Lpaoran Praktikum Biokimia Enzim Invertasi Edi Siswanto

download Lpaoran Praktikum Biokimia Enzim Invertasi Edi Siswanto

of 21

  • date post

    07-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    42
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Lpaoran Praktikum Biokimia Enzim Invertasi

Transcript of Lpaoran Praktikum Biokimia Enzim Invertasi Edi Siswanto

  • ENZIM INVERTASE

    NAMA : EDI SISWANTO

    NIM : H13112071

    PROGRAM STUDI : KIMIA

    JURUSAN KIMIA

    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    UNIVERSITAS TANJUNGPURA

    PONTIANAK

    2014

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Enzim dihasilkan oleh sel-sel hidup, baik hewani maupun nabati. Bila

    digabungkan dengan bahan organik tertentu maka bisa mengubah susunan menjadi

    persenyawaan yang lebih sederhana, namun enzim itu tidak turut berubah. Sehingga

    enzim sering diartikan sebagai katalisator organik. Enzim sangat penting dalam

    kehidupan dan tidak ada organisme tumbuhan atau hewan yang dapat hidup tanpa

    enzim.

    Secara umum ada dua jenis enzim yang sangat penting, yaitu diastase dan

    protease. Diastase adalah suatu enzim kombinasi dari alpha dan beta amylase, dan

    berfungsi mengubah pati yang rusak menjadi gula maltose. Sehingga bila butir-butir

    pati rusak atau kurang tahan disenyawakan dengan diastase, maka alpha amylase

    akan mengubah pati menjadi dekstrin. Sedangkan beta amylase mengubah dekstrin

    dan pati hancur menjadi gula maltose. Selanjutnya gula maltose diubah oleh enzim

    maltose menjadi gula biasa, yang bila diasimilasikan dengan ragi akan menghasilkan

    karbondioksida yang dapat mengembangkan adonan, alkohol dan sejumlah kecil

    bahan lain seperti asam.

    percobaan ini dilakukan pengukuran seberapa besar aktivitas dari enzim

    invertase dalam mengkatalisis hidrolisa sukrosa dari sampel ragi pengembang kue.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi masalah dalam percobaan

    ini adalah :

    1. Bagaimana cara pembuatan larutan enzim ?

    2. Bagaimana cara menentukan konsentrasi enzim secara biuret ?

    3. Bagaimana cara menentukan jumlah produk yang terbentuk oleh kerja enzim

    invertase.

  • C. Tujuan

    Dari rumusan masalah di atas, tujuan dari percobaan ini yakni :

    1. Mengetahui cara pembuatan larutan enzim.

    2. Menentukan konsentrasi enzim secara biuret.

    3. Menentukan jumlah produk yang terbentuk oleh kerja enzim invertase.

    D. Manfaat

    Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari melakukan percobaan ini adalah :

    1. Praktikan dapat mengetahui cara pembuatan larutan enzim.

    2. Praktikan dapat menentukan konsentrasi enzim secara biuret.

    3. Praktikan dapat menentukan jumlah produk yang terbentuk oleh kerja enzim

    invertase.

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    Ada beberapa jenis enzim kunci yang berperan terhadap metabolisme sukrosa,

    diantaranya adalah sucrose phosphate synthase (SPS), acid invertase (AI) dan neutra

    invertase (NI). Sucrose phosphate synthase merupakan enzim utama yang

    menentukan biosintesa sukrosa pada beberapa jenis tanaman, termasuk tanaman tebu.

    Sedangkan Al adalah enzim yang berperanan dalam pengaturan akumulasi sukrosa

    pada jaringan penyimpanan tanaman. Invertase ( -D-fructofuranosidase) merupakan

    enzim kunci dalam metabolisme sukrosa pada tanaman tebu serta berkolerasi tinggi

    terhadap kandungan sukrosa dan gula reduksi selama masa pertumbuhan (Siswoyo et

    al, 2006).

    Enzim merupakan suatu katalisator dalam reaksi biokimia dan setiap enzim

    mempunyai kemampuan spesifik untuk merubah molekul tertentu. Menurut Haldare,

    enzim merupakan larutan koloid atau katalis organik yang dihasilkan

    mikroorganisme. Sebagai katalisator, enzim hanya meningkatkan kecepatan reaksi

    dan sangat spesifik untuk reaksi yang dikatalisanya. Enzim adalah bahan kimia yang

    dihasilkan mikroorganisme untuk meningkatkan kecepatan reaksi menuju keadaan

    keseimbangan reaksi kimia, sehingga sifat termodinamika sistim tidak berubah

    (Rismijana at al, 2003)

    Enzim dikatakan aktif apabila zat tersebut mempunyai kemampuan untuk

    melaksanakan aktivitas katalitiknya. Telah dilaporkan oleh Fogarty dan Kelly (1979)

    bahwa enzim proteolitik bakteri, yeast ataupun fungi mempunyai karakter dan

  • spesifisitas yang berbeda. Karakter enzim proteolitik tersebut ditunjukan dengan pH

    dan suhu optimum enzim tersebut dalam menghidrolisis substratnya. Selain itu

    adanya ion logam, asam amino tertentu dan inhibitor enzim akan mempengaruhi

    aktivitas enzim tersebut (Poernomo et al, 2003)

    Beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim:

    a. Substrat Enzim mempunyai spesifitas yang tinggi. Apabila substrat cocok dengan

    enzim maka kinerja enzim juga akan optimal.

    b. pH (keasaman) Enzim mempunyai kesukaan pada pH tertentu. Ada enzim yang

    optimal kerjanya pada kondisi asam, namun ada juga yang optimal pada kondisi

    basa. Namun kebanyakan enzim bekerja optimal pada pH netral.

    c. Waktu Waktu kontak/reaksi antara enzim dan substrat menentukan efektivitas

    kerja enzim. Semakin lama waktu reaksi maka kerja enzim juga akan semakin

    optimum.

    d. Konsentrasi / jumlah enzim Konsentrasi enzim berbanding lurus dengan

    efektivitas kerja enzim. Semakin tinggi konsentrasi maka kerja enzim akan

    semakin baik dan cepat.

    e. Suhu Seperti juga pH. Semua enzim mempunyai kisaran suhu optimum untuk

    kerjanya.

    f. Produk Akhir Reaksi enzimatis selalu melibatkan 2 hal, yaitu substrat dan produk

    akhir. Dalam beberapa hal produk akhir ternyata dapat menurunkan produktivitas

    kerja enzim.

    (Azis, 2004).

  • Beberapa enzim mempunyai aktifitas diantaranya spesifik untuk D dan L

    isomer ptik . Enzim L- asam amino oksidase hanya pada L- asam amino oksidase

    tidak bereaksi terhadap isomer D- asam amino . Beberapa enzim memerlukan suatu

    ko-faktor yang bukan protein dan biasanya agak longgar berikatan dengan enzim. Ko-

    faktor itu disebut gugus prostetik. Banyak juga enzim yang memerlukan ko-faktor

    logam seperti Mn++, Fe ++,Mg++, dll. Di dalam proses isolasi kadang-kadang ko-

    faktor yang berikatan longgar pada enzim terlepas sehingga menyebabkan aktifitas

    enzim menurun atau bahkan hilang. Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim ,

    sedangkan enzim keseluruhannya disebut holoenzim .

    Bagian protein ( tak aktif ) + non protein = holoenzim ( akktif ) (apoenzim ) (gugus protestik )

    (Simanjuntak et al, 2003).

    Tahap pemurnian enzim yang dilakukan meliputi salting out (pengendapan

    garam), dialisis, dan filtrasi gel. Salting out menggunakan amonium sulfat dan di-

    alisis bertujuan untuk meningkatkan kemurnian dan aktivitas enzim, sedangkan fil-

    trasi gel selain untuk meningkatkan kemurnian enzim juga untuk mengetahui berat

    molekul enzim tersebut (Widowati et al, 2006).

    Reaksi pada enzim invertase merupakan reaksi hidrolisis. Reaksi-reaksi

    seperti hidrolisa dan oxidasi berlangsung sangat cepat didalam sel-sel hidup pada pH

    kira-kira netral dan pada suhu tubuh. Ini dapat terjadi karena adanya enzim. Enzim

    disintesa di dalam sel, tetapi setelah diextraksi diluar sel masih mempunyai aktivitas.

    Enzim bekerja sangat sfesifik. Suatu enzim hanya dapat mengatalisa beberapa reaksi,

  • malahan seringkali hanya satu reaksi saja. Ini merupakan salah satu sifat penting

    enzim. Ada segolongan enzim yang dapat mengatalisa jenis reaksi yang sama,

    misalnya memindahkan fosfat, oxidasi-reduksi, dan sebagainya. Oleh karena itu ada

    suatu kespesifikan (specificity) (Indah M., 2004).

    Kespesifikan enzim dapat dibedakan dalam :

    1. Kespesifikan Optik

    Dengan kekecualian epimerase (rasemase), yang saling mengubah

    isomerisomer optik, enzim umumnya menunjukan kespesifikan optik absolut untuk

    paling sedikit sebagian dari molekul substrat. Misalnya maltase dapat mengkatalisa

    hidrolisa -glukosida, akan tetapi tidak dapat bekerja terhadap -glukosida. Enzim

    yang bekerja terhadap D-karbohidrat tidak dapat mengkatalisa L-karbohidrat, begitu

    pula dengan enzim-enzim yang mengkatalisa asam L-amino tidak dapat mengkatalisa

    asam D-amino. Kespesifikan optik dapat meluaskesuatu bagian molekul substrat atau

    ke substrat keseluruhanya. Glikosidase merupakan contoh dari dua hal yang ekstrim

    ini. Enzim-enzim ini yang mengkatalisis hidrolisis ikatan gliosida antara gula dan

    alkohol, sangat spesifikuntuk bagian gula dan untuk ikatan (alfa atau beta), tetapi

    relatif nonspesifik untuk bagian alkohol atau glikogen.

    2. Kespesifikan Gugus

    Suatu enzim hanya dapat bekerja terhadap gugus yang khas, misalnya

    glikosidase terhadap gugus alkohol, pepsin dan tripsinterhadap ikatan peptida,

    sedangkan esterasa terhadap gugus alkohol, pepsin dan tripsin terhasap ikatan

    peptida, sedangkan esterase terhadap ikatan ester. Akan tetapi, dalam pembatasan ini

  • sejumlah besar substrat dapat diolah, jadi, misalnya, pengurangan jumlah enzim

    pencernaan yang mungkin sebaliknya dibutuhkan. Enzim-enzim tertentu menunjukan

    kespesifikan gugus yang lebih tinggi. Kamotripsin, terutama menghidrolisa ikatan

    peptida dimana gugus karboksilnya berasal dari asam-asam amino fenilalanin, tirosin

    atau triptofan (Indah, 2004).

  • BAB III

    METODE PRAKTIKUM

    A. Waktu dan Tempat

    Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Jurusan Kimia Fakultas

    Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Haluoleo. Waktu praktikum ini

    dilaksanakan selama dua hari yakni pada tanggal 3-4 Desember 2010.

    B. Alat dan Bahan

    1. Alat

    Alat yang digunakan pada praktikum ini diantaranya adalah blender,

    tabung reaksi, water-bath, erlenmeyer, neraca analiti