Makalah Kimia Medisinal KLP. 1

download Makalah Kimia Medisinal KLP. 1

of 36

  • date post

    15-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    395
  • download

    95

Embed Size (px)

description

aaaaa

Transcript of Makalah Kimia Medisinal KLP. 1

MAKALAH KIMIA MEDISINAL Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas Obat Diuretik

Disusun Oleh :G 701 11 051 IKALIANAG 701 11 053 FANI OKTAVIANIG 701 11 054 SUMARNIG 701 11 055 FANNY AMELIA S.G 701 11 056PRAMITA PUTRIKelompok :I ( Satu )Dosen Penanggung jawab :Yuliet, S.Si., M.Si., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASIFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAMUNIVERSITAS TADULAKOPALUKATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat hidayah dan rahmat-Nya yang diberikan kepada kami berupa kesehatan rohani dan jasmani sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Kimia Medisinal yang berjudul Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas Obat Diuretik, yang dapat diselesaikan dengan baik.Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami banyak menemukan hambatan, tetapi berkat dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang telah membantu serta para dosen-dosen farmasi yang telah banyak membantu kami dengan baik, kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Untuk itu tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam membuat makalah ini hingga makalah kimia medisinal ini dapat terselesaikan dngan baik.Tidak lupa kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu untuk memperbaiki makalah ini kami mengharapkan kritik-kritik dan saran-saran yang membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan para pembaca pada umumnya, serta dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menjadi pedoman bagi mata kuliah kimia medisinal selanjutnya. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Palu, 16 Mei 2014

Kelompok I

DAFTAR ISI

Sampul1Kata Pengantar2Daftar Isi3Bab. IPendahuluan1.1Latar Belakang41.2Tujuan51.3Rumusan Masalah5Bab. IIPembahasan2.1Diuretika62.2Kelompok Pembagian Diuretika62.3Mekanisme Kerja Diuretik82.4Masalah yang Timbul pada Pemberian Diuretik92.5Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat Diuretik13Bab III.Penutup3.1 Kesimpulan35DAFTAR PUSTAKA

B A B IP E N D A H U L U A N

I.1Latar BelakangDiuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal. Obat-obat lainnya yang menstimulasi diuresis dengan mempengaruhi ginjal secara tidak langsung termasuk dalam definisi ini, misalnya zat-zat yang memperkuat kontraksi jantung (digoksin,teofilin), memperbesar volume darah (dekstran) atau merintangi sekresi hormon antidiuretik ADH (air,alkohol). Jika pada peningkatan ekskresi garam- garam maka diuretika ini dinamakan saluretika atau natriuretika (diuretika dalam arti sempit). Walaupun kerjanya pada ginjal, diuretika bukan obat ginjal, artinya senyawa ini tidak dapat memperbaiki atau menyembuhkan penyakit ginjal, demikian juga pada pasien insufisiensi ginjal jika diperlukan dialisis, tidak akan dapat ditangguhkan dengan penggunaan senyawa ini. Beberapa diuretika pada awal pemgobatan justru memperkecil ekskresi zat-zat penting urin (dengan mengurangi laju filtrasi glomerulus) sehingga akan memperburuk insufisiensi ginjal. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga cairan ekstrasel kembali menjadi normal.Urin diekskresikan oleh ginja. Unit fungsional dari ginjal adalah neufron, yang terdiri dari glomerulus, tubulus proksimalis dan distalis, loop of henle dan saluran pengumpul.. Diuretika mempengaruhi tiga proses fisiologis dalam pengangkutan elektrolit, yaitu pada filtrasi glomerulus , absorpsi kembali ditubulus atau loop of henle dan sekresi ditubulus.

I.2Tujuan1. Mengetahui dan memahami apa yang dimaksud diuretika.2. Mengetahui dan memahami kelompok pembagian diuretika.3. Mengetahui dan memahami mekanisme kerja diuretik.4. Mengetahui dan memahami masalah yang timbul pada pemberian diuretik.5. Mengetahui dan memahami Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas (HKSA) obat diuretik.I.3Rumusan Masalah1. Apa yang dimaksud dengan diuretika?2. Apa saja kelompok pembagian diuretika?3. Bagaimana mekanisme kerja diuretik?4. Apa saja masalah yang timbul pada pemberian diuretik?5. Bagaimana Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas (HKSA) obat diuretik?

B A B IIP E M B A H A S A N

II.1DiuretikaDiuretika adalah senyawa yang dapat meningkatkan volume urin. Diuretika bekerja terutama dengan meningkatkan ekskresi ion-ion Na+, Cl-, HCO3-, yang merupakan elektrolit utama dalam cairan luar sel. Diuretika juga menurunkan absorbsi kembali elektrolit di tubulus renalis dengan melibatkan proses pengangkutan aktif. Diuretika terutama digunakan untuk mengurangi sembab (edema) yang disebabkan oleh meningkatnyajumlah cairan luar sel, pada keadaan yang berhubungan kegagalan jantung kongestif, kegagalan ginjal, oligourik, sirosis hepatik, keracunan kehamilan, glaukoma, hiperkalsemi, diabetes insipidus dan sembab yang disebabkan oleh penggunaan jangka panjang kortikosterpoidatau estrogen. Diuretika juga digunakan sebagai penunjang pada pengobatan hipertensi.II.2Kelompok Pembagian DiuretikaBerdasarkan efek yang dihasilkan diuretika dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :1. Diuretika yang hanya meningkatkan ekskresi air dan tidak mempengaruhi kadar elektrolit tubuh.2. Diuretika yang dapat meningkatkan ekskresi Na+ (natriuretik),3. Diuretika yang dapat meningkatkan ekskresi Na+ dan Cl-( saluretik).Secara umum diuretika dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu diuretika osmotik, diuretika pembentuk asam, diuretika merkuri organik, diuretika penghambat karbonik anhidrase, diuretika turunan tiazida, diuretika hemat kalium dan diuretika loop. Maka, dalam makalah ini akan dibahas mengenai hubungan kuantitatif struktur dan aktivitas obat-obat golongan diuretik.Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik ini. Pertama, tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih kecil bila dibandingkan dengan diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium banyak. Kedua, status fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasi jantung, sirosis hati, gagal ginjal. Dalam keadaan ini akan memberikan respon yang berbeda terhadap diuretik. Ketiga, interaksi antara obat dengan reseptor. Berdasarkan cara bekerja, ada beberapa jenis diuretik yang diketahui pada saat ini. Antara lain : 1. Diuretik osmotik dan Aquaretics. Obat-obat ini hanya direabsorpsi sedikit oleh tubuli, hingga rabsorpsi air juga terbatas. Efeknya adalah diuresis osmotik dengan ekskresi air kuat dan relatif sedikit ekskresi Na+. Contoh : manitol, glukosa, sorbitol, sukrosa, dan urea. 2. Penghambat karbonik anhidrase ginjal. Diuretik jenis ini merintangi enzim karbonanhidrase di tubuli proksimal, sehingga disamping karbonat, juga Na+ dan K+ diekskresikan lebih banyak, bersamaan dengan air. Khasiat diuretiknya hanya lemah, setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka perlu digunakan secara selang seling (intermittens). Contoh : asetazolamida. 3. Diuretik derifat tiasid. Efeknya lebih lemah dan lebih lambat, tetapi bertahan lebih lama (6-48 jam) dan terutama digunakan pada terapi pemeliharaan hipertensi dan kelemahan jantung (decompensatio cordis). Obat-obat ini memiliki kurva dosis-efek datar, artinya bila dosis optimal dinaikkan lagi efeknya tidak bertambah (diuresis, penurunan tekanan darah). Contoh : hidroclorotiazid, talidon, indapamida dan klopamida. 4. Diuretik loop. Obat-obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Banyak digunakan pada keadaan akut, misalnya pada udema otak dan paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis-efek curam, artinya bila dosis dinaikkan efeknya senantiasa bertambah. Contoh : furosemida, bumetanida dan etakrinat. 5. Diuretik hemat kalium (Potassium Sparing Diuretic). Efek obat ini hanya lemah dan khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika lainnya guna menghemat ekskresi kalium. Aldosteron menstimulasi reabsorpsi Na+ dan ekskresi K+ ; proses ini dihambat secara kompetitif oleh obat-obat ini. Amilorida dan triamteren dalam keadaan normal hanya lemah efek ekskresinya mengenai Na+ dan K+. Tetapi pada penggunaan diuretika loop tiazid terjadi ekskresi kalium dengan kuat, maka dengan pemberian bersama penghemat ekskresi kalium ini menghambat ekskresi K+ dengan kuat pula. Mungkin juga ekskresi dari magnesium dihambat. 6. Diuretik merkuri organik. 7. Diuretik pembentukan asam. Diuretika pembentuk asam adalah senyawa anorganik yang dapat menyebabkan urin bersifat asam dan mempunyai efek diuretik. Senyawa golongan ini efek diuretiknya lemah dan menimbulkan asidosis hiperkloremik sistemik. Efek samping yang ditimbulkan antara lain iritasi lambung, penurunan nafsu makan, mual, asidosis dan ketidaknormalan fungsi ginjal. Contoh : amonium klorida, amonium nitrat dan kalsium klorida.II.3 Mekanisme Kerja DiuretikKebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorpsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih diperbanyak. Obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli tetapi juga di tempat lain, yakni di: 1. Tubuli proksimal. Ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang di sini direabsorpsi secara aktif untuk kurang lebih 70% antara lain ion Na+ dan air, begitu pula dengan glukosa dan ureum. Karena reabsorpsi berlangsung secara proporsional, maka susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma. Diuretika osmotis (manotol,sorbitol) bekerja di sini dengan merintangi reabsorpsi air dan juga natrium. 2. Lengkungan henle. Di bagian menaik dari Henles loop ini kurang lebih 25% dari semua ion Cl- yang telah difiltrasi direabsorsi secara aktif, disusul dengan reabsorpsi pasif dari Na+ dan K+ tetapi tanpa air, hingga filtrat menjadi hipotonis. Diuretika loop seperti furosemida, bumetanida dan etakrinat bekerja terutama di sini dengan merintangi transpor Cl- dan demikian reabsorpsi Na+. Pengeluaran K+ dan air juga diperbanyak. 3. Tubuli distal. Di bagian pertama segmen ini, Na+ direabsorpsi secara aktif pula tanpa air hingga filtrat menjadi lebih cair dan l