bayu, 2003. Rekonstruksi Kebijakan Pangan Indonesia (Indonesia Food Policy Reconastuction) Isyu dan Agenda. Dalam Penganekaragaman Pangan, Prakarsa Swasta dan Pemerintah Daerah, 2003. Forum Kerja Penganekaragaman Pangan. Suryana, Ahmad, 2003. Refleksi 40 Tahun dan Perspektif Penganekaragaman Pangan dalam Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional. Dalam Penganekaragaman Pangan, Prakarsa Swasta dan Pemerintah Daerah, 2003. Forum Kerja Penganekaragaman Pangan.

PERENCANAAN PANGAN DAN GIZI

KEBIJAKAN PANGAN DAN GIZI DI INDONESIA

DISUSUN OLEH: Agi Gahantoro Angga S. Saputra Reza A1M009028 A1M009034 A1M009042

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2011