Makalah Pencernaan Bismillah Fix

download Makalah Pencernaan Bismillah Fix

of 55

  • date post

    06-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    243
  • download

    2

Embed Size (px)

description

C

Transcript of Makalah Pencernaan Bismillah Fix

MAKALAH PENCERNAAN 1ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN ESOFAGUSKANKER ESOFAGUS

Dosen Pembimbing :Ni Ketut Alit Armini, S.Kp., M.Kes

Kelompok 4 (A-1)Nia Husninda Hawari131411131007Rofita Wahyu Andriani131411131028Alfi Dwi Putri131411131043Vony Nurul Khasanah131411131061Senja Putrisia Fajar E131411131082Ridha Cahya Prakhasita131411131100Thaliah Jihan Nabilah131411133014Prasetiya Wahyuni131411133032

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERSFAKULTAS KEPERAWATANUNIVERSITAS AIRLANGGASURABAYA2015KATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolongan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Gangguan Esofagus: Kanker Esofagus. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.Makalah ini disusun agar para pembaca dapat mengetahui hubungan farmakologi dengan keperawatan dan menambah ilmu pengetahuan farmakologi. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari dalam diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan pertolongan-Nya, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Pencernaan I dan teman-teman yang telah membantu penyusun sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun menyadari bahwa makalah ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, kritik yang dapat membangun dari para pembaca sangat diharapkan penyusun. Terima kasih.

Surabaya, September 2015

Penyusun

DAFTAR ISIHalaman JuduliKata PengantariiDaftar IsiiiiBAB 1 PENDAHULUAN11.1 Latar Belakang11.2 Rumusan Masalah21.3 Tujuan Penulisan31.4 Manfaat Penulisan3BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA42.1 Anatomi dan Fisiologi Esofagus42.2 Etiologi82.3 Klasifikasi Kanker Esofagus92.4 Manifestasi Klinis102.5 Patofisiologi10BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN UMUM133.1 Pengkajian13BAB 4 STUDY KASUS174.1 Study kasus174.2 Pengkajian 174.3 Analisa Data.184.4 Diagnosis Keperawatan..194.5 Rencana Keperawatan..204.6 Evaluasi.51BAB 5 PENUTUP.525.1 Kesimpulan.52DAFTAR PUSTAKA5352

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangKanker merupakan penyebab utama mortalitas di dunia, di perkirakan sekitar 7,9 juta (13%) dari seluruh penyebab mortalitas, (WHO, 2007) Kanker esophagus adalah salah satu diantara 20 kanker tersering dan kanker ke-6 yang menyebabkan kematian. Kanker ini merupakan keganasan ke-3 pada gastrointestinal setelah kanker gasterkolorektal dan kanker hepatoseluler.Kanker esophagus menunjukkan gambaran epidemiologi yang unik berbeda dengan keganasan lain. Kanker esophagus memiliki variasi angka kejadian secara geografis berkisar dari 3 per 100.000 penduduk di Negara Barat sampai 140 kejadian per 100.000 penduduk asia tengah.Kanker esofagus adalah suatu keganasan yang terjadi pada esofagus. Kanker esofagus pertama kali dideskripsikan pada abad ke-19 dan pada tahun 1913 reseksi pertamasukses dilakukan oleh Frank Torek. Pada tahun 1930-an. Oshawa di jepang dan Marshall di Amerika Serikat berhasil melakukan pembedahan pertama dengan metode transtoraks esofagotomi dengan rekonstruksi (Fishicella, 2009).Kanker esophagus adalah salah satu tumor dengan tingkat keganasan tinggi, prognosisnya buruk, walaupun sudah dilakukan diagnosis dini dan penatalaksanaan. Kanker esophagus juga merupakan salah satu kanker dengan tingkat kesembuhan terendah, dengan 5 year survival rata-rata 10%, survival rates ini terburuk setelah kanker hepatobilier dan kanker pankreas. Iritasi kronis dipertimbangkan beresiko tinggi menyebabkan kanker esofagus. Di amerika serikat, kanker esofagus telah dihubungkan dengan salah cerna alkohol dan penggunaan tembakau. Di negara lain kanker esofagus telah dihubungkan dengan penggunaan pipa opium, konsumsi minuman panas berlebihan, dan defisiensi nutrisi khususnya kurang buah dan sayuran. Buah dan sayur dianggap dapat meningkatkan perbaikan jaringan yang teratasi. Prognosis klien dengan kanker esofagus adalah buruk, dengan angka bertahan hidup dalam 5 tahun hanya sekitar 9%. Harapan yang tidak menguntungkan ini dihubungkan dengan keadaan alamiah dari penyakit ini, karena penyakit dapat tumbuh dengan cepat, bermetastasis dengan sangat cepat dan merupakan penyakit tahap lanjut saat di diagnosisKemajuan dari ilmu medis dalam intervensi kanker esofagus melalui intervensi kemoterapi, radioterapi, dan pembedahan memberikan dampak pada asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan kanker esofagus. Semakin lamanya prediksi usia bertahan hidup, adanya intervensi medis memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien dan memberikan implikasi pada perawat untuk memberikan intervensi yang sesuai dengan kondisi individu agar permasalahannya dapat diturunkan atau dihilangkan.

1.2 Rumusan Masalah1. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari esofagus?2. Bagaimana Proses menelan makanan hingga ke lambung?3. Apa saja etiologi dari kanker esofagus dan faktor resiko dari kanker esofagus?4. Apa saja klasifikasi dari kanker esofagus?5. Bagaimana Patofisiologi dari kanker esofagus?6. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kanker esofagus?

1.3 Tujuan Penulisan1. Untuk dapat lebih memahami mengenai anatomi dan fisiologi dari kanker esofagus2. Untuk dapat memahami proses menelan makanan hingga ke lambung3. Untuk dapat mengetahui penyebab (etiologi) serta faktor resiko dari penyakit kanker esofagus4. Untuk dapat memahami patofisiologi dari kanker esofagus5. Untuk dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan bagi klien dengan kanker esofagus

1.4 Manfaat PenulisanMakalah ini dapat menjadi bahan refrensi dalam memberikan asuhan keperawatan bagi klien dengan kanker esofagus. Tentunya akan sangat memudahkan perawat dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan bagi klien dengan kanker esofagus.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi EsofagusEsofagus merupakan suatu organ silindris berongga dengan panjang sekitar 25 cm dan berdiameter 2 cm, yang terbentang dari hipofaring hingga kardia lambung. Esofagus terletak di posterior jantung dan trakea, di anterior vertebra, dan menembus hiatus diafragma tepat di anterior aorta. Esofagus terutama berfungsi menghantarkan bahan yang dimakan dari faring ke lambung.

(Gambar 1. Struktur Makroskopik Esofagus)

Pada kedua ujung esofagus terdapat otot sfingter. Otot krikofaringeus membentuk sfingter esofagus bagian atas dan terdiri atas serabut-serabut otot rangka. Bagian esofagus ini secara normal berada dalam keadaan tonik atau kontraksi kecuali pada waktu menelan. Sfingter esofagus bagian bawah, walaupun secara anatomis tidak nyata, bertindak sebagai sfingter dan berperan sebagai sawar terhadap refluks isi lambung ke dalam esofagus. Dalam keadaan normal sfingter ini menutup, kecuali bila makanan masuk ke dalam lambung atau waktu bertahak atau muntah.Dinding esofagus seperti juga bagian lain saluran gastrointestinal, terdiri atas empat lapisan: mukosa, submukosa, muskularis dan serosa (lapisan luar). Lapisan mukosa bagian dalam terbentuk dari epitel gepeng berlapis yang berlanjut ke faring di ujung atas; epitel lapisan ini mengalami perubahan mendadak pada perbatasan esofagus dengan lambung (garis Z) dan menjadi epitel toraks selapis. Mukosa esofagus dalam keadaan normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung yang sangat asam. Lapisan submukosa mengandung sel-sel sekretori yang memproduksi mukus. Mukus mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia. Lapisan otot lapisan luar tersusun longitudinal dan lapisan dalam tersusun sirkular. Otot yang terdapat di 5 % bagian atas esofagus adalah otot rangka, sedangkan otot di separuh bagian bawah adalah otot polos. Bagian diantaranya terdiri dari campuran otot rangka dan otot polos. Berbeda dengan bagian saluran cerna lainnya, tunika serosa (lapisan luar) esofagus tidak memiliki lapisan saluran serosa ataupun selaput peritoneum, melainkan lapisan ini terdiri atas jaringan ikat longgar yang menghubungkan esofagus dengan struktur-struktur yang berdekatan. Tidak adanya serosa menyebabkan semakin cepatnya penyebaran sel-sel tumor (pada kasus kanker esofagus) dan meningkatnya kemungkinan kebocoran setelah operasi. Persarafan utama esofagus dipasok oleh serabut-serabut simpatis dan parasimpatis dari sistem saraf otonom. Serabut parasimpatis dibawa oleh nervus vagus, yang dianggap sebagai saraf motorik esofagus. Fungsi serabut simpatis masih kurang diketahui.Selain persarafan ekstrinsik tersebut, terdapat jala-jala serabut saraf intramural intrinsik di antara lapisan otot sirkular dan longitudinal (pleksus Auerbach atau mienterikus), dan tampaknya berperan dalam pengaturan peristaltic esofagus normal. Jala-jala saraf intrinsik kedua (pleksus Meissner) terdapat di sub-mukosa saluran gastrointestinal, tetapi agak tersebar dalam esofagus.Fungsi sistem saraf enterik tidak bergantung pada saraf-saraf ekstrinsik. Stimulasi sistem simpatis dan parasimpatis dapat mengaktifkan atau menghambat fungsi gastrointestinal. Ujung saraf bebas dan perivaskular juga ditemukan dalam submukosa esofagus dan ganglia mienterikus. Ujung saraf ini dianggap berperan sebagai mekanoreseptor, termosmo, dan kemoreseptor dalam esophagus. Mekanoreseptor menerima rangsangan mekanis seperti sentuhan, dan kemoreseptor menerima rangsangan kimia dalam esofagus. Reseptor termo-osmo dapat dipengaruhi oleh suhu tubuh, bau, dan perubahan tekanan osmotic.Distribusi darah ke esofagus mengikuti pola segmental. Bagian atas disuplai oleh cabang-cabang arteria tiroidea inferior dan subklavia. Bagian tengah disuplai oleh cabang-cabang segmental aorta dan arteria bronkiales, sedangkan bagian subdiafragmatika disuplai oleh arteria gastrika sinistra dan frenika inferior.Aliran darah vena juga mengikuti p