Makalah Kep Anak Hirschsprung

of 43 /43
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit hirschprung merupakan kelainan bawaan sejak lahir, dimana usus besar (colon) tidak dapat mengeluarkan feses melalui rectum sehingga terjadinya penumpukan pada colon (megacolon), hal ini terjadi karena tidak adanya syaraf pada lapisan colon yang berfungsi membantu colon untuk melakukan gerak peristaltic sehingga makanan yang telah diserap airnya dapat mengalir ke rectum. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rochadi, staff pengajar fakultas kedokteran UGM , insiden kejadian hirschprung ini adalah 1 dalam 5000 kelahiran. Sehingga diperkirakan akan terjadi 1200 kasus setiap harinya. Penyebab terjadinya hirschprung belum diketahui secara pasti, namun menurut William Schwartz (1995) penyakit hirschprung dipercaya diakibatkan oleh kegagalan migrasi kraniokaudal precursor sel ganglion di sepanjang saluran cerna selama minggu ke-5 hingga ke 12 masa gestasi. Newborn sangat berisiko mengalami hirschprung dilihat dari factor biologisnya, karena struktur anatomi pencernaannya belum mature ditambah lagi jika ada kelainan syaraf seperti yang telah disebutkan 1

Embed Size (px)

description

makalah

Transcript of Makalah Kep Anak Hirschsprung

Page 1: Makalah Kep Anak Hirschsprung

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit hirschprung merupakan kelainan bawaan sejak lahir, dimana usus

besar (colon) tidak dapat mengeluarkan feses melalui rectum sehingga terjadinya

penumpukan pada colon (megacolon), hal ini terjadi karena tidak adanya syaraf

pada lapisan colon yang berfungsi membantu colon untuk melakukan gerak

peristaltic sehingga makanan yang telah diserap airnya dapat mengalir ke rectum.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rochadi, staff pengajar fakultas

kedokteran UGM , insiden kejadian hirschprung ini adalah 1 dalam 5000

kelahiran. Sehingga diperkirakan akan terjadi 1200 kasus setiap harinya.

Penyebab terjadinya hirschprung belum diketahui secara pasti, namun menurut

William Schwartz (1995) penyakit hirschprung dipercaya diakibatkan oleh

kegagalan migrasi kraniokaudal precursor sel ganglion di sepanjang saluran cerna

selama minggu ke-5 hingga ke 12 masa gestasi.

Newborn sangat berisiko mengalami hirschprung dilihat dari factor

biologisnya, karena struktur anatomi pencernaannya belum mature ditambah lagi

jika ada kelainan syaraf seperti yang telah disebutkan diatas maka besar

kemungkinan newborn tersebut akan mengalami hirschprung. faktor resiko lain

yang memperparah anak dengan hirschprungh yaitu factor ekonomi, anak dengan

hirschprung harus segera mendapatkan tindakan medis yang membutuhkan biaya

tidak sedikit, jika keluarga anak dari kalangan ekonomi kurang maka akan

memperparah kondisi si anak.

Penanganan medis yang tepat dilakukan yaitu dengan menerapkan konsep

Family Centered Care, dimana keluarga di ikutsertakan dalam setiap tindakan

medis dan perawatan si anak. Ajak diskusi keluarga dan berikan informasi terkait

tindakan medis yang dilakukan, serta biarkan keluarga menemani anak saat dalam

perawatan karena akan mengurangi stress anak terhadap situasi rumah sakit.

1

Page 2: Makalah Kep Anak Hirschsprung

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja factor resiko yang mempengaruhi terjadinya Hirschprung

pada newborn ?

2. Bagaimana proses tumbuh kembang newborn ?

3. Bagaimana sistem eliminasi pada newborn ?

4. Bagaimana konsep Family Centered Care dan aplikasinya pada

newborn dengan hirschprung ?

5. Bagaimana konsep istirahat dan tidur pada newborn serta pengaruhnya

dengan newborn yang mengami hirschprung ?

6. Bagaimana asuhan keperawatan pada newborn dengan hirsprung ?

C. Tujuan Penulisan

1. Memahami factor resiko terjadinya hirschprung pada newborn

2. Memahami proses tumbuh kembang newborn

3. Memahami sistem eliminasi newborn

4. Memahami konsep Family Centered Care

5. Memahami konsep istirahat dan tidur pada newborn

6. Mengetahui asuhan keperawatan pada newborn dengan hirschprung

D. Metode Penulisan

Metode penyusunan makalah yang digunakan adalah studi pustaka.

Pengkajian studi dilakukan melalui studi pustaka dengan menggunakan

berbagai literatur dan pencarian data dari internet. Tim penyusun mencari

literatur-literatur yang relevan dengan tema makalah ini, baik dari buku

maupun dari internet yang berkaitan dengan topik. Literatur tersebut kemudian

dianalisis dengan cara berdiskusi dalam group discussion dan dinterpretasikan

dengan topik.

E. Sistematika penulisan

Makalah ini terdiri dari lima bab. Makalah ini diawali dengan Bab

1, pendahuluan, yang terdiri dari paragraf yang menjabarkan latar

belakang masalah yang akan dibahas, perumusan masalah dan ruang

2

Page 3: Makalah Kep Anak Hirschsprung

lingkupnya, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika

penulisan. Makalah dilanjutkan dengan Bab 2, tinjauan pustaka, yang

melingkupi semua materi yang ingin disampaikan dari referensi yang telah

didapatkan. Berikutnya Bab 3 yang berisi analisis kasus, Bab 4 berisi

pembahasan berisi implikasi aplikasi konsep, dan diakhiri dengan Bab 5

yang berisi kesimpulan dan saran.

3

Page 4: Makalah Kep Anak Hirschsprung

BAB II

KONSEP AT RISK

A. Definisi, Etiologi, Tanda dan Gejala Hisprung

Hirschprung adalah penyakit yang mempengaruhi usus besar (colon)

pada newborn, bayi dan toddler dimana kondisi ini menghambat pergerakan

feses melewati colon karena kehilangan sel syaraf pada bagian bawah colon.

Usus besar (colon) menyerap beberapa materi makanan seperti air dari usus

halus dengan pergerakan peristaltik, pergerakan ini diatur oleh syaraf yang

berada dilapisan otot usus besar. Anak yang menderita penyakit hirschprung

tidak mempunyai syaraf tersebut yang dikarenakan cacat kongenital sehingga

menghalangi pengeluaran feses dan terjadi dilatasi colon (megacolon).

Penyakit hirschsprung adalah anomali kongenital yang mengakibatkan

obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan motilitas sebagian dari usus

(Wong. D. L & Schwartz P, 2009). Hirschprung diindikasikan dengan adanya

bagian dari usus besar (mulai dari anus kearah atas) yang tidak mempunyai

persarafan (ganglion), sehingga terjadi “kelumpuhan” usus besar dalam

menjalankan fungsinya. Hal ini mengakibatkan terakumulasinya feses dan

dilatasi colon (megakolon) yang masif (Behrman&Arvin, 2000).

Terdapat beberapa pendapat mengenai etiologi dari penyakit

Hirschprung, menurut William Schwartz (1995) penyakit Hirschprung

dipercaya diakibatkan oleh kegagalan migrasi kraniokaudal precursor sel

ganglion di sepanjang saluran cerna selama minggu ke-5 hingga ke 12 masa

gestasi. Ineversi parasimpatis yang tidak lengkap pada segmen aganglionik

menyebabkan peristaltic abnormal, konstipasi dan obstruksi usus fungsional.

Pendapat lain menyebutkan, jika penyebab Hirschprung yaitu karena factor

genetic dan lingkungan (Betz, C. L. & Sowden L. A., 2009). Faktor genetik

yang menjadi etiologi terjadinya Hirschsprung yaitu sindrom down (trisomi

21),divertikulum kandung kemih, agenesis ginjal, neuroblastomas, dsb.

Sedangkan faktor lingkungan dapat terjadi karena adanya mutasi genetik saat

bayi berada di dalam rahim ibu.

4

Page 5: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Tanda dan gejala anak dengan penyakit Hirschprung yaitu : tidak

mengeluarkan feses setelah 48 jam setelah kelahiran ( pertanda khusus

hirschprung pada newborn), perut kembung dan keras, terlambat

mengeluarkan meconium pada 48 jam setelah lahir (pada bayi normal akan

langsung mengeluarkan meconium), konstipasi, muntah kehijauan yang

mengandung cairan empedu, colon berbentuk U inferted.

B. Patofisiologi Hisprung

Kelainan pada penyakit kongenital ini berhubungan dengan spasme pada

kolon distal dan sphincter anus interna sehingga terjadi obstruksi. Oleh sebab

itu, bagian yang abnormal akan mengalami kontraksi di segmen bagian distal

sehingga bagian yang normal akan mengalami dilatasi di bagian

proksimalnya. Kelainan pada penyakit ini didasari pada tidak adanya sel

ganglion parasimpatis pada plexus auerbach di kolon. Hal ini akan

menyebabkan tidak adanya gelombang propulsif dan abnormalitas atau

hilangnya relaksasi dari sphincter anus internus yang disebabkan

aganglionosis, hipoganglionosis atau disganglionosis pada usus yang terkena.

Peristaltik usus yang menghilang karena aganglionik menyebabkan

profulsi feses dalam lumen kolon terlambat yang menimbulkan terjadinya

distensi dan penebalan dinding kolon di bagian proksimal daerah aganglionik

sebagai akibat usaha melewati daerah obstruksi dibawahnya. Hal ini membuat

isi kolon statis dan terakumulasi. Keadaan ini akan menimbulkan gejala

obstruksi usus akut, atau kronis. Obstruksi kronis menimbulkan distensi usus

sehingga dinding usus mengalami iskemia yang disertai iritasi feses sehingga

menyebabkan terjadinya invasi bakteri. Obstruksi ini juga akan menyebabkan

sistem saraf aferen ulseral merangsang muntah dan mual. Pada anak

hirschprung, anak belum mengeluarkan mekonium sehinga pada awal gejala

hirschprung anak akan mengalami muntah berwarna hijau. Jika muntah terus

berlanjut, anak bisa mengalami dehidrasi.

Selanjutnya, hipertrofi serta distensi kolon akan menekan rongga

abdomen sehingga abdomen akan membesar. Selain itu, tekanan akan

menyebabkan anak mengalami nyeri. Pada hal ini, anak akan mengungkapkan

5

Page 6: Makalah Kep Anak Hirschsprung

nyeri tersebut dengan menangis. Hal ini bisa menimbulkan kekhawatiran pada

ibu karena anak rewel dan terus menangis. Jika hirschprung tidak segera

ditangani anak jga akan merasa tidak ingin menyusui karena adanya

akumulasi isi kolon. Hal ini akan menyebabkan anak kekurangan intake

nutrisi sehingga anak memiliki risiko kekurangan nutrisi kebutuhan tubuh dan

gangguan perkembangan.

Tipe Hischprung (Kliegman, R.M., 2011):

1. Ultra short segment: Ganglion tidak ada pada bagian yang sangat

kecil dari rectum.

2. Short segment: Ganglion tidak ada pada rektum dan sebagian kecil

dari kolon.

3. Long segment: Ganglion tidak ada pada rektum dan sebagian besar

kolon.

4. Very long segment: Ganglion tidak ada pada seluruh kolon dan

rektum dan kadang sebagian usus kecil.

C. Pengkajian Anak dengan Hisprung

Pada pengkajian anak dengan penyakit hisprung dapat ditemukan tanda

dan gejala sebagai berikut. Adanya kegagalan mengeluarkan mekonium dalam

waktu 24-28 jam setelah lahir, muntah berwarna hijau, dan konstipasi. Pada

pengkajian terhadap faktor penyebab penyakit hisprung diduga dapat terjadi

karena faktor genetis dan faktor lingkungan. Penyakit ini dapat muncul pada

semua usia akan tetapi paling sering ditemukan pada neonates. Berikut

pengkajian yang harus dilakukan pada pasien anak dengan hisprung.

1. Informasi identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama,

alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi.

2. Keluhan utama

Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat

dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB,

distensi abdomen, kembung, muntah.

3. Riwayat kesehatan sekarang

6

Page 7: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam

setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal. Tanyakan

sudah berapa lama gejala dirasakan pasien dan tanyakan bagaimana upaya

klien mengatasi masalah tersebut.

4. Riwayat kesehatan masa lalu

Apakah sebelumnya klien pernah melakukan operasi, riwayat kehamilan,

persalinan dan kelahiran, riwayat alergi, imunisasi.

5. Riwayat Nutrisi meliputi : masukan diet anak dan pola makan anak.

6. Riwayat psikologis

Bagaimana perasaan klien terhadap kelainan yang diderita apakah ada

perasaan rendah diri atau bagaimana cara klien mengekspresikannya.

7. Riwayat kesehatan keluarga

Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain yang

menderita Hirschsprung.

8. Riwayat sosial

Apakah ada pendakan secara verbal atau tidak adekuatnya dalam

mempertahankan hubungan dengan orang lain.

9. Riwayat tumbuh kembang

Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan sudah BAB.

10. Riwayat kebiasaan sehari-hari

Meliputi – kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktifitas.

11. Pemeriksaan Fisik

a. Sistem integument

Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat

dilihat capilary refil, warna kulit, edema kulit.

b. Sistem respirasi

Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan

7

Page 8: Makalah Kep Anak Hirschsprung

c. Sistem kardiovaskuler

Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut

nadi apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.

d. Sistem penglihatan

Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata

e. Sistem Gastrointestinal

Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising

usus, adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen,

muntah (frekuensi dan karakteristik muntah) adanya keram, tendernes.

D. Pemeriksaan Diagnostik pada Hisprung

Pada bayi baru lahir yang mengalami masalah pada sistem eliminasi

khususnya pada kasus kali ini megacolon (Hirschsprung). Hirschsprung

adalah masalah yang terjadi akibat tidak adanya sel ganglion pada dinding

usus, meluas ke proksimal dan berlanjut sampai anus (Behrman.2000). Pada

penderita Hirschprung dapat dilakukan beberapa pemeriksaan diagnostik

diantaranya foto polos abdomen, enema barium, biopsi rektum, manometri

anorektal dan X-ray. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui secara

lebih dalam tentang masalah pada sistem eliminasi yang diderita bayi. Selain

itu, untuk memastikan apakah masalah yang diderita bayi sudah sangat parah

atau belum dan memnentukan secara pasti jenis masalah yang dialaminya.

Pada kasus Hirschsprung berikut ada pemeriksaan diagnostik yang bisa

dilakukan, diantaranya :

1. Foto polos Abdomen

Foto polos abdomen bertujuan untuk melihat pelebaran yang terjadi pada

colon bayi, pada penyakit mega colon (hirschsprung) pada bayi akan

terlihat pelebaran anorektal. Hal ini akan menyebabkan bayi susah untuk

buang air besar. Foto polos abdomen adalah cara yang paling sederhana

dilakukan dengan harga yang terjangkau tetapi untuk kasus yang lebih

8

Page 9: Makalah Kep Anak Hirschsprung

komplit pemeriksaan ini tidak akurat dan harus melakukan jenis

pemeriksaan lain agar mendapatkan hasil yang akurat.

2. Barium enema

Barium enema adalah sebuah tindakan untuk melakukan pemeriksaan

terkait masalah yang terjadi pada colon. Pemeriksaan jenis ini

menggunakan system X-Ray tetapi sebelum melakukan pemeriksaan

terlebih dahulu dimasukkan cairan barium ke dalam kolon melalui anus.

Pada saat memasukkan cairan perawat sangat penting untuk

memperhatikan posisi agar cairan barium yang dimasukkan bisa merata di

sepanjang colon sehingga pada saat dilakukan X-Ray hasilnya akan

terlihat adanya penyempitan dibagian rectum ke proksimal yang

panjangnya bervariasi. Setelah memasukkan cairan barium lalu dilakukan

foto sehingga pada hasil akan terlihat bagian yang bermasalah seperti ada

pembesaran dan penyempitan. Pada saat melakukan tes ini pasien akan

merasakan sedikit sakit jadi dianjurkan sebelum melakukan pemeriksaan

ini pasien untuk minum yang banyak dan mengkosumsi buah-buahan 1-2

hari sebelum dilakukan tes karena beberapa jam akan dilakukan tes ini

setiap pasien harus puasa.

3. Biopsi rektum

Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat adanya sel ganglion atau tidak

dalam rectum bayi. Pada bayi menderita hirschsprung tidak akan

ditemukan sel ganglion.

9

Page 10: Makalah Kep Anak Hirschsprung

4. Manometri anorektal

Manometri anorektal dilakukan untuk melihat pengembangan sfingter

interna pada rektum. Pada keadaan normal rectum akan mengembang

karena ada relaksasi sfingter internal sedangkan pada bayi dengan

hirschsprung tidak ada sfingter atau relaksasi paradoks.

5. X-Ray abdomen

X-Ray abdomen tidak jauh berbeda dengan barium enema tetapi X-Ray

langsung dilakukan tanpa harus memasukkan cairan apapun kedalam

colon. Pemeriksaan ini cukup hanya menyarankan pasien untuk puasa

sebelum dilakukan tindakan ini.

Jika dilihat pada kasus anak berusia 3 hari belum pernah defekasi,

perut diraba keras dan dari hasil pemeriksaan foto polos abdomen

didapatkan gambaran colon membesar membentuk U inferted.

Berdasarakan teori diatas terkait foto polos abdomen bisa disimpulkan

bahwa anak menderita hirschprung dilihat dari hasil terlihat colon U

inferted. Jadi, pada colon bayi tertumpuk tinja yang tidak bisa keluar

biasanya karena terlambat keluarnya mekonium (Behrman.2000).

Kegagalan mengeluarkan tinja ini menyebabkan dilatasi bagian proksimal

usus besar dan perut menjadi kembung.

Jadi, pada kasus diatas dengan melakukan satu pemeriksaan

diagnostik dan sudah didapatkan kesimpulan maka tidak perlu dilakukan

pemeriksaan lainnya, tetapi jika masih diragukan maka sebaiknya

dilakukan pemeriksaan lainnya untuk mendapatkan hasil yang lebih

akurat.

E. Konsep At Risk

Risiko (at risk), term “risiko” muncul mulai dari riwayat kesehatan. Risk

didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya penyakit atau cedera yang

diakibatkan oleh sekelompok faktor baik dari individu maupun lingkungan

10

Page 11: Makalah Kep Anak Hirschsprung

atau keduanya (Mc Murray, 2003). Risiko merupakan suatu kondisi kesehatan

dari adanya interaksi yang dipengaruhi banyak faktor, diantaranya faktor

genetik, gaya hidup, fisik, dan lingkungan sosial dimana mereka tinggal dan

bekerja (Janes & Lundy. 2010). Efek dari penggabungan faktor-faktor tersebut

kemudian mengakibatkan peningkatan atau penurunan risiko. Risiko adalah

peluang dari suatu peristiwa yang merugikan, seperti masyarakat yang

terpapar asap rokok, stres, polusi suara, atau bahan kimia yang dapat

menimbulkan penyakit tertentu (Ewen & Nies. 2001). Jadi, risiko merupakan

suatu peluang munculnya suatu kondisi yang mengancam masyarakat,

disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga dapat

mengakibatkan suatu masalah kesehatan.

Adapun population at risk adalah sekumpulan individu atau kelompok

yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik tertentu untuk mengalami penyakit,

cedera, atau masalah kesehatan lainnya dibandingkan dengan kelompok yang

lainnya (Clemen-Stone, McGuire & Eigsti, 2002). Stanhope dan Lancaster

(2002) mendefinisikan population at risk adalah sekumpulan orang yang

mempunyai resiko atau kemungkinan untuk timbulnya masalah kesehatan.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan, at risk mengarah pada

suatu pengertian tentang adanya peluang munculnya suatu kejadian atau

masalah kesehatan dalam periode waktu tertentu.

Ada beberapa faktor yang dapat menentukan atau mempengaruhi

terhadap kejadian kesakitan atau keadaan tidak sehat, yang dikenal dengan

istilah health risks, (Stanhope & Lancaster. 2004) antara lain:

1. Risiko biologi:

Risiko biologi adalah faktor genetik atau kondisi fisik tertentu yang

berpeluang untuk terjadinya risiko kesehatan.

2. Risiko sosial:

Risiko sosial adalah kondisi yang dapat meningkatkan risiko

kesehatan seperti faktor kehidupan yang tidak teratur atau tinggal di

lingkungan yang dapat berkontribusi untuk terjadinya masalah

kesehatan.

3. Risiko ekonomi:

11

Page 12: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Risiko ekonomi ditentukan oleh adanya ketidakseimbangan antara

pendapatan dengan pengeluaran. Krisis ekonomi yang berkepanjangan

dapat berpengaruh terhadap kebutuhan perumahan, pakaian, makanan,

pendidikan, dan kesehatan.

4. Risiko gaya hidup:

Risiko gaya hidup adalah kebiasaan atau gaya hidup yang dapat

menimbulkan risiko kesehatan, termasuk didalamnya nilai dan

keyakinan terhadap kesehatan, pengaturan pola tidur, rencana aktifitas

keluarga dan persepsi terhadap kesehatan.

5. Risiko kejadian hidup:

Risiko kejadian hidup adalah kejadian dalam kehidupan yang dapat

berisiko terjadinya masalah kesehatan, seperti pindah tempat tinggal.

Jadi, status sehat dan sakit seseorang sangat dipengaruhi oleh risiko pada

diri seseorang tersebut baik internal maupun eksternal. Seseorang yang

berisiko adalah inidividu yang mempunyai kemungkinan masalah pada status

kesehatannya disebabkan karena beberapa faktor tersebut. Oleh karena itu,

individu ataupun kelompok sangat penting mengetahui risiko yang akan

menimbulkan masalah pada kesehatannya. Perawat harus menjadi edukator

untuk individu ataupun masyarakat dalam memberikan edukasi tentang faktor

risiko yang akan mengganggu status kesehatan klien agar individu ataupun

masyarakat sejahtera dalam hidupnya.

F. Tumbuh Kembang Pada Neonatus

Masa neonatus merupakan masa perkembangan motorik, kognitif, dan

sosial yang cepat. Neonatus dimulai pada bayi baru lahir sampai usia 28 hari.

Tumbuh kembang merupakan proses peningkatan dan matangnya seluruh

aspek baik fisik maupun psikis. Pada hari-hari pertama setelah kelahiran, bayi

mulai bisa melihat pada jarak 20 cm. Kemudian, bayi akan memiliki gerak

refleks alami, kepekaan terhadap sentuhan seperti sentuhan jari, serta

beradaptasi dengan lingkungan baru. Anak akan secara refleks, kepala anak

akan bergerak ke bagian tubuh yang disentuh. Anak juga sudah mulai bisa

tersenyum dan bahasa komunikasi yang digunakan ialah menangis. Ketika

12

Page 13: Makalah Kep Anak Hirschsprung

anak mengalami nyeri, anak akan mengkomunikasikannya dengan cara

menangis. Pada bayi yang sehat menangis sampai 3 jam/hari, kemudian

berkurang menjadi 1 jam atau kurang pada 3 bulan. Pada masa ini, tidur dan

istirahat serta nutrisi berupa ASI Ibu sangat penting bagi masa pertumbuhan

dan perkembangan anak.

Teori psikoseksual sigmund freud mengatakan pada masa neonatus, bayi

mengalami tahap oral yaitu bayi mulai menyadari bahwa ibu adalah sesuatu

yang terpisah darinya. Bayi lebih senang menghisap jari dan memuaskan diri

dengan kepuasan oral. Sedangkan, menurut teori psikososial Erikson

mengatakan bahwa bayi ada pada tahap kepercayaan versus ketidakpercayaan.

bayi mulai belajar untuk mempercayai orang lain. Teori kognitif Piaget

menjelaskan bahwa pada tahap ini bayi mengalami kemajuan refleks sampai

tindakan sederhana yang berulang. perkembangan yang dialami bayi adalah

perkembangan motorsensorik. Perkembangan ini termasuk memukul, melihat,

menggenggam, atau menendang.

Pertumbuhan fisiolgis bayi dapat dilihat melalui pertumbuhan berat

badannya. Berat badan bayi melebihi berat badan lahir pada saat berumur 2

minggu dan harus bertumbuh kira-kira 30 gr selama 1 bulan. Kemudia,

dimulai dari ia baru dilahirkan, bayi bernapas dengan paru-paru secara

mandiri. Hal ini menyebabkan pembentukan surfaktan di alveolus bayi.

Sistem sirkulasi terkana dampak, yaitu pembuluh darah mengalami pelebaran

akibat tekanan yang diakibatkan darah yang terisi oksigen. Penutupan foramen

ovale-pun terjadi. Selain itu, pada sistem hemopoetika, volume darah

bergantung pada jumlah yang ditransfer plasenta. Segera setelah lahir volume

darah menjadi 300 ml. Saat lahir, 73% dari berat badan total bayi adalah

cairan.

Pada sistem gastrointestinal, bayi baru lahir sudah memiliki kemampuan

untuk mencerna, mengabsorbsi, dan memetabolisme sudah adekuat, tetapi

hanya terbatas pada beberapa fungsi, yaitu protein dan karbohidrat sederhana.

Hati merupakan organ gastrointestinal yang paling imatur. Hal ini

menyebabkan konjugasi bilirubin dengan asam glukuronat dan berkontribusi

terhadap jaundis fisiologis pada bayi baru lahir. Hati juga tidak adekuat dalam

13

Page 14: Makalah Kep Anak Hirschsprung

membentuk protein plasma. Bayi baru lahir rentan terhadap hipoglikemia,

kondisi ini dapat dicegah dengan pemberian makan dini dan efektif, terutama

ASI. Kapasitas lambung terbatas sekitar 90ml, sehingga bayi memerlukan

pemberian makan sedikit tapi sering. Volume kolon juga kecil dan sudah

memiliki gerakan usus setelah diberi makan (Wong, 2008).

Tabel. Kebutuhan Nutrisi Neonatus

Kebutuhan Banyak

Energi 50 – 60 kkal/ Kg BB/ hari

Karbohidrat 6 -8 mg/kg BB/menit

Protein 1 – 3,5g/kg BB/ hari

Lemak 1 – 3 g/kg BB/ hari

Tabel. Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang

Biologis Fisik Psikososial Keluarga

Suku bangsa

Jenis kelamin

Umur

Gizi

Hormon

Cuaca, musim,

dan keadaan

geografis suatu

daerah.

Sanitasi

Keadaan rumah:

struktur

bangunan,

ventilasi, cahaya,

kepadatan

hunian.

Radiasi

Stimulasi

Motivasi belajar

Ganjaran atau

hukuman yang

wajar

Kelompok sebaya

Stress

Sekolah

Cinta dan kasih

sayang

Kualitas interaksi

orangtua-anak

Pekerjaan/pendapatan

orangtua

Pendidikan orangtua

Jumlah saudara

Jenis kelamin dalam

keluarga

Stabilitas rumah

tangga

Adat istiadat, norma-

norma

Agama

G. Sistem Eliminasi

Organ pencernaan utama neonates sama seperti orang dewasa yang

terdiri dari mulut, faring, esophagus, lambug, usus kecil, usus besar, rektum,

dan anus. Sedangkan organ pencernaan tambahan terdiri dari gigi, lidah,

kantung empedu, appendix, kelenjar saliva, hati, dan pancreas. Saluran

14

Page 15: Makalah Kep Anak Hirschsprung

pencernaan pada neonates sama dengan yang dimiliki orang dewasa, hanya

saja pada neonates memiliki beberapa keterbatasan.

Dimulai dari mulut yang terdiri atas gigi, lidah, dan kelenjar saliva. Gigi

pada bayi akan mulai tumbuh saat ia berusia 6 bulan dan akan tumbuh dengan

lengkap saat berusia 2 tahun (Haffield, 2008). Refleks pada neonates sudah

terbentuk yang membuatnya mampu mengisap dan menelan. Refleks ini

mencegah terjadinya aspirasi ketika neonates menelan yang dilakukan tanpa

menggunakan otot volunteer. Kemampuan mengunyah akan terbentuk pada

usia 6 bulan seiring dengan pertumbuhan gigi primer. Kelenjar saliva pada

neonates akan terus tumbuh dan mature pada usia tiga tahun. Neonates telah

mengenal rasa manis dan asam. Rasa manis akan meningkatkan keinginan

frekuensi neonates dalam menghisap (Luxner, K.L, 2005)

Spinkter cardiac yang terletak di akhir esophagus masih lemah pada

neonates. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan resiko terjadinya

regurgitasi dari lambung ke esophagus. Seiring dengan bertambahnya usia otot

spinkter akan bekerja dengan lebih efektif dan dapat mencegah terjadinya

regurgitasi. Organ selanjutnya ialah lambung yang memiliki kapasitas kecil

sehingga perpindahan makanan ke saluran GI terjadi sangat cepat. Untuk itu

pemberian makanan pada neonates dilakukan dalam porsi yang sedikit tapi

sering. Lambung pada neonates berbentuk bundar dan akan memanjang seperi

elips serta psosisinya akan menyerupai orang dewasa hingga ia berusia tujuh

tahun. Kapasitas lambung newborn berkisar antara 10-20 ml dan akan

mencapai 30 ml saat ia berusia tiga minggu. Neonates akan mengosongkan

lambungnya dalam waktu 3-4 jam. Makanan yang telah masuk melalui mulut

dan lambung secara perlahan akan masuk ke usus halus 1-2 jam setelah

makanan tersebut masuk ke mulut.

Organ tambahan juga penting bagi sistem pencernaan neonates seperti

hati dan pancreas. Hati pada neonates dapat dipalpasi di bawah costal margin

kanan sepanjang 1-2 cm. apabila hati teraba melebihi 3 cm maka dicurigai

terjadi pembesaran hati. Pada neonates ia memiliki keterbatasan dalam

mengkonjugasi bilirubin dan baru mampu mensekresikan empedu dengan baik

di dua minggu dan mature pada usia enam bulan (Luxner, K.L, 2005).

15

Page 16: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Sistem pencernaan yang elum mature ini juga akan mempengaruhi

pergerakan makanan pada saluran cerna neonates. Makanan yang masuk akan

didorong secara cepat melewati saluran pencernaan sehingga terjadi

peningkatan eliminasi fekal dan feses yang lebih cair akibat kurangnya

absorbsi air pada saluran cerna neonates. Flora normal pada usus berasal dari

rongga mulut, yang akan ada pada bayi yang berusia dua hari dan setelahnya.

Feses yang akan keluar pada bayi pertamakali ialah meconium yang berwarna

hijau tua. Feses selanjutnya akan mwngalami perubahan warna dari hitam

kehijauan, coklat kehijauan, kuning kehijauan, hingga kekuningan dan sedikit

pucat. Pada neonates yang diberikan susu formula, fesesnya akan terlihat lebih

pucat dari bayi yang diberikan ASI. Dan pemenuhan kebutuhan kalori pada

infant sebesar 110-120 kal/kg/hari.

H. Family Centered Care

1. Definisi Fanily Centered Care

Menurut Association for the Care of Children’s Health (ACCH )

family centered care didefinisikan sebagai filosofi dimana pemberi

perawatan mementingkan dan melibatkan peran penting dari keluarga,

dukungan keluarga akan membangun kekuatan, membantu untuk membuat

suatu pilihan yang terbaik dan meningkatkan pola normal yang ada dalam

kesehariannya selama anak sakit dan menjalani penyembuhan. Menurut

Dunst (2002), family centered care merupakan pelayanan yang

memperlakukan keluarga dengan rasa hormat, individual, fleksibel dan

tanggung jawab. Pelayanan family centered care melibatkan adanya

pertukaran informasi dalam pengambilan keputusan bagi anak, adanya

pilihan keluarga dalam penentuan program intervensi, adanya kolaborasi

antara orang tua dengan tenaga professional, adanya kemitraan keluarga

dengan propgram, serta adanya penyediaan sumber dan dukungan untuk

keluarga dalam memberikan hasil optimal bagi anak, orang tua dan

keluarga. Family centered care menjadi sebuah program yang menjanjikan

dalam menjalin hubungan dengan keluarga karena pendekatannya di

sesuaikan dengan perhatian, prioritas dan keinginan setiap keluarga.

16

Page 17: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Pelayanan family centered care membutuhkan kerjasama orang tua

dan para tenaga professional dalam suatu tim khusus. Dalam family

centered care, setiap keluarga dapat menentukan pilihan dan pelayanan

optimalnya sendiri. Keluarga yang berbeda memiliki pilihan yang berbeda

pula dalam keterlibatan pengasuhan anak. Tenaga professional khususnya

tenaga medis harus mampu menghargai dan membiarkan keluarga untuk

mengarahkan mereka dalam pilihan program pengasuhan yang individual.

Pelayanan family centered care digambarkan sebagai sebuah

pendekatan yang menyeluruh terhadap pemberian pelayanan, dimana

kekuatan, sumber dan rangkaian kebutuhan yang unik dari setiap anak dan

keluarga menjadi dasar pengasuhan yang individual dan dinamis. Dalam

pelayanan family centered care , orang tua dan tenaga professional

menjadi rekan sejajar dan bekerja sama, berbagi tujuan, informasi dan

tanggung jawab.

2. Manfaat Family Centered Care

Tujuan dari family centered care adalah untuk meningkatkan

kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu keluarga

dilibatkan secara penuh dalam setiap pemberian tindakan. Manfaat yang

dihasilkan dari penerapan pelayanan Family centered care ini yaitu: dapat

meningkatkan kehidupan pasien khussnya anak dengan memfasilitasi

proses yang adaptif pada anak yang dirawat di rumah sakit dengan

keluarganya, dapat meninngkatkan komunkasi tenaga medis dengan orang

tua si anak, sehingga timbul kepuasan bagi orang tua dalam pelayanan

yang diberikan, menurunkan pengeluaran financial dan meningkatkan

hasil perawatan. Jika orang tua dilibatkan dalam berbagai tindakan dan

proses medis maka si anak akan mengalami proses penyembuhan yang

cepat karena anak masih tergantung pada orang tuanya, sehingga tidak

diperlukan biaya yang lebih untuk mengantisipasi jika terjadi komplikasi

dsb.

3. Konsep Fanily Centered Care

17

Page 18: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Menurut Shelton (1997), terdapat beberapa elemen dasar Family

Centered Care, yaitu :

1. Perawat menyadari bahwa keluarga adalah bagian konstan dalam

kehidupan anak, sementara sistem layanan dan anggota dalam system

tersebut berfluktuasi.

2. Memfasilitasi kerjasama anatar keluarga dan perawat di semua tingkat

pelayanan kesehatan, merawat anak secara individual, pengembangan

program, pelaksanaan dan evaluasi serta pembentukan kebijakan

3. Menghormati keanekaragaman ras, etnis, budaya dan sosial ekonomi

dalam keluarga.

4. Mengakui kekuatan keluarga dan individualitas serta memperhatikan

perbedaan mekanisme koping dalam keluarga

5. Memberikan informasi yang lengkap dan jelas kepada orangtua secara

berkelanjutan dengan dukungan penuh.

6. Mendorong dan memfasilitasi keluarga untuk saling mendukung

7. Memahami dan menggabungkan kebutuhan dalam setiap perkembangan

bayi, anak-anak, remaja dan keluarga mereka dalam system perawatan

kesehatan.

8. Menerapkan kebijakan yang komprehensif dan program-program yang

member dukungan emosional dan keuangan untuk memenuhi kebutuhan

keluarga

9. Merancang sistem perawatan kesehatan yang fleksibel, dapat dijangkau

dengan mudah dan responsif terhadap kebutuhan keluarga yang

teridentifikasi.

Hutchfield (1999), menyatakan bahwa dalam Family Centered Care terdapat

hirarki. Hirarki ini merupakan proses antara orangtua dan perawat dalam

membangun hubungan kerjasama dalam perawatan anak. Pada setiap tahap,

dibahas beberapa aspek yang ditingkatkan oleh orangtua dan perawat agar

mencapai hubungan kerjasama yang baik untuk menunjang perawatan anak di

rumah sakit. Aspek tersebut adalah status hubungan orang tua dan keluarga,

komunikasi, peran perawat dan peran orangtua. Hirarki Family Centered Care

terdiri dari 4 tahap, yaitu :

18

Page 19: Makalah Kep Anak Hirschsprung

1. Keterlibatan orangtua

2. Partisipasi orangtua

3. Kerjasama dengan orangtua

4. Family Centered Care

BAB III

ANALISA DAN APLIKASI KONSEP “at Risk”

Berdasarkan data pada kasus, anak berusia 3 hari belum pernah mengalami

defekasi perut teraba keras dan muntah bewarna hijau dapat dikatakan bahwa anak

tersebut adalah individu yang berisiko mengalami masalah kesehatan pada

dirinya. Jika di telusuri lebih dalam lagi didapat bahwa anak tersebut bisa

mengalami risiko biologi. Risiko biologi adalah faktor genetik atau kondisi fisik

tertentu yang berpeluang untuk terjadinya risiko kesehatan. Risiko biologi yang

menyebabkan anak mengalami hirsprung adalah karena kondisi fisik yang terjadi

pada kolon anak yaitu tidak adanya sel ganglion pada kolon yang menyebabkan

mekonium atau tinja tidak bisa terdorong keluar. Sehingga dengan terjadinya

masalah kesehatan ini menyebabkan anak menderita hirsprung ditandai dengan

perut anak yang teraba keras dan didukung dengan pemeriksaan diagnostik

menggunakan foto polos abdomen.

Berdasarkan empat faktor risiko yang mempengaruhi masalah kesehatan

pada individu dapat disimpulkan bahwa anak tersebut menjadi berisiko

disebabkan karena risiko biologi. Sedangkan untuk risiko sosial, risiko ekonomi

dan risiko gaya hidup anak tersebut menderita hirsprung bukan disebabkan oleh

faktor risiko tersebut karena berdasarkan kasus anak tersebut baru berusia 3 hari

yang diasumsikan bahwa anak tersebut belum mengenal sendiri dunianya. Anak

tersebut belum terlalu banyak berinteraksi sosial, belum mengalami hal yang

berkaitan dengan ekonomi serta belum mengikuti gaya hidup yang terdapat

disekitarnya.

Anak dengan hirschprung juga dapat berisiko mengalami gangguan pada

proses tumbuh kembang. Pada anak neonatus seperti pada kasus, anak akan

19

Page 20: Makalah Kep Anak Hirschsprung

mengalami proses tumbuh kembang sebagai berikut. Setelah kelahiran, bayi mulai

bisa melihat pada jarak 20 cm, memiliki gerak refleks alami, kepekaan terhadap

sentuhan serta beradaptasi dengan lingkungan baru. Anak juga mulai bisa

tersenyum dan menangis sebagai komunikasi. Pada kasus ini, anak menangis. Hal

ini merupakan bahasa komunikasi anak yang menyampaikan bahwa anak

menagalami nyeri. Pada masa tumbuh kembang ini, ada beberapa faktor yang

mempengaruhinya. Dalam kasus, faktor penghambat tumbuh kembang yang

mungkin ada ialah faktor gizi dan stres. Hal ini akan mengganggu tumbuh

kembang anak. Anak hirscrprung bisa mengalami kekurangan gizi karena isi

kolon belum dikeluarkan sehingga anak akan tidak mau minum ASI. Selain itu,

nyeri yang disebabkan oleh penumpukan tinja di kolon dan mendorong abdomen

akan menyebabkan anak mengalami stres. Kedua hal ini akan mengganggu

istirahat dan intake nutrisi sehingga anak berisiko mengalami gangguan tumbuh

kembang.

Kemudian, melihat dari patofisiologis bayi dengan hirscprung, bayi dengan

Hirschprung mengalami penumpukan sisa makanan di dalam kolonnya. Bayi yang

seharusnya memiliki frekuensi defekasi yang tinggi tidak dapat mengeluarkannya

akibat tidak adanya persyarafan di daerah kolon yang memicu gerakan peristaltik.

Karena hal tersebut kapasitas kolon yang aganglionik menjadi membesar dan bayi

beresiko mengalami perforasi dan enterocolitis apabila tidak segera ditangani.

Neonatus yang seharusnya mengeluarkan meconium pada 24 jam pertama tidak

terjadi dikibatkan penuhnya kolon oleh obstruksi memicu regurgitasi pada bayi

dan akhirnya muntah bewarna kehijauan. Disamping penumpukan sisa makanan

di area kolon, spinkter anal internal juga gagal berelaksasi akibat segmen ganglion

kehilangan neorotransmiter yang menghambat asam oksida.

Pada setiap masalah yang terjadi pada anak, khususnya anak neonatus

pada kasus, peran orang tua sangat dibutuhkan terutama melalui pelayanan Family

Centered care. Bentuk pelayanan Family Centered care yaitu berfokus pada

keikutsertaan keluarga dalam pengambilan keputusan dan pemberian tindakan

medis yang diberikan pada anak, sehingga proses penyembuhan anak dapat

berjalan dengan baik dan sesuai dengan target. Dalam kasus dikatakan jika anak

20

Page 21: Makalah Kep Anak Hirschsprung

baru berusia 3 hari dan mengalami hirschprung, anak ini harus segera mendapat

penanganan medis demi keberlangsungan hidupnya. Tenaga medis dan pihak

rumah sakit pun harus melibatkan keluarga terutama ibu dari anak tersebut untuk

mendapatkan informasi seputar anak dan riwayat kehamilan sebelum atau

kesehatan si ibu pada saat hamil. Ibu dari anak tersebut harus selalu dilibatkan

dalam setiap tindakan medis yang akan dilakukan, beritahu dan ajak diskusi si ibu

terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan medis karena si ibu mengetahui pasti

kondisi anaknya dan biarkan ibu selalu mendampingi anaknya sehingga anak

merasa sangat tenang. Dengan demikian proses medis pun akan berjalan lancar

dan anak akan kembali sehat sesuai harapan orang tua dan keluarga, serta tidak

terjadinya miscommunication antara keluarga dengan tenaga medis yang dapat

mempengaruhi proses penyembuhan si anak.

BAB IV

PEMBAHASAN

Kasus: Ibu ani membawa bayinya usia 3 hari ke klinik karena bayi belum pernah

defekasi, perut teraba keras, pernah muntah berwarna kehijauan. Dari

pemeriksaan foto polos abdomen, ditemukan gambaran kolon membesar seperti U

inferted. Anak nampak menangis hampir sepanjang hari dan ibu klien nampak

letih dan bingung.

A. Analisa Masalah

Data Masalah Keperawatan

Data Objektif:

Perut teraba keras

Gambaran kolon membesar

Data Subjektif:

Gangguan Eliminasi

21

Page 22: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Ibu mengatakan bayi belum pernah

defekasi

Data Objektif:

Muntah berwarna kehijauan

Data Subjektif tambahan :

Ibu mengatakan anaknya tidak mau

minum ASI

Kebutuhan nutrisi

Data Objektif:

Anak nampak menangis

Gambaran kolon membesar

Data Subjektif Tambahan :

Ibu mengatakan anaknya rewel dan

tidak berhenti menangis

Gangguan kenyamanan : Nyeri

Data Objektif:

ibu klien nampak letih dan bingung

Data Subjektif Tambahan:

Ibu mengatakan tidak megetahui

bagaimana caara merawat anak

Pengetahuan orang tua

B. Diagnosa

Pre-Operasi:

1. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen

2. Ketidakseimbangan Nutrisi : kurang dari kebutuhan

3. Defisit pengetahuan tentang penyakit anak, pembedahan dan cara

22

Page 23: Makalah Kep Anak Hirschsprung

perawatan

Pasca- Operasi:

1. Konstipasi berhubungan dengan Megakolon (Hirschsprung)

2. Nyeri akut berhubungan dengan insisi pascabedah

3. Gangguan integritas kulit

C. Rencana Intervensi

Dx 1: Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen dan insisi

pascabedah

Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria tenang, tidak

menangis

Intervensi Rasional

1. Kaji terhadap tanda nyeri.

2. Berikan tindakan

kenyamanan : menggendong,

suara halus, ketenangan. pijat

punggung

3. Kolaborsi dengan dokter

pemberian obat analgesik

sesuai program.

Mengetahui tingkat nyeri

Upaya dengan distraksi dapat

mengurangi rasa nyeri

Mengurangi persepsi terhadap

nyeri yang kerjanya pada sistem

saraf pusat

Dx 2: Ketidakseimbangan Nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan

dengan muntah

Tujuan: Kebutuhan nutrisi (ASI) terpenuhi

Intervensi Rasional

1. Bantuan pemberian ASI :

menejemen laktasi

2. Timban berat badan anak

1. Asupan ASI menentukan

status hidrasi anak dan

menjadi pedoman dalam 23

Page 24: Makalah Kep Anak Hirschsprung

setiap hari

3. Kaji warna kulit anak,

turgor kulit, fontanel (pada

seorang bayi), tingkat

kesadaran, waktu pengisian-

ulang kapiler, dan membran

mukosa, pada setiap

pergantian dinas. Beri tahu

dokter dengan segera, setiap

perubahan segnifikan pada

status anak.

4. Pantau anak untuk

mendeteksi demam.

terapi asupan makanan dan

cairan bagi bayi.

2. Berat badan secara langsung

mengukur status nutrisi dan

hidrasi

3. Kulit pucat, turgor kulit

buruk, fontanel yang

melesak kedalam, penurunan

tingkat kesadaran,

peningkatan waktu

pengisian-ulang kapiler, dan

membrane mukosa kering

mengindikasikan dehidrasi.

4. Demam meningkatkan

dehidrasi dan dapat

menandakan infeksi.

Dx 3: Defisit pengetahuan berhubungan dengan penyakit anak,

pembedahan dan cara perawatan

Tujuan / Kriteria evaluasi: orang tua memahami dan mampu melakukan

perawatan kolostomi

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat pengetahuan orang

tua tentang kondisi yang dialami

pasien dan tentang operasi

2. Ajarkan pada orang tua untuk

mengekspresikan perasaan,

kecemasan dan perhatian

tentang operasi dan perawatan

ostomi.

1. Menentukan pemahaman dan

cara berkomunikasi kepada

orang tua

2. Mendukung secara psikologis

dan kognitif tentang prosedur

operasi dan perawatan ostomi

3. Memahami kemajuan atau

adanya tanda-tanda infeksi pada

24

Page 25: Makalah Kep Anak Hirschsprung

3. Jelaskan perbaikan pembedahan

dan proses kesembuhan.

4. Ajarkan perawatan ostomi

segera setelah pembedahan dan

lakukan supervisi saat orang tua

melakukan perawatan ostomi.

luka pembedahan

4. Memantau sejauh mana

pemahaman orang tua dalam

melakukan perawatan ostomi

Dx 4: Konstipasi berhubungan dengan Megakolon (Hirschsprung)

Tujuan / Kriteria evaluasi: konstipasi menurun yang dibuktikan oleh

kemampuan mengeluarkan feses

Intervensi Rasional

1. Kaji dan dokumentasikan :

Frekuensi, warna, konsistensi

feses pertama pascaoperasi

Keluarnya flatus

Bising usus dan distensi

abdomen pada keempat

kuadran abdomen

2. Monitor cairan yang keluar dari

kolostomi.

3. Mengajarkan cara perawatan

ostomi kepada keluarga

Bising usus, flatus dan keluarnya

feses mengindikasikan kemampuan

sistem pencernaan

Jumlah cairan yang keluar dapat

dipertimbangkan untuk penggantian

cairan.

Keluarga mampu melakukan

perawatan ostomi

Dx 5: Gangguan integritas kulit b/d kolostomi dan perbaikan pembedahan

Tujuan : Memberikan perawatan perbaikan kulit setelah dilakukan

operasi

Intervensi Rasional

25

Page 26: Makalah Kep Anak Hirschsprung

1. Kaji insisi pembedahan,

bengkak, drainage dan tanda

infeksi.

2. Berikan perawatan kulit:

Oleskan krim jika perlu.

3. Mengajarkan cara perawatan

pembedahan kepada keluarga

Memahami kemajuan atau adanya

tanda-tanda infeksi pada luka

pembedahan.

Mencegah kerusakan jaringan

disekitar luka pembedahan

Keluarga mampu melakukan

perawatan kulit

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan kasus dan pemaparan tinjauan pustaka yang telah

disampaikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa hirschsprung

merupakan salah satu kelainan kongenital pada perkembangan sistem saraf. Tidak

adanya sel ganglion pada dinding usus menyebabkan penjalaran saraf yang tidak

sempurna, sehingga usus tidak mampu untuk mengeluarkan feses. Feses yang

semakin menumpuk dapat menyebabkan distensi kolon, hal tersebut

menyebabkan ketidakadekuatan pemenuhan kebutuhan dasar eliminasi pada bayi.

26

Page 27: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Selain terganggunya kebutuhan dasar eliminasi, hirschsprung juga akan

berdampak pada kebutuhan dasar lain seperti cairan, nutrisi, istirahat dan tidur

pada bayi yang pada akhirnya akan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan

dan perkembangan pada anak.

Penatalaksanaan medis untuk kelainan hirschsprung yaitu operasi

kolostomi dengan dibuatkan stoma. Selain asuhan keperawatan pada bayi, orang

tua terlibat dalam setiap tindakan keperawatan yang diberikan dan pendidikan

kesehatan dalam perawatan anak, seperti membersihkan kantong stoma. Sehingga,

tindakan yang dilakukan selain tindakan perawatan langsung pada bayi,

memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua

tentang perawatan dan dukungan psikologis untuk orang tua perlu dilakukan.

B. SARAN

Penatalaksanaan yang benar mengenai kelainan hirschsprung perlu

dipahami dengan oleh seluruh pihak. Baik tenaga medis maupun keluarga. Untuk

tercapainya tujuan yang diharapkan perlu terjalin hubungan kerja sama yang baik

dan memberi dukungan antara pasien, keluarga, dokter, perawat maupun tenaga

medis lainnya dalam mengantisipasi kemungkinan yang terjadi. Terutama orang

tua berperan penting untuk mampu melakukan perawatan kolostomi, sehingga

diharapkan orang tua harus mampu menangani masalah fisik, psikologis maupun

psikososial yang terjadi.

Daftar Pustaka

Behrman&Arvin. (2000). Nelson textbook of pediatrics 15/E. Philadelphia:

Saunders Company

Betz, C. L. & Sowden L. A. (2009). Buku saku keperawatan pediatrik.

Ed 5. Alih bahasa: Meiliya, E. Jakarta: EGC

Bullechek, G.M.,McCloskey, J.C.(2004). Nursing Interventions Classification

(NIC). St. Loui: Mosby

27

Page 28: Makalah Kep Anak Hirschsprung

Bowden, V. R. & Greenberg, C. S. (2012). Pediatric Nursing Prosedures 3rd

edition. Philadephia : Lippincott William & Wilkins.

Dunst, C. J. (2002). Family Centered Practice : Birth Through high school.

Journal of special education.

Minford, JL. Et al. Comparison of Functional Outcomes of Duhamel and

Transanal Endorectal Coloanal Anastamosis for Hirschsprung’s Disease. J Ped

Surg. 2004; 39(2): 161-165

NANDA. (2012). Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2012-2014.

Philadelphia: NANDA International.

Schwartz, William M. (1995). Clinical Handbook of Pediatrics. USA : Baltimore,

Maryland

Swenson et al. Hirschsprung’s Disease: A Review. Pediatrics. 2002; 109(5): 1-

9

Wong. D. L & Schwartz P (2009). Wong buku ajar keperawatan pediatrik. Alih

bahasa: Hartono A. Jakarta : EGC

Wong. (2001). Wong's Essentials of Pediatric Nursing, 6 edition. Philadelphia:

Mosby El-Sevier

28