Makalah Blok 7

of 16

  • date post

    14-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    4
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Blok 7

Sistem Pernafasan Pada ManusiaFerina evangelin10 2012 101Ferina.evangelin@civitas.ukrida.ac.id

Fakultas KedokteranUniversitas Kristen Krida Wacana2012 / 2013

PendahuluanSistem pernapasan atau respirasi sangat penting dalam kehidupan makhluk hidup. Ini merupakan salah satu ciri dari makhluk hidup itu sendiri. Sistem pernapasan itu sendiri yaitu dimana terjadinya pertukaran udara, dimana O2 masuk sedangkan CO2 keluar dalam paru-paru. Fungsi utama dari sistem pernafasan adalah suplai oksigen ke dalam darah serta memberikan oksigen ke seluruh bagian tubuh.Selama proses bernapas kita menghirup oksigen dan menghembuskan karbon dioksida.Pertukaran gas terjadi di alveoli dalamparu-paru manusia.Menghirup oksigen masuk ke dalam alveoli dan kemudian berdifusi melalui kapiler ke dalam darah arteri.Sementara itu, limbah yang kaya darah dari vena melepaskan karbon dioksida ke dalam alveoli.Karbondioksida mengikuti jalan yang sama keluar dari paru-paru saat kita mengeluarkan napas. Bila kita bernapas, paru-paru mengambil oksigen dari udara dan mengirimkannya ke aliran darah.Sel-sel dalam tubuh oksigen kebutuhan kita untuk bekerja dan tumbuh.

Struktur MakroskopikSatu bagian pernafasan berjalan didalam kepala yaitu saluran pernafasan bagian atas yang meliputi hidung, rongga hidung, sinus-sinus nasalis dan faring, bagian lainnya terdapat dileher dan batang badan yaitu saluran pernafasan bagian bawah meliputi laring, trakea, bronkus dan paru-paru.1

Hidung adalah bagian luar sistem pernafasan yang timbul seakan akan membentuk gambaran timbul pada bibir dan pipi dengan adanya lipatan nasolabial, kerangka hidung dibentuk oleh os nasale, processus frontalis maxillae dan bagian nasal ossis frontalis pada akarnya dan kearah puncaknya oleh tulang rawan hialin yang dapat digerakkan yaitu rangka tulang rawan terdiri dari cartilago septi nasi, cartilago nasi lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor. Otot yang melapisi hidung yaitu m nasalis dan m depressor septi nasi. M nasalis dan m.levator labium superior ala nasi berfungsi untuk mengontrol gerakan-gerakan hidung. Pendarahan hidung bagian luar disuplai oleh cabang-cabang a facialis, a dorsalis nasicabang a ophtalmica dan a infraorbitalis cabang a maxilaris interna dan pembuluh baliknya menuju v facialis dan v ophthalmica. Sekat Rongga Hidung terdiri dari tulang dan tulang rawan membentang dari rongga hidung sampai ke lubang hidung luar dimana sekat tersebut berakhir sebagai jaringan ikat fibrotik. Tulang rawannya terdiri atas sebuah lamela septal, kartilago septum nasi dan sepasang lamela lateral ke punggung hidung yaitu kartilago nasalis lateralis. Tulang rawan tersisip kebelakang dan keatas diantara bagian-bagian tulang dekat rongga hidung yaitu lamina perpendicularis tulang tapisan dan os vomer serta kulit. Vomer membentuk sebuah birai tulang rawan yang sempit yang disebut kartilago vomeronasalis pada kedua sisi batas antara bagian tulang rawan dan bagian tulang sekat rongga hidung, birai tersebut mempunyai penebalan mukosa yang banyak berpembuluh darah, titik kiesselbach yang mudah berdarah pada cedera hidung. Ke arah anterior pada tiap sisi mukosa sehat rongga hidung terdapat korpus cavernosum yagn mempersempit atrium setinggi meatus media, keseringan sekat rongga hidung ini miring ke salah satu sisi yang disebut deviasi septum.1,2

Gambar 1. Pharynx, Larynx. (sobbota, 2012)

Nares Eksterna adalah lubang hidung luar. Bagian ini menuju vestibulum hidung, terletak di bagian hidung yang dapat digerakkan dan terpisah dari rongga hidung oleh suatu peninggian yang melengkung yaitu limen nasi. Vestibulum mempunyai sebuah lingkaran rambut, vibrisa yang melengkung keluar untuk menjaga dari masuknya benda asing. Rongga Hidung Sagital rongga hidung dibagi oleh sekat hidung kedua belah rongga ini terbuka ke arah wajah melalui nares dan kearah posterior berkesinambungan dengan nasopharynx melalui apertura nasi posterior ( choana).2

Rongga hidung terdiri atas 3 regio yaitu vestibulum, penghidu dan pernafasan. Vestibulum hidung merupakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat disebelah dalam nares. Regio penghidu berada disebelah cranial dimulai dari atap rongga hidung daerah ini meluas sampai setinggi concha nasalis superrior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha tersebut. Regio pernafasan adalah bagian rongga hidung yang selebihnya. Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi yakni concha nasalis superior, concha nasalis medius dan concha nasalis inferior di inferolateral bagian ini terdapat meatus nasi yang sesuai letaknya. Disebelah cranial dan dorsal terhadap concha nasalis superior terdapat recessus spheno-ethmoidalis yang mengandung muara sinus sphenoidalis, pada recessus ini terdapat concha nasalis suprema. Meatus nasi superior yang letak inferior terhadap concha nasalis superior memperlihatkan sebuah lubang sebagai muara sinus ethmoidalis posterior. Meatus nasi medius berada infero lateral terhadap concha nasalis medius dan kearah anterior berkesinambungan dengan fossa dangkal di sebelah cranial vestibulum dan limen nasi yakni atrium meatus nasi medius.1

Disebelah cranial atrium terdapat sebuah rigi yakni agger nasi, yang melandai ke arah bawah dan depan, mulai dari ujung atas tepi bebas bagian anterior concha nasalis medius. Setinggi meatus medius ini dinding lateral rongga hidung memperlihatkan sebuah elevasi bulat, yakni bulla ethmoidalis yang dibentuk oleh pembengkakan sinus ethmoidalis medius yang bermuara pada atau tepat diatas bulla ethmoidalis tersebut. Disebelah bawah bula tadi terdapat celah lengkung yang meluas ke atas sampai disebelah depan bulla yakni hiatus semiulnaris. Disebelah inferior hiatus semiulnaris dibatasi oleh rigi konkay yang dibentuk oleh processus uncinatus ethmoidalis, kearah depan dan atas hiatus ini menjadi sebuah saluran lengkung yakni infundibulum ethmoidale. Ke dalam infundibulum ethmoidale tersebut berkesinambungan dengan ductus nasofrontalis. Dengan demikian kesebelah ventral infundibulum berakhir pada sinus ethmoidalis anterior dan ductus nasofrontalis bermuara lewat infundibulum ini ke ujung anterior meatus nasi medius. Muara sinus maksilaris yang berada didekat atapnya berhubungan dengan rongga hidung melewati titik terendah hiatus semiulnaris, disebelah caudal bulla ethmoidalis. Meatus nasi inferior di caudal dan lateral terhadap concha nasalis inferior berisi muara ductus nasolacrimalis. Kesebelah ventral infundibulum berakhir pada pada sinus ethmoidalis anterior dan ductus nasofrontalis bermuara lewat infundibulum ini ke ujung dalam anterior meatus nasi medius. Muara sinus maksilares yang berada didekat atapnya, berhubungan dengan rongga hidung lewat titik terendah hiatus semiulnaris disebelah kaudal bulla ethmoidalis, ada meatus nasi inferior di caudal dan lateral terhadap concha nasalis inferior, berisi buara ductus naso lacrimalis.

Gambar 2. Hidung Bagian Dalam.

Dinding medial atau septum nasi dibentuk oleh lamina prepencicularis ossis ethmoidalis, os vomer dan cartilago septi nasi, dari arah belakang kedepan, atap cavum nasi di bagi tiga regio yaitu sphenoidalis, ethmoidales dan frontonasalis sesuai dengan nama tulang yang ditempatinya. Dasar rongga hidung terbentuk oleh processus palatinus ossis maxila dan lamina horizontalis ossis palatini. Dasar ini memisahkan rongga hidung dari rongga mulut, namun mempunyai hubungan dengan rongga mulut lewat canalis incisivus.

Sinus paranasalis berkembangnya setelah lahir pada bayi terbentuk baru mendekati tahun pertama, sinus-sinus ini mencapai setengah ukurannya pada tahun ke sepuluh dan berkembang lengkap bersamaan dengan pemanjangan wajah umur 15-20 tahun, sinus-sinus ini berlapiskan mukosa hidung, sinus ini berfungsi untuk menghangatkan udara pernafasan. Terbagi atas sinus maksilaris, sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus sfenoidalis. Sinus ini dila[isi oleh membran mukosa, yang berfungsi meringankan tlang cranial, memberi area permukaan tambahan, memproduksi mucus dan memberi efek resonansi dalam produksi suara.1,2

Pharynx merupakan sebuah pipa musculo membranosa yang membentang dari bassis cranii sampai setinggi vertebra cervical 6 di tepi bawah cartilagi cricoidea, paling lebar dibagian superior disebelah caudal dilanjutkan dengan oesophagus. Dari atas kebawah tiap sisi pharynx melekat pada lamina medialis processus pterygoidei, raphe pterygomandibularis, mandibula, lidah, os hyoideum, cartilago thyroidea dan cartilago cricoidea., ke arah lateral berhubungan dengan cavum timpani lewat tuba auditiva eustachii berturut-turut dari cranial ke caudal berbatasan dengan processus styloideus dan otot-ototnya dan arteri dan muskulus disekitarnya. Spatium peripharyngeal dibagi dua yaitu spatium parapharyngeale (pharyngeale laterale) dan spatium retropharyngeale.3

Pharynx dibagi menjadi tiga bagian yaitu nasopharynx, oropharynx dan larynxopharynx. Nasopharinx (dibelakang hidung) yang membentuk bagian belakang hidung dan berada tepat di atas palatum mole. Gerakan palatum mole ke atas akan menutu nasopharinx ketika kita menelan untuk mencegah makanan masuk ke dalam rongga hidung. Kadang terjadi kesalahan koordinasi pada mekanisme tersebut yang dapat rasakan ketika bersin. Oropharinx (dibelakang mulut) yang merupakan saluran udara dari mulut ke paru-paru. Gerakan ototnya membantu membentuk suara yang kita ucapkan. Dengan bantuan lidah, otot-otot tersebut juga mendorong makanan ke bawah ke pintu masuk oesophagus. Organ paling penting pada oropharinx adalah notorious tonsil (amandel), dua jaringan menonjol yang berperan dalam system immune. Dibelakang larynx atau bagian terbawah dari pharynx yaitu laringopharinx, peran bagian ini lebih kepada proses menelan makanan. Gerakan pharynx harus terkoordinasi dengan baik untuk memastikan makanan ma\suk ke dalam oeosophagus dan udara ke jalur paru-paru. Koordinasi ini dilakukan oleh jaringan saraf pharyngeal plexus yang aktivitasnya diatu