Makalah Bahasa Indonesia (Materi Ejaan Bahasa Indonesia)

Click here to load reader

  • date post

    10-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    515
  • download

    91

Embed Size (px)

description

Untuk tugas makalah bahasa indonesia

Transcript of Makalah Bahasa Indonesia (Materi Ejaan Bahasa Indonesia)

MAKALAH BAHASA INDONESIAEJAAN BAHASA INDONESIA

Disusun oleh :

KELOMPOK IIINama Anggota : 1. Jumlia Syaulani Rizki

(4121121015)

2. Khoirul Ikhsan Pane

(4121121016)

3. Wita Pardede

(4123121084)4. Yemima Purba

(4123121085)Kelas : Pendidikan Fisika B 2012JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2015

KATA PENGANTARPuji syukur kelompok III ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul EJAAN BAHASA INDONESIA. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Ejaan Bahasa Indonesia ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Medan, Februari 2015

Kelompok IIIDAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iDAFTAR ISI iiI. PENDAHULUAN 11.1. Latar Belakang 11.2. Rumusan Masalah 11.3. Tujuan Penulisan 2II. PEMBAHASAN 32.1. Pengertian dan Pembinaan Ejaan Bahasa Indonesia 32.2. Pemakaian Huruf yang Benar sesuai dengan Pedoman EYD 52.3. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) 12III. PENUTUP 233.1. Kesimpulan 233.2. Saran 23DAFTAR PUSTAKA 24BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) pada dasarnya merupakan ejaan bahasa Indonesia hasil dari penyempurnaan terakhir atas ejaan-ejaan yang pernah berlaku di Indonesia. Sebelum EYD diberlakukan di Indonesia pernah berlaku ejaan Ch. A. Van Ophuysen, ejaan Republik (ejaan Soewandi) dan ejaan Malindo. Adapun yang disempurnakan itu bukan bahasa Indonesianya, melainkan ejannya yakni tata cara penulisan yang baku.

Selama ini belum semua orang mematuhi kaidah yang tercantum dalam EYD, baik karena belum tahu, enggan mematuhi atau karena ada pedoman yang mereka pegang selama ini yang mereka anggap pedoman itu sudah tepat. Tindakan seperti ini jelas dapat mengacaukan perkembangan bahasa Indonesia. Padahal dengan diberlakukannya EYD, seharusnya setiap warga negara Indonesia, termasuk warga pengadilan sebagai pemakai bahasa Indonesia wajib mengikuti dan mematuhi kaidah-kaidah yang tercantum di dalamnya. Dalam rangka menyebarluaskan dan memasyarakatkan EYD itulah dalam kaitan dengan teknik penulisan karya ilmiah, tulisan ini terbit. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan manfaat dan petunjuk praktis bagi masyarakat di semua lingkungan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentu saja tulisan ini tidak luput dari kekurangan dan diperlukan sumbangan pemikiran dari para pembaca.1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah ini, permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa dan bagaimana pengertian dan pembinaan ejaan bahasa Indonesia?

2. Bagaimana pemakaian huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD?

3. Bagaimana penulisan huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD? 1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalh ini adalah untuk mengetahui :

1. Mengetahui Pengertian dan pembinaan ejaan bahasa Indonesia.2. Mengetahui pemakaian huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD.3. Mengetahui penulisan huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD.BAB IIPEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Pembinaan Ejaan Bahasa Indonesia

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa ejaan adalah cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf (Poerwadarminta, 1976:266). Gorys Keraf (1984: 47) menyatakan bahwa ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interelasi antara lambang-lambang tersenut (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu bahasa.

Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapatlah dikatakan bahwa ejaan itu mengandung ketetapan-ketetapan tentang cara melambangkan atau menuliskan satuan-satuan bunyi (fonem), satuan-satuan morfologi seperti kata dasar, kata ulang, kata majemuk. Di samping itu, dalam ejaan, terkandung juga ketetapan-ketetapan tentang cara menuliskan satuan-80 satuan kata (kalimat). Ke dalamnya, termasuk ketetapan tentang pemakaian tanda baca, seperti tanda titik, koma, titik koma, titik dua, tanda kutip, tanda tanya, tanda seru.

Di Indonesia, secara resmi, pernah berlaku tiga macam ejaan, yaitu Ejaan Van Ophuysen, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).2.1.1. Ejaan van OphuijsenEjaan ini merupakan ejaanbahasa Melayudengan huruf Latin.Charles Van Ophuijsenyang dibantu olehNawawi Soetan MamoerdanMoehammad Taib Soetan Ibrahimmenyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu : hurufuntuk membedakan antara hurufisebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftongseperti muladenganramai. Juga digunakan untuk menulis hurufyseperti dalamSoerabaa. Hurufjuntuk menuliskan kata-katajang,pajah,sajang,dsb. Hurufoeuntuk menuliskan kata-katagoeroe,itoe,oemoer, dsb. Tandadiakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-katamamoer,akal,ta,pa, dsb.2.1.2 Ejaan RepublikEjaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan namaejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu: hurufoediganti denganupada kata-kataguru,itu,umur, dsb. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengankpada kata-katatak,pak,rakjat, dsb. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti padakanak2,ber-jalan2,ke-barat2-an. Awalandi- dan kata depandikedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.2.1.3. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan. Perubahan :Indonesia(pra-1972)Malaysia(pra-1972)Sejak 1972

tjchc

djjj

chkhkh

njnyny

sjshsy

jyy

oe*uu

Catatan: Tahun 1947 "oe" sudah digantikan dengan "u".

Dewasa ini, di negara kita digunakan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempur-nakan (EYD) yang telah direvisi menjadi EYD Terbaru (untuk selanjutnya, disebut dengan EYD saja). Oleh karena itu, kesalahan atau penyimpanan yang dimaksud dalam bagian ini, berdasar kepada ketetapan-ketetapan yang ada di dalam EYD itu sendiri.

EYD diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Suharto pada tanggal 16 Agustus 1972. Ini berarti EYD telah berusia 38 tahun. Usianya yang cukup lama itu ternyata belum bisa menjamin bahwa masyarakat pemakainya mampu menerapkannya dengan baik. Hal itu ter-bukti dengan masih adanya banyak penyimpangan yang dilakukan oleh pemakai bahasa terhadap ketetapan-ketetapan yang tercantum dalam EYD itu sendiri. Anehnya, penyim-pangan atau kesalahan yang menyangkut EYD itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh sebagian anggota masyarakat tergolong pelajar atau mahasiswa yang sudah beberapa tahun belajar bahasa Indonesia, bahkan oleh guru bahasa Indonesia sendiri. Pada garis besarnya, kesalahan itu menyangkut bidang persukuan penulisan huruf kapital, penulisan kata, penulisan partikel, penulisan angka dan lambang bilangan, dan pemakaian tanda baca.

2.2. Pemakaian Huruf yang Benar sesuai dengan Pedoman EYD2.2.1. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam bahasa Indonesia ada 26 huruf, yaitu:

HurufNama

KapitalKecil

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZabcdefghijklmnopqrstuvwxyzabecedeeefgehaijekaelemenopekieresteuveweeksyezet

2.2.2. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.HurufVokalContoh Pemakaian dalam Kata

Posisi AwalPosisi TengahPosisi Akhir

ae*

iouapienakemasituolehulangpadipetakkenasimpankotabumilusasoretipemurniradioibu

2.2.3. Huruf KonsonanHuruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

HurufKonsonanContoh Pemakaian dalam Kata

Posisi AwalPosisi TengahPosisi Akhir

bcdfghjk

lmnpqrstvwxyzbahasacakapduafakirgunaharijalankami-lekasmakanamapasangQuranraihsampaitalivariawanitaxeroxyakinzenisebutkacaadakafantigasahammanjapaksarakyat*alaskamitanahapastatus quobaraaslimatalavahawa-payunglazimadab-Abadmaafgudegtuahmikrajpolitikbapak*akaldiamdaunsiapTaufiqputartangkasrapat--sinar-x-juz

Keterangan :

*Huruf k melambangkan bunyi hamzah.

**Huruf q dan x khusus dipakai untuk nama diri (seperti Taufiq dan Xerox) dan keperluan ilmu (seperti status quo dan sinar x).

2.2.4. Huruf DiftongDi dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

HurufDiftongContoh Pemakaian dalam Kata

Posisi AwalPosisi TengahPosisi Akhir

aiauoiainaula-malaikatsaudaraboikotpandaiharimauamboi

2.2.5. Gabungan Huruf KonsonanGabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing masing melambangkan satu bunyi konsonan.

GabunganHurufKonsonanContoh Pemakaian dalam Kata

Posisi AwalPosisi TengahPosisi Akhir

khngnysykhususngilunyatasyaratakhirbangunbanyakisyarattarikhsenang-arasy

Catatan :

Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain ditulis sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.2.2.6. Persukuan

Persukuan adalah penggalan-penggalan bunyi dari kata dalam satu ketukan atau satu hembusan nafas. Setiap suku kata dalam Bahasa Indonesia ditandai oleh sebuah vokal. Vokal ini dapat didahului atau diikuti oleh konsonan.

1. Persukuan Kata dalam Bahasa IndonesiaDi bawah ini dicantumkan pola persukuan kata dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, yaitu sebagai berikut :a) Bahasa Indonesia mengenal empat macam pola umum suku kata, yaitu :

1. V

: a-nak; i-bu; ba-u; a-kan; a-ku; ma-u; a-du; i-par

2. VK: ar-ti; ma-in; om-bak; an-dal; la-in; in-dah

3. KV: ra-kit; ka-in; ra-jut; ca-kap

4. KVK: pin-tu; kan-tor; lan-tai; lam-bat; ram-but; rim-bun

b) Di samping itu Bahasa Indonesia mengenal pola suku kata, yaitu :

1. KKV: pra-ja; sas-tra; in-fra; su-pra2. KKVK: blok; trak-tor; prak-tis; trak-tir; skan-dal

3. VKK: eks; ons; ohm; eks-por

4. KVKK: teks; kon-teks; pers

5. KKVKK: kom-pleks; tri-pleks6. KKKV: stra-te-gi; in-stru-men; stra-ta

7. KKKVK: struk-tur; in-struk-tur

Keterangan: V = vokal; K = konsonan

c) Pemisahan suku kata pada kata dasar, yaitu :

1. Kalau di tengah kata ada dua vokal yang berurutan, maka pemisahan suku kata pada kata dasar tersebut dilakukan di antara kedua vokal itu.

Contoh : ma-af; bu-ah; ri-ang

2. Kalau di tengah kata ada konsonan di antara dua vokal, maka pemisahan suku kata pada kata dasar tersebut dilakukan sebelum konsonan itu.

Contoh : a-nak; a-pa; a-gar

Oleh karena ng, ny, sy, dan kh yang melambangkan satu konsonan, maka gabungan huruf-huruf itu tidak pernah diceraikan sehingga pemisahan suku kata dilakukan sebelum atau sesudah pasangan huruf itu.

Contoh : sa-ngat; nyo-nya; sya-rat; ang-ka; akh-lak

3. Kalau di tengah kata ada dua konsonan yang berurutan, maka pemisahan suku kata pada kata dasar tersebut terdapat di antara kedua konsonan itu.

Contoh : man-di; tem-pat; lam-bat; ker-tas

4. Kalau di tengah kata ada tiga konsonan atau lebih, maka pemisahan suku kata pada kata dasar tersebut terdapat di antara konsonan yang pertama (termasuk ng) dengan konsonan kedua.

Contoh : in-stru-men; bang-krut; ul-tra

d) Imbuhanadalah bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata, yaitu di awal, di akhir, di tengah, atau gabungan dari antara ketiga itu, yang berfungsi untuk membentuk kata baru yang artinya berhubungan dengan kata yang pertama.Imbuhan termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk dan partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya dan dalam persukuan kata dipisahkan sebagai satu kesatuan.

Contoh : ma-ka-nan; me-ne-mui; bel-ajar; per-gi-lah; wa-lau-pun2.2.7. Nama DiriNama diri adalah nomina khusus yang mengacu ke nama geografi, nama orang atau lembaga, dan nama yang berhubungan dengan waktu. Nama diri ditulis dengan huruf kapital, sedangkan nama jenis merujuk kepada jenis tertentu secara umum. Di dalam pedoman EYD nama jenis yang tergolong sebagai nomina umum ditulis dengan huruf kecil. Nama diri yang diatur penulisannya dalam pedoman umum EYD berhubungan dengan :1) Nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, dan gelar keilmuan yang diikuti nama orang.

Contoh :

a. DoktorSalim Said terkenal kritis dalam memberikan ulasan di televisi.

b. HajiAgus Salim seorang pahlawan pendidikan.

2) Nama jabatan pangkat yang diikuti nama orang, instansi atau tempat.

Contoh :

a. Gubernur DKI Jakartameresmikan pengunaanbusway.b. Kolonel Suparmanberhasil mengungkap kasus korupsi kemarin.

3) Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Contoh :

a. Di penghujung tahun 2004 bangsaIndonesiamengalami bencana yang amat besar.

b. PulauJawaterpadat penduduknya di Indonesia.

c. Bahasa Indonesiabelum menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.

4) Nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Contoh :

a. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1343Hijriah.b. Dahulu pernah terjadi Perang Candu di negeri Cina.5) Nama khas geografi.

Contoh :

a. Salah satu daerah pariwisata di Sumatera adalahDanau Toba.b. Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dihubungkan olehSelat Sunda.

6) Nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan.

Contoh :

a. Ayu Utami mengarang novelSaman.b. Kiat Mengatasi Gejala Penyakit Kejiwaan.2.3. Penulisan Huruf yang Benar sesuai dengan Pedoman EYD2.3.1. Huruf Kapital1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:

Dia membaca buku.

Apa maksudnya?

Kita harus bekerja keras.

Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:

Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"

Orang itu menasihati anaknya, "Berhati-hatilah, Nak!"

"Kemarin engkau terlambat," katanya.

"Besok pagi," kata Ibu, "dia akan berangkat."

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

Islam

Quran

Kristen

Alkitab

Hindu

Weda

Allah

Yang Mahakuasa

Yang Maha Pengasih

Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

4. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:

Mahaputra Yamin

Sultan Hasanuddin

Haji Agus Salim

Imam Syafii

Nabi Ibrahim

b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Pada tahun ini dia pergi naik haji.

Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.

5.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik

Perdana Menteri Nehru

Profesor Supomo

Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian

Gubernur Jawa Tengah

b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.

Misalnya:

Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.

Sidang itu dipimpin Presiden.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

c.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.

Misalnya:

Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?

Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.

Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.

6.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.

Misalnya:

Amir Hamzah

Dewi Sartika

Wage Rudolf Supratman

Halim Perdanakusumah

Ampere

Catatan:

(1)Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).

Misalnya:

J.J de Hollander

J.P. van Bruggen

H. van der Giessen

Otto von Bismarck

Vasco da Gama

(2)Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.

Misalnya:

Abdul Rahman bin Zaini

Ibrahim bin Adham

Siti Fatimah binti Salim

Zaitun binti Zainal

b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

pascal second

Pas

J/K atau JK-1joule per Kelvin

N

Newton

c.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

mesin diesel

10 volt

5 ampere

7.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

bangsa Eskimo

suku Sunda

bahasa Indonesia

b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

pengindonesiaan kata asing

keinggris-inggrisan

kejawa-jawaan

8.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.

Misalnya:

tahun Hijriah

tarikh Masehi

bulan Agustus

bulan Maulid

hari Jumat

hari Galungan

hari Lebaran

hari Natal

b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.

Misalnya:

Perang Candu

Perang Dunia I

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

c.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi.

Misalnya:

Banyuwangi

Asia Tenggara

Cirebon

Amerika Serikat

Eropa

Jawa Barat

b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.

Misalnya:

Bukit Barisan

Danau Toba

Dataran Tinggi Dieng

Gunung Semeru

Jalan Diponegoro

Jazirah Arab

Ngarai Sianok

Lembah Baliem

Selat Lombok

Pegunungan Jayawijaya

Sungai Musi

Tanjung Harapan

Teluk Benggala

Terusan Suez

c.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.

Misalnya:

ukiran Jepara

pempek Palembang

tari Melayu

sarung Mandar

asinan Bogor

sate Mak Ajad

d.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.

Misalnya:

berlayar ke teluk

mandi di sungai

menyeberangi selat

berenang di danau

e.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.

Misalnya:

nangka belanda

kunci inggris

petai cina

pisang ambon

10.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.

Misalnya:

Republik Indonesia

Departemen Keuangan

Majelis Permusyawaratan Rakyat

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.

Misalnya:

beberapa badan hukum

kerja sama antara pemerintah dan rakyat

menjadi sebuah republik

menurut undang-undang yang berlaku

Catatan:

Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.

Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.

Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.

11.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan

12.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".

13.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:

Dr.

Doctor

S.E.

sarjana ekonomi

S.H.

sarjana hokum

S.S.

sarjana sastra

S.Kp.

sarjana keperawatan

M.A.

master of artsM.Hum.

magister humaniora

Prof.

Professor

K.H.

kiai haji

Tn.

Tuan

Ny.

nyonya

Sdr.

saudara

Catatan:

Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.

14.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.

Misalnya:

Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"

Besok Paman akan datang.

Surat Saudara sudah saya terima.

"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.

"Silakan duduk, Dik!" kata orang itu.

b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

15.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

Siapa nama Anda?

Surat Anda telah kami terima dengan baik.

16.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada I B, I C, I E, dan II F15).

2.3.2. Huruf Miring1.Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya:

Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan Prapanca.

Majalah Bahasa dan Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.

Berita itu muncul dalam surat kabar Suara Merdeka.

Catatan:

Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.

2.Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya:

Huruf pertama kata abad adalah a.

Dia bukan menipu, melainkan ditipu.

Bab ini tidak membicarakan pemakaian huruf kapital.

Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan berlepas tangan.

3.a.Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.

Misalnya:

Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Orang tua harus bersikap tut wuri handayani terhadap anak.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Weltanschauung dipadankan dengan 'pandangan dunia'.

b.Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.

Misalnya:

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Korps diplomatik memperoleh perlakuan khusus.

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi.

BAB III

PENUTUP3.1. KesimpulanEjaan yang disempurnakan memuat kaidah-kaidah bahasa Indonesia, seperti penulisan huruf, penulisan kata, penulisan tanda baca dan penulisan unsur serapan. Penulisan huruf berkaitan dengan aturan penulisan nama diri, nama jenis, nama sebutan dan huruf pada lambang bilangan. Penulisan kata berkaitan dengan aturan penulisan kata baku, kata depan, kata ulang, gabungan kata dan bentuk singkatan/akronim. Penggunaan tanda-tanda baca dan aturan penyerapan kata asing yang menjadi kosakata bahasa Indinesia. EYD ini hendaknya menjadi acuan/patokan dalam berbahasa Indonesia agar tidak terjadi kesalahan.

3.2. Saran

Agar dapat mengetahui kaidah-kaidah penulisan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar maka seharusnya penulis memahami dengan cermat isi dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Risa. 2008. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Surabaya: Serba Jaya.

Arifin, E. Zaenal. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Presindo.

Barus,Sanggup. 2014. Pendidikan Bahasa Indonesia. Medan: Unimed Press.H. G. Taringan. 1985. Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

Salam, Rosdiah. 2006. Bahasa dan Sastra Indonesia. Makassar: Grasindo.