LP Halusinasi

download LP Halusinasi

of 32

  • date post

    10-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    307
  • download

    2

Embed Size (px)

description

halusinasi

Transcript of LP Halusinasi

STASE KEPERAWATAN JIWA KLINIKLAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN PADA Ny.T DI RUANG SEMBODRO RSJ GHRASIA YOGYAKARTA

DISUSUN OLEH :

ANDI HARTONO3215001PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN VIIISEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

2015

Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta

Telp (0274) 434200

LEMBAR PENGESAHAN

Disusun Oleh :

Andi Hartono

3215001 Telah disetujui pada

Hari :

Tangggal :

Pembimbing KlinikMahasiswa

(Ayunita P, S.ST)(Andi Hartono,.S.Kep)

Pembimbing AkademikPerceptor

(Rizqi Wahyu H, S.Kep,.Ns)(Hajar Rohmadi, S.Kep,.Ns)

LAPORAN PENDAHULUANA. Pengertian HalusinasiHalusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2003).

Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005).Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2005). Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart, 2007).

Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987). B. Jenis- Jenis Halusinasi

Menurut Depkes (1983) halusinasi dapat terjadi pada seseorang dengan gangguan otak (kerusakan otak, keracunan zat halusinogenik) atau gangguan jiwa (psikosis atau histeria). Halusinasi yang sering didapatkan adalah :

a. Halusinasi dengar (akustik, auditirik). Individu itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek , menertawakan atau mengancam padahal tidak ada suara disekitarnya.

b. Halusinasi lihat (visual),. Individu melihat pemandangan orang binatang atau sesuatu yang tidak ada

c. Halusinasi bau/ hirup (olfaktori) halusinasi ini jarang didapatkan. Individu yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bungam bau kemenyan, bau mayat yang tidak ada sumbernya.

d. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau/ hirup. Individu itu merasa (mengecap) suatu rasa dimulutnya.

e. Halusinasi singgungan (taktil, kinestetik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaan ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi haptik..

Sedangkan Stuart dan Sunden (1998) membagi jenis halusinasi seperti yang tertulis dibawah ini :

a. Pendengaran/ auditori

Karakteristik, mendengar suara, paling sering suara oramg.suara dapat berkisar dari suara yang sederhana sampai suara orang bicara mengenai pasien, untuk menyelesaikan percakapan antara dua orang atau lebih tentang orang yang sedang berhalusinasi. Jenis lain termasuk pikiran yang dapat didengar yaitu pasien mendengar suara orang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkan oleh pasien dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu, kadang-kadang melakukan hal-hal yang berbahaya.

Perilaku pasien yang teramati, melirikkan mata kekiri dan ke kanan seperti mencari apa atau siapa yang sedang berbicara, mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang tidak berbicara atau kepada benda mati seperti mebel,terlibat percakapan dengan benda mati atau seseorang yang sedang tidak tampak, mengerak-gerakkan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara.

b. Penglihatan/ visual

Karakteristik, stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambar geometrik, gambar karton, dan/ atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan dapat berupa sesuatu yang menyenangkan atau yang menakutkan seperti monster

Perilaku pasien yang teramati, tiba-tiba tampak tergagap, ketakutan atau ditakuti oleh orang lain, benda lain atau stimulus yang tidak terlihat, tiba-tiba berlari keruangan lain.

c. Penghidu/ olfaktori

Karakteristik, bau busuk, amis dan bau yang menjijikan seperti darah,urin, atau feses. Kadang-kadang terhidu bau harum. Halusinasi penghidu khususnya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan demensia.

Perilaku yang teramati, hidung yang dikerutkan seperti menghidu bau yang sedang tidak enak, menghidu bau tubuh, menghidu bau udara ketika sedang berjalan kearah orang lain, berespon terhadap bau dengan panik, seperti menghidu bau api atau darah, melempar selimut atau menuang air pada orang lain seakan sedang memadamkan api.

d. Pengecap/ gustatory

Karakteristik, merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan seperti rasa darah,urin, atau feses.

Perilaku yang teramati, meludahkan makanan atau minuman,menolak untuk makan, minum, atau minum obat,tiba-tiba meninggalkan meja makan.

e. Peraba/ taktik

Karakteristik, mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat,merasakan sensasi listrik datang dari tanah,benda mati atau orang lain.

Perilaku yang teramati,menampar diri sendiri seakan sedang memadamkan api, melompat-lompat dilantai seperti menghindari nyeri atau stimulus lain pada kaki.

f. Senestetik

Karakteristik, merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui venadan arteri, makanan dicerna, atau pembentukan urin.

Perilaku yang teramati, memverbalisasi dan/ atau obsesi terhadap proses tubuh, menolak untuk menyelesaikan tugas yang memerlukan bagian tubuh pasienyang diyakini klien tidak berfungsi.C. Rentang respon halusinasi

Gejala psikosis menyebar dalam lima kategori utama fungsi otak kognisi, persepsi, emosi, perilaku dan sosialisasi yang juga saling berhubungan.

Respon Adaptif

Respon Maladaptif

Pikiran logis

Distorsi pikiran

Gangguan pikir/delusi

Persepsi akurat Ilusi

Halusinasi

Emosi konsisten Reaksi emosi berlebihan Sulit berespon emosi

Dengan pengalaman atau kurang

Perilaku disorganisasi

Perilaku sesuai Perilaku aneh atau tidak biasa Isolasi sosial

Berhubungan social Menarik diri

Gb 1. Rentang respons neurobiologis (Stuart & Sudden, 1998)

D. Faktor Predisposisi

Terjadinya gangguan orientasi realitas dipengaruhi oleh multi faktor baik internal maupun eksternal yang terdiri dari : 1) Faktor perkembangan Hambatan dalam perkembangan akan menggangu hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang dapat berakhir dengan gangguan persepsi. Pasien mungkin menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.2) Faktor sosial budaya Berbagai faktor dimasyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selnjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi.3) Faktor psikologisHubungan interpersonal yang tidak harmonis peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan kecemasan berat yang berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan.4) Faktor biologisStruktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien gangguan orientasi realita. Dapat ditemukan atropi otak, pembesaran ventrikel perubahan besar dalam bentuk sel kortikal dan limbik.5) Faktor genetikGangguan orientasi realitas umumnya ditemukan pada pasien skizofrenia. Skizofrenia ditemukan cukup tinggi pada keluarga yang anggota keluarga nya ada yang menderita skizofrenia, dan akan lebih tinggi jika kedua orang tua menderita skizofrenia.

E. Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi dapat besumber dari internal maupun eksternal, yang terdiri dari :1) Faktor sosial budaya Stress dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting atau diasingkan dari kelompok.2) Faktor biokimia Berbagaipenelitian tentang dopamine . norepineprine, andolamin, zat halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas.3) Faktor psikologis Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan berkaembangnya gangguan orientasi realitas.Pasien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.4) Perilaku Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan orientasi realitas berkaitan dengan perubahan : proses pikir, efektif, persepsi, motorik, dan sosial.F. Pohon Masalah Halusinasi Gambar pohon masalah berhubungan dengan perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Jika pernyataan pada pohon masalah diangkat menjadi permasalahan dalam diagnosa keperawatan, maka seluruh pernyataan dituliskan (Keliat,1998). Pohon Masalah Halusinasi:Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain

Akibat

Masalah utama

Penyebab

G. Fase- Fase Halusinasi

Halusinasi yang dialami oleh klien bisa berbeda intensitas dan keparahannya. Stuart dan Laraia (2001) membagi fase halusinasi dalam empat fase berdasarkan tingkat ansietas yang dialami dan kemampuan klien mengendalikan dirinya. Semakin berat fase halusinasi, kli