Majalah Manunggal Entrepreneurship

download Majalah Manunggal Entrepreneurship

of 64

  • date post

    29-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    490
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Majalah Manunggal Entrepreneurship

Selamat Tahun Baru Dengan semangat baru, Manunggal senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi par a pembaca, karena tan pa dukungan pembaca, Manunggal bukan apa-ap a. Pada edisi ini Manungga l hadir dengan tema En trepreneurship yang kian populer. Pengertian, pendapat para pakar, hin gga jatuh bangun para wirausahawan disuguhka n dalam rubrik Sajian Utama. Poling tentang Entrepreneurship turut me lengkapi sajian kami. Dalam rubrik Face to Fa ce, Manunggal bertemu sineas Deddy Mizwar yang berbagi cerita tentan g perfilman di Indonesia. Ada pula profil mahasisw dari Madagaskar yang me a ndapat beasiswa kuliah di Fakultas Ilmu Budaya. Bagi yang suka jalan-jalan , Manunggal mengunjungi Selecta di Malang dan Telaga Madirda di Ka bupaten Karanganyar seb agai referensi wisata bagi pembaca. Dalam rub rik gaya hidup, Manungga l yang membahas tentang tren behel yang sedang in. Sementara, rubrik To Be Fit membahas lemak trans. Selamat membaca!

Daftar IsiSajian Utama ..........06 Poling .....................16 Komik ...... ...............20 Pendidikan ...............22 Artikel Mahasiswa ..24 Face To Face ............26 Olahraga.................30 Konsultasi ...............33 Gaya Hidup ..............34 Techno...................36 Intermezzo .............38 Corner ....................40 Kuliner ...................42 Plesir .....................44 To Be Fit ................50 Bisnisiana...............52 Profil .....................55 Cerpen ...................56 Resensi ..................60

Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Manunggal Universitas Diponegoro; Pelindung: Prof dr Susilo Wibowo MS ED SpAnd; Penasehat: Prof Dr Ignatius Riwanto SpBD, Dr H Muhammad Nasir MSi Akt, Sukinta SH MHum, Dr Muhammad Nur DEA, Dr Adi Nugroho; Pemimpin Umum: Hendra Kusuma WH; Sekretaris Umum: Ratna Trianingsih; Pemimpin Redaksi: Ridha Swasti Hapsari; Pemimpin Litbang: Alan Prahutama; Pemimpin Perusahaan: Arvinda Hanugraheningtias; Sekretaris Redaksi: Satya Sandida; Redaktur Pelaksana: Mia Aulia Hasana, Arnindya Kanti Prasasti; Staf Redaksi: Hasan Anwar, Taufiq Bagus Prasojo; Redaktur Artistik dan Online: Siti Khatijah; Staf Artistik dan Online: Furqon Abdi, Azam David Saifullah; Manajer Iklan: Taufik Hidayat; Staf Iklan: Rahman Adi Nugroho, Taufik Budiawan; Manajer Rumah Tangga: Eka Mei Fajar Y; Produksi dan Distribusi: Tidar Priyo S; Kadiv Data dan Informasi: Ali Budi Utomo; Staf Data dan Informasi: Andri Imam S; Kadiv Jaringan dan Kerjasama: Farah Melchalida; Staf Jaringan dan Kerjasama: Lutfi Agung Mardiansyah; Kadiv Kaderisasi: Bondika Ariandani; Staf Kaderisasi: Septian Ananggadipa; Alamat Redaksi, Iklan dan Sirkulasi: Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Joglo Universitas Diponegoro Jl. Imam Bardjo, S.H. No.2 Telp. (024) 8446003 Semarang 50241 E-mail: persmanunggal@yahoo.com Web: www.manunggal.undip.ac.id

EDITORIAL

Job Creator, bukan Job SeekerIndonesia kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi rakyatnya amat sulit memperoleh lapangan pekerjaan. Paradigma tersebut yang ingin disampaikan oleh Manunggal dalam edisi Entrepreneurship kali ini. Menjadi seorang wirausaha, atau entrepreneur adalah salah satu langkah awal untuk meraih kesuksesan. Dengan berwirausaha, seseorang dapat lebih bebas menjalankan usaha serta mengekspresikan ide-idenya. Manunggal ingin memotivasi mahasiswa untuk tidak mencari pekerjaan, melainkan menciptakan lapangan pekerjaan. Setelah lulus dari bangku perkuliahan diharapakan mahasiswa menjadi job creator, bukan job seeker. Di negeri yang padat penduduk ini diharapkan para intelektual menjadi majikan, bukan buruh di negeri sendiri. Manunggal juga membahas suka duka berwirausaha. Suatu usaha membutuhkan pengorbanan. Setiap kendala harus dihadapi dengan kerja keras. Pengorbanan waktu, emosi, tenaga dan dana menjadi konsekuensi yang harus dihadapi oleh seorang entrepreneur. Saat ini banyak generasi muda yang sadar dan berani menciptakan suatu usaha. Mahasiswa berwirausaha saat masih menjalani kuliah menghadapi berbagai tantangan salah satunya tugas-tugas kuliah menumpuk. Keharusan membagi waktu antara belajar, mengerjakan tugas dengan mengelola usahanya membuat banyak mahasiswa yang takut untuk berwirausaha. Perjuangan menjadi sukses dalam berwirausaha membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Meski berwirausaha ketika masih kuliah dirasa tidak mudah namun ternyata masih banyak mahasiswa yang memutuskan untuk terjun menjadi entrepreneur muda. Tak sedikit orang-orang yang pantang menyerah dan cerdas melihat peluang, meraih kesuksesan di usia muda. Dengan semangat pantang menyerah kesuksesan pun tercapai di depan mata. (Redaksi)

4

5

Ragam Definisi, Satu TujuanSaat pertama terdengar, entrepreneurship belum setenar sekarang. Pada masa itu, orang belum benar-benar mengerti istilah tersebut. Kini, entrepreneurship telah menjelma menjadi sebuah tren.6

Istilah entrepreneurship sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kewiraswastaan atau kewirausahaan. Secara etimologi, kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti pahlawan atau perwira, sedangkan usaha adalah kegiatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Hingga saat ini, para ahli mempunyai pandangan berbeda-beda mengenai definisinya. Richard Cantillon menekankan wirausaha pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Sedangkan Penrose, lebih cenderung mengindentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi . Pendapat lain dikemukakan Harvey Leibenstein. Menurutnya, kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya. Meskipun memiliki beragam definisi, pada intinya kewirausahaan merukan proses mengi-

dentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Tujuannya satu, mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Wirausaha terlihat gaungnya sejak abad ke14. Pada saat itu terdapat dua pihak yang berkepentingan dalam perekonomian, yaitu pihak pasif dan pihak aktif. Pihak pasif bertindak sebagai pemilik modal. Sedangkan pihak aktif, yang dipelopori Marcopolo, menggunakan modal untuk berdagang sampai mengarungi lautan. Pihak aktif inilah yang sesuai dengan prinsip kewirausahaan. Istilah kewirausahaan mulai dikenal sejak abad16,di BelandadikenaldenganOndernemer, di Jerman dikenal dengan Unternehmer. Selanjutnya, pada tahun 1755, Richard Castillon memperkenalkan kewirausahaan secara luas. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara di Eropa, Amerika, dan Kanada. Kewirausahaan berkembang sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi. Pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat menjadikan kewirausahaan berkembang. Sampai pada saat ini, wirausahawan lekat dengan pembawa perubahan, inovasi baru, dan berani mengambil risiko. Wirausaha di Indonesia Di Indonesia, kewirausahaan mulai populer pada 1970-an. Pada saat itu lapangan pekerjaan masih sedikit. Hal tersebut diperparah lagi dengan makin sedikitnya peluang menjadi PNS yang menjadi pekerjaan idaman pada saat itu. Prof Purbayu, dosen Fakultas Ekonomi Undip, menyayangkan sangat minimnya jumlah wirausahawan di

Indonesia.Wirausahawan di Indonesia hanya mencapai 0,5% dari total penduduknya, idealnya dalam sebuah negara ada wirausawan sebanyak 4% dari total penduduk, katanya. Kurangnya minat berwirausaha juga dilatarbelakangi budaya kita. Berwirausaha harusnya diajarkan sedini mungkin. Kesadaran kewirausahaan bagus ditanamkan sejak kecil untuk terbiasa hidup mandiri. Di Turki, anak TK mulai berwirausaha dengan bekerja mengepel rumah, tuturnya. Disinggung mengenai mahasiswa yang lebih mementingkan wirausaha dari pada kuliah, Purbayu menuturkan, Tidak ada yang salah bagi mahasiswa yang lebih mementingkan wirausaha daripada kuliahnya. Hal ini masih rasional karena hidup adalah pilihan. Setiap orang mempunyai strategi yang berbeda untuk menghadapi hidup. Namun, Purbayu berpesan bagi mahasiswa yang berwirausaha untuk tidak mengabaikan kuliahnya. Dengan kuliah seorang wirausahawan akan memiliki nilai plus. Selain itu jangan lama-lama kuliahnya, negara dirugikan karena kuliah di sini disubsidi pemerintah, tambahnya. (Hasan)

7

Ramai-ramai

Usung Konsep WirausahaMenjamurnya tren wirausaha di kalangan mahasiswa membuat universitas mulai bergerak. Dosen dan petinggi birokrasi di kampus pun berlomba mengusung konsep berwirausaha dalam kebijakan ekstra dan intra kampus.Seolah tak mau ketinggalan, Undip turut melakukan hal serupa. Salah satunya, lewat kegiatan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Kegiatan ekstra kampus untuk membentuk karakter para wirausahawan muda ini dibina Pembantu Rektor (PR) III Undip. Selama mengikuti PMW, peserta diberikan pelatihan kewirausahaan, magang, penyusunan rencana bisnis, dukungan permodalan, dan pendampingan usaha. 8 Dimulai dengan sosialisasi acara ke mahasiswa, PMW dilanjutkan dengan pengumpulan proposal business plan mahasiswa. Dewan juri akan menyeleksi dan mengumumkan peserta yang lolos. Pelaksanaan kegiatan PMW setelah itu dilakukan di bawah pengawasan dosen pendamping. Untuk mengikuti PMW, tiap mahasiswa diwajibkan membentuk kelompok yang beranggotakan 3-5 orang

dan membuat proposal business plan. Lalu proposal diserahkan ke dewan juri, yang terdiri dari praktisi kewirausahaan, praktisi perbankan, Kamar Dagang Indonesia (Kadin), dan dosen Undip. Mahasiswa yang proposalnya lolos seleksi akan mendapat pelatihan, kemudian magang dua minggu di suatu perusahaan. Setelah magang, anggota tiap kelompok akan mendapat uang tunai maksimal delapan juta per orang sebagai modal usaha. Pada 2009, dana tersebut merupakan hibah dari