Makalah Poetry

download Makalah Poetry

of 22

  • date post

    05-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    33

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Poetry

MAKALAH STRUKTUR PUISIDiajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Poetry

Disusun Oleh Aditya Y Sumarya Gina Silvia Dedeh Krisdayanti Feti Fitriani Ida Ayu Purnamasari Mulyadi N. Susan Rohmanita Rina Anggraeni Rostini Wiku Sunda Laras

STBA Sebelas April Sumedang 2013

Kata PengantarPuji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Struktur Puisi yang diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Poetry. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan ketulusan dan kerendahan hati, penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Imas Maryanah, S.S M.Pd selaku dosen mata kuliah Poetry. Penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya. Sumedang, 2 April 2013

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan penjelasan dari latar belakang diatas, adapun rumusan masalah dari makalah ini sengaja penyusun batasi, yaitu : 1. Ada berapa macam struktur dalam puisi? 2. Apa saja yang termasuk struktur batin dan struktur fisik dalam puisi?

1.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui struktur dalam puisi baik struktur batin maupun struktur fisik puisi.

1.4 Metode Penelitian Metode yang dilakukan oleh penyusun adalah mencari informasi melalui internet.

1.5 Sistematika Penulisan Makalah yang diberi judul Struktur Puisi ini menguraikan sistematika penulisannya sebagai berikut : Bab I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metode penulisan serta sistematika penulisan. Bab II Pembahasan. Bab III Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1

Unsur Pembangun Puisi

Puisi dibangun dari dua bagian unsure yang disebut dengan struktur batin dan struktur fisik. Bila struktur batin lebih menekankan unsur pembangun dari dalam puisi, maka struktur fisik menekankan unsur pembangun dari luarnya. Banyak kajian yang menelaah struktur puisi, baik struktur fisik maupun maupun struktur batin, atau keduanya. Berikut ini merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi: a) Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan, bahwa unsur puisi terdiri dari; (1) Hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) Metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima. b) Waluyo (1987) mengatakan, bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang. c) Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989:6), meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) Sifat puisi, (2) Bahasa puisi: diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retorika, (3) Bentuk: nilai bunyi, versifikasi, bentuk, dan makna, (4) Isi: narasi, emosi, dan tema. d) Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27), menyebut adanya unsur penting dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi. e) Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi; (1) Diksi, (2) Imajeri, (3) Bahasa kiasan, (4)

Simbol, (5) Bunyi, (6) Ritme, (7) Bentuk [Badrun, 1989:6]. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi; (1) Tema, (2) Nada, (3) Rasa, (4) Amanat, (5) Diksi, (6) Imaji, (7) Bahasa figuratif, (8) Kata konkret, (9) Ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat), dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). 2.2 Struktur Batin Puisi Dibawah ini merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam struktur batin puisi: 1.Sense Sesuatu yang diciptakan atau dikembangkan oleh penyair lewat puisi yang dihadirkannya itulah yang disebut sense (Aminuddin, 1978:150). Terdapatnya sense dalam suatu puisi, pada dasarnya akan berhubungan dengan gambaran dunia atau makna puisi secara umum yang ingin diungkapkan penyairnya. Dalam analisis puisi keberadaannya akan menimbulkan pertanyaan lagi, Apa yang ingin dikemukakan penyair lewat puisi yang dikemukakannya? 2.Subject Matter Struktur yang kedua dalam struktur batin ialah subject matter. Subject matter merupakan pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya (Aminuddin, 1987:150). Bila sense baru berhubungan dengan gambaran makna dalam puisi secara umum, maka subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair. Oleh sebab itu, dalam rangka mengidentifikasi subject matter, pembaca akan menampilkan pertanyaan,

Pokok-pokok pikiran apa saja yang diungkapkan penyair, sejalan dengan sesuatu yang secara umum dikemukakan penyairnya?. Subject matter yang dimaksud adalah seperti pengulasan pada setiap baitnya yang kemudian dibentuk paragraf atas pokok-pokok pikiran sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam puisi tersebut pokok pikiran antara yang satu dengan yang lainnya begitu erat berkaitan. 3. Feeling Adapun mengenai sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya disebut dengan feeling (Aminuddin, 1987:150). Feeling mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu, manusia pada umumnya juga dilatarbelakangi oleh sikap tertentu pula. Maka akan timbul pertanyaan dari pembaca dalam menganalisis feeling, Bagaimana sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya?. Pembahasan mengenai felling tidak akan terlepaskan dengan pembahasan sebelumya, yakni subject matter. Sikap penyair terhadap apa yang ditampilkan lewat puisinya tersebut akan tercermin ketika pokok pikiran penyair terhadap puisinya sudah diketahui terlebih dahulu. 4. Tone Tone mengandung maksud sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkannya (Aminuddin, 1987:150). Hal yang demikian ini mungkin saja terjadi karena sewaktu penulis berbicara masalah cinta maupun tentang cinta itu sendiri kepada kekasih, penulis akan berbeda sewaktu peneliti berbicara kepada teman. Dalam rangka menganalisis tone dalam suatu puisi, pembaca akan berhubungan dengan pencarian

jawaban dari pertanyaan, Bagaimana sikap penyair terhadap pembaca?. Jawaban yang diperoleh mungkin akan berupa sikap keterharuan, kesedihan, keriangan, semangat, masa bodoh, menggurui, atau pelbagai macam sikap lainnya sejalan dengan keanekaragaman sikap manusia dalam menyikapi realitas yang dihadapinya. 5. Total of Meaning Tingkatan kelima dalam struktur batin ialah total of meaning. Total of meaning (totalitas makna) adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam satu puisi (Aminuddin, 1987:151). Penentuan totalitas makna puisi berdasarkan atas pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Hasil rangkuman itu akan menimbulkan totalitas makna dalam suatu puisi, yang berbeda dengan sense yang baru memberikan gambaran secara umum saja kepada pembaca. Bila menganalisis totalitas makna puisi, pembaca dapat menampilkan pertanyaan, Bagaimanakah makna keseluruhan puisi yang saya baca berdasarkan subject matter, felling, dan tone yang telah saya temukan?. Menganalisis dengan tahapan ini, tidak dapat meninggalkan tahapan-tahapan sebelumnya, sebab tahapan sebelumnya merupakan suatu korelasi yang tidak dapat terpisahkan satu dengan lainnya. Karena sebelum mencapai tahapan total of meaning (totalitas makna) maka haruslah melampaui tahapan-tahapan sebelumnya seperti subject matter, felling, dan tone.

6. Theme Ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi itulah yang dimaksud dengan theme atau tema (Aminuddin, 1987:151). Tema berbeda

dengan pandangan moral ataupun message meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah. Disebut tidak sama dengan pandangan moral maupun message karena tema hanya dapat diambil dengan jalan menyimpulkan inti dasar yang terdapat dalam totalitas makna puisi, sedangkan pandangan moral atau message dapat saja terdapat dalam butir-butir pokok pikiran yang ditampilkannnya. Dengan kata lain, bidang cakupan tema lebih luas daripada pandangan moral maupun message. Nantinya dalam menganalisis tema muncul pertanyaan seperti berikut, Apakah ide dasar atau inti dari totalitas makna itu?. Masalahnya sekarang, bagaimanakah memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan itu. Theme juga demikian, merupakan sebuah kelanjutan dari telaah-telaah pada tahapan sebelumnya. Sehingga pada tahapan theme ini ide dasar atau pokok dari totalitas makna tersebut apa. 7. Intention Intention atau amanat merupaakan pesan atau tujuan yang hendak disampaikan oleh penyair (Aminuddin, 1987:151). Tingkatan ketujuh ini dapat ditelaah setelah mampu memahami pelbagai tahapan sebelumnya. Tujuan amanat ini merupakan yang mendorong penyair menciptakan puisinya. Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun, dan yang berada dibalik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang disampaikan. 2.3 Struktur Fisik Puisi

Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut: a) Tipografi (perwajahan puisi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi katakata, tepi kanan-kiri,