Makalah Im

of 29/29
BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar belakang Pengetahuan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk perbaiki gigi geligi yang hilang atau rusak sudah mulai dikenal dan dicoba sejak dahulu kala, sebagai contoh orang-orang Phoians dan Etruscans telah menggunakan Old bands dan Wires’ untuk mengkonstruksi suatu gigi tiruan yang dipakai menggantikan gigi-gigi mereka yang hilang. Sedangkan untuk memperbaiki gigi-gigi yang telah rusak digunakan bahan dari Gold foil. Perkembangan ilmu kedokteran gigi yang lebih maju dimulai sejak tahun 1728 yaitu pada waktu Fauchard memperkenalkan beberapa type dan cara untuk memperbaiki gigi-gigi termasuk metode- metode untuk pembuatan konstruksi gigi tiruan dari bahan gading. Pada tahun 1756, Pfaf untuk pertama kalinya memperkenalkan metode mencetak mulut dengan menggunakan bahan lilin atau wax dimana hasil cetakan ini kemudian dapat dibuat menjadi model reproduksi dari jaringan mulut tersebut dengan mengunan gips (plaster of Paris). Pada tahun 1792 de Chamant menemukan proses untuk pembuatan gigi tiruan dari bahan porselain dan permulaan abad berikutnya diperkenalkan suatu cara pembetulan gigi yang disebut inlay dengan bahan porselin ini. 1
  • date post

    22-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    120
  • download

    13

Embed Size (px)

description

imkg

Transcript of Makalah Im

BAB 1Pendahuluan

1.1 Latar belakangPengetahuan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk perbaiki gigi geligi yang hilang atau rusak sudah mulai dikenal dan dicoba sejak dahulu kala, sebagai contoh orang-orang Phoians dan Etruscans telah menggunakan Old bands dan Wires untuk mengkonstruksi suatu gigi tiruan yang dipakai menggantikan gigi-gigi mereka yang hilang. Sedangkan untuk memperbaiki gigi-gigi yang telah rusak digunakan bahan dari Gold foil. Perkembangan ilmu kedokteran gigi yang lebih maju dimulai sejak tahun 1728 yaitu pada waktu Fauchard memperkenalkan beberapa type dan cara untuk memperbaiki gigi-gigi termasuk metode-metode untuk pembuatan konstruksi gigi tiruan dari bahan gading. Pada tahun 1756, Pfaf untuk pertama kalinya memperkenalkan metode mencetak mulut dengan menggunakan bahan lilin atau wax dimana hasil cetakan ini kemudian dapat dibuat menjadi model reproduksi dari jaringan mulut tersebut dengan mengunan gips (plaster of Paris). Pada tahun 1792 de Chamant menemukan proses untuk pembuatan gigi tiruan dari bahan porselain dan permulaan abad berikutnya diperkenalkan suatu cara pembetulan gigi yang disebut inlay dengan bahan porselin ini.Pada pertengahan abad ke 19 yang merupakan suatu masa yang penting dalam dunia kedokteran gigi yaitu ketika dimulainya penyelidikan bahan amalgam yang akhirnya digunakan sebagai bahan untuk tumpatan gigi dan tetap digunakan sampai saat ini. Pada masa yang sama juga telah dilaporkan hasil-hasil penelitian lebih lanjut dari bahan porselain dan gold foil di dalam bacaan-bacaan ilmiah. Pelopor kemajuan ini adalah G.V. Black yang telah memulainya sejak tahun 1895. Selanjutnya kemajuan-kemajuan yang lebih besar tentang pengetahuan mengenai material gigi (dental materials) terlihat pada tahun 1919 sampai 1920. pada tahun ini biro standar nasional Amerika Serikat telah menetapkan spesifikasi dari derajat-derajat tingkatan suatu amalgam gigi yang akan digunakan. Logam tempa dan emas coran serta bahan-bahan lainnya yang berhubungan dengan pengecoran logam telah diteliti oleh R.L. Choleman, W.L Swanger dan W.A. Poppe yang dipimpin oleh dokter Sauder. Pada tahun 1928 beberapa orang peneliti bidang kedokteran gigi amerika serikat telah bekerja sama dan membentuk suatu ikatan yang kemudian dikenal sebagai The American Dental Assosiation Research Assosiated. Nama-nama seperti Wilmwer Sauder, Willian T. Sweeney dan George C. Paffenberger merupakan pelopor-pelopor peneliti terhadap produk-produk dental materials.Macam-macam material yang dapat digunakan dalam kedokteran gigi, digolong-golongkan sesuai dengan sifat-sifat fisik dan kimianyaserta kegunaannya oleh The American Dental Assosiation Divition. Hingga tahun 1965 obyektif utama The American Dental Assosiation in health merumuskan standar atau spesifikasi dari macam material gigi tersebut serta memberikan pengetahuan bagi hasil produk bari suatu material gigi yang telah diuji, diberi nama dagang dan nama pabrik sert alabl hasil uji/pengakuan dari A.D.A. dan selanjutnya dapat dipublik melalui Journal of The American Dental Asosiation.

1.2 Tujuan1. Untuk memahami biokompatibilitas2. Untuk mengetahui pentingnya biokompatibilitas dalam kedokteran gigi3. Untuk mengetahui cara melakukan uji biokompatibilitas4. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan apabila biokompatibilitas tidak terpenuhi

1.3 Manfaat1. Dapat memahami biokompatibilitas2. Dapat mengetahui pentingnya biokompatibilitas dalam kedokteran gigi3. Dapat mengetahui cara melakukan uji biokompatibilitas4. Dapat mengetahui dampak yang ditimbulkan apabila biokompatibilitas tidak terpenuhi

BAB 2Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi BiokompatibilitasKetika biomaterial ditempatkan berkontak dengan jaringan dan cairan tubuh manusia, maka akan ada interaksi antara material dan lingkungan biologi. Interaksi ini adalah subjek dari biokompatibilitas. Material dapat dikatakan biokompatibel jika memiliki kualitas yang tidak merusak atau mengganggu lingkungan biologi. Selain itu, Interaksi tersebut harus menguntungkan pada pasien dan semua pasien harus aman terhadap reaksi-reaksi yang ditimbulkan. jadi dapat dikatakan,biokompatibilitas adalah Kehidupan harmonis antara material dan lingkungan yang tidak mempunyai pengaruh tosik terhadap fungsi biologi (Elvier S, 2003).Biokompatibilitas dari material sebagian besar ditentukan oleh pelepasan substansi tersebut melewati sesuai solubilitas atau korosi. Substansi-substansi tersebut dapat merusak sel-sel atau dengan menstimulasi sintesis seluller dari beberapa protein. (mediator proinflamasi seperti interleukin 1 dan Interleukin VI),memicu inflamasi. Demikian juga,Permukaan absorbsi atau akumulasi protein atau interaksi interaksi material dengan matriks ekstraselulller penting untuk sifat biologis dari material tersebut (sebagai contoh: penempelaan sel atau bakteri permukaan material). Penempelan protein (pembentukan felikel oleh protein saliva) dipengaruhi oleh bahan property material kimia seperti karakteristik (contoh: surface energy permukaan dan kemampuan pembasahan).

2.1.1 Syarat Biokompatibilitas Material Kedokteran Gigi1. Bahan tersebut tidak boleh membahayakan pulpa dan jaringan lunak.2. Tidak boleh mengandung substansi toksik yang larut dalam air, yang dapat dilepaskan dan diserap kedalam sistem sirkulasi sehingga menyebabkan respons toksik sistemik.3. Harus bebas dari bahan yang berpotensi menimbulkan sensitivitas yang dapat menyebabkan suatu respons alergi.4. Harus tidak memiliki potensi karsinogenik.(Wahyudi T, 2008)

2.1.2 Tissue EngineeringPenyusunan jaringan adalah sedikit area baru dari aplikasi biomaterial. Hal itu adalah science dari desain dan manufaktur dari jaringan baru sebagai restorasi fungsional dari jaringan dan organ (kedokteran regenerative atau kedokteran gigi). Biomaterial yang tidak dapat terdegradasi dan sebagian besar terdegradasi berfungsi sebagai tempat penggantungan untuk memberikan sinyal pada molekul-molekul pada sel-sel atau keduanya dan biomaterial tersebut didesain untuk secara aktif mencampuri sel-sel tubuh yang berdekatan.

2.1.3 KeamananKeamanan yang berhubungan dengan evaluasi dari dental biomaterial berarti kebebasan dari resiko yang tidak dapat diterima. Demikian, keamanan tidak bergantung dengan kekurangan resiko yang lengkap. (seperti definisi biokompabilitas itu sendiri)

2.1.4 Efek sampingEfek samping dari biomaterial didefinisikan sebagai penggaruh bahwa, selain fungsi utamanya dimaksudkan, juga karakteristik biomaterial ini tetapi tidak ingin. Sebuah istilah sinonim digunakan adalah "efek samping."

2.1.5 ToksisitasToksisitas material menggambarkan kemampuan untuk merusak sistem biologi dengan cara kimia. Dalam organ yang lebih tinggi (hewan, manusia), toksisitas lokal - yaitu, efek samping yang muncul di situs aplikasi - adalah dibedakan dari toksisitas sistemik, di mana merugikan Reaksi muncul di daerah yang jauh dari aplikasi situs. Dalam kedokteran gigi, reaksi lokal terutama terjadi pada pulpa, periodonsium periapikal, dan gingiva atau mukosa mulut.

2.1.6 ImmunotoxicityImunotoksisitas material menjelaskan efek samping pada struktur dan fungsi sistem kekebalan tubuh, misalnya pada sel yang relevan seperti monosit. Maskapai efek merusak pertahanan tuan rumah (misalnya, melawan infeksi) atau dapat menyebabkan kerusakan jaringan, misaln.ya dengan flamasi in kronis (Schmalz G, 2009).Bidang kedokteran gigi sangat berhubungan dengan biokompatibilitas bahan, dan hal ini melibatkan pemahaman dari lain bidang di luar ilmu kedokteran, misalnya ilmu bahan, biokimia, biologi molekuler dan bioteknik. Sehingga biokompatibilitas path dasarnya merupakan suatu ilmu lintas bidang. Dalam perkembangannya, saat ini untuk menentukan pemakaian suatu bahan, faktor yang mutlak dipertimbangkan, termasuk juga biokompatibilitas, dan tidak hanya faktor kekuatan , estetika, atau fungsional bahan saja. Bisa diartikan pertimbangan akan biokompatibilitas bahan penting difahami oleh para produsen, praktisi, ilmuwan dan pasien sendiri (Elvier S, 2003).

2.2 Efek Material Kedokteran GigiMaterial pada kedokteran gigi memiliki kemungkinan menghasilkan reaksi biologi. Meskipun tidak semua dari semua material memiliki respon biologi. Umumnya material tersebut dapat menyebabkan Toksik, Imflamasi, Alergi, dan reaksi mutagenic. Pembagian reaksi tersebut berdasarkan sejarah tradisional dan analisis penyakit dari jaringan. Dari beberapa macam respon biologi dari material, toksisitas adalah respon yang lebih dulu ditemukan dan dipelajari. Material mungkin mampu melepaskan zat kimia kedalam tubuh manusia. Hampir semua material memungkinkan menyebabkan toksisitas yang jelas sehingga tidak dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang dibidang kedokteran gigi (Annusavice, 2003).Inflamasi, inflamasi adalah respon kedua dari tipe respon biologi dari material. Respon imflamasi adalah respon yang kompleks tetapi dapat membawa aktivasi dari sel host sistem imun untuk untuk menghindari dari ancaman. Inflamasi mungkin juga diakibatkan dari toksisitas atau alergi, namun lebih sering diakibatkan oleh tossisitas (Annusavice, 2003).Respon alergi, meskipun respon alergi banyak yang menganggap biasa dikalangan kaum awam, namun tidak sesederhana itu jika ditetapkan dalam praktek. Secara sederhana, reaksi alergi terjadi saat tubuh mengenali material sebagai benda asing dan reaksi dengan ketidakseimbangan diantara pemberian material tersebut. Reaksi tersebut secara khusus membawa sistem limfosit T dan B serta makrofag atau monosit. Beberapa material yang dapat menghasilkan alergi seperti latex, (selipin disini alergi) (Annusavice, 2003).

2.2.1 Efek Lokal dan Efek Sistemik dari MaterialMaterial yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi memungkinkan juga memiliki efek local dan efek biologi sistemik. Efek ini diatur terutama oleh zat kimia yang dikeluarkan atau dilepaskan dari material tersebut dan respon biologi terhadap zat kimia tersebut. Sifat dasarnya, kekerasannya dan lokasi dari efek tersebut ditentukan oleh penyaluran pelepasan zat kimia tersebut. Pada material kedokteran gigi terjadi dalam pulpa gigi, atau dekat dengna jaringan oral seperti mucosa buccal atau lidah. Efek local adalah fungsi dari kemampuan zat kimia untuk penyaluran, konsentrasi, dan waktu pencahayaan dari beberapa waktu sampai beberapa tahun. Efek sistemik dari material kedokteran gigi juga fungsi dari penyaluran pelepasan zat kimia dari material tersebut (Annusavice, 2003).

2.2.2 Respon Biologi dalam Lingkungan Kedokteran GigiBeberapa aspek dari pengaruh anatomi oral biokompatibilitas dari material restorasi. Efek sepenuhnya anatomi oral dari biokompatibilitas belum diketahui, namun efek tersebut akan menjadi fokus dalam penelitian beberapa tahun yang akan datang. Lingkungan Enamel, dentin dan pulpa merupakan simbiosis yang unik dari jaringan mineralisasi dan sel. gigi enamel adalah bahan anorganik hampir semua diatur dalam array kristal yang disebut batang enamel. meskipun enamel adalah permeabel terhadap beberapa substansi, seperti peroksida dalam zat pemutih, umumnya tidak permeabel terhadap komponen material, bakteri, atau produk bakteri (Joon B, 2003).

2.3 Uji BiokompatibilitasUmumnya, tidak ada tes tunggal yang digunakan untuk mengevaluasi biokompatibilitas bahan baru. lebih tepatnya, in vitro, hewan, dan tes penggunaan digunakan bersama. Namun, peran masing-masing tes dasar dalam skema pengujian keseluruhan kontroversial dan masih envolving. ada fase umumnya dalam pengujian biomaterial baru: Primer, sekunder dan klinis. Tes primer (in vitro) sedian awalnya dalam pengujian bahan baru. tes ini sering in vitro di alam. misalnya, tes primer pertama sering dilakukan untuk mengevaluasi sitoksisitas paduan casting alloy baru dan mutagenisitas. tetapi tes utama juga mencakup beberapa tes hewan untuk mengukur toksisitas sistemik (Schmalz G, 2009). Pemeriksaan in vitro dibandingkan dengan jenis pemeriksaan biokompatibilitas lainnya, adalah sebagai berikut: a. Membutuhkan waktu yang relatif singkat b. Membutuhkan biaya yang relatif sedikit c. Dapat dilakukan standarisasi d. Bisa dilakukan kontrol Sebaliknya, kerugian dari pemeriksaan in vitro adalah, karena tidak adanya relevansinya dengan kegunaannya secara in vivo di kemudian hari. Selain itu, kerugian lainnya adalah tidak adanya mekanisme inflamasi dalam kondisi in vitro. Hal yang penting diketahui adalah bahwa dari hasil pemeriksaan in vitro saja jarang bisa untuk mengetahui biokompatibilitas suatu bahan. (Anonim, 2003).Tes sekunder,(in vivo) hampir selalu dilakukan pada hewan. misalnya tes untuk mengukur iritasi kulit, keracunan kronis, atau respon terhadap radang dipilih untuk mengamati respon imun. tes sekunder menjelajahi luar racun atau mutagenisitas terhadap isu-isu seperti alergi, peradangan, dan subletal lainnya dan respon biologis kronis. Namun, tes in vitro sedang dikembangkan untuk peradangan, estrogenicity, efek permukaan yang juga sekunder di alam. tahap penggunaan pengujian sebagian besar sama seperti yang dijelaskan sebelumnya karena bahan harus diuji dalam situasi klinis yang relevan (Annusavice, 2003).Beberapa pemeiksaan in vivo yang biasa dilakukan, yaitu : a. Pemeriksaan iritasi. Untuk mengetahui apakah suatu material dapat menimbulkan inflamasi pada mukosa atau pada kulit. Metode yang dilakukan biasanya dengan menggunakan kelompok kontrol dan perlakuan, bahan dikontakkan pada mukosa mulut hamster atau marmot.Selang beberapa minggu, baik kontrol maupun perlakuan diperiksa. Hewan coba dibunuh untuk dibuat sediaan histologis, untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan terjadinya inflamasi. b. Pemeriksaan implant/ tes implantasiUntuk mengevaluasi bahan yang dikontakkan dengan tulang atau jaringan subkutan. Biasanya bahan dikontakkan antara satu sampai sebelas minggu. Pada waktu yang telah ditentukan, respon jaringan dapat dievaluasi dengan pemeriksaan histologik, biokimiawi atau imunohistokimiawi. Pemeriksaan implan juga dapat dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya inflamasi kronis atau pembentukan tumor. Pada pemeriksaan ini material dikontakkan untuk waktu yang lebih lama, yaitu antara satu sampai dengan dua tahun (Schmalz G, 2009).

Gambar1. (a) Pembentukan abses pada antarmuka antara material dan jaringan ikat. (b) Irisan histologis mengungkapkan peradangan parah pada antarmuka antara materi dan jaringan ikat, tapi tidak ada reaksi pada bidang kontak dengan teflon ( Annusavice,2003).

Tes Klinis, tes primer adalah tes yang dilakukan pertama kali pada material. Hanya material yang dapat melewati tes primer yang akan berlanjut pada tes sekunder. Begitu juga selanjutnya, hanya material yang dapat melewati tes sekunder yang akan berlanjut pada tes klinis. Ini seperti skema diagram segitiga yang terlihat pada gambar (Annusavice, 2003).

Gambar 2. Strategi untuk memilih metode uji yang diperlukan berdasarkan atau resiko assesment / manajemen (Annusavice, 2003).

Tes klinis1. Tes Penggunaan Pulpa dan DentinPerlu dilakukan tes penggunaan pulpa karena penyebab kerusakan pulpa akibat prosedur restoratif (selain persiapan rongga) adalah sebagai berikut: Zat beracun dilepaskan dari materi Bakteri dan racun antara material dan rongga pulpa dapat bereaksi terhadap iritasi Peradangan yang berdasarkan tingkat iritasi, dapat bersifat reversibel (dengan penyembuhan berikutnya) atau ireversibel (dengan pembentukan abses pulpa dan nekrosis berikutnya) Pembentukan dentin tersier; iritasi ringan bisa merangsang odontoblasts hadir untuk membentuk tersier dentin ("dentin reaktif") dalam pulpa gabungan dengan pemusnahan tubulus dentin (dentin sclerosis). Rangsangan lebih jelas akan menghasilkan degenerasi odontoblasts asli, yang akan digantikan oleh "sekunder" odontoblasts karena diferensiasi pulp (stem/progenitor) sel. Odontoblasts sekunder juga dapat membentuk tersier, atau regeneratif, dentin, tetapi dapat mengungkapkan struktur yang lebih teratur dan void (Schmalz G, 2009).

Gambar 3. (a) Tidak ada reaksi pada pulpa sesudah aplikasi zinc oxide and eugenol cement. (b) Reaksi pulpa setelah penerapan semen ionomer kaca, kemungkinan disebabkan oleh lapisan bakteri di lantai rongga (Annusavice, 2003).

2. Tes Penggunaan mukosaBerbagai kultur sel dan model hewan telah dijelaskan dalam literatur untuk pengujian kompatibilitas mukosa (uji mukosa mulut). Sebuah model yang relatif baru terdiri dari in vitro setara kulit dewasa dan sudah diterapkan untuk tujuan pengujian dalam industri kosmetik. Misalnya, in vitro budaya yang tumbuh yang terdiri dari fibroblas kulit dan keratinosit. Sebagian atau seluruhnya berbeda, berlapis-lapis, sel-sel epitel seperti yang digunakan dalam model lain, dan sejumlah model kulit / mukosa baru saat ini sedang dikembangkan. Karena keterbatasan teknis mereka, tes mukosa mulut tidak banyak dipertimbangkan nasional dan standar internasional, sehingga jumlah publikasi yang relevan relatif kecil. Atau, metode uji lainnya (kultur sel, implantasi tes) dapat digunakan untuk menentukan potensi kerusakan dari mukosa. Berdasarkan pengalaman dari kosmetik industri, in vitro tumbuh setara mukosa mungkin menawarkan perspektif yang menarik, tapi pengalaman dengan gigi bahan yang masih kecil (Schmalz G, 2009).

3. Kerusakan jaringan periapikal dan uji penggunaan endodontik Literatur mencakup deskripsi dari model hewan (misalnya, primata, anjing) yang memungkinkan penerapan mengingat bahan ke dalam saluran akar sesuai dengan teknik endodontik setelah preparasi saluran akar biasa. Kompatibilitas dinilai oleh evaluasi histologis jaringan periapikal. Hal ini juga memungkinkan untuk menginduksi pulpa sebagai model penyakit pada hewan percobaan dan untuk melakukan pengobatan yang tepat. klasik tes penggunaan endodontik sangat rumit dan mencakup sama antara teknis dan etika masalah sebagai uji pulpa / dentin menggunakan hewan percobaan besar . sedikit penelitian relative menggunakan tes ini Metode yang tersedia dalam literatur. yang disajikan Temuan, bagaimanapun, mendokumentasikan korelasi yang baik dengan pengamatan klinis. Secara khusus, efek stimulasi pada sel-sel khusus dapat ditentukan, seperti pengaruh senyawa kalsium hidroksida pada periapikal cementoblasts . Jika tidak, tes implantasi, di mana tabung Teflon diisi dengan eksperimental material dan selanjutnya ditanamkan, dapat digunakan sebagai alterrnatif (Schmalz G, 2009).a) Hubungan Pemeriksaan In Vitro, In Vivo Dan Klinis Dalam bidang biokompatibilitas, ada beberapa ilmuwan yang mempertanyakan kegunaan pemeriksaan in vitro dan in vivo dalam kaitannya terhadap pemeriksaan klinis. Pada akhirnya diakui oleh para ilmuwan serta para industriawan bahwa ternyata cara yang paling tepat dan tinggi tingkat akurasinya, dalam meneliti biokompatibilitas bahan Baru, adalah dengan meneliti dengan cara in vitro, in vivo, dan juga secara klinis (Anonim, 2003).

2.4 Respons Alergi terhadap Bahan Kedokteran Gigi2.4.1 Alergi Dermatitis Kontak (Kelainan Kulit).Efek tersebut sering kali dialami ditempat kerja kenyataannya alergi dermatitis berada dalam urutan penyakit yang paling berhubungan dengan tempat kerja. Kelainan kulit ini seringkali dirancukan dengan dermatitis iritan primer yang disebabkan oleh gangguan kimia oleh kulit. Tenaga kesehatan dan pasien yang melakukan atau menerima perawatan ortodonsi dan restorasi operatif pediatri mempunyai insiden efek samping tertinggi yaitu samapai 50% bagi tenaga kesehatan dan 1 % bagi pasien. Alergi dermatitis kontak yang menyertai monomer bahan perekat bonding seringkali mengenai distal dan bagian telapak ujung jari. Kasus-kasus alergi dermatitis kontak yang serupa ditemukan juga pada bidang industri. Disini para pekerja terlibat dalam tugas memasang komponen-komponen elektronik yang menggunakan polietilen gilikol dimetakrilat sebagai perekat anaerob. Keadaan yang serupa dapat terjadi akibat kuteks kuku akrilik buatan dan komponen akrilik dari semen kedokteran yang dikenal sebagai penyebab alergi kontak.

2.4.2 Alergi terhadap produk lateksDalam lingkungan modern kita terdapat banyak sumber pemajaman lateks sehari-hari termasuk balon mainan, kondom, kacamata renang, sarung tangan pencuci piring, elastik pengikat rambut dan lain-lain sebagainya. Reaksi alergi sistemis yang paling serius terjadi bila produk mengandung lateks seperti sarung tangan dan isolator karet ( Rubber dam) berkontak dengan membran mukosa.

2.4.3 Alergi Stomatitis KontakAlergi stomatitis kontak sejauh ini merupakan reaksi negatif yang paling sering terjadi terhadap bahan kedokteran gigi. Reaksi negatif terlihat berupa lesi lokal atau lesi jenis kontak. Reaksi alergi yang berkaitan dengan bahan yang berbasis resin mempengaruhi tidak hanya pasien tetapi juga tenaga kedokteran gigi yang bekerja dengan bahan-bahan tersebut. Bahan komposit berbasis resin mengandung bahan pengisi bahan organik, umumnya kuarsa atau kaca dan matriks organik yang terutama terdiri atas dimetakrilat polimerik.

2.4.4 Toksisitas terhadap merkuriSejak awal pemakaian, efek samping dari merkuri dipertanyakan. Kadang-kadang masih ada anggapan bahwa toksisitas merkuri dari restorasi gigi merupakan penyebab beberapa penyakit yang tidak terdiagnosa, dan bahwa ada bahaya yang nyata bagi dokter gigi maupun asistennya jika menghirup uap merkuri selama mengaduk, karena bisa terjadi efek toksik kumulatif. Kepedulian ini muncul kembali dengan makin banyaknya kepedulian terhadap polusi merkuri pada lingkungan.Tidak diragukan lagi, merkuri dapat berpenetrasi dari restorasi kedalam struktur gigi. Sebuah analisa yang dilakukan pada dentin dibawah restorasi amalgam menunjukkan keberadaan merkuri yang menyebabkan diskolorasi dari gigi. Penggunaan merkuri radioaktif dalam amalgam perak juga menunjukkan bahwa sebagian merkuri masuk ke pulpa gigi. Sebagian kecil merkuri dilepaskan pada saat mengunyah makanan. Bagaimanapun juga kemungkinan reaksi toksik pada pasien dari penetrasi merkuri gigi atau alergi terhadap garam-garam merkuri yang dilepaskan dari permukaan amalgam belum jelas. Bahaya telah dievaluasi dalam banyak studi dan penelitian, bahwa kontak pasien dengan uap merkuri selama pengisian tambalan adalah begitu singkat dan jumlahnya begitu kecil untuk bisa membahayakan. Perkiraan yang paling bisa diandalkan adalah bahwa merkuri dari tambalan amalgam tidak cukup signifikan untuk dapat meracuni pasien. Namun dalam persentase kecil ada orang yang sensitif terhadap merkuri seperti halnya benda-benda yang lain. Bila sensitifitas ini bisa didokumentasi oleh dermatologis/alergis yang terlatih sangat jelas bahwa tambalan alternatif (misal, komposit dan emas) harus digunakan.Kapsul yang bisa dipakai ulang dengan amalgamator mekanis harus dilengkapi dengan tutup yang kencan agar tidak ada kebocoran merkuri. Bagian penting dari program penanganan bahan toksik adalah secara periodik memonitor ambang merkuri dalam kamar praktek. Prosedur ini dilakukan setiap tahun sekali.

2.5 Respon Pulpa terhadap Bahan Kedokteran Gigi2.5.1 AmalgamRestorasi amalgam konvensional umumnya dianggap bisa mengiritpulpa baik secara lambat atau ringan. Merkuri bila berdiri sendiri tidak nampak memicu respon pulpa apapun. Swerdlow dan Stanley (1962) melaporkan hasil penelitian pada manusia dengan kondensasi gam menggunakan tangan atau alat ondensasi mekanis berkecepatan rendah.Soremak, dkk (1968) menunjuahbahwa merkuri radioaktif mencapai pulpa manusia setelah 6 (enam) hari, bila tidak digunakan pelapik kavitas. Mereka menemukan bahwa daerah dentin dekat amalgam mempunyai kandungan merkuri yang tinggi dan bahwa kecepatan difusi ke dalam email dan dentin secara terbalik berhubungan dengan derajat mineralisasi.Kurosaki dan Fusayama (1973) menunjukkan bahwa merkuri dari restorasi amalgam padnusia dan aning tidak mencapai pulpa. Sebenarnya mri tidak menembus dentin yang telah dimineralisasi secara sengaja sebelum dimasukkannya tumpatan amalgam. Mereka juga menyatakan bahwa perubahan warna gigi disebabkan oleh ion, bukan merkuri di amalgam.

2.5.2 Resin Komposit1) Resin komposit dengan pengerasan secara kimiaTambalan mineral pengisi padada tambalan langsung, resin komposit dengan pengerasan secara kimia di tahun 1960 an dan 1970 an tidak mengurangi potensinya untuk menimbulkan respon pulpa yang parah. Resin komposit pada tahap ini, bila tidak dilapisi tepat, tetap dapat menyebabkan pulpitis kronis yang menetap sampai waktu yang tidak tentu bahkan pada kaviitas dengan kedalaman biasa (ketebalan dentin 1 mm). komposit jenis ini tetap berpotensi mengiritasi pulpa karena masih memerlukan penggunaan matriks tekan untuk meningkatkan adaptasinya dengan dinding kavitas selama polimerasi.

2) Resin komposit dengan pengerasan sinarAmatlah penting untuk memperoleh polimerasi sesempurna mungkin pada seluruh restorasi komposit untuk meminimalkan respon pulpa. Tingkat respon terhadap restorasi resin komposit khususnya diperhebat pada preparasi kavitas dalam. Resin yang tidak sempurna mengeras membuat semakin tingginya konsentrasi residu monomer yang tidak terpolimerisasi untuk mencapai pulpa. Semen Zinc PhospatBila digunakan sebagai basis, yaitu sebagai masa yang tebal bersifat dempul, semen seng phospat bukanlah merupakan substansi beracun dibandingkan dengan secara kimia, namun untuk prosedur sementasi, situasi yang berbeda dapat terjadi. Sedikit tanda peradangan pulpa terjadi bahkota sementara disemen dengan semen jenis Zinc Oxide Eugenol, setelah preparasi mahkota menggunakan teknik kecepatan tinggi dengan semprotan air-udara. Meskipun demikian, bila digunakan campuran tipis dari semen seng phospat bukan seng phospat eugenol untuk sementasi mahkota tiruan cekat (inlay) respon yang berbeda akan terjadi. Semen Ionomer Kaca (GIC)Ketika semen ionomer kaca pertama kali diperkenalkan sebagai suatu bahan restorasi, respons pulpa diklasifikasikan sebagai ringan, sedang dan kurang mengiritasi diandingkan dengan semen silikat, semen seng phospat dan secaraara kimia. Namun beberapa peneliti yang menyarankan penggunaan CH (Calsium Hidroksida) pada tempat yang berdekatan dengan pulpa. Semen Komposit Berbasis Resin (pengerasan ganda).Semen berbasis resin diindikasikan untuk semua mahkota keramik, logam keramik, vinir keramik, dan inlay porselain. Karena viskositas resin relatif rendah, penempatan restorasi yang tepat dengan sedikit tekanan mengurangi kemungkinan kosongnya semen di bawah daerah yang menerima tekanan, ditempat dimana fraktur sering terjadii. Karena potensi adesi serta bondingnya, bahan sementasi komposit berbasis resin nampaknya dapat meningkatkan ketahanan fraktur untuk semua mahkota keramik sebesar 100% dibandingkan dengan tradisional.

BAB 3Penutup

3.1 KesimpulanBiomaterial harus memiliki biokompatibilitas yang baik, karena biomaterial akan berinteraksi langsung dengan jaringan tubuh atau darah pasien, sehingga memiliki kemungkinan besar untuk terjadi degradasi biomaterial oleh sistem imun tubuh manusia atau berlaku sebaliknya, yaitu kerusakan jangka panjang dalam tubuh hospes akibat biomaterial yang ditanamkan. Bahan biomaterial terbuat dari berbagai jenis, baik itu komposisi tunggal atau campuran dengan bahan lain. Sebagai contoh yang sudah lazim, pembuatan biomaterial dari bahan besi, keramik, polimer. Atau yang sudah dikombinasi atau dimodifikasi seperti baja tahan karat sebagai modifikasi besi atau logam, lalu konsep polimer bioaktif pada biomaterial berbahan polimer yang dikembangkan untuk memperoleh interaksi spesifik antara biomaterial dengan diferensiasi dan produksi sel, serta penyusunan matriks ekstraselular (ECM). Konsep ini juga berfungsi untuk mengaktifkan gen-gen yang menstimulasi regenerasi dari sel-sel yang berlokasi didaerah penanaman biomaterial. Yang kesemua itu ditujukan agar terjadi peningkatan biokompatibilitas pada biomaterial yang ditanamkan. Untuk itu pula, ISO menetapkan langkah-langkah standarisasi yang harus dilakukan oleh biomaterial sebelum layak disebarluaskan dalam penggunaan medis. Peraturan tersebut tercantum dengan kode ISO 10993 sedangkan untuk perangkat kedokteran gigi pada ISO 7405. Selain ISO beberapa negara juga mempunya regulasi sendiri untuk perangkat biomaterial seperti negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Inggris. Meskipun begitu standarisasi yang dibuat ISO tetap diterima secara luas.Biomaterial yang ditanamkan dengan sifat biokompatibilitas yang buruk akan menyebabkan respon yang buruk untuk pasien. Pengaktifan reaksi imun terhadap biomaterial akan menyebabkan reaksi inflamasi akut disekitar lokasi pemasangan, apabila kerusakan berlanjut akan menyebabkan inflamasi kronik yang berujung pada kematian sel-sel sekitar, perubahan histopatologi atau perusakan sendiri pada biomaterial tersebut. Sehingga dapat menyebabkan kegagalan pengobatan atau memperparah kondisi pasien.

3.2 Saran1. Bagi pasien yang ingin menggunakan biomaterial diharapkan berkonsultasi kepada dokter untuk pemasangan biomaterial yang mempunyai tingkat keamanan yang baik, sehingga proses pengobatan dapat berjalan sesuai dengan harapan.2. Seorang dokter, dokter gigi, maupun praktisi kesehatan lainnya wajib mengetahui tentang biokompatibilitas material yang akan digunakan serta mengetahui dampak yang akan terjadi apabila syarat biokompatibilitas tersebut tidak terpenuhi.

18