Makalah Biogas Ok Agussalim

Click here to load reader

  • date post

    29-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    118
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Biogas Ok Agussalim

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Penduduk Indonesia menurut sensus yang telah dilakukan pada tahun 2010 oleh Biro Pusat Stastisik tercatat sebanyak 234.000.000 jiwa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan tingkat kualitas hidup yang sangat beragam antara satu daerah dengan daerah lainnya terutama ditinjau dari penggunaan sumber daya alam yang ada. Jumlah penduduk Indonesia meningkat sebesar 13,44% (27.735.405 jiwa) dibandingkan dengan tahun 2000, (Anonimus, 2010a) Sementara jumlah penduduk dunia berjumlah 5.868.638.152 jiwa menurut data International Data Base (IDB) Biro Sensus Amerika Serikat. Jumlah penduduk tersebut akan membutuhkan pendayagunaan sumber daya alam sebagi penopang kehidupan. Penggunaan sumber daya alam pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sehingga kehidupan dapat berlangsung dengan baik. Kebutuhan hidup manusia selalu berhubungan dengan tingkat peradabannya, semakin tinggi tingkat peradaban manusia maka penggunaan sumber daya alam akan semakin tinggi. Tingginya peradaban manusia menyebabkan banyaknya aktivitas manusia dalam penggunaan sumber daya alam di muka bumi untuk menjaga pemenuhan kebutuhan hidup. Aktivitas manusia tersebut menyebabkan terjadinya akumulasi emisi enam gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global (global warming) yaitu karbondioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksa fluorida, HFC dan PFC seperti disimpulkan oleh kelompok peneliti di bawah naungan Badan Peserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Panel Antar Pemerintah Tentang Perubahan Iklim atau disebut International Panel on Climate Change (IPCC). Salah satu penyumbang terbesar karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil (fosil fuel) seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam yang juga merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, (Anonimus, 2010b). Sementara itu menurut Anonimus (2010c), budidaya ternak menjadi salah satu kontributor paling signifikan bagi masalah lingkungan yang paling serius saat ini. Dengan meningkatnya kesejahteraan maka penduduk dunia mengkonsumsi lebih banyak daging dan produk susu setiap tahunnya. Produksi daging global

diproyeksikan lebih dari dua kali lipat, dari 229 juta ton pada tahun 1999/2001 menjadi 465 juta ton pada tahun 2050, sementara konsumsi susu diperkirakan naik hingga 580-1043 juta ton. Sektor peternakan tumbuh lebih cepat dari sektor pertanian lainnya. Sektor ini memberikan mata pencaharian bagi sekitar 1,3 miliar orang dan memberikan kontribusi sekitar 40 persen terhadap pertanian global. Banyak petani miskin di negara-negara berkembang yang masih menganggap ternak sebagai sumber energi yang penting dan sumber pupuk organik untuk tanaman mereka. Bidang peternakan menghasilkan 37 persen dari semua metana yang dihasilkan oleh manusia, dimana metana mempunyai efek pemanasan 23 kali lebih kuat dari CO2. Metana tersebut sebagian besar dihasilkan oleh sistem pencernaan hewan pemamah biak (ternak ruminasia). Selain itu peternakan juga menghasilkan 64 persen amonia yang secara signifikan menghasilkan hujan asam. Penggunaan sumber daya alam khususnya bahan bakar fosil dan budidaya ternak ruminansia yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia menjadi salah satu pemicu terbentuknya gas rumah kaca. Gas rumah kaca yang terbentuk menyebabkan terjadinya pemanasan global. Pemasanan global yang terjadi saat ini telah banyak membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia seperti menyebabkan iklim tidak stabil, peningkatan suhu permukaan laut, suhu global akan cenderung meningkat, gangguan ekologis serta berdampak pada kehidupan sosial dan politik. Oleh karena hal tersebut maka perlu dilakukan berbagai cara ataupun upaya-upaya yang sistematis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk menghambat terjadinya pemanasan global yang telah diikrarkan dalam Protokol Kyoto tahun 1997 adalah mengurangi emisi gas rumah kaca. Bioenergi menjadi salah satu cara yang dapat dikembangkan sebagai sumber energi alternatif energi ramah lingkungan dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang mahal dan terbatas. Menurut berbagai hasil studi yang telah dilakukan, penggunaan energi terbarukan dapat menghemat energi sekitar 10% hingga 30%, (Sumiarso , 2010). Pertumbuhan permintaan energi di Indonesia terus bertambah, bahkan dalam

2

kurun waktu 10 tahun pertumbuhannya mencapai 7%, dimana sektor yang paling mempunyai andil besar dalam pertumbuhan ini yaitu sektor industri karena sektor ini merupakan konsumen utama energi. Pemenuhan kebutuhan energi ini hampir semuanya dipenuhi oleh bahan bakar fosil seperti minyak, gas dan batubara. Untuk menekan permintaan energi yang sangat besar tersebut diperlukan pencarian energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi di segala sektor seperti sektor rumah tangga, industri dan sektor transportasi yang salah satunya adalah bioenergi. Bioenergi selain dapat dihasilkan dari tanaman yang memang sengaja dibudidayakan untuk produksi bioenergi juga dapat diusahakan dari pengolahan limbah yang dihasilkan dari aktivitas kehidupan manusia. Penggunaan bioenergi dari limbah peternakan selain dapat mengurangi emisi gas efek rumah kaca, juga mengurangi masalah lingkungan dan meningkatkan nilai dari limbah itu sendiri. Dan salah satu limbah yang dihasilkan dari aktifitas kehidupan manusia adalah limbah dari usaha peternakan sapi yang terdiri dari feses, urin, gas dan sisa makanan ternak. Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dll. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dll (Sihombing, 2000). Limbah peternakan sapi merupakan bahan buangan dari usaha peternakan sapi yang selama ini juga menjadi salah satu sumber masalah dalam kehidupan manusia sebagai penyebab menurunnya mutu lingkungan melalui pencemaran lingkungan, menggangu kesehatan manusia dan juga sebagai salah satu penyumbang emisi gas efek rumah kaca. Secara umum limbah peternakan hanya digunakan untuk pembuatan pupuk organik padahal disisi lain limbah tersebut dapat dimafaatkan sebagai biogas. Pengolahan limbah peternakan melalui proses anaerob atau fermentasi perlu digalakkan karena dapat menghasilkan biogas yang menjadi salah satu jenis bioenergi. Pengolahan limbah peternakan menjadi biogas ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang mahal dan terbatas,

3

mengurangi pencemaran lingkungan serta dapat menekan terjadinya emisi gas rumah kaca khususnya dari sektor peternakan. Pengolahan limbah peternakan menjadi biogas dapat dilakukan pada seluruh wilayah potensi peternakan. Teknologi biogas yang berkembang sekarang ini sudah tersedia yang bisa didapatkan dari berbagai sumber. Namun bila dilihat pada kondisi lapang perkembangan teknologi biogas belum memasyarakat dan berkembang dengan baik. Kondisi tersebut disebabkan beberapa permasalahan yang dijumpai dalam pemanfaatan biogas antara lain yaitu : 1. Belum adanya Program Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten yang membuat suatu pilot proyek pengembangan biogas pada wilayah tertentu. 2. Sosialisasi dan pemasyarakatan pemanfaatan biogas pada wilayah yang memiliki potensi belum berjalan sebagaiman mestinya. 3. Kemampuan peternak dalam pengelolaan teknologi biogas masih kurang oleh karena terbatasnya pengetahuan dan kemampuan dana yang dimiliki.

4

II. BIOGAS DARI LIMBAH TERNAK SAPI SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN 2.1. Sumber Daya Energi Sumber daya energi mempunyai peran penting dalam semua aspek pembangunan ekonomi nasional. Energi diperlukan untuk pertumbuhan kegiatan industri, jasa, perhubungan dan rumah tangga. Dalam jangka panjang, peran energi akan lebih berkembang untuk mendukung pertumbuhan sektor industri dan kegiatan lain yang terkait. Meskipun Indonesia adalah salah satu negara penghasil batu bara, minyak bumi dan gas, namun dengan berkurangnya cadangan minyak dan penghapusan subsidi menyebabkan harga minyak naik. Penggunaan sumber daya energi selama ini selalu tergantung pada sumber bahan bakar fosil yang ada. Ketergantungan ini tak dapat dihindarkan dengan peningkatan kualitas hidup yang semakin tinggi sehingga kebutuhan akan energi meningkat. Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap bahan bakar minyak sangatlah besar. Berdasarkan data Sumiarso (2010), menyatakan minyak bumi mendominasi 43% pemakaian energi di Indonesia, gas bumi sebesar 19%, batu bara 34%, dan energi terbarukan (renewable) hanya sekitar 4% dari total penggunaan energi. Implikasi negatif dari penggunaan bahan bakar fosil terhadap lingkungan dan keterbatasan persediaan telah mendorong kepada pencarian sumber energi alternatif yang diharapkan juga ramah lingkungan dan bersifat dapat diperbaharui (renewable). Menurut data Direktorat Listrik dan Pemanfaatan Energi (2006), cadangan minyak bumi Indonesia hanya sekitar 9 miliar barel per tahun dan produksi Indonesia hanya sekitar 900 juta barel per tahun. Jika terus dikonsumsi dan tidak ditemukan cadangan minyak baru atau tidak ditemukan teknologi baru untuk meningkatkan recovery minyak bumi, diperkirakan cadangan minyak bumi Indonesia habis dalam waktu dua puluh tiga tahun mendatang. Posisi

ketersediaan sumber energi fosil terlihat pada Tabel. 1

5

Tabel 1. Ketersediaan energi fosil di Indonesia Energi Fosil Sumber daya Cadangan Produksi per tahun Cadangan/Produksi (Tahun) Minyak Bumi (Milyar Barel) 86,9 9 0,5 23 Gas (TSCF) 384,7 182 3 62 Batu Bara (Milyar ton) 57 19,3 0,13 146

Sumber : Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, 2006 Semakin melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat tingginya harga BBM di pasar dunia sangat memberatkan masyarakat terutama bagi masyarakat yang berada di daerah terpencil yang merupakan kantongkantong masyarakat miskin karena h