Makalah Geologi

download Makalah Geologi

of 21

  • date post

    16-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    69
  • download

    0

Embed Size (px)

description

lapindo

Transcript of Makalah Geologi

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 LATAR BELAKANG

    Puji syukur kepada Allah SWT karena ata izinNya lah kami sebagai

    pembuat makalah bias melaksanakan pembuatan makalah ini dengan maksud

    dan tujuan menyelesaikan tugas untuk pembuatan makalah mengenai mud /

    atau lumpur lapindo. Tragedi Lumpur Lapindo dimulai pada tanggal 27 Mei

    2006.Masih teringat oleh kita tentang terjadinya semburan lumpur yang di

    sebabkan oleh semakin melebarnya lubang sumur yang dibor oleh PT.

    Lapindo Brantas. Oleh karena itu sangat memungkinkan adanya kesalahan

    dalam penulisan makalah ini karena kami juga masih dalam tahap

    pembelajaran untuk membuat makalah dengan baik dan benar, karena itu kami

    selaku pembuat makalah memohon maaf apabila ada kesalahan kesalahan

    dalam pembuatan makalah ini. Jika ada hal positif ataupun kebenaran dalam

    makalah ini itu semua tidak lepas atas izin Allah SWT.

    1.2 TUJUAN

    Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengupas apakah

    penyebab lumpur lapindo yang sampai saat ini terus menyembur serta

    dampak dampak yang ada terhadap lingkungan dan juga masyarakat sekitar

    serta memberikan solusi terhadap masalah lumpur lapindo ini dan juga

    menurut pengamatan dari segi ilmu geologi sehingga dapat diketahui alasan

    yang logis untuk masaalah lumpur lapindo ini bagaimana sebenarnya sebab

    adanya semburan lumpur ini.

  • 2

    Gambar 1.2.1

    1.3 RUANG LINGKUP MATERI

    Ruang lingkup dari materi lumpur lapindo ini meliputi dari berbagai

    aspek, yaitu asapek sosial, aspek politik dan juga aspek ekonomi. Berdasarkan

    prinsip geologi semburan lumpur lapindo secara teori tidak mungkin ada jika

    tekanan di daerah semburan itu tidak tinggi dan juga formasi batuan yang

    berada di sumur tersebut mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi serta

    mempunyai porositas yang tidak terlalu besar dan juga permeabilitas yang

    tidak melebihi standar yang ada. Serta terdapat miss komunikasi antar sesama

    engineer dari berbagai bidang pengamatan dan juga teknisi pemboran. Serta

    kekurang akuratan data yang akhirnya menimbulkan kesalahan dalam

    memprediksi formasi batuan yang ada pada suatu sumur.

  • 3

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    PT Lapindo membor sumur yg di kemudian hari lubang pemboran tersebut

    menjadi jalan keluar lumpur Lapindo. Berarti lumpur keluar melalui lubang yg

    sama, kemudian semakin ke atas semakin melebar - mencari sendiri2 jalan keluar

    yg paling dekat/paling mudah dijangkau. Solusinya yaitu menutup kembali lubang

    tersebut, misalnya menggunakan semen cepat kering. masalahnya, "lubang

    pangkal" tersebut berada di dalam perut bumi 4-6 kilometer dari permukaan bumi.

    Jika masih memungkinkan menggunakan sumur yg sama ketika pengeboran untuk

    memasukkan cairan beton ke dalam lubang untuk menutup "lubang pangkal"

    tersebut. Masalah lain yaitu bagaimana memasukkan semen sambil melawan

    tekanan lumpur yg datang dari dalam tanah, dibutuhkan pompa yg sangat kuat

    sehingga mampu melawan pressure lumpur yg keluar sampai semen membeku -

    meskipun dengan resiko pompa akan rusak.

    Sebelumnya pernah dicoba menghentikan semburan lumpur dg

    menggunakan bola beton. Cara ini hanya menutup lubang di permukaan - padahal

    lubang yg seharusnya ditutup ada di dalam perut bumi, sehingga fluida akan

    mencari jalan keluar yg lain - apalagi bentuknya bulat sehingga meski ditutuppun

    masih terdapat rongga-rongga. Mungkin bola2 beton ini juga akan menghambat

    upaya memasukkan semen ke lubang pangkal.

  • 4

    Gambar 2.1

    Ilustrasi di atas sangat sederhana untuk dipelajari dan dipahami dan sudah

    jelas bagaimana sumur itu dihindarkan dari adanya blowout. Jadi hal yang terjadi

    pada keadaan di lapangan kemungkinan karena tidak melakukakan hal hal

    pencegahan blowout dan juga bias disebut blowout prevention system ( BOP

    system ). Bisa juga terjadi karena BOP system yang ada tidak memenuhi standard

    an ketenteuan ketentuan yang ada.

  • 5

    BAB III

    PEMBAHASAN

    Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki

    (2590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut

    akan dipasang selubung bor (casing ) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan

    kedalaman untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam

    formasi) dan kick (masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur) sebelum

    pengeboran menembus formasi Kujung.

    Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo sudah memasang casing 30

    inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16

    inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki (Lapindo Press Rilis

    ke wartawan, 15 Juni 2006). Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari

    kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka belum memasang casing 9-

    5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi

    Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki).

    Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan

    pemboran ini dengan membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka

    membuat prognosis dengan mengasumsikan zona pemboran mereka di zona

    Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka

    membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka

    merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping

    formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak

    meng-casing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama

    pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah

    berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpurnya

    Lapindo (Medici).

  • 6

    Gambar 3.1

    Underground Blowout (semburan liar bawah tanah)

    Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping.

    Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya

    menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-

    bolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi

    Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik)

    atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di

    permukaan.

    Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan

    berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit

    sehingga dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan,

    perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan

    lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan

    mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi

    sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di

    permukaan (surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan

    kondisi geologis tanah tidak stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami

    (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat

  • 7

    melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP

    sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan

    lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah

    mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan

    di sumur itu sendiri.

    Perlu diketahui bahwa untuk operasi sebuah kegiatan pemboran MIGAS di

    Indonesia setiap tindakan harus seijin BP MIGAS, semua dokumen terutama

    tentang pemasangan casing sudah disetujui oleh BP MIGAS.

    Dalam AAPG 2008 International Conference & Exhibition dilaksanakan

    di Cape Town International Conference Center, Afrika Selatan, tanggal 26-29

    Oktober 2008, merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh American

    Association of Petroleum Geologists (AAPG) dihadiri oleh ahli geologi seluruh

    dunia, menghasilan pendapat ahli: 3 (tiga) ahli dari Indonesia mendukung

    GEMPA YOGYA sebagai penyebab, 42 (empat puluh dua) suara ahli menyatakan

    PEMBORAN sebagai penyebab, 13 (tiga belas) suara ahli menyatakan

    KOMBINASI Gempa dan Pemboran sebagai penyebab, dan 16 (enam belas suara)

    ahli menyatakan belum bisa mengambil opini. Laporan audit Badan Pemeriksa

    Keuangan tertanggal 29 Mei 2007 juga menemukan kesalahan-kesalahan teknis

    dalam proses pemboran.

    Menurut data dari sumber yang ada korban dari lumpur lapindo adalah

    sekitar 1.200. Kejadian ini bisa dikategorikan sebagai musibah karena banyak

    terjadi semburan semburan yang lain yang lokasinya jauh dari lokasi

    pengeboran. Ini dibebabkan karena berbagai macam factor yaitu aktifnya kembali

    gunung lumpur yang berusia 150 200 tahun dan bukan aktifitas pengeboran.

    Aktifnya gunung lumpur disebabkan oleh seismic bumi. Selain itu, gempa bumi

    berkekuatan 4,4 pada skala Richter yang terjadi 9 Juli 2005 juga telah membantu

    pembukaan saluran lumpur. Tetapi dari pernyataan ilmuan Amerika dinyatakan

    bahwa 99 % dari musibah lumpur lapindo ini disebabkan oleh kesalahan oleh

    drilling engineer yang melakukan pengeboran sumur saat itu. Padahal jika diamati

    para teknisi pengeboran tidak mungkin melakukan pengeboran jika tidak

    mendapatkan instruksi dari orang orang yang sudah terpercaya dalam ilmu

    geologi. Jadi hasil penelitian penelitian yang ada itu sebenarnya tidak terlalu

  • 8

    valid untuk d nyatakan sangat benar. Sehingga menurut pendapat kami hal itu bisa

    disebut sebagai bencana alam. Hal ini juga mempengaruhi kondisi perekonomian

    rakyat dimana tanah tempat tinggal mereka tenggelam oleh lumpur lapindo yang

    sampai sekarang semburannya masih terus berlanjut sehingga sampai sekarang

    masyarakat yang menjadi korban bahkan belum mendapatkan ganti rugi atas apa

    yang terjadi terhadap tanah tempat tinggal mereka. Dan juga dari pihak PT.

    Lapindo Brantas tidak pernah bertindak tegas dalam pertanggung jawabannya

    terhadap masyarakat sekitar.

    Gambar 3.2

    Para ahli geologi juga telah melakukan survey lapangan dimana telah

    didapatkan data bahwa lumpur panas Sidoarjo berasal dari batuan gunung api

    dengan temperatur dan tekanan tinggi berumur sekitar 4,9 juta tahun dan

    diendapkan pada lingkungan laut. Semburan lumpur panas tersebut merupakan

    proses pembentukan mud vulcano, yang semburannya akan terus berjalan dan

    bertambah dan tidak akan berhenti dalam waktu singkat. Semburan itu akan terus

    berjalan karena di dalam lapisan bumi ada gunung lumpur yang bercampur

    dengan gas dan fluida. Dari data seismik diperoleh bahwa total volume lumpur

    secara keseluruhan diperkirakan sebesar 1.55 miliar m3 . Apa bila debit semburan

    lumpur diperkirakan sebesar 100.000 m3 per hari, maka semburan lumpur di

  • 9

    Sidoarjo akan berhenti setelah 31 tahun. Dan hal ini juga masih bergantung

    terhadap tekanan hidrostatik yang ada di daerah sekitar sumur.

    Berdasarkan pengujian toksikologis di 3 laboratorium terakreditasi

    (Sucofindo, Corelab dan Bogorlab) diperoleh kesimpulan ternyata lumpur

    Sidoarjo tidak termasuk limbah B3 baik untuk bahan anorganik seperti Arsen,

    Barium, Boron, Timbal, Raksa, Sianida Bebas dan sebagainya, maupun untuk

    untuk bahan organik seperti Trichlorophenol, Chlordane, Chlorobenzene,

    Chloroform dan sebagainya. Hasil pengujian menunjukkan semua parameter

    bahan kimia itu berada di bawah baku mutu.[1]

    Hasil pengujian LC50 terhadap larva udang windu (Penaeus monodon)

    maupun organisme akuatik lainnya (Daphnia carinata) menunjukkan bahwa

    lumpur tersebut tidak berbahaya dan tidak beracun bagi biota akuatik. LC50

    adalah pengujian konsentrasi bahan pencemar yang dapat menyebabkan 50 persen

    hewan uji mati. Hasil pengujian membuktikan lumpur tersebut memiliki nilai

    LC50 antara 56.623,93 sampai 70.631,75 ppm Suspended Particulate Phase (SPP)

    terhadap larva udang windu dan di atas 1.000.000 ppm SPP terhadap Daphnia

    carinata. Sementara berdasarkan standar EDP-BPPKA Pertamina, lumpur

    dikatakan beracun bila nilai LC50-nya sama atau kurang dari 30.000 mg/L SPP.

    Di beberapa negara, pengujian semacam ini memang diperlukan untuk

    membuang lumpur bekas pengeboran (used drilling mud) ke dalam laut. Jika nilai

    LC50 lebih besar dari 30.000 Mg/L SPP, lumpur dapat dibuang ke perairan.

    Namun Simpulan dari Wahana Lingkungan Hidup menunjukkan hasil

    berbeda, dari hasil penelitian Walhi dinyatakan bahwa secara umum pada area

    luberan lumpur dan sungai Porong telah tercemar oleh logam kadmium (Cd)

    dan timbal (Pb) yang cukup berbahaya bagi manusia apalagi kadarnya jauh di atas

    ambang batas. Dan perlu sangat diwaspadai bahwa ternyata lumpur Lapindo dan

    sedimen Sungai Porong kadar timbal-nya sangat besar yaitu mencapai 146 kali

    dari ambang batas yang telah ditentukan. (lihat: Logam Berat dan PAH

    Mengancam Korban Lapindo)

    Berdasarkan PP No 41 tahun 1999 dijelaskan bahwa ambang batas PAH

    yang diizinkan dalam lingkungan adalah 230 g/m3 atau setara dengan 0,23

    g/m3 atau setara dengan 0,23 g/kg. Maka dari hasil analisis di atas diketahui

  • 10

    bahwa seluruh titik pengambilan sampel lumpur Lapindo mengandung

    kadar Chrysene diatas ambang batas. Sedangkan untuk Benz(a)anthracene hanya

    terdeteksi di tiga titik yaitu titik 7,15 dan 20, yang kesemunya diatas ambang

    batas.

    Dengan fakta sedemikian rupa, yaitu kadar PAH

    (Chrysene dan Benz(a)anthracene) dalam lumpur Lapindo yang mencapai 2000

    kali diatas ambang batas bahkan ada yang lebih dari itu. Maka bahaya adanya

    kandungan PAH (Chrysene dan Benz(a)anthracene) tersebut telah mengancam

    keberadaan manusia dan lingkungan:

    Bioakumulasi dalam jaringan lemak manusia (dan hewan)

    Kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit jika kontak langsung dengan

    kulit

    Kanker

    Permasalahan reproduksi

    Membahayakan organ tubuh seperti liver, paru-paru, dan kulit

    Dampak PAH dalam lumpur Lapindo bagi manusia dan lingkungan

    mungkin tidak akan terlihat sekarang, melainkan nanti 5-10 tahun kedepan. Dan

    yang paling berbahaya adalah keberadaan PAH ini akan mengancam kehidupan

    anak cucu, khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar semburan lumpur

    Lapindo beserta ancaman terhadap kerusakan lingkungan. Namun sampai Mei

    2009 atau tiga tahun dari kejadian awal ternyata belum terdapat adanya korban

    sakit atau meninggal akibat lumpur tersebut.

  • 11

    Hasil analisa logam pada materi

    Tabel 3.1

    Tabel material yang terkandung dalam lumpur lapindo

    Parameter Satuan

    Kep.

    MenKes no

    907/2002

    Lumpur

    Lapindo

    Air

    Lumpur

    Lapindo

    Sedimen

    Sungai

    Porong

    Air

    Sungai

    Porong

    Kromium

    (Cr) mg/L 0,05 nd nd nd nd

    Kadmium

    (Cd) mg/L 0,003 0,3063 0,0314 0,2571 0,0271

    Tembaga

    (Cu) mg/L 1 0,4379 0,008 0,4919 0,0144

    Timbal (Pb) mg/L 0,05 7,2876 0,8776 3,1018 0,6949

  • 12

    Tabel 3.2

    Tabel hasil pengujian terhadap lumpur lapindo

    Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat

    sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT

    Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk

    mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun.

    Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Semula hanya menggenangi

    empat desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat dievakuasinya

    warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian. Luapan

    lumpur ini juga menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong.

    Hingga bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah

    desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total

    Beberapa hasil pengujian

    Parameter Hasil uji maks Baku Mutu

    (PP Nomor 18/1999)

    Arsen 0,045 Mg/L 5 Mg/L

    Barium 1,066 Mg/L 100 Mg/L

    Boron 5,097 Mg/L 500 Mg/L

    Timbal 0,05 Mg/L 5 Mg/L

    Raksa 0,004 Mg/L 0,2 Mg/L

    Sianida Bebas 0,02 Mg/L 20 Mg/L

    Trichlorophenol 0,017 Mg/L 2 Mg/L (2,4,6 Trichlorophenol)

    400 Mg/L (2,4,4 Trichlorophenol)

  • 13

    warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan tak 25.000 jiwa

    mengungsi. Karena tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77

    unit rumah ibadah terendam lumpur.

    Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006

    antara lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan

    Kedungcangkring; lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo,

    Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605

    ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang.

    Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi

    dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang

    terkena dampak lumpur ini.

    Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam

    tak bekerja.

    Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong,

    serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)

    Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak

    1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480,

    Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah

    negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid

    dan musala 15 unit.

    Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal

    persawahan

    Pihak Lapindo melalui Imam P. Agustino, Gene-ral Manager PT Lapindo

    Brantas, mengaku telah menyisihkan US$ 70 juta (sekitar Rp 665 miliar)

    untuk dana darurat penanggulangan lumpur.

    Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air

    milik PDAM Surabaya patah [2]

    .

    Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan

    lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam [3]

    .

    Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak

    ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu

    melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong.

    Tak kurang 600 hektar lahan terendam.

  • 14

    Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di

    empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.

    Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur

    transportasi Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di

    bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di

    kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu

    kawasan industri utama di Jawa Timur.

    Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur,

    diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur.

    Namun demikian, lumpur terus menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-

    waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam tergenanginya lumpur pada

    permukiman di dekat tanggul. Jika dalam tiga bulan bencana tidak tertangani,

    adalah membuat waduk dengan beton pada lahan seluas 342 hektar, dengan

    mengungsikan 12.000 warga. Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan, untuk

    menampung lumpur sampai Desember 2006, mereka menyiapkan 150 hektare

    waduk baru. Juga ada cadangan 342 hektare lagi yang sanggup memenuhi

    kebutuhan hingga Juni 2007. Akhir Oktober, diperkirakan volume lumpur sudah

    mencapai 7 juta m3.Namun rencana itu batal tanpa sebab yang jelas.

    Badan Meteorologi dan Geofisika meramal musim hujan bakal datang dua

    bulanan lagi. Jika perkira-an itu tepat, waduk terancam kelebihan daya tampung.

    Lumpur pun meluap ke segala arah, mengotori sekitarnya.

    Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) memperkirakan, musim

    hujan bisa membuat tanggul jebol, waduk-waduk lumpur meluber, jalan tol

    terendam, dan lumpur diperkirakan mulai melibas rel kereta. Ini adalah bahaya

    yang bakal terjadi dalam hitungan jangka pendek.

    Sudah ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk memadamkan lumpur berikut

    menanggulangi dampaknya. Mereka bekerja secara paralel. Tiap tim terdiri dari

    perwakilan Lapindo, pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas

    terkemuka. Di antaranya, para pakar dari ITS, Institut Teknologi Bandung,

    dan Universitas Gadjah Mada. Tim Satu, yang menangani penanggulangan

    lumpur, berkutat dengan skenario pemadaman. Tujuan jangka pendeknya adalah

  • 15

    memadamkan lumpur dan mencari penyelesaian cepat untuk jutaan kubik lumpur

    yang telah terhampar di atas tanah.

    Ada pihak-pihak yang mengatakan luapan lumpur ini bisa dihentikan,

    dengan beberapa skenario dibawah ini, namun asumsi luapan bisa dihentikan

    sampai tahun 2009 tidak berhasil sama sekali, yang mengartikan luapan ini adalah

    fenomena alam.

    Skenario pertama, menghentikan luapan lumpur dengan

    menggunakan snubbing unit pada sumur Banjar Panji-1. Snubbing unit adalah

    suatu sistem peralatan bertenaga hidrolik yang umumnya digunakan untuk

    pekerjaan well-intervention & workover (melakukan suatu pekerjaan ke dalam

    sumur yang sudah ada). Snubbing unit ini digunakan untuk mencapai rangkaian

    mata bor seberat 25 ton dan panjang 400 meter yang tertinggal pada pemboran

    awal. Diharapkan bila mata bor tersebut ditemukan maka ia dapat didorong masuk

    ke dasar sumur (9297 kaki) dan kemudian sumur ditutup dengan menyuntikan

    semen dan lumpur berat. Akan tetapi skenario ini gagal total. Rangkaian mata bor

    tersebut berhasil ditemukan di kedalaman 2991 kaki tetapi snubbing unit gagal

    mendorongnya ke dalam dasar sumur.

    Skenario kedua dilakukan dengan cara melakukan pengeboran miring

    (sidetracking) menghindari mata bor yang tertinggal tersebut. Pengeboran

    dilakukan dengan menggunakan rig milik PT Pertamina (persero). Skenario kedua

    ini juga gagal karena telah ditemukan terjadinya kerusakan selubung di beberapa

    kedalaman antara 1.060-1.500 kaki, serta terjadinya pergerakan lateral di lokasi

    pemboran BJP-1. Kondisi itu mempersulit pelaksanaan sidetracking. Selain itu

    muncul gelembung-gelembung gas bumi di lokasi pemboran yang dikhawatirkan

    membahayakan keselamatan pekerja, ketinggian tanggul di sekitar lokasi

    pemboran telah lebih dari 15 meter dari permukaan tanah sehingga tidak layak

    untuk ditinggikan lagi. Karena itu, Lapindo Brantas melaksanakan penutupan

    secara permanen sumur BJP-1.

    Skenario ketiga, pada tahap ini, pemadaman lumpur dilakukan dengan

    terlebih dulu membuat tiga sumur baru (relief well). Tiga lokasi tersebut antara

    lain: Pertama, sekitar 500 meter barat daya Sumur Banjar Panji-1. Kedua, sekitar

    500 meter barat barat laut sumur Banjar Panji 1. Ketiga, sekitar utara timur laut

    dari Sumur Banjar Panji-1. Sampai saat ini skenario ini masih dijalankan.

  • 16

    Ketiga skenario beranjak dari hipotesis bahwa lumpur berasal dari retakan

    di dinding sumur Banjar Panji-1. Padahal ada hipotesis lain, bahwa yang terjadi

    adalah fenomena gunung lumpur (mud volcano), seperti di Bledug

    Kuwu di Purwodadi, Jawa Tengah. Sampai sekarang, Bledug Kuwu terus

    memuntahkan lumpur cair hingga membentuk rawa.

    Rudi Rubiandini, anggota Tim Pertama, mengatakan bahwa gunung

    lumpur hanya bisa dilawan dengan mengoperasikan empat atau lima relief

    well sekaligus. Semua sumur dipakai untuk mengepung retakan-retakan tempat

    keluarnya lumpur. Kendalanya pekerjaan ini mahal dan memakan waktu.

    Contohnya, sebuah rig (anjungan pengeboran) berikut ongkos operasionalnya

    membutuhkan Rp 95 miliar. Biaya bisa membengkak karena kontraktor dan rental

    alat pengeboran biasanya memasang tarif lebih mahal di wilayah berbahaya.

    Paling tidak kelima sumur akan membutuhkan Rp 475 miliar. Saat ini pun sulit

    mendapatkan rig yang menganggur di tengah melambungnya harga minyak.

    Rovicky Dwi Putrohari, seorang geolog independen, menulis bahwa di

    lokasi sumur Porong-1, tujuh kilometer sebelah timur Banjar Panji-1, terlihat

    tanda-tanda geologi yang menunjukkan luapan lumpur pada zaman dulu,

    demikian analisanya. Rovicky mencatat sebuah hal yang mencemaskan: semburan

    lumpur di Porong baru berhenti dalam rentang waktu puluhan hingga ratusan

    tahun.

    Dalam dokumen Laporan Audit Badan Pemeriksa Keuangan tertanggal 29

    Mei 2007 disebutkan temuan-temuan bahwa upaya penghentian semburan lumpur

    tersebut dengan teknik relief well tidak berhasil disebabkan oleh faktor-faktor

    nonteknis, diantaranya: peralatan yang dibutuhkan tidak disediakan. Senada

    dengan temuan Badan Pemeriksa Keuangan, Rudi Rubiandini juga menyatakan

    bahwa upaya penghentian semburan lumpur dengan teknik relief well tersebut

    tidak dilanjutkan dengan alasan kekurangan dana.

    Jika skenario penghentian lumpur terlambat atau gagal maka tanggul yang

    disediakan tidak akan mampu menyimpan lumpur panas sebesar 126,000 m3 per

    hari. Pilihan penyaluran lumpur panas yang tersedia pada pertengahan September

    2006 hanya tinggal dua.Skenario ini dibuat kalau luapan lumpur adalah kesalahan

    manusia, seandainya luapan lumpur dianggap sebagai fenomena alam, maka

  • 17

    skenario yang wajar adalah 'bagaimana mengalirkan lumpur kelaut' dan belajar

    bagaimana hidup dengan lumpur.

    Pilihan pertama adalah meneruskan upaya penangangan lumpur di lokasi

    semburan dengan membangun waduk tambahan di sebelah tanggul-tanggul yang

    ada sekarang. Dengan sedikit upaya untuk menggali lahan ditempat yang akan

    dijadikan waduk tambahan tersebut agar daya tampungnya menjadi lebih besar.

    Masalahnya, untuk membebaskan lahan disekitar waduk diperlukan waktu, begitu

    juga untuk menyiapkan tanggul yang baru, sementara semburan lumpur secara

    terus menerus, dari hari ke hari, volumenya terus membesar.

    Pilihan kedua adalah membuang langsung lumpur panas itu ke Kali

    Porong. Sebagai tempat penyimpanan lumpur, Kali Porong ibarat waduk yang

    telah tersedia, tanpa perlu digali, memiliki potensi volume penampungan lumpur

    panas yang cukup besar. Dengan kedalaman 10 meter di bagian tengah kali

    tersebut, bila separuhnya akan diisi lumpur panas Sidoardjo, maka potensi

    penyimpanan lumpur di Kali Porong sekitar 300,000 m3 setiap kilometernya.

    Dengan kata lain, kali Porong dapat membantu menyimpan lumpur sekitar 5 juta

    m3, atau akan memberikan tambahan waktu sampai lima bulan bila volume

    lumpur yang dipompakan ke Kali Porong tidak melebihi 50,000 m3 per hari. Bila

    yang akan dialirkan ke Kali Porong adalah keseluruhan lumpur yang menyembur

    sejak awal Oktober 2006, maka volume lumpur yang akan pindah ke Kali Porong

    mencapai 10 juta m3 pada bulan Desember 2006. Volume lumpur yang begitu

    besar membutuhkan frekuensi dan volume penggelontoran air dari Sungai

    Brantas yang tinggi, dan kegiatan pengerukan dasar sungai yang terus menerus,

    agar Kali Porong tidak berubah menjadi waduk lumpur. Sedangkan untuk

    mencegah pengembaraan koloida lumpur Sidoardjo di perairan Selat

    Madura,diperlukan upaya pengendapan dan stabilisasi lumpur tersebut di kawasan

    pantai Sidoardjo.

    Para pakar yang melakukan simposium di ITS pada minggu kedua

    September, menyampaikan informasi bahwa kawasan pantai di Kabupaten

    Sidoardjo mengalami proses reklamasi pantai secara alamiah dalam beberapa

    dekade terakhir disebabkan oleh proses sedimentasi dan dinamika perairan Selat

    Madura. Setiap tahunnya, pantai Sidoardjo bertambah 40 meter. Sehingga upaya

    membentuk kawasan lahan basah di pantai yang terbuat dari lumpur panas

  • 18

    Sidoardjo, merupakan hal yang selaras dengan proses alamiah reklamasi pantai

    yang sudah berjalan beberapa dekade terakhir.

    Dengan mengumpulkan lumpur panas Sidoarjo ke tempat yang kemudian

    menjadi lahan basah yang akan ditanami oleh mangrove, lumpur tersebut dapat

    dicegah masuk ke Selat Madura sehingga tidak mengancam kehidupan nelayan

    tambak di kawasan pantai Sidoardjo dan nelayan penangkap ikan di Selat Madura.

    Pantai rawa baru yang akan menjadi lahan reklamasi tersebut dikembangkan

    menjadi hutan bakau yang lebat dan subur, yang bermanfaat bagi pemijahan ikan,

    daerah penyangga untuk pertambakan udang. Pantai baru dengan hutan bakau

    diatasnya dapat ditetapkan sebagai kawasan lindung yang menjadi sumber

    inspirasi dan sarana pendidikan bagi masyarakat terhadap pentingnya pelestarian

    kawasan pantai.

    Pada 9 September 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

    menandatangani surat keputusan pembentukan Tim Nasional Penanggulangan

    Semburan Lumpur di Sidoarjo, yaitu Keppres Nomor 13 Tahun 2006. Dalam

    Keppres itu disebutkan, tim dibentuk untuk menyelamatkan penduduk di sekitar

    lokasi bencana, menjaga infrastruktur dasar, dan menyelesaikan masalah

    semburan lumpur dengan risiko lingkungan paling kecil. Tim dipimpin Basuki

    Hadi Muljono, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen

    Pekerjaan Umum, dengan tim pengarah sejumlah menteri, diberi mandat selama

    enam bulan. Seluruh biaya untuk pelaksanaan tugas tim nasional ini dibebankan

    pada PT Lapindo Brantas.Namun upaya Timnas yang didukung oleh Rudy

    Rubiandini ternyata gagal total walaupun telah menelan biaya 900 milyar rupiah.

    Hal hal yang kompleks ini sebenarnya bisa terjadi karena dari aspek keseluruhan

    masih terdapat ketidak tegasan dan juga kesalahan dalam segi perhitungan,

    perizinan, dan juga pelaksanaan pengeboran sumur yang ada.

  • 19

    BAB IV

    PENUTUP

    4.1.KESIMPULAN

    Pada dasarnya lumpur lapindo bisa menyembur karena adanya lobang

    dari permukaan yang terbentuk dan didalam surface memang sudah terjadi

    pergeseran dan juga pembentukan gunung lumpur yang berusia 150 200

    tahun dan melakukan aktifitas lagi. Jadi pengeboran itu bukan faktor utama

    dari kejadian lumpur lapindo ini tetapi hanya sebagai faktor pemicu yang

    mempercepat keluarnya lumpur dari dalam lapisan tanah. Jika tidak ada yang

    melakukan pengeboran pada kawasan itu tetap saja lumpur akan menyembur

    suatu saat nanti karena tekanan hidrostatik yang semakin meningkat. Dampak

    yang ditimbulkan tidak bisa dihindari lagi karena semburan ini akan

    berlangsung lebih dari 30 tahun baru akan berakhir. Jadi yang dipikirkan

    sekarang ini adalah bagaimana lumpur yang menyembur dan mnenggelamkan

    pemukiman warga ini bisa diolah menjadi suatu hal yang berguna untuk

    masyarakat sekitar pada khususnya dan bagi Negara pada umumnya.

    Lumpur lapindo dengan berbagai data yang diperoleh sevara valid

    dapat disimpulakan bahwa fenomena ini adalah sebuah bencana alam. Dan

    bukan karena faktor pihak pihak yang berkepentingan dalam daerah

    tersebut yang ingin melakukan hal hal untuk menguntungkan sekumpulan

    orang dan merugikan masyarakat yang ada dikitarnya.

    4.2.KRITIK DAN SARAN

    Hendaknya warga yang menjadi korban mendapatkan tunjangan dan

    fasilitas tempat tinggal untuk sementara.

  • 20

    Pemerintah dianggap tidak serius menangani kasus luapan lumpur

    panas ini. Masyarakat adalah korban yang paling dirugikan, di mana mereka

    harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian tanpa adanya kompensasi

    yang layak. Pemerintah hanya membebankan kepada Lapindo pembelian

    lahan bersertifikat dengan harga berlipat-lipat dari harga NJOP yang rata-rata

    harga tanah dibawah Rp. 100 ribu- dibeli oleh Lapindo sebesar Rp 1 juta dan

    bangunan Rp 1,5 juta masing-masing permeter persegi. untuk 4 desa (Kedung

    Bendo, Renokenongo, Siring, dan jatirejo) sementara desa-desa lainnya

    ditanggung APBN, juga penanganan infrastruktur yang rusak.Hal ini

    dianggap wajar karena banyak media hanya menuliskan data yang tidak

    akurat tentang penyebab semburan lumpur ini.

    Salah satu pihak yang paling mengecam penanganan bencana lumpur

    Lapindo adalah aktivis lingkungan hidup. Selain mengecam lambatnya

    pemerintah dalam menangani lumpur, mereka juga menganggap aneka solusi

    yang ditawarkan pemerintah dalam menangani lumpur akan melahirkan

    masalah baru, salah satunya adalah soal wacana bahwa lumpur akan dibuang

    ke laut karena tindakan tersebut justru berpotensi merusak lingkungan sekitar

    muara.

    Pemerintah seharusnya cepat dan peduli terhadap masyarakat yang

    menjadi korban lumpur lapindo.

    Penilaian terhadap sebuah kejadian seharusnya didasarkan pada ilmu

    pengetahuan juga agar isu yang menyebar itu dapat terbukti kebenarannya..

  • 21

    DAFTAR PUSTAKA

    http://smkn2banjar.justdiscussion.com/t7-susunan-format-makalah-paper

    http://solusi-lumpur-lapindo.blogspot.com/2010/06/asal-mula-terjadinya-semburan-

    lumpur.html

    http://hotmudflow.wordpress.com/2006/10/29/lumpur-lapindo-dapat-dikategorikan-

    sebagai-bencana-alam/

    http://agorsiloku.wordpress.com/2006/10/11/tragedi-lumpur-lapindo/

    http://www.medantalk.com/inilah-penyebab-fenomena-lapindo/

    http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo