Makalah BMSP 5 Topik 3 Klmpok 7

Click here to load reader

  • date post

    01-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    262
  • download

    3

Embed Size (px)

description

n

Transcript of Makalah BMSP 5 Topik 3 Klmpok 7

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia serta rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Obat-Obat Antiviral, Antifungal, Kortikosteroid, dan Multivitamin ini.Tugas ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi nilai mata kuliah BMSP-5 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada tim dosen BMSP-5 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran yang telah membantu memberikan pengarahan terhadap penyusunan makalah ini dan juga kepada pihak-pihak lain yang terlibat atas dukungannya terhadap penulis.Penulis yakin dan menyadari meskipun dalam penyusunan makalah ini telah diusahakan semaksimal mungkin, makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun dalam penyusunannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan di masa yang akan datang.Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jatinangor, November 2013 Tutor 7DAFTAR ISI

KATA PENGANTARiiDAFTAR ISIiiiDAFTAR TABELvDAFTAR GAMBARviBAB I1PENDAHULUAN11.1 Latar Belakang1BAB 24TINJUAN PUSTAKA42.1Agen Antiviral42.1.1Acyclovir62.1.2Valacyclovir82.1.3 Gancyclovir102.1.4 Foscarnet132.2 Kortikosteroid162.2.1 Penggolongan Obat Kortikosteroid172.2.2 Fungsi dan Peran Glukokortikoid182.2.2 Toksisitas Glukokortikoid222.2.3 Glukokortikoid242.2.4 Mineralokortikoid592.3 Antifungal632.3.1 Amphoterisin B632.3.2 Nistatin672.3.4 Flusitosin732.3.7 Clotrimazole832.3.10 Caspofungin922.4 Multivitamin962.4.1 Vitamin yang Larut di Dalam Lemak972.4.2 Vitamin yang Larut dalam Air101BAB III107CASE REVIEW107BAB IV110DISKUSI1104.1 Pembahasan Kasus Part I1104.2 Pembahasan Kasus Bagian II113BAB V117KESIMPULAN117DAFTAR PUSTAKA118

DAFTAR TABEL

Tabel 2: Klasifikasi Agen Antiviral55

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Struktur Kimia Hydrocortisone37Gambar 2: Sediaan Triamcinolon56Gambar 3: Struktur Kimia Fludrocortisone64Gambar 4: Struktur Kimia Amfoterisin B78Gambar 5: Struktur Kimia Nistatin78Gambar 6: Struktur Kimia Clotrimazole91

iiBAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang1.1.1 AntiviralPengembangan obatantivirus atau obat anti viral sebagai pencegahan atau pengobatan belum mencapai hasil seperti yang diinginkan oleh umat manusia. Karena obat anti virus atau obat anti viral yang dapat menghambat atau membunuh virus juga akan dapat merusak sel hospes dimana virus itu berada dalam hal ini manusia. Sejak Konferensi Pertama pada Antiviral Agents banyak peristiwa molekuler yang unik untuk replikasi virus telah diidentifikasi dan dimanfaatkan dalam pengembangan antivirus selektif . Potensi poin serangan termasuk enzim virus - dikodekan dan protein lain yang muncul selama replikasi virus dan berbeda sesuai enzim selular di sel yang tidak terinfeksi . Mediator endogen kekebalan antivirus adalah sumber potensial lain dari senyawa antivirus . Meskipun isu toksisitas selektif antivirus masih tetap merupakan tantangan besar , sekarang ada optimisme yang cukup untuk masa depan terapi virus , dan banyak agen antivirus yang aman dan efektif telah diperkenalkan .FDA telah menyetujui lebih dari 40 agen antivirus untuk penggunaan klinis . Mencakup antara lain: ( 1 ) amantadine dan rimantadine untuk profilaksis dan pengobatan infeksi influenza A dan oseltamivir dan zanamivir untuk pencegahan dan pengobatan influenza A dan infeksi B , (2 ) idoxuridine , vidarabine , dan trifluridine untuk pengobatan penyakit herpes okular , (3 ) acyclovir , valacyclovir , famciclovir , penciclovir , gansiklovir , dan foskarnet untuk pengobatan berbagai infeksi herpes kelompok sistemik dan lokal , ( 4 ) ribavirin , agen spektrum luas untuk pengobatan pernapasan syncytial virus bronkitis dan pneumonia , (5 ) interferon untuk pengobatan human papillomavirus dan infeksi hepatitis kronis , dan ( 6 ) tiga kelas obat antivirus untuk pengendalian infeksi HIV ( dua kelompok milik reverse transcriptase inhibitor ) .

1.1.2 AntifungalSecara umum infeksi jamur dibedakan atas infeksi jamur sistemik dan infeksi jamur topical ( dermatofit dan mukokutan). Yang akan dibahas disini adalah infeksi mukokutan yang biasanya disebabkan oleh Candida albicans. Infeksi ini biasanya tidak ganas, seperti halnya terdapat pada denture stomatitis, namun bakteri ini dapat menunjukkan adanya system imun yang tidak baik seperti immunodeficiency. Infeksi fungal sistemik dibagi menjadi dua grup bergantung kepada status pasien dan tipe organism yang menginfeksinya. Grup pertama adalah mikosis oportunic, muncul pada pasien immunocompromised di penyakit AIDS, leukemia, atau lymphoma dan pasien yang menerima agen-agen immunosuppressive atau antibiotic berspektrum luas. Jamur yang terlibat meliputi spesies Candida, Aspergillus, dan Cryptococcus dan variasi phycomycetes. Spesies tersebut biasanya bersifat berbahaya dan membawa tingkat mortality yang tinggi.Grup kedua yaitu Endemic mycoses adalah yang disebabkan oleh pathogen yang bervariatif dan terdistribusi di seluruh dunia dan mempunyai tingkat insidensi yang rendah pada temperature dan iklim tertentu.Antifungal mempunyai berbagai macam golongan, dua antibiotic polyene yaitu amphotericin B (merupakan drug of choice untuk kebanyakan mycosis yang dalam) dan nystatin (drug of choice untuk pengobatan oral candidiasis) adalah agen yang sangat berguna untuk perawatan oral candidiasis. Polyene ketiga yaitu natamycin, dibatasi oleh penggunaan ophthalmologic. Flucytosine adalah analog pirimidine digunakan biasanya sebagai single agent namun sering digunakan bersamaan dengan amphotericin B pada infeksi jamur yang parah. Miconazole, ketoconazole, dan clotrimazole, adalah antifungal representasi dari imidazole. Ketoconazole adalah perubahan yang besar untuk terapi antifungal, clotrimazole digunakan secara luas dalam bentuk topical. Itraconazole, fluconazole, dan saperconazole adalah derivative dari triazole. Obat baru ini merupakan alternative terapi pada insiden infeksi jamur sistemik meningkat. Antifungal lain (voriconazole, caspofungin) mempunyai mekanisme kerja yang berbeda dan dikembangkan untuk membantu mengontrol bila ada resistensi pada obat lain.

1.1.3 KortikosteroidKortikosteroid merupakan obat yang mempunyai khasiat dan indikasi klinis yang sangat luas. Mamfaat dari preparat ini cukup besar tetapi karena efek samping yang tidak diharapkan cukup banyak, maka dalam penggunaannya dibatasi. Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya, yakni glukokortikoid (contohnya kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal. Beberapa kortikosteroid menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut dalam beberapa derajat, dan lainnya hanya mengeluarkan satu jenis efek. Hormon kortikosteroid dihasilkan dari kolesterol di korteks kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Reaksi pembentukannya dikatalisis oleh enzim golongan sitokrom P450. Dalam bidang farmasi, obat-obatan yang disintesis sehingga memiliki efek seperti hormon kortikosteroid alami memiliki manfaat yang cukup penting. Deksametason dan turunannya tergolong glukokortikoid, sedangkan prednison dan turunannya memiliki kerja mineralokortikoid disamping kerja glukokortikoid.

1.1.4 MultivitaminVitamin adalah senyawa kimia eksogen yang dibutuhkan oleh tubuh dengan jumlah sedikit untuk berbagai fungsi metabolisme tubuh dan dikategorikan sebagai nutrisi esensial. Vitamin tidak menghasilkan energi tapi digunakan secara khusu untuk pencegahan dan pengobatan penyakit defisiensi.Vitamin adalah salah satu elemen vital yang dibutuhkan pada proses metabolisme normal. Vitamin memiliki strktur bervariasi, tidak disintesis oleh tubuh sehingga diperoleh dari makanan dengan kuantitas yang sangat sedikit.Kekurangan vitamin menyebabkan berbagai gejala defisiensi. Terdapat banyak bentuk dan sediaan vitamin yang digunakan untuk pengobatan dan profilaksis. Kebanyakan vitamin bersifat tidak toksik, tetapi administrasi kronis dapat meningkatkan toksisitas, terutama vitamin A dan D.Vitamin diklasifikasi menjadi dua yaitu vitamin yang larut dalam lemak (A,D,E,K) dan vitamin yang larut dalam air (B,C).

4

BAB 2TINJUAN PUSTAKA2.1Agen AntiviralVirus tidak mempunyai diinding sel dan terbentuk dari inti asam nukleat yang ditutupi oleh lapisan protein yang terdiri atas subunit identik. Virus terdiri atas 2 tipe, yaitu DNA virus (HSV, smallpox, hepatitis B, varicellazooster, dll) dan RNA virus (rabies, measles, dengue, rubella, yellow fever, polymielitis, HIV, dll). Pada infeksi viral, replikasi virus mancapai puncak pada saat atau sebelum munculnya manifestasi atau gejala klinis. Jadi, penanganan secara umum tergantung pada terapi inisiasi dini atau pencegahan infeksi, contoh chemoprophylaxis.Klasifikasi agen antiviral dijelaskan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 2. Swarantika Aulia160110110080

Klasifikasi Agen AntiviralAgen AntiviralNama Obat

Agen antiherpesIdoxoridine (RIDINOX)Acyclovir (ZOVIRAX)Famciclovir (FAMTRAX)ValacyclovirGanciclovir

2.1.1IdoxoridineSecara kimiawi berhubungan dengan thymidine dan bertindak kompeten dengan thymidine padasintesis DNA dan pada akhirnya mencegah penggunaan dari thymidine.2.1.1.1 FarmakodinamikIdoxuridine mencegah replikasi virus DNA dan penggunaan klinisnya terbatas hanya pada herpes simplex virus2.1.1.2 IndikasiObat ini digunakan pada herpes simplex keratokonjungtivitis2.1.1.3 Dosis dan Sediaanlarutan/salep mata dengan kadar 0,1 0,5 %. Aplikasinya sebanyak sekali atau dua kali per jam.2.1.1.4 Efek SampingToksisitasnya termasuk alopecia, leukopenia, trombositopenia, dan kerusakan hati. Efek samping yang ditimbulkan dari obat idoxuridine adalah iritasi atau nyeri pada mata, kemerahan, gatal, pembengkakan di daerah mata, dan peningkatan sensitivitas pada cahaya dan sorotan.

2.1.2AcyclovirArdena Maulidia160110110092

Acyclovir adalah sebuah turunan guanosine acyclic dengan aktivitas klinik yang dapat melawan HSV-1, HSV-2, dan VZV. Aktivitas in vitro melawan Epstein Barr Virus (EBV), CMV, dan HHV-6 telah ada namun masih lemah.2.1.2.1Farmakodinamik-Mekanisme of actionAcyclovir membutuhkan 3 langkah fosforilasi untuk aktivasi. Pertama, berubah menjadi monophosphate oleh thymidine kinase dan kemudian menjadi diphosphate dan triphosphate oleh sel enzim host. Karena membutuhkan kinase virus untuk mengawali fosforilasi, acyclovir menjadi teraktivasi secara selektif dan metabolit aktif terakumulasi hanya di dalam sel yang terinfeksi.Acyclovir triphosphate mencegah sintesis DNA virus dengan 2 mekanisme : kompetisi dengan deoxyGTP untuk DNA polymerase virus,menghasilkan ikatan dengan template DNA sebagai irreversible kompleks, dan terminasi rantai diikuti dengan penggabungan ke dalam DNA virus.2.1.2.2FarmakokinetikBioavaibilitas dari oral acyclovir adalah 15-20% dan tidak dipengaruhi oleh makanan. Bentuk atau sediaan intravena sudah tersedia. Sediaan topical menghasilkan konsentrasi tinggi pada lesi herpes namun konsentrasi pada sistemik tidak terdeteksi melalui rute ini.Acyclovir dibersihkan secara primer oleh filtrasi glomerulus dan sekresi tubular. Waktu paruhnya mendekati 3 jam pada pasien dengan fungsi renal yang normal dan 20 jam pada pasien yang anuria. Aciclovir dapat dengan mudah dibersihkan dengan mudah melalui hemodialisis tetapi tidak dengan peritoneal dialisis. Aciclovir dapat menyebar dengan mudah kedalam jaringan dan cairan tubuh. Konsentrasi cairan serebrospinal adalah 50% dari nilai serum. 2.1.2.3IndikasiArdena Maulidia160110110092

Acylovir diindikasikan untuk pengobatan infeksi dari HVS dan VZV, termasuk : Herpes simplex genitalis ( pengobatan dan pencegahan ). Herpes genitalis primer dan pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu ( immunocompromised ). ( acyclovir ointment ) Pengobatan awal dan berulang lesi pada kulit yang tekena virus herpes yang tidak mengancam kehidupan. ( acyclovir ointment ) Gejala herpes simplex labialis yang timbul berulang pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang normal. ( topical acyclovir ) Pengobatan infeksi mucocutaneous HVS pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu baik yang kronis dan berulang, infeksi VZV, dan radang otak ( encephalitis ) karena HSV. ( parenteral acyclovir ) Herpes zoster ( shingles ). Pengobatan infeksi varicella-zoster virus, baik awal maupun berulang. ( oral acyclovir) Cacar akut ( chickenpox ) pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu ( immunocompromised ). Herpes simplex encephalitis ( radang otak ). Neonatal HSV. Infeksi akut mukokutan HSV pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu ( immunocompromised ). Herpes simplex keratitis ( radang kornea ). Herpes simplex blepharitis ( radang kelopak mata ). Bells Palsy ( paralisis perifer saraf otak ke-7 / nervus fasialis ).2.1.2.4Kontraindikasi Hipersensitifitas pada acyclovir, valacyclovir, atau komponen lain dari formula. Penggunaan acyclovir pada wanita hamil masuk dalam kategori B ( tidak menunjukkan resiko bagi janin, kecuali penurunan fertilitas pada kehamilan trimester pertama, sedangkan pada trimester berikutnya tidak didapatkan bukti adanya resiko ).Ardena Maulidia160110110092

Pemakaian acyclovir pada ibu hamil tidak dianjurkan. Penggunaan pada ibu menyusui harus disertai peringatan.2.1.2.5Efek SampingTerapi sistemik Biasanya pada 1% pasien reaksi obat pada terapi sistemik baik oral maupun intravena dapat menyebabkan kerugian, diantaranya : mual, muntah, diare, dan sakit kepala. Pada dosis tinggi dapat terjadi halusinasi. Infrequent adverse effect (0,1-1% pasien), termasuk : vertigo, pusing, pening, bingung, edema, arthralgia, sakit tenggorokan, konstipasi, abdominal pain, lemas. Rare adverse effect (0,1% pasien), termasuk : koma, serangan jantung, neutropenia, leukopenia, crystalluria, anorexia, kelelahan, hepatitis, Stevens-Johnson syndrome, toxic epidermal necrolysis dan atau anaphylaxis. Adverse effect tambahan yang biasanya terjadi pada 1% pasien, ketika aciclovire masuk melalui intravena, termasuk encephalopathy dan injeksi, dapat menyebabkan : iritasi dan kerusakan jaringan lokal, kerusakan ginjal, dan kristalisasi acyclovir pada ginjal.

Terapi Topikal Krim topikal acyclovir biasanya dioleskan pada kulit kering atau mengelupas atau pada keadaan panas menyengat. Infrequent adverse effect adalah erytrhema atau gatal-gatal. Ketika digunakan pada mata, biasanya dihubungkan (1% pasien) dengan gejala dingin. Infrequently ((0.11% of pasien), ophtalmic acyclovir dihubungkan dengan reaksi alergi.Ardena Maulidia160110110092

Toxicity Sejak acyclovir diketahui dapat juga bergabung masuk kedalam sel DNA, terjadi mutagen kromosom, oleh karena itu, sebaiknya dihindarkan selama masa kehamilan. Meskipun tidak pernah terlihat dapat menyebabkan efek karsinogenik. Toksisitas akut dapat terjadi pada pemberian oral lebih dari 1g/kg, karena rendahnya bioavabilitas pada administrasi secara oral.

2.1.3ValacyclovirSiti Mardhiyah160110110140

Obat Antiviral. Obat ini merupakan pro-drug untuk aciclovir. Valacyclovir merupakan L-Valyl ester di Acyclovir. 2.1.3.1 FarmakodinamikMerupakan ester L-valil dari acyclovir. Secara cepat diubah menjadi acyclovir setelah pemberian oral, mencapai kadar serum tiga atau lima kali lebih tinggi dari acyclovir oral dan mendekati hasil dari pemberian ayclovir intravena. Mekanisme kerja identik dengan acyclovir.2.1.3.2 Farmakokinetik Valacyclovir dengan cepat berubah menjadi acyclovir setelah administrasi oral via intestinal dan hepatic metabolism pertama. Pada serum level, dihasilkan 3-5 kali lebih banyak dibandingkan dengan oral acyclovir dan hampir mendekati acyclovir intravena. Bioavailabilitas oral adalah 54 % dan level cairan cerebrospinal adalah 50% dalam serum. Half- life eliminasi 2,5-3,3 jam.Valacyclovir dapat digunakan pada pengobatan genital herpes pertama atau berulang, pengobatan pada genital herpes yang kambuh secara berkala, dan sebagai pengobatan satu hari untuk orolabial herpes. Satu kali sehari dosis dari Valacyclovir (500 mg) untuk pengobatan terus-menerus pada orang dengan genital herpes berulang, telah memperlihatkan penurunan pada transmisi seksual. Uji perbandingan dengan acyclovir untuk pengobatan pada pasien penderita zoster; kecepatan penyembuhan kutaneus sama namun Valacyclovir membuat durasi rasa sakit dari penyakit zoster menjadi lebih pendek. Valacyclovir juga terbukti efektif mencegah penyakit CMV setelah transplantasi organ jika dibandingkan dengan placebo.Valacyclovir pada umumnya mempunyai toleransi yang baik walaupun mual, muntah, atau ruam sesekali terjadi. Agitasi, pusing, sakit kepala, elevasi enzim liver, anemia, dan neutropenia jarang terjadi. Pada dosis tinggi, kebingungan,halusinasi, dan seizure dapat terjadi. Pasien AIDS yang menerima Valacyclovir dengan dosis tinggi secara terus-menerus bisa meningkatkan kejadian intoleransi gastrointestinal dan thrombotic microangiopathies.2.1.3.3 IndikasiSiti Mardhiyah160110110140

Valacyclovir diindikasikan untuk pengobatan infeksi dari HVS dan VZV, termasuk : Herpes simplex genitalis ( pengobatan dan pencegahan ). Pengurangan penularan HSV dari individu dengan infeksi berulang kepada individu yang tidak terinfeksi. Herpes zoster ( shingles ). Mencegah penyakit CMV ikut terbawa pada transplantasi organ.2.1.3.4 KontraindikasiKeampuhan dan keamanan dari valacyclovir tidak terdapat pada : Pasien HIV yang terkena genital herpes dengan jumlah sel CD4+ 100 sel/mm3 ( immunocompromised ). Pasien < 12 tahun dengan herpes labialis. Pasien < 12 tahun atau 18 tahun dengan chickenpox. Pasien < 18 tahun dengan herpes genitalis. Pasien < 18 tahun dengan herpes zoster. Neonatal dan bayi ( sebagai terapi untuk menahan infeksi HSV yang ikut terbawa). Kontraindikasi dengan pasien yang mempunyai reaksi hipersensitivitas yang sangat signifikan ( misal araphylaxis) pada valacyclovir, aciclovir, atau komponen-komponen dari obat tersebut.

Kontraindikasi valaciclovir pada pasien yang terinfeksi HIV dapat menyebabkan thrombotic thrombocytopenic purpura dan hemolytic uremic syndromes yang menyebabkan kegagalan ginjal. Pada pasien ini lebih baik diberi aciclovir.2.1.3.5 Efek samping Siti Mardhiyah160110110140

Biasanya reaksi sampingan obat (1% pasien) yang dihubungkan dengan terapi valaciclovir sama dengan untuk aciclovir, merupakan metabolit yang aktif, dan dapat menyebabkan : mual, muntah, diare, anal leakage, dan sakit kepala. Infrequent adverse effects (0.11% pasien) dapat menyebabkan: agitation, vertigo, confusion, pening, edema, arthralgia, sakit tenggorokan, konstipasi, abdominal pain, letih, dan kerusakan ginjal. Rare adverse effects (10mg dari prednisolone. Dosis oral kortikosteroid pada pagi hari sebelum operasi diikuti dengan 25-50 mg induksi, lalu dengan dosis serupa dari hydrocortisone 24 jam setelah operasi sedang dan 48-72 jam setelah operasi besar. Lanjutkan terapi oral setelah injeksi dihentikan.Laras Annisa F160110110128

(3) Acute adrenocortical insufficiencyDewasa : 100-500 mg 3-4 kali/24 jam tergantung dari keadaan dan kondisi pasien. Cairan dan elektrolit harus diadministrasikan dalam jumlah yang tepat untuk mengkoreksi gangguan metabolisme. Dosis juga dapat diberikan dalam bentuk intramuskular tetapi respon dapat lebih lambat.Anak-anak : 90% circulating corticosteroid berikatan dengan protein plasma. Hydrocortisone didegradasi cepat di hati dengan reduksi, terkonjugasi dengan glucuronic acid, dan diekskresikan di urin. 3) Indikasi Dalam kedokteran gigi, kortikosteroid digunakan untuk mengurangi tanda dan gejala dari reaksi inflamasi. Beberapa indikasi penggunaan kortikosteroid di kedokteran gigi antara lain oral ulceration, hipersensitivitas pulpa, postoperative sequelae, anafilaksis, dan reaksi alergi lain.Penanganan ulserasi pada mukosa oral biasanya menggunakan kortikosteroid topikal, contohnya triamcinolone topikal. Kortikosteroid ini dapat mengurangi gejala, tanpa memperhatikan penyebab dari ulserasi tersebut. Kondisi yang dapat diatasi antara lain denture/traumatic ulcers, RAS, erosive lichen planus, eritema multiform, pemfigus, desquamatif gingivitis dan stomatitis, geographic tongue, dan angular stomatitis (cheilitis). Kortikosteroid tidak dapat merubah pathogenesis pada lesi ulseratif kronis pada mukosa oral. Walaupun kelainan yang parah dengan manifestasi dermatologis dan mukosa seperti pemfigus, dapat ditangani dengan penggunaan glukokortikoid sistemik, namun untuk menangani ulserasi di mukosa oral perlu penggunaan glukokortikoid topikal. 4) Kontra indikasiRifa Rifatul M160110110104

Dalam kedokteran gigi, kortikosteroid digunakan untuk mengurangi tanda dan gejala dari reaksi inflamasi. Beberapa indikasi penggunaan kortikosteroid di kedokteran gigi antara lain oral ulceration, hipersensitivitas pulpa, postoperative sequelae, anafilaksis, dan reaksi alergi lain.Penanganan ulserasi pada mukosa oral biasanya menggunakan kortikosteroid topikal, contohnya triamcinolone topikal. Kortikosteroid ini dapat mengurangi gejala, tanpa memperhatikan penyebab dari ulserasi tersebut. Kondisi yang dapat diatasi antara lain denture/traumatic ulcers, RAS, erosive lichen planus, eritema multiform, pemfigus, desquamatif gingivitis dan stomatitis, geographic tongue, dan angular stomatitis (cheilitis). Kortikosteroid tidak dapat merubah pathogenesis pada lesi ulseratif kronis pada mukosa oral. Walaupun kelainan yang parah dengan manifestasi dermatologis dan mukosa seperti pemfigus, dapat ditangani dengan penggunaan glukokortikoid sistemik, namun untuk menangani ulserasi di mukosa oral perlu penggunaan glukokortikoid topikal. 5) Efek SampingEfek utama dari penggunaan triamcinolone (glukokortikoid) pada rongga mulut adalah meningkatnya kerentanan terhadap infeksi oportunistik, meliputi infeksi candida (candidiasis) dan infeksi yang disebabkan oleh virus herpes. Sifat antiinflamasi dan imunosupresan dari kortikosteroid dapat menghasilkan proteksi terhadap kerusakan periodontal. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat memperparah osteoporosis yang akan berdampak pada penyakit periodontal. 6) Interaksi dengan ObatRifa Rifatul M160110110104

Aspirin dan NSAID tidak boleh diberikan pada pasien dengan penggunaan kortikosteroid jangka panjang. Kedua obat tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan dan ulserasi gastrointestinal. Obat antifungal amphotericin dapat meningkatkan risiko corticosteroid-induced hypokalemia, sedangkan ketoconazole dapat menghambat metabolism kortikosteroid di hati.7) Sediaan dan DosisKeuntungan aplikasi glukokortikoid secara topikal sangat besar ketika terdapat kontak maksimal dengan jaringan. Obat ini biasanya dicampurkan dengan pasta yang dapat menempel dengan mukosa dan tahan terhadap pelarutan serta perpindahan. Salah satu vehicle ini adalah carboxymethylcellulose in a base of polyethylene resin and mineral oil (Orabase), biasanya tersedia dengan atau tanpa glukokortikoid.Sediaan triamcinolone yang biasa digunakan di kedokteran gigi adalah triamcinolone acetonide (nama generik) dengan nama dagang kenalog in orabase, dosis untuk orang dewasa yaitu 2-3 kali per hari, digunakan secara topikal. Sediaannya dalam bentuk pasta 0.1% dengan gelatin, pectin, dan sodium carboxymethylcellulose dalam polyethylene dan mineral oil base.8) Macam/JenisRifa Rifatul M160110110104

(1) Triamcinolone Acetonide, Aerosol(2) Triamcinolone Acetonide, Parenteral (3) Triamcinolone Hexacetonide (4) Triamcinolone, Oral9) Aplikasi pada KG(1) Oral lesi inflamasi /ulser Dewasa: Oral topikal: Tekan setetes kecil (sekitar 1 / 4 inci) ke lesi sampai selapis tipis, jumlah yang lebih besar mungkin diperlukan untuk beberapa lesi.

(2) Aplikasikan sebelum tidur atau sesudah makan bila aplikasi dibutuhkan sepanjang hari. 39

2.2.3.4 DexamethasoneGede Galang M160110110030

Dexamethason adalah glucocorticoid jangka panjang yang sangat poten. Obat ini menyebabkan supresi dari pituitary adrenal axis. Digunakan pada shock akibat trauma, alergi darurat, rheumatoid arthritis, asma, nephrotic sindrom dan supresi dari inflamasi pada kelainan mata dan kulit. 1) FarmakokinetikAbsorbsi melalui Gastrointerstinal, diabsorbsi 77% pada plasenta, protein binding. Metabolisme sebagian besar di hati dan diekskresikan melalui urin. Dengan waktu paruh 190 menit.2) Farmakodinamik(1) Menghambat migrasi leukosit(2) Mengurangi produksi mediator inflamasi dan menurunkan permeabilitas kapiler yang tinggi(3) Menekan respon imun normal3) IndikasiInflamasi, nyeri berat (misalnya setelah root canal treatmant), mengontrol pembengkakan setelah bedah mulut atau bedah periodontal.4) KontraindikasiHipersensitivitas, infeksi yang belum ditangani, infeksi sistemik virus atau jamur.5) Efek SampingOsteoporosis, pepticulser, glaukoma dan fraktur, pancreatic dysfunction dan pancreatitis, meningkatkan nafsu makan, perubahan kulit, meningkatkan kemungkinan terkena infeksi, candidiasis.6) Interaksi ObatNury Raynuary160110110006160110110030

(1) Aspirin atau etanol: Meningkatkan aktivitas dexamethasone(2) Ephedrine, cholestyamin, phenytoin, phenorbarbital, dan rifampicin: Menurunkan efek kombinasi.7) DosisDosis dari dexamethasone adalah 0,5-5mg/hari oral, 4-20 mg/hari IM/IV 0,1 topikal krim sebagai dexamethasone sodium pospat dan trimethyl asetat.Untuk Dewasa: 0.75-9 mg/hariAnak-anak 1 bulan 18 tahun: 10-100 microgram/kg/hari dapat ditingkatkan sampai mcg/kg/hari dalam situasi darurat.

2.2.3.5 BetamethasoneBethametasone merupakan corticosteroid dengan aktivitas utama glucocorticoid. Nama dagang: Celeston, Bentason, Benoson, Betnesol , Valisone Scalp Lotion, Betacort, Celestoderm-V, Celestoderm-V/2, Prevex B , Betaprolene, Diprolene Glycol, Taro-Sone, Topilene, ratio-Topilene, ratio-Topisone1) FarmakodinamikBetamethasone mencegah dan mengendalikan peradangan dengan mengendalikan laju sintesis protein, menekan migrasi leukosit PMN dan fibroblast, dan menurunkan permeabilitas kapiler dan stabilisasi lisosomal.2) FarmakokinetikAbsorpsi : GITDistribusi :melalui jaringan tubuh, dapat masuk ke placenta dan ASIMetabolism :HeparEkskresi : urine

3) IndikasiNury Raynuary160110110006160110110030

Alergi dan penyakit inflamasi, congenital adrenal hyperplasia, penyakit kulit, asma, rheumatoid arthritis, penyakit autoimmune (cth: SLE)4) KontraindikasiHipersensitivitas, infeksi akut systemic dan infeksi jamur systemic5) Efek SampingGangguan gastrointestinal, meningkatkan nafsu makan, pusing, lelah, merasa lemah, perubahan kulit, depresi, psikosis, DM, perubahan sikap, sulit tidur.6) Interaksi Obat(1) Thiazide diuretik : hiperglikemia, hypokalemia(2) NSAIDs: Insidensi peptic ulcer, dan GI bleeding, respon anti koagulan berubah, dosis Antidiabetes dan antihipertensi harus ditingkatkan, menurunkan serum konsentrasi salisilat dan antimuskarinik, menurunan anefikasi (carbamezapine, fenitoin, promidione, barbiturate, rifampicin).7) DosisDewasa : 0,5 5 mg /hariAnak-anak1 bulan, 100.000 U setelah makan 4x sehari biasanya untuk 7 hari; dilanjutkan selama 48 jam setelah lesi/gangguan menghilangAlldea Di Banuasenza160110110067

Candidosis usus dan esophagus, per oral, DEWASA 500.000 U 4x/hari; ANAK >1 bulan 100.000 U 4x/hari; dilanjutkan selama 48 jam setelah penyembuhan klinisCandidosis vaginalis, per vaginal, DEWASA masukkan 1-2 ovula saat malam untuk paling sedikit 2 minggu.2.3.2.6 Efek SampingNistatin dapat ditoleransi dengan baik. Kadang-kadang dapat dijumpai efek samping yang ringan dan kelainan gastrointestinal yang bersifat sementara seperti diare, mual, muntah yang terjadi setelah pemberian oral. Selain itu, terdapat keluhan itama yang berkaitan dengan nistatin itu sendiri, yaitu rasanya yang pahit.

67

2.3.3 KetokonazoleGede Galang M160110110030

Ketoconazole adalah suatu derivat imidazole-dioxolane sintetis yang memiliki aktivitas antimikotik yang poten terhadap dermatofit dan ragi, misalnya Tricophyton Sp, Epidermophyton floccosum, Pityrosporum Sp, Candida Sp. Ketoconazole bekerja dengan menghambat enzim sitokrom jamur sehingga mengganggu sintesis ergosterol yang merupakan komponen penting dari membran sel jamur. Obat jenis ini jarang diguankan karena toksisitasnya dan tersedianya azoles yang lain. Obat ini merupakan obat pertama antifungal agen yang diterima untuk perawatan dari mycoses sistemik yang dalam2.3.3.1 FarmakodinamikKetoconazole merupakan derivat imidazole dioxolane sintesis yang memiliki aktifitas antimikotik yang poten terhadap dermatofit misalnya: Trichopyton sp., Epidermophyton floccosum dan Microsporum sp. serta terhadap ragi. Khususnya efek terhadap Pityrosporum sp. lebih dikenal.Krem Nizoral biasanya cepat menghilangkan gatal pada kulit yang terinfeksi dermatofit dan ragi, demikian pula pada kondisi kulit dengan adanya Pitysporum sp. Perbaikan gejala telah terlihat sebelum tanda-tanda penyembuhan dijumpai. Ketoconazole bekerja dengan menghambat "Cytochrome P450" jamur, dengan mengganggu sintesa ergosterol yang merupakan kmponen penting dari membran sel jamur.2.3.3.2 FarmakokinetikGede Galang M160110110030

Krem Nizoral tidak ditemukan dalam darah setelah penggunaan topikal.2.3.3.3 Indikasi1) Infeksi pada kulit, rambut, dan kuku (kecuali kuku kaki) yang disebabkan oleh dermatofit dan atau ragi (dermatophytosis, onychomycosis, candida perionyxixs, pityriasis versicolor, pityriasis capitis, pityrosporum, folliculitis, chronic mucocutaneus candidosis), bila infeksi ini tidak dapat diobati secara topikal karena tempat lesi tidak dipermukaan kulit atau kegagalan pada terapi topikal. 2) Infeksi ragi pada rongga pencernaan. 3) Vaginal kandidosis kronik dan rekuren kandidosis. Pada terapi lokal penyembuhan infeksi yang kurang berhasil. 4) infeksi mikosis sistemik seperti kandidosis sistemik, paracoccidioidomycosis, histoplasmosis, coccidioidomycosis, blastomycosis. 5) Pengobatan profilaksis pada pasien yang mekanisme pertahanan tubuhnya menurun (keturunan, disebabkan penyakit atau obat), berhubungan dengan meningkatnya risiko infeksi jamur. Ketoconazole tidak dipenetrasi dengan baik ke dalam susunan saraf pusat. Oleh karena itu jamur meningitis jangan diobati dengan oral ketoconazole.2.3.3.4 Kontraindikasi1) Penderita penyakit hati yang akut atau kronik. Gede Galang M160110110030

2) Hipersensitif terhadap ketoconazole atau salah satu komponen obat ini. 3) Pada pemberian peroral ketoconazole tidak boleh diberikan bersama-sama dengan terfenadin, astemizol, cisaprid dan triazolam. 4) Wanita hamil.2.3.3.5 Efek Samping Sediaan peroral: 1) Dispepsia, nausea, sakit perut dan diare. 2) Sakit kepala, peningkatan enzim hati yang reversibel, gangguan haid, dizzines, paraesthesia dan reaksi alergi. 3) Thrombositopenia, alopecia, peningkatan tekanan "intracranial pressure" yang reversibel (seperti papiloedema, "bulging fontanel" pada bayi). 4) Impotensi sangat jarang. 5) Gynaecomastia dan oligospermia yang reversibel bila dosis yang diberikan lebih tinggi dari dosis terapi yang dianjurkan. 6) Hepatitis (kemungkinan besar idiosinkrasi) jarang terjadi (terlihat dalam 1/12.000 penderita).7) Reversibel apabila pengobatan dihentikan pada waktunya.

2.3.3.6 KomposisiTiap tablet mengandung ketoconazole 200 mg.2.3.3.7 DosisTidak boleh digunakan untuk anak dibawah umur 2 tahun. Gede Galang M160110110030

Pengobatan kuratif:Dewasa: 1) Infeksi kulit, gastrointestinal dan sistemik: 1 tablet (200 mg) sekali sehari pada waktu makan. Apabila tidak ada reaksi dengan dosis ini, dosis ditingkatkan menjadi 2 tablet (400 mg sehari). 2) Kandidosis vagina: 2 tablet (400 mg) sekali sehari pada waktu makan. Anak-anak: 3) Anak dengan berat badan kurang dari 15 kg: 20 mg 3 kali sehari pada waktu makan.4) Anak dengan berat badan 15-30 kg: 100 mg sekali sehari pada waktu makan. 5) Anak dengan berat badan lebih dari 30 kg sama dengan dewasa. 6) Pada umumnya dosis diteruskan tanpa interupsi sampai minimal 1 minggu setelah semua simptom hilang dan sampai kultur pada media menjadi negatif.

Pengobatan profilaksis: 1 tablet (200 mg) sekali sehari pada waktu makan.

76

2.3.4 MiconazoleNury Rainuary160110110006

Mikonazole merupakan obat imidazole antijamur pertama yang penggunaannya dapat diterapkan baik secara topikal maupun parenteral. Miconazole bersifat fungisid kuat, relatif stabil, mempunyai spektrum yang luas baik terhadap jamur sistemik maupun jamur-jamur dermatofit.

2.3.4.1 FarmakodinamikMekanisme kerja miconazole yaitu menghambat sintesis ergosterol membran sel jamur yang akan menghancurkan sel jamur dan meningkatkan permeabilitas membran sel jamur sehingga membuat kebocoran nutrients.2.3.4.2Farmakokinetik Absropsi : GITMetabolisme : HeparEkskresi : 10-20% dosis melalui urine, 50% melalui feses, 2.3.4.3 Indikasi Cutaneous candidiasis dan vulvovaginitis, Oral candidiasis juga dapat diobati secara efektif. Penggunaan topikal untuk pengobatan infeksi kulit karena epidermophyton, microsporum, dan trichophyton. Secara parenteral unutk pengobatan karena coccidioidomycosis, paracoccidiodomycosis, cryptococcosis, candidiasis sistemik, dan mucocutaneous candidiasis.

2.3.4.4 Kontraindikasi Pada pasien alergi terhadap Mikonazol atau bahan tambahan yang terdapat pada krim.2.3.4.5Efek SampingNury Rainuary160110110006

Efek samping penggunaan miconazole topikal sangat jarang, namun ketika terjadi yaitu sensasi terbakar, maserasi kulit, gatal, dan kemerahan. Efek lainnya yaitu reaksi hipersensitif dan gangguan gastrointestinal.2.3.4.6Dosis dan Sediaan1. Oropharingeal candidiasisDewasa : dalam bentuk gel berisi 20 mg/g (24mg/ml) : 5-10 ml setelah makan 4x sehari, lanjutkan pengobatan sampai 48 jam setelah lesi sembuh. Untuk lesi oral 4x sehari 5-7 hari, dilanjutkan sampai 48 jam setelah lesi sembuh.Anak-anak : dalam bentuk gel berisi 20 mg/g : 1 mth-2 y: 2.5 ml bid. 2-6 yr: 5 ml bid. >6 yr: 5 ml 4x sehari. Lanjutkan 48 jam setelah lesi sembuh.2.Vaginal Candidiasis Dewasa: 100 mg pada malam hariuntuk 7-14 hari, atau 100 mg bid for 7 days; 200 or 400 mg (pessaries) setiap hari untuk 3 hariatau 1200 mg (pessary) dalam 1 dosis tunggal.3.Infeksi jamur pada kulitDewasa dan anak : 2% cream 1x sehari2.3.4.7 Interaksi ObatPenggunaan bersama dengan obat Hypoglycemic Agents dapat menyebabkan meningkatnya efek oral hypoglycemic. Penggunaan bersama dengan obat Cisapride dapat menyebabkan meningkatnya tingkat cairan plasma cisapride karena metabolisme yang menurun. Penggunaan bersama dengan obat Phenytoin dapat meningkatkan efek phenytoin karena dapat menyebabkan kerusakan hati.Nury Rainuary160110110006

2.3.6.8 Kegunaan di Kedokteran GigiPerawatan oral candidiasis dan jamur oral lainnya.

80

2.3.5 ClotrimazoleSiti Mardhiyah160110110140

Clotrimazole adalah derivat imidazole dan memiliki spektrum aksi in vivo, yang mana termasuk dermatophytes, jamur, ragi dll.

Gambar 6. Struktur Kimia Clotrimazole.2.3.5.1 FarmakokinetikPenguraian yang lambat dalam mulut menyebabkan pengikatan clotrimazole pada mukosa mulut, yang secara bertahap dilepaskan untuk menjaga konsentrasi fungistatic setidaknya selama beberapa jam. Obat yang ditelan bervariasi tetapi sulit atau sedikit terserap. Obat ini dimetabolisme di hati dan dieliminasi dalam feses bersama dengan obat yang tidak terserap. Pasien diyakini lebih senang mengkonsumsi clotrimazole dibandingkan dengan nistatin. 2.3.5.2 FarmakodinamikSpektrum antifungal dan mekanisme kerja sama dengan obat golongan azol lainnya. Clotrimazole beraksi melawan fungi dengan menghambat sintesis ergosterol. Penghambatan sintesis ergosterol menyebabkan perusakan struktural and fungsional membran sitoplasma. Obat ini juga beraksi melawan Trichomonas vaginalis, mikroorganisme gram positif (streptococci/staphylococci) and mikroorganisme gram negatif (Bacteroides/ Gardnerella vaginalis).2.3.5.3 IndikasiSiti Mardhiyah160110110140

Obat ini digunakan untuk bermacam-macam infeksi mukosa dan kutaneus. Clotrimazol berguna untuk pengobatan topikal dari kandidiasis oral pada pasien dengan AIDS. Obat ini juga diindikasikan untuk infeksi pada daerah (vaginitis) yang disebabkan oleh jamur (sebagian besar Candida) dan superinfeksi yang disebabkan bakteri yang sensitif clotrimazole; infeksi leucorrhoea yang disebabkan yeast fungi.2.3.5.4 KontraindikasiPasien dengan hipersensitivitas terhadap Clotrinazole, serta alergi terhadap antifungal golongan azol.2.3.5.5 Efek SampingObat ini bisa ditoleransi dengan baik tetapi beberapa pasien dilaporkan memilki reaksi kulit seperti kemerahan, perih atau terbakar. Iritasi terkait dengan clotrimazole topikal, meskipun tidak mungkin, secara kualitatif mirip dengan iritasi yang berhubungan dengan miconazole. Kadang-kadang, gangguan pencernaan minor dapat terjadi akibat konsumsi oral obat. 2.3.5.6 Kegunaan di Kedokteran GigiUntuk pengobataan kandidiasis oral, dapat juga diberikan kepada pasien AIDS yang menderita kandidiasis oral.2.3.5.7 Dosis dan Sediaan

Untuk pengobatan kandidiasis oral, clotrimazole tersedia sebagai 10-mg tablet. Satu troche dilarutkan dalam mulut lima kali sehari selama 2 minggu adalah regimen standar untuk kandidiasis orofaringeal. Klotrimazol juga tampaknya berguna untuk pengobatan topikal dari kandidiasis oral pada pasien dengan AIDS. Untuk kandidiasis kulit dan dermatophytoses, krim 1% atau lotion setara dengan miconazole topikal.83

Fathin Vania R.160110110116

2.3.6 ItraconazoleItraconazole adalah agen antifungal tiazole yang tidak larut dalam air. Itraconazole memiliki spectrum yang lebih luas dan daya kerja yang lebih cepat dibandingkan agen antifungal golongan azole lainnya. Seperti ketoconazole, penyerapan itraconazole dari saluran cerna juga lebih baik saat diberikan bersama dengan makanan. Itraconazole efektif melawan jamur superfisial dan infeksi jamur yang lebih dalam.2.3.6.1 FarmakodinamikItraconazole bekerja dengan menghalangi sintesis ergosterol pada fungi. Setelah administrasi oral, itraconazole didistribusi secara luas ke jaringan-jaringan tubuh. . 2.3.6.2 FarmakokinetikMirip dengan ketokonazole, itrakonazole diabsorpsi dengan baik di system gastrointestinal ketika diberikan bersama makanan. Berikatan kuat dengan plasma protein (>99%) dan memiliki waktu paruh yang lama, kurang lebih 20 jam setelah dosis tunggal. Didistribusikan ke seluruh tubuh segera setelah administrasi oral. Konsentrasi itraconazole dalam saliva dan cairan cerebrospinal dapat diabaikan, tetapi konsentrasi pada jaringan dapat mencapai 2 hingga 5 kali lipat lebih tinggi daripada konsentrasi plasma. Obat ini sebagian besar diabsorpsi di liver dan sebagian kecil dieliminasi dalam empedu. Ekskresinya melalui urine.2.3.6.3 IndikasiItraconazole memiliki aktivitas antifungal yang efektif terhadap paracoccidioidomycosis, blastomycosis, aspergillosis, histoplasmosis, sporotrichosis, candidiasis, dan berbagai dermatofitosis. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa itraconazole efektif untuk terapi supresif dan perawatan primer histoplasmosis pada pasien yang seropositif mengidap HIV. Fathin Vania R.160110110116

2.3.6.4 KontraindikasiHipersensitivitas sebelumnya, ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, dan orang usia lanjut.2.3.6.5 Efek SampingEfek sampingnya meliputi reaksi hipersensitivitas misalnya ruam. Menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti mual dan muntah. Efek samping lainnya yaitu depresi, pusing, vertigo, hilangnya libido, hepatoksisitas, hipokalemia, hipertensi, hipetrigliseridemia, dan gagal jantung pada pasien yang rentan.2.3.6.6 Interaksi ObatAda beberapa interaksi obat yang penting pada itraconazole.1) Itraconazole menghambat metabolism antihistamin terfenadine dan astemizole sehingga dapat menyebabkan disritmia jantung.2) Itraconazole meningkatkan efek antikoagulan pada warfarin.3) Fenitoin antikonvulsan dan carbamazepine dan H2 blockers seperti cimetidine menurunkan konsentrasi itraconazole dalam plasma.4) Itraconazole meningkatkan konsentrasi plasma midazolam, ciclosporin, dan glikosid jantung seperti digoxin.Fathin Vania R.160110110116

5) Itraconazole menghambat metabolisme obat antispasmodik yaitu cisapride, sehingga dapat menyebabkan aritmia ventrikel.6) Itraconazole dapat menurunkan efikasi kontraseptif oral.7) Itraconazole meningkatkan risiko myopathy ketika diadministrasikan bersamaan dengan obat antikolesterol yaitu simvastatin.8) Itraconazole meningkatkan konsentrasi plasma obat-obatan calcium channel blockers seperti felodipine dan nifedipine dan hal ini menyebabkan peningkatan efek samping seperti edema tungkai. 9) Farmakokinetik itraconazole terganggu jika dikombinasikan dengan obat-obatan sitotoksik yang digunakan pada perawatan leukemia.10) Rifampicin meningkatkan metabolisme dan eliminasi itraconazole dan hal ini dapat menyebabkan penurunan aksi antifungal.11) Penggunaan itraconazole bersamaan dengan amphotericin menurunkan aktivitas amphotericin dibandingkan dengan penggunaan tunggal.2.3.6.7 Kegunaan dalam Kedokteran GigiDigunakan sebagai perawatan infeksi fungal pada rongga mulut.2.3.6.8 Dosis dan SediaanTersedia dalam bentuk kapsul 100 mg dan cair 10 mg/mL. Dosis 100 mg perhari selama 15 hari.

86

Bianda Taris I.160110110042

2.3.7 FluconazoleFlukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14 alpha-demethylation (biosintesis ergosterol) jamur yang sangat selektif. Pengurangan ergosterol, yang merupakan sterol utama yang terdapat di dalam membran sel-sel jamur, dan akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran. Secara in vitro flukonazol memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans dan Candida spp.Spektrum aktivitas antijamurnya sama dengan ketokonazol. Fluconazole memiliki spectrum yang luas meliputi Blastomyces dermatidis, Cocciodioides immitis, Cryptococcus neoformus, Histoplasma capsulatum dan Paracoccidioides brasiliensis. Obat ini aktif terhadap Candida albicans, C. tropicalis, dan C. parapsilosis, namun tidak peka terhadap C. krusei dan Torulopsis glabrata (sekarang diklasifikasikan ke dalam spesis Candida glabrata). Fluconazole aktif di dalam dermatophytosis namun tidak efektif di dalam aspergillosis dan mucormycosis. Pada pasien penderita neutropenik, manifestasi resistensi fluconazole yang paling umum adalah pada seleksi spesis Candida yang tidak biasa dijumpai, seperti C. krusei, yang memiliki resistensi intrinsik terhadap obat ini.2.3.7.1 FarmakodinamikMengganggu biosintesis ergosterol dengan cara mengganggu demetilasi ergosterol pada jalur sitokrom P450 (demetilasi perkusor ergostrol). Ergosterol merupakan sterol utama untuk mempertahankan integritas membrane sel jamur. Cara kerjanya adalah menginhibisi enzim sitokrom P450 yang bertanggung jawab merubah lanoterol menjadi ergosterol sehingga dinding sel jamur menjadi permeable dan dinding sel hancur.2.3.7.2 FarmakokinetikBianda Taris I.160110110042

Flukonazol larut air dan cepat diabsorpsi sesudah pemberian oral, dengan 90% bioavailabilitas, 12% terikat pada protein. Obat ini mencapai konsentrasi tinggi dalam LCS, paru dan humor aquosus, dan menjadi obat pilihan pertama untuk meningitis karena jamur. Konsentrasi fungisidanya juga meningkat dalam vagina, saliva, kulit dan kuku.Pengobatan secara oral dengan fluconazole mengakibatkan terjadinya absorpsi obat secara cepat dan hampir sempurna. Konsentrasi serum identik diperoleh setelah pengobatan secara oral dan secara parenteral yang menunjukkan bahwa metabolisme tahap awal (first-pass metabolism) obat tidak terjadi. Konsentrasi darah naik sesuai dengan dosis dengan tingkat dosis yang bermacam-macam. Dua jam setelah pemberian obat secara oral dengan dosis 50 mg, konsentrasi serum dengan kisaran 1,0 mg/l dapat diantisipasi, namun hal ini terjadi hanya setelah dosis ditambah secara berulang-ulang hingga mencapai 2,0 sampai dengan 3,0 mg/l.Pengobatan fluconazole secara oral atau secara parenteral menyebabkan percepatan dan penyebaran distribusi obat. Tidak seperti obat antifungal azol jenis lainnya, protein yang mengikat fluconazole memiliki kadar yang rendah (sekitar 12%). Hal ini menyebabkan tingginya tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat. Tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat pada sebagian besar kelencar dan cairan tubuh biasanya melampaui 50% dari konsentrasi darah simultan.Tidak seperti obat anti jamur azole jenis lain, fluconazole tidak dapat dimetabolisme secara ekstensif oleh manusia. Lebih dari 90% dari dosis yang diberikan tereliminasi ke dalam urin sekitar 80% dalam bentuk obat-obatan asli (tidak berubah komposisinya) dan 10% dalam bentuk metabolit. Tidak ada indikasi induksi atau inhibit yang signifikan pada metabolisme fluconazole yang diberikan secara berulang-ulang.Sarana eliminasi utama dalam hal ini adalah ekskresi renal obat-obatan yang tidak dapat dirubah komposisinya. Pada pasien yang memiliki fungsi renal normal, terdapat sekitar 80% dari jumlah dosis yang diberikan tercampur dengan urin dengan bentuk yang tidak berubah dan konsentrasi lebih dari 100 mg/l. obat jenis ini dibersihkan melalui filtrasi glomerular, namun secara bersamaan terjadi reabsorpsi tubular. Fluconazole memiliki paruh hidup serum selama 20-30 jam, tetapi dapat diperpanjang waktunya jika terjadi gangguan pada fungsi renal, dengan pemberian dosis terhadap pasien yang memiliki tingkat filtrasi di bawah 50 ml/menit. Fluconazole akan hilang selama haemodialysis dan pada sejumlah kasus terjadi selama dialysis peritoneal. Sessi haemodialysis selama 3 jam dapat mengurangi konsentrasi darah hingga sekitar 50%.Bianda Taris I.160110110042

2.3.7.3 IndikasiFluconazole dapat digunakan untuk mengobati candidosis mukosa dan candidosis cutaneous. Selain itu, obat ini juga efektif untuk perawatan berbagai jenis gangguan dermatophytosis dan pityriasis versicolor.Fluconazole adalah jenis ramuan obat yang menjanjikan bagi perawatan penyakit candidosis stadium lanjut/berat pada pasien yang tidak menderita neutropenia, namun sebaiknya tidak digunakan sebagai pilihan utama pada pasien neutropenia kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Fluconazole telah terbukti bermanfaat untuk perawatan prophylaktat terhadap penyakit candidosis yang diderita oleh pasien pengidap neutropenik. Fluconazole tidak efektif untuk mengobati aspergillosis dan mucormycosis.Fluconazole merupakan jenis obat-obatan yang ampuh untuk mengatasi meningitis cryptococcal, tetapi tidak boleh dijadikan prioritas utama untuk pasien pengidap AIDS kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Fluconazole terbukti lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi dibandingkan amphotericin B untuk mengobati atau mencegah terjadinya cryptococcosis pada pasien penderita AIDS.Fluconazole saat ini menjadi jenis obat yang menjadi pilihan banyak dokter untuk mengobati pasien penderita meningitis coccidioidal. Syaratnya, pasien tersebut harus tetap mengkonsumsi fluconazole selama hidupnya agar mencegah munculnya kembali penyakit yang sama.Bianda Taris I.160110110042

2.3.7.4 KontraindikasiPenderita yang hipersensitif flukonazol. Flukonazol lebih baik tidak diberikan pada ibu hamil dan menyusui2.3.7.5 Efek SampingSakit kepala, nyeri abdominal, diare, dan pusing. Ruam pada kulit bisa terjadi tapi jarang. Flukonazol bisa menyebabkan kerusakan hati pada kasus jarang. Fungsi hati harus dimonitor setelah beberapa hari penggunaan obat. Fluconazole adalah jenis obat yang dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang paling umum terjadi adalah gastrointestinal seperti nausea (mual) dan nyeri pada bagian perut, namun jarang yang memerlukan diskontinuasi perawatan, khususnya pada pasien yang menerima dosis hingga 400 mg/hari. Elevasi asimptomatik transient tingkat transaminase serum relatif biasa terjadi pada pasien penderita AIDS, dan pengobatan harus dihentikan pada pasien penderita hepatitis simptomatik atau penderita gangguan fungsi hati.Pasien penderita kanker atau AIDS memiliki kemungkinan untuk mengidap sindrom Stevens-Johnson (fatal exfoliative skin rashes), namun hubungan sebab akibat penyakit ini dengan fluconazole belumlah jelas, terutama jika penanganan dilakukan secara terus-menerus dengan obat-obatan jenis lain. Ada baiknya untuk menghentikan konsumsi fluconazole pada pasien penderita infeksi jamur superficial, di mana pasien tersebut mengalami pengelupasan kulit. Pasien penderita infeksi jamur stadium lanjut/berat yang juga mengalami pengelupasan kulit harus diawasi terus perkembangannya dan pemberian obat harus dihentikan jika terjadi luka yang serius atau erythrema multiforme.Berbeda dengan ketoconazole, fluconazole tidak menghambat metabolisme adrenal maupun steroid testicular manusia. Syaratnya, obat ini dikonsumsi dengan dosis yang tepat. Bianda Taris I.160110110042

2.3.7.6 Interaksi ObatKadar plasma fenitoin dan sulfoniluria akan meningkat pada penggunaan bersama flukonazol, sebaliknya bila flukonazol digunakan bersama warfarin dan sikloforin, kadarnya akan menurun, serta meningkatkan antikoagulan walaupun hanya penggunaan topikal.2.3.7.7 Kegunaan Dalam Kedokteran GigiFlukonazol merupakan antifungal yang digunakan di kedokteran gigi terutama infeksi candida oral maupun faringeal.2.3.7.8 Dosis dan SediaanFlukonazol tersedia dalam bentuk kapsul 50 dan 150 mg dan infus 2 mg/ml. Dosis tunggal 150 mg. Modifikasi dosis perlu dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal..Fluconazole merangsang terjadinya absorpsi secara sempurna pada saat dilakukan pengobatan secara oral, sehingga jenis pengobatan oral menjadi prioritas utama. Flukonazol dapat dipakai dengan atau tanpa makanan Jika pemberian obat pada pasien tidak memungkinkan untuk diberikan lewat mulut, maka fluconazole diberikan dalam bentuk larutan intravena, atau melalui infus dengan kadar infus 5-10 ml/menit.Vaginal candidosis dapat diobati dengan fluconazole oral dengan dosis 150 mg. Sedangkan Oropharyngeal candidosis diobati dengan dosis 50-200 mg/hari selama 1-2 pekan. Candidosis jenis Oesophageal dan mucocutaneus serta candidosis saluran kencing bagian bawah memerlukan fluconazole dengan dosis 100-200 mg/hari yang diberikan selama 2-4 pekan.Bianda Taris I.160110110042

Dosis yang disarankan untuk pasien penderita cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut adalah 400 mg/hari. Namun demikian, sejumlah praktisi klinik telah menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi untuk mengatasi infeksi-infeksi yang membahayakan nyawa pasien. Lama waktu atau durasi perawatan akan berbeda sesuai dengan kondisi pasien itu sendiri, bergantung pada sifat dan jangkauan infeksi serta penyakit yang mendahuluinya. Diperlukan sekurang-kurangnya 6-8 pekan lamanya untuk mengobati pasien penderita cryptococcosis yang tidak mengidap AIDS. Dosis yang disarankan untuk anak-anak adalah 1-2 mg/kg untuk jenis candidosis superficial dan 5 mg/kg untuk cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut.Pengobatan jangka panjang menggunakan fluconazole dengan tujuan menyembuhkan pasien cryptococcosis yang juga menderita AIDS harus dilakukan pada dosis 200 mg/hari. Untuk mencegah candidosis pada pasien penderita neutropenik, maka dosis yang diberikan adalah 100-400 mg/hari. Pasien-pasien yang memiliki resiko tinggi terhadap serangan infeksi stadium lanjut harus diobati dengan dosis 400 mg/hari dan hal ini harus dimulai beberapa hari menjelang munculnya gejala neotropenia dan berlangsung selama 1 pekan setelah jumlah neutrofil kembali pada kisaran 1 x 109/l.Pasien yang menderita gangguan renal harus diberi dosis normal selama 48 hari pertama pengobatan. Segera setelah itu, interval dosis harus dilipatgandakan sampai dengan 48 jam (dengan kata lain, dosis dikurangi setengahnya). Hal ini berlaku bagi pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 21-40 ml/menit. Sedangkan pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 10-20 ml/menit interval dosis adalah 72 jam.Pasien yang menderita haemodialysis secara reguler memerlukan dosis yang biasa yang diberikan setelah masing-masing tahap atau sesi dialysis.Bianda Taris I.160110110042

89

2.3.8 Caspofungin Rifa Rifatul M160110110104

Caspofungin adalah obat dari golongan Echinocandins yang merupakan obat antifungal baru yang telah diterima oleh FDA. Selain caspofungin, echinocandins juga termasuk didalamnya micafungin dan anidulafungin.Caspofungin bersifat larut dalam air, merupakan lipopeptida semisintetis yang didapat dari fermentasi Glarea lozoyensist yaitu echinocandin pertama yang diterima oleh FDA untuk kegunaan klinis. Aktivitas antifungalnya cukup luas, yaitu dapat melawan Candida, Pneumocytis, Aspergillus, dan Histoplasma. 2.3.8.1 FarmakodinamikMekanisme unik obat antifungal golongan echinocandins ini adalah inhibisi 1,3--D-glucan linkage pada dinding sel fungi. Caspofungin mengganggu pembentukan dinding sel dengan menghambat enzim 1,3--D-glucan synthase. 1,3--D-glucan ini sangat penting untuk pembentukan dinding sel serta menjaga keseimbangan osmotik. Karena mekanisme ini berbeda dengan amphotericin B dan golongan azole, maka penggunaan dengan antifungal lain dianjurkan, menjadi sinergis dalam melawan species cryptococcal. Caspofungin memperlihatkan efikasi teurapetik terhadap Candida yang lebih tinggi daripada amphoterisin B (pada pasien imunokompromise).

2.3.8.2 FarmakokinetikRifa Rifatul M160110110104

Caspofungin tidak diserap dengan baik melalui gastrointestinal tract. Caspofungin well-tolerated saat administrasi secara parenteral. Setelah injeksi intravena, caspofungin dieliminasi dari pembuluh darah dengan waktu paruh 9-11 jam. Katabolisme secara umum terjadi dengan hidrolisis dan N-acetylation, dengan ekskresi melalui urin dan feses. 97% berikatan dengan protein plasma. Tidak ada perubahan dosis bagi pasien dengan penyakit ginjal, namun sebaliknya untuk pasien dengan penyakit hati yaitu dapat meningkatkan konsentrasi plasma 55%-76%.2.3.8.3 IndikasiGolongan echinocandins lebih utama digunakan untuk candidal esophagitis dan candidemia, infeksi aspergillus, demam empiric neutropenia, dan hematopoietic stem cell transplant recipient. Caspofungin juga bermanfaat untuk mengobati aspergilosis invasive yang tahan terhadap obat antifungal lain. Caspofungin merupakan salah satu obat yang penting untuk pasien dengan infeksi jamur sistemik yang mengancam jiwa, yang tidak dapat mentoleransi amphoterisin B serta terapi golongan azole. Selain itu juga digunakan untuk esophageal candidiasis serta febrile neutropenic dengan suspek infeksi jamur.

2.3.8.4 KontraindikasiTri Rezky F Datau160110110055

Semua obat pada golongan Echinocandin tidak boleh digunakan pada anak-anak. 2.3.8.5 Efek SampingEfek samping yang ditimbulkan biasanya berupa rash, facial swelling, pruritus, sensation of warmth. 2.3.8.6 DosisDosis yang dianjurkan untuk candidemia dan terapi aspergillosis adalah infuse 70mg caspofungin asetat untuk hari pertama, selanjutnya 50mg/hari. Pada pasien yang tidak menimbulkan efek, dosis bisa ditambah menjadi 70mg per hari. Untuk pengobatan esophageal candidiasis, diobati dengan dosis 50 mg per hari. 2.3.8.7 Interaksi Obat Cyclosporin dapat meningkatkan konsentrasi plasma hingga 35%. Administrasi caspofungin yang berulang (100mg per hari) dapat ditoleransi dengan baik.2.3.9 Imidazole dan TriazoleImidazole dan Triazole (sama-sama disebut azole) merupakan sintesis senyawa yang termasuk golongan azole obat anti jamur. Imidazole dan Triazole adalah obat anti jamur bepsektrum luas yang termasuk ragi, Dermatofit dan berbagai spesies Hitoplasma, Coccidioides, Paracoccidiodes, Cladosporium, Phialophora, Blastomyces dan Aspergillus. Diketahui bahwa azol menghambat enzim yang terlibat dalam sintesis ergosterol jamur. Khusunya salah satu atom nitrogen dari cincin azol mengikat ke bagian heme dari sitokrom P450 enzim jamur lanosterol 14-alpa demethylase, mengambat konversi lanosterol untuk ergosterol. Penambahan ergosterol gagal membalikkan efek anti jamur in vitro. Dari mekanismenya menjelaskan bahwa kegiatan ini besifat senyawa terhadap beberapa prozoa dan bakteri ergosterol dan bukan merupakan konstituen membrane penting. Penambahan 14-alpa metal sterol seperti lanosterol yang konsentrasinya meningkat sebagai akibat dari terapi azol dan dapat menggangu membran sel bahkan di hadapan ergosterol . Robiyanti Saputri160110110018

Tindakan antijamur lainnya dianggap berasal dari ketokonazol dan obat-obatan serupa,dan terkait dengan perubahan yang disebabkan oleh lanosterol,meliputi penghambatan transportasi purin , gangguan respirasi mitokondria , dan perubahan komposisi dari nonsterol lipid membran. Resistensi terhadap imidazoles belum menjadi masalah yang signifikan secara klinis , namun dapat mengembangkan C. albicans.Kandidiasis mukosa Refractory pada pasien immunocompromised telah dianggap berasal dari Spesies Candida dengan resistansi silang.2.3.10 FlucytosineFlusitosin , analog fluorinated dari sitosin ( 5 - fluorocytosine ) ( Gambar 40-4 ) , adalah agen antimycotic sintetis oral efektif dalam pengobatan infeksi jamur sistemik , di infeksi tertentu yang disebabkan oleh ragi dan merupakan pirimidin fluorinated sintetis anti-metabolit yang bertindak dengan konversi untuk anti-metabolit 5-fluorouracil yang menghambat sintesis DNA. Hal ini efektif terhadap Cryptococcus neoformans dan beberapa strain Candida dan cetakan dermatiaceous penyebab yang chromoblastomycosis.Robiyanti Saputri160110110018

Gambar 3.2 Struktur FlucytosineFlusitosin memiliki spektrum antijamur terbatas dibandingkan dengan amfoterisin B dan terutama efektif terhadap Candida dan Cryptococcus. Flusitosin efektif untuk kriptokokosis, kandidiosis, kromomikosis, aspergilosis. Cryptococcus danCandidadapat menjadi resisten selama pengobatan denganflusitosin. 40 50% Candidasudah resisten sejak semula pada kadar100 g/mL flusitosin. Infeksi saluran kemih bagian bawah oleh Candidayang sensitif dapat diobati dengan flusitosin saja karena kadar obat ini dalam urin sangat tinggi. Invitropemberian flusitosin bersama amfoterisin B akan menghasilkan efek supraaditif terhadap C. neoformans, C. tropicalisdanC. albicansyang sensitif.2.3.10.1 FarmakodinamikFlusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan fosforilasi. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan Iangsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil. Keadaan initidak terjadi pada sel mamalia karena dalam tubuh mamalia flusitosin tidak diubah menjadi fluorourasil.2.3.10.2 FarmakokinetikFlusitosin baik diserap dari saluran gastrointestinal , dan konsentrasi plasma puncak dicapai dalam waktu 1 sampai 2 jam setelah pemberian oral . Obat ini didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh .Mencapai konsentrasi dalam cairan serebrospinal sekitar 65 % sampai 90 % dari plasma . Flusitosin memiliki paruh 3 sampai 6 jam dan diekskresikan tidak berubah dalam urin .2.3.10. 3 IndikasiRobiyanti Saputri160110110018

Kromoblastomikosis, meningitis (kombinasi dengan amfoterisin B). Digunakan sebagai pengobatan tambahan pada kandidiasis parah.2.3.10.4 Efek Samping Toksisitas utama flusitosin yaitu depresi sumsum tulang , yang mengakibatkan anemia , leukopenia , dan trombositopenia.Trombositopenia dapat menyebabkan perdarahan pasca operasi. Jika jumlah trombosit rendah (100.000) maka soket harus dikemas dan dijahit. perdarahan yang persisten mungkin memerlukan transfusi platelet. Leukopenia juga dapat terjadi menyebabkan gangguan penyembuhan.Efek ini berhubungan dengan dosis dan reversibel .Karena flusitosin diekskresikan terutama melalui ginjal ,disarankan untuk mengukur konsentrasi plasma dari obat secara berkala , terutama karena itu biasanya diberikan dengan yang sangat nefrotoksik amfoterisin B. Sebuah elevasi enzim hati dalam plasma dan hepatomegali terjadi pada sekitar 5% dari pasien yang menerima flusitosin . Terakhir, flusitosin dapat menyebabkan mual , muntah , diare , dan ( jarang ) enterocolitis parah . Efek toksik ini dapat terjadi karena pembentukan dan pelepasan 5 - fluorouracil oleh jamur dan usus mikroba . Efek pada struktur gigi dan mulut yaitu stomatitis dan perdarahan gingiva.2.3.10.5 Dosis dan SediaanKapsul 250 dan 500 mg. 50 150 mg/kgBB sehari dibagi dalam 4 dosis, lakukan penyesuaian dosis pada penderita insufisiensi ginjal.

92

2.4 MultivitaminArdena Malidia160110110092

Vitamin adalah senyawa kimia eksogen yang dibutuhkan oleh tubuh dengan jumlah sedikit untuk berbagai fungsi metabolisme tubuh dan dikategorikan sebagai nutrisi esensial. Vitamin tidak menghasilkan energi tapi digunakan secara khusus untuk pencegahan dan pengobatan penyakit defisiensi.Vitamin adalah salah satu elemen vital yang dibutuhkan pada proses metabolisme normal. Vitamin memiliki strktur bervariasi, tidak disintesis oleh tubuh sehingga diperoleh dari makanan dengan kuantitas yang sangat sedikit.Kekurangan vitamin menyebabkan berbagai gejala defisiensi. Terdapat banyak bentuk dan sediaan vitamin yang digunakan untuk pengobatan dan profilaksis. Kebanyakan vitamin bersifat tidak toksik, tetapi administrasi kronis dapat meningkatkan toksisitas, terutama vitamin A dan D.Vitamin diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:1) Vitamin yang larut di dalam lemak(1) A(2) D(3) E(4) K2) Vitamin yang larut di dalam air(1) Grup B-kompleks(2) CArdena Malidia160110110092

Vitamin yang larut dalam lemak disimpan di dalam tubuh dan administrasi berlebihan dapat menyebabkan toksisitas, sedangkan vitamin larut dalam air cepat diekskresikan melalui urin, dan toksisitasnya lebih rendah.

2.4.1 Vitamin yang Larut di Dalam Lemak1) Vitamin AVitamin A didistribusikan secara luas di pabrik dan makanan hewani . Pada tumbuhan , sumber utama vitamin A sayuran adalah berdaun hijau misalnya bayam. Apabila daun lebih gelap dan daun lebih hijau maka semakin tinggi kadar karotennya. Vitamin A juga terdapat dalam sayuran hijau dan buah-buahan kuning misalnya labu , pepaya dan mangga , dan tanaman akar misalnya wortel ( sumber terkaya di antara tanaman lainnya) . Karotenoid yang paling penting adalah betakaroten yang memiliki presentase vitamin tertinggi.Karoten dikonversi ke vitamin A dalam usus kecil . Dalam makanan hewani , vitamin A terdapat dalam hati, telur , mentega , keju , susu , ikan dan daging . Minyak hati ikan adalah sumber retinol terbanyak . Sangat penting untuk fungsi retina . Vitamin A sangat penting untuk diferensiasi dan pertumbuhan jaringan epitel . Hal ini meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh dan melindungi terhadap pengembangan kanker tertentu . Berbagai bentuk vitamin A mempunyai fungsi yang berbeda .

RetinoidArdena Malidia160110110092

Mempengaruhi berbagai kegiatan biologis seluler termasuk proliferasi , diferensiasi selular , fungsi kekebalan tubuh , peradangan. misalnyatretinoin , isotretinoin , etretinate . Isotretinoin adalah retinoid , baru-baru ini disetujui untuk digunakan dalam bentuk kapsul ( 10-20 mg ) . Ini mengurangi jumlah sebum yang menghasilkan kelenjar sebaceous . isotretinoin memiliki fungsi efek antiproliferatif dan antiandrogenic pada kelenjar sebaceous, ini juga berinteraksi dengan pembentukan androgen di kelenjar sebaceous .

Gejala DefisiensiBintik-bintik, xerosis , rabun senja , keratomalacia , diare , hiperkeratosis folikular , erupsi papular , pengeringan epidermis , bate urine , degenerasi testis , gangguan spermatogenesis , kemandulan , aborsi , gangguan penciuman dan rasa .Hal ini ditunjukkan pada kebutaan malam , Kekurangan vitamin ( pada bayi , kehamilan , laktasi , sindrom malabsorpsi ) , untuk profilaksis defisiensi vitamin A , jerawat ,ichthyosis , psoriasis , xerophthalmia , bintik-bintik spot ( terutama anak-anak ) .Dosis Defisiensi berat dengan xerophthalmia : 50.000 IU per hari selama tiga hari diikuti dengan 50.000 IU per hari selama dua minggu . Kekurangan berat: 100.000 IU per hari selama tiga hari diikuti dengan 50.000 IU per hari selama dua minggu . Anak-anak: 5.000 hingga 10.000 IU per hari selama dua minggu .Vitamin A didistribusikan secara luas di pabrik dan makanan hewani . Pada tumbuhan , sumber utama vitamin A sayuran adalah berdaun hijau misalnya bayam. Apabila daun lebih gelap dan daun lebih hijau maka semakin tinggi kadar karotennya. Vitamin A juga terdapat dalam sayuran hijau dan buah-buahan kuning misalnya labu , pepaya dan mangga , dan tanaman akar misalnya wortel ( sumber terkaya di antara tanaman lainnya) . Karotenoid yang paling penting adalah betakaroten yang memiliki presentase vitamin tertinggi.Karoten dikonversi ke vitamin A dalam usus kecil . Dalam makanan hewani , vitamin A terdapat dalam hati, telur , mentega , keju , susu , ikan dan daging . Minyak hati ikan adalah sumber retinol terbanyak . Sangat penting untuk fungsi retina . Vitamin A sangat penting untuk diferensiasi dan pertumbuhan jaringan epitel . Hal ini meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh dan melindungi terhadap pengembangan kanker tertentu . Berbagai bentuk vitamin A mempunyai fungsi yang berbeda .RetinoidArdena Malidia160110110092

Mempengaruhi berbagai kegiatan biologis seluler termasuk proliferasi , diferensiasi selular , fungsi kekebalan tubuh , peradangan. misalnyatretinoin , isotretinoin , etretinate . Isotretinoin adalah retinoid , baru-baru ini disetujui untuk digunakan dalam bentuk kapsul ( 10-20 mg ) . Ini mengurangi jumlah sebum yang menghasilkan kelenjar sebaceous . isotretinoin memiliki fungsi efek antiproliferatif dan antiandrogenic pada kelenjar sebaceous, ini juga berinteraksi dengan pembentukan androgen di kelenjar sebaceous .

Gejala DefisiensiBintik-bintik, xerosis , rabun senja , keratomalacia , diare , hiperkeratosis folikular , erupsi papular , pengeringan epidermis , bate urine , degenerasi testis , gangguan spermatogenesis , kemandulan , aborsi , gangguan penciuman dan rasa . Hal ini ditunjukkan pada kebutaan malam , Kekurangan vitamin ( pada bayi , kehamilan , laktasi , sindrom malabsorpsi ) , untuk profilaksis defisiensi vitamin A , jerawat ,ichthyosis , psoriasis , xerophthalmia , bintik-bintik spot ( terutama anak-anak ) .Dosis Defisiensi berat dengan xerophthalmia : 50.000 IU per hari selama tiga hari diikuti dengan 50.000 IU per hari selama dua minggu . Kekurangan berat: 100.000 IU per hari selama tiga hari diikuti dengan 50.000 IU per hari selama dua minggu . Anak-anak: 5.000 hingga 10.000 IU per hari selama dua minggu .Ardena Malidia160110110092

Dosis:(1) Defisiensi parah dengan seroftalmia 50000 IU/hari selama 3 hari diikuti dengan 50000 IU/ hari untuk 2 minggu(2) Defisiensi parah 100.000 IU /hari selama 2 hari diikuti dengan 50.000 IU/ hari selama 2 minggu(3) Anak-anak 5000- 10000 IU/ hari selama 2 minggu.2) Vitamin DVitamin D Istilah ini digunakan untuk rentang senyawa yang memiliki sifat mencegah atau menyembuhkan rakhitis . termasuk ergocalciferol ( calciferol , vitamin D2 ) , cholecalciferol( vitamin D3 ) , dihydrotachysterol , - hidroksikolekalsiferol ) danalfacalcidol ( 1 calcitriol ( 1,25 - dihydroxycholecalciferol ) . Hal ini memainkan peran penting dalam metabolisme kalsium . mengatur homeostasis kalsium dan mempertahankan tingkat normal plasma kalsium dan fosfat .

Gejala Defisiensi Ardena Malidia160110110092

Rakhitis terjadi pada pasien yang mengalami defisiensi vitamin D. Tulang-tulang biasanya tidak lembut dan karena stres serta ketegangan berat bearing menghasilkan deformitas yang khas. Hal ini ditunjukkan dalam profilaksis dan pengobatan rickets , pascamenopause osteoporosis , sindrom Fanconi dan hipoparatiroidisme . Efek samping termasuk sakit kepala , lemah , mual , muntah , mulut kering , nyeri otot , sembelit , mengantuk , kalsifikasi ektopik , hipertensi , nefrokalsinosis dan penurunan berat badan .Alfacalcidol Mengatur metabolisme kalsium dengan meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfat di saluran usus dan juga memobilisasi mineral dari tulang . Setelah pemberian oral diserap di usus kecil dan cepat mengalami metabolisme 1,25 ( OH ) 2 D3 dalam hati dan distribusi lebih lanjut untuk tulang dan usus hampir mirip dengan distribusi fisiologisnya .Efek samping termasuk hiperkalsemia dan hyperphosphataemia . Hal ini ditunjukkan dalam osteoporosis , hipoparatiroidisme , hiperparatiroidisme ( dengan penyakit tulang ) , osteodistrofi ginjal , rakhitis gizi dan malabsorptive , vitamin hipofosfatemik tahan D rakhitis dan osteomalacia.Dosis Dewasa: 1 mcg Awalnya harian disesuaikan, sesuai dengan respon . Lansia : Awalnya 0.5 mcg setiap hari disesuaikan dengan respon . Anak-anak: Lebih dari 20 kg : Awalnya 1 mcg sehari-hari disesuaikan dengan respon . Dibawah 20 kg : 0,05 mcg / kg berat badan.

3) Vitamin EArdena Malidia160110110092

Ini adalah vitamin antioksidan dengan mencegah oksidasi koenzim Q dan menghambat generasi dari produk peroksidasi dari t asam lemak ak jenuh . Vitamin E adalah keluarga dari delapan senyawa , empat tocopherol dan empat tocotrienol . Tocotrienol mempengaruhi enzim utama dalam hati ( HMG CoA reductase ) , yang memainkan peran kunci dalam sintesis kolesterol . Sebagai tocotrienol membantu menjaga kesehatan jantung yang baik .Vitamin E adalah antioksidan dan mencegah oksidasi LDL ( kolesterol jahat ) .Fungsi vitamin E sebagai antikoagulan , yang berarti penundaan pembekuan dari darah . Hal ini dapat membantu mencegah trombosis , yang pembentukan bekuan darah di arteri .Gejala DefisiensiDalam vitamin E defisiensi pada hewan percobaan yang Manifestasi terlihat di beberapa sistem termasuk kardiovaskular , reproduksi dan haematopoietic .Manifestasi klinis aksonal degenerasi , gangguan gait , oftalmoplegia , hiporefleksia dan necrotizing miopati.Efek samping termasuk mual , kelelahan, sakit kepala , penglihatan kabur , diare .Hal ini ditunjukkan pada bayi prematur terkena konsentrasi tinggi oksigen , koreksi defisiensi vitamin E yang ditetapkan , pada pasien berisiko terkena kekurangan vitamin E , otot nokturnal kram , klaudikasio intermiten , penyakit payudara fibrokistik , penyakit arteri koroner dan sebagai antioksidan.Dosis Dewasa - Kram otot Nocturnal : 400 mg sehari selama 8 sampai 12 minggu.- Intermiten klaudikasio : 400 mg sehari selama 12 sampai 18 minggu .- Penyakit fibrokistik payudara : 600 mg sehari selama 2 sampai 6 bulan .Anak-anak: 200 mg sehari .2.4.2 Vitamin yang Larut dalam AirLaras Annisa F160110110128

1) Vitamin B group(1) Vitamin B1 (tiamin)Vitamin B1 anggota pertama dari B kompleks. Thiamine pyrophosphate ialah coenzyme dan bersifat aktif. Vitamin B1 mempunyai peran untuk memecah glukosa , dan membantu merubah karbohidrat menjadi energy. Gejala defisiensinya adalah beri-beri.Indikasi: Indikasinya untuk beri-beri basah dan kering, Wernickes encephalopathy, profilaksis defisiensi tiamin, hyperemi gravidarum, sindrom Korsakoff, alkoholik kronis, neuritis multipel, anoreksia.Dosis:Defisiensi ringan: 10-25 mg/hariDefisiensi berat: 200-300 mg/hariEfek sampingDemam, kesemutan, gatal-gatal, nyeri, urtikaria, kelemahan, berkeringat, mual, gelisah, sesak pada tenggorokan, angioedema, gangguan pernapasan, sianosis, edema paru, perdarahan GI, vasodilatasi sementara dan hipotensi, kolaps vaskuler.Mekanisme aksiTiamin, vitamin yang larut air, menggabungkan dengan ATP untuk membentuk pirofosfat tiamin, merupakan koenzim yang penting dalam metabolisme karbohidrat.Laras Annisa F160110110128

Penyerapan: diserap dengan baik oleh saluran pencernaan setelah pemberian melalui oral dan benar-benar diserap setelah berada di IM.Distribusi: Tersebar luas di jaringan tubuh yang paling, memasuki ASI.Ekskresi: tiamin Kelebihan diekskresikan dalam urin sebagai metabolit (2) Vitamin B2 (riboflavin)Berfungsi dalam banyak reaksi biokemikal. Dalambentuk aktif, flavin mononukleotida (FMN) dan flavin adenin dinukleotida.Gejala defisiensi: dikarakteristikan dengan glositis, dermatitis pada tubuh dan ekstrimitas, stomatitis angular, cheilosis, anemia, neuropati, formasi katarak, dan vaskularisasi kornea.Indikasi:Arteriosklerosis, diabetes, obesitas.(3) Vitamin B3 (niasin)Disebut juga faktor pencegah pellagra.Vitamin ini dikonversi menjadi koenzim, nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) atau nicotinamide adenine dinucleotide phosphate (NADP). Koenzim ini berikatan dengan hydrogenase dan berfungsi sebagai oksidan dengan menerima hidrogen dan elektron.Gejala defisiensi:Pada kekurangan niasin terjadi pellagra. Kondisi yang terjadi adalah diare, dermatitis, demensia, nausea, muntah, stomatitis, pusing, depresi, insomnia, sakit kepala, Pada defiseinsi lanjut terjadi demensia dan halusinasi.Efek samping:Laras Annisa F160110110128

Termasuk flushing, aktivasi peptic ulser, muntah, diare, pruritus, kemerahan kulit, dan sakit kepala.Indikasi:Pellagra, untuk profilaksis, Hartnup disease, hiperlipoproteinaemia.(4) Vitamin B5 ( kalsium pantotenat)Asam pantotenat banyak didistribusikan di daging, sereal, telur, susu, sayur, dan buah. Ini adalah komponen koenzim A yang sangat penting dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.Gejalan defisiensi:Defisiensi vitamin ini jarang terjadi karena distribusinya yang luas pada makanan.Dosis : 50-100 mg/hari.(5) Vitamin B6 (piridoksin)Terlibat sebagai koenzim (piridoksal fosfat) dalam metabolisme triptofan, pada beberapa transformasi metabolic asam amino termasuk transaminasi, dekarboksilasi dan rasemisasi.Gejala defisiensi: Neuritis perifer, kejang-kejang, stomatitis, anemia, lesi seperti seborrhea, mental confusion, dan kelainan pertumbuhanIndikasi:Untuk mencegah dan mengobati gangguan neurologis, gejala mental pada wanita dengan kontrasepsi oral, homocystinuria, pyridoxine responsive anemia, morning sickness dan hyperemesis gravidarum, konvulsi pada anak-anak.Dosis:Dewasa : 100 mg/hari. (6) Sianobalamin (metilkobalamin) Laras Annisa F160110110128

Metilkobalamin adalah bentuk koenzim dari vitamin B12. Bioavabilitas yang baik dan paling baik digunakan. Memiliki efek menguntungkan seperti melawan penuaan otak, pola tidur tidak teratur, vitamin ini juga mendukung fungsi imun dan membantu pertumbuhan sel normal. Banyak ditemukan di produk nutrisonal, murah, dan memiliki banyak keuntungan.Gejala defisiensi:Glositis, gangguan GIT, anemia megaloblastik, degenerasi spinal cord sub akut, neuritis perifer, ingatan lemah, perubahan mood dan halusinasi.Aplikasi:Bells Palsy: meningkatkan waktu penyembuhan pada fungsi sarafKanker: menghalangi proliferasi sel ganasDiabetic neuropathy:Oral methylcobalamin (500 mcg tigakali sehari selama empat bulan) menghasilkanperbaikan subyektif dalam sensasi terbakar,mati rasa,hilangnya sensasi dankramotot .Regulasi Imun sistem : detailnya belum diketahuiRheumatoid arthritis: mengoreksi abnormalitas RACD8+T sel pada autologous mixed lymphocyte reaction (AMLR)Fungsi mata : melindungi neuron retinaVariasi heart rate :meningkatkan beberapa komponen variasi heart rate.HIV : dalam penilitian, Methylcobalamin menghambat infeksi HIV-1 monosit darah manusia normal danlimfosit.Homocysyeinemia : Peningkatan kadar homosistein dapat menjadi indikasi metabolik dari penurunan kadar methylcobalamin bentuk vitamin B12Laras Annisa F160110110128

Indikasi:Indikasi untuk pasien yang mengalami defisiensi. Dikombinasikan dengan lactobacillus untuk stomatitis aphtous dan thrush. Selain itu, untuk gangguan neurologik, gejala mental pada wanita dengan kontrasepsi oral, pyridoxine responsive anemia, homocystinuria, neuropati, beri-beri, anemia, hepatitis, dan debility.Efek samping : Olahan dari vitamin B1 + B6 + B12 ditunjukkan untuk mencegah dan mengobati isoniazid, hydralazine dan cycloserine diinduksi neurologis gangguan, gejala mental di perempuan pada kontrasepsi oral, pyridoxine anemia responsif dan homocystinuria, neuropati, degenerasi kombinasi subakut, beri-beri, anemia, hepatitis, kelemahan(7) Asam folatMemiliki peran penting dalam reaksi intraseluler seperti konversi serine menjadi glycine, sintesis thymidylate, sintesis purin, metabolisme histidin.Gejala defisiensi:Anemia megaloblastik, glositis, enteritis, diare, kehilangan berat badan, dan steril.Indikasi:Anemia megaloblastik, alkoholisme, nutritional anemia dan anemia karena kehamilan.Dosis: Laras Annisa F160110110128

Dewasa: 5- 20 mg/hariAnak-anak: 5-10 mg/hari(8) Vitamin C (asam askorbat)Berfungsi sebagai kofaktor pada amidasi dan reaksi hidroksilasi. Bentuk aktif vitamin C adalah asam askorbat. Fungsi utamanya adalah untuk menjaga jaringan ikat, seperti penyembuhan luka, karena sintesis jaringan ikat yang pertama terjadi pada remodeling jaringan. , selain itu untuk remodeling tulang, konversi asam folat menjadi asma folinat, biosintesis adrenal steroid, catecholamines, oksitosin, ADH, metabolisme siklik nukleotida dan prostaglandin.Gejala defisiensi:Scurvy, dikarakteristikan dengan ekimosis, petechiae, bengkak, dan gusi berdarah, subperiosteal hemorrhage, sakit pada tulang saat disentuh, penyembuhan luka yang terhambat, anemia, kehilangan gigi dan gingivitisIndikasi:Pengobatan scurvy, profilaksis untuk defisiensi vitamin C, acidify urine, anemia karena defisiensi vit C, antioksidan untuk menjaga warna natural dan rasa beberapa makanan, karies dental, dan meningkatnya tingkat kerapuhan kapiler.Dosis:Dewasa:profilaksis 50-500mg/hariKehamilan dan menyusui :100-150 mg/hari

96

BAB IIICASE REVIEW

Mr. Ury CaseTutorial part 1Mr. Ury, 45 tahun, datang ke RSGM dengan keluhan utama memiliki banyak stomatitis disekitar mulutnya dan pendarahan pada gusinya sejak 2 bulan yang lalu. Stomatitis tetap tidak sembuh setelah menggunakan topikal triamcinolone selama sebulan. Dia merasakan sakit disekitar mulutnya, gusinya terlihat mengalami edema. Dia tidak bias makan karena merasakan sakit setiap dia makan.General condition:Mr. Ury perokok berat (2 box per hari, 12 batang rokok perbox selama 15 tahun). Temperature 39C, tekanan darah 130/90 mmHg. Dia terlihat lemah dan lesu.Intraoral examination:1) Gingival enlargement semua region, kemerahan, pendarahan spontan dan adanya jaringan nekrosis di rahang bawah bagian anterior.2) Crater-like ulcer di interdental papilla 41, 42, 43, dan 443) Ulser dengan diameter 1-3 mm di rahang bawah anterior di mukosa labial4) Ulcer dengan diameter 1-3 di mukosa bukal kiri.Extraoral examinantion:Lymphadenophaty dan anemia conjutiva

Laboratory examinantion:Ditemukan virus herpes dari hapusan jaringan.Diagnosis:NUG (necrotizing Ulcerative Gingivitis) dengan ulser herpes.Treatment:1) Debridement jaringan nekrosis dan scaling supragingiva2) Dokter gigi memberikan resep metronidazole 500 mg dan obat kumur klorheksidine 0,12% untuk gingiva dan acyclovir untuk ulser. Untuk meningkatkan system imun dokter gigi memberikan multivitamin.3) Pasien harus kontrol setelah 5 hari.Intruksi:1) Apa masalahnya?2) Apa penyebab masalahnya?3) Apa hipotesisnya?

Tutorial part 2Setelah 5 hari, dia datang kembali dengan kondisi yang lebih baik. Ulcernya sudah sembuh dan gusinya membaik, tetapi dia merasakan keluhan baru. Dia melihat ada lapisan putih di sekitar lidahnya dan rasa terbakar sehingga dia tetap tidak biasa makan.General condition:Temperature 39C, tekanan darah 130/90 mmHg. Dia terlihat lemah dan lesu.Intraoral Examination:Lesi plak putih pada bagian dorsum lidahExtraoral examination:Tidak ada abnormalitasLaboratory examinantion:Ditemukan jamur dari hasil hapusan lebihDiagnosis:Psedomembranous candidiasisTreatment:1) Nystatin ointment dan multivitamin2) Pasien harus kontrol setelah seminggu kemudian.Intruksi1) Apa masalahnya?2) Apa penyebab masalahnya?3) Apa hipotesisnya?

107

BAB IVDISKUSI

Mr. Ury, 45 tahun, datang ke RSGM dengan keluhan utama memiliki banyak stomatitis disekitar mulutnya dan pendarahan pada gusinya sejak 2 bulan yang lalu. Stomatitis tetap tidak sembuh setelah menggunakan topikal triamcinolone selama sebulan. Dia merasakan sakit disekitar mulutnya, gusinya terlihat mengalami edema. Dia tidak bias makan karena merasakan sakit setiap dia makan.

Setelah 5 hari, dia datang kembali dengan kondisi yang lebih baik. Ulcernya sudah sembuh dan gusinya membaik, tetapi dia merasakan keluhan baru. Dia melihat ada lapisan putih di sekitar lidahnya dan rasa terbakar sehingga dia tetap tidak biasa makan.4.1 Pembahasan Kasus Part IIdentitas PasienNama: Mr. UryUmur: 45 tahunJenis Kelamin: PriaKondisi Umum1) Perokok berat2) Suhu 39oC3) Tekanan darah 130/90 mmHg4) Terlihat lemah dan pucatKeluhan Utama1) Banyak stomatitis disekitar mulut2) Perdarahan di gusi sejak 2 bulan yang lalu3) Stomatitis tidak sembuh setelah diberi triamcinolone selama 2 bulan4) Merasa sakit di mulut5) Gusi oedem6) Sakit setiap makanPemeriksaan Intra Oral1) Gingival enlargement di semua regio2) Kemerahan, perdarahan spontan, jaringan nekrotik di regio anterior rahang bawah3) Ulcer seperti kawah di interdental papilla gigi 41, 42, 43, 444) Ulcer berdiameter 1-3 mm di mukosa labial anterior rahang bawah5) Ulcer berdiameter 1-3 mm di mukosa bukal kiriPemeriksaan Ekstra Oral1) Lymphadenopaty2) Anemia conjuctivaPemeriksaan LaboratoriumDitemukan virus herpes di jaringan apusDiagnosisNecrotizing Ulcerative Gingivitis dengan ulcer herpesMekanismeDalam kasus ini, pasien memiliki riwayat terinfeksi herpes simplex virus yang menyebabkan turunnya sistem imun tubuh dan menimbulkan ulser-ulser herpetic. Selain menderita penyakit herpes, pasien ini memiliki kebiasaan yaitu merokok dalam jumlah yang besar, hal ini membuat kondisi mulut pasien buruk. Selain terdapat ulcer seperti kawah dan juga terdapat banyak stomatitis, mulut pasien ini juga terdapat gingival enlargement yang menyebabkan pendarahan, kemerahan, oedem, dan adanya jaringan nekrotik pada gingiva. Pasien kemudian menggunakan triamcinolone untuk mengobati ulser tersebut. Tetapi karena ulser tersebut timbul akibat adanya virus herpes dan adanya faktor predesposisi berupa merokok, maka pengobatan menggunakan triamcinolone tidak berhasil, karena harus ada terapi antiviral sebagai penatalaksanaan ulser tersebut. Lalu pasien berobat ke RSGM dan pasien ini diberi metronidazole, chlorhexidine, acyclovir, multivitamin, serta dilakukan debridement jaringan nekrotik.

Debridement jaringan nekrotik ini dilakukan untuk menghindari keadaan yang lebih parah akibat adanya jaringan nekrosis yang mengandung banyak bakteri. Setelah debridement, jumlah bakteri akan menurun dengan sendirinya yang diikuti dengan kemampuan tubuh secara efektif melawan infeksi. Selain itu, juga diberikan metronidazole yang merupakan obat antibiotik untuk menghambat bakteri anaerob. Metronidazole ini mempunyai indikasi, yaitu dental abses, perikoronitis akut, serta ANUG. Lalu pasien juga diberi obat kumur chlorhexidine yang merupakan obat 110

antiseptik untuk perawatan gingivitis, lesi intra oral, serta membantu menjaga oral hygiene. Indikasi dari chlorhexidine ini adalah gingivitis, lesi intra oral, denture stomatitis, acute apthous ulcer. Sebagai penanganan etiologi dari ulcer tersebut yaitu virus herpes, digunakan acyclovir yang berguna melawan infeksi virus HSV 1 dan HSV 2. Pasien juga diberi perawatan penunjang berupa multivitamin yang berfungsi menambah kekebalan system imun tubuh.4.2 Pembahasan Kasus Bagian IIIdentitas pasienNama: Mr.UryJenis Kelamin: Laki-lakiUmur: 45 tahunKeluhan Utama1) Adanya lapisan putih di sekitar lidah (dorsum)2) Sensasi terbakar3) Tidak bisa makanKesehatan Umum1) Suhu 39oC2) Tekanan darah 130/90 mmHg3) Lemah lesuPemeriksaan IntraoralPlak putih pada dorsum lidahPemeriksaan EkstraoralTidak ada kelainanPemeriksaan LabDitemukan jamur dari hasil apusan lesiDiagnosisPseudomembranus KandidiasisTreatment1) Nystatin ointment dan multivitamin2) Pasien harus kontrol seminggu kemudianMekanismePada kasus ini, pasien terlihat menderita candidiasis pseudomembranous. Hal ini disebabkan karena pemakaian obat golongan kortikosteroid dalam jangka waktu yang relative panjang. Kortikosteroid yang digunakan dalam jangka waktu panjang, dapat menyebabkan efek samping berupa infeksi oportunistik. Hal ini disebabkan karena kortikosteoid memiliki kemampuan dalam menekan imunitas pasien. Karena penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu panjang inilah, pasien memiliki imunitas yang rendah, sehingga pasien mudah terserang infeksi oportunistik dalam hal ini kandidiasis oral.Selain itu, penggunaan antibiotic spectrum luas juga dapat menyebabkan kondisi ini. Hal ini disebabkan karena antibiotic berspektrum luas dapat menekan flora-flora yang ada dalam tubuh manusia, termasuk flora normal. Saat mikroba ini ditekan oleh adanya antibiotic, candida yang merupakan fungi flora normal dalam tubuh manusia, tidak ditekan keberadaannya karena candida adalah jenis jamur dan jamur tidak dapat ditekan keberadaannya oleh antibiotic. Pada saat terjadi ketidakseimbangan inilah, candida menjadi flora normal yang berubah menjadi oportunistik dan menyebabkan infeksi jamur.Setelah itu, pasien datang ke RSGM dan diberikan nystatin ointment sebagai agen antifungal dan multivitamin.

113

BAB VKESIMPULAN

Penggunaan kortikosteroid pada ulser yang disebabkan oleh virus tidaklah akan memperbaiki keadaan pasien, karena yang harus dieliminasi adalah etiologinya yaitu virus. Caranya adalah dengan pemberian agen antiviral. Dalam kasus ini, agen antiviral tersebut adalah acyclovir. Selain itu, penggunaan kortikosteroid pun harus dipertimbangkan dengan baik terutama indikasi dan lama pemakaian. Hal ini karena kortikosteroid dapat menyebabkan penurunan imunitas tubuh. Penggunaan anti fungal pun digunakan apabila adanya infeksi penyakit akibat jamur/fungi dimana bila digunakan sesuai indikasi penggunaan obat antifungal maka penyakit akibat jamur/fungi ini dapat teratasi. Setelah dilakukan perawatan atau pengobatan pun sebaiknya diberikan multivitamin yang berguna untuk meningkatkan kesehatan umum tubuh kita agar tidak rentan terhadap penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja. G. K, Rengganis Iris. 2012. Imunologi Dasar, Jakarta, Balai Penerbit FKUILimfadenitis.Availableat: Mei26th, 2013.Yagiela JA, Dowd FJ, Neidle EA. Pharmacology and therapeutics for dentistry. 5thed. New Delhi: Mosby Samodro, Ratno. 2011. Mekanisme Kerja Obat Anestesi Lokal. Jurnal Anestesiologi Indonesia. Volume III, Nomor 1.Meechan J.G, Seymour R.A .2002. Drug dictionary for dentisty. United State :Oxford university pressGuyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. EGC: Jakarta.Gregory, Pete dan Ian Mursell. 2010. Manual of Clinical Paramedic Procedures. United Kingdom: Blackwell.http://walidrahmanto.blogspot.com/2012/05/pengertian-lidocain.htmlhttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32609/4/Chapter%20II.pdfhttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16862/4/Chapter%20II.pdf.Accessed on.117