Makalah Blok 7- Yulita

Click here to load reader

  • date post

    06-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    235
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Makalah Blok 7

Transcript of Makalah Blok 7- Yulita

Struktur dan MekanismePernapasan pada Manusia

Yulita Hera (102011132)

Fakultas kedokteranUniversitas Kristen Krida WacanaJln. Terusan Arjuna No. 6 Jakarta Barat 11510Tlp. 021- 56942061 Fax . 021-5631731E_mail : [email protected]

Skenario 5Seorang anak berusia 10 tahun datang berobat dengan keluhan batuk, serak, dan sakit saat menelan, setelah dilakukan pemeriksaan, anak tersebut didiagnosa menderita radang pada pharynx (pharyngitis).Istilah yang tidak diketahui Pharyngitis : peradangan pada pharynx

Pendahuluan Respirasi adalah keseluruhan proses yang melaksanakan pemindahan pasif O2 dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pemindahan pasif terus-menerus CO2 yang dihasilkan oleh metabolisme dari jaringan ke atmosfer. Sistem pernapasan berperan dalam homeostasis dengan mempertukarkan O2 dan CO2 antara atmosfer dan darah. Darah mengangkut O2 dan CO2 antara sistem pernapasan dan jaringan. Fungsi utama respirasi (pernapasan) adalah memperoleh O2 untuk digunakan sel tubuh dan untuk mengeluarkan CO2 yang diproduksi oleh sel.1 Pertukaran gas dari udara ke paru, diperantarai oleh saluran pernapasan yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu saluran pernapasan bagian atas atau jalan napas dan saluran pernapasan bagian bawah.Berdasarkan skenario yang didapat, yaitu mengenai seorang anak dengan keluhan batuk, serak dan sakit saat menelan, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai struktur sistem respiratorius bagian konduksi serta mekanisme pernapasan.

Isi dan PembahasanStruktur MakroskopisSistem respiratorius dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian konduksi dan bagian respirasi. Bagian konduksi adalah saluran nafas yang menghantarkan udara dari luar ke dalam paru untuk respirasi. Sedangkan bagian respirasi adalah saluran nafas di dalam paru tempat berlangsungnya respirasi atau pertukaran gas. Bagian konduksi sistem pernafasan terdiri atas rongga hidung, faring, laring, trakea, bronki ekstrapulmonal dan intrapulmonal dengan diameter yang semakin kecil dan berakhir pada bronkioli terminalis.2Struktur yang membentuk sistem pernapasan dapat dibedakan menjadi struktur utama (principal structure), dan struktur pelengkap (accessory structure).Yang termasuk struktur utama sistem pernapasan adalah saluran udara pernapasan. Saluran udara pernapasan dibagi menjadi dua, yaitu: A.) saluran udara pernapasan bagian atas (upper respiratory tract)jalan napas. Yang disebut sebagai jalan napas adalah (1) nares, hidung bagian luar (external nose), (2) hidung bagian dalam (internal nose), (3) sinus paranasal, (4) faring, (5) laring. Yang merupakan cakupan bidang Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dan tidak dibahas di dalam pulmonologi tetapi dapat saja terkait jika membicarakan respirologi. B.) saluran udara pernapasan bagian bawah (lower respiratory tract) atau saluran napas yang mencangkup trakea, bronki dan bronkioli (keduanya dibahas dalam pulmonologi). Batas saluran udara pernapasan bagian atas dan saluran udara pernapasan bagian bawah adalah pinggir bawah kartilago krikoidea. Saluran udara pernapasan bagian bawah dimulai dari ujung trakea (pinggir bawah kartilago krikoidea) sampai bronkiolus terminalis.

Struktur Sistem Respiratorius Bagian Konduksi1. Hidung (Nasal) dan Rongga hidung (kavum nasi) Hidung eksternal, berbentuk piramid disertai dengan suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, kartilago hialin, dan jaringan fibroareolar. Septum nasal, sepertiga anterior rongga hidung, membagi hidung menjadi sisi kiri dan sisi kanan rongga nasal. Bagian anterior dari septum adalah kartilago. Ostium nasalis interna merupakan bagian yang paling sempit di rongga hidung. Udara yang dihirup melalui ostium ini mendapat tahanan lima puluh persen lebih tinggi dibandingkan jika dihirup melalui mulut. Nares (nostril) eksternal, dibatasi oleh kartilago nasal. Kartilago nasal lateral terletak di bawah jembatan hidung. Ala besar dan ala kecil kartilago nasal mengelilingi nostril. Tulang hidung, tulang ini membentuk jembatan dan bagian superior kedua sisi hidung. Vomer dan lempeng perpendicular tulang etmoid membentuk bagian posterior septum nasal. Lantai rongga nasal adalah palatum keras yang terbentuk dari tulang maksila dan palatinum. Langit-langit rongga nasal pada sisi medial terbentuk dari lempeng kribriform tulang ethmoid, pada sisi anterior dari tulang frontal dan nasal, dan pada sisi posterior dari tulang sphenoid. Terdapat juga konka superior, medial, dan inferior yang menonjol pada sisi medial dinding lateral rongga nasal. Dibawahnya ada meatus superior, medial, dan inferior yang merupakan jalan udara rongga nasal. Sinus paranasalis, terdiri dari empat pasang, yaitu frontal, ethmoid, maksilar, dan sphenoid. Sinus ini berupa kantong tertutup yang dilapisi membran mukosa. Sinus ini berfungsi untuk meringankan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran nasal untuk menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk serta memproduksi mukus, menambah resonansi suara, dan mengubah ukuran dan bentuk wajah setelah pubertas. Membran mukosa nasal, kulit pada bagian eksternal permukaan hidung yang mengandung folikel rambut, keringat, dan kelenjar sebasea, merentang sampai vestibula yang terletak di dalam nostril. Kulit di bagian dalam ini mengandung rambut (vibrissae) yang berfungsi untuk menyaring partikel udara yang terhisap. Fungsi membran mukosa nasal secara umum adalah untuk menyaring partikel kecil, penghangatan, dan pelembaban udara yang masuk.

Gambar 1. Struktur anatomi nasal2. Faring, berbentuk tabung muskular yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai esofagus. Palatum molle membagi faring menjadi dua bagian, yaitu regio nasofaring dan regio orofaring. Faring terdiri dari tiga regio, yaitu:

Gambar 2. Struktur anatomi faring Nasofaring, merupakan bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga nasal melalui dua naris internal (koana), terdapat jaringan limfoid yang membentuk lingkaran; adenoid termasuk di dalamnya. Dua tuba eustachius (auditorik) menghubungkan nasofaring dengan telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. Orofaring, dipisahkan dari nasofaring oleh palatum lunak muskular, suatu perpanjangan palatum keras tulang. Perbatasan rongga mulut dengan orofaring terdapat tonsil. Laringofaring, faring ini mengelilingi mulut esofagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk sistem respiratorik selanjutnya. 3. Laring (kotak suara), penghubung faring dengan trakea. Laring merupakan tabung pendek berbentuk seperti kotak triangular, yang terdiri atas tiga kartilago berpasangan dan tiga kartilago tidak berpasangan (berfungsi sebagai penopang), pita suara, otot dan ligamentum; semuanya bekerja sama untuk menjaga agar jalan napas terbuka selama bernapas dan menutup ketika sedang menelan. Kartilago berpasangan Kartilago tiroid (jakun), terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid. Pada laki-laki ukurannya lebih besar dan lebih menonjol akibat hormon yang disekresi saat pubertas. Kartilago krikoid, cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago tiroid. Epiglotis, katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago tiroid. Saat menelan, epiglottis secara otomatis menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan cairan.Gambar 3. Struktur anatomi laring Kartilago tidak berpasangan Kartilago aritenoid, terletak di atas dan di kedua sisi kartilago krikoid. Kartilago ini melekat pada pita suara sejati. Kartilago kornikulata, melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid. Kartilago kuneiform, berupa batang-batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak. 4. Trakea (pipa udara) dan bronkus, tuba yang terletak di atas permukaan anterior esofagus. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks keenam sampai area vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus, yaitu bronkus dekstra dan bronkus sinistra. Bronkus akan bercabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus dibedakan menjadi dua, yaitu bronkiolus terminalis dan brinkiolus respiratorik. Bronkiolus bercabang lagi menjadi alveolus.3 Trakea dan bronkus besar adalah tabung yang cukup kaku tak berotot yang dikelilingi oleh serangkaian cincin tulang rawan yang mencegah saluran ini menyempit. Bronkiolus yang lebih kecil tidak memiliki tulang rawan. Dinding saluran ini mengandung otot polos yang disarafi oleh sistem saraf otonom dan peka terhadap hormon dan bahan kimia lokal tertentu. Faktor-faktor ini mengatur jumlah udara yang mengalir dari atmosfer ke setiap kelompok alveolus, dengan mengubah derajat kontraksi otot bronkiolus sehingga mengubah kaliber saluran terminal.1Struktur Pelengkap Sistem PernapasanYang digolongkan ke dalam struktur pelengkap sistem pernapasan adalah struktur penunjang yang diperlukan untuk bekerjanya sistem pernapasan itu sendiri. Struktur pelengkap tersebut:1. Dinding Dada atau Dinding ToraksDinding toraks dibentuk oleh tulang iga, otot, serta kulit.Tulang Pembentuk Rongga DadaTulang yang membentuk dinding toraks: tulang iga (12 buah) vertebra torakalis (12 buah) sternum (1 buah) klavikula (2 buah) dan skapula (2 buah)2. Muskulus Respiratoriusa. Otot Pembatas Rongga Dada, terdiri dari:Otot ekstremitas superior: Muskulus pektoralis mayor Muskulus pektoralis minor Muskulus serratus anterior Muskulus subklaviusOtot anterolateral abdominal: Muskulus abdominal oblikus ekstemus Muskulus rektus abdominisOtot toraks intrinsik: Muskulus interkostalis eksterna Muskulus interkostalis interna Muskulus sternalis Muskulus toraksis transversusb. Otot PernapasanSelain sebagai pembentuk dinding dada, otot skelet juga berfungsi sebagai otot pernapasan. Menurut kegunaannya, otot-otot pernapasan dibedakan menjadi otot untuk inspirasi, mencakup otot inspirasi utama dan tambahan, serta otot untuk ekspirasi tambahan.Otot inspirasi utama (principal), yaitu: Muskulus interkostalis eksterna, Muskulus interkartil