Ludwig Van Beethoven

download Ludwig Van Beethoven

of 13

  • date post

    20-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    41
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Ludwig Van Beethoven

Beethoven: Mahakarya Musik dari Seorang Tuna Rungu!Beethoven: Mahakarya Musik dari Seorang Tuna Rungu!Bagi seluruh orang yang berkecimpung di dunia musik, ketajaman pendengaran merupakan salah satu hal esensial. Tidak berfungsinya pendengaran (ketulian) menjadi vonis mati bagi karir seorang pemusik. Namun anggapan itu tidak berlaku bagi Ludwig van Beethoven.Pada masanya Beethoven terkenal temperamental, penyendiri dan eksentrik!Kalangan musik mengenal Beethoven sebagai salah satu komposer terbesar dunia. Masyarakat pada masanya hidup mengenalnya sebagai komposer yang memiliki temperamen buruk, seorang yang penyendiri dan eksentrik.Namun tak bisa disangkal, semua orang mengagumi Beethoven karena perjuangannya untuk membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Dia mampu menghasilkan karya dan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mengarang banyak komposisi dengan kualitas terbaik dari ketuliannya. Tak ada yang menyangka ketika mendengar musiknya, bahwa penciptanya seorang yang tuli. Bagaimana mungkin seorang yang buta suara bisa menghasilkan karya sedemikian agung dan indah?Sekilas tentang Ludwig van Beethoven Ludwig van Beethoven adalah seorang komponis, konduktor, dan pemain musik klasik dari Bonn, Jerman. Ia dipandang sebagai salah satu komponis terbesar dunia dan merupakan salah satu dari trio terkenal dari masa peralihan Klasik- Romantik dalam music klasik, di samping Mozart dan Haydn. Jika music Haydn digambarkan sebagai danau yang tenang, music Mozart adalah aliran sungai yang riang, maka music Beethoven dianalogikan dengan laut yang bergelora.

Semasa kanak-kanak, bakat music Beethoven tampak jelas. Hal ini yang membuat ayahnya bersikap keras terhadapnya, dengan harapan Beethoven mampu menyaingi kepopuleran Mozart yang disebut sebagai Anak Ajaib dalam musik.Pada 1787, Beethoven berkunjung ke Wina dan diperkenalkan kepada Mozart dan saat itu Mozart mengatakan Beethoven akan menjadi musikus yang luar biasa jika kemampuan musiknya dikembangkan. Perjumpaan keduanya berlangsung singkat karena Beethoven harus kembali ke Jerman. Pada tahun 1792 Beethoven kembali ke Wina dan belajar pada Haydn yang kala itu disebut sebagai komposer tersohor di Wina.Sejak umur pertengahan dua puluhan, Beethoven telah menjadi pianis yang populer di antara para bangsawan dan kalangan atas Wina, Austria. Selain itu, dia mampu menerbitkan dan menjual komposisi musiknya tanpa kesulitan apa pun. Namun, pada tahun 1801 (sewaktu berumur 26 tahun), dimulailah masa-masa gangguan pendengarannya. Walaupun mencari pengobatan sana-sini, ketuliannya malah semakin progresif. Kesulitan dalam mendengar membuatnya menjadi penyendiri dan mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat.Pada 1817 ia menjadi tuli sepenuhnya. Meskipun ia tak lagi bisa bermain dalam konser karena ketuliannya, ia terus menciptakan komposisi musik. Pada masa tuli sepenuhnya ini, Beethoven malah menjadi kreatif dan menciptakan sebagian karya-karyanya yang terbesar. Ia menjalani sisa hidupnya di Wina dan meninggal karena penyakit ginjal.Selama hidupnya, Beethoven menghasilkan 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian karya untuk kuartet gesek, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi. Karyanya sangat orisinal dan merupakan kombinasi luar biasa dari kedalaman perasaan dengan kesempurnaan alunan nadanya. Beethoven mengangkat musik instrumental ke tingkat nilai seni yang amat tinggi. Banyak terobosan baru dalam gaya music yang digubahnya dan membawa pengaruh abadi bagi dunia music.Beberapa Mitos-Fakta tentang Gangguan Pendengaran Beethoven1. Banyak orang beranggapan Beethoven langsung mengalami ketulian total. Faktanya, pendengarannya mengalami degradasi perlahan-lahan. Di usia 26, Beethoven mulai mengalami ketulian. Dia tidak bisa mendengar nada dengan frekuensi tinggi. Hal itu semakin menguatkan dugaan bahwa yang dialaminya adalah ketulian karena gangguan saraf pendengaran.2. Sampai saat ini, penyebab gangguan pendengaran pada Beethoven tidak diketahui. Dugaan yang muncul adalah penyakit tipus, sifilis, keracunan timbal, bahkan mungkin kebiasaannya untuk membenamkan kepala ke air dingin agar dia bisa tetap terjaga. Beberapa minggu setelah kematiannya, makam Beethoven dibongkar dan dilakukan autopsi terhadap jasadnya.Hasil autopsi mengatakan, Beethoven mengalami pelebaran pada telinganya yang semakin mengganggu kualitas pendengaran seiring dengan berjalannya waktu. Hasil pemeriksaan pada rambutnya mengatakan hal lain. Ditemukan adanya kadar timbal yang tinggi pada rambutnya, yang mungkin saja menjadi penyebab gangguan pendengarannya dan iritabilitasnya.3. Selain kualitas pendengaran yang menurun, Beethoven mengalami rasa berdenging di telinga / tinitus yang sangat mengganggu. Hal ini terungkap di dalam surat kepada teman-teman dekatnya. Rasa denging ini membuat dia sulit mengapresiasi music dan berkomunikasi dengan sekitarnya.4. Beethoven memakai tulisan sebagai cara berkomunikasi ketika dirinya mengalami ketulian total. Tulisan dalam buku tersebut sampai sekarang dipakai para mahasiswa music untuk belajar menginterprestasi music Beethoven. Dari tulisannya dalam buku percakapan itu, kita bisa mengetahui bagaimana seharusnya music Beethoven dipertunjukkan, dan rasa cintanya pada seni, yang dianggap Beethoven sebagai sesuatu yang sakral.Hikmah dari Kisah Hidup Beethoven dengan Keterbatasannya

1. Ada masanya ketika seorang penyandang tuna rungu mengisolasi diri, menjauhkan diri dari sekitarnya.Di awal munculnya gejala gangguan pendengarannya, Beethoven berusaha menutupinya agar orang sekitarnya tidak tahu. Dia mengucilkan dirinya sendiri, menghindari percakapan dengan orang banyak, sehingga orang menganggap dia tidak ramah dan eksentrik. Begitu pula dengan penyandang tuna rungu di masa sekarang ini.Para penyandang tuna ungu hidup dalam keadaan terisolasi dalam kehidupan masyarakat karena keterbatasan komunikasi yang mereka miliki. Sebagai akibatnya, dari sisi personalitas, para tuna rungu menjadi pribadi-pribadi yang sulit bersosialisasi. Ini semua akhirnya memunculkan kesenjangan sosial yang dirasakan oleh mereka.2. Ada masanya ketika timbul depresi, namun ada masanya juga untuk bangkit kembali. Beberapa kali Beethoven memiliki pikiran bunuh diri, terbukti dari surat-surat yang ditulisnya kepada teman-teman akrabnya. Dia beberapa kali putus asa dengan keadaan dirinya, karena tidak ada pengobatan pada masa itu yang mampu menyembuhkan gangguan pendengarannya.Setelah kurang lebih 1 tahun bergulat dengan perasaan depresi, Beethoven akhirnya berusaha bangkit dengan menggubah Simfoni no 3, Eroica. Simfoni ini menggambarkan perjuangannya dalam menghadapi masa-masa depresi karena ketuliannya.3. Selalu ada kreativitas dan bakat lebih bagi seseorang yang memiliki kecacatan fisik Di awal menurunnya kualitas pendengaran, Beethoven menjadi ketakutan tidak mampu mengarang karya music lagi. Di saat-saat itu, karyanya paling banyak dihasilkan. Ini membuat para biografernya berpendapat, ketidakmampuan pendengarannya membuat dia menjadi lebih kreatif, membuat dia mampu untuk mereka bunyi dari dalam diri tanpa perlu mendengar bunyi lain dari luar.Memang telah terbukti, banyak orang dengan kecacatan fisik mampu menunjukkan dirinya lebih hebat daripada orang tanpa kecacatan fisik, dengan menghasilkan karya-karya fenomenal. Hidup mereka pun menjadi inspirasi bagi banyak orang.4. Kegagalan bukanlah batu sandungan, melainkan batu loncatan. Beethoven tidak pernah melakukan pertunjukan di depan umum lagi sejak mengalami kegagalan dalam konser musik Simfoni no 9, Emperor. Namun ia terus menggubah karya-karya music.Banyak pakar berpendapat, karya-karya yang dibuatnya ketika ia mengalami tuli total justru adalah karya-karyanya yang terbesar. Kegagalan pasti dialami setiap orang, tetapi jangan jadikan kegagalan sebagai batu sandungan, melainkan sebagai batu loncatan!Kisah Beethoven telah memberikan satu pelajaran bagi kita semua. Seorang dengan gangguan pendengaran mampu menjadi seorang komposer terbesar dunia. Perjuangan dan keberanian Beethoven menginspirasi semua orang, terutama tuna rungu lainnya, untuk hidup dengan semaksimal mungkin dan pantang menyerah. Kecacatan fisik bukanlah halangan untuk berkarya dan hidup dengan semaksimal mungkin!Referensi:

Photo by telegraph.co.ukGemintang.com Pernahkah kamu kehilangan sesuatu yang sangat berarti? Entah itu orang yang kamu sayangi atau barang yang kamu anggap berharga? Bagaimana perasaanmu? Apa yang kamu lakukan selanjutnya? Apakah kamu akan berkubang dalam keputus-asaan atas kehilanganmu? Ataukah kamu segera bangkit dan mulai maju ke depan? Hal ini juga dialami seorang musisi besar dunia, Ludwig van Beethoven. Di masa keemasaannya, ia kehilangan pendengarannya dan divonis menderita tuli total! Padahal seluruh hidupnya ia curahkan untuk musik. Ketika Beethoven mulai menginjak usia 28 tahun, karya dan namanya sudah tersohor di dunia musik Eropa. Berbagai konser tunggal ia lakoni dan karya gubahannya pun disambut dengan hangat oleh penikmat musik pada waktu itu. Namun, suatu pagi di tahun 1789, ia tiba-tiba tidak dapat mendengar apa-apa. Hal ini mengejutkannya, ia pun menutup rapat-rapat ketuliannya ini karena masih merupakan tuli kambuhan.Namun, di usianya yang ke-32, tulinya semakin memburuk sampai akhirnya ia tuli total. Dalam keputusaannya, ia pun mulai menulis surat kematian yang tertanggal 6 Oktober 1802. Sambil menangis ia menulis surat itu sampai akhirnya ia tertidur. Namun, keesokan harinya, di dalam keheningan total ia terbangun mengingat suara alam yang biasa didengarnya ketika kecil.Ia pun berlari keluar dan memandang alam sekitarnya, sambil berkata, Benar, walaupun aku kehilangan pendengaranku, memoriku akan suara alam masih ada. Dalam ketuliannya, Beethoven berhasil menelurkan mahakaryanya dalam Simfoni seri I-IX.Apa yang dialami Beethoven memang sempat mematahkan semangatnya, namun keinginan untuk terus bertahan dalam keterbatasannya lebih besar. Biarlah kis