Lima Laknat Malam Kliwon

download Lima Laknat Malam Kliwon

of 96

  • date post

    04-Apr-2018
  • Category

    Documents

  • view

    242
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Lima Laknat Malam Kliwon

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    1/96

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    2/96

    BASTIAN TITO

    TTIIGGAA DDAALLAAMM

    SSAATTUU

    Sumber: Bastian TitoEBook: Fujidenkikagawa

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    3/96

    WIRO SABLENG

    MENUNGGU EMPAT PULUH SEMBILAN TAHUN

    UKU ini merupakan sisi lain dari serial Wiro Sableng

    yang terbit sebelumnya, berjudul "Munculnya Sinto

    Gendeng". Dalam seri tersebut dikisahkan

    bagaimana Pendekar 212 Wiro Sableng dan Eyang Sinto

    Gendeng bersama seorang kakek sakti bernama Ki Rana

    Wulung menyelamatkan Sri Baginda dan menghancurkan

    kaum pemberontak yang didalangi oleh keponakan Raja

    sendiri yaltu Pangeran Jingga.

    Tugas ke tiga orang itu dalam membantu me-nyelamatkan Kerajaan tidak mudah. Kaum pemberontak

    dibantu oleh beberapa tokoh silat kelas tinggi, antara lain

    Bergola Ijo (mati), Suto Abang (melarikan diri), Si Tangan

    Besi (mati), Malaikat Serba Biru (mati), dan Nenek

    Kelabang Merah (mati).

    Keadaan bertambah ricuh karena ternyata beberapa

    pejabat tinggi Kerajaan berkhianat dan ikut membantukaum pemberontak. Mereka di antaranya adalah Raden

    Aryo Braja yang Kepala Balatentara Kerajaan (mati) dan

    Turonggo Wesi(Perwira Tinggi Balatentara Kerajaan, mati).

    Sebagai balas budi jasa besar ke tiga orang itu, walau

    mereka menolak namun Raja memaksa menyerahkan

    sebuah peta yang menunjukkan letak sebuah telaga

    rahasia yang penuh dengan kandungan emas. Kisah telagarahasia ini kemudian dituturkan dalam serial Wiro Sableng

    ke-37 berjudul "Telaga Emas Berdarah".

    B

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    4/96

    Ketika Eyang Sinto Gendeng berkelahi hidup mati

    melawan Nenek Kelabang Merah, guru Pendekar 212 itu

    mengeluarkan satu ilmu sakti yang mampu memancarikan

    dua larik sinar biru dari sepasang matanya. Pendekar 212

    terkejut melihat kejadian itu. Dua larik sinar biru itu

    ternyata luar biasa hebatnya. Wiro menyadari, selama

    digembleng di puncak Gunung Gede sang guru tidak

    pernah mewariskan ilmu kesaktian itu padanya. Diam-diam

    sang pendekar merasa kecewa. Apa betul ucapan orang

    bahwa seorang guru tidak pernah mengajarkan atau

    mewariskan semua ilmu kepandaiannya pada seorang

    murid?

    Karena tidak suka memendam hati yang membuatnya

    merasa tidak enak, di sebuah sungai kecil Wiro berkata

    pada sang guru.

    "Eyang, rupanya benar ucapan orang. Bahwa tidak ada

    guru yang mengajarkan seluruh kepandaian pada

    muridnya!"Saat itu Sinto Gendeng hentikan larinya, berpaling pada

    sang murid dengan wajah merah dan membentak.

    "Apa maksudmu anak sableng?"

    "Tadi kulihat Eyang mengeluarkan ilmu aneh. Dua larik

    sinar biru melesat keluar dari mata dan merontokkan

    tubuh kelabang sakti!"

    "Hemm... begitu?"si nenek bergumam. "Ucapan orangitu mungkin benar. Tapi aku mau tanya. Berapa usiamu

    sekarang, anak sableng...?"

    "Dua... dua puluh satu Eyang!"

    "Betul! Itu berarti kau harus menunggu empat puluh

    sembilan tahun lagi untuk dapat menguasai ilmu itu!"

    Wiro garuk-garuk kepalanya.

    "Mengapa begitu, Eyang?""Selama sepasang matamu masih terpikat pada

    keindahan dunia, selama kedua matamu masih suka

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    5/96

    melihat wajah perempuan cantik dan tubuh yang bagus

    mulus, selama kau suka melihat aurat perempuan yang

    terlarang yang bukan istrimu, selama itu pula kau tak bakal

    dapat menguasal ilmu itu!"

    Mendengar ucapan sang guru Pendekar 212 Wiro

    Sableng jadi tertegun diam. Sambil garuk-garuk kepala dia

    membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi sang

    guru ternyata sudah berkelebat lenyap dari hadapannya.

    "Ah... nenek-nenek itu mungkin benar. Aku masih suka

    melihat wajah cantik, melihat dada kencang dan paha

    putih. Ha... ha ha.... Biarlah aku tidak menguasai ilmu itu!

    Ha... ha... ha!"

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    6/96

    WIRO SABLENG

    DIKURUNG JARING LIMA PENJURU JAGAD

    IRO memandang ke langit. Sang surya dilihatnya

    telah menggelincir jauh ke barat.Sebentar lagi sang mentari ini akan segera

    tenggelam. Siang akan berganti dengan malam. Setelah

    merenung sesaat Pendekar 212 segera tinggalkan tempat

    itu. Untuk menghibur hati dia berjalan sambil bersiul-siul

    membawakan lagu tak menentu. Di satu tempat Wiro

    hentikan siulannya. Telinganya menangkap suara

    gemericik kucuran air. Mendadak saja pemuda ini merasahaus. Maka diapun melangkah ke jurusan datangnya

    suara. Tidak sampai berjalan sejauh sepuluh tombak, Wiro

    hentikan langkah. Di depan sana ada sebuah pancuran

    bambu yang airnya mengucur jatuh ke atas bebatuan lalu

    tersebar kemana-mana dalam bentuk aliran-aliran kecil. Di

    sebuah batu tak seberapa besar di dekat pancuran, Wiro

    melihat si nenek duduk sambil bertopang dagu, menatapke arah air yang mengucur dari mulut pancuran bambu.

    "Sedang apa nenek ini berada di sini," berpikir Wiro. Lalu

    senyumnya menyeruak. Kembali dia membatin. "Jangan-

    jangan dia sengaja menunggu aku di sini. Jangan-jangan

    dia berubah pikiran hendak mengajarkan ilmu dua larik

    sinar biru yang bisa melesat keluar dari mata itu!" Berpikir

    begitu Wiro segera dekati Eyang Sinto Gendeng danmenegur.

    "Eyang, aku kira kau sudah pergi jauh. Ternyata

    nongkrong di sini. Apakah kau hendak mandi mem-

    W

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    7/96

    bersihkan diri dengan air pancuran?"

    "Anak sableng! Jangan kau berani menghina aku! Siapa

    yang mau mandi? Apa kau kira aku tidak pernah mandi-

    mandi?!" Si nenek bicara dengan suara keras mata

    melotot. Tapi pandangannya tidak beralih dari arah

    pancuran.

    Sang murid kembali tersenyum. Dalam hati dia berkata.

    "Nek, kalau kau sering mandi, tubuhmu tidak dekil begitu

    dan pakaianmu tidak bau pesing!"

    "Anak setan! Apa yang barusan kau ucapkan dalam

    hati?!"

    Hardikan si nenek membuat Wiro Sableng tergagau.

    "Celaka, mungkin dia tahu apa yang tadi kubilang dalam

    hati!"

    Wiro cepat berkata. "Maafkan aku Nek, aku tidak

    berucap apa-apa. Cuma aku heran melihat kau ada di sini.

    Kau seperti tengah memikirkan sesuatu. Seolah ada

    ganjalan dalam hatimu. Eyang, mungkin juga kaumendadak berubah pikiran?"

    "Anak setan! Apa maksudmu?! Pikiran aku yang mana

    yang berubah? Atau kau mau bilang aku berubah jadi

    setengah waras atau mendadak jadi sinting?!" Sinto

    Gendeng kembali membentak. Dua matanya tetap saja

    menatap ke arah pancuran bambu.

    "Maksudku, mungkin aku tidak usah menunggu empatpuluh sembilan tahun. Kau mau mengajarkan ilmu dua

    jalur sinar biru itu sekarang juga...."

    "Benar-benar anak setan! Bertahun-tahun kau ikut aku

    di puncak Gunung Gede! Apa selama itu kau pernah

    melihat aku berubah pikiran?!"

    "Memang tidak pernah Eyang," jawab Wiro masih

    senyum dan kali ini sambil garuk kepala. "Tapi per-timbangan tertentu bisa membuat seseorang berubah.

    Misal, kau menyadari tantangan dan bahaya di dalam

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    8/96

    rimba persilatan semakin besar. Hingga...."

    "Hingga aku merasa perlu membekalimu dengan ilmu

    dua larik sinar biru itu! Begitu?!"

    "Kira-kira begitu Nek," jawab Wiro lalu tertawa lebar.

    Lima tusuk kundai perak yang menancap di kulit kepala

    si nenek berjingkrak. Mulutnya yang kempot

    digembungkan.

    "Anak setan! Lekas angkat kaki dari sini! Jangan sampai

    aku menggebukmu karena muak!"

    "Eyang, maafkan aku. Bukan maksudku membuatmu

    marah. Aku tidak memikirkan lagi soal ilmu itu. Juga tidak

    untuk masa empat puluh sembilan tahun mendatang. Apa

    perlunya kepandaian di usia sudah bau tanah. Justru ilmu

    itu harus dimanfaatkan selagi muda untuk menolong

    sesama.... "

    Sinto Gendeng cemberut sebentar lalu tertawa

    mengekeh.

    "Anak sableng! Kau pandai memilih kata-kata agarhatiku bisa terenyuh! Hik... hik... hik! Sekalipun angin sejuk

    atau angin api mendera hatiku, jangan harap Sinto

    Gendeng bisa berubah pikiran! Sudah! Pergi sana! Jangan

    mengganggu diriku lebih lama!"

    Wiro membungkuk hormat. "Jika begitu kehendak

    Eyang, aku minta diri sekarang. Tapi kalau boleh aku

    memberi nasihat sebaiknya Eyang jangan lama-lamaberada di tempat ini...."

    "Eh, memangnya kenapa? Siapa yang berani

    melarang?!" Sinto Gendeng pelototkan mata ke arah air

    pancuran.

    "Tidak ada yang melarang Eyang. Setahuku di sekitar

    sini ada binatang buas aneh berkepala macan tapi cuma

    punya dua kaki. Makhluk ini jahat sekali, paling sukamenggeragot benda jelek dan bau-bau!"

    "Anak setan jahanam! Mentang-mentang aku jelek dan

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    9/96

    bau! Kau sengaja menghina mempermainkan diriku!

    Makhluk apapun yang ada di sekitar sini siapa takut! Kau

    memang minta digebuk!" Saking marahnya Sinto Gendeng

    gerakkan tangan kiri hendak memukul sang murid.

    Tapi sambil tertawa gelak-gelak Wiro sudah melompat.

    Pemuda ini lambaikan tangannya. "Selamat tinggal

    Eyang.... " Wiro menyelinap ke balik serumpunan pohon

    bambu hutan. Baru berjalan belasan langkah tiba-tiba di

    belakangnya terdengar si nenek berseru.

    "Anak setan! Tunggu! Lekas kau kembali ke sini!"

    Wiro tersenyum sendiri. "Ah, pasti dia benar-benar

    berbalik hati. Pasti dia memanggilku untuk mengajarkan

    ilmu kesaktian dahsyat itu. Mulu