Makalah Pbl Blok 26

download Makalah Pbl Blok 26

of 22

  • date post

    05-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    317
  • download

    43

Embed Size (px)

description

26

Transcript of Makalah Pbl Blok 26

Masalah Kesehatan Masyarakat pada Puskesmas PendahuluanSemenjak umat manusia menghuni planet bumi ini, sebenarnya mereka sudah seringkali menghadapi masalah masalah kesehatan serta bahaya kematian yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan hidup yang ada di sekeliling mereka seperti benda mati, mahkluk hidup, adat istiadat, kebiasaan dan lain lain.Faktor-faktor yang berpengaruh pada kesehatan individu atau masyarakat terdiri dari faktor sosial ekonomi (dimensi sosial ekonomi yang terkait dengan perilaku kelompok masyarakat), faktor keturunan (genetik), faktor lingkungan, gangguan nutrisi, dan perubahan gaya hidup.Semua faktor tersebut berpengaruh pada status kesehatan individu/masyarakat.Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup, mempromosikan kesehatan dan efisiensi dengan cara mengorganisir kekuatan pada masyarakat yang sering disebut sebagai Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan atau disebut Public Health and Preventive Medicine.1

Identifikasi Masalah Kesehatan di Masyarakat Berdasarkan skenario terdapat kasus di puskesmas kecamatan T dari hasil evaluasi sementara di sebuah puskesmas diketahui terdapat 5 penyakit utama yaitu ISPA, penyakit diare, penyakit TBC, penyakit kulit dan gizi buruk.Wilayah puskesmas ini dilalui oleh 2 sungai yang dimanfaatkan penduduk sebagai sumber air bersih, tempat mandi, mencuci, dan tempat buang air besar.Sebagian besar penduduknya menempati rumah semipermanen yang kurang sehat dan menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar.Jumlah posyandu diwilayah puskesmas sejumlah 5 posyandu di 5 Desa dengan jumlah kader sebanyak 20 orang. Dengan mengkaji pelaksanaan program pelayanan kesehatan masyarakat, seorang dokter yang menjadi pemimpin organisasi kesehatan akan mampu merumuskan dua jenis masalah yang ada di organisasinya yaitu masalah program dan masalah kesehatan masyarakat.Masalah program berhubungan dengan manajemen kesehatan.Masalah kesehatan adalah kejadian sakit atau penyakit yang berkembang pada sekelompok masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.Kedua jenis masalah tersebut berbeda ruang lingkupnya tetapi keduanya saling terkait di lapangan.Setiap program kesehatan perlu dilakukan lebih dulu analisis permasalahan yang ada dan setelah itu baru dipertimbangkan mana yang harus lebih dulu dikerjakan sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi berdasarkan skala prioritas jangka pendek, menengah dan panjang.2 Berbagai masalah kesehatan diatas akan dibahas sebagai berikut:ISPAInfeksi saluran napas atas terdiri dari: a.) Bakteri: Diplococcus pneumonia, Pneumococcus, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, dan lain-lain. b.) Virus: Influenza, adenovirus, Sitomegalovirus. c.) Jamur: Aspergillis sp, Candida albicans, Histoplasma, dan lain-lain.3Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-rata 4 kali per tahun), artinya seorang balita rata-rata mendapatkan serangan batuk pilek sebanyak 3-6 kali setahun. Dari hasil pengamatan epidemiologi dapat diketahui bahwa angka kesakitan di kota cenderung lebih besar daripada didesa. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat kepadatan tempat tinggal dan pencemaran lingkungan di kota yang lebih tinggi daripada di desa. Di Negara berkembang , penyakit pneumonia merupakan 25% penyumbang kematian pada anak, terutama pada bayi berusia kurang dari dua bulan.4Beberapa wilayah di Indonesia mempunyai potensi kebakaran hutan dan telah mengalami beberapa kali kebakaran hutan terutama pada musim kemarau. Asap dari kebakaran hutan dapat menimbulkan penyakit ISPA dan memperberat kondisi seseorang yang sudah menderita pneumonia khususnya Balita. Disamping itu asap rumah tangga yang masih menggunakan kayu bakar juga menjadi salah satu faktor risiko pneumonia. Hal ini dapat diperburuk apabila ventilasi rumah kurang baik dan dapur menyatu dengan ruang keluarga atau kamar.Indonesia juga merupakan negara rawan bencana seperti banjir, gempa, gunung meletus, tsunami, dll. Kondisi bencana tersebut menyebabkan kondisi lingkungan menjadi buruk, sarana dan prasarana umum dan kesehatan terbatas. Penularan kasus ISPA akan lebih cepat apabila terjadi pengumpulan massa (penampungan pengungsi). Pada situasi bencana jumlah kasus ISPA sangat besar dan menduduki peringkat teratas.4

DiarePenyebab diare dapat dikelompokan menjadi: a.) Bakteri: E.coli, Shigella sp, Vibrio cholera, dan lain-lain. b.) Parasit: Entamoeba histolytica, Giardia lambria, Cryptosporidium. c.) Keracunan makanan. d.) Malabsorpsi (misalnya: Karbohidrat, lemak, dan protein). e.) Alergi (misalnya: makanan, susu sapi).3Sekitar lima juta anak di seluruh dunia meninggal karena diare akut. Di Indonesia, laporan yang masuk ke Departemen Kesehatan menunjukan bahwa setiap anak mengalami serangan diare sebanyak 1,6-2 kali setahun. Angka kesakitan dan kematian akibat diare mengalami penurunan dari tahun ke tahun.3Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %.).Salah satu langkah dalam pencapaian target MDGs (Goal ke-4) adalah menurunkan kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT),studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat.5

TuberkulosisPenyebab penyakit tuberculosis adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis. Bakteri ini mempunyai sifat istimewa, yaitu dapat bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alcohol, sehingga sering disebut basil tahan asam (BTA), serta tahan terhadap zat kimia dan fisik. Kuman tuberculosis juga tahan dalam keadaan kering dan dingin, bersifat dorman dan aerob.3Penyakit TBC masih merupkan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TBC dengan kematian karena TBC sekitar 140.000. secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TBC paru BTA positif. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang, 75% penderita TBC adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun) dan beban terbesar ada di Asia Tenggara.Di Jakarta, dari hasil penelitian tahun 2001 dapat dilihat prevalensi TBC baru BTA (+) adalah 114 per 100.000 penduduk sedangkan perkiraan suspek TBC adalah 14 per 1000 penduduk.3

Penyakit kulit Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dengan lingkungan hidup manusia oleh karena itu kulit tidak pernah luput dari bakteri yang dapat bertindak sebagai parasit yang dapat menimbulkan penyakit maupun sebagai komensal yang merupakan flora normal. Penyakit kulit sendiri ada bermacam macam namun ada beberapa penyakit yang dapat ditangani oleh puskesmas namun tidak menutup kemungkinan untuk penyakit kulit yang lain dapat ditangani tergantung pada ketersedian tenaga medis dan pengobatan di puskesmas tersebut. Penyakit kulit yang banyak didapat di puskesmas antara lain dermatitis(atopic,alergi),scabies,Tinea, Milaria(biang keringat),Panu,dll.6Tabel 1.Beberapa Penyakit Kulit pada Wilayah Kerja Puskesmas6PenyakitTanda dan GejalaPemeriksaan

Dermatitis(alergi,atopic)Gatal,ruam kulitEritem,krusta,vesikel,macula,ada riwayat pada atopi pada keluarga

SkabiesGatal pada sela jari terutama pada malam hariDisebabkan oleh Sarcoptes scabie,adanya terowongan (kunikulus)berwarna putih keabuan pada tempat predileksi

TineaPlak atau bercak berwarna kemerahan,dapat mengenai seluruh bagian tubuh, gatal,terutama saat berkeringatLesi berupa bercak/plak yang tegas, dapat terjadi area inflamasi,terdapat skuama dan hyperkeratosis, dapat mengenai kepala(tinea kapitis),seluruh tubuh ( tinea korporis),bagian pantat dan lipatan paha(tinea kruris),jari-jari kaki(tinea pedis),telapak tangan(tinea manuum) atau kuku(tinea unguim)

MilariaRuam bintik-bintik merah,gatal terutama saat keringatTerdapat ruam berupa bintik bintik merah

PanuBercak berwarna putih,gatal saat berkeringatBercak bersisik halus berwarna putih

Gizi buruk Kurang energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0% anak sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek.Keadaan ini berpengaruh kepada masih tingginyba angka kematian bayi. Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah dengan menjadikan tatalaksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang ditemukan.7