Makalah Pbl Blok 7

Click here to load reader

  • date post

    09-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    471
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Pbl Blok 7

MAKALAH PBL BLOK 7

Sistem Respirasi 1 Batuk, Serak dan Sakit saat Menelan

Nama : Winda Anastesya Nim : 10 2009 246

PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA JAKARTA 2013

1

PENDAHULUAN

Pernapasan merupakan satu proses pertukaran gas-gas respirasi yaitu oksigen dan karbon dioksida. Fungsi utama pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen untuk kelangsungan proses metabolisme sel-sel tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida hasil dari metabolisme tersebut. Sistem pernapasan meliputi saluran pernapasan yang berfungsi dalam konduksi udara bermula dari rongga hidung, pharynx, larynx sehingga paru, organ pertukaran gas, dan sistem sirkulasi darah yang membawa oksigen ke jaringan tubuh dan membawa karbon dioksida ke alveolus. Proses bernapas terjadi akibat dari inspirasi dan ekspirasi, yang diakibatkan oleh kontraksi otot-otot interkostal dan diafragma. Setelah oksigen disalurkan ke paru, akan berlakulah proses difusi dan transportasi gas tersebut ke kapiler darah seterusnya ke jaringan dalam tubuh yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Volume dan kapasitas paru setiap individu akan berbeda dengan individu yang lain, dan hal ini dapat ditentukan melalui pengukuran kapasitas paru dengan menggunakan spirometri.. 1.1 Latar belakang menjadi seorang dokter yang profesional haruslah memiliki banyak ilmu dasar mengenai fisiologi, yaitu mekanisme kerja dasar dalam tubuh, juga harus mengerti prinsip dasar anatomi tubuh secara makro dan mikro. karna fisiologi dan anatomi adalah dasar untuk bisa menjadi seorang dokter yang profesional. 1.1 Tujuan dari segi fisiologi untuk mengetahui bagaimana sistem kerja dan mekanisme pernafasan serta dari segi anatomi dan hsitologi untuk mengetahui bagian-bagian tubuh yang berfungsi dalam sistem pernafasan baik secara makro maupun mikro.

2

DAFTAR ISIPendahuluan .................................................................................................... 2 1.1 latar belakang ................................................................................ 2 1.2 tujuan ............................................................................................. 2 Daftar isi .......................................................................................................... 3 Pembahasan ..................................................................................................... 4 3.1 Struktur makroskopik .................................................................... 4 3.2 Struktur mikroskopik .................................................................... 13 3.3 Fungsi dan mekanisme pernafasan ................................................ 16 3.4 Tes fungsi paru .............................................................................. 28 Penutup ........................................................................................................... 32 Daftar pustaka ................................................................................................. 33

3

PEMBAHASAN

Saluran Pernafasan

Gambar 1. Saluran Pernasafan.9

Struktur Makroskopis dan Mikroskopis Saluran Pernafasan. Struktur Makroskopis.1-3Dalam pembahasan struktur makroskopis dari saluran pernafasan kita memandang dari sisi anatominya, yang akan dibahas yaitu dari hidung sampai dengan paru paru. Alat alata pernafasan digunakan dalam pengangkutan gas gas, dibedakan alat alat pernafasan yang dilalui udara yaitu rongga hidung, faring, laring dan trakea, dan paru paru dan dari paru paru berfaal untuk pertukaran gas secara langsung antara udara dan darah. Sebagian besar saluran pernafasan, bronkus berada didalam paru paru, laring juga berfungsi untuk produksi

4

suara. Alat penghidu berguna mengontrol penarikan napas membantu orientasi lingkungan dan bersama sama dengan saraf sensoris mukosa hidung membantu melindungi individu.

Satu bagian pernafasan berjalan didalam kepala yaitu saluran pernafasan bagian atas yang meliputi hidung, rongga hidung, sinus sinus nasalis dan faring, bagian lainnya terdapat dileher dan batang badan yaitu saluran pernafasan bagian bawah meliputi laring, trakea, bronkus bronkus dan paru paru. Hidung Bagian luar yagn timbul seakan akan membentuk gambaran timbul pada bibir dan pipi dengan adanya lipatan nasolabial, kerangka hidung dibentuk oleh os nasale, processus frontalis maxillae dan bagian nasal ossis frontalis pada akarnya dan kearah puncaknya oleh tulang rawan hialin yang saling dapat digerakkan sesamanya yaitu rangka tulang rawan terdiri dari cartilago septi nasi, cartilago nasi lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor. Otot yang melapisi hidung yaitu m nasalis dan m depressor septi nasi. M nasalis dan m levator labium suoerior ala nasi berfungsi untuk mengontrol gerakan gerakan hidung. Pendarahan hidung bagian luar disuplai oleh cabang cabang a facialis, a dorsalis nasi cabang a ophtalmica dan a infraorbitalis cabang a maxilaris interna dan pembuluh baliknya menuju v facialis dan v ophthalmica. Persyarafannya oleh n facialis, n ophthalmicus dan n maxillaris. Sekat Rongga Hidung Terdiri dari tulang dan tulang rawan membentang dari rongga hidung sampai ke lubang hidung luar dimana sekat tersebut berakhir sebagai jaringan ikat fibrotik. Tulang rawannya terdiri atas sebuah lamela septal, kartilago septum nasi dan sepasang lamela lateral ke punggung hidung yaitu kartilago nasalis lateralis. Tulang rawan tersisip ke belakang dan ke atas diantara bagian bagian tulang dekat rongga hidung yaitu lamina perpendicularis tulang tapisan dan os vomer serta kulit. Vomer membentuk sebuah birai tulang rawan yang sempit yang disebut kartilago vomeronasalis pada kedua sisi batas antara bagian tulang rawan dan bagian tulang sekat rongga hidung, birai tersebut mempunyai penebalan mukosa yang banyak berpembuluh darah, titik kiesselbach yang mudah berdarah pada cedera cedera hidung. Ke arah anterior5

pada tiap sisi mukosa sehat rongga hidung terdapat korpus cavernosum yagn mempersempit atrium setinggi meatus media, keseringan sekat rongga hidung ini miring ke salah satu sisi yang disebut deviasi septum. Nares Eksterna ( Lubang Hidung Luar ) Bagian ini menuju vestibulum hidung. Ini terletak di bagian hidung yang dapat digerakkan dan terpisah dari rongga hidung oleh suatu peninggian yang melengkung yaitu limen nasi. Vestibulum mempunyai sebuah lingkaran rambut, vibrisa yang melengkung keluar untuk menjaga dari masuknya benda asing. Rongga Hidung Sagital rongga hidung dibagi oleh sekat hidung kedua belah rongga ini terbuka ke arah wajah melalui nares dan kearah posterior berkesinambungan dengan nasopharynx melalui apertura nasi posterior ( choana ), masing masing belahan ada dasar, atao, dinding lateral dan dinding medial ( sekat hidung ). Rongga hidung terdiri atas 3 regio yaitu vestibulum, penghidu dan pernafasan. Vestibulum hidung merupakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat disebelah dalam nares. Regio penghidu berada disebelah cranial dimulai dari atap rongga hidung daerah ini meluas sampai setinggi concha nasalis superrior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha tersebut. Regio pernafasan adalah bagian rongga hidung yang selebihnya. Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi yakni concha nasalis superior , concha nasalis medius dan concha nasalis inferior di inferolateral bagian ini terdapat meatus nasi yang sesuai letaknya. Disebelah cranial dan dorsal terhadap concha nasalis superior terdapat recessus spheno-ethmoidalis yang mengandung muara sinus sphenoidalis, pada recessus ini terdapat concha nasalis suprema. Meatus nasi superior yang letak inferior terhadap concha nasalis superior memperlihatkan sebuah lubang sebagai muara sinus ethmoidalis posterior. Meatus nasi medius berada infero lateral terhadap concha nasalis medius dan kearah anterior berkesinambungan dengan fossa dangkal di sebelah cranial vestibulum dan limen nasi yakni atrium meatus nasi medius. Disebelah cranial atrium terdapat sebuah rigi yakni agger nasi, yang melandai ke arah bawah dan depan, mulai dari ujung atas tepi bebas bagian anterior concha nasalis medius. Setinggi meatus medius ini dinding lateral rongga hidung memperlihatkan sebuah elevasi6

bulat, yakni bulla ethmoidalis yang dibentuk oleh pembengkakan sinus ethmoidalis medius yang bermuara pada atau tepat diatas bulla ethmoidalis tersebut. Disebelah bawah bula tadi terdapat celah lengkung yang meluas ke atas sampai disebelah depan bulla yakni hiatus semiulnaris. Disebelah inferior hiatus semiulnaris dibatasi oleh rigi konkay yang dibentuk oleh processus uncinatus ethmoidalis, kearah depan dan atas hiatus ini menjadi sebuh salurang lengkung yakni infundibulum ethmoidale. Ke dalam infundibulum ethmoidale tersebut berkesinambungan dengan ductus nasofrontalis. Dengan demikian kesebelah ventral infundibulum berakhir pada sinus ethmoidalis anterior dan ductus nasofrontalis bermuara lewat infundibulum ini ke ujung anterior meatus nasi medius. Muara sinus maksilaris yang berada didekat atapnya berhubungan dengna rongga hidung melewati titik terendah hiatus semiulnaris, disebelah caudal bulla ethmoidalis. Meatus nasi inferior di caudal dan lateral terhadap concha nasalis inferior berisi muara ductus nasolacrimalis. Kesebelah ventral infundibulum berakhir pada pada sinus ethmoidalis anterior dan ductus nasofrontalis bermuara lewat infundibulum ini ke ujung dalam anterior meatus nasi medius. Muara sinus maksilares yang berada didekat atapnya, berhubungan dengan rongga hidung lewat titik terendah hiatus semiulnaris disebelah kaudal bulla ethmoidalis, ada meatus nasi inferior di caudal dan lateral terhadap concha nasalis inferior, berisi buara ductus naso lacrimalis. dinding medial atau septum nasi dibentuk oleh lamina prepencicularis ossis ethmoidalis, os vomer dan cartilago septi nasi, dari arah belakang kedepan, atap cavum nasi di ba