Makalah Pbl Blok 18 Pertusis

download Makalah Pbl Blok 18 Pertusis

of 15

  • date post

    21-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    80
  • download

    26

Embed Size (px)

description

makalah pertusis blok 18

Transcript of Makalah Pbl Blok 18 Pertusis

Pertusis Jessica Susanto 102011032Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510Telp: 021 569 42061, Fax: 021 563 1731Email: jscrown88@hotmail.com______________________________________________________________________________

PENDAHULUANPertusis adalah suatu infeksi saluran pernafasan akut yang banyak menyerang anak balita dengan angka kematian yang tertinggi pada anak usia di bawah satu tahun. Pertusis disebabkan oleh infeksi Bordetella pertusis. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut lainnya, pertusis sangat mudah dan cepat penularannya, melalui droplet aerosol.Di negara berkembang termasuk Indonesia, insidens penyakit ini masih tinggi. Pertusis dapat menyerang semua umur, dari bayi sampai dewasa. Tindakan penanggulangan penyakit ini antara lain dilakukan dengan pemberian imunisasi. Meskipun angka morbiditas dan mortalitas telah menurun setelah program imunisasi, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan apabila mengenai bayi-bayi.

ISIAnamnesis Anamnesis memain peran yang sangat penting dalam mendiagnosis sesuatu penyakit. Yang ditanyakan pada anamnesis meliputi identitas pasien, keluhan pasien, riwayat penyakit yang diderita dan sebagainya. Berikut adalah sistematika dari anamnesis:Identitas pasien Nama pasien Jenis kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Status pernikahan Tanggal lahir

Keluhan dan riwayat penyakitKeluhan utama adalah keluhan yang membawa pasien ke dokter. Keluhan tambahan yaitu keluhan-keluhan yang lain disamping keluhan utama. Riwayat penyakit sekarang adalah penjabaran dari keluhan utama. Riwayat penyakit dahulu terutama yang berkaitan dengan keluhan/penyakit yang diderita saat ini. Riwayat penyakit keluarga untuk menandai adanya faktor herediter atau penularan.Pada kasus didapatkan seorang anak laki-laki usia 5 tahun, datang dengan keluhan batuk sejak 2 minggu yang lalu. Anak tampak sakit ringan, tidak disertai keluhan lain. Terdapat conjuctive hemorrhage pada kedua mata. Perkara penting yang harus ditanyakan pada kasus ini adalah riwayat imunisasi anak, riwayat kontak dengan penderita pertusis, dan sifat dari batuknya sendiriapakah disertai bunyi yang khas seperti wheezing atau whooping.

Pemeriksaan fisikPemeriksaan fisik paru-paru harus meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pada inspeksi, yang harus dilihat apakah terdapat kelainan patologis atau hanya fisiologis dengan melihat pengembangan paru-paru saat bernapas.Palpasi dapat menilai hal-hal seperti berikut: Simetri atau asimetri dada, yang dapat diperoleh dari adanya benjolan yang abnormal, pembesaran kelenjar limfe pada aksila dan lain-lain. Adanya fremitus suara, merupakan getaran pada daerah toraks pada saat anak bicara atau menangis yang sama dalam kedua sisi toraks. Apabila suaranya meninggi, maka terjadi konsolidasi seperti pada pneumonia.1 Apabila menurun, maka terjadi obstruksi, atelektaksis, pleuritis, efusi pleura, dan tumor pada paru-paru.1 Caranya dengan meletakkan telapak tangan kanan dan kiri pada daerah dada atau punggung.Perkusi dapat dilakukan dengan cara langsung atau tidak langsung. Cara langsung dapat dilakukan dengan mengetukkan ujung jari atau jari telunjuk langsung ke dinding dada. Sedangkan cara tidak langsung dapat dilakukan dengan cara meletakkan satu jari pada dinding dada dan mengetuknya dengan jari tangan lainnya yang dimulai dari atas ke bawah atau dari kanan ke kiri dengan membandingkannya. Hasil dari pemeriksaan ini adalah : Sonor merupakan suara paru-paru normal. Redup atau pekak merupakan suara perkusi yang berkurang normalnya pada daerah scapula, diafragma, hati dan jantung. Suara pekak atau redup ini biasanya terdapat konsolidasi jaringan paru-paru seperti pada atelektasi, pneumonia lobaris dan lain-lain.1 Hipersonor atau timpani yang terjadi apabila udara dalam paru-paru atau pleura bertambah, seperti pada emfisema paru-paru atau pneumotoraks.1Auskultasi berguna untuk menilai suara nafas dasar dan suara nafas tambahan, yang dilakukan pada seluruh dada dan punggung. Bandingkan suara napas dari kanan ke kiri, kemudian dari bagian atas ke bawah, dan tekan daerah stestoskop yang kuat. Khusus pada bayi, suara napasnya akan lebih keras karena dinding dadanya masih tipis.Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih. Berikut merupakan suara nafas normal:a) Bronchial : sering juga disebut dengan Tubular sound karena suara ini dihasilkan oleh udara yang melalui suatu tube (pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase tersebut. Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch.b) Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada.c) Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.Bunyi nafas tambahan atau abnormal pula adalah seperti berikut:a) Wheezing : Adalah bunyi seperti bersiul, kontinu, yang durasinya lebih lama dari krekels. Terdengar selama : inspirasi dan ekspirasi, secara klinis lebih jelas pada saat ekspirasi. Penyebabnya adalah akibat udara melewati jalan napas yang menyempit/tersumbat sebagian. Dapat dihilangkan dengan batuk. Dengan karakter suara nyaring, suara terus menerus yang berhubungan dengan aliran udara melalui jalan nafas yang menyempit (seperti pada asma dan bronchitis kronik). Wheezing dapat terjadi oleh karena perubahan temperature, allergen, latihan jasmani, dan bahan iritan terhadap bronkus.b) Ronchi : Adalah bunyi tambahan yang terdengar selama ekspirasi. Penyebabnya adalah karena gerakan udara melewati jalan napas yang menyempit akibat obstruksi napas, dapat berupa sumbatan akibat sekresi, odema, atau tumor.1Ronchi kering : suatu bunyi tambahan yang terdengar kontinyu terutama waktu ekspirasi disertai adanya mucus/secret pada bronkus. Ada yang high pitch misalnya pada asma dan low pitch oleh karena secret yang meningkat pada bronkus yang besar yang dapat juga terdengar waktu inspirasi.Ronchi basah (krepitasi) : bunyi tambahan yang terdengar tidak kontinyu pada waktu inspirasi seperti bunyi ranting kering yang terbakar, disebabkan oleh secret di dalam alveoli atau bronkiolus. Ronki basah dapat halus, sedang, dan kasar. Ronki halus dan sedang dapat disebabkan cairan di alveoli misalnya pada pneumonia dan edema paru, sedangkan ronki kasar misalnya pada bronkiekstatis.1Perbedaan ronchi dan mengi adalah, mengi berasal dari bronkus dan bronkiolus yang lebih kecil salurannya, terdengar bersuara tinggi dan bersiul. Biasanya terdengar jelas pada pasien asma. Ronchi pula berasal dari bronki dan bronkiolus yang lebih besar salurannya, mempunyai suara yang rendah, sonor. c) Pleural friction rub : Adalah suara tambahan yang timbul akibat terjadinya peradangan pada pleura sehingga permukaan pleura menjadi kasar. Karakter suara adalah kasar, berciut, disertai keluhan nyeri pleura. Terdengar selama akhir inspirasi dan permulaan ekspirasi. Tidak dapat dihilangkan dengan dibatukkan. Terdengar sangat baik pada permukaan anterior lateral bawah toraks. Terdengar seperti bunyi gesekan jari tangan dengan kuat di dekat telinga, jelas terdengar pada akhir inspirasi dan permulaan ekspirasi, dan biasanya disertai juga dengan keluhan nyeri pleura. Bunyi ini dapat menghilang ketika nafas ditahan. Sering didapatkan pada pneumonia, infark paru, dan tuberculosis.1

Pemeriksaan penunjangHasil isolasi B.pertussis tertinggi diperoleh pada stadium kataral, dan biasanya tidak dapat ditemukan lagi setelah 4 minggu pertama sakit.2 Bahan pemeriksaan berupa usapan nasofaring penderita atau dengan menampung batuk secara langsung pada perbenihan. Pemeriksaan serologi, direct fluorescent antibody (DFA) lebih cepat dari biakan kuman tetapi jarang dipakai karena memerlukan keahlian.Pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin meliputi hemoglobin, hematokrit, leukosit, dan thrombosit. Selain itu, pemeriksaan radiologi, biakan sputum atau bilas lambung juga boleh dilakukan. Karena kasus tuberkulosis masih banyak di Indonesia, dianjurkan untuk melakukan uji tuberkulin pada anak. Pertusis ditandai dengan leukositosis (15.000-100.000 sel/mm3) dengan limfositosis yang dominan terutama pada stadium paroksismal.2 Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk melihat kelainan pada volume dan struktur paru, serta untuk mendeteksi apakah terdapat infiltrat pada paru.

Gambar 1. Hasil uji diagnostik laboratorium pada pertusis memperlihatkan leukositosis dan limfositosisSumber: Krugmans infectious diseases of children. 11th ed.

Pemeriksaan laboratorium memberikan hasil seperti berikut: Hb: 12g/dL Ht: 38% Leukosit: 35.000 dan limfositosis Thrombosit: 250.000Dari pemeriksaan radiologi, ditemukan infiltrat perihilar.

Working diagnosisPada kasus didapatkan seorang anak laki-laki usia 5 tahun, dengan keluhan batuk sejak 2 minggu yang lalu. Anak tampak sakit ringan, tidak disertai keluhan lain. Suhu 37,2oC, frekuensi nafas dan nadi normal. Terdapat conjuctive hemorrhage pada kedua mata. Dari hasil laboratorium, didapatkan leukositosis pada anak tersebut. Foto thoraks memberikan hasil infiltrat perihilar. Dari anamnesis dan pemeriksaan di atas, working diagnosis untuk kasus ini adalah pertusis.

Differential diagnosisInfeksi Bordetella parapertussisGejala yang ditimbulkan oleh B.parapertussis adalah sama dengan yang ditimbulkan oleh B.pertussis, cuma lebih ringan dan dengan durasi yang lebih pendek. Selain itu, infeksi ini tidak mengakibatkan lekositosis dan limfositosis.2 Bakteri ini dapat diidentifikasi secara khusus dengan tes aglutinasi. Kira-kira 5% daripada kasus p