Makalah PBL Blok 12

download Makalah PBL Blok 12

of 24

  • date post

    06-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    45
  • download

    13

Embed Size (px)

description

Gejala, Penyebab, dan Penatalaksanaan Demam Tifoid

Transcript of Makalah PBL Blok 12

Gejala, Penyebab, dan Penatalaksanaan Demam TifoidNevy Olianovi (102013101)Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510Telephone: (021) 5694-2061, fax: (021) 563-1731nevy.olianovi@yahoo.com

AbstrakDemam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air, dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah. Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan diagnosis. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain, terutama pada minggu pertama sakit. Hal ini menunjukkan perlunya pemeriksaan penunjang laboratorium untuk konfirmasi penegakan diagnosis demam tifoid.Kata kunci: demam tifoid, pemeriksaan, gejala, diagnosisAbstractTyphoid fever is a systemic infectious disease caused by Salmonella typhi are still widely found in abundance in many developing countries are mainly located in the tropics and subtropics. This disease is also an important public healt problem because of its spread is closely related to urbanization, population density, environmental health, water resources, and poor sanitation and hygiene standards of food processing industry is still low. Some of factors that cause typhoid fever continues to be an important health problem in developing countries including also delay diagnosis. Diagnosis of typhoid fever is currently done clinically and by laboratory. Clinical diagnosis of typhoid fever is often not appropriate as there was no specific clinical symptoms or obtained the same symptoms in several other diseases, especially in the first week of illness. This case demonstrates the need for laboratory investigations to confirm the diagnosis of typhoid fever.Keywords: typhoid fever, examination, symptoms, diagnosis

PendahuluanDemam merupakan suatu gejala dari beberapa penyakit. Namun tidak semua penyakit menimbulkan demam. Demam biasanya disertai menggigil pada beberapa penyakit dan kondisi tertentu. Dengan gejala demam saja, kita tidak bisa menentukan secara langsung seseorang menderita penyakit tertentu, namun harus ada gejala penunjang lain atau dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan penunjang.Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui apakah seseorang dengan gejala demam yang terus menerus dan lebih tinggi menjelang sore hari, disertai pusing, nyeri perut, mual, dan muntah, menderita penyakit demam tifoid ataukah ada penyakit lain yang menyebabkan gejala seperti di atas serta penyebab penyakit, dan cara penangannya.AnamnesisDokter sebagai petugas medis, dalam mengobati pasiennya wajib mengetahui apa yang dikeluhkan oleh pasien hingga pasien datang kepada dokter. Untuk mengetahui apa yang dikeluhkan pasien serta data-data pendukung yang diperlukan dari pasien, maka dokter melakukan anamnesis. Anamnesis lebih baik dilakukan dalam suasana nyaman dan santai. Anamnesis dapat dilakukan secara auto-anamnesis atau allo-anamnesis. Pada auto-anamnesis, dokter dapat langsung bertanya kepada pasien. Sedangkan allo-anamnesis, dokter bertanya pada keluarga terdekat ataupun orang terdekat yang mengetahui kondisi pasien.1,2Anamnesis sendiri terdiri dari beberapa pertanyaan yang dapat mengarahkan kita untuk dapat mendiagnosa penyakit apa yang diderita oleh pasien. Pertanyaan tersebut meliputi identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan keluarga, dan riwayat pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan, lingkungan).1,2Pada kasus skenario 3, hasil anamnesa adalah sebagai berikut: Keluhan utama: Keluhan demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam dirasakan sepanjang hari dan lebih tinggi menjelang sore hari. Keluhan tambahan: Demam disertai pusing, nyeri perut, mual, dan muntah. Belum BAB sejak 4 hari yang lalu.Selanjutnya, dokter mulai mengarahkan pertanyaan-pertanyaan. Beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk pasien tersebut, ialah:1. Sejak kapan muncul demam?2. Bagaimana intensitas demamnya?3. Demamnya saat kapan saja? Sepanjang hari dan lebih tinggi menjelang sore hari?4. Adakah perdarahan seperti mimisan?5. Adakah keluhan lain yang dirasakan?6. Apakah sebelumnya ada kegiatan berpergian ke suatu tempat?7. Apakah sebelumnya ada makan sembarangan?8. Bagaimana sanitasi lingkungan di sekitar tempat tinggal? Apakah bersih atau tidak?9. Riwayat penyakit dahulu?10. Riwayat penyakit keluarga?11. Riwayat pribadi?Pemeriksaan FisikPada pemeriksaan fisik yang dilakukan pada kasus skenario 3, didapati bahwa kesadaran pasien adalah compos mentis, yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dan dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.3Kemudian selain tingkat kesadaran, pemeriksaan fisik menunjukkan suhu tubuh 37,80C, nadi 90x per menit, tingkat respirasi (respiratory rate) 18x per menit, tekanan darah 120/80 mmHg, dan pada pemeriksaan abdomen ditemukan nyeri tekan di ulu hati dan ditemukan adanya lidah tifoid.Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan penunjang yang dilakukan pada skenario 3 adalah pemeriksaan laboratorium dengan hasil Hb = 14 g/dl, Ht = 42%, leukosit = 4000/l, dan trombosit = 200.000/l. Pemeriksaan lainnya adalah Widal dengan titer S. typhi O = 1/320, S. typhi H = 1/320, dan S. paratyphi AO = 1/80.Pemeriksaan penunjang di atas menunjukan pemeriksaan yang dilakukan untuk diagnosis demam tifoid. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam empat kelompok, yaitu:1. Pemeriksaan darah periferPada pemeriksaan darah perifer biasa ditemukan leukopenia, walaupun dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukosistosis. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Selain itu pula dapat ditemukan anemia ringan dan trombositopenia. Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofiliawalaupun limfopenia. Laju endap darah pada demam tifoid dapat meningkat.3,4,52. Pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kumanDiagnosis demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S.typhi dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari rose spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses.3,4,5Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada beberapa faktor, yaitu:3,4,5 jumlah darah yang diambil perbandingan volume darah dari media empedu waktu pengambilan darahVolume 10-15 mL dianjurkan untuk dewasa, sedangkan pada anak kecil dibutuhkan 2-4 mL. Sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan untuk kultur hanya sekitar 0.5-1 mL. Bakteri dalam sumsum tulang ini juga lebih sedikit dipengaruhi oleh antibiotika daripada bakteri dalam darah.3,4,53. Uji serologisUji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dengan mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S.typhi maupun mendeteksi antigen itu sendiri. Volume darah yang diperlukan untuk uji serologis ini adalah 1-3 mL yang diinokulasikan ke dalam tabung tanpa antikoagulan. Beberapa uji serologis yang dapat digunakan pada demam tifoid ini meliputi:a. Uji WidalUji Widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman S. typhi. Pada uji Widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin. Antigen yang digunakan pada uji Widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Maksud uji Widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid, yaitu aglutinin O (dari tubuh kuman), aglutinin H (flagela kuman) dan aglutinin Vi (simpai kuman).3,4,5Dari ketiga aglutinin tersebut, hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi titernya, semakin besar kemungkinan terinfeksi kuman ini.3,4,5Pembentukan aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara tepat dan mencapai puncak pada minggu keempat, dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada fase akut mula-mula timbul aglutinin O, kemudian diikuti dengan aglutinin H. Pada orang yang telah sembuh aglutinin O masih ditemukan setelah 4-6 bulan, sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9-12 bulan. Oleh karena itu uji Widal bukan untuk menentukan kesembuhan penyakit.3,4,5Titer aglutinin O akan naik lebih dulu dan lebih cepat hilang daripada aglutinin H atau Vi, karena pembentukannya T independent sehingga dapat merangsang limposit B untuk mengekskresikan antibodi tanpa melalui limposit T. Titer aglutinin O ini lebih bermanfaat dalam diagnosa dibandingkan titer aglutinin H. Bila bereaksi dengan antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti pasir. Titer aglutinin O 1/160 dinyatakan positif demam typhoid dengan catatan 8 bulan terakhir tidak mendapat vaksinasi atau sembuh dari demam typhoid dan untuk yang tidak pernah terkena 1/80 merupakan positif.3,4,5Titer aglutinin ini lebih lambat naik karena dalam pembentukan memerlukan rangsangan limfosit T. Titer aglutinin 1/80 keatas mempunyai nilai diagnostik yang baik dalam menentukan demam typhoid. Kenaikan titer aglutinin empat kali dalam jangka 5-7 hari berguna untuk menentukan demam typhoid. Bila bereaksi dengan antigen spesifik aka