Makalah PBL Blok 7

download Makalah PBL Blok 7

of 16

  • date post

    16-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    131
  • download

    0

Embed Size (px)

description

aaa aaa aaa aaa

Transcript of Makalah PBL Blok 7

Makalah PBL Blok 7Struktur, Histologi, dan Fisiologi Sistem Pernapasan pada Manusia

Oleh:Raymond Edwin Lubis10.2010.142Kelompok: C122 Mei 2011

Fakultas KedokteranUniversitas Kristen Krida Wacana

Jalan Terusan Arjuna No. 6 Jakarta Barate-mail: epyon6@yahoo.co.id

PendahuluanSistem pernapasan merupakan salah satu sistem yang terpenting pada manusia. Tujuan terutama dari sistem pernapasan adalah terjadinya pertukaran oksigen yang diperlukan oleh jaringan tubuh dengan karbon dioksida yang tidak diperlukan oleh tubuh. Pertukaran ini melibatkan beberapa organ untuk berfungsi dengan baik agar aktivitas sehari-hari dapat dilaksanakan. Mulai dari menghirup udara sampai mengeluarkannya kembali lewat hidung, masing-masing jaringan yang dilewati berfungsi untuk memperlancar jalannya sistem ini.

Anatomi Sistem PernapasanHidung, terdiri atas nasus eksternus (hidung luar) dan cavum nasi. Nasus eksternus, mempunyai ujung yang bebas, yang dilanjutkan ke dahi melalui radix nasi atau jembatan hidung. Lubang luar hidung adalah nares atau lubang hidung. Setiap nares dibatasi di lateral oleh alae nasi dan di medial oleh septum nasi. Rangka nasus eksternus dibentuk di atas os nasale, processus frontalis ossis maxillares dan pars nasalis ossis frontalis. Di bawah, rangka ini dibentuk oleh lempeng-lempeng tulang rawan, yaitu cartilago nasi superior et inferior, dan cartilago septi nasi.1

Gambar 1: Anatomi Hidung Dilihat dari Posisi Anatomi

Sinus paranasales adalah rongga-rongga yang terdapat di dalam os maxilla, os frontale, os sphenoidale, dan os ethmoidale. Sinus-sinus ini dilapisi oleh mucoperiosteum dan berisi udara, berhubungan dengan cavum nasi melalui apertura yang relatif kecil. Sinus maxillaris dan sphenoidalis pada waktu lahir terdapat dalam bentuk yang rudimenter, setelah usia delapan tahun menjadi cukup besar , dan pada masa remaja telah terbentuk sempurna. Sekret yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar di dalam membrana mukosa didorong ke dalam hidung oleh gerakan sel-sel silindris. Aliran dari sekret juga dibantu oleh tenaga menyedot yang terjadi pada waktu membuang ingus. Sinus berfungsi sebagai resonator suara; sinus juga mengurangi berat tengkorak. Bila muara sinus tersumbat atau sinus berisi cairan, kualitas suara jelas berubah.1

Gambar 2: Anatomi Hidung Dilihat dari Potongan Midsagital

Larynx adalah organ khusus yang mempunyai sphincter pelindung pada pintu masuk jalan napas dan berfungsi sebagai pembentukan suara. Di atas larynx terbuka ke dalam laryngopharynx, dan di bawah larynx berlanjut sebagai trakea. Kerangka larynx dibentuk oleh beberapa kartilago, yang dihubungkan oleh membrana dan ligamentum dan digerakkan oleh otot. Larynx dilapisi oleh membrana mukosa. Berikut cartilago-cartilago penyusun larynx:11. Cartilago thyroidea, terdiri atas dua lamina cartilago hyalin yang bertemu di garis tengah pada tonjolan sudut V, yaitu jakun (Adams apple).2. Cartilago cricoidea, berbentuk cincin cartilago yang utuh. Bentuknya mirip cincin cap dan terletak di bawah cartilago thyroidea. Cartilago ini mempunyai arcus anterior yang sempit dan lamina posterior yang lebar.3. Cartilago arytenoidea, merupakan cartilago kecil, dua buah, dan berbentuk pyramid. Keduanya terletak di belakang larynx, pada pinggir atas lamina cartilago cricoidea. Masing-masing cartilago mempunyai apex di atas dan basis di bawah. Apex menyangga cartilago cornicuata. Basis bersendi dengan cartilago crocoidea.4. Cartilago cornicuata, adalah dua buah nodulus kecil yang bersendi dengan apex cartilaginis arytenoideae dan merupakan tempat lekat plica aryepiglottica.5. Cartilago cuneiformis, merupakan dua cartilago kecil berbentuk batang yang terletak sedemikian rupa sehingga masing-masing terdapat di dalam satu plica aryepiglottica. Cartilago ini berfungsi menyokong plica tersebut.6. Epiglottis adalah sebuah cartilago elastis berbentuk daun yang terletak di belakang radix linguae. Di depan berhubungan dengan corpus ossis hyoidei dan di belakang dengan cartilago thyroidea melalui tangkainya.

Gambar 3: Anatomi Laring Dilihat dari Posisi Anatomi

Kemudian membrana dan ligamentum yang terdapat pada larynx adalah sebagai berikut:11. Membrana thyroidea menghubungkan pinggir atas cartilago thyrodea di sebelah bawah dengan permukaan posterior corpus dan cornu majus ossis hyoidei di sebelah atas. Pada garis tengah membrana ini menebal, membentuk ligamentum thyroideum mediana; pinggir posterior menebal membentuk ligamentum thyroideum laterale.2. Ligamentum cricotracheale menghubungkan pinggir bawah cartilago cricoidea dengan cincin trachea pertama.3. Membrana fibroelastica laryngis terletak di bawah membrana mucosa yang melapisi larynx. Bagian atas membrana disebut membrana quadrangularis, yang terbentang antara epiglottis dan cartilago arytaenoidea.4. Ligamentum hyoepiglotticum menghubungkan epiglottis dengan os hyoideum.5. Ligamentum thyroepiglotticum menghubungkan epiglottis dengan cartilago thyroidea. Trakea adalah tabung yang dapat bergerak dengan panjang kurang lebih 13 cm dan berdiameter 2,5 cm. trakea memiliki dinding fibroelastis yang tertanam di dalam balok-balok cartilago hialin yang berbentuk huruf U yang mempertahankan lumen trakea tetap terbuka. Ujung posterior cartilago yang bebas dihubungkan oleh otot polos yang disebut otot trakealis. Trakea berpangkal di leher, di bawah kartilago cricoidea setinggi corpus vertebrae cervicalis VI.1

Gambar 4: Anatomi Sistem Pernapasan Secara Keseluruhan

Pleura terdiri dari dua lapisan: lapisan viseralis yang melekat pada paru dan lapisan parietalis yang membatasi aspek terdalam dinding dada, diafragma, serta sisi perikardium dan mediastinum. Pada hilus paru kedua lapisan pleura ini berhubungan. Hubungan ini bergantung longgar di atas hilus dan disebut ligamentum pulmonale. Adanya ligamentum ini memungkinkan peregangan vv. Pulmonalis dan pergerakan struktur hilus selama respirasi. Kedua rongga pleura ini tidak berhubungan. Rongga pleura mengandung sedikit cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas untuk mengurangi friksi antara kedua pleura. Selama inspirasi maksimal paru-paru hampir mengisi seluruh

Gambar 5: Pleura pada Pulmo

rongga pleura. Pada inspirasi tenang paru-paru tidak mengembang sepenuhnya, melainkan menyisakan ruang sisa kostodiafragmatikus dan kostomediastinal dari rongga pleura. Pleura parietalis sensitif terhadap nyeri dan raba (melalui n.interkostalis dan n.frenikus). pleura viseralis hanya sensitif terhadap regangan (melalui serabut aferen otonom dari pleksus pulmonalis).2Bronkus principalis (utama) dexter lebih lebar, lebih pendek, dan lebih vertikal dibandingkan bronkus principalis sinister dan panjangnya kurang lebih 2,5 cm. sebelum masuk ke dalam hilum pulmonis dexter, bronkus principalis dexter mempercabangkan bronkus lobaris superior dexter. Saat masuk ke hilum, bronkus principalis dexter membelah menjadi bronkus lobaris medius dan bronkus lobaris inferior dextra. Bronkus principalis sinister lebih sempit, lebih panjang, dan lebih horizontal dibandingkan bronkus principalis dexter dan panjangnya kurang lebih 5 cm. berjalan ke kiri di bawah arkus aortae dan di depan oesophagus. Pada waktu masuk ke hilum pulmonis sinistra, bronkus principalis sinister bercabang menjadi bronkus lobaris superior sinister dan bronkus lobaris inferior sinister.1

Histologi Sistem PernapasanSecara anatomis, selain dibedakan berdasarkan pertama kali munculnya alveolus, saluran pernapasan dibagi menjadi dua bagian, saluran pernapasan atas dan bawah, yang dipisahkan oleh faring. Secara fungsional dan histologis faring dipandang sebagai bagian dari saluran pencernaan, walaupun berperan penting sebagai suatu jalan udara.3Saluran pernapasan atas terdiri atas ruang yang saling berhubungan, rongga hidung, sinus paranasal dan nasofaring, dan pada dasarnya terlibat dalam penyaringan, pelembaban dan penyesuaian suhu dari udara yang diinspirasi. Selain itu, rongga hidung mengandung reseptor untuk indera pembau sementara sinus paranasal berfungsi sebagai bilik resonansi untuk bicara, juga mengurangi massa tulang dari cranii. Nasofaring dihubungkan melalui tuba auditori (Eustachii) ke rongga telinga tengah, susunan demikian memungkinkan terjadinya penyelerasan tekanan udara dalam telinga tengah dengan lingkungan eksternal. Saluran pernapasan atas dilapisi oleh epitel bertingkat silindris dengan banyak sel goblet (epitel pernapasan). Istilah membran mukosa dan mukosa juga digunakan secara umum dalam menjelaskan lapisan lembab dari saluran lainnya seperti saluran gastrointestinal dan selalu mengacu pada epitel maupun lamina propria penyokongnya. Lapisan jaringan penyokong lainnya disebut submukosa memisahkan mukosa dari struktur di bawahnya.3Saluran pernapasan bawah dimulai pada laring kemudian berlanjut ke dalam torak sebagai trakea sebelum terbagi menjadi sejumlah jalan udara yang lebih kecil untuk mencapai alveoli; terdapat sekitar duapuluh kali percabangan pada manusia. Pita suara dan laring melindungi saluran pernapasan bawah terhadap masuknya benda-benda asing, selain berfungsi penting dalam berbicara. Pita suara dilapisi oleh epitel berlapis gepeng yang lebih sesuai baik dari epitel pernapasan dalam menahan stres gesekan. Trakea pertama-tama dibagi menjadi bronki utama atau primer kanan dan kiri yang mensuplai paru-paru. Masing-masing bronkus meneruskan cabangnya ke bronki sekunder atau lobar mensuplai lobus paru-paru sebelum membagi lagi untuk membentuk bronki tersier atau bronki segmental yang mensuplai segmen-segmen masing-masing lobus. Bronki tersier kemudian bercabang-cabang menjadi banyak jalan udara yang lebih kecil yang disebut bronkiolus, jalan udara yang paling kecil disebut bronkiolus terminalis dan menandai akhir dari saluran bagian penghubung. Bronkiolus terminalis kemudian bercabang-cabang menjadi jalan udara transisi, bronkiolus respiratorius dan duktus alveolaris, yang terutama terlib