MAKALAH ILMIAH - psdg.geologi.esdm.go.idpsdg.geologi.esdm.go.id/buletin_pdf_file/Bul Vol 3 no. 3 thn...

of 12 /12
MAKALAH ILMIAH 2 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 - 2008 GEOKIMIA REGIONAL PULAU SUMATERA : CONTO ENDAPAN SUNGAI AKTIF FRAKSI -80 MESH Oleh Sabtanto Joko Suprapto Kelompok Program Penelitian Konservasi – Pusat Sumber Daya Geologi SARI Penyelidikan geokimia dengan metode analisis kandungan unsur conto endapan sungai aktif -80 mesh merupakan salah satu fase awal eksplorasi terutama untuk menemukan endapan mineral logam. Cebakan bahan galian logam, baik yang sudah tersingkap maupun masih berada di bawah permukaan dapat terungkap pada data geokimia yang dihasilkan. Selain dapat menentukan keberadaan endapan bahan galian, sebaran unsur contoh endapan sungai dapat dipergunakan untuk menentukan kondisi lingkungan dari suatu wilayah. Sumatera dengan tataan geologi yang komplek dan merupakan jalur metalogenik potensial terbentuknya endapan logam, menghasilkan rona geokimia yang sangat bervariasi dan menarik. Data geokimia regional yang tertuang dalam bentuk peta sebaran unsur menyajikan informasi awal yang penting tentang indikasi mineralisasi untuk ditindak lanjuti dengan penyelidikan lebih rinci. ABSTRACT Geochemical investigation by means the method of analysis through -80 mesh of active stream sediment samples is one of early phase exploration in finding out metallic mineral deposit. Metallic mineral deposit either being cropped out in the surface or subsurface, it can be revealed in geochemical output data. Besides that of determination of the availability of mineral deposits, elements distribution of stream sediment samples can be used to determine environmental condition of an area in relation with. Sumatra with its complex geologic setting and forming that of a potential metallogenic line so as to the formation of metallic deposits, resulted in very interesting and many variation to that of geochemical performances. Projection of regional geochemistry data in the form of elements distribution maps represent important initial information about mineralization indications to be followed by the detail investigation. PENDAHULUAN Sumatera merupakan pulau besar yang berada di ujung barat Indonesia mempunyai bentangalam memanjang di bagian barat dominan berupa pegunungan, dikenal dengan Bukit Barisan. Sementara di bagian timur berupa perbukitan rendah dan dataran. Batuan gunungapi mendominasi daerah Bukit Barisan, sedangkan di daerah bagian timur didominasi batuan sedimen. Eksplorasi mineral di Sumatera (Stephenson, 1982 dalam Carlile dan Mitchell, 1994) telah menggambarkan kegiatan pencarian mineral di Sumatera oleh Belanda pada tahun 1900-1945 yang menemukan cebakan-cebakan sekala relatif kecil. Penyelidikan geokimia telah dilakukan setempat-setempat pada daerah prospek mineral. Penyelidikan geokimia conto endapan sungai fraksi -80 mesh secara sistematik oleh Pemerintah Indonesia di Sumatera merupakan awal dari target penyelidikan yang akan mencakup seluruh wilayah daratan Indonesia. Pengambilan conto geokimia dilakukan oleh Direktorat Sumberdaya Mineral dalam rangka pemetaan geokimia Indonesia secara bersistem sekala 1:250.000. Kegiatan tersebut ditujukan untuk penyediaan data dasar geokimia. Pengambilan conto di Sumatera dilakukan pada tahun 1975 - 1993. Penyusunan atlas geokimia Sumatera telah dilakukan dengan membagi ke dalam dua

Embed Size (px)

Transcript of MAKALAH ILMIAH - psdg.geologi.esdm.go.idpsdg.geologi.esdm.go.id/buletin_pdf_file/Bul Vol 3 no. 3 thn...

MAKALAH ILMIAH

2 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 - 2008

GEOKIMIA REGIONAL PULAU SUMATERA :CONTO ENDAPAN SUNGAI AKTIF FRAKSI -80 MESH

OlehSabtanto Joko Suprapto

Kelompok Program Penelitian Konservasi Pusat Sumber Daya Geologi

SARI

Penyelidikan geokimia dengan metode analisis kandungan unsur conto endapan sungai aktif -80mesh merupakan salah satu fase awal eksplorasi terutama untuk menemukan endapan minerallogam. Cebakan bahan galian logam, baik yang sudah tersingkap maupun masih berada di bawahpermukaan dapat terungkap pada data geokimia yang dihasilkan. Selain dapat menentukankeberadaan endapan bahan galian, sebaran unsur contoh endapan sungai dapat dipergunakan untukmenentukan kondisi lingkungan dari suatu wilayah.

Sumatera dengan tataan geologi yang komplek dan merupakan jalur metalogenik potensialterbentuknya endapan logam, menghasilkan rona geokimia yang sangat bervariasi dan menarik. Datageokimia regional yang tertuang dalam bentuk peta sebaran unsur menyajikan informasi awal yangpenting tentang indikasi mineralisasi untuk ditindak lanjuti dengan penyelidikan lebih rinci.

ABSTRACT

Geochemical investigation by means the method of analysis through -80 mesh of active streamsediment samples is one of early phase exploration in finding out metallic mineral deposit. Metallicmineral deposit either being cropped out in the surface or subsurface, it can be revealed ingeochemical output data. Besides that of determination of the availability of mineral deposits, elementsdistribution of stream sediment samples can be used to determine environmental condition of an areain relation with.

Sumatra with its complex geologic setting and forming that of a potential metallogenic line so as to theformation of metallic deposits, resulted in very interesting and many variation to that of geochemicalperformances. Projection of regional geochemistry data in the form of elements distribution mapsrepresent important initial information about mineralization indications to be followed by the detailinvestigation.

PENDAHULUAN

Sumatera merupakan pulau besar yang beradadi ujung barat Indonesia mempunyaibentangalam memanjang di bagian baratdominan berupa pegunungan, dikenal denganBukit Barisan. Sementara di bagian timurberupa perbukitan rendah dan dataran. Batuangunungapi mendominasi daerah Bukit Barisan,sedangkan di daerah bagian timur didominasibatuan sedimen.

Eksplorasi mineral di Sumatera (Stephenson,1982 dalam Carlile dan Mitchell, 1994) telahmenggambarkan kegiatan pencarian mineral diSumatera oleh Belanda pada tahun 1900-1945yang menemukan cebakan-cebakan sekalarelatif kecil. Penyelidikan geokimia telah

dilakukan setempat-setempat pada daerahprospek mineral. Penyelidikan geokimia contoendapan sungai fraksi -80 mesh secarasistematik oleh Pemerintah Indonesia diSumatera merupakan awal dari targetpenyelidikan yang akan mencakup seluruhwilayah daratan Indonesia.

Pengambilan conto geokimia dilakukan olehDirektorat Sumberdaya Mineral dalam rangkapemetaan geokimia Indonesia secara bersistemsekala 1:250.000. Kegiatan tersebut ditujukanuntuk penyediaan data dasar geokimia.Pengambilan conto di Sumatera dilakukan padatahun 1975 - 1993.

Penyusunan atlas geokimia Sumatera telahdilakukan dengan membagi ke dalam dua

MAKALAH ILMIAH

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 2008 3

bagian, yaitu atlas Sumatera bagian sebelahutara dan selatan garis katulistiwa. Dalamtulisan ini menampilkan hasil digitasi danpengolahan data yang meliputi seluruh PulauSumatera untuk menyajikan kemenerusansebaran unsur dan kondisi geokimia seluruhpulau.

Pemetaan geokimia dilakukan dengan carapengambilan conto endapan sungai fraksi -80mesh pada cabang-cabang sungai aktif(Gambar 1). Sebanyak 22.181 conto yang telahterkumpul mewakili daerah penyelidikan seluas431.800 km2 atau kerapatan rata-rata setiapconto mewakili daerah seluas 19,46 km2.

Fraksi berukuran -80 mesh dari endapansungai ini dianalisis dengan metodeSpektrometri Serapan Atom (AAS) untuk 15unsur yaitu Cu, Pb, Zn, Mn, Fe, Ag, Li, K, Co,Ni, dan Cr. Penentuan kadar unsur Cu, Pb, Zn,Co, Ni, Mn dan Ag dengan AAS dilakukansetelah peleburan menggunakan asam nitratpanas. Li, K, Cr dan Fe ditentukan dengan AASsetelah dilakukan peleburan menggunakanasam perkhlorat/hidrofluorat panas. Unsur As,Sn, W dan Mo dianalisis dengan metodekolorimetri. Analisis dilakukan di LaboratoriumKimia Mineral yang berada di DirektoratSumber Daya Mineral, yang saat ini berubahnama menjadi Pusat Sumber Daya Geologi.

Penyelidikan geokimia bersistem untukmenyediakan data dasar, diharapkan dapatmenggambarkan kondisi sebaran semua unsur.Akan tetapi mengingat ketersediaan beayayang ada, maka hanya dapat dianalisis 15unsur.

Geokimia regional selain dimaksudkan untukmemberikan petunjuk awal potensi dankeberadaan cebakan mineral berdasarkangambaran anomali geokimia, dapat ditafsirkanjuga antara lain dengan sasaran untukmemberikan petunjuk tentang kondisilingkungan.

GEOLOGI DAN MINERALISASI

Pulau Sumatera dilewati oleh tiga busurmetalogenik (Gambar 2). Selain batuanpenyusun yang mempunyai perbedaan, diantara ketiga busur tersebut juga terdapatperbedaan tipe cebakan mineral logam yangterbentuk.

Busur Sumatera- Meratus (Kapur Tengah-Akhir)

Busur kontinen memanjang pada ujung bagianselatan Paparan Sunda dari utara Sumateramelewati ujung timur Jawa Barat menerus kearah timur Kalimantan.

Paparan Sunda menjadi busur kontinen tunggalpada Akhir Trias atau Awal Yura, pada Triasdan kemungkinan Awal Yura terjadi tumbukansepanjang di lepas pantai timur laut Sumaterake arah Kalimantan, dan kemungkinanmelewati bagian tengah Sumatera (Hamilton,1979; Hutchison, 1989; Mitchell, 1992, dalamCarlile dan Mitchell, 1994). Tumbukan secaralangsung maupun tidak langsung menghasilkanjalur kaya timah di Asia Tenggara.

Sejak Yura Tengah sampai Akhir Kapur, tepianselatan Paparan Sunda kemungkinanmerupakan tepi kontinen yang pasif, diSumatera ke arah barat dan Kalimantan kearah utara, pada Akhir Kapur terjadi perputaranke arah berlawanan jarum jam pada bagiantimur Paparan Sunda dan berarah jarum jampada bagian barat Paparan Sunda terhadapposisi pada saat ini.

Batuan oseanik berupa Grup Woyla padabagian barat Sumatera merupakan hasil prosespengangkatan ke arah selatan pada tepikontinen dari Paparan Sunda. Hal inikemungkinan bahwa pada Akhir dari AwalKapur, busur batuan basa berarah utaramengalami tumbukan, terdapat asosiasi ofiolit,dan terangkat menempati pada bagian daritepian selatan Paparan Sunda yang pasif,membentuk Grup Woyla pada bagian utaraSumatera, batuan yang ekuivalen terdapatpada bagian barat Sumatera bagian selatan,batuan ofiolit di Jawa bagian baratdaya, danofiolit Meratus dan Formasi Alino di Kalimantanbagian tenggara.

Busur magmatik mulai mengalami pembalikanproses tektonik setelah pembentukanKelompok Woyla. Penunjaman ke arah utaramenyebabkan pembentukan busur magmatikpada Awal Kapur sampai Akhir Kapur yangmelampar melewati Sumatera dan Laut Jawa,terobosan-terobosan berasosiasi dengankelompok batuan volkanik Manunggal diPegunungan Meratus, di Sumatera, termasukpluton Ulai, Batolit Manunggal dan BatolitSikuleh. Intrusi-intrusi tersebut umumnyamenerobos Woyla, akan tetapi di Jalur BukitBarisan Sumatera Selatan intrusi granit secarastruktural menempati bagian lebih rendah, padaAwal Mesozoik atau batuan lebih tua daribatuan dasar kontinen.

MAKALAH ILMIAH

4 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 - 2008

Pada busur ini temuan adanya mineralisasikurang, hal ini kemungkinan akibat daripengangkatan dan erosi yang sangat intensifpada jaman Tersier. Temuan adanyamineralisasi emas kurang 1% dari sumber dayaemas di Indonesia, serta tembaga yang sangatterbatas. Di Sumatera, terbentuk beberapamineralisasi berupa cebakan-cebakan skarnbijih besi dan logam dasar dalam dimensi kecil,sebagian mengandung emas dan perak, danemas-tembaga dengan rasio perbandingan Ag :Au rendah.

Busur Sunda-Banda (Neogen)

Busur Sunda-Banda paling panjang diIndonesia, melampar dari utara Sumateramelewati Jawa ke arah timur dari Damar.Segmen barat terdiri dari Sumatera, Jawa Baratdan sebagian Jawa Tengah, dan terbentukpada tepian selatan Paparan Sunda, bagiantimur dari Jawa Tengah ditafsirkan sebagaibusur kepulauan terbentuk pada kontinen yangtipis atau kerak intermediet.

Tektonik Paleogen, dan diikuti tektonik AkhirKapur dimana kegiatan volkanisme di BusurSumatera-Meratus berakhir. Tepi Kontinenposisi pasif dari Paparan Sunda pada AkhirEosen telah melampar ke arah Sumatera, dimana intrusi kalk-alkali terjadi dengan umurantara 52 sampai 57 Ma, dan kemungkinanlebih muda menggambarkan adanyapenunjaman secara lambat ke arah utara padaAwal sampai pertengahan Eosen.

Deformasi bersifat kompresif di lepas pantaiSumatera bagian barat, dan berakhirnyapenunjaman Paleogen, merupakan gambaransaat terbentuknya ofiolit pada bagian utara danbusur kepulauan yang bertepatan denganterbentuknya ofiolit Oligosen di Jalur Indo-Burma, dan juga dengan Formasi batuanbancuh dengan fragmen ofiolit pada kepulauandi sebelah barat Sumatera. Di bagian timurSumatera, ofiolit dan batuan Paleogen,termasuk basal di Jawa, merupakan bagian darimargin Sunda sebelum Akhir Oligosen.

Pada Akhir Oligosen sampai Akhir Miosen,busur magmatik melampar luas pada sebagianbesar Sumatera, membentuk formasi yang olehVan Bemmelen (1949) disebut Andesit Tua.Busur ini secara stratigrafis setempat terpisahdari batuan yang lebih muda yaitu batuan yanglebih muda dari Neogen, yang dicirikan olehbatuan endapan laut, termasuk di dalamnyabatulumpur. Belum ada umur dari pengendapanmineral yang dapat untuk dikorelasikan dengan

busur Tersier tengah tersebut, posisinyabersamaan dengan busur Neogen.

Busur andesitik berumur Miosen denganpelamparan yang sama dengan volkanikKuarter, melampar sepanjang Bukit Barisandan menerus ke Jawa dan bagian barat dariBusur Banda sampai Damar. Di luar sebarantersebut, ke arah timur, hanya dijumpai pulaupulau dengan endapan volkanik Kuarter, dantidak didapatkan data bahwa pada saat Neogenmelampar sampai daerah tersebut. Batuanmagmatik pada busur tersebut dominant batuaneruptif, termasuk juga batuan intrusi berumur12 dan 13 Ma di Sumatera dan intrusi di Jawa.Tidak dijumpai batolit dalam ukuran besar padaNeogen. Riolit dan ignimbrit riolitik berumurKuarter dijumpai di Sumatera dan Jawa.

Di Sumatera, batuan gunungapi dominanterbentuk pada lingkungan darat dan umumnyamenumpang pada batuan berumur MiosenAwal berupa batuan gunungapi, batulumpur,dan batuan dasar berumur Miosen danPaleozoik termasuk juga batuan ofiolitMesozoik Akhir dari Grop Woyla, serta batuanplutonik busur magmatik Kapur Akhir.Pengangkatan pada saat volkanisme aktif padaKenozoik Akhir ditandai oleh adanya batuanlumpur yang terbentuk pada lingkungan lautmenempati ketinggian sampai 1100 meter diBukit Barisan.

Busur ini berpotensi terjadinya mineralisasi,dimana mineralisasi emas dan tembaga yangterbentuk merupakan 20% dari potensi emas,dan 14 % dari potensi tembaga di Indonesia.Segmen kontinen bagian barat dicirikan olehbanyak dijumpainya cebakan epitermal sistemurat tipe sulfidasi rendah seperti di Pasaman,Lebong Tandai, Musirawas, Lampung, Pongkordan Cibaliung. Cebakan mineralisasi logam Zn,Pb, Cu, dan Ag dengan batuan induk sedimendijumpai di Dairi. Cebakan Cu-Au porfiriterdapat di Daerah Ise-ise dan Tengkereng diAceh Tenggara serta Batuhijau, Sumbawa.Sementara cebakan tipe sulfida masifvolkanogenik dijumpai di Wetar dan Haruku.

Busur Aceh (Neogen)

Busur Aceh berbatasan dengan bagian utaradari Sumatera. Stephenson dkk (1982)menggambarkan penunjaman di lepas pantaibagian utara Sumatera dimana pada daerah iniendapan gunungapi muda berhubungandengan yang terdapat pada bagian daratan.Tunjaman tersebut kemungkinan juga aktifpada awal Miosen Tengah, diduga bahwapenunjaman ke arah selatan dari Cekungan

MAKALAH ILMIAH

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 2008 5

Mergui yang bersifat oseanik menunjam dibawah batuan dasar bagian utara Sumatra dariPaparan Sunda.

Meskipun sedikit penyelidikan yang dilakukan,Busur Aceh dengan jelas dapat dibedakandengan bagian barat dari Busur Sunda-Banda,serta dicirikan dengan terdapatnya tembaga-molibdenum porfiri (Van Leeuwen dkk., 1987dalam Carlile dan Mitchell, 1996) dan lebihdominannya mineralisasi epitermal sulfidasitinggi dibandingkan sulfidasi rendah.

GEOKIMIA

Penentuan kelas sebaran unsur unsur logam diPulau Sumatera didasarkan pada pembagiansecara persentil. Kelas terakhir dengan hargatinggi sebagai nilai anomali umumnyamerupakan isarat adanya pemineralan.Pembahasan geokimia berikut, dibatasi padahasil analisis unsur tunggal.

Perak (Ag)

Hasil analisis kimia perak yang harganya lebihbesar dari batas deteksi jumlahnya sangatterbatas. Sebagian besar lebih kecil atau samadengan harga batas deteksi. Harga berkisardari bawah batas deteksi sampai dengan 800ppm (Tabel 1). Kelompok harga tinggi terdapatdi baratdaya Danau Toba, Bengkulu dan diLampung.

Walaupun nilai perak yang berada di atas hargabatas deteksi sangat jarang, namun beberapakelompok peninggian harga perak yangtergambar pada citra geokimia (Gambar 3 dan4A) berkaitan dengan daerah mineralisasiperak dan emas.

Arsen (As)

Kadar arsen berkisar dari 0,1- 600 ppm (Tabel1). Pola peninggian arsen di bagian selatanSumatera memanjang sejajar Bukit Barisan,dan relatif menyebar luas di bagian selatanAceh.

Pola peninggian arsen membentuk kelurusan disepanjang perbukitan Barisan pada beberapalokasi berkaitan dengan keberadaan cebakanmineral logam, terutama emas dan perak(Gambar 3 dan 4B). Peninggian kandunganarsen secara signifikan di Aceh, yaitu di DaerahLumut dan sekitarnya, Kabupaten Aceh Timurterkait dengan dijumpainya cebakan emasepitermal tipe Carlin.

Anomali arsen pada beberapa lokasi yang laindimana data keterdapatan logam tidakdijumpai, dapat memberikan peluang bahwaanomali tersebut kemungkinan merupakanindikasi adanya cebakan emas dan perak.

Kobal (Co)

Kadar kobal berkisar dari 1 ppm sampaidengan 370 ppm (Tabel 1). Harga tertinggi 370ppm berada pada daerah Aceh. Sebaran umumdari kobal mirip dengan Ni dan Cr, beberapanilai tinggi terdapat di sepanjang Bukit Barisan,berasosiasi ultramafik dan basaltik (3 danGambar 4C).

Khromium (Cr)

Kadar khrom dari bawah batas deteksi 3 ppmsampai dengan 40.000 ppm (Tabel 1). Hargatertinggi 40.000 ppm berada di Aceh (Gambar4D). Sebaran harga tinggi Cr berasosiasidengan batuan ultramafik. Anomali signifikankemungkinan berasosiasi dengan mineralisasikhrom.

Tembaga (Cu)

Nilai tembaga berkisar dari 2 ppm sampaidengan 2.131 ppm. Harga tinggi tembagamengelompok di beberapa lokasi di Aceh,Sumatera Barat dan bengkulu. Anomalitembaga pada daerah tersebut terkait denganadanya keterdapatannya cebakan tembagaseperti di Tangse, Tengkereng, Ise-ise danbarat Kerinci (Gambar 3 & 4E).

Besi (Fe)

Kandungan besi 0,007% sampai 79,6%.Anomali besi pada beberapa lokasi berkaitandengan adanya mineralisasi besi. Pola sebaranharga Fe mempunyai kecenderungan yangmeninggi pada daerah dengan harga Snrendah, atau sebaliknya cenderung rendahpada daerah peninggian harga Sn (Gambar 3 &4F).

Kalium (K)

Kandungan kalium berkisar dari 47 sampaidengan 75.600 ppm. Daerah peninggiankalium berada di sepanjang Bukit Barisanbagian tengah dan utara. Sebaran unsurKalium dan Litium mempunyai pola yanghampir sama. Harga kandungan unsur kalium

MAKALAH ILMIAH

6 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 - 2008

cenderung rendah pada daerah dataran timurSumatera, kecuali di Daerah Lubuk Pakamsampai Kisaran, di Provinsi Sumatera Utaramempunyai harga tinggi (Gambar 5A).

Litium (Li)

Li mempunyai kisaran harga dari 1 ppm sampaidengan 214 ppm. Harga tinggi litium eratkaitannya dengan batuan terobosan granitoiddan batuan malihan.

Litium relatif tinggi di Daerah Aceh dimanadijumpai batuan malihan yang luas, dansetempat-setempat di sepanjang perbukitanBarisan. Harga litium rendah terdapat di daerahmorfologi rendah bagian timur Sumatera.Beberapa kelurusan sebaran harga litiumdengan kandungan relatif tinggi dengan arahbaratdaya-timurlaut memotong Pulau Sumateraseperti di Daerah Tembesi, kemungkinanmerupakan indikasi adanya sturktur geologi danadanya batuan granitoid (Gambar 5B).

Mangan (Mn)

Kadar mangan 10 ppm sampai dengan 20.000ppm dengan rata-rata aritmatik 496,21 ppm.Harga tinggi sebaran mangan pada beberapalokasi di sepanjang perbukitan Barisanberasosiasi dengan keterdapatan mineralisasiemas (Gambar 3 dan 5C). Citra geokimiamangan dengan nilai rendah berada di daerahmorfologi rendah bagian timur Pulau Sumatera.

Kelurusan harga kandungan mangan relatifagak tinggi di daerah timur Sumatera terdapatmemanjang pada zona patahan MuaraTembesi dan sekitarnya, kemungkinan sebagaiakibat kontrol dari struktur geologi.

Molibdenum (Mo)

Molibdenum berkisar dari 1 ppm sampaidengan 980 ppm. Peninggian sebaran unsurMo terdapat di Kampar berasosiasi dengan Sn,dan setempat-setempat di daerah Lampung,Bengkulu dan selatan Danau Toba (Gambar3D). Sebaran Mo dengan nilai tinggi merupakanindikasi kemungkinan adanya mineralisasimolibdenum dan logam ikutannya padalingkungan mesotermal.

Nikel (Ni)

Kadar nikel berkisar dari 1 ppm sampai dengan5.800 ppm. Harga tinggi nikel terdapat dibeberapa tempat di perbukitan Barisan

(Gambar 5E). Pola sebaran umum Ni miripdengan sebaran Cr dan Co, di mana beberapaharga tinggi berkaitan dengan keberadaanbatuan ultrabasa.

Timbal (Pb)

Hasil analisis timbal mempunyai kisaran dari 2ppm sampai dengan 9.011 ppm, dengan rata-rata 22,05 ppm. Peninggian timbal pada bagianbarat Sumatera mulai dari Lampung sampaiAceh umumnya berasosiasi dengan adanyamineralisasi sulfida. Timbal dengan kadarrendah mempunyai sebaran menerus padadaerah dataran di Sumatera Selatan sampaiRiau (Gambar 5F).

Timah (Sn)

Kadar timah 7 ppm sampai dengan 548 ppm.Pola sebaran peninggian timah bertolakbelakang dengan harga kadar besi. Padadaerah dengan kadar timah tinggi kandunganbesi cenderung rendah, atau pada daerahdengan sebaran timah nilai rendah terdapatsebaran besi dengan nilai tinggi.

Peninggian timah terdapat di Daerah Riausampai Jambi merupakan indikasi adanyamineralisasi timah (Gambar 3 dan 6A).

Wolfram (W)

Kadar wolfram mulai dari batas nilai deteksisampai dengan 1.250 ppm. Kandunganwolfram yang sebagian besar rendah, atau dibawah nilai batas deteksi analisis, mempunyaisebaran dengan pola tidak teratur. Kadar tinggidijumpai di sekitar Danau Toba. Peninggianharga tersebut kemungkinan merupakancerminan adanya mineralisasi wolfram (Gambar6B).

Seng (Zn)

Kandungan seng 2 ppm sampai dengan 6.000ppm, rata-rata 62,1 ppm. Pola sebaran Zn miripdengan pola sebaran Cu, dan Pb. Hal iniberkaitan dengan adanya mineralisasi sulfidapada daerah peninggian unsur-unsur tersebut(Gambar 3 dan 6C).

Kelurusan harga kandungan seng relatif agaktinggi di daerah timur Sumatera terdapatmemanjang pada zona patahan MuaraTembesi dan sekitarnya. Pola kelurusantersebut merupakan indikasi adanya strukturgeologi (Gambar 3 dan 6C).

MAKALAH ILMIAH

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 2008 7

PEMBAHASAN

Geokimia regional endapan sungaimenunjukkan adanya beberapa pola sebaranunsur logam di Pulau Sumatera. Pola sebaranunsur dengan kandungan tinggi umumnyaberasosiasi dengan mineralisasi. Sebaranunsur dengan kandungan rendah jugamerupakan indikasi yang menarik dari sisikegeologian.

Batuan dari cekungan sedimenter yangterdapat melampar dari Sumatera Selatansampai Riau dicirikan dengan nilai kandunganlogam rendah, kecuali unsur Sn yangcenderung tinggi di daerah Riau. Hal inimemberikan gambaran akan adanya duamandala geokimia di Pulau Sumatera, yaitumandala barat menempati sepanjang BukitBarisan dengan penyusun utama berupabatuan gunungapi dan mandala timur yangmenempati daerah morfologi rendah denganbatuan penyusun sedimenter.

Pada daerah sepanjang perbukitan Barisanterdapat beberapa anomali signifikan daribeberapa unsur logam. Anomali pada bagiantimur Sumatera terdapat memanjangbaratdaya-timur laut di Daerah Muara Tembesi,pola tersebut kemungkinan akibat kontroladanya patahan Muara Tembesi yangmemotong Pulau Sumatera.

Pola sebaran antara Sn dan Fe mempunyaikecenderungan nilai yang saling bertolakbelakang. Pada daerah Sn tinggi, kadar Ferendah, demikian juga sebaliknya. Polatersebut dimana peninggian Sn mencerminkanadanya mineralisasi timah dan peninggian Femenunjukkan adanya mineralisasi besi, jugamerupakan cerminan batuan yang terdapatpada daerah tersebut. Pada daerah Sn tinggiterdapat granit tipe S (tipe ilmenit) dengankandungan besi relatif rendah, pada daerahdengan kandungan Fe tinggi terdapatkemungkinan dijumpainya granit tipe I (tipemagnetit), dengan kandungan magnetit (besi)lebih tinggi. Pola peninggian Sn terdapat dariDaerah Riau sampai Jambi. Peninggian Feterdapat di beberapa lokasi di sepanjang BukitBarisan dan meluas di Daerah Bengkulusampai Lampung.

Daerah-daerah geokimia dengan nilai K danatau Li meninggi yang merupakan anomali,mencirikan adanya granitoid, dan di beberapalokasi berasosiasi dengan mineralisasi logam,serta peninggian beberapa jenis unsur.Peninggian kadar K tanpa disertai peninggianharga Li dijumpai memanjang dari DaerahLubuk Pakam sampai Kisaran, di Provinsi

Sumatera Utara, kemungkinan merupakanakibat kontaminasi dari kegiatan pertanian.

Daerah dengan anomali berupa peninggianunsur Ag, As, Cu, Pb, Zn, Ag, Mn dan Fe padadi beberapa lokasi, sebagian terdapatbersamaan dengan dijumpainya mineralisasisulfida dan sebagian mineralisasi emas(Gambar 3), anomali pada daerah lainnya dimana tidak ada data keterdapatan mineralisasilogam dapat ditafsirkan juga sebagai cerminanadanya mineralisasi logam. Peninggiankandungan Ni, Cr dan Co di beberapa lokasi diBukit Barisan terdapat pada daerah denganbatuan jenis ultrabasa.

Garis geokimia digambarkan oleh penjajaranunsur-unsur yang bernilai tinggi, penjajaran nilairendah, atau antara nilai tinggi dan rendah yangmembentuk batas tegas dan lurus. Hal tersebutdapat ditafsirkan berhubungan dengan polasebaran batuan, intrusi atau struktur,khususnya patahan. Beberapa kelurusangeokimia Pulau Sumatera dapat di jumpaimemanjang arah perbukitan Barisan dariLampung sampai Aceh. Kelurusan-keluruangeokimia dapat dijumpai juga dengan arahbaratdaya-timurlaut memotong PulauSumatera.

Geokimia merupakan cerminan kondisipermukaan maupun bawah permukaan, dapatsebagai dasar pertimbangan awal dalampengembangan suatu wilayah atau kawasan,serta dapat mengungkap potensi bahan galiandan mineralisasi di permukaan dan bawahpermukaan.

Sebagai data dasar, geokimia sebaran unsurcontoh endapan sungai aktif fraksi -80 meshdapat dipergunakan untuk beberapa keperluan,di antaranya pada kegiatan eksplorasi awalsebagai indikator adanya mineralisasi logam.Aspek lingkungan geokimia, data sebaranunsur dapat digunakan sebagai penentuankondisi rona awal dan akhir terutama padalingkungan wilayah pertambangan, sepertiarsen dan timbal sebagai unsur yangmempunyai sifat racun pada beberapa lokasi diSumatera telah menunjukkan rona awal yangtinggi.

Sebagai salah satu dari beberapa metode padaeksplorasi endapan logam primer, metodageokimia endapan sungai aktif selaludigunakan. Biaya penyelidikan geokimia relatifmurah, data yang dihasilkan memberikanisyarat tentang keterdapatan endapan logamdengan tingkat kepastian tinggi, dan dapatmengungkap keberadaan bahan galian yangsudah tersingkap maupun masih berada di

MAKALAH ILMIAH

8 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 - 2008

bawah permukaan, serta berada jauh di bagianhulu dari lokasi pengambilan conto.

KESIMPULAN

Geokimia di Pulau Sumatera conto endapansungai aktif fraksi -80 mesh dengan analisiskandungan unsur Ag, As, Co, Cr, Cu, Fe, K, Li,Mn, Ni, Pb, Sn, W, Mo dan Zn dapatmemberikan gambaran tentang kondisi geologi,mineralisasi maupun lingkungan geokimia.Analisis kimia conto endapan sungai dapatuntuk mengungkap kondisi geokimia di daerahaliran sungai di bagian hulu dari contoh yangdiambil, baik kondisi permukaan maupunbawah permukaan.

Beberapa anomali geokimia terdapatbersamaan dengan keterdapatn mineralisasilogam. Nilai kadar anomali tersebut dapatdigunakan untuk korelasi daerah lain dimanatidak dijumpai data mineralisasi logam,sehingga daerah dengan nilai anomali unsurlogam dapat ditafsirkan akan adanyamineralisasi logam.

Kondisi geologi dapat tercermin pada polasebaran unsur, baik kondisi litologi penyusunmaupun struktur geologinya. Sebaran unsurpotensial sebagai bahan racun dapat diketahuipada sebaran unsur baik berupa rona awalmaupun akhir.

Ucapan Terima Kasih

Terimakasih disampaikan kepada Bapak Kosim yang telah banyak membantu dalam proses digitasi,dan tulisan ini ditujukan sebagai penghargaan untuk almarhum Bapak Hasbulah atas peran serta danpengorbanannya dalam melaksanakan tugas lapangan.

ACUAN

---------------., 2007. Neraca Sumber Daya Mineral Logam. Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung

Carlile, J.C., dan Mitchell, 1994. Magmatic arcs and associated gold and copper mineralization inIndonesia. Journal of Geochemical Exploration, Amsterdam.

Muchsin, A., Johnson, C.C., Crow, M.J., Djumsari, A., Sumartono, 1997. Atlas Geokimia DaerahSumatera Bagian Selatan, Direktorat Sumber Daya Mineral, Bandung.

Stephenson, B., Ghazali, S.A., Widjaja, H., 1982. Regional Geochemical Atlas Series of Indonesia, 1.Nothern Sumatra. Direktorat Sumber Daya Mineral, Bandung.

Van Bemmelen, RS., 1949. The Geology of Indonesia. Vol. IA. Ist Edition. Govt.Printing Office, TheHague.

MAKALAH ILMIAH

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 2008 9

Tabel 1. Ringkasan statistik kandungan unsur, satuan dalam ppm kecuali Fe dalam %

N0 UNSUR JUMLAHCONTOH MIN MAKSRATARATA

STANDARDEVIASI

BATASDETEKSI

1 Ag 22.181 0,7 800 0,87 5,41 0,52 As 22.181 1 600 3,49 8,64 13 Co 22.181 1 370 14,02 12,09 0,54 Cr 22.181 3 40.000 60,94 296,91 35 Cu 22.181 2 2131 33,99 81,01 2,5

6 Fe 22.181 0,007 79,6 5,34 4,52 507 K 22.181 47 75.600 10.123 8.588 408 Li 22.181 1 214 19,59 11,94 0,59 Mn 22.181 10 20.000 496,21 540,88 5

10 Mo 22.181 1 980 1,11 6,83 0,411 Ni 22.181 1 5.800 22,98 97,81 0,5

12 Pb 22.181 2 9.011 22,05 83,48 213 Sn 22.181 7 8.000 11,08 66,65 514 W 22.181 1,7 1.250 3,72 30,16 115 Zn 22.181 2 6.000 62,1 63,39 2

Gambar 1. Pengambilan conto endapan sungai aktif, fraksi -80 mesh, di Lampung tahun 1992 (fotokoleksi SJ Suprapto)

MAKALAH ILMIAH

10 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 - 2008

Gambar 2. Peta busur metalogenik Sumatera (modifikasi dari Carlile dan Mitchell, 1994).

Gambar 3. Lokasi cebakan mineral logam (Pusat Sumber Daya Geologi, 2007)

MAKALAH ILMIAH

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 2008 11

A B

C D

E FGambar 4. Peta Sumatera menunjukkan (A) Sebaran unsur perak; (B); Sebaran unsur arsen; (C) Sebaran

unsur kobal; (D) sebaran unsur khrom; (E) sebaran unsur tembaga; dan (F) sebaran unsurbesi.

MAKALAH ILMIAH

12 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 - 2008

A B

C D

E FGambar 5. Peta Sumatera menunjukkan (A) Sebaran unsur kalium; (B) Sebaran unsur litium; (C) Sebaran

unsur mangan; (D) sebaran unsur molibdenum; (E) sebaran unsur nikel; dan (F) sebaranunsur timbal.

MAKALAH ILMIAH

Buletin Sumber Daya Geologi Volume 3 Nomor 3 2008 13

A B

C DGambar 6. Peta Sumatera menunjukkan (A) Sebaran unsur timah; (B) Sebaran unsur wolfram; (C) Sebaran

unsur seng.