MAKALAH PEMICU 3 BLOK 10

download MAKALAH PEMICU 3 BLOK 10

of 22

  • date post

    12-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    876
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of MAKALAH PEMICU 3 BLOK 10

Makalah Skenario 3 Blok 10 (Ilmu Kedokteran Gigi Klinik 6) Ibu Sundari Ingin Memperbaiki Penampilannya

Disusun oleh : Kelompok 3 Almasulah Alakmaliyah (0906554402) Astrid Dinda Renata H (0906554434) Brent Ryan Iovah (0906552763) Dina Hoppy (0906626686) Felicia Chika H (09066266710) Lidya Namora (0906508806) Lili Nur Indah Sari (0906626811) Muhammad Ihsan P (0906626856) Nurul Ramadiani (0906488092) Sarah Farahyati (0906552782) Silviana S (0906488123) Sima Novrita (0906626995)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Kata Pengantar

Puji syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan penyertaan-Nya lah kami dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini dibuat guna memenuhi tugas kami pada skenario 3 blok 10 (Ilmu Kedokteran Gigi Klinik 6) serta sebagai laporan hasil diskusi kelompok kami (kelompok 3) pada skenario 3. Laporan ini dapat tersusun atas bantuan berbagai pihak yang sangat membantu dalam proses diskusi dan penyusunan makalah. Ucapan terima kasih kami ucapkan pada fasilitator kelompok 3, drg. Fadli Jazaldi, Sp.Ort, seluruh staf pengajar blok 10, serta seluruh anggota kelompok 3 yang telah ikut serta dalam penyusunan laporan ini, dan pihak-pihak lain yang ikut serta membantu penyusunan laporan ini. Kami berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan laporan ini. Namun sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan, laporan ini tentu masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran sangat diharapkan oleh penyusun. Akhir kata, kami mengharapkan agar laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

Jakarta, 24 November 2011

Kelompok 3

1

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Ibu Sundari, usia 35 tahun, seorang karyawati bank swasta, single, datang ke klinik integrasi RSGMP FKG UI, meminta dibuatkan gigi tiruan. Keinginan pasien membuat gigi tiruan adalah untuk memperbaiki penampilannya agar wajahnya tidak terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya. Pada masa kecilnya, pasien tinggal di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh PAM.

I.2 Rumusan Masalah 1. Adakah hubungan tempat tinggal saat kecil yang tidak terjangkau oleh PAM dengan kondisi oral pasien? 2. Apa yang menyebabkan profil wajah pasien cekung? Adakah hubungannya dengan kondisi oral pasien? (terutama kasus gigi hilang yang banyak) 3. Bagaimana kondisi intra oral pasien dapat mempengaruhi kondisi ekstra oral pasien? 4. Bagaimana rencana perawatan untuk pasien dengan mempertimbangkan kondisi intra oral dan ekstra oralnya? 5. Bagaimana cara mengembalikan oklusi normal pada pasien?

I.3 Tujuan Penulisan

1. Memahami definisi dimensi vertikal, jenis, tujuan bahkan metode yang digunakan dalam penetapan dimensi vertikal. 2. Mengetahui metode pembuatan galangan gigit. 3. Mengetahui cara pemasangan model gigi di artikulator.

I.4 Hipotesis Pasien wanita 35 tahun terlihat lebih tua dari usianya disebabkan oleh kondisi intra oral pasien sehingga diperlukan pengembalian dimensi vertikal dan oklusi yang normal agar dapat memperbaiki penampilan. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Klasifikasi Relasi Rahang 1. Relasi Vertikal Rahang Relasi vertical merupakan penentuan jarak anatara rahang bawah dan rahang atas secara vertical di bawah kondisi tertentu. Dimensi vertikal ada 2 macam: a. Dimensi vertikal istirahat fisiologis yaitu hubungan rahang atas (maksila) dan rahang bawah (mandibula) dalam arah vertikal saat mandibula dalam kedudukan istirahat fisiologis. b. Dimensi vertikal oklusal yaitu hubungan rahang atas (maksila) dengan rahang bawah (mandibula) dalam arah vertikal saat gigi geligi atau galangan gigi atas dan bawah dalam kedudukan oklusi sentrik. Posisi istirahat fisiologis dari mandibula adalah posisi mandibula saat otot-otot elevator dan depressor mandibula dalam keadaan istirahat fisiologis, tonusnya seimbang dan kondilus dalam kedudukan relaks di dalam fossa glenoid. Istilah lain: - Physiological position - Rest jaw relation - Postural position Pada dimensi vertikal istirahat fisiologis, gigi geligi rahang atas dan rahang bawah tidak berkontak, sedangkan bibir atas dan bibir bawah berkontak ringan. Pada dimensi vertikal oklusal, gigi geligi rahang atas dan rahang bawah berkontak maksimum, sedangkan bibir atas dan bibir bawah berkontak wajar. Selisih dimensi vertikal istirahat fisiologis dan dimensi vertikal oklusal adalah free way space. Jaraknya kurang lebih 2-4 mm. Free way space ini merupakan hal yang penting pada kesehatan jaringan periodonsium saat gigi masih ada. Kegagalan dalam menyediakan jarak ini pada gigi tiruan akan menyebabkan clicking pada gigi tiruan serta rasa sakit pada jaringan basalis dan merusak sisa alveolar ridge yang masih ada secara cepat. 3

Nama lain dari free way space: - Celah/ruang antar oklusal - Interocclusal distance - Interocclusal gap/clearance - Interocclusal rest space

2. Relasi Horisontal Rahang Ada 2 macam hubungan horisontal rahang yang penting dalam penentuan oklusi GTSL. Yang pertama adalah relasi sentrik. Relasi ini merupakan posisi paling posterior dan tidak tegang dari mandibula terhadap maksila pada suatu kedudukan dimensi vertikal tertentu dimana gerakan mandibula ke lateral masih mungkin dilakukan. Posisi relasi sentrik tetap sama atau hampir demikian selama hidup manusia, kecuali bila terjadi injuri atau kelainan sendi temporomandibular. Relasi sentrik adalah hubungan tulang dengan tulang antara mandibula dengan maksila, dan dalam hal ini relasi tonjol gigi tidak diperhatikan. Mandibula dapat secara berulang dikembalikan pada posisi ini, karena itulah hal ini dianggap sebagai titik referensi dalam mengembangkan oklusi pasien. Hubungan horisontal kedua adalah oklusi sentrik. Relasi ini merupakan hubungan gigi geligi pada salah satu rahang dengan antagonisnya pada rahang lawannya, dimana terjadi hubungan antar tonjol maksimum. Hubungan ini benar-benar hubungan gigi dengan gigi dan sama sekali tidak mempermasalahkan posisi tulang rahang. Posisi ini merupakan suatu keadaan yang terjadi karena adanya suatu siklus yang memang sudah terlatih, disadari, dan merupakan gerak penutupan habitual. Walaupun pasien dapat melakukan gerakan dan mencapai oklusi sentrik, hal ini dianggap tidak dapat diulangulang dan tetap diragukan apakah dapat dainggap sebagai titik referensi untuk mengembangkan pola oklusi seseorang pasien. Pada 90% manusia, relasi sentrik tidak bertepatan dengan oklusi sentrik. Oklusi sentrik selalu berada sedikit lebih depan daripada relasi sentrik, umumnya sekitar 1-2 mm.

B. Penentuan Relasi Rahang pada Gigi Tiruan Sebagian Lepas 1. Definisi dan Tujuan 4

Penentuan relasi rahang atau juga disebut penentuan gigit adalah menentukan relasi mandibula terhadap maksila dalam keadaan oklusi sentris. Penentuan relasi rahang ini menjadi pedoman dalam penyusunan gigi di artikulator sehingga terbentuk oklusi yang baik dalam gigi tiruan. Tujuan dari membentuk suatu oklusi yang baik dalam gigi tiruan adalah untuk memperbaiki dan menjaga hubungan yang harmonis antara seluruh struktur rongga mulut dan untuk menjaga fungsi serta komponen sistem pengunyahan yang efisien dan estetik. Harmonisasi oklusi harus ada dalam gerakan relasi sentris, interkuspasi maksimal dan semua posisi eccentric lainnya. Kontak yang menyimpang akan membahayakan jaringan penyangga dan sistem neuromuskular yang mengontrol pergerakan mandibula. Kegunaan penetapan dimensi vertikal dan oklusi sentris : a. mengembalikan ekspresi wajah normal dari pasien b. mengembalikan fungsi bicara, fungsi kunyah, dan menelan c. menjaga kesehatan jaringan pendukung gigi tiruan dan sisa gigi yang masih ada

2. Oklusi pada GTSL Pada dasarnya, kemungkinan oklusi pada kasus oklusi GTSL ada 2 macam, yaitu oklusi ada dan oklusi tidak ada. Kemudian oklusi ada dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu oklusi ada dan fixed dan oklusi ada tapi tidak fixed/semifixed.

FixedOklusi Kasus GTSL Oklusi Ada Oklusi Tidak Ada Semifixed

a. Oklusi ada dan fixed Minimal 3 regio gigi berkontak, yaitu kiri, kanan, dan anterior yang beroklusi. Sehingga dapat dioklusikan dengan mudah dan tidak diperlukan tahapan pembuatan catatan gigit/penentuan gigit. b. Oklusi ada tapi tidak fixed

5

Hanya 2 regio gigi yang berkontak (kiri+kanan, atau kiri+anterior, atau kanan+anterior). Sehingga diperlukan tahapan pembuatan catatan gigit/penentuan gigit dengan bentuk galengan gigit. c. Oklusi tidak ada Tidak ada gigi yang beroklusi dengan benar. Sehingga diperlukan tahapan pembuatan catatan gigit/penentuan gigit dengan bentuk galengan gigit. Cara Menentukan Gigit Menurut Oklusi Gigi yang Ada a. Oklusi ada dan fixed Tidak perlu ditentukan, karena model rahang atas dan rahang bawah sudah dapat beroklusi dengan baik dan mantap. b. Oklusi ada tapi tidak fixed/semifixed Ada 2 cara, yaitu: 1. Dengan menggigit selapis malam, pada kasus gigi-gigi berkontak cukup banyak, tapi salah satu sisi rahang dimana gigi yang menentukan kunci oklusi tidak ada, missal molar 1 (umumnya kelas II Kennedy) 2. Dengan memakai galangan gigit. Pertama kali yang harus diperhatikan gigi yang berkontak dengan benar yang akan diupakai sebagai pedoman oklusi. Kemudian galangan gigit disesuaikan dengan sisi yang ada pada rahang atas dan bawah, kemudian pasien diinstruksikan untuk mengigit sehingga ada gambaran oklusal gigi lawan pada permukaan galangan gigit tersebut dan gigi yang dipakai sebagai pedoman harus beroklusi dengan benar. c. Oklusi tidak ada Dengan basis dan galangan gigit pada rahang atas dan rahang bawah: 1. Tentukan DV istirahat 2. Dapatkan DV oklusal 3. Tentukan relasi sentris 4. Fixasi galangan gigit rahang atas dan bawah Penjelasan: Sebelum menentukan DV, perlu diperhatikan terlebih dahulu kedudukan basis dan galangan gigit di dalam mulut

6

Untuk rahang atas, basis menutupi semua mukosa palatum durum sampai batas fibrating line di bagian posterior. Untuk bagian bukal, sampai batas mukosa gera