Makalah Bom Bali

download Makalah Bom Bali

of 23

  • date post

    18-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    10.700
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Bom Bali

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Di setiap Negara tidak dapat lepas dari tindakan-tindakan melanggar hukum baik secara pidana maupun perdata. Namun yang menjadi keresahan masyarakat adalah maraknya tindakan pidana.Tindakan yang dapat mengganggu kepentingan orang lain ini dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Bahkan tindakan ini dapat menghilangkan nyawa orang lain dan mengancam stabilitas Negara. Beberapa tahun terakhir, Indonesia dikejutkan dengan maraknya kasus bom yang terjadi di restoran, hotel, bahkan kedutaan besar pun tak luput dari serangan bom. Hal ini dikategorikan sebagai kasus pidana terorisme dan mulai menjadi trademark bagi Indonesia sebagai Negara teroris. Dengan dalih menjalankan syariat Islam, terror demi terror dilakukan. Tragedi bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 di kecamatan Kuta, Bali. Telah menewaskan 220 orang dan mencederakan 209 orang lainnya yang kebanyakan merupakan orang asing. Peristiwa ini dianggap sebagai kasus pidana terorisme terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Beberapa warganegara asing yang tengah berlibur di Bali menjadi korban dari aksi ini, antara lain Australia,Britania Raya, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Belanda, Perancis, Denmark, Selandia Baru,Swiss, Brasil, Kanada, serta beberapa Negara lainnya. Tindakan cepat segera diambil oleh kepolisian guna mengungkap sindikat yang ada di balik tragedi berdarah ini. Ditetapkan 3 pelaku utama, yakni Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron diikuti oleh anak buah mereka. Dengan adanya kejadian ini, Indonesia dirundung masalah yang berat terkait dengan masalah keamanan. Sebagai dampaknya kecaman terus berdatangan dari negara- negara lainnya dengan mengeluarkan travel warning dan secara tegas melarang warganya untuk datang ke Indonesia.1

Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dianalisa mengenai Tragedi Bom Bali secara menyeluruh, dengan menitikberatkan pada pelaku bom Bali yakni Trio Bom Bali, dengan keputusan-keputusan akhir yang membawa mereka pada hukuman mati. Namun setelah divonis hukuman mati masih terdapat permintaan terdakwa trio bom Bali untuk peninjauan kembali terhadap eksekusi hukuman mati yang akan dijalankan terpidana.

1.2 Rumusan Masalah Mengapa MK menerima PK (Peninjauan Kembali) yang diajukan tim kuasa hukum Trio Bom Bali sehingga berpengaruh pada jangka waktu eksekusi mati yang harus dilaksanakan dan bagaimana pula keputusan akhirnya?

1.3 Tujuan Penelitian Seperti yang telah dibahas pada latar belakang , bahwa tindakan pemboman yang terjadi di Indonesia khususnya di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang telah menewaskan masyarakat pribumi maupun wisatawan asing merupakan salah satu tindakan pidana , yang para terpidana terdiri dari : Imam Samudera , Amrozi , dan Ali Gufron yang telah dijatuhkan hukuman mati. Kemudian timbul fenomena baru mengenai PK (Peninjauan Kembali ) yang diajukan tim kuasa hukum terpidana Trio Bom Bali karena dianggap eksekusi mati yang berlaku di Indonesia bertentangan dengan UU pasal 28 I ayat 1 UUD 1945. Adapun tujuan dari kami dalam memilih topik ini , karena : Untuk meninjau lebih lanjut apa alasan MK menerima peninjauan kembali (PK) yang diajukan oleh tim kuasa hukum trio Bom Bali sehingga berpengaruh pada jangka waktu eksekusi yang harus dilaksanakan?-

Untuk mengetahui keputusan akhir dari MK mengenai PK yang diajukan oleh tim kuasa trio Bom Bali.

2

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Akademik Untuk memperkaya pengetahuan mengenai kasus hukum dalam hal ini mengenai kasus pidana Bom Bali I dimana menitikberatkan pada peninjauan kembali (PK) oleh MK mengenai tata cara eksekusi mati terpidana. 1.4.2 Praktis Untuk memberitahukan kepada masyarakat mengenai prosesi peninjauan kembali oleh MK mengenai tata cara eksekusi terpidana mati.

1.5 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan ini, tim penulis akan membahas latar belakang dari kasus pidana Bom Bali I dengan sudut pandang Peninjauan Kembali Mahkamah Konstitusi terhadap Eksekusi Mati Bom Bali I . Selain itu dijelaskan pula alasan dari tim penulis memilih topik ini dan manfaat serta sistematika penulisan dari makalah ini, BAB II KERANGKA TEORITIS Dalam Bab II ini akan dijabarkan teori hukum pidana beserta UU yang berkaitan dengan kasus pidana Bom Bali ini dengan teori-teori terkait lainnya. BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam Bab III ini akan dianalisa dan dibahas secara mendalam mengenai hal-hal berkaitan yang dapat menjawab daripada rumusan masalah yang telah dibentuk oleh tim penulis berdasarkan teori hukum pidana dan teori terkait lainnya.

3

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Pada Bab ke- IV ini akan diulas kesimpulan dan saran di mana diharapkan dapat memberikan informasi dan manfaat bagi masyarakat. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

4

BAB II KERANGKA TEORITIS

2.1 HUKUM PIDANA 2.1.1 Pengertian Hukum Pidana Hukum pidana adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan

kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan mana diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan (keistimewaan dan unsur yang terpenting dalam hukum pidana). Adapun yang termasuk dalam pengertian kepentingan umum ialah : 1. Badan dan peraturan perundangan Negara, seperti Negara, lembaga-lembaga Negara,pejabat Negara, pegawai negeri, UU peraturan pemerintah dan sebagainya.2. Kepentingan hukum tiap manusia yaitu : jiwa, raga/tubuh, kemerdekaan, kehormatan

dan hak milik/harta benda.

Perbedaan antara pelanggaran dan kejahatan : Pelanggaran adalah mengenai hal-hal kecil atau ringan yang diancam hukuman denda Kejahatan ialah mengenai soal-soal yang besar

Menurut KUHP pasal 10 hukuman atau pidana terdiri atas :5

1. Pidana pokok (utama) : a. b. Pidana mati Pidana penjara Pidana seumur hidup Pidana penjara selama waktu tertentu(setinggi-tingginya 20

tahun dan sekurang-kurangnya 1 tahun ) c. Pidana kurungan sekurang-kurangnya 1 hari dan setinggi-tingginya

1 tahun. d. e. Pidana denda Pidana tutupan

2. Pidana tambahan a. Pencabutan hak-hak tertentu b. Perampasan (penyitaan barang-barang tertentu) c. Pengumuman keputusan hakim.

2.1.2 Pembagian Hukum Pidana Hukum pidana dapat dibagi sebagai berikut : 1. Hukum Pidana Obyektif (Jus Punale ), yang dapat dibagi ke dalam : a. Hukum Pidana Material Adalah peraturan-peraturan yang menegaskan : Perbuatan-perbuatan apa yang dapat dihukum Siapa yang dapat dihukum6

Dengan hukuman apa menghukum seseorang. Hukum Pidana Material membedakan adanya : (a) Hukum Pidana Umum (b) Hukum Pidana Khusus b. Hukum Pidana Formal ( Hukum Acara Pidana) Adalah hukum yang mengatur cara-cara menghukum seseorang yang melanggar peraturan pidana merupakan pelaksanaan dari Hukum Pidana Material. 2. Hukum pidana subyektif (Jus Puniendi) Adalah hak Negara atau alat-alat untuk menghukum berdasarkan Hukum Pidana Obyektif 3. Hukum pidana umum Adalah Hukum Pidana yang berlaku terhadap setiap penduduk(berlaku terhadap siapa pun juga di seluruh Indonesia) kecuali anggota ketentaraan. 4. Hukum pidana khusus, Adalah Hukum Pidana yang berlaku khusus untuk orang-orang tertentu. Hukum Pidana dibagi ke dalam : a. b. Hukum pidana militer Hukum pidana pajak (fiscal)

2.2 MAHKAMAH KONSTITUSI

7

Setelah reformasi, Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki satu lembaga tinggi Negara, yaitu Mahkamah Konstitusi, tetapi disisi lain menghapuskan Dewan pertimbangan Agung yang dianggap tidak efektif. Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga pemegang kekuasaan kehakiman disamping Mahkamah Agung beserta badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan Tata Usaha Negara. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap konstitusi, memutuskan sengketa kewenangan lembaga Negara, yang kewenangannya diberikan UUD, memutuskan pembubaran partai politik, dan memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan wakil presiden menurut UUD. Mahkamah Konstitusi mempunyai 9 orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh presiden yang diajukan masing-masing 3 orang yang masing-masing diajukan Mahkamah Agung, 3 orang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, 3 orang diusulkan Presiden.

2.3 PROSEDUR DAN PROSES PENYELESAIAN PERKARA PENINJAUAN KEMBALI

(PK)

8

2.3.1 PROSEDUR Langkah langkah yang harus dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (PK): 1. Mengajukan permohonan PK kepada Mahkamah Agung secara tertulis atau lisan melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syariyah. 2. Pengajuan PK dalam tenggang waktu 180 hari sesudah penetapan atau putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap atau sejak di ketemukan bukti adanya kebohongan atau bukti baru, dan bila alasan pemohon PK berdasarkan bukti baru (Novum) maka bukti baru tersebut di nyatakan di bawah sumpah dan di sahkan oleh pejabat yang berwenang (Pasal 69 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah dengan UU No. 5 tahun 2004). 3. Membayar biaya perkara PK (Pasal 70 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah dengan UU No. 45 tahun 2004, pasal 89 dan 90 UU No. 7 tahun 1989). 4. Panitera Pengadilan tinggi tingkat pertama memberitahukan dan menyampaikan salinan memori PK kepada pihak lawan dalam tenggang waktu selambat-lambatnya 14 (Empat Belas) hari. 5. Pihak lawan berhak mengajukan surat jawaban terhadap memori PK dalam tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari setelah tanggal di terima salinan permohonan PK. 6. Panitera Pengadilan tingkat pertama mengirimkan berkas PK ke Mahkamah Agung selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari. 7. Panitera Mahkamah Agung menyampaikan salinan putusan PK kepada pengadilan Agama/Mahkamah Syariyah. 8. Pengadilan Aga