MAJALAH HIDAYATULLAH - Rubrik Kajian utama

Click here to load reader

  • date post

    16-Jul-2015
  • Category

    Marketing

  • view

    169
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of MAJALAH HIDAYATULLAH - Rubrik Kajian utama

  • NOPEMBER 2014/MUHARAM 1436 11

    KAJIAN UTAMARasulullah beRsabda, Iman Itu ada 70 cabang lebIh

    atau 60 cabang lebIh. Yang palIng utama adalah ucapan la ilaha illallah, dan Yang pa lIng Rendah adalah me

    nYIngkIRkan RIntangan (kotoRan) daRI tengah jalan, sedang Rasa malu Itu (juga) salah satu cabang daRI Iman.

    (RIwaYat muslIm)

    Iman, dengan 70 cabangnYa, adalah pondasI daRI bangunan peRadaban Islam. Suara hida yatullah akan

    me ngupas cabangcabang Iman InI untuk mengantaRkan kIta kepada cItacIta tegaknYa kembalI

    peRadaban madInah!

    TIM PENULIS: Mahladi (pemimpin Redaksi Kelompok Media hidayatullah),

    Hamim Thohari (ketua dewan syura hidayatullah), Hanif Hannan (anggota dewan

    syura hidayatullah), Ahkam Sumadiyana (pengurus pimpinan pusat hidayatullah).

    Penanggungjawab Rubrik: deka kurniawan. Fotografer: muh. abdus syakur

    Cabang iman ke-30

    Selamatkan Hidupmu dengan Wara

    11

    Dalam hidup ada hal yang halal dan ada yang haram. Sesuatu yang halal tentu saja boleh kita lakukan. Sesuatu yang haram, sudah barang tentu harus kita jauhi. Namun, ada pula hal-hal yang samar dan tidak secara jelas sebagai larangan. Bukan hitam, juga bukan putih. Orang menyebutnya: wilayah abu-abu.

    Dalam agama, perkara yang masih samar itu disebut syubhat. Perkara seperti ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian hadiah, misalnya, seringkali sarat dengan penyogokan dan gratifikasi. Bisnis online dan investasi usaha, begitu juga. Seringkali tersamar unsur haramnya. Terhadap perkara syubhat ini, agama menganjurkan hendaknya kita berhati-hati. Jika hati kita merasa ragu, maka segera tinggalkanlah. Sikap ini yang disebut wara. Dengan sikap ini kita akan terjaga dari unsur haram. Begitu penting sikap ini dimiliki seorang mukmin sehingga Rasulullah menegaskan dalam Hadits yang diriwayatkan Thabrani bahwa kebaikan agama seseorang ditandai dengan sikap wara. Wallahu alam bish-Shawab.

  • SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com12

    Wara, menurut Al-Harawi, adalah sikap menjauhi maksiat secara optimal dengan penuh hati-hati, serta menjauhi dosa-dosa dengan penuh takzim kepada Allah . Sedang menurut Yunus bin Abid, wara adalah sikap meninggalkan setiap hal yang syubhat (samar-samar dan meragukan) dan mengintropeksi diri setiap kejap mata.

    Wara` PemimPin Sikap wara` berlaku untuk setiap hamba. Jika sikap ini ada pada diri pemimpin, maka kemuliaannya akan lebih tinggi. Sebab, pemimpin seperti ini akan menyelamatkan dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang wara` akan menghindari semua perbuatan yang mengantar pada kemaksiatan. Jangankan berbuat maksiat, perbuatan yang mubah (boleh) saja akan dihindarinya, jika hal tersebut mengantarkan kepada kemaksiaatan. Karekter asli orang-orang wara adalah menjauhi perkara yang haram dan tidak berani melakukan suatu yang dapat membawa dirinya terjerumus kepada perkara yang haram. Begi tu hati-hatinya se-hing ga mereka lebih memilih untuk mening-galkan perkara tersebut. Rasulullah

    telah me-negaskan bahwa hukum segala yang halal itu telah jelas. Begitu juga yang haram. Dan, di an tara keduanya, kata Rasulullah dalam Hadits yang diriwayat-kan Bukhari, ada perkara syubhat. Barangsiapa

    ber hati-hati dari syubhat tersebut, dia telah membersih-kan dirinya untuk agama dan kehormatannya. Namun, barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu, dia akan terjerumus ke dalam haram, bagaikan peternak yang menggembala di sekitar kawasan terlarang dan nyaris memasuki kawasan tersebut. Perumpamaan ini perlu direnungkan semua pem-impin. Sebab, seorang pemimpin pada dasarnya sedang menggembalakan rakyatnya. Jika rakyatnya dibiarkan mendekati kawasan terlarang, lama kelamaan mereka akan merangsek masuk ke kawasan tersebut, lalu mema-kan rumput dan segala tanaman di sana. Yang paling aman adalah memilih kawasan yang jelas-jelas halal. Karena, batas antara yang halal dan haram itu jelas. Ibarat lahan, pagar yang memisahkan antara area yang boleh dilintasi dengan yang tidak boleh sangat jelas. Pemimpin yang wara akan memilih sikap hati-hati. Ia akan menghindari lubang-lubang kecil yang bisa mem-buatnya tergelincir ke dalam lubang yang lebih besar dan dalam. Sebelum berkubang dengan perbuatan dosa, segala hal yang mengantarkan ke arah tersebut dijauhi secara optimal.

    KAJIAN UTAMA

    Hati-hati, Syubhat Jebakan Haram

  • NOPEMBER 2014/MUHARAM 1436 13

    sudah tidak peduli halal dan haram. Yang haram saja tak dipedulikan, apalagi yang syubhat. Mereka juga tak segan-segan menghambur-hambur-kan hartanya untuk biaya kampanye dan mengiklankan diri. Mereka tanpa malu membangun citra diri yang jauh dari jati diri sebenarnya. Syahwat untuk menonjolkan diri, baik untuk menda-patkan jabatan atau sekadar mendapatkan pujian, benar-benar telah banyak menelan korban. Betapa banyak pemimpin yang terperosok jatuh ke ju-rang kehinaan akibat ketamakannya. Mereka selalu haus pujian dan sanjungan. Mereka ingin selalu menonjol.

    Jauhi Kesia-siaan Orang yang memiliki sifat wara` akan selalu men-jaga dirinya agar tidak jatuh pada perbuatan yang sia-sia. Dalam berucap, ia sangat berhemat. Tidak menghambur-hamburkan kata-kata kecuali yang baik dan benar. Ia juga pandai memilih kata-kata yang tidak menying-gung perasaan orang lain. Ia juga mengetahui di mana, kapan, dan kepada siapa berbicara. Orang yang wara` akan menjauhi kebencian, iri hati, ghibah, dan namimah. Semua perbuatan tersebut hanya akan mendatangkan kebangkrutan. Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada para Sahabat, Tahukah kamu siapakah orang yang bangkrut itu? Para Sahabat menjawab, Orang yang tidak mempu-nyai dirham atau harta sama sekali. Lalu beliau menjawab, Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, shaum, dan zakat, namun dia juga suka mencela ke sana ke mari, men-uduh berzina, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan suka memukul. Sebagian kebaikan dari orang tersebut, kata Rasulullah

    sebagaimana dikutip dari Hadits riwayat Muslim, akan diberikan kepada orang-orang yang telah disakiti-nya. Apabila kebaikannya telah habis sebelum selesai semua yang menjadi tanggungannya, maka diambillah kesalahan-kesalahan orang yang disakiti dan ditimpakan kepadanya. Terakhir, dia dilemparkan ke dalam neraka. Orang yang wara` akan menghindari segala perbuatan sia-sia. Mereka akan menjauhi segala perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat dan kebaikan. Duduk-duduk yang tidak mendatangkan pahala akan dijauhi, sekalipun tidak menggunjing. Mereka gunakan waktu sebaik mungkin untuk berzikir, membaca al-Quran, belajar atau menga-jar, menyeru berbuat baik (makruf) dan mencegah dari perbuatan mungkar. Rasulullah bersabda, Termasuk baiknya keislam-an seseorang adalah meninggalkan semua yang tidak bermanfaat. (Riwayat Shahih Jami Shaghir) Wallahu alam bish-Shawab.

    Misalnya, menerima hadiah. Pada dasarnya hal ini mubah. Tetapi bagi seorang pemimpin harus hati-hati saat menerima hadiah. Bisa jadi hadiah yang diterima tersebut meruapakan sogokan. Kebiasaan menerima hadiah bagi seorang pemimpin bisa membentuk kebiasaan pamrih, juga membangun karakter korupsi. Bersikap hati-hati merupakan solusi terbaik yang ditawarkan Islam. Bagi pemimpin yang beriman, Allah telah membe-rinya peringatan (warning) berupa perasaan tidak enak ketika menerima sesuatu yang meragukan. Pada saat seperti itu seorang pemimpin langsung bertindak untuk menyetop pemberian tersebut. Benarlah nasihat Rasulullah , Tinggalkan yang meragukan kepada yang tidak meragukan. (Riwayat Turmudzi) Pemimpin yang wara akan meninggalkan segala hal yang haram dan bersikap hati-hati pada semua hal yang masih syubhat. Bagi pemimpin yang hatinya bersih, segala yang meragukan akan mendatangkan kegelisahan dan kerisauan. Hatinya menjadi tidak tenang. Rasulullah bersabda, Kebaikan adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan jiwa dan hati, sekalipun para ahli fatwa memberikan fatwa kepadamu. (Riwayat Ahmad, Thabrani dan Baihaqi) Akan tetapi, pemimpin yang hatinya kotor dan tercemar oleh berbagai kemaksiatan, hatinya tidak akan mampu menangkap sinyal berupa kerisauan hati. Mereka tetap merasa aman ketika berbuat dosa. Ibarat listrik, sekringnya tidak berbunyi saat konslet. Saat ini kita membutuhkan pemimpin yang sensitif, yang hatinya peka terhadap segala hal yang memba-hayakan diri dan kehidupan orang banyak. Sebelum api membakar seluruh rumah dan bangunan sekitarnya, ia siapkan pemadam kebakaran.

    Dua KetamaKan Ada dua ketamakan yang siap menghancurluluhkan pertahanan iman seseorang, yaitu ketamakan terhadap harta dan ketamakan terhadap jabatan Rasulullah bersabda, Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas dalam kumpulan domba lebih ganas memang sa domba-domba itu dibandingkan ketamakan seseorang akan kedudukan dan harta terhadap agama-nya. (Riwayat Shahih Jami Shaghir) Seseorang yang tamak terhadap harta akan menghalal-kan segala cara untuk mendapatkannya. Tak peduli harus menggadaikan harga diri dan kehormatannya. Jika miskin, ia tak malu meminta-minta. Jika seorang pedagang, ia tak malu menipu dan memanipulasi. Harta sering kali membuat orang gelap mata. Ada anggapan barang yang haram saja sulit dicari, apalagi yang halal. Ini potret buram ketamakan manusia. Mereka

  • SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com14

    Terhadap hal ini, Allah berfirman:

    k l m n o Dan janganlah sebagian kamu memakan harta seba-gian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil (Al-Baqarah [2]: 188) Sikap Rasulullah yang amat berhati-hati terhadap perkara syubhat patut kita contoh. Dengan berhati-hati dan berusaha meninggalkan hal-hal yang syubhat, kehor-matan dan agama seseorang akan selamat. Kalaupun ia tanpa sadar terlanjur melakukan hal yan