Makalah Hukum Gadai

download Makalah Hukum Gadai

of 25

  • date post

    18-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    901
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Hukum Gadai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu hal yang sangat mendasar dalam pelaksanaan pembangunan adalah tersedianya permodalan. Permodalan tidak didapat begitu saja tetapi dibutuhkan sarana-sarana lain termasuk halnya meletakkan keberadaan lembaga jaminan yang salah satunya adalah lembaga gadai. Dalam rangka pembinaan hukum nasional diperlukan perhatian yang serius tentang lembaga jaminan gadai, karena perkembangan perdagangan akan diikuti oleh perkemb angan kebutuhan akan kredit, sedangkan pemberian kredit memerlukan jaminan demi keaman an pemberian kredit itu sendiri. Lembaga gadai menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pe rdata (selanjutnya KUH Perdata) diatur dalam Buku III Bab XX Pasal 1150 sampai dengan Pasal 1160. Lembaga gadai banyak digunakan dalam praktik. Kedudukan pemegang gadai berbeda dengan pemegang fidusia, karena benda jaminan berada dalam penguasaan pemegang gadai selaku kreditur. Dalam hal ini kreditur s edapat mungkin akan terhindar dari iktikad jahat (te kwader trouw) pemberi gadai. Dalam gadai benda jaminan sama sekali tidak boleh berada dalam penguasaan (inbezitstelling) pemberi gadai, sedang benda yang dijaminkan dengan jaminan fidusia tetap berada di tanga n pemberi jaminan fidusia selaku debitur. Kata gadai dalam undang-undang digunakan dalam dua arti, pertama menunjukkan kepada bendanya (benda gadai). Kedua, tertuju kepada haknya (hak gadai). Saham adalah bukti kepemilikan atas sejumlah modal dalam suatu perseroan terbatas. Demikian yang dirumuskan dalam Pasal 51 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 0 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya UUPT). Dengan demikian modal berbicara tentang sesuatu yang abstrak yang lebih merupakan wujud kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang pendiri atau pemegang saham sebagai suatu bentuk prestasi yang harus dilaksanakan berdasarkan perjanjian pen dirian perseroan terbatas. Sedangkan saham merefleksikan sesuatu hak yang merupakan ben da yang dapat dikuasai dengan hak milik, yang memiliki wujud konkrit, yang dapat dilihat dan dikuasai secara fisik oleh setiap pemegang saham dalam suatu perseroan terbatas. Saham sebagai suatu hak yang merupakan benda yang dapat dikuasai dengan hak milik juga dapat ditemukan dasarnya pada ketentuan umum yang diatur dalam KUH Pe rdata Pasal 511 angka (4).4 Oleh karena itu saham sebagai benda bergerak dijadikan seb agai 1

jaminan hutang dengan gadai atau jaminan fidusia sebagai lembaga jaminannya. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 60 UU PT.5 Saham adalah benda bergerak dan karena itu dapat digadaikan. Saham sebagai suatu hak yang merupakan benda yang dapat dikuasai dengan hak milik. Sero-sero atau andil-andil itu terdapat dalam persekutuan perdagangan uan g, persekutuan dagang atau persekutuan perusahaan. Sekalipun persekutuan dan perusa haan yang bersangkutan itu merupakan kebendaan tidak bergerak, namun sero-sero atau a ndilandil itu dianggap merupakan kebendaan bergerak, akan tetapi hanya terhadap para pesertanya selama persekutuan berjalan, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 511 a ngka (4) KUH Perdata. Untuk itu perlu ketegasan tentang saham sebagai benda bergerak yang pada akhirny a memberi ketegasan tentang lembaga jaminan yang dapat dibebankan atas saham terse but. Ketentuan mengenai saham sebagai benda yang dapat dimiliki dipertegas kembali da lam rumusan Pasal 60 UU PT. Bahwa kepemilikan atas saham sebagai benda bergerak memberikan hak kebendaan kepada pemegangnya yang dapat dipertahankan terhadap se tiap orang. Pemegang saham yang memiliki saham mempunyai hak kebendaan terhadap saham tersebut. Sebagai subjek hukum pemegang saham mempunyai hak dan kewajiban yang timbul atas saham tersebut. Selaku pemegang hak, pemegang saham berhak mempertahankan haknya terhadap setiap orang. Hak dan kewajiban pemegang saham baik terhadap per seroan maupun terhadap pemegang saham lainnya berada dalam hubungan perikatan, seagaima na diatur dalam undang-undang dan anggaran dasar perseroan. Dalam menjalankan kegiatan usaha yaitu antara lain untuk membeli aktiva, membeli bahan keperluan produksi, persedian kas maupun untuk pengembangan kegiatan usaha lainnya, perusahaan sebagai rechtperson memerlukan dana membiayai semua keperlua n tersebut di atas. Namun demikian adakalanya perusahaan tersebut tidak memiliki d ana yang cukup untuk menjalankan kegiatannya. Pemenuhan dana untuk dapat mencukupi kekurangan dana tersebut, sebagai modal perusahaan dapat diperoleh dari sumber intern perusahaan maupun ekstern perusaha an. Pemenuhan dana dari sumber intern diperoleh atau dihasilkan sendiri dalam perusa han, misalnya berasal dari dana yang berasal dari keuntungan yang tidak dibagikan ata u keuntungan yang ditahan dalam perusahaan (retained earnings) sedangkan dana dari sumber ekstern dapat diperoleh dari tambahan penyertaan modal pemilik perusahaan, melal

ui pasar modal dan dapat pula diperoleh dari pinjaman dari pihak ketiga atau kredit bank. 2

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa salah satu sumber dana adalah berasal dari pinjaman pihak ketiga, namun demikian untuk mendapatkan fasilitas kredit / hutang dari bank ataupun kreditor disyaratkan adanya suatu jaminan untuk keamanan dan kepast ian pengembalian hutang. Lembaga jaminan akan lebih memberikan kepastian hukum darip ada sekedar kepercayaan. Jaminan menjadi sangat berarti apabila dikemudian hari debi tur benarbenar cedera janji. Dalam hal ini, kreditor menjadi pasti kedudukannya terhadap debitur karena sudah ada jaminan. Jaminan memberikan fungsi antara lain membuka hak dan kekuasaan kep ada pemberi kredit untuk mendapatkan pelunasan dengan barang jaminan itu, bila debit or melalaikan kewajibannya, disamping itu juga mendorong debitor agar benar-benar menjalankan usahanya dengan sebaik-baiknya. Selain itu jaminan juga berfungsi un tuk memperlancar pemberian kredit. 1.2 Rumusan Masalah 1. bagaimana penerapan hak dan kewajiban pemegang saham dalam jaminan kredit? 2. Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum terhadap kreditor pemegang gadai dalam pelaksanaan pengikatan saham perseroan terbatas yang belum dicetak? 3

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Penerapan Hak dan Kewajiban Pemegang Saham dalam Jaminan Kredit Sebagai subjek hukum pemegang saham mempunyai hak dan kewajiban yang timbul atas saham tersebut. Selaku pemegang hak, pemegang saham berhak mempertahankan haknya terhadap setiap orang. Hak dan kewajiban pemegang saham baik terhadap per seroan maupun terhadap pemegang saham lainnya berada dalam hubungan perikatan, seagaima na diatur dalam undang-undang dan anggaran dasar perseroan. Gadai merupakan jaminan yang oleh undang-undang kepada pemegang gadai diberikan kewenangan dan keistimewaan yaitu hak yang didahulukan pelunasannya ba rang tersebut daripada orang-orang yang berpiutang lainnya sebagaimana ditegaskan dal am Pasal 1150 KUH Perdata. Gadai (Pand) merupakan lembaga jaminan kebendaan bagi benda bergerak yang diatur dalam KUH Perdata. Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang kreditur atas suatu benda bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh debitur atau oleh orang lai n atas namanya dan memberikan kekuasaan kepada kreditur lainnya, dengan kekecualian unt uk mendahulukan biaya lelang, biaya penyelamatan benda setelah digadaikan. Adapun yang menjadi objek jaminan gadai adalah benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Benda yang tidak berwujud yang dapat menjadi jam inan antara lain adalah surat-surat berharga, saham-saham, obligasi, sertifikat Bank Indonesia, surat berharga pasar uang, hak tagih. Digunakannya saham sebagai jaminan kredit, maka selama debitur belum melunasi hutangnya, saham tersebut berada dalam kekuasaan k reditur, namun segala hak yang timbul dari pemilikan saham tersebut tetap berada pada deb itur sebagai pemilik saham. Hal ini disebabkan oleh karena sifat penyerahan saham tersebut adalah hanya tert uju pada jaminan sebagai pelunasan hutang apabila debitur ternyata tidak dapat melun asi hutangnya tepat pada saat yang telah diperjanjikan untuk itu. Perkembangan industri dan perdagangan dewasa ini juga berakibat secara langsung terhadap perkembangan lembaga jaminan gadai itu sendiri, yang salah satu perkemb angan tersebut adalah timbulnya praktik gadai saham. Praktik gadai saham timbul sebaga i suatu bentuk jaminan kredit yang diberikan debitur kepada kreditur, karena dalam hal p emberian 4

kredit maka perihal keberadaan jaminan sangat utama dalam hal seorang debitur mendapatkan pinjaman uang/kredit. Perjanjian gadai saham merupakan faktor kunci dalam proses penyaluran kredit ke dunia usaha. Apabila debitur gagal8 membayar kredit (failure debtor), maka perja njian tersebut adalah pelindung bagi bank bila di kemudian hari akan menjual kembali b agian saham yang dijaminkan itu. Ketika sebuah bank memutuskan memberi kredit kepada nasabahnya, maka sudah sewajarnya bagi bank tersebut meminta jaminan atau kolateral. Kolateral itu akan menjadi benteng terakhir pertahanan bank, apalagi setelah dihapuskannya fasilitas likuid itas bank Indonesia. Kualitas kolateral itu pulalah yang menentukan apakah bank dapat memp eroleh kembali dana yang disalurkan bila debitur tersebut dikemudian hari ternyata gaga l melakukan pembayaran kembali hutangnya. Suatu prinsip yang berlaku dalam hukum jaminan ada lah kreditur tidak dapat meminta suatu janji agar memiliki benda yang dijaminkan unt uk pelunasan hutang debitur kepada kreditur. Ratio dari ketentuan ini adalah untuk mencegah terjadinya ketidakadilan yang aka n terjadi jika kreditur memiliki benda jaminan yang nilainya lebih besar dari juml ah hutang debitur kepada kreditur. Karena itu benda jaminan tersebut harus dijual dan kred itur berhak mengambil uang hasil penjualan tersebut sebagai pelunasan piutangnya. Apabila ma sih ada kelebihan, maka sisa hasil penjualan tersebut harus dikembalikan kepada debitur. Dalam praktiknya, kreditur berupaya menghindari larangan ini dengan membuat perjanjian jual beli dengan hak membeli kembali untuk menyelubungi perjanjian hu ta