Makalah Geologi

download Makalah Geologi

of 21

  • date post

    16-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    64
  • download

    0

Embed Size (px)

description

lapindo

Transcript of Makalah Geologi

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 LATAR BELAKANG

    Puji syukur kepada Allah SWT karena ata izinNya lah kami sebagai

    pembuat makalah bias melaksanakan pembuatan makalah ini dengan maksud

    dan tujuan menyelesaikan tugas untuk pembuatan makalah mengenai mud /

    atau lumpur lapindo. Tragedi Lumpur Lapindo dimulai pada tanggal 27 Mei

    2006.Masih teringat oleh kita tentang terjadinya semburan lumpur yang di

    sebabkan oleh semakin melebarnya lubang sumur yang dibor oleh PT.

    Lapindo Brantas. Oleh karena itu sangat memungkinkan adanya kesalahan

    dalam penulisan makalah ini karena kami juga masih dalam tahap

    pembelajaran untuk membuat makalah dengan baik dan benar, karena itu kami

    selaku pembuat makalah memohon maaf apabila ada kesalahan kesalahan

    dalam pembuatan makalah ini. Jika ada hal positif ataupun kebenaran dalam

    makalah ini itu semua tidak lepas atas izin Allah SWT.

    1.2 TUJUAN

    Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengupas apakah

    penyebab lumpur lapindo yang sampai saat ini terus menyembur serta

    dampak dampak yang ada terhadap lingkungan dan juga masyarakat sekitar

    serta memberikan solusi terhadap masalah lumpur lapindo ini dan juga

    menurut pengamatan dari segi ilmu geologi sehingga dapat diketahui alasan

    yang logis untuk masaalah lumpur lapindo ini bagaimana sebenarnya sebab

    adanya semburan lumpur ini.

  • 2

    Gambar 1.2.1

    1.3 RUANG LINGKUP MATERI

    Ruang lingkup dari materi lumpur lapindo ini meliputi dari berbagai

    aspek, yaitu asapek sosial, aspek politik dan juga aspek ekonomi. Berdasarkan

    prinsip geologi semburan lumpur lapindo secara teori tidak mungkin ada jika

    tekanan di daerah semburan itu tidak tinggi dan juga formasi batuan yang

    berada di sumur tersebut mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi serta

    mempunyai porositas yang tidak terlalu besar dan juga permeabilitas yang

    tidak melebihi standar yang ada. Serta terdapat miss komunikasi antar sesama

    engineer dari berbagai bidang pengamatan dan juga teknisi pemboran. Serta

    kekurang akuratan data yang akhirnya menimbulkan kesalahan dalam

    memprediksi formasi batuan yang ada pada suatu sumur.

  • 3

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    PT Lapindo membor sumur yg di kemudian hari lubang pemboran tersebut

    menjadi jalan keluar lumpur Lapindo. Berarti lumpur keluar melalui lubang yg

    sama, kemudian semakin ke atas semakin melebar - mencari sendiri2 jalan keluar

    yg paling dekat/paling mudah dijangkau. Solusinya yaitu menutup kembali lubang

    tersebut, misalnya menggunakan semen cepat kering. masalahnya, "lubang

    pangkal" tersebut berada di dalam perut bumi 4-6 kilometer dari permukaan bumi.

    Jika masih memungkinkan menggunakan sumur yg sama ketika pengeboran untuk

    memasukkan cairan beton ke dalam lubang untuk menutup "lubang pangkal"

    tersebut. Masalah lain yaitu bagaimana memasukkan semen sambil melawan

    tekanan lumpur yg datang dari dalam tanah, dibutuhkan pompa yg sangat kuat

    sehingga mampu melawan pressure lumpur yg keluar sampai semen membeku -

    meskipun dengan resiko pompa akan rusak.

    Sebelumnya pernah dicoba menghentikan semburan lumpur dg

    menggunakan bola beton. Cara ini hanya menutup lubang di permukaan - padahal

    lubang yg seharusnya ditutup ada di dalam perut bumi, sehingga fluida akan

    mencari jalan keluar yg lain - apalagi bentuknya bulat sehingga meski ditutuppun

    masih terdapat rongga-rongga. Mungkin bola2 beton ini juga akan menghambat

    upaya memasukkan semen ke lubang pangkal.

  • 4

    Gambar 2.1

    Ilustrasi di atas sangat sederhana untuk dipelajari dan dipahami dan sudah

    jelas bagaimana sumur itu dihindarkan dari adanya blowout. Jadi hal yang terjadi

    pada keadaan di lapangan kemungkinan karena tidak melakukakan hal hal

    pencegahan blowout dan juga bias disebut blowout prevention system ( BOP

    system ). Bisa juga terjadi karena BOP system yang ada tidak memenuhi standard

    an ketenteuan ketentuan yang ada.

  • 5

    BAB III

    PEMBAHASAN

    Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki

    (2590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut

    akan dipasang selubung bor (casing ) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan

    kedalaman untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam

    formasi) dan kick (masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur) sebelum

    pengeboran menembus formasi Kujung.

    Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo sudah memasang casing 30

    inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16

    inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki (Lapindo Press Rilis

    ke wartawan, 15 Juni 2006). Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari

    kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka belum memasang casing 9-

    5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi

    Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki).

    Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan

    pemboran ini dengan membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka

    membuat prognosis dengan mengasumsikan zona pemboran mereka di zona

    Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka

    membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka

    merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping

    formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak

    meng-casing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama

    pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah

    berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpurnya

    Lapindo (Medici).

  • 6

    Gambar 3.1

    Underground Blowout (semburan liar bawah tanah)

    Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping.

    Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya

    menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-

    bolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi

    Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik)

    atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di

    permukaan.

    Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan

    berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit

    sehingga dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan,

    perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan

    lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan

    mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi

    sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di

    permukaan (surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan

    kondisi geologis tanah tidak stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami

    (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat

  • 7

    melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP

    sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan

    lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah

    mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan

    di sumur itu sendiri.

    Perlu diketahui bahwa untuk operasi sebuah kegiatan pemboran MIGAS di

    Indonesia setiap tindakan harus seijin BP MIGAS, semua dokumen terutama

    tentang pemasangan casing sudah disetujui oleh BP MIGAS.

    Dalam AAPG 2008 International Conference & Exhibition dilaksanakan

    di Cape Town International Conference Center, Afrika Selatan, tanggal 26-29

    Oktober 2008, merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh American

    Association of Petroleum Geologists (AAPG) dihadiri oleh ahli geologi seluruh

    dunia, menghasilan pendapat ahli: 3 (tiga) ahli dari Indonesia mendukung

    GEMPA YOGYA sebagai penyebab, 42 (empat puluh dua) suara ahli menyatakan

    PEMBORAN sebagai penyebab, 13 (tiga belas) suara ahli menyatakan

    KOMBINASI Gempa dan Pemboran sebagai penyebab, dan 16 (enam belas suara)

    ahli menyatakan belum bisa mengambil opini. Laporan audit Badan Pemeriksa

    Keuangan tertanggal 29 Mei 2007 juga menemukan kesalahan-kesalahan teknis

    dalam proses pemboran.

    Menurut data dari sumber yang ada korban dari lumpur lapindo adalah

    sekitar 1.200. Kejadian ini bisa dikategorikan sebagai musibah karena banyak

    terjadi semburan semburan yang lain yang lokasinya jauh dari lokasi

    pengeboran. Ini dibebabkan karena berbagai macam factor yaitu aktifnya kembali

    gunung lumpur yang berusia 150 200 tahun dan bukan aktifitas pengeboran.

    Aktifnya gunung lumpur disebabkan oleh seismic bumi. Selain itu, gempa bumi

    berkekuatan 4,4 pada skala Richter yang terjadi 9 Juli 2005 juga telah membantu

    pembukaan saluran lumpur. Tetapi dari pernyataan ilmuan Amerika dinyatakan

    bahwa 99 % dari musibah lumpur lapindo ini disebabkan oleh kesalahan oleh

    drilling engineer yang melakukan pengeboran sumur saat itu. Padahal jika diamati

    para teknisi pengeboran tidak mungkin melakukan pengeboran jika tidak

    mendapatkan instruksi dari orang orang yang sudah terpercaya dalam ilmu

    geologi. Ja