Lpaoran Praktikum Biokimia Enzim Invertasi Edi Siswanto

Click here to load reader

  • date post

    07-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    48
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Lpaoran Praktikum Biokimia Enzim Invertasi

Transcript of Lpaoran Praktikum Biokimia Enzim Invertasi Edi Siswanto

  • ENZIM INVERTASE

    NAMA : EDI SISWANTO

    NIM : H13112071

    PROGRAM STUDI : KIMIA

    JURUSAN KIMIA

    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    UNIVERSITAS TANJUNGPURA

    PONTIANAK

    2014

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Enzim dihasilkan oleh sel-sel hidup, baik hewani maupun nabati. Bila

    digabungkan dengan bahan organik tertentu maka bisa mengubah susunan menjadi

    persenyawaan yang lebih sederhana, namun enzim itu tidak turut berubah. Sehingga

    enzim sering diartikan sebagai katalisator organik. Enzim sangat penting dalam

    kehidupan dan tidak ada organisme tumbuhan atau hewan yang dapat hidup tanpa

    enzim.

    Secara umum ada dua jenis enzim yang sangat penting, yaitu diastase dan

    protease. Diastase adalah suatu enzim kombinasi dari alpha dan beta amylase, dan

    berfungsi mengubah pati yang rusak menjadi gula maltose. Sehingga bila butir-butir

    pati rusak atau kurang tahan disenyawakan dengan diastase, maka alpha amylase

    akan mengubah pati menjadi dekstrin. Sedangkan beta amylase mengubah dekstrin

    dan pati hancur menjadi gula maltose. Selanjutnya gula maltose diubah oleh enzim

    maltose menjadi gula biasa, yang bila diasimilasikan dengan ragi akan menghasilkan

    karbondioksida yang dapat mengembangkan adonan, alkohol dan sejumlah kecil

    bahan lain seperti asam.

    percobaan ini dilakukan pengukuran seberapa besar aktivitas dari enzim

    invertase dalam mengkatalisis hidrolisa sukrosa dari sampel ragi pengembang kue.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi masalah dalam percobaan

    ini adalah :

    1. Bagaimana cara pembuatan larutan enzim ?

    2. Bagaimana cara menentukan konsentrasi enzim secara biuret ?

    3. Bagaimana cara menentukan jumlah produk yang terbentuk oleh kerja enzim

    invertase.

  • C. Tujuan

    Dari rumusan masalah di atas, tujuan dari percobaan ini yakni :

    1. Mengetahui cara pembuatan larutan enzim.

    2. Menentukan konsentrasi enzim secara biuret.

    3. Menentukan jumlah produk yang terbentuk oleh kerja enzim invertase.

    D. Manfaat

    Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari melakukan percobaan ini adalah :

    1. Praktikan dapat mengetahui cara pembuatan larutan enzim.

    2. Praktikan dapat menentukan konsentrasi enzim secara biuret.

    3. Praktikan dapat menentukan jumlah produk yang terbentuk oleh kerja enzim

    invertase.

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    Ada beberapa jenis enzim kunci yang berperan terhadap metabolisme sukrosa,

    diantaranya adalah sucrose phosphate synthase (SPS), acid invertase (AI) dan neutra

    invertase (NI). Sucrose phosphate synthase merupakan enzim utama yang

    menentukan biosintesa sukrosa pada beberapa jenis tanaman, termasuk tanaman tebu.

    Sedangkan Al adalah enzim yang berperanan dalam pengaturan akumulasi sukrosa

    pada jaringan penyimpanan tanaman. Invertase ( -D-fructofuranosidase) merupakan

    enzim kunci dalam metabolisme sukrosa pada tanaman tebu serta berkolerasi tinggi

    terhadap kandungan sukrosa dan gula reduksi selama masa pertumbuhan (Siswoyo et

    al, 2006).

    Enzim merupakan suatu katalisator dalam reaksi biokimia dan setiap enzim

    mempunyai kemampuan spesifik untuk merubah molekul tertentu. Menurut Haldare,

    enzim merupakan larutan koloid atau katalis organik yang dihasilkan

    mikroorganisme. Sebagai katalisator, enzim hanya meningkatkan kecepatan reaksi

    dan sangat spesifik untuk reaksi yang dikatalisanya. Enzim adalah bahan kimia yang

    dihasilkan mikroorganisme untuk meningkatkan kecepatan reaksi menuju keadaan

    keseimbangan reaksi kimia, sehingga sifat termodinamika sistim tidak berubah

    (Rismijana at al, 2003)

    Enzim dikatakan aktif apabila zat tersebut mempunyai kemampuan untuk

    melaksanakan aktivitas katalitiknya. Telah dilaporkan oleh Fogarty dan Kelly (1979)

    bahwa enzim proteolitik bakteri, yeast ataupun fungi mempunyai karakter dan

  • spesifisitas yang berbeda. Karakter enzim proteolitik tersebut ditunjukan dengan pH

    dan suhu optimum enzim tersebut dalam menghidrolisis substratnya. Selain itu

    adanya ion logam, asam amino tertentu dan inhibitor enzim akan mempengaruhi

    aktivitas enzim tersebut (Poernomo et al, 2003)

    Beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim:

    a. Substrat Enzim mempunyai spesifitas yang tinggi. Apabila substrat cocok dengan

    enzim maka kinerja enzim juga akan optimal.

    b. pH (keasaman) Enzim mempunyai kesukaan pada pH tertentu. Ada enzim yang

    optimal kerjanya pada kondisi asam, namun ada juga yang optimal pada kondisi

    basa. Namun kebanyakan enzim bekerja optimal pada pH netral.

    c. Waktu Waktu kontak/reaksi antara enzim dan substrat menentukan efektivitas

    kerja enzim. Semakin lama waktu reaksi maka kerja enzim juga akan semakin

    optimum.

    d. Konsentrasi / jumlah enzim Konsentrasi enzim berbanding lurus dengan

    efektivitas kerja enzim. Semakin tinggi konsentrasi maka kerja enzim akan

    semakin baik dan cepat.

    e. Suhu Seperti juga pH. Semua enzim mempunyai kisaran suhu optimum untuk

    kerjanya.

    f. Produk Akhir Reaksi enzimatis selalu melibatkan 2 hal, yaitu substrat dan produk

    akhir. Dalam beberapa hal produk akhir ternyata dapat menurunkan produktivitas

    kerja enzim.

    (Azis, 2004).

  • Beberapa enzim mempunyai aktifitas diantaranya spesifik untuk D dan L

    isomer ptik . Enzim L- asam amino oksidase hanya pada L- asam amino oksidase

    tidak bereaksi terhadap isomer D- asam amino . Beberapa enzim memerlukan suatu

    ko-faktor yang bukan protein dan biasanya agak longgar berikatan dengan enzim. Ko-

    faktor itu disebut gugus prostetik. Banyak juga enzim yang memerlukan ko-faktor

    logam seperti Mn++, Fe ++,Mg++, dll. Di dalam proses isolasi kadang-kadang ko-

    faktor yang berikatan longgar pada enzim terlepas sehingga menyebabkan aktifitas

    enzim menurun atau bahkan hilang. Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim ,

    sedangkan enzim keseluruhannya disebut holoenzim .

    Bagian protein ( tak aktif ) + non protein = holoenzim ( akktif ) (apoenzim ) (gugus protestik )

    (Simanjuntak et al, 2003).

    Tahap pemurnian enzim yang dilakukan meliputi salting out (pengendapan

    garam), dialisis, dan filtrasi gel. Salting out menggunakan amonium sulfat dan di-

    alisis bertujuan untuk meningkatkan kemurnian dan aktivitas enzim, sedangkan fil-

    trasi gel selain untuk meningkatkan kemurnian enzim juga untuk mengetahui berat

    molekul enzim tersebut (Widowati et al, 2006).

    Reaksi pada enzim invertase merupakan reaksi hidrolisis. Reaksi-reaksi

    seperti hidrolisa dan oxidasi berlangsung sangat cepat didalam sel-sel hidup pada pH

    kira-kira netral dan pada suhu tubuh. Ini dapat terjadi karena adanya enzim. Enzim

    disintesa di dalam sel, tetapi setelah diextraksi diluar sel masih mempunyai aktivitas.

    Enzim bekerja sangat sfesifik. Suatu enzim hanya dapat mengatalisa beberapa reaksi,

  • malahan seringkali hanya satu reaksi saja. Ini merupakan salah satu sifat penting

    enzim. Ada segolongan enzim yang dapat mengatalisa jenis reaksi yang sama,

    misalnya memindahkan fosfat, oxidasi-reduksi, dan sebagainya. Oleh karena itu ada

    suatu kespesifikan (specificity) (Indah M., 2004).

    Kespesifikan enzim dapat dibedakan dalam :

    1. Kespesifikan Optik

    Dengan kekecualian epimerase (rasemase), yang saling mengubah

    isomerisomer optik, enzim umumnya menunjukan kespesifikan optik absolut untuk

    paling sedikit sebagian dari molekul substrat. Misalnya maltase dapat mengkatalisa

    hidrolisa -glukosida, akan tetapi tidak dapat bekerja terhadap -glukosida. Enzim

    yang bekerja terhadap D-karbohidrat tidak dapat mengkatalisa L-karbohidrat, begitu

    pula dengan enzim-enzim yang mengkatalisa asam L-amino tidak dapat mengkatalisa

    asam D-amino. Kespesifikan optik dapat meluaskesuatu bagian molekul substrat atau

    ke substrat keseluruhanya. Glikosidase merupakan contoh dari dua hal yang ekstrim

    ini. Enzim-enzim ini yang mengkatalisis hidrolisis ikatan gliosida antara gula dan

    alkohol, sangat spesifikuntuk bagian gula dan untuk ikatan (alfa atau beta), tetapi

    relatif nonspesifik untuk bagian alkohol atau glikogen.

    2. Kespesifikan Gugus

    Suatu enzim hanya dapat bekerja terhadap gugus yang khas, misalnya

    glikosidase terhadap gugus alkohol, pepsin dan tripsinterhadap ikatan peptida,

    sedangkan esterasa terhadap gugus alkohol, pepsin dan tripsin terhasap ikatan

    peptida, sedangkan esterase terhadap ikatan ester. Akan tetapi, dalam pembatasan ini

  • sejumlah besar substrat dapat diolah, jadi, misalnya, pengurangan jumlah enzim

    pencernaan yang mungkin sebaliknya dibutuhkan. Enzim-enzim tertentu menunjukan

    kespesifikan gugus yang lebih tinggi. Kamotripsin, terutama menghidrolisa ikatan

    peptida dimana gugus karboksilnya berasal dari asam-asam amino fenilalanin, tirosin

    atau triptofan (Indah, 2004).

  • BAB III

    METODE PRAKTIKUM

    A. Waktu dan Tempat

    Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Jurusan Kimia Fakultas

    Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Haluoleo. Waktu praktikum ini

    dilaksanakan selama dua hari yakni pada tanggal 3-4 Desember 2010.

    B. Alat dan Bahan

    1. Alat

    Alat yang digunakan pada praktikum ini diantaranya adalah blender,

    tabung reaksi, water-bath, erlenmeyer, neraca analitik, spektronik 20-D, gelas

    kimia, pipet ukur 10 mL dan 25 mL, kapas, corong, kuvet, aluminium foil,

    sentrifuse, botol semprot, dan batang pengaduk.

    2. Bahan

    Bahan yang akan digunakan pada praktikum ini, diantaranya: ragi

    pengembang (Fermifan), larutan BSA, reagen biuret, NaHCO3, larutan DNS,

    buffer asetat, dan akuades.

  • C. Prosedur Kerja

    a. Penentuan konsentrasi enzim secara biuret

    - ditampung dalam gelas kimia 100

    mL

    - diencerkan sampai volume 100 mL

    50 gram ragi roti

    - ditambahkan 100 mL NaHCO3 0,1 M

    - diblender selama 2-5 menit

    - dituang ke dalam erlenmeyer

    - diinkubasi pada suhu 40o C selama 24 jam

    -

    Bubur ragi roti

    - disentrifuga selama 5 menit ( 50 g, 3000

    rpm)

    - didekantasi

    Supernatan Endapan

    Larutan enzim 1 : 10

    - diambil sebanyak 1 mL

    - ditambahkan 4 mL reagen biuret

    - dikocok

    - didiamkan selama 30 menit pada suhu kamar

    152,85 mg/ml

    Larutan sampel

    - diukur absorbansinya pada 540 nm

    - dihitung konsentrasi enzim dengan mengekstrpolasikan

    absorbansinya pada persamaan kurva BSA

  • b. Pembuatan kurva standar BSA

    c. Pembuatan Larutan Blanko

    y = 0,0214x + 0,0289

    Larutan BSA 2, 4, 6, 8 dan 10 mg/ml

    - dipipet 1 ml dalam lima tabung reaksi

    - ditambahkan 4 ml reagen biuret

    - dikocok

    - didiamkan selama 30 menit pada suhu

    kamar

    - dibaca absorbansi pada 540 nm

    - dplot kurva hubungan absorbansi Vs

    konsentrasi

    - ditentukan persamaan garis kurva

    standar larutan BSA

    1 mL akuades

    - dimasukkan dalam tabung reaksi

    - ditambahkan 4 mL reagen biuret

    - dibaca absorbansinya pada = 540 nm

    - diplot kurva hubungan absorbansi Vs

    konsentrasi

    - ditentukan persamaan garis kurva standar

    larutan BSA

    Absorbansi larutan = 0

  • d. Penentuan Jumlah Produk Yang Terbentuk Oleh Kerja Enzim Invertase

    e. Pembuatan Standar Glukosa

    0,4 mL sukrosa 0,25 M

    Konsentrasi enzim = 2538,261 ppm

    20, 40, 60, 80 dan 100 ppm larutan glukosa

    - dimasukkan dalam tabung reaksi

    - ditambahkan 0,6 mL akuades

    - ditambahkan 1 mL bufer pH 5,6

    - ditambahkan 1 mL larutan enzim

    - ditambahkan 2 mL reagen DNS

    - dipanaskan 5 menit

    - didinginkan dalam es batu

    - diukur absorbansinya pada = 540 nm

    - dihitung konsentrasi enzim dengan

    mengekstrapolasikan absorbansinya pada

    persamaan kurva standar gula invert

    - dimasukkan 1 mL dalam tabung reaksi

    - ditambahkan 2 mL DNS

    - ditambahkan 1 mL bufer pH 5,6

    - dipanaskan dalam air mendidih selama 15 menit

    - didinginkan

    - ditambahkan akuades hingga 10 mL

    - diukur absorbansinya pada = 540 nm

    - diplot kurva hubungan absorbansi Vs konsentrasi

    - ditentukan persamaan garis kurva standar larutan

    glukosa

    y = 0,0023x + 0,0022

    0

  • f. Pembuatan Larutan Blanko

    2 mL larutan DNS

    - dimasukkan dalam tabung reaksi

    - diencerkan akuades hingga 10 mL

    - dibaca absorbansinya pada = 540 nm

    Absorbansi larutan = 0

  • BAB III

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Protein merupakan senyawa polipeptida dengan berat molekul besar dan

    tersusun atas unsur-unsur C, H, O, N, serta ada pula yang mengandung unsur S dan P.

    Molekul protein terdiri atas unit-unit kecil asam amino yang saling bersambung satu

    sama lain yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Protein merupakan senyawa yang

    sangat penting dalam semua sel hidup, karena protein merupakan bagian esensial dari

    protoplasma.

    Salah satu jenis protein yang sangat penting adalah enzim. Enzim adalah

    protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk reaksi-reaksi kimia didalam sistem

    biologi. Katalisator mempercepat reaksi kimia. Walaupun katalisator ikut serta dalam

    reaksi, ia kembali ke keadaan semula bila reaksi telah selesai. Enzim adalah

    katalisator protein untuk reaksi-reaksi kimia pasa sistem biologi. Namun ada pula

    sebagian besar reaksi tersebut tidak dikatalis oleh enzim. Berbeda dengan katalisator

    nonprotein (H+, OH-, atau ion-ion logam), tiap-tiap enzim mengkatalisis sejumlah

    kecil reaksi, dan kerapkali hanya satu. Jadi enzim adalah katalisator reaksi-spesifik.

    Karena semua reaksi biokimia perlu dikatalis oleh enzim, terdapat banyak jenis

    enzim.

    Enzim bekerja sangat sfesifik. Suatu enzim hanya dapat mengatalisa beberapa

    reaksi, malahan seringkali hanya satu reaksi saja. Ini merupakan salah satu sifat

    penting enzim. Karena sifat spesifitasnya, banyak enzim diberi nama berdasarkan

    substratnya, seperti enzim amilase yang mengkatalisis hidrolisis amilosa serta enzim

  • invertase yang mengubah sukrosa menjadi gula invert seperti yang akan dipelajari

    pada percobaan ini.

    Invertase merupakan suatu enzim Disakaridase yang berfungsi untuk

    menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa, sehingga dapat meningkatkan

    pemakaian gula-gula ini.

    Untuk memperoleh invertase dari ragi, maka sel ragi harus dipecah terlebih

    dahulu. Pemecahan sel ragi dilakukan dengan menginkubasi ragi yang dilarutkan

    dalam NaHCO3 selama 24 jam pada suhu 40C. Tujuan penambahan NaHCO3 adalah

    agar sel ragi dapat mengalami autolisis (pemecahan) dan mengeluarkan enzim

    invertase.

    Setelah diperoleh enzim invertase, dilakukan penentuan konsentrasi enzim

    dengan menggunakan spektrofotometer spektronik 20-D. Absorbansi larutan standar

    BSA 2, 4, 6, 8, dan 10 mg/mL diukur panjang gelombang 540 nm. Nilai-nilai

  • absorbansi ini diplotkan dalam kurva kalibrasi antara absorbansi dengan konsentrasi

    larutan standar BSA. Dari kurva ini akan diperoleh persamaan regresi linear :

    y = 0,0214x + 0,0289

    jika absorbansi enzim dianggap ekivalen dengan nilai y maka dengan

    perhitungan matematis dan mensubtitusi nilai absorbansi enzim ke dalam persamaan

    regresi akan diperoleh nilai x yang ekivalen dengan konsentrasi enzim sebesar 152,85

    mg/ml.

    Aktivitas enzim invertase ditentukan dengan menginkubasi substrat, yaitu

    sukrosa dan enzim tersebut bersama-sama selama 15 menit. Namun pada percobaan

    kali ini karena yang digunakan adalah DNS, maka yang ditentukan adalah jumlah

    glukosa yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa. Untuk menentukan jumlah gula

    invert yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa oleh enzim invertase, mula-mula harus

    dibuat larutan standar gula invert dengan berbagai konsentrasi. Sama seperti pada

    penentuan jumlah enzim, absorbansi larutan standar tersebut juga diukur dengan

    spektrofotometer spektronik 20-D pada panjang gelombang 540 nm. Persamaan

    regresi linear yang diperoleh adalah y = 0,0023x + 0,0022. Dari persamaan tersebut

    dapat diketahui jumlah glukosa yang diperoleh, yakni 2538,261 ppm.

  • BAB V

    PENUTUP

    A. Kesimpulan

    Dari percobaan yang telah dilakukan pada praktikum ini, maka diperoleh

    kesimpulan sebagai berikut:

    1. Larutan enzim invertase dapat dibuat dengan mengautolisis sel ragi

    menggunakan NaHCO3, sehingga sel ragi pecah dan mengeluarkan enzim

    invertase.

    2. Konsentrasi enzim yang diperoleh secara biuret adalah 152,85 mg/ml.

    3. Konsentrasi produk yang terbentuk oleh kerja enzim invertase adalah 2538,261

    ppm.

    B. Saran

    No comment...!!!!!!

  • DAFTAR PUSTAKA

    Rismijana, J., Indriani, I.N., Pitriyani, T., 2003, Penggunaan Enzim Selulase

    Hemiselulase pada Proses Deinking Kertas Koran Bekas, Jurnal

    Matematika dan Sains Vol. 8 No. 2.

    Siswoyo, T. A., Oktavianawati, I., Sugiharto, B., Murdiyanto, U., 2006, Perubahan

    Kandungan Sukrosa Dan Aktivitas Invertase Pada Batang Tebu Selama

    Pemanenan, Zuriat, Vol. 17, No. 2.

    Poernomo, A.T., Purwanto, D.A., 2003, Uji aktivitas crude enzim proteolitik Bacillus subtilis FNCC 0059 hasil fermentasi curah, Majalah Farmasi

    Airlangga, Vol.3 No.3.

    Sri Widowati, S., Andriani, D., Riyanti, E.I., Raharto, P., dan Sukarno, L., 2006,

    Karakterisasi Fitase dari Bacillus coagulans, Prosiding Seminar Hasil

    Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman.

    Azis, P., 2004, Enzim dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Kerja Enzim,

    FIK Biochemical Experiment.

    Simanjuntak, M.T., Silalahi, J., 2003, BIOKIMIA, Fakultas Matematika dan Ilmu

    Pengetahuan Alam Jurusan Farmasi Universitas Sumatera Utara.

    Indah, M., 2004, Enzim, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan

    Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  • Lampiran

    1. Penentuan Konsentrasi Enzim Secara Biuret

    Konsentrasi BSA (mg/mL) Absorbansi

    2

    4

    6

    8

    10

    0,075

    0,112

    0,159

    0,189

    0,250

    Sampel 0,356

    Grafik

    Dari grafik di atas diperoleh persamaan garis y = 0,0214x + 0,0289

    Sehingga diperoleh konsentrasi sampel :

    y = 0,0214x + 0,0289

    0,356 = 0,0214x + 0,0289

    0,3271 = 0,0214x

    x = 15,285 mg/mL

    x = 15,285 mg/mL x 10

    = 152,85 mg/ml

  • 2. Penentuan Jumlah Produk Yang Terbentuk Oleh Kerja Enzim Invertase

    Untuk larutan glukosa konsentrasi 20 ppm dan Volume awal (V1) 1 mL

    Konsentrasi awal (M1) = 20 ppm

    Volume akhir (V2) = 10 mL

    Dengan menggunakan rumus pengenceran : M1 x V1 = M2 x V2

    20 ppm x 1 mL = M2 x 10 mL

    M2 = 2 ppm

    Untuk larutan glukosa konsentrasi 40 ppm dan Volume awal (V1) 1 mL

    Konsentrasi awal (M1) = 40 ppm

    Volume akhir (V2) = 10 mL

    Dengan menggunakan rumus pengenceran : M1 x V1 = M2 x V2

    40 ppm x 1 mL = M2 x 10 mL

    M2 = 4 ppm

    Untuk larutan glukosa konsentrasi 60 ppm dan Volume awal (V1) 1 mL

    Konsentrasi awal (M1) = 60 ppm

    Volume akhir (V2) = 10 mL

    Dengan menggunakan rumus pengenceran : M1 x V1 = M2 x V2

    60 ppm x 1 mL = M2 x 10 mL

    M2 = 6 ppm

    Untuk larutan glukosa konsentrasi 80 ppm dan Volume awal (V1) 1 mL

    Konsentrasi awal (M1) = 80 ppm

    Volume akhir (V2) = 10 mL

    Dengan menggunakan rumus pengenceran : M1 x V1 = M2 x V2

    80 ppm x 1 mL = M2 x 10 mL

    M2 = 8 ppm

    Untuk larutan glukosa konsentrasi 100 ppm dan Volume awal (V1) 1 mL

    Konsentrasi awal (M1) = 100 ppm

    Volume akhir (V2) = 10 mL

    Dengan menggunakan rumus pengenceran : M1 x V1 = M2 x V2

  • 100 ppm x 1 mL = M2 x 10 mL

    M2 = 10 ppm

    Konsentrasi (ppm) Absorbansi

    2

    4

    6

    8

    10

    0,002

    0,007

    0,018

    0,049

    0,004

    Sampel 0,586

    Grafik

    Dari grafik di atas diperoleh persamaan garis y = 0,0023x + 0,0022

    Sehingga diperoleh konsentrasi sampel :

    y = 0,0023x + 0,0022

    0,586 = 0,0023x + 0,0022

    0,5838 = 0,0023x

    x = 253,8261 ppm

    x = 253,8261 ppm x 10

    = 2538,261 ppm