Makalah Pleno Blok 7

download Makalah Pleno Blok 7

of 24

  • date post

    26-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    31
  • download

    0

Embed Size (px)

description

kedokteran

Transcript of Makalah Pleno Blok 7

Tinjauan pustaka

Pengaruh Faktor Anatomi dan Faktor Fisiologi serta Faktor Biokimia terhadap Pemeriksaan Spirometri

Kelompok D8Yoda Desika Kolim (102011014)Maria Donata Keli (102011198)Jessyca Augustia (102011291)Nanda Tri Yulisa Putri Rumdan (102011076)Novia Chrystina (102011346)Kevin Jodjana (102011055)Rienaldi (102011238)Hendrikus Hendra Suseno (102011381)Bintang David C. (102010394)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510Pendahuluan

Semua makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa bernapas. Pernapasan yang terjadi merupakan proses kelangsungan metabolisme yang disediakan oleh oksigen dan kemudian mengeluarkan karbondioksida hasil metabolisme yang secara terus menerus. Proses ini sangatlah penting karena jika terjadi gangguan pada sistem pernapasan dapat berakibat fatal pada diri kita sendiri. Untuk itu pemeriksaan spirometri merupakan salah satu pemeriksaan pernapasan yang menggunakan alat yang bernama spirometer.Volume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur melalui spirometer. Melalui spirometer kita dapat mengetahui kondisi sistem raspirasi kita dalam keadaan yang normal atau sebaliknya. Skenario menggambarkan seseorang yang perlu menjalani melalui pemeriksaan spirometri demi kepentingan pemeriksaan kesehatannya. Maka di sini penggunaan pemeriksaan spirometri sangat bermanfaat dalam melihat tingkat kesehatan sistem pernapasan manusia di mana volume udara dalam paru-paru dan seberapa besar kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur.Fungsi sistem pernapasan adalah sebagai tempat terjadinya pertukaran gas dari atmosfer dengan sirkulasi darah, pemindahan udara dari dan ke permukaan paru, melindungi dan menjaga mukosa pernapasan dari dehidrasi, perubahan suhu atau variasi lingkungan sekitar serta mempertahankan permukaan mukosa lainnya dari invasi bakteri patogen, memproduksi bunyi atau suara, menyediakan sensasi penciuman untuk dikirim ke sistem saraf pusat dari epitelium saraf olfaktorius di bagian superior rongga hidung, serta membantu regulasi volume dan tekanan darah melalui kompresi angiotensin I ke angiotensin II. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan pengaruh struktur anatomi makroskopis dan mikroskopis, mekanisme pernapasan, volume dan kapasitas paru serta mekanisme kerja dari alat spirometer.

Skenario 4Seorang polwan umur 37 tahun diusulkan untuk menerima kenaikan pangkat. Untuk melengkapi persyaratan ia diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan. Oleh dokter ia diminta untuk menjalani pemeriksaan spirometri.Anatomi secara Makroskopis dan MikroskopisHidung Bagian Luar Berbentuk piramid; pangkalnya berkesinambungan dengan dahi dan ujung bebasnya disebut puncak hidung. Kearah inferior hidung memiliki dua pintu masuk berbentuk bulat panjang, yakni nostril atau nares, yang terpisah oleh septum nasi. Rangka bagian tulang terdiri atas os nasale, processus frontalis maxillae dan bagian nasal ossis frontalis. Rangka tulang rawannya terdiri atas cartilago septi nasi, cartilago nasi lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor, yang bersama-sama dengan tulang di dekatnya saling dihubungkan.Otot hidung tersusun dari M. nasalis dan M. depressor septi nasi. Pendarahan hidung bagian luar disuplai oleh cabang-cabang A. facialis, A. dorsalis nasi cabang A. ophthalmica dan A. infraorbitalis cabang A. maxillaris interna. Pembuluh baliknya menuju V. facialis dan V. ophthalmica. Persarafan otot-otot hidung oleh N. facialis; kulit sisi medial punggung hidung sampai ujung hidung dipersarafi oleh cabang-cabang dipersarafi oleh cabang infraorbitalis N. maxillaris/N. V 2.1,2

Rongga HidungSecara sagital rongga hidung dibagi oleh sekat hidung. Kedua belah rongga ini terbuka ke arah wajah melalui nares dan ke arah posterior berkesinambungan dengan nasopharynx melalui apertura nasi posterior (choana). Masing-masing belahan rongga hidung mempunyai dasar, atap, dinding lateral dan dinding medial (sekat hidung).Rongga hidung terdiri atas tiga regio, yakni vestibulum, penghidu dan pernapasan. Vestibulum hidung merupakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat di sebelah dalam nares. Vestibulum ini dilapisi kulit yang mengandung bulu hidung, berguna untuk menahan aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihisap. Ke arah atas dan dorsal vestibulum dibatasi oleh limen nasi, yang sesuai dengan tepi atas cartilago ala nasi major. Dimulai sepanjang limen nasi ini kulit yang melapisi vestibulum dilanjutkan dengan mukosa hidung. Regio penghidu berada di sebelah cranial; dimulai dari atap rongga hidung daerah ini meluas sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha tersebut. Regio pernapasan adalah bagian rongga hidung selebihnya.Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi, yakni concha nasalis superior, medius dan inferior. Inferolateral terhadap masing-masing concha nasalis ini terdapat meatus nasi yang sesuai. Meatus nasi superior yang letak inferior terhadap concha nasalis superior memperlihatkan sebuah lubang sebagai muara sinus ethmoidalis posterior. Meatus nasi medius berada inferolateral terhadap concha nasalis medius dan ke arah anterior berkesinambungan dengan fossa dangkal di sebelah cranial vestibulum dan limen nasi, yakni atrium meatus nasi medius. Dinding medial atau septum nasi dibentuk oleh lamina perpendicularis ossis ethmoidalis, os vomer dan cartilage septi nasi.Dasar rongga hidung dibentuk oleh processus palatinus ossis maxilla dan lamina horizontalis ossis palatini. Dasar ini memisahkan rongga hidung dari rongga mulut, namun mempunyai hubungan dengan rongga mulut lewat canalis incisivus.

Gambar 1. Rangka Hidung.1 Pharynx (Tekak)Pharynx adalah sebuah pipa musculomembranosa, panjang 12-14 cm membentang dari basis cranii sampai setinggi vertebrata cervical 6 atau tepi bawah cartilago crinoidea. Paling lebar di bagian superior, berukuran 3,5 cm. Di sebelah caudal dilanjutkan dengan oesophagus (kerongkongan). Pada batas pharynx dengan oesophagus lebarnya menjadi sekitar 1,5 cm; tempat ini merupakan bagian tersempit saluran pencernaan, selain appendix vermiformis.Di sebelah ventral, pharynx terbuka ke dalam rongga hidung, mulut dan larynx; dengan demikian dinding anteriornya tidak sempurna.Spatium peripharyngeale terdiri atas dua bagian, yakni:1. spatium parapharyngeale (pharyngeale laterale)2. spatium retropharyngeale.

Spatium parapharyngeale mempunyai batas-batas sebagai berikut: Ventrolateral : ramus mandibulae dan M. pterygoideus medialis/internus;Posterolateral : glandula parotis dan pembungkusnya;Medial : dinding lateral pharynx;Caudal : sampai setinggi os hyoideum, dibatasi oleh glandula submandibularis dan pembungkusnya serta M. Stylohyoideus.Dorsal : fascia bersama yang membungkus A. carotis interna, V. jugularis interna dan N. vagus, yang dikenal sebagai sarung pembungkus buluh dan saraf (carotid sheath).

Gambar 2. Pandangan Dorsal Faring Bagian Dalam setelah Dinding Dorsal Faring dibelah Memanjang.1

Gambar 3. Penutupan Isthmus Pharyngeum dan Pembentukan Lipatan Passavant.1

Pharynx dibagi menjadi tiga bagian, yakni:1. Nasophrynx2. Oropharynx (Mesopharynx)3. Laryngopharynx (Hypopharynx).

Nasopharynx (Epipharynx)Nasopharynx berada di sebelah dorsal hidung dan sebelah cranial palatum molle. Berdinding statik, kecuali palatum molle. Rongga nasopharynx tidak pernah tertutup, berbeda dari oropharynx dan laryngopharynx. Nasopharynx dan oropharynx berhubungan melalui isthmus pharyngeum yang dibatasi oleh tepi palatum molle dan dinding posterior pharynx.3,4Tonsilla pharyngea (Gearlach) = ADENOID merupakan jaringan limfoid pada submukosa recessus pharyngeus di sekitar bursa pharyngea.

Oropharynx (Mesopoharynx)Oropharynx terbentang mulai dari palatum molle sampai tepi atas epiglottis atau setinggi corpus vertrebra cervical 2 dan 3 bagian atas.1Tonsilla palatina merupakan masa jaringan limfoid pada kedua dinding lateral oropharynx, masing-masing terletak pada sinus tonsillaris.

Laryngopharynx (Hypopharinx)Laryngopharynx membentang dari tepi cranial epiglottis sampai tepi inferior cartilago cricoidea atau mulai setinggi bagian bawah corpus vertebra cervical 3 sampai bagian atas vertebra cervical 6.1,2

Larynx (Pangkal Tenggorokan)Larynx merupakan saluran udara yang bersifat sphincter dan juga organ pembentuk suara, membentang antara lidah sampai trachea atau pada laki-laki dewasa setinggi vertebra cervical 3 sampai 6, tetapi sedikit lebih tinggi dari pada anak dan perempuan dewasa.Pada laring juga terdapat pita suara. Ujung posterior pita suara melekat pada kartilago aritenoid. Pergerakan kartilago dilakukan otot laringeal yang membuat pita suara dapat menegang dan mengendur sehingga menimbulkan beragam tekanan.2 pada laring pendarahan utamanya berasal dari cabang-cabang A. Thyreoidea superior dan inferior sedangkan persarafannya berasal dari cabang-cabang internus dan eksternus N. Laringeus superior, n. Recurrens, dan saraf simpatis.1

Gambar 4. Susunan Tulang Rawan Laring dan Beberapa Jaringan Ikatnya.1

Struktur Trakea dan Bronkus UtamaTrakea dan bronkus utama yang letaknya ekstrapulmonal (di luar paru) memiliki rangka cincin tulang rawan yang hialin yang tidak sempurna, dipersatukan oleh jaringan fibrosa dan otot polos.Cincin trakea berjumlah 16-20, masing-masing sebagai cincin yang membentuk gambaran huruf U, yang membatasi dinding 2/3 bagian anterior; di sebelah dorsal pipa trachea ini datar, karena dinding dorsal cincin tulang rawan trachea tersebut disempurnakan oleh jaringan fibro-elastik dan otot polos. Tulang rawan bronchi ekstrapulmonal lebih pendek, lebih sempit dan kurang beraturan, tetapi umumnya serupa bentuk dan susunannya.Anatomi permukaan. Lebar trachea kira-kira 2 cm dan proyeksinya membentang hampir vertikal pada garis tengah dari cartilago cricoidea menuju anguius sterni, sedikit