MAJALAH HIDAYATULLAH 2014 - Rubrik Parenting

Click here to load reader

  • date post

    12-Jul-2015
  • Category

    Education

  • view

    109
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of MAJALAH HIDAYATULLAH 2014 - Rubrik Parenting

  • MARET 2014/JUMADIL AWAL 1435 67

    JendelaKeluarga

    celah

    mengajak umatnya untuk berpikir dan menyentuh jiwanya melalui kisah-kisah dalam kitab suci-Nya. Kekuatan cerita mampu masuk ke alam bawah sadar manusia, se hing-ga terekam lebih kuat dalam memori. Cerita juga me-mung kin kan seseorang mendapat hikmah tanpa merasa digurui.

    Para ahli pendidikan sangat meyakini bahwa bercerita menguatkan hubungan antara anak-anak dengan orang-tua. Terlebih jika yang diceritakan adalah kisah-kisah te-la dan yang bersumber dari al-Qur`an dan Hadits yang disampaikan dengan cara menarik.

    Sebagian ulama terdahulu berpendapat bahwa ce rita merupakan salah satu senjata Allah yang dapat me ne guh-kan hati para wali-Nya. Cerita memiliki keindahan yang mengandung kenikmatan tersendiri. Imam Abu Hanifah berkata, Kisah-kisah tentang para ulama dan perbuatan baik mereka lebih saya sukai daripada ilmu fi qih. Sebab, kisah itu merupakan adab suatu kaum yang mempunyai pe ngaruh yang besar dalam menarik perhatian dan me-ning kat kan kecerdasan berpikir seorang anak.

    Namun, mengapa lebih banyak orangtua khususnya ayah yang memilih menghabiskan waktu di dunia pe ker-jaannya. Banyak yang berpikir itulah yang akan mem-ba ha giakan dan lebih penting untuk diberikan kepada anak-anaknya. Wahai para ayah, ketahuilah bahwa jiwa anak-anak sesungguhnya haus akan sentuhan jiwa yang disampaikan melalui kisah-kisah penghantar tidur.

    Simak apa yang disampaikan Obama, Surga kecil yang saya nanti-nantikan ialah saat saya bisa duduk-duduk de ngan putri saya yang berusia enam dan tiga tahun, lantas ma lam nya membacakan buku untuk mereka, kemudian membaringkan mereka ke ranjang. (American Libraries, Agustus 2005). Penulis buku Bahagia Mendidik, Mendidik Bahagia.

    OLEH IDA S. WIDAYANTI*

    FOTO

    : MU

    H A

    BDU

    S SY

    AK

    UR/

    SUA

    RA H

    IDAY

    ATU

    LLA

    H

    Kakak, tahu nggak, tadi tiba-tiba ada bocah yang waktu itu ikut acara do-ngeng nyamperin aku, terus bilang, Kak,

    kapan banjir lagi ya? Aku pengen dengar dongeng lagi nih. Demikian sebuah pesan singkat yang diterima oleh

    seorang pendongeng, yang beberapa waktu lalu aktif memberikan hiburan edukatif pada anak-anak korban banjir di pengungsian. Ia tidak menyangka hal ke cil yang dilakukannya sangat berkesan di hati anak-anak korban banjir. Yang membuat ia takjub yaitu pernyataan anak yang berharap banjir lagi hanya karena ingin men de-ngarkan dongeng.

    Kisah di atas sepertinya sebuah lelucon. Namun itu nyata terjadi. Sebuah fakta yang sulit dipungkiri bahwa se-mua anak suka cerita, dongeng atau kisah. Sejak dahulu kala, di seluruh dunia, anak-anak bahkan orang dewasa se ka lipun menyukai cerita. Di Inggris suatu kali pernah di-adakan jajak pendapat pada orang-orang dewasa. Per ta-nya annya mengenai saat apakah mereka merasa bahagia di masa kecilnya dulu. Jawaban terbanyak mereka, Pada saat orangtua mereka membacakan buku atau cerita.

    Mendiang Steve Jobs, pendiri Apple, pernah membo-co rkan rahasia kehebatannya dalam membuat materi pre sentasinya yang sangat menarik. Ia menyebutkan tips per tamanya adalah buatlah kisah yang menarik hati dan pikiran. Alasannya menurut Jobs: Human have been telling stories for thousands of years. Ya, manusia sudah bercerita sejak ribuan tahun lalu. Terlihat ukiran di gua-gua atau candi-candi yang menunjukkan bahwa mereka se sung guhnya sedang mengungkapkan kisah melalui gam bar.

    Cerita, diyakini merupakan metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Al-Qur`an pun banyak berisi kisah atau cerita. Allah Taala

    Saatnya Ayah Berkisah

  • SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com68

    Peran ibudalam Ghazwul Fikr

    marah

    Sangatlah penting setiap ibu mempelajari paham-paham ghazwul fikr beserta bahayanya seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme dan lain-lain.

    Ngapain repot-repot sekolah tinggi-tinggi, toh nanti tetap di dapur alias jadi ibu rumah tangga. Kalimat tersebut tidak asing lagi bagi perempuan, sebab memang ditujukan kepadanya. Ada anggapan yang keliru bahwa seorang wanita tugasnya hanya di dapur. Padahal, aktifitas memasak dan tataboga kerumahtanggaan lainnya pun membutuhkan ilmu.

    Dari banyak kasus dan literatur, sejatinya menjadi seorang ibu itu tidaklah mudah. Sebab, perempuan tak hanya menjadi istri, tapi juga menjadi pendamping setia sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Terutama harus selalu tangkas dan benar dalam menjawab dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan kritis sang anak. Maka itu, seorang ibu haruslah sosok pembelajar yang selalu ingin tahu.

    Sebagai wanita, kita dituntut tak

    kenal lelah dalam belajar, kepada siapa dan di mana pun. Namun harus disadari, status akademik bukanlah jembatan untuk mendapatkan kedudukan bergengsi di mata manusia. Esensi ilmu adalah sebagai bekal dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang akan melahirkan jiwa-jiwa terbaik kelak.

    TanTangan ZamanDemikian pula terhadap anak,

    pilihan hidupnya akan terbentuk sesuai pendidikan yang telah didapatkannya, terutama pendidikan dari guru pertamanya yaitu ibu. Karena itu, jika seorang ibu tidak mempersiapkan anaknya untuk menghadapi berbagai problem pada zaman ini, maka mereka akan linglung dalam menentukan jalan hidupnya.

    Karakter anak ditumbuhkan oleh seorang ibu agar kelak ia memiliki frame yang benar tentang hidup ini, ke mana akan menuju, dan bagaimana menjalaninya. Terutama kasadaran sang belia terhadap perang gaya hidup yang berlangsung massif saat ini yaitu perang pemikiran (ghazwul fikr).

    Sejak dulu hingga kini, perang terhadap Islam tidak saja berlangsung secara fisik sebagaimana kita saksikan di Suriah, Rohingya, atau Palestina. Sungguh banyak jiwa yang mengalami kematian lewat perang fisik ini. Namun,

    kita harus menyadari, saat ini telah berlangsung pula perang yang boleh jadi sama hebatnya dengan perang fisik, yaitu ghazwul fikr.

    Walau tidak menimbulkan kematian secara fisik, namun perang pemikiran dapat memorak-morandakan pondasi ideologi seseorang, bahkan merusak tatanan moral sebuah komunitas dan mematikan mentalnya. Sebut saja misalnya gencarnya budaya pacaran, pesta pora, musik, fashion, dan lain sebagainya. Pelan tapi pasti telah mereduksi sikap remaja dan anak anak bangsa ini menjadi permisif.

    Setiap rumah di negeri ini, bahkan dunia, mendapatkan gempuran ghazwul fikr setiap hari. Yang baik diputarbalik menjadi sebuah keburukan dan ketinggalan zaman. Sebaliknya, kemunkaran dipersepsi sebagai sesuatu yang maju, hebat, keren, asyik, dan modern. Mereka mengkampanyekan kebebasan untuk melakukan apa pun (liberalisme).

    Intelektual Muslim Adian Husaini mengatakan, virus-virus liberal yang bergentayangan di masyarakat saat ini tak ubahnya seperti hama yang menggerogoti tanaman. Jika dibiarkan dan tidak ditanggulangi tentu akan semakin menyebar dan menebarkan penyakit keraguan serta kebingungan dalam memahami Islam.

    SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com

    Oleh Sahlah al Ghumaisha*

  • MARET 2014/JUMADIL AWAL 1435 69

    Jendela keluarga

    menanamkan adab dan perilaku terpuji. Ia mengatakan, seorang bayi dilahirkan dengan membawa fitrah murni dan lembaran tabiat putih. Apabila jiwanya yang masih kosong itu ditemukan dengan perilaku tertentu, maka itu akan terlukis dan terpahat dilembaran putih tersebut.

    Kemudian hasil pahatan itu akan tetap ada, bahkan bertambah sedikit demi sedikit sampai memenuhi setiap sudut dan menjadi sifat utama yang menolak segala sesuatu yang berseberangan dengannya, demikian nasihat mantan Rektor Universitas Al-Azhar, Mesir ini.

    Pemeran utama dalam melawan ghazwul fikr yang merusak akhlak anak adalah ibu. Selain mendidik untuk pembentukan akhlak, seorang ibu pun harus mempelajari paham-paham yang telah menjadi asupan empuk dari ghazwul fikr seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme dan isme-isme sesat lainnya.

    Sangat penting bagi seorang ibu menjaga antibody anaknya dalam menghadapi ghazwul fikr. Di sinilah pentingnya memahami bahwa tugas seorang ibu tidak melulu identik dengan kata sumur, kasur, dan dapur. Seorang ibu, calon ibu, dan juga calon istri, harus tetap belajar, belajar, dan belajar sebagai bekal untuk menjaga kefitrahan diri dan anaknya.

    Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan nasihat ulama masyhur, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, yang mengatakan bahwa barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama berikut sunnah-sunnahnya. Alumni STIS Hidayatullah Balikpapan, kini mahasiswa Pascasarjana Pemikiran Islam, Universitas Muhamadiyah Surakarta & Santriwati Padepokan Lir Ilir

    foTo

    : MU

    H A

    bDU

    S SY

    AK

    UR/

    SUA

    RA H

    IDAY

    ATU

    llA

    H

    69

    Dampaknya dari hama ini dapat dilihat pada sekitar 10-20 tahun mendatang. Kita akan melihat, bagaimana akhir pertarungan pemikiran ini pada masa-masa itu. Apa yang akan terjadi, dan apakah upaya dekonstruksi bangunan Islam ini akan berhasil.

    Untuk itu, sangatlah penting setiap ibu mengetahui perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan di era global, terutama ikut serta mempelajari paham-paham ghazwul fikr beserta bahayanya seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme dan lain-lain. Karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

    Waspada diniSiapa cepat dia dapat. Kalimat

    tersebut jika ditarik ke dalam kerangka pembentukan akhlak, tidak berlebihan kita memaknainya bahwa apabila seorang ibu sedini mungkin telah mendidik dan berhasil mengarahkan anaknya, maka ia akan tetap berada dalam lingkup