Majalah balipost edisi 105

download Majalah balipost edisi 105

of 52

  • date post

    23-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    270
  • download

    2

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Majalah balipost edisi 105

  • RP 20.000

    105 |14 - 20 September 2015

    Bentuk ArogansiPenghentian Proyek Tukad Mati

  • 14 - 20 September 2015 3

    D A F T A R I S I

    PENDIDIKAN Wajib PAUD Sebelum TK 18

    MANCANEGARA Anak-anak Timur Tengah Menjadi Korban Konik 20DAERAH Bansos dan Hibah Tak Jelas Sebaiknya Diatur dalam Perda 22KESEHATAN TB Tak Sembuh, Disarankan Tes HIV 24

    LENSA Selamatkan Penyu 26

    OLAHRAGA Memetik Untung Bersama 28LINGKUNGAN Pencemaran Sungai Buleleng Dari Sampah Organik Sampai Limbah Cair 36PEMERINTAHAN Kunker Gubernur Bali di Badung Pastikan Pelaksanaan Seluruh Program Pro Rakyat 38PARIWISATA Menarik Wisatawan ke Bali Lewat Kuliner 39TRADISI Ritual Bertani di Bali Dari Mapag Toya Hingga Mantenin Padi 48

    OPINI Simalakama Transportasi Publik 6BALI SEPEKANEks Lahan TG Diserahkan ke PD Pasar 7LAPORAN UTAMAPenghentian Proyek Tukad Mati Bentuk Arogansi 8

    Abaikan Kepentingan Publik 9Penumpang Gelap 11POLITIKKrisis Kader Petarung 16Presiden Isyaratkan Rombak 160 Aturan 17

  • 414 - 20 September 20154

    D A R I P E M B A C A

    Bagi Anda yang ingin mengirimkan artikel/opini atau pikiran pembaca silakan kirimkan ke balipost@indo.net.id atau redaksibalipost@yahoo.com. Panjang artikel maksimal 2.500 karakter, sertakan foto, pikiran pembaca maksimal 1.000 karakter.

    Pasar Seni Mengwi

    Penghapusan PPn Jasa Hiburan

    PerintisK Nadha

    Pemimpin UmumABG Satria Naradha

    Pemimpin Redaksi/Penanggung JawabWirata

    Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata

    Sekretaris RedaksiSugiarthaRedaksi

    Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry,Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca,

    Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi.Anggota Redaksi Denpasar

    Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi

    Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Parwata, Rindra, Agustoni, Ngurah Kertanegara, Komang

    Suryawan, Agung Dharmada. Bangli: Ida Ayu Swasrina,

    Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Manik Astajaya, Dedy Sumartana

    Karangasem: Budana, Bagiarta Klungkung: Dewa Dedy Farendra, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati, Wira Sanjiwani.

    JakartaNikson, Hardianto, Ade Irawan

    NTBAgus Talino,

    Izzul Khairi, Raka Akriyani

    SurabayaBambang Wiliarto

    Kantor Redaksi

    Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764,

    Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001.

    Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602,

    Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara

    Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta,

    Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A,

    Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00,

    Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers

    SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP,

    PenerbitPT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an

    Pt.Bali Post.Dicetak di Percetakan BP

    Pasar Seni Mengwi nantinya akan menampung hasil karya kerajinan dan seni seperti lukisan, patung, keramik, busana dan suvenir lainnya. Saya mengusulkan, kalau bisa para perajin dan seniman yang ada di wilayah Ka-bupaten Badung diberi kesempatan memajang hasil karyanya di Pasar Seni tersebut. Karya-karya seni dibagi per kelompok, jangan dicampur aduk. Karena Pasar Seni itu terdiri dari beberapa gedung, khusus lukisan dipajang dalam satu gedung; patung dan kramik khusus satu gedung; busana, tas dan souvenir lainnya juga dipajang dalam satu gedung. Ditata sedemikian rupa agar elok dipandang mata dan tamu pun tertarik untuk berkunjung.

    W. Beratha YasaKapal, Mengwi, Badung

    Menteri Keuangan RI membuat kebijakan penghapusan PPn jasa hiburan yang termasuk di dalamnya adalah diskotik. Kebijakan tersebut menurut-nya akan lebih memacu berkembangnya jasa hiburan dan kesenian. Walaupun sebenarnya DPR menilai kebijakan ini tidak tepat karena akan mengurangi penda-patan pemerintah, hal ini dikarenakan Indonesia menjadikan pajak sebagai salah satu sumber pendapatan terbesar untuk menunjang perekonomian negara.

    Mengapa yang dipikirkan oleh banyak orang hanya bagaimana kebijakan tersebut berpengaruh terhadap perekonomian negara? Tidakkah mereka berpikir semakin menjamurnya jasa hiburan seperti diskotik juga akan berpengaruh terh-adap moralitas anak bangsa khususnya? Pasalnya, saat PPn masih diberlakukan saja moral anak bangsa saat ini sudah sangat parah. Bagaimana jika PPn untuk jasa hiburan ini dihapus?

    Untuk kebaikan bersama, dan demi menyelamatkan moral anak bangsa, sudah saatnya tidak lagi memikirkan keuntungan yang mungkin sifatnya materi semata. Bukankah moral anak bangsa adalah aset berharga untuk menunjang bangsa ini di masa yang akan datang?

    B. Cindi YuniartiMonang Maning Denpasar

  • 514 - 20 September 2015 5

    LAJU pertumbuhan pariwisata Bali berbanding lurus dengan kehancuran yang ditimbulkan. Tingginya arus modal investasi masuk Bali membuat terkoyaknya keseim-bangan alam dan ekosistem kehidupan di Bali. Pariwisata juga telah memicu aliran urban dan membuat persaingan memper-tahankan hidup makin sulit. Menyikapi hal ini, banyak kalangan mengusulkan agar dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan sektor pariwisata. Langkah restorasi pun ditawarkan. Bahkan ada yang menyarankan agar Bali melakukan moratorium atau melakukan langkah penyetopan sementara pembangunan investasi untuk kepentingan pariwisata.

    Pandangan ini terungkap saat Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat terkait restorasi sektor pariwisata. Pada jajak yang dilakukan di seluruh Bali ini, tercatat 64,55 persen responden mendukung langkah ini. Responden berpandangan pertumbuhan wisatawan ke Bali telah menimbulkan stag-nasi dana pengelolaan ruang yang salah arah. Bahkan pertumbuhan sektor pariwisata juga dibarengi dengan peningkatan kemiskinan sebesar 0,04 persen.

    Bali pun tidak bisa lagi berharap perkem-bangan sektor pariwisata dapat mengen-taskan kemiskinan. Pasalnya, 50 persen keuntungan dari sektor ini lari entah ke

    mana. Bahkan, penetapan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan rencana reklamasi Teluk Benoa akan menjadi proses penghancuran Bali secara tersistem.

    Atas kondisi itu, pemerintah pun disa-rankan lebih mengutamakan pembinaan desa adat atau mendorong wisatawan untuk datang ke agrowisata dan subak. Sedang-kan 34,36 persen responden mengatakan restorasi bahkan moratorium pariwisata belum perlu dilakukan di Bali. Sejumlah responden berpandangan masih ada ruang atau cara lain untuk menata pariwisata Bali. Responden berpandangan, jika pendapatan dari pariwisata tidak dinikmati krama Bali, yang peralu dilakukan menata regulasinya. Pemodal yang harus diwajibkan member-dayakan SDM orang Bali. Selain itu, pemodal yang tak mau mengakomodasi budaya Bali dan menjaga kawasan suci umat Hindu dalam pengelolaan investasi, izin usahanya agar jangan diperpanjang. Ke depan, investasi pariwisata harus diatur agar peluang kolusi antara pejabat dan investor nakal bisa diawasi.

    Peluang pengusaha lokal harus diakomo-dasi. Alasannya, bila pengusaha lokal mati, orang Bali tersisih di Bali, maka tidak akan ada yang memelihara Bali ini. Tidak mung-kin orang dari luar Bali datang ke Bali untuk memelihara Bali. Untuk itu, kebijakan pen-

    gelolaan pariwisata harus ditinjau ulang.Selebihnya, 1,09 persen responden tidak

    memberikan jawaban terkait hal ini. Respon-den hanya berharap pemerintah mengenda-likan laju pertumbuhan investasi pariwisata agar tidak menjamah areal pertanian. Pem-prov Bali agar memerhatikan daya dukung Bali dalam merekomendasikan perizinan pembangunan hotel. Bahkan, Pemprov Bali didesak segera bersikap terkait rencana reklamasi Teluk Benoa dan mendesak agar pemerintah pusat mencabut kawasan Be-sakih dan sekitaranya dari KSPN.

    Dira Arsana

    Restorasi Sektor Pariwisata

  • 6Beberapa waktu belakangan ini orang berduyun-duyun mendaf-tarkan diri untuk menjadi bagian dari Bisnis Transportasi yang diberi label Go-Jek. Hal ini menyusul cerita sukses (?) beroperasinya Go-Jek di Jakarta. Bahkan orang rela mengantri untuk deregister sebagai operator Go-Jek. Fenomena itu rupanya merambah kemana-mana, termasuk sudah memasuki Bali. Bahkan ada yang menyebut Go-Jek ini adalah hasil kerativitas anak bangsa. Iming-iming penghasilan yang lumayan besar telah menghipnotis banyak orang. Dengan hanya bermodalkan sepeda mo-tor sendiri dan KTP, maka setiap orang yang berminat sudah dapat menjadi bagian dari bisnis ini. Bahkan setiap ang-gotanya akan menerima Jaket, Helm dan alat komuniksi (ponsel) untuk memper-lancar operasionalnya. Sebagian orang merasakan kehadiran jenis pelayanan ini sangat membantu, bahkan sangat super. Demikian juga operatornya, mungkin sudah merasakan adanya tambahan pen-gahasilan atas pekerjaan ini. Maka jadilah Go-Jek yang notabene tidak berbeda den-gan bisnis Ojek pada umumnya menjadi salah satu lapangan pekerjaan. Padahal kita semua tahu bahwa mereka yang berprofesi sebagai tukang Ojek adalah mereka yang sebenarnya sedang kesulitan untuk mencari jenis pekerjaan lainnya. Itu cerita yang didapat dari hasil wawancara bahwa keberadaan Ojek disuatu wilayah adalah karena tidak adanya pelayanan angkutan umum yang memadai. Jika ini adalah pekerjaan utama mereka, maka sepertinya bisnis ini merupakan solusi untuk mengurangi jumlah.

    Kemajuan atau Kemunduran?Ketika terdapat pangkalan ojek di

    suatu wilayah, maka kita langsung menduga bahwa pelayanan angkutan umum diwilayah tersebut belum ada atau belum baik. Oj