makalah hadist

of 21 /21
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejak wafatnya Rasulullah SAW persoalan ilmiah yang dihadapi para sahabat adalah persoalan kodifikasi Alquran dalam satu mushhaf. Disamping berbagai persoalan yang ikut menyemarakkan kehidupan umat Islam pada waktu itu. Pada generasi di masa tabi’in, kondifikasi Alquran semuanya disandarkan pada diri Rasulullah SAW yaitu berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir-nya yang disebut Hadis. Ilmu hadis mencakup dua obyek kajian pokok, yaitu Ilmu Hadits Riwayat dan Ilmu Hadits Diroyah. Yang dimaksud Ilmu Hadits Diroyah adalah “kumpulan kaidah dan masalah yang dapat digunakan untuk mengetahui keadaan periwayat dan yang diriwayatkan, dipandang dari segi diterima atau ditolaknya”. Faedah mempelajari Ilmu Hadits Diroyah adalah mengetahui yang diterima dari yang ditolak, satu hal yang wajar bila sebagian hadis memenuhi syarat-syarat qobul secara maksimal di samping ada sebagian yang tidak memenuhi keseluruhannya atau sebagiannya saja. Kadang-kadang syarat qobul dapat dipenuhi secara sempurna oleh sebagian hadis, akan tetapi sebagian perowinya tidak berada pada tingkat yang tinggi dalam hal hafalan, kedhabitan dan keteguhan. Kedhabitan mereka berada di bawah tingkat kedhabit an para perawi hadis shohih. Mereka itulah para perawi hadis hadis hasan yang berada pada posisi tengah antara shohih dan dho’if namun hadis mereka tetap diterima dan diamalkan. Orang yang mula-mula memperkenalkan pembagian hadis kepada

Embed Size (px)

description

makalah hadist

Transcript of makalah hadist

Page 1: makalah hadist

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sejak wafatnya Rasulullah SAW persoalan ilmiah yang dihadapi para sahabat adalah

persoalan kodifikasi Alquran dalam satu mushhaf. Disamping berbagai persoalan yang ikut

menyemarakkan kehidupan umat Islam pada waktu itu. Pada generasi di masa tabi’in,

kondifikasi Alquran semuanya disandarkan pada diri Rasulullah SAW yaitu berupa

perkataan, perbuatan, dan taqrir-nya yang disebut Hadis.

Ilmu hadis mencakup dua obyek kajian pokok, yaitu Ilmu Hadits Riwayat dan Ilmu

Hadits Diroyah. Yang dimaksud Ilmu Hadits Diroyah adalah “kumpulan kaidah dan masalah

yang dapat digunakan untuk mengetahui keadaan periwayat dan yang diriwayatkan,

dipandang dari segi diterima atau ditolaknya”. Faedah mempelajari Ilmu Hadits Diroyah

adalah mengetahui yang diterima dari yang ditolak, satu hal yang wajar bila sebagian hadis

memenuhi syarat-syarat qobul secara maksimal di samping ada sebagian yang tidak

memenuhi keseluruhannya atau sebagiannya saja.

Kadang-kadang syarat qobul dapat dipenuhi secara sempurna oleh sebagian hadis, akan

tetapi sebagian perowinya tidak berada pada tingkat yang tinggi dalam hal hafalan,

kedhabitan dan keteguhan. Kedhabitan mereka berada di bawah tingkat kedhabitan para

perawi hadis shohih. Mereka itulah para perawi hadis hadis hasan yang berada pada posisi

tengah antara shohih dan dho’if  namun hadis mereka tetap diterima dan diamalkan. Orang

yang mula-mula memperkenalkan pembagian hadis kepada shohih, hasan, dan dho’if adalah

imam at-Turmudziy. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang Imam

at-Turmudziy dan peranannya dalam pembukuan Hadis Hasan.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka permasalahan makalah ini dapat

dirumuskan sebagai berikut :

a.    Pengertian Hadis Hasan

b.   Sejarah dan biografi Imam Turmudzi

c.    Peranan Imam Turmudzi dalam pembukuan Hadis hasan

Page 2: makalah hadist

C.    Tujuan Masalah

Merujuk pada rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai melalui

makalah ini adalah :

a.   Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang pengertian Hadis Hasan

b.   Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang biografi Imam Turmudzi dan sejarah hidupnya

c.   Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang peranan Imam Turmudzi dalam pembukuan

Hadis Hasan

D.    Manfaat dan kegunaan Masalah

Dari latar belakang, rumusan dan tujuan masalah maka kami dapat mengambil manfaat

dan kegunaan sebagai berikut :

a.    Menambah wawasan tentang asal mula hadis hasan beserta biografi Imam Turmudzi

b.    Menambah wawasan tentang sejarah hidup Imam Turmudzi

c.    Menambah wawasan tentang peranan Imam Turmudzi dalam pembukuan hadis hasan

Page 3: makalah hadist

BAB II

PENGERTIAN HADIS HASAN DAN SEJARAH IMAM TURMUDZI

A.    Pengertian Hadis Hasan

Hasan menurut bahasa berarti :

اليه تميل و النفس تشتهيه ما

Artinya : sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu, ada yang mengatakan hasan

adalah sifat musyabbah yang berarti al-Jamal, yaitu indah dan bagus Sedangkan Hasan

menurut istilah, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikannya. Perbedaan pendapat

ini disebabkan karena ada sebagian yang menggolongkan hadis hasan sebagai hadis yang

menduduki posisi di antara hadis shohih dan hadis dho’if , tetapi ada juga yang

memasukkannya sebagai bagian dari hadis dho’if  yang dapat dijadikan hujjah Namun yang

lebih kuat sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam an-Nukhbah,

yaitu khabar ahad yang diriwayatkan oleh orang yang adil, sempurna kedhabithannya,

bersambung sanadnya, tidak ber’illat, dan tidak ada syadz,dinamakan shohih lidzatih, jika

kurang sedikit kedhabithannya disebut hasan lidzatih Menurut Khatabi Hadits Hasan adalah

hadits yang makhrojnya (sumber-sumber) diketahui dan rijalnya (perawi) masyhur, ia

merupakan pokok dari hadits-hadits, ia juga diterima dikalangan para ulama’ serta banyak

digunakan oleh para ahli fiqh”.

Dengan kata lain Hadis hasan ialah hadis yang sanadnya bersambung oleh penukil

yang adil namun tidak terlalu kuat ingatannya dan terhindar dari keganjilan serta penyakit.

Untuk menghilangkan keraguan antara hadis shohih dan hasan yang paling penting adalah

batasan bahwa keadilan pada hadis hasan disandang oleh orang yang tidak begitu kuat

ingatannya, sedang pada hadis shohih melekat pada rawi yang benar-benar kuat ingatannya.

Tetapi keduanya bebas dari keganjilan dan penyakit keduanya bisa digunakkan sebagai

hujjah dan kandungannya dapat dijadikan penguat.

Kriteria hadis hasan hampir sama dengan kriteria hadis shohih. Perbedaannya hanya

terletak pada sisi kedhabithannya. Hadis shohih kedhabithan seluruh perawinya harus tamm

(sempurna), sedang dalam hadis hasan kurang sedikit kedhabithannya jika dibandingkan

dengan hadis shohih. Tetapi jika dibandingkan dengan kedhabithan perawi hadis dho’if tentu

belum seimbang, hadis hasan lebih unggul. Menurut perkataan Syaikh Islam Tirmidzi telah

membedakan antara hadis Shohih dan hadis Hasan dalam dua hal, yaitu

1.    Bahwa derajat perawi hadis hasan haruslah berada dibawah derajat perawi hadits

Shohih.tetapi pada perawi hasan lidzatihi tidak boleh tertuduh atas kebohongan, mastur,

Page 4: makalah hadist

majhul dll, dan perawi Shohih haruslah seorang terpercaya (tsiqoh) dan perawi hasan

lidzatihi harus mempunyai sifat Dzobd (tepat) tetapi itu saja tidak cukup harus tidak

tertuduh atas kebohongan.

2.  Jalur perawi tidak hanya satu, seperti halnya yang diungkapkan oleh Tirmidzi dalam

masalah ‘ilal dalam bukunya.

Naiknya hadits hasan ke derajat shohih bila suatu hadis hasan diriwayatkan dari

jalur lain, maka ia menjadi kuat dan naik dari derajat hasan menuju derajat shohih.

Karena perawi hadits hasan berada di bawah derajat perawi yang sempurna hafalannya,

namun tetap berstatus adil. Sisi kekurangan daya hafal yang dikhawatirkan telah sirna

dengan adanya jalur lain atau jalur-jalur lain yang menyumbat kekurangan itu dan naik

dari hasan ke shohih

Hadis shohih memiliki beberapa tingkat, para ulama telah berusaha untuk menjelaskan

Ashahhul Asanid. Demikian pula dengan hadits hasan. Imam adz-Dzahaby

mengatakan :”tingkat hasan tertinggi adalah riwayat Bahz ibn Hukaim dari ayahnya dari

kakeknya, Amr ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Ibn Ishaq dari at-Taimiy dan sanad

sejenis yang menurut sebagian ulama dikatakan sebagai sanad shohih, yakni menurupakan

derajat shohih terendah. Kemudian sanad yang diperselisihkan antara hasan dan dho’ifnya,

seperti riwayat al-Harits ibn Abdillah, ‘Ashim ibn Dhamrah, Hajjaj ibn Arthat dan lain-

lainnya”

B.     Sejarah Imam Turmudzi

1.    Biografi Imam Turmudzi

Abu Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin adh-Dhahhak as-

Sullami at-Turmudzi lebih dikenal dengan sebutan Abu Isa. Dalam karyanya al-Jami’

as-Sahih ia sering menggunakan nama tersebut untuk menyebut dirinya sendiri. Nama

Abu Isa yang dipakai oleh at-Turmudzi tidak disepakati sebagian ulama karena bagi

mereka Isa adalah sosok nabi yang tidak memiliki orang tua, secara maknawi dinilai

salah kalau ada orang menyebut dirinya sebagai Abu Isa. Imam Turmudzi adalah

seorang muhaddits yang dilahirkan di kota Turmudz sebuah kota kecil di pinggir Utara

Sungai Amuderiya, sebelah Utara Iran. Ia pernah belajar hadits dari Imam Bukhari. Ia

menyusun kitab Sunan at Turmudzi dan al ‘Ilal. Ia mengatakan bahwa dia sudah pernah

menunjukkan kitab Sunannya kepada ulama ulama Hijaz, Irak dan Khurasan dan

mereka semuanya setuju dengan isi kitab itu. Karyanya yang terkenal yaitu Kitab al-

Jami’ ( Jami’ At-Tirmizi) . Ia juga tergolong salah satu "Kutubus Sittah" (Enam Kitab

Page 5: makalah hadist

Pokok Bidang Hadits) dan ensiklopedia hadis terkenal. Al Hakim mengatakan "Saya

pernah mendengar Umar bin Alak mengomentari pribadi at Turmudzi sebagai berikut;

kematian Imam Bukhari tidak meninggalkan muridnya yang lebih pandai di Khurasan

selain daripada Abu Isa at Turmudzi dalam hal luas ilmunya dan hafalannya"

Imam Turmudzi dilahirkan pada bulan Dzulhijjah tahun 209 H (824 M) dan

wafat di Turmudz pada akhir Rajab tahun 279 H (892 M). Imam Bukhary dan Imam

Turmudzi adalah satu daerah sebab Bukhara dan Turmudz itu berada dalam satu daerah

yaitu Waraun-Nahar. Beliau mengambil hadis dari ulama hadis yang ternama, seperti

Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Musa, al-Bukhary dan lain-lainnya. Salah satu murid

Turmudzi adalah Muhammad bin Ahmad bin Mahbub.. Kakek Abu ‘Isa at-Tirmizi

berkebangsaan Mirwaz, kemudian pindah ke Tirmiz dan menetap di sana. Di kota

inilah cucunya bernama Abu ‘Isa dilahirkan. Semenjak kecilnya Abu ‘Isa sudah gemar

mempelajari ilmu dan mencari hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke

berbagai negeri Hijaz, Irak, Khurasan dan lain-lain. Dalam perlawatannya itu ia banyak

mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru hadits untuk mendengar hadits yang

kembali dihafal dan dicatatnya dengan baik di perjalanan atau ketika tiba di suatu

tempat. Ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang digunakannya dengan

seorang guru dalam perjalanan menuju Makkah .

2.    Pandangan para kritikus Hadis

Abu ‘Isa at-Turmudzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadis,

kesalehan dan ketakwaannya. Ia terkenal pula sebagai seorang yang dapat dipercaya,

amanah dan sangat teliti. Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan

mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibn

Hibban, kritikus hadis, menggolongkan Turmudzi ke dalam kelompok "Tsiqat" atau

orang-orang yang dapat dipercayai dan kokoh hafalannya, dan berkata: "Turmudzi

adalah salah seorang ulama yang mengumpulkan hadis, menyusun kitab, menghafal

hadis dan bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama." Abu Ya’la al-Khalili dalam

kitabnya ‘Ulumul Hadits menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Turmudzi adalah

seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia

memiliki kitab Sunan dan kitab al-Jarh wat-Ta’dil. Beberapa hadis yang diriwayatkan

oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat

dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas.

Kitabnya al-Jami’us Sahih sebagai bukti atas keagungan derajatnya, keluasan

Page 6: makalah hadist

hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadits yang sangat

mendalam.

Imam Turmudzi yang dilahirkan pada tahun 209 H dan wafat pada tahun 279 H

memiliki cacat fisik bawaan, yaitu tuna netra. Penyunting kitab Sunan at-Turmudzi

Ahmad Muhammad Syakir menambahkan bahwa sebutan adh-Dharir kepada Turmudzi

dikarenakan kondisinya yang buta di masa tua. Mengikuti penuturan Umar bin ‘Allak

at-Turmudzi tidaklah buta sejak dilahirkan , melainkan mengalami kebutaan setelah

mengadakan lawatan ke berbagai negeri untuk menghimpun  beberapa hadis Rasulullah

saw dan menyusun al-Jami’ as-Shohih pendapat umar didukung oleh jumhur ulama.

3.    Karya Imam Turmudzi

Sebagai pecinta hadis, at-Turmudzi mencurahkan seluruh hidupnya untuk

menghimpun dan meneliti hadis. Kualitas ilmu Turmudzi juga tercermin dari

banyaknya karya yang dihasilkan terutama di bidang hadis dikukuhkan dengan

sejumlah karya yang menghimpun dan mengupas tentang pribadi Rasulullah saw dari

berbagai sisi, berikut daftar beberapa karya Turmudzi.

a. Kitab al-Jami’ as-Shohih, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi

b. Kitab al-‘Ilal

c. Kitab at-Tarikh

d. Kitab asy-Syama’il an-Nabawiyyah

e. Kitab az-Zuhd

f. Kitab al-Asma’ wal-Kuna

Karyanya yang mashyur yaitu Kitab al-Jami’ ( Jami’ At-Tirmizi) . Ia juga

tergolong salah satu "Kutubus Sittah" (Enam Kitab Pokok Bidang Hadits) dan

ensiklopedia hadis terkenal. Sekilas tentang al-Jami’, Al-Jami’ ini terkenal dengan

nama Jami’ Turmudzi, dinisbatkan kepada penulisnya, yang juga terkenal dengan nama

Sunan Turmudzi. Namun nama pertamalah yang popular. Sebagian ulama tidak

berkeberatan menyandangkan gelar as-Shahih kepadanya, sehingga mereka

menamakannya dengan Shahih Turmudzi. Setelah selesai menyusun kitab ini, Turmudzi

memperlihatkan kitabnya kepada para ulama dan mereka senang dan menerimanya

dengan baik. Ia menerangkan: "Setelah selesai menyusun kitab ini, aku perlihatkan

Page 7: makalah hadist

kitab tersebut kepada ulama-ulama Hijaz, Irak dan Khurasan, dan mereka semuanya

meridhainya, seolah-olah di rumah tersebut ada Nabi yang selalu berbicara."

Sunan at-Turmudzi ditulis pada abad ke-3H. abad ini termaksud periode

penyempurnaan dan pemilahan hadis, maksudnya pada masa inilah berlangsung usaha

gencar-gencaran untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang belum terpecahkan di

masa sebelumnya, seperti kasus persambungan sanad dan kritik matan. Pemisahan

antara hadis Rasulullah saw dan fatwa sahabat juga digalakkan pada periode ini.

Sehingga melahirkan kitab-kitab hadis dengan corak baru, seperti kitab Shohih yang

hanya mencantumkan hadis sahih dan kitab sunan yang berikhtiar merekam seluruh

hadis kecuali hadis-hadis yang bernilai sangat dho’if dan munkar. Imam Turmudzi di

dalam al-Jami’ tidak hanya meriwayatkan hadis shohih semata, tetapi juga

meriwayatkan beberapa hadis hasan, dho’if, ghorib dan mu’allal dengan menerangkan

kelemahannya. Metode demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh

karenanya, ia meriwayatkan semua hadis yang memiliki nilai demikian, baik jalan

periwayatannya itu sahih ataupun tidak sahih. Hanya saja ia selalu memberikan

penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadits.

Page 8: makalah hadist

BAB III

PERANAN IMAM TURMUDZI DALAM PEMBUKUAN HADIS HASAN

A. Peranan Imam Turmudzi

Ketika berbicara mengenai sejarah pengklasifikasian kualitas hadits

kebanyakan dari para ahli hadits muta’akhirin di dalam kitab-kitab ilmu hadits

karangan mereka berpendapat bahwa sebelum masa Imam Abu Isa At-Turmudzi (w.

279 H), istilah hadits Hasan sebagai salah satu bagian dari pengklasifikasian kualitas

hadis belum dikenal di kalangan para ulama ahli hadis. Pada masa itu hadis hanya

diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu hadits shohih dan hadits dho’if. Adapun

setelah masa beliau terjadi perkembangan dalam pengklasifikasian hadis. Pada masa

ini, hadits bila ditinjau dari segi kualitasnya diklasifikasikan menjadi tiga macam,

yaitu hadits sahih, hadits Hasan, dan hadits daif. Dan beliaulah yang pertama kali

memperkenalkan hal itu. Pendapat ini disandarkan kepada pendirian Imam

Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah

 Dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah berkata:“Orang yang pertama kali

memperkenalkan bahwa hadits terbagi atas pembagian ini (sahih, Hasan, dan daif)

adalah Abu Isa at-Turmudzi dan pembagian ini tidak dikenal dari seorang pun pada

masa-masa sebelumnya. Adapun sebelum masa at-Turmudzi, di kalangan ulama

hadis pembagian tiga kualitas hadis ini tidak dikenal oleh mereka, mereka hanya

membagi hadis itu menjadi sahih dan daif.”pendapat Ibn Taimiyah tersebut telah

dikritik oleh ulama. Alasannya, istilah hasan telah dikenal sebelum zaman at-

Turmudzi. Kritik tersebut tidak kuat sebab yang dimaksud oleh Ibn Taimiyah

tampaknya bukan tentang mulai dikenalnya istilah hasan, melainkan tentang

digunakannya istilah tersebut sebagai istilah yang baku bagi salah satu kualitas

hadis.

Menurut Imam Ibnu Taimiyyah hadits daif pada masa sebelum Imam at-

Turmudzi itu terbagi menjadi dua macam ;

1.    Hadits dho’if dengan kedho’ifan yang tidak terhalang untuk mengamalkannya

dan dho’if ini menyerupai Hasan dalam istilah At-Turmudzi

Page 9: makalah hadist

2.    Hadits dho’if dengan kedho’ifan yang wajib ditinggalkan (tidak boleh

diamalkan). Karena itu pada masa sebelum Imam at-Turmudzi, hadits Hasan

dikategorikan ke dalam hadits dho’if, namun dengan kedho’ifan yang tidak terlalu

parah hingga layak untuk diamalkan.

Itulah sebabnya di kalangan para ulama ada yang berpendapat bahwa hadits

dho’if boleh diamalkan pada hal-hal yang tidak bersifat esensial, di antaranya seperti

shiroh, tarikh, fadha’ilul‘amal dan mengamalkan hadits itu lebih mereka sukai

daripada pendapat seseorang (ra’yu). Menurut Imam Ibnu Taimiyyah hadits Hasan

yang dimaksudkan oleh para ulama tersebut adalah hadis yang menempati derajat

hasan pada istilah at-Turmudzi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa istilah

hasan hanya tertuju untuk kualitas hadis dan kualitas sanad, serta tidak untuk kualitas

matan secara sendirian.

Adapun posisi Imam at-Turmudzi dalam hal ini hanya sebagai orang yang

memasyarakatkan istilah ini dengan cara banyak sekali memuat hadis-hadis yang

berderajat Hasan pada kitabnya yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan at-

Turmudzi, bukan sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan istilah tersebut.

Karena itu Imam an-Nawasi berkata: “Kitab hadis at-Turmudzi merupakan sumber

pokok dalam mengenal hadits Hasan dan beliaulah yang memasyarakatkannya

(istilah ini)”. Dalam menggunakan istilah Hasan ini Imam At-Tirmidzi mengikuti apa

yang dilakukan oleh gurunya yaitu Muhammad Ismail Al-Bukhari dan Ali bin Al-

Madini (guru Imam Al-Bukhari) guna memisahkan pengelompokkan hadits Hasan ke

dalam hadits sahih oleh sebagian para ulama menurut Ibnu Shalah, pengelompokan

ini semata-mata ditinjau dari segi kebolehan hadits Hasan untuk dijadikan hujjah.

B. Bukti-bukti penggunaan istilah Hasan sebelum masa Imam at-Turmudzi

Berdasarkan penelitian ditemukan beberapa contoh istilah Hasan yang

dipergunakan oleh para ulama sebelum Imam at-Turmudzi ketika menerangkan

kedudukan sebuah hadis. Di bawah ini disebutkan beberapa di antaranya:

1. Imam As-Syari’i (w. 204 H) ketika menerangkan hadits ru’yah yang

diriwayatkan oleh Ibnu Umar dalam kitabnya Ikhtilaf Al-Hadits. Ia berkata:

“Hadits Ibnu Umar musnad (bersambung dari awal sanad hingga akhir),

sanadnya Hasan”

Masih dalam kitab yang sama pada kasus yang berbeda, ditemukan perkataan

beliau:

Page 10: makalah hadist

“Aku mendengar ada orang yang meriwayatkan dengan sanad yang Hasan,

sesungguhnya Abu Bakrah memberitahu kepada Nabi SAW. bahwa ia ruku’

tidak pada shaf.

2. Dalam kitab Majma Az-Zawaid pada bab al-Imamah tertulis,

“Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, hendaklah orang

yang lebih fasih bacaan Alqurannya dalam suatu kaum.” H.R. Al Bazzar. Pada

sanadnya terdapat rawi yang bernama al-Hasan bin Ali an-Naufali al-Hasyimi,

dia itu dho’if. Sungguh al-Bazzar(w. 292 H) menganggap haditsnya Hasan.

3. Pada hadis mengenai perintah Rasulullah SAW. tentang menyela-nyelai jari

tangan dan kaki pada waktu berwudu, pengarang Tuhfah Al-Muhtaaj berkata:

“Dia(at-Turmudzi berkata pada (kitab) al-‘Ilahnya, aku bertanya kepada al-

Bukhari (w. 256 H) tentang hadits, ini ia berkata, hadis ini Hasan.

4. Pada sebagian penjelasan Imam as-Syaukani pada hadis tentang waktu salat

maghrib ia berkata:

“at-Turmudzi berkata pada kitab al-‘Ilal, hadis itu dianggap Hasan oleh al-

Bukhari”,

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, kami berkesimpulan bahwa

pemakaian istilah Hasan dalam mengklasifikasikan suatu hadis berdasarkan

kualitasnya, sudah dilakukan oleh beberapa guru Imam at-Turmudzi dan generasi

sebelumnya walaupun tidak memasyarakat. Dengan demikian terbantahlah pendapat

Imam Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa Imam at-Tirmidzi sebagai orang

pertama yang memperkenalkan istilah hadis Hasan.

Page 11: makalah hadist

BAB IV

A.    Kesimpulan

1.    Hadis hasan ialah hadis yang sanadnya bersambung oleh penukil yang adil namun tidak

terlalu kuat ingatannya dan terhindar dari keganjilan serta penyakit. Untuk

menghilangkan keraguan antara hadis shohih dan hasan yang paling penting adalah

batasan bahwa keadilan pada hadis hasan disandang oleh orang yang tidak begitu kuat

ingatannya, sedang pada hadis shohih melekat pada rawi yang benar-benar kuat

ingatannya.

2.    Imam Turmudzi adalah seorang muhaddits yang dilahirkan di kota Turmudz sebuah kota

kecil di pinggir Utara Sungai Amuderiya, sebelah Utara Iran. Ia pernah belajar hadits dari

Imam Bukhari. Ia menyusun kitab Sunan at Turmudzi dan al-‘Ilal. Imam Turmudzi

adalah orang yang pertama kali memperkenalkan bahwa hadits terbagi atas Shohih,

Hasan, Dho’if.

3.   Posisi Imam at-Turmudzi dalam hal ini hanya sebagai orang yang memasyarakatkan

istilah ini dengan cara banyak sekali memuat hadis-hadis yang berderajat Hasan pada

kitabnya yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan at-Turmudzi, bukan sebagai orang

yang pertama kali memperkenalkan istilah tersebut.

4.   Penggunaan istilah Hasan ini Imam at-Tirmidzi mengikuti apa yang dilakukan oleh

gurunya yaitu Muhammad Ismail al-Bukhari dan Ali bin al-Madini (guru Imam al-

Bukhari) guna memisahkan pengelompokkan hadis Hasan ke dalam hadis shohih.

B.     Saran

Penulis mengharapkan agar makalah ini bermanfaat bagi seluruh pembacanya sebagai

bahan pertimbangan. Banyak sekali kekurangan dalam makalah ini diharapkan bagi pembaca

agar sering membaca buku yang berhubungan dengan makalah ini agar dapat digunakan

sebagai bahan perbandingan.

Page 12: makalah hadist

DAFTAR PUSTAKA

Mudasir, Ilmu Hadis, CV.Pustaka Setia Bandung:1999, hlm:151

DR.Mahmud Thahan ,Ilmu Hadist Praktis,Pustaka PTI Thariqul idzah

http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Tirmidzi

http://ryzqah.blog.friendster.com/2006/08/hadits-hasan-dalam-lintasan-sejarah

Page 13: makalah hadist

Makalah ulumul hadist

Kelompok 11

Permasalahan Hadist Hasan

DOSEN PEMBIMBING

DR.H Masnun M.Ag

Di susun oleh:

1. Rohmi fatmawati

2. mustika sari

STAI PUBLISistik thawalib JakartaKependidikan islam (ki)

2015

Page 14: makalah hadist

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah............................................................................................1

B.     Rumusan Masalah ....................................................................................................1

C.    Tujuan Masalah.........................................................................................................2

D.    Manfaat dan kegunaan Masalah ...............................................................................2

BAB II PENGERTIAN HADIS HASAN DAN SEJARAH IMAM TURMUDZI

A.    Pengertian Hadis Hasan.............................................................................................3

B.     Sejarah Imam Turmudzi...........................................................................................4

BAB III PERANAN IMAM TURMUDZI DALAM PEMBUKUAN HADIS HASAN

A. Peranan Imam Turmudzi........................................................................................... 8

B. Bukti-bukti penggunaan istilah Hasan sebelum masa Imam at-Turmudzi................9

BAB IV

A.    Kesimpulan................................................................................................................11

B. Saran..........................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................12