Makalah PBL BLOK 28 KECELAKAAN KERJA YUNITA.docx

download Makalah PBL BLOK 28 KECELAKAAN KERJA YUNITA.docx

of 34

  • date post

    24-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    449
  • download

    28

Embed Size (px)

description

pbl blok 28

Transcript of Makalah PBL BLOK 28 KECELAKAAN KERJA YUNITA.docx

Kecelakaan Kerja Yunita 102010152 9 Oktober 2013Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No 6, Jakarta Telp. (021) 5605140 E-mail : chocoffee_holic@yahoo.com

Pendahuluan Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja pada perusahaan. Hubungan kerja di sini dapat berarti, bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Seperti kita ketahui bersama selama ini angka kecelakaan yang disebabkan akibat kerja sangatlah tinggi. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data yang diterbitkan oleh Jamsostek, pada tahun 2007 tercatat terjadi 65.474 kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697 orang cedera. Selain mengakibatkan kerugian jiwa, kerugian materi yang ditimbulkan akibat kecelakaan kerja juga sangat besar yang berupa kerusakan sarana produksi, biaya pengobatan dan kompensasi yang dibayarkan. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum di Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah, padahal karyawan adalah aset pentingperusahaan. Kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat seumur hidup, di samping berdampak pada kerugian non-materil, juga menimbulkan kerugian materil yang sangatbesar.17 Langkah Diagnosis OkupasiAda 7 langkah untuk mendiagnosis suatu penyakit akibat kerja, yang disebut dengan 7 langkah diagnosis okupasi. Diagnosis penyakit akibat kerja adalah landasan terpenting bagi manajemen penyakit tersebut promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Diagnosis penyakit akibat kerja juga merupakan penentu bagi dimiliki atau tidak dimilikinya hak atas manfaat jaminan penyakit akibat kerja yang tercakup dalam program jaminan kecelakaan kerja. Sebagaimana berlaku bagi smeua penyakit pada umumnya, hanya dokter yang kompeten membuat diagnosis penyakit akibat kerja. Hanya dokter yang berwenang menetapkan suatu penyakit adalah penyakit akibat kerja. Tegak tidaknya diagnosis penyakit akibat kerja sangat tergantung kepada sejauh mana metodologu diagnosis penyakit akibat kerja dilaksanakan oleh dokter yang bersangkutan.1Cara menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja mempunyai kekhususan apabila dibandingkan terhadap diagnosis penyakit pada umumnya. Untuk diagnosis penyakit akibat kerja, anamnesis dan pemeriksaan klinis serta laboratoris yang biasa digunakan bagi diagnosis penyakit pada umumnya belum cukup, melainkan harus pula dikumpulkan data dan dilakukan pemeriksaan terhadap tempat kerja, aktivitas pekerjaan dan lingkungan kerja guna memastikan bahwa pekerjaan atau lingkungan kerja adalah penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan. Selain itu, anamnesis terhadap pekerjaan baik yang sekrang maupun pada masa sebelumnya harus dibuat secara lengkap termasuk kemungkinan terhadap terjadinya paparan kepada faktor mekanis, fisik, kimiawi, biologis, fisiologis/ergonomis, dan mental-psikologis.17 langkah Diagnosis Okupasi:11. Diagnosis Klinisa. Anamnesis Identitas meliputi : nama pasien, usia, jenis kelamin, jabatan, unit/ bagian kerja, lama bekerja, nama perusahaan, jenis perusahaan dan alamat perusahaan. Riwayat penyakit : keluhan utama, riwayat penyakit sekarang (RPS), riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK). Riwayat pekerjaan : Sudah berapa lama bekerja sekarang ? Riwayat pekerjaan sebelumnya ? Alat kerja, bahan kerja, proses kerja ? Barang yang diproduksi/dihasilkan ? Waktu bekerja dalam sehari ? Kemungkinan pajanan yang dialami ? Alat pelindung diri yang dipakai ? Hubungan gejala dan waktu kerja ? Apakah pekerja lain ada yang mengalami hal sama ?

Anamnesis tentang riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan dimaksudkan untuk mngetahui kemungkinan salah satu faktor di tempat kerja, pada pekerjaan dan atau lingkungan kerja menjadi penyebab penyakit akibat kerja. Riwayat penyakit meliputi antara lain awal-mula timbul gejala atau tanda sakit pada tinggkat dini penyakit, perkembangan penyakit, dan terutama penting hubungan antara gejala serta tanda sakit dengan pekerjaan dan atau lingkungan kerja.1Riwayat pekerjaan harus ditanyakan kepada penderita dnegan seteliti-telitinya dari pemrulaan sekali smapai dengan waktu terakhir bekerja. Jangan sekali-kali hanya mencurahkan perhatian pada pekerjaan yangg dilakukan waktu sekarang, namun harus dikumpulkan informasi tentang pekerjaan sebelumnya, sebab selalu mungkin bahwa penyakit akibat kerja yang diderita waktu ini penyebabnya adalah pekerjaan atau lingkungan kerja dari pekerjaan terdahulu. Hal ini lebih penting lagi jika tenaga kerja gemar pindah kerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Buatlah tabel yang secara kronologis memuat waktu, perusahaan, tempat bekerja, jenis pekerjaan, aktivitas pekerjaan, faktor dalam pekerjaan atau lingkungan kerja yang mungkin menyebabkan penyakit akibat kerja. Penggunaan kuestioner yang direncanakan dengan tepat sangat membantu.1Perhatian juga diberikan kepada hubungan antara bekerja dan tidak bekerja dengan gejala dan tanda penyakit. Pada umumnya gejala dan tanda penyakit akibat kerja berkurang, bahkan kadang-kadang hilang sama sekali, apabila penderita tidak masuk bekerja; gejala dan tanda itu timbul lagi atau menjaid lebih berat, apabila ia kembali bekerja. Fenomin seperti itu sangat jelas misalnya pada penyakit dermatosis akibat kerja atau pada penyakit bissinosis atau asma bronkhiale akibat kerja atau lainnya. Informasi dan dan data hasil pemeriksaan kesehata khusus sangat penting artinya bagi keperluan menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja. Akan lebih mudah lagi menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, jika tersedia data kualitatif dan kuantitatif faktor-faktor dalam pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan penyakit akibat kerja.1b. Pemeriksaan Fisik :Pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk menemukan gejala dan tanda yang sesuai untuk suatu sindrom, yang sering-sering khas untuk suatu penyakit akibat kerja. Kesadaran Tanda-tanda vital (TTV) berupa tekanan darah, suhu, denyut nadi, dan frekuensi napas. Pemeriksaan secara sistematik dari kepala, leher, dada, perut, kelenjar getah bening, ekstremitas atas dan bawah serta tulang belakang. Status Lokalis (keadaan lokal). Pada pemeriksaan muskuloskeletal yang penting:1. Look (inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat: Sikatriks (jaringan parut alamiah atau post operasi). Warna kemerahan/kebiruan atau hiperpigmentasi. Benjol/pembengkakan/cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa. Posisi serta bentuk dari ekstremitas (deformitas). Cara berjalan (gait waktu pasien masuk kamar periksa). Kulit utuh/ robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cidera terbuka.2. Feel (palpasi) Perubahan suhu terhadap sekitarnya serta kelembaban kulit. Bila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau hanya edema terutama daerah persendian. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainannya (1/3 proksimal/tengah/ distal). Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi; benjolan yang terdapat di permukaan tulang atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu di diskripsi (tentukan) permukaannya, konsistensinya dan pergerakan terhadap permukaan atau dasar, nyeri atau tidak dan ukurannya.3. Move (gerak) Krepitasi terasa bila fraktur digerakkan, tetapi ini bukan cara yang baik dan kurang halus. Krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya ujung tulang kortikal. Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif dan pasif. Memeriksa seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan yang tidak mampu dilakukan, range of motion dan kekuatan. Gerakan yang tidak normal gerakan yang terjadi tidak pada sendi. Misalnya: pertengahan femur dapat digerakan. Ini adalah bukti paling penting adanya fraktur. Hal ini penting untuk membuat visum, bila tidak ada fasilitas rontgen.

c. Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan laboratorium ditujukan untuk mencocokkan benar tidaknya penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan ada dalam tubuh tenaga kerja yang menderita penyakit tersebut. Guna menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, biasanya tidak cukup sekedar pembuktian secara kualitatif yaitu tentang adanya faktor penyebab penyakit, melainkan harus ditunjukkan juga banyaknya atau pembuktian secara kuantitatif. Berikut ini adalah jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang anamnesis dan pemeriksaan fisik: Pemeriksaan rontgen. Untuk menentukan lokasi, luasnya, trauma, dan jenis fraktur. Scan tulang, CT scan/MRI. Memperlihatkan tingkat keparahan fraktur, juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Arteriografi : jika dicurigai ada kerusakan vaskuler. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal. Hitung darah lengkap. Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada multipel trauma) peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal setelah trauma.d. Pemeriksaan tempat kerja : misalnya kelembaban, kebisingan, penerangan. Pemeriksaan tempat dan ruang kerja untuk memastikan adanya faktor penyebab penyakit di tempat atau ruang kerja serta mengukur kadarnya. Hasil pengukuran kuantitatif di tempat kerja sangat perlu untuk melakukan penilaian dan mengambil kesimpulan, apakah kadar zat sebagai penyebab penyakit akibat kerja cukup dosisnya untuk menyebab sakit. Meliputi faktor lingkungan kerja yang dapat berpengaruh terhadap sakit penderita (faktor fisis, kimiawi, biologis, psikososial), faktor cara kerja yang dapat berpengaruh terhadap sakit penderita (peralatan kerja, proses produksi, ergonomi), waktu paparan nyata (per hari, perminggu) dan alat pelindung diri.2. Pajanan yang dialamiMeliputi pajanan saat ini dan sebelumnya. Informasi ini diperoleh terutama dari anamnesis yang teliti. Akan lebih baik lagi jika dilakukan pengukuran lingkungan kerja.3. Hubu