makalah bioteknologi bayi tabung.docx

of 43/43
MAKALAH INDIVIDU BIOTEKNOLOGI DASAR PEMANFAATAN BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG KESEHATAN: BAYI TABUNG NAMA : ARNIATI LABANNI’ NIM : H31110006 KELOMPOK : 1 (SATU)
  • date post

    13-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    1.301
  • download

    81

Embed Size (px)

Transcript of makalah bioteknologi bayi tabung.docx

MAKALAH INDIVIDU BIOTEKNOLOGI DASAR

PEMANFAATAN BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG KESEHATAN: BAYI TABUNG

NAMA NIM KELOMPOK

: ARNIATI LABANNI : H31110006 : 1 (SATU)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini, bioteknologi telah mengalami perkembangan sangat pesat. Di beberapa negara maju, bioteknologi mendapatkan perhatian serius dan dikembangkan secara intensif dengan harapan dapat memberi solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi manusia pada saat ini maupun yang akan datang yang menyangkut; kebutuhan pangan, obat-obatan, penelitian, yang pada gilirannya semuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia. Meskipun pada dasarnya bioteknologi berguna dalam memecahkan banyak problem dalam kehidupan manusia, namun ada beberapa produk bioteknologi yang menimbulkan kontroversi di masyarakat. Beberapa produk bioteknologi diniali tidak sesuai dengan norma, agama, dan budaya yang berlaku di masyarakat. Contohnya adalah bayi tabung. Bayi tabung atau biasa dikenal dengan istilah fertilisasi in-vitro adalah suatu teknik sebuah teknik pembuahan dimana sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Metode ini telah berhasil membantu pasangan suami istri yang tidak bisa memiliki anak secara normal. Namun teknik ini menimbulkan kontroversi. Kebanyakan pemuka-pemuka agama menganggap metode ini tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Berangkat dari latar belakang di atas, penulis kemudian mengangkat tema bayi tabung sebagai topik yang menarik untuk dikaji sebagai salah satu penerapan

dari bioteknologi dalam bidang kesehatan. Pada makalah ini akan dikupas tuntas mengenai bayi tabung, sejarahnya, prosesnya, hingga pada efek dan kontroversinya sebagai salah satu produk bioteknologi dalam bidang kesehatan.

1.2 Tujuan Tujuan dituliskannya makalah ini yaitu untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai bayi tabung sebagai salah satu penerapan bioteknologi dalam bidang kesehatan.

1.3 Rumusan Masalah Secara garis besar, makalah ini akan membahas: 1. Apa itu bioteknologi? 2. Penerapan bioteknologi dalam bidang kesehatan? 3. Apa itu bayi tabung? 4. Mengapa dilakukan bayi tabung? 5. Apa manfaat dan efek dilakukannya bayi tabung? 6. Kontroversi mengenai bayi tabung

BAB II ISI

1.1 Bioteknologi 1.1.1 Definisi dan Pengertian Bioteknologi Istilah bioteknologi untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Karl Ereky, seorang insinyur Hongaria pada tahun 1917 untuk mendeskripsikan produksi babi dalam skala besar dengan menggunakan bit gula sebagai sumber pakannya (Suwanto, 1998). Beragam batasan dan pengertian dikemukakan oleh berbagai lembaga untuk menjelaskan tentang Bioteknologi. Beberapa diantaranya akan diulas singkat sebagai berikut: 1. Menurut Bull et al. (1982), bioteknologi merupakan penerapan asas-asas sains (ilmu pengetahuan alam) dan rekayasa (teknologi) untuk pengolahan suatu bahan dengan melibatkan aktivitas jasad hidup untuk menghasilkan barang dan/atau jasa. 2. Menurut Primrose (1987), secara lebih sederhana bioteknologi merupakan eksploitasi komersial organisme hidup atau komponennya seperti; enzim. 3. Bioteknologi merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan kerekayasaan untuk penanganan dan pengolahan bahan dengan bantuan agen biologis untuk menghasilkan bahan dan jasa (OECD,1982). 4. Bioteknologi adalah teknik pendayagunaan organisme hidup atau bagian organisme untuk membuat atau memodifikasi suatu produk dan

meningkatkan/memperbaiki sifat tanaman atau hewan atau mengembangkan mikroorganisme untuk penggunaan khusus (OTA-US, 1982).

5. Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu bio yang berarti makhuk hidup dan teknologi yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology

mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa. Atau secara tegas dinyatakan, Bioteknologi merupakan penggunaan terpadu biokimia, mikrobiologi, dan ilmu-ilmu keteknikan dengann bantuan mikroba, bagian-bagian mikroba atau sel dan jaringan organisme yang lebih tinggi dalam penerapannya secara teknologis dan industri (EFB, 1983) Berdasarkan terminologinya, maka bioteknologi dapat diartikan sebagai berikut: 1. Bio memiliki pengertian agen hayati (living things) yang meliputi; organisme (bakteri, jamur (ragi), kapang), jaringan/sel (kultur sel tumbuhan atau hewan), dan/atau komponen sub-selulernya (enzim). 2. Tekno memiliki pengertian teknik atau rekayasa (engineering) yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan rancang-bangun, misalnya untuk rancang bangun suatu bioreaktor. Cakupan teknik disini sangat luas antara lain; teknik industri dan kimia. 3. Logi memiliki pengertian ilmu pengetahuan alam (sains) yang mencakup; biologi, kimia, fisika, matematika dsb. Ditinjau dari sudut pandang biologi (biosain), maka bioteknologi merupakan penerapan (applied); biologi molekuler, mikrobiologi, biokimia, dan genetika. Dengan demikian, bioteknologi merupakan penerapan berbagai bidang (disiplin) ilmu

(interdisipliner). Oleh karena itu, tidak ada seorangpun yang dapat menguasai seluruh aspek bioteknologi. Berdasarkan definisi dan pengertian di atas, maka bioteknologi tidak lain adalah suatu proses yang unsur-unsurnya sebagai berikut: 1. Input yaitu bahan kasar (raw material) yang akan diolah seperti; beras, anggur, susu dsb. 2. Proses yaitu mekanisme pengolahan yang meliputi; proses penguraian atau penyusunan oleh agen hayati. 3. Output yaitu produk baik berupa barang dan/atau jasa, seperti; alkohol, enzim, antibiotika, hormon, pengolahan limbah.

1.1.2

Sejarah Bioteknologi Sebenarnya bioteknologi sudah lama dikenal oleh manusia. Bioteknologi

berawal dari pembuatan minuman fermentasi sejak 3.000 SM. Namun pada saat itu belum diketahui dasar ilmiahnya. Dasar ilmiah pertama tentang biotek diketahui sejak pengamatan terhadap khamir dilakukan oleh Antonie van Leeuwenhoek (1680). Kemudian pada tahun 1818 Erxleben mengetahui proses fermentasi oleh khamir, diikuti penemuan fermentasi asam laktat oleh Pasteur (1857). Pemahaman tentang khamir berlanjut ketika 1897 Buchner mengungkapkan enzim yang berperan dalam proses fermentasi. Penemuan penting yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bioteknologi adalah konsep warisan sifat oleh Gregor Johann Mendel pada awal abad ke-20. Mendel dikenal sebagai bapak genetika. Tapi saat itu penemuan mengenai bahan genetik masih sangat minim, jadi belum diketahui mekanisme pewarisannya. Lalu pada 1928, Griffifth menemukan proses transformasi

(transformasi=perpindahan) bahan genetik. Tapi belum diketahui struktur dari bahan genetik tersebut, sehingga fenomena tersebut masih dikenal dengan

transforming principle. Eksperimen lanjut dilakukan oleh Oswald Avery dan kawan-kawan (1944), menunjukkan bahwa The Transforming Principple merupakan senyawa asam nukleat tipe deoksiribose. Eksperimen Griffifth dan Avery serta kawan-kawannya

merupakan awal era bioteknologi karena dengan eksperimennya orang bisa melakukan perubahan sifat genetik suatu jasad. Saat itu orang belum mengetahui struktur deoksiribose, tapi mereka yakin bahwa sifat genetik ditentukan oleh struktur yang satu ini. Ketika elusi struktur 3 dimensi DNA (deoxyribonucleid acid) ditemukan oleh James Watson dan Francis Crick (nama populernya Watson-Crick, ingat bentuk helix ganda? Nah, itu.) 1953, berdasarkan citra difraksi X-ray buatan Rosalind Franklin dan Maurice Wilkins. Yang menarik di era ini adalah elusidasi struktur DNA serta mekanisme replikasinya, yang selanjutnya menjadi dasar pemahaman mengenai funsi gen sebagai pembawa sifat suatu jasad. Perkembangan bioteknologi kemudian dilanjutkan oleh Nathan dan Smith yang menemukan suatu enzim yang bisa memotong molekul DNA secara spesifik. Spesifik berarti dia memotong pada bagian tertentu saja. Jadi menghasilkan potongan spesifik. Tidak asal potong. Enzim ini diberi nama endonuklease restriksi. Kalau ada yang memutus, ada juga yang berfungsi untuk menyambungkan. Nama enzimnya DNA ligase. Dengan berbekal dua enzim ini, pada tahun 1970 Paul Berg mendapat Nobel karena percobaannya melakukan penyambungan DNA virus menjadi DNA rekombinan (rekombinan berarti sudah ada kombinasi DNA, jadi DNA nya sudah

tidak murni DNA awal lagi). Ini percobaan pertama di dunia mengenai sambung DNA. Ternyata percobaan Berg tadi menjadi titik awal pengembangan teknologi baru yang disebut dengan teknologi DNA rekombinan (istilah kerennya rekayasa genetik). Dengan teknologi ini kita bisa melakukan perubahan sifat genetik suatu jasad secara terarah (kalau sekarang DNA bisa diedit looh). Dengan teknologi ini gen suatu jasad hidup bisa dipindahkan, disambungkan, bahkan dari jasad yang kekerabatannya jauh sekalipun. Misalnya transgenik. Gen bakteri bisa disisipkan pada DNA tumbuhan. Kalau pakai pemuliaan biasa, gen tanaman yang kekerabatannya berjauhan tidak bisa digabungkan. rekombinan Istilahnya ini menjadi dengan itu inkompatibilitas. punggung Selanjutnya, bioteknologi teknologi modern DNA

tulang

sekaligus sejarah

membedakannya

bioteknologi

konvensional.

Demikianlah

bioteknologi secara umum. Perkembangan bioteknologi tidak berhenti hanya sampai disitu namun terus berkembang sampai sekarang.

1.1.3

Penerapan Bioteknologi Dalam kehidupan kita sehari-hari, secara langsung maupun tidak langsung,

sebagian dari kita pernah berhubungan dengan hasil penerapan Bioteknologi bidang Kesehatan. Salah satu contohnya adalah insulin yang telah digunakan untuk mengobati penyakit diabetes. Penyakit diabetes pada manusia diobati dengan insulin manusia. Insulin merupakan satu dari berbagai contoh penerapan bioteknologi dalam bidang kesehatan. Kemajuan dunia kedokteran saat ini tidak terlepas dari peran Bioteknologi. Sebagai bukti dengan ditemukannya vaksin, antibiotik, interferon, antibodimonoklonal, dan pengobatan melalui terapi gen dan lain sebagainya. a. Antibodi monoklonal, yaitu antibodi monoklonal adalah antibodi

monospesifik yang dapat mengikat satu epitop saja.Antibodi monoklonal ini

dapat dihasilkan dengan teknik hibridoma. Sel hibridoma merupakan fusi sel dan sel. b. Antibiotika yaitu segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup. c. Terapi gen yaitu suatu teknik terapi yang digunakan untuk memperbaiki gengen mutan (abnormal/cacat) yang bertanggung jawab terhadap terjadinya suatu penyakit. Pada awalnya, terapi gen diciptakan untuk mengobati penyakit keturunan (genetik) yang terjadi karena mutasi pada satu gen, seperti penyakit fibrosis sistik. Penggunaan terapi gen pada penyakit tersebut dilakukan dengan memasukkan gen normal yang spesifik ke dalam sel yang memiliki gen mutan. Terapi gen kemudian berkembang untuk mengobati penyakit yang terjadi karena mutasi di banyak gen, seperti kanker. Selain memasukkan gen normal ke dalam sel mutan, mekanisme terapi gen lain yang dapat digunakan adalah melakukan rekombinasi homolog untuk melenyapkan gen abnormal dengan gen normal, mencegah ekspresi gen abnormal melalui teknik

peredaman gen, dan melakukan mutasi balik selektif sehingga gen abnormal dapat berfungsi normal kembali. d. Insulin (bahasa Latin insula, "pulau", karena diproduksi di Pulau-pulau Langerhans di pankreas) yaitu sebuah hormon polipeptida yang mengatur metabolisme karbohidrat. Selain merupakan "efektor" utama dalam

homeostasis karbohidrat, hormon ini juga ambil bagian dalam metabolisme lemak (trigliserida) dan protein hormon ini memiliki properti anabolik. Hormon tersebut juga memengaruhi jaringan tubuh lainnya. Insulin menyebabkan sel (biologi) pada otot dan adiposit menyerap glukosa dari sirkulasi darah melalui transporter glukosa GLUT1 dan GLUT4 dan menyimpannya sebagai glikogen di dalam hati dan otot sebagai sumber energi. Kadar insulin yang rendah akan mengurangi penyerapan glukosa dan tubuh akan mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi. Insulin digunakan dalam pengobatan beberapa jenis diabetes mellitus. Pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 bergantung pada insulin eksogen (disuntikkan ke bawah kulit/subkutan) untuk keselamatannya karena kekurangan absolut hormon tersebut; pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 memiliki tingkat produksi insulin rendah atau kebal insulin, dan kadang kala membutuhkan pengaturan insulin bila pengobatan lain tidak cukup untuk mengatur kadar glukosa darah. Contoh di atas hanya merupakan beberapa dari banyak contoh bioteknologi modern. Adapun yang akan saya bahas di dalam makalah ini adalah penerapan bioteknologi dalam bidang kesehatan yaitu bayi tabung.

1.2 Pengertian Bayi Tabung Menurut Wikipedia, Bayi tabung atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro fertilisation) adalah sebuah teknik pembuahan dimana sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair. Menurut sumber lain, bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur oleh sperma yang terjadi di luar tubuh wanita atau sering dikenal dengan istilah In Vitro Fertilization (IVF). In Vitro berasal dari Bahasa Latin yang berarti di dalam. Sedangkan fertilization adalah bahasa Inggris yang berarti pembuahan. Sehingga bayi tabung atau In Vitro Fertilization adalah proses pembuahan atau bertemunya sel telur dengan sperma terjadi di dalam cawan petri. Hasil dari pembuahan ini kemudian ditanamkan kembali ke dalam rahim. Ungkin karena proses pembuahan tersebut terjadi di tabung kaca sehingga masyarakat mengenalnya dengan istilah bayi tabung. Pengertian bayi tabung sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Steptoe dan Edward sejak tahun 1977. Keduanya merintis program tersebut untuk pasangan yang susah mendapatkan keturunan. Penjelasan tentang hal ini akan dijelaskan lebih rinci pada bagian sejarah.

1.3 Sejarah Bayi Tabung Walter Heape seorang dari Universitas Cambridge, Inggris melaporkan keberhasilan pertama kali melakukan transplantasi embrio pada kelinci pada tahun 1890. Tahun 1937 Pincus dan Einsman berhasil mengaspirai sel telur kelinci,

menginseminasi dengan spermatozoa di dalam tabung, kemudian berhasil terjadi embrio dan mentransfer ke dalam rahim dan berhasil hamil. Kemudian Edwards, 85 tahun, merupakan profesor emeritus di Universitas Cambridge. Ia mengembangkan teknik - di mana telur dikeluarkan dari seorang wanita, dibuahi di luar tubuh dan kemudian ditanamkan ke dalam rahim - bersama dengan ahli bedah ginekolog Patrick Steptoe dari Inggris. Pada tanggal 25 Juli 1978, Louise Brown di Inggris menjadi bayi pertama lahir melalui prosedur inovatif ini, menandai sebuah revolusi dalam perawatan kesuburan. "Prestasi Edwards telah memungkinkan untuk mengobati infertilitas, kondisi medis yang menimpa sebagian besar umat manusia, termasuk lebih dari 10 persen dari semua pasangan di seluruh dunia," kata seorang tim juri Nobel untuk bidang Kedokteran di Stockholm. Empat juta orang telah dilahirkan berkat fertilisasi in-vitro (IVF). Meskipun menghadapi perlawanan dari lembaga kesehatan Inggris, Edwards dan rekannya menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan IVF dari percobaan awal hingga menjadi pengobatan prkatis. Pada tahun 1980, mereka mendirikan klinik pertama di dunia IVF, di Bourn Hall di Cambridge. Saat ini, kemungkinan pasangan subur akan membawa pulang bayi setelah siklus IVF adalah 1 dari 5, peluang yang sama yang dimiliki pasangan dengan kesuburan yang normal. Setiap tahun, sekitar 300.000 bayi di seluruh dunia dilahirkan melalui IVF, menurut Masyarakat Reproduksi Manusia Eropa. Untuk kemenangan ini, Edwards akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai 1,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 135 miliar. Pekerjaan Edwards dan rekannya menimbulkan "debat etika hidup," di kalangan Vatikan. Para pemimpin agama lain dan beberapa ilmuwan

menuntut proyek dihentikan. British Medical Research Council pada 1971 mengurangi pendanaan untuk penelitian Edwards, tetapi berhasil menemukan sumbangan pribadi yang memungkinkan mereka untuk melanjutkan penelitiannya. Di Indonesia sendiri, bayi tabung dikenal sejak tahun 1984. Perkembangan pelayanan bayi tabung di Indonesia tidak lepas dari perkembangan Maklmal Terpadu Imuno Endokrinologi Reproduksi yang didirikan dr. Enud J. Surjana, SpOG(K), Prof Dr.dr.Ichramsyah A. Rahman, SpOG(K), dan Prof.Dr.dr.T.Z.Jacoeb, SpOG(K) yang akhirnya mendirikan Pusat Pelayanan Bayi Tabung. Kelahiran pertama di Indonesia hasil teknik bayi tabung dari pusat bayi tabung TRB Makmal Terpadu

Imunoendokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1987 hasil dari teknik GIFT (Gomet Intra Follopian Transfer) dan tahun 1988 yaitu bayi yang lahir di Klaten. Pelayanan praktek bayi tabung selanjutnya kemudian disusul oleh Pusat TRB di Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan Bandung. Akan tetapi masih terbatas di lingkungan Rumah Sakit Pemerintah atau Universitas Negeri. Dengan makin meningktanya kebutuhan masyarakat maka pelayan ini diperluas kepusat pelayanan swasta, dengan pengawasan dari Departemen Kesehatan. Saat ini di Indonesia erdapat 10 Pusat Pelayanan TRB: 5 di Jakarta, 1 di Bandung, 1 di Yogyakarta, 2 di Surabaya, dan 1 di Bali.

1.3 Alasan Dilakukannya Bayi Tabung Tidak ada patokan pasti berapa tahun setelah perkawinan sepasang suami istri segera dikaruniai anak. Namun jika tidak kunjung dikaruniai anak pula, maka biasanya ada beberapa pasang suami istri yang mengikuti program bayi tabung. Pasangan usia subur di Indonesia sebesar 47 juta dan mereka yang belum memiliki

anak adalah 15%. Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa pasangan suami istri melakukan bayi tabung dimana banyaknya pasangan yang mengalami infertilisasi atau tidak dapat terjadi pembuahan. Hal ini biasanya disebabkan oleh beberapa hal berikut. 1. Masalah saluran telur, dimana saluran telur pada istri tidak berjalan dengan baik atau tidak memungkinkan terjadinya pertemuan antara sel telur dengan sperma, sehingga pembuahan tidak dapat terjadi. Walaupun pembuahan bisa terjadi, kemungkinan embrio tidak masuk ke rongga rahim sehingga terjadi kehamilan di luar kandungan. Untuk menghindari resiko ini, maka pasangan suami istri mencari jalan aman yang memungkinkan terjadinya kehamilan yaitu melalui praktik bayi tabung. 2. Masalah sperma, dimana masalah ini meliputi: 3. Jumlah sel sperma yang sangat sedikit (