Makalah Kdk

of 26 /26
TUGAS KELOMPOKs MAKALAH KDK “Pemindahan Dan Pemberian Posisi” Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kdk OLEH : AHMAD MUHAYA FAHMI ARIS ANITA JASRIN JAYA JUFRI SUCIANA ASMA WALFITRAH NURUL ISTIANI WAODE CECI MULTI UMI RESTU MARANTI E5 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA KENDARI 2012

Embed Size (px)

description

kdk

Transcript of Makalah Kdk

Page 1: Makalah Kdk

TUGAS KELOMPOKs

MAKALAH KDK

“Pemindahan Dan Pemberian Posisi”

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kdk

OLEH :

AHMAD MUHAYA FAHMI ARISANITA JASRIN JAYAJUFRI SUCIANAASMA WALFITRAH NURUL ISTIANI

WAODE CECI MULTI UMI RESTU MARANTI

E5 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA

KENDARI2012

Page 2: Makalah Kdk

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum wr.wb

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena

atas rahmat dan karunia-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan

makalah kami sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam tak lupa kami

kirimkan kepada baginda Muhamad SAW,selaku tokoh reformasi bagi kita

sekalian yang mengajarkan kepada kebenaran khususnya bagi umat

muslim yang telah menunjukan kepada kita jalan kebenaran dan kebaikan

terutama yang masih tetap teguh pendirian sampai hari ini.

Makalah ini dibuat, guna memenuhi kewajiban kami selaku

mahasiswa,dalam rangka memenuhi tugas yang telah diberikan oleh

Dosen mata kuliah “KETERAMPILAN DASAR KEPERAWATAN”. Makalah

ini disusun berdasarkan referensi yang ada, yang inti dari makalah ini

adalah membahas masalah “MEMINDAHKAN DAN PEMBERIAN

PAOSISI”

Dalam penyusunan materi ini, kami sadar sepenuhnya atas segala

kekurangan dan kesempurnaan sehingga dibutuhkan masukan dari

berbagai pihak demi kesempurnaan makalah selanjutnya.

Kendari,Januari 2013,

Page 3: Makalah Kdk

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Banyak kondisi patologi yang mempengaruhi kesejajaran dan mobilitas

tubuh.Abnormalitas postur congenital atau didapat memengaruhi efisiensi system

musculoskeletal, serta kesejajaran, keseimbangan, dan penampilan tubuh.Selama

pengkajian fisik, perawat mengobservasi kesejajaran tubuh dan rentang gerak

abnormalitas postur dapat menghambat kesejajaran, mobilitas, atau kedua-duanya.

Hambatan kemampuan untuk berbalik dari sisi ke sisi lain. Hambatan

kemampuan untuk bergerak dari terlentang menjadi duduk atau duduk menjadi

terlentang.Hambatan kemampuan mengubah posisi sendiri ditempat tidur.Hambatan

kemampuan untuk bergerak dari terlentang menjadi telungkup atau telungkup menjadi

telentang.Hambatan kemampuan untuk bergerak dari telentang menjadi duduk

memanjang atau duduk memanjang menjadi telentang.

Oleh sebab itu Untuk mempertahankan kesejajaran (alignment) tubuh yang

tepat, perawat harus dengan tepat mengangkat klien, menggunakan tekhnik pemberian

posisi yang tepat,dan memindahkan klien dengan aman.

Untuk lebih jelasnya pada makalah ini akan di jelaskan secara sistematis

mengenai proses pemindahan dan pemberian posisi yang baik pada pasien.

B. Rumusan Masalah

a) Bagaimana Proses Pemberian Dan Pemindahan Posisi Pasien

b) Bagaimana Proses Pemindahan Dan Pengangkatan Pasien

c) Mekanika tubuh pada saat pengangkatan

d) Panduan Dalam Pengangkatan Penderita

e) Panduan Untuk Memindahkan Penderita

Page 4: Makalah Kdk

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Konsep Teori

Pemberian Dan Pemindahan Posisi Pasien

            Pemberian Posisi Pasien merupakan cara menggunakan tubuh secara efisien

yaitu, tidak banyak mengeluarkan tenaga, terkoordinir, serta aman dalam

menggerakkan dan mempertahankan keseimbnagan selama aktivitas.

Ketika orang dapat berdiri dan bergerak, mereka lebih sehat. Paru-paru mereka

mengembang lebih mudah. Mereka mencerna makanan secara seksama lebih baik.

Mereka mampu berdefekasi dengan baik, fungsi ginjal mereka lebih baik dan tulang

serta otot mereka lebih sehat. Jika sedang sakit, mereka sering tidak dapat bergerak

atau hanya dapat bergerak sedikit.

Kadang tirah baring atau tidak ada gerakan sama sekali diperlukan untuk

mengatasi masalah kesehatan.Istirahat meningkatkan penyembuhan dan mengurangi

nyeri.Tirah baring jangka panjang atau kurang pergerakan dapat menyebabkan

masalah serius.

Untuk mempertahankan kesejajaran (alignment) tubuh yang tepat, perawat harus

dengan tepat mengangkat klien, menggunakan tekhnik pemerian posisi yang tepat,dan

memindahkan klien dengan aman.Klien dengan gangguan saaf, skelet, atau fungsi

sistem muscular serta peningkatan kelemahan dan keletihan sering memerlukan

bantuan dari perawat untuk pemberian posisi dan pemindahan.Penggunaan mekanika

Page 5: Makalah Kdk

tuuh yang tepat dan tekhnik pemindahan melindungi perawat atau pemberi asuhan dari

cedera pada sistem musculoskeletal.Perawat beresiko terhadap cedera pada otot

lumbal ketika mengangkat.

Angka cedera pada lingkungan kerja telah meningkat pada beberapa Tahun

terakhir, dan lebih setengahnya adalah cedera punggung akibat tekhnik mengangkat

dan membungkuk yang tidak tepat.Cedera pada area lumbal mempengaruhi

kemampuan untuk membungkuk ke depan dan ke belakang serta memiringkan

tubuh.Selain itu, kemampuan untuk merotasi panggul dan punggung bawah menurun

karena lebih banyak klien dipulangkan ke rumah untuk asuhan berkelanjutan,perlu bagi

perawat mengajarkan anggota keluarga klien bagaimana mengangkat dan

memindahkan klien dengan aman.

Pemindahan Dan Pengangkatan Pasien

Setiap pasien membutuhkan cara-cara tersendiri untuk diangkat dan dipindahkan

oleh perawat, dalam pemberian posisi yag baik tetapi banyak pula petugas kesehatan

yang melakukan pemindahan penderita menderita cedera karena salah mengangkat,

mungkin karena tidak tahu, tetapi mungkin pula karena sikap acuh. Keadaan cuaca

yang menyertai penderita beraneka ragam, dan tidak ada satu rumus pasti bagaimana

mengangkat dan memmindahkan penderita.

Page 6: Makalah Kdk

Mekanika tubuh pada saat pengangkatan

Tulang yang paling kuat ditubuh manusia adalah tulang panjang, dan yang

paling kuat diantaranya adalah tulang paha (femur). Otot-otot yang yang beraksi

pada tulang tulang tersebut juga paling kuat.

Dengan demikian maka pengangkatan harus dilakukan dengan tenaga terutama

pada paha, dan bukan dengan membungkuk Angkatlah dengan paha, bukan

dengan punggung

Diantara kelompok otot, maka kelompok fleksor lebih kuat dibandingkan

kelompok ekstensor. Dengan demikian pada saat mengangkat tandu, tangan harus

menghadap ke depan, dan bukan kebelakang. Semakin dekat akan kesumbu

tubuh, semakin ringan pengangkatan. Dengan demikian maka usahakan agar tubuh

sedekat mungkin kebeban (tandu dan sebagainya) yang akan diangkat. Kaki

menjadi tumpuan utama saat mengangkat. Jarak antara kedua kaki yang paling

baik saat mengangkat adalah berjarak sebahu kita. Kenali kemampuan diri sendiri

bila merasa tidak mampu, mintalah pertolongan petugas lain, dan jangan

memaksakan mengangkat karena akan membahayakan penderita, pasangan dan

kita sendiri.

Page 7: Makalah Kdk

Panduan Dalam Pengangkatan Penderita

1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita. Nilailah beban yang

akan diangkat secara bersama, dan bila merasa tidak mampu, jangan

paksakan, selalu komunikasi secara teratur dengan pasangan kita

2. Kedua kaki berjarak sebahu kita, satu kaki sedikit didepan kaki sebelahnya

3. Berjongkok, jangan membungkuk, saat mengangkat, punggung harus selalu

dijaga lurus

4. Tangan yang memegang menghadap kedepan. Jarak antara kedua tangan yang

memegang (misalnya tandu) minimal 30 cm

5. Tubuh sedekat mungkin kebeban yang harus diangkat. Bila terpaksa, jarak

maksimal tangan kita ketubuh kita adalah 50 cm

6. Tangan memutar tubuh saaat mengangkat

7. Panduan diatas juga berlaku saat menarik atau mendorong penderita

Panduan Untuk Memindahkan Penderita

1. Pemindahan emergensi

Pemindahan darurat dilakukan bila ada bahaya yang mengancam bagi

penderita dan penolong. Contoh :

- Ancaman Kebakaran

- Ancaman Ledakan

- Ancaman Bangunan runtuh

- Ancaman mobil terguling bensin tumpah

- Adanya bahan-bahan berbahaya

- Orang sekitar yang berprilaku aneh

Page 8: Makalah Kdk

Cara Pemindahan emergensi

a. Tarikan baju

Kedua tangan penderita harus diikat untuk mencegah naik kearah kepala

waktu baju ditarik. Bila tidak sempat, masukkan kedua tangan dalam

celananya sendiri.

b. Tarikan selimut

Penderita ditaruh dalam selimut, yang kemudian ditarik

c. Tarikan lengan

Dari belakang penderita, kedua lengan paramedik masuk dibawah ketiak

penderita, memegang

d. Ekstrikasi cepat

Dilakukan pada penderita dalam kendaraan yang harus dikeluarkan secara

cepat.

2. Pemindahan Non-emergensi

Pemindahan biasa dilakukan jika keadaan tidak membahayakan penderita

maupun penolong.

Teknik angkat langsung dengan tiga penolong:

- ke tiga penolong berlutut pada salah satu sisi penderita , jika memungkinkan

beradalah pada sisi yang paling sedikit cedera.

- penolong pertama menyisipkan satu lengan dibawah leher dan bahu, lengan

yang satu disisipkan dibawah punggung penderita.

- penolong kedua menyisipkan tangan dibawah punggung dan bokong penderita.

Page 9: Makalah Kdk

- penolong ketiga menyisipkan lengan dibawah bokong dan dibawah lutut

penderita.

- penderita siap diangkat dengan satu perintah.

- angkat penderita keatas lutut ketiga penolong secara bersamaan.

- sisipkan tandu yang akan digunakan dan atur letaknya oleh penolong yang lain.

- letakkan kembali penderta diatas tandu dengan satu perintah yang tepat.

- jika akan berjalan tampa memakai tandu, dari langkah no 6 teruskan dengan

memiringkan penderita ke dada penolong.

- berdiri secara bersamaan dengan satu perintah.

Teknik mengangkat tandu:

Penolong dalam keadaan berjongkok dan akan mengangkat tandu

- Tempatkan kaki pada jarak yang tepat.

- Punggung harus tetap lurus.

- Kencangkan otot punggung dan otot perut. Kepala tetap menghadap kedepan

dalam posisi netral.

- Genggamlah pegangan tandu dengan baik.

- Pada saat mengangkat punggung harus tetap terkunci sebagai poros dan

kekuatan konstraksi otot seluruhnya pada otot tungkai.

- Saat menurunkan tandu lakukan langkah diatas pada urutan selanjutnya.

Teknik angkat anggota gerak

Biasanya diperlukan dua penolong untuk melakukan teknik ini :

- Penolong pertama berada diposisi kepala penderita.

- Lakukan pengangkatan pada lengan penderita.

- Penolong yang lain berdiri diantara dua tungkai penderita, menyelipkan tangan

dan mengangkat ke dua lutut penderita.

- Dengan satu aba- aba kedua penolong dapat memindahkan penderita di lokasi

yang diinginkan.

Page 10: Makalah Kdk

Perlengkapan Untuk Pemindahan

1. Brankar (Wheeled Stretcher)

Hal-hal yang harus diperhatikan :

a. Penderita selalu diselimuti

b. Kepada penderita/keluarga selalu diterangkan tujuan perjalanan

c. Penderita sedapat mungkin selalu dilakukan “strapping” (fiksasi) sebelum

pemindahan

d. Brankar berjalan dengan kaki penderita didepan kepala, kepala dibelakang,

supaya penderita dapat melihat arah perjalanan brankar. Posisi ini dibalik

bila akan naik tangga (jarang terjadi).

Sewaktu dalam ambulan menjadi terbalik, kepala didepan (dekat pengemudi)

supaya paramedik dapat bekerja (bila perlu intubasi dan sebagainya)

Pada wanita inpartu, posisi dalam ambulan boleh dibalik, supaya paramedik

dapat membentu partus.

e. Jangan sekali-kali meninggalkan penderita sendirian diatas brankar.

Penderita mungkin berusaha membalik, yang berakibat terbaliknya brankar

f. Selalu berjalan berhati-hati

Page 11: Makalah Kdk

2. Tandu sekop

Alat yang sangat bermanfaat untuk pemindahan penderita. bila ada dugaan

fraktur vertikal, maka alat yang dipilih adalah LSB (long spine board). Harus

diingat bahwa tandu sekop bukan alat transportasi dan hanya alat pemindah.

Waktu proses pengangkatan, sebaiknya 4 petugas, masing-masing satu pada

sisi tandu sekop, karena kemungkinan akan melengkung (alat ini mahal

harganya, karena terbuat dari logam khusus).

3. Long spine board

Sebenarnya bukan alat pemindahan, tetapi alat fiksasi. Sekali penderita di fiksasi

atas LSB ini. Tidaka akan diturunkan lagi, sampai terbukti tidak ada fraktur

vertikal, karena itu harus terbuat dari bahan yang tidak akan mengganggu

pemeriksaan ronsen.

Pemindahan penderita ke atas LSB memerlukan tehnik khusus yaitu memakai

“log roll” setelah penderita diatas LSB selalu dilakukan “Strapping”, lalu LSB

diletakkan diatas stretcher.

B. Pemberian Posisi Pada Pasien

Page 12: Makalah Kdk

1. Posisi Fowler

Posisi fowler merupakan posisi bed dimana kepala dan dada dinaikkan setinggi

45°-60° tanpa fleksi lutut (posisi kaki lurus).

Tujuannya adalah untuk membantu mengatasi masalah kesulitan pernafasan

dan kardiovaskular. Untuk melakukan aktivitas tertentu (makan, membaca, menonton

televisi).

Posisi ini sepertinya tidak terlalu rumit prosedur kerjanya karena hanya

memanfaatkan kecanggihan bed yang kepalanya bisa naik hingga 90° tapi kita harus

terlebih dahulu memutar porosnya supaya kepala bednya bisa naik.

Bagian tubuh yang perlu diberi penyangga atau bantal/selimut yang digunakan

untuk mensupport bagian tubuh yang tertindas adalah:

1. pada bagian lengan bawah, menggunakan bantal, jika lengan mengalami kelemahan.

Telapak tangan bisa supinasi atau pronasi, tergantung kenyamanan pasien.

2. pada bagian kaki, dari lutut hingga tumit, menggunakan bantal. Juga untuk

mencegah fleksi plantar bisa menggunakan footboart. Pada bagian paha juga perlu

menggunakan bantal kecil.

3. pada bagian kurva lumbal (bagian punggung yang mencekung), menggunakan

bantal kecil.

4. pada bagian leher (kolumna servikal), menggunakan bantal kecil.

2. Posisi Supinasi (Terlentang)

Page 13: Makalah Kdk

Posisi terlentang adalah posisi dimana klien berbaring terlentang dengan kepala

dan bahu sedikit elevasi menggunakan bantal.

Tujuannya adalah untuk klien post operasi dengan menggunakan anastesi spinal

dan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat pemberian posisi pronasi yang tidak

tepat.

Posisi ini juga tidak terlalu rumit prosedur praktiknya (jika pasien/klien memang

sudah dari awal dengan posisi seperti ini). Rumitnya adalah ketika pasien dalam posisi

pronasi (telungkup) atau posisi lainnya.

Bagian tubuh yang perlu diberi penyangga pada posisi ini adalah:

1. pada bagian kepala dan bahu klien, letakkan bantal dengan ketebalan yang sesuai

kebutuhan.

2. pada bagian kaki hingga pergelangan kaki, letakkan bantal untuk mencegah

hiperekstensi lutut, menjaga tumit agar tidak menyentuh bed, dan mengurangi lordosis

lumbal.

3. pada bagian pinggul letakkan gulungan handuk untuk mencegah rotasi eksternal

pinggul.

4. pada bagian punggung (kurva lumbal) letakkan bantal kecil untuk mencegah fleksi

spinal lumbal.

5. pada telapak kaki letakkan footboart atau bantal untuk mencetak plantar fleksi (kulai

kaki).

3. Posisi Pronasi (Telungkup)

Page 14: Makalah Kdk

Posisi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring diatas abdomen dengan

kepala menoleh kesamping.

Tujuannya adalah untuk memberikan ekstensi penuh pada persendian pinggul

dan lutut, mencegah fleksi kontraktur dari persendian pinggul dan lutut, dan

memberikan drainase pada mulut.

Bagian tubuh yang perlu diberi penyangga yaitu:

1. pada bagian kepala klien letakkan bantal kecil untuk menyejajarkan kepala dengan

badan dan mencegah fleksi lateral leher. JANGAN meletakkan bantal di bawah bahu

karena akan meningkatkan lordosis lumbal.

2. pada bagian abdomen atau rongga antara diafragma (atau payudara pada wanita)

dan illiac crest , letakkan bantal kecil atau gulungan handuk untuk mencegah

hiperekstensi lengkung lumbal, kesulitan bernafas, dan tekanan  payudara pada wanita.

3. pada bagian lutut hingga pergelangan kaki letakkan bantal untuk mengurangi plantar

fleksi, bantal ini juga untuk memfleksikan lutut sehingga mencegah tekanan berlebihan

pada patella.

4. Atur posisi klien pada posisi anatomis normal sehingga tidak terjadi penekanan yang

berlebihan pada jari kaki.

4. Lateral (Side Lying) Position

Page 15: Makalah Kdk

Posisi lateral adalah posisi dimana klien berbaring diatas salah satu sisi bagian

tubuh dengan kepala menoleh kesamping.

Tujuannya adalah untuk mengurangi lordosis dan meningkatkan aligment

punggung yang baik, baik untuk posisi tidur dan istirahat, dan membantu

menghilangkan tekanan pada sakrum dan tumit.

Bagian tubvuh yang perlu diberi penyangga yaitu:

1. pada bagian kepala letakkan bantal supaya kepala dan leher sejajar, mencegah

fleksi lateral, dan ketidaknyamanan otot leher mayor.

2. letakkan bantal di bawah lengan atas. Mencegah internal rotasi dan adduksi dari

bahu serta penekanan pada dada.

3. letakkan bantal di bawah paha dan kaki atas sehingga ekstremitas berfungsi secara

paralel dengan permukaan bed. Mencegah internal rotasi dari paha dan adduksi kaki.

Mencegah penekanan secara langsung dari kaki atas, terhadap kaki bawah.

4. letakkan bantal guling di belakang punggung klien untuk menstabilkan posisi.

Memperlancar kesejajaran vertebra. Juga menjaga klien dari terguling ke belakang dan

mencegah rotasi tulang belakang.

5. Posisi Sims (Semipronasi)

Page 16: Makalah Kdk

Posisi sims atau disebut juga posisi semi pronasi adalah posisi dimana klien

berbaring pada posisi pertengahan antara posisi lateral dan posisi pronasi. Posisi ini

lengan bawah ada di belakang tubuh klien, sementara lengan atas didepan tubuh klien.

Tujuannya adalah untuk memfasilitasi drainase dari mulut klien yang tidak sadar,

mengurangi penekanan pada sakrum dan trokhanter mayor pada klien yang mengalami

paralisis, dan untuk mempermudahkan pemeriksaan dan perawatan pada area

perineal, serta untuk tindakan pemberian enema.

Posisi semi-telungkup (atau posisi Sims) sering digunakan untuk pasien paralisis

karena ini mengurangi tekanan pada bokong dan panggul. Banyak orang menemukan

posisi ini nyaman untuk tidur.

6. Posisi Trendelenburg

Posisi pasien berbaring ditempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah

daripada bagian kaki.

Tujuannya adalah untuk melancarkan peredaran darah ke otak.

Page 17: Makalah Kdk

7. Posisi Dorsal Recumbent

Posisi berbaring terlentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau direnggangkan)

di atas tempat tidur.

Tujuan adalah untuk merawat dan memeriksa genetalia serta proses persalinan.

8. Posisi Litotomi

Posisi berbaring terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke

atas bagian perut.

Tujuan adalah untuk memeriksa genetalia pada proses persalinan dan

memasang alat kontrasepsi.

Page 18: Makalah Kdk

9. Posisi Genu Pectoral (Knee Chest)

Merupakan posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel

pada bagian alas tempat tidur.

Tujuan adalah untuk memeriksa daerah rectum dan sigmoid.

10. Posisi Orthopnea

Posisi orthopneu merupakan adaptasi dari posisi fowler tinggi dimana klien

duduk di bed atau pada tepi bed dengan meja yang menyilang diatas bed.

Tujuan adalah untuk membantu mengatasi masalah pernafasan dengan

memberikan ekspansi dada yang maksimal dan membantu klien yang mengalami

masalah ekhalasi.

BAB III

PENUTUP

Page 19: Makalah Kdk

A. Kesimpulan

Pemberian posisi dan pemindahan ini untuk mempertahankan kesejajaran

( alignment ) tubuh yang tepat, perawat harus dengan tepat mengangkat klien,

menggunakan teknik pemberian posisi yang tepat, dan memindahkan klien dengan

aman.

Tujuan dari ketrampilan ini adalah untuk mengajarkan perawat dan anggota

keluarga bagaimana mengangkat dan memindahkan klien yang mengalami kerusakan

mobilitas dengan aman dan tepat. Dan ada beberapa macam posisi seperti :

1.      Posisi semi Fowler dengan sandaran

2.      Posisi terlentang dengan sokongan

3.      Posisi telungkup dengan sokongan

4.       Posisi miring ( lateral ) dengan sokongan

5.      Posisi Sim’s ( semitengkurap ) dengan sokongan

6.      Posisi dorsal recumbent

B. Saran

Sebelum melakukan semua tindakan, perawat harus melakukan persiapan

termasuk mengkaji kesejajaran tubuh dan tingkat kenyamanan pasien, perawat harus

menyiapkan alat dan bahan.Bila perawat memerlukan bantuan, harus menyiapkan

teman sejawatnya untuk membantu, perawat juga harus menginformasikan kepada

pasien, memberikan privasi pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Page 20: Makalah Kdk

Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.

Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.

Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and

Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.

Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

Perry, Ame Griffin.2005. Buku Saku Keterampilan dan Prosedur dasar. Jakarta:

EGC.

Uliyati, Musrifatul dan A. Aziz Alimul Hidayat. 2006. Keterampilan dasar praktik

klinik  kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.

Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC

Potter dan Perry,2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC