Lupus Fiks

download Lupus Fiks

of 42

  • date post

    22-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    46
  • download

    14

Embed Size (px)

description

nmm

Transcript of Lupus Fiks

SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)

MAKALAH

oleh Kelompok 2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATANUNIVERSITAS JEMBER2014

SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)

MAKALAH

Diajukan guna melengkapi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik VI AFasilitator : Ns. Siswoyo, M.Kep

oleh :Siti Zumrotul Mina(122310101005)Jamilatus Sholihah (122310101007)Eka Yuliana (122310101013)Listya Pratiwi (122310101017)Aris Kurniawan(122310101033)Made Enstini SP(122310101035)Dwi Nida Dzusturia(122310101045)Alfun Hidayatulloh(122310101047)M Tutus Prasetyo(122310101071)Indra Sarosa(122310101073)Nikmatul Khoiriyah(122310101075)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATANUNIVERSITAS JEMBER2014

BAB 1.PENDAHULUAN

1.1 LatarbelakangSystemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang biasa dikenal dengan istilah Lupus adalah penyakit kronis atau menahun. Penyakit Lupus ini merupakan penyakit autoimun dimana organ dan sel mengalami kerusakan yang disebabkan oleh tissue-binding auto antibody dan kompleks imun, yang menimbulkan peradangan dan bias menyerang berbagai sistem organ. Etiologi dari beberapa penyakit collagen-vascular sering tidak diketahui tetapi system imun terlibat sebagai mediator terjadinya penyakit tersebut (Delafuente, 2002).Systemic Lupus Erythematosus (SLE)termasuk dalam penyakit collagen-vascular yaitu suatu kelompok penyakit yang melibatkan sistem musculoskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi klinik sehingga diperlukan pengobatan atau terapi yang kompleks. Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit yang masih jarang terdengar ditelinga masyarakat Indonesia. Hal ini bukan berarti yang terkena penyakit ini tidak banyak. Kementrian Kesehatan menyatakan lebih dari 5 juta orang diseluruh dunia terdiagnosis penyakit Lupus. Sebagian besar penderitanya ialah perempuan di usia produktif yang ditemukan lebih dari 100.000 setiap tahun. Di Indonesia jumlah orang yang terkena Lupus secara tepat masih belum diketahui tetapi di perkirakan mencapai jumlah 1,5juta orang (Kementerian Kesehatan, 2012). Systemic Lupus Erythematosus (SLE)dapat menyerang semua usia, namun sebagian besar pasien ditemukan pada perempuan usia produktif. Sembilan dari sepuluh orang penderita lupus (odapus) adalah wanita dan sebagian besar wanita yang mengidap SLE ini berusia 15-40 tahun. Namun, masih belum diketahui secara pasti penyebab lebih banyaknya penyakit SLE yang menyerang wanita.Systemic Lupus Erythematosus (SLE)dikenal juga dengan penyakit 1000 wajah karena gejala awal penyakit ini tidak spesifik, sehingga pada awalnya penyakit ini sangat sulit didiagnosa. Hal tersebut menyebabkan penanganan terhadap penyakit lupus terlambat sehingga penyakit tersebut banyak menelan korban.

1.2 Rumusan Masalah1.1.1. Bagaimana definisi dan klasifikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?1.1.2. Bagaimana epidemiologi Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?1.1.3. Apa saja etiologi Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?1.1.4. Bagaimana tanda dan gejala Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?1.1.5. Bagaimana patofisiologi Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?1.1.6. Bagaimana komplikasi dan prognosis Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?1.1.7. Bagaimana pengobatan dan pencegahan Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?1.1.8. Bagaiamana asuhan keperawatan pada klien dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?

1.3 TujuanAda pun beberapa tujuan kami dalam menyusun makalah ini antara lain:1.3.1 Untuk mengetahui definisi dan klasifikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE);1.3.2 Untuk mengetahui epidemiologi Systemic Lupus Erythematosus (SLE);1.3.3 Untuk mengetahui etiologi Systemic Lupus Erythematosus (SLE);1.3.4 Untuk mengetahui tanda dan gejala Systemic Lupus Erythematosus (SLE);1.3.5 Untuk mengetahui patofisiologi Systemic Lupus Erythematosus (SLE);1.3.6 Untuk mengetahui komplikasi dan prognosis Systemic Lupus Erythematosus (SLE);1.3.7 Untuk mengetahui pengobatan dan pencegahan Systemic Lupus Erythematosus (SLE);1.3.8 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE);

BAB 2. TINJAUAN TEORI

1. DefinisiTerdapat beberapa spekulasi pendapat untuk istilah lupus eritematosus. Kata lupus dalam bahasa Latin berarti serigala, erythro berasal dari bahasa yunani yang berarti merah, sehingga lupus digambarkan sebagai daerah merah sekitar hidung dan pipi, yang dikenal dengan butterfly - shaped malar rash. Tetapi pendapat lain menyatakan istilah lupus bukan berasal dari bahasa Latin, melainkan dari istilah topeng perancis dimana dilaporkan wanita memakainya untuk menutupi ruam di wajahnya. Topeng ini dinamakan Loup,yang dalam bahasa perancis berarti serigala atau wolf dalam bahasa InggrisLupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit reumatik autoimun yang ditandai adanya inflamasi tersebar luas, yang mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan deposisi autoantibodi dan kompleks imun sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan (Utomo, 2012). Lupus Eritematosus Sistemik merupakan suatu penyakit autoimun kronis yan ditandai oleh terbentuknya antibodi-antibodi terhadap beberapa antigen diri yang berlainan. Antibodi-antibodi tersebut biasanya adalah IgG atau IgM dan dapat bekerja bertahap asam nukleat pada DNA atau RNA, protein jenjang koagulasi, kulit, sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Kompleks antigen antibodi dapat mengendapdi jaringan kapiler dehingga terjadi reaksi hipersensitivitas tipe III, kemudian terjadi peradangan kronik.Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus) (SLE) merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis dengan etiologi yang belum diketahui serta manifestasi klinis, perjalanan penyakit dan prognosis yang sangat beragam (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2011). Penyakit ini terutama menyerang wanita (dengan ratio wanita dan pria 5:1). Wanita yang sering mengalami LES adalah wanita dengan rentang usia reproduksi (15-40 tahun) dengan angka kematian yang cukup tinggi. Faktor genetik, imunologik, hormonal, ras (sering ditemukan pada ras tertentu seperti bangsa negro, Cina) serta lingkungan diduga berperan dalam patofisiologi SLE. Dalam 30 tahun terakhir, LES telah menjadi salah satu penyakit penyakit reumatik utama di dunia. Prevalensi LES di berbagai negara sangat bervariasi antara 2,9/100.000-400/100.000.

2. EtiologiMenurut Utomo (2012), etiologi penyakit LES masih belum terungkap dengan pasti tetapi diduga merupakan interaksi antara faktor genetik, faktor yang didapat dan faktor lingkungan. Apapun etiologinya, selalu terdapat predisposisi genetik yang menunjukkan hubungannya dengan antigen spesifik HLA (Human Leucocyte Antigen) / MHC (Major Histocompatybility Complex). Defek utama pada lupus eritematosus sistemik adalah disfungsi limfosit B, begitu juga supresor limfosit T yang berkurang, sehingga memudahkan terjadinya peningkatan autoantibodi. Resiko meningkat 25-50% pada kembar identik dan 5% pada kembar dizygotic, menunjukkan kaitannya dengan faktor genetik.Faktor lingkungan dapat menjadi pemicu pada penderita lupus, seperti radiasi ultra violet, tembakau, obat-obatan, virus. Sinar UV mengarah pada self-immunity dan hilangnya toleransi karena menyebabkan apoptosis keratinosit. Selain itu sinar UV menyebabkan pelepasan mediator imun pada penderita lupus, dan memegang peranan dalam fase induksi yanng secara langsung mengubah sel DNA, serta mempengaruhi sel imunoregulator yang bila normal membantu menekan terjadinya kelainan pada inflamasi kulit. Selain itu, kebiasaan merokok yang menunjukkan bahwa perokok memiliki resiko tinggi terkena lupus, berhubungan dengan zat yang terkandung dalam tembakau yaitu amino lipogenik aromatik. Pengaruh obat salah satunya yaitu dapat meningkatkan apoptosis keratinosit. Faktor lingkungan lainnya yaitu peranan agen infeksius terutama virus dapat ditemukan pada penderita lupus. Virus rubella, sitomegalovirus, dapat mempengaruhi ekspresi sel permukaan dan apoptosis. Faktor selanjutnya yang juga mempengaruhi yaitu faktor hormonal. Mayoritas penyakit ini menyerang wanita muda dan beberapa penelitian menunjukkan terdapat hubungan timbal balik antara kadar hormonestrogen dengan sistem imun. Estrogen mengaktivasi sel B poliklonal sehingga mengakibatkan produksi autoantibodi berlebihan pada pasien LES.3. PatofisiologiPenyakit sistemik lupus eritematosus (SLE) tampaknya terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan auto antibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal (sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu seperti hidralasin (Apresoline, prokainamid Pronestyl), isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan disamping makanan kecambah alfa turut terlibat dalam penyakit SLE akibat senyawa kimia atau obat-obatan. Pada lupus eritematosus sistemik, peningkatan produksi auto antibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-Supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya merangsang anti bodi tambahan, dan siklus tersebut berulang kembali.Adanya satu atau beberapa faktor pemicu yang mempunyai prediposisi genetik akan menghasilkan tenaga pendorong abnormal terhadap sel T CD4+, mengakibatkan hilangnya toleransi sel T terhadap self-antigen. Sebagai akibatnya muncul lah sel T autoreaktif yang akan menyebabkan induksi serta ekspansi sel B, baik yang memproduksi auto antibodi maupun yang berupa sel memori. Wujud pemicu ini masih belum jelas. Sebagian dari yang diduga termasuk didalamnya ialah hormon seks, sinar ultraviolet dan berbagai macam infeksi.Pada SLE, antibodi yang berbentuk ditunjukkan terhadap antigen yang terutama terletak pada nukleoplasma. Antigen sasaran ini meliputi DNA, protein histon dan non-histo