LI LBM 1 BLOK 17

download LI LBM 1 BLOK 17

of 9

  • date post

    18-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    242
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Abses periodontal akut

Transcript of LI LBM 1 BLOK 17

1. Perbedaan socket, pocket, dan sulcus ?

Poket merupakan pendalaman sulkus gingiva secara patologis karena penyakit periodontal, oleh karena pergerakan tepi margin gingiva ke arah koronal, perpindahan epitel jungsional ke arah apikal, kombinasi dari keduanya.

Suprabony pocket -> Dasar poket dan epitel jungsional terletak lebih koronal dibandingkan puncak tulang alveolar.Infrabony pocket -> Dasar poket dan epitel jungsional terletak lebih ke apikal dibandingkan dengan puncak tulang alveolar.(Color Atlas of Periodontology oleh Rateitschak EM., Wolf HF., Hassel TM.)

2. Perbedaan tes termal pada gigi anterior dan posterior ?

3. Prinsip tes termal ?

Thermal test: this test includes cold and hot. They work on the principle of style hidrodinamik in dentin. It is believed that the movement of fluid in the tubules are responsible for activation of sensory receptors in the 3rd pulp.Teori hidrodinamik yang diusulkan oleh Brannstrom dan Astron pada tahun 1964. Menurut teori ini, lesi melibatkan enamel dan hilangnya sementum didaerah servikal dan akibatnya tubulus dentin terbuka di rongga mulut, di bawah rangsangan tertentu, yang memungkinkan pergerakan cairan di dalam tubulus dentin secara tidak langsung merangsang ektremitas dari saraf pulpa menyebabkan sensasi rasa sakit. Teori ini juga menyimpulkan bahwa hipersensitif dentin dimulai dari dentin yang terpapar mengalami rangsangan, lalu cairan tubulus bergerak menuju reseptor syaraf perifer pada pulpa yang kemudian melakukan pengiriman rangsangan ke otak dan akhirnya timbul persepsi rasa sakit.(proses terjadinya hipersensitivitas dentin. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22693/3/Chapter%20II.pdf )

(Ilmu Endodontik Dalam Praktek oleh Grossman, L.I., Oliet, S., Rio, C.E.D.)4. Serabut syaraf yang berperan dalam penjalaran nyeri spontan ?

5. Penatalaksanaan kegawatdaruratan endodontik ?

(Ilmu Endodontik Dalam Praktek oleh Grossman, L.I., Oliet, S., Rio, C.E.D.)6. Cara mendiagnosa perawatan endodontik ?

a. Obtain pertinent information about PMH & PDHb. Ask pointed subjective questions about patients pain : history, location, severity, duration, character & eliciting stimulic. Perform an extraoral examinationd. Perform an intraoral examination e. Perform pulp testing as appropiate f. Use palpation and percussion sensitivity tests to determine periapical statusg. Interpretation appropiate radiographs

(Pathway of the pulp 6th ed.)7. Kasus endodontik yang membutuhkan terapi farmakologi ?

(Ilmu Endodontik Dalam Praktek oleh Grossman, L.I., Oliet, S., Rio, C.E.D.)8. langkah langkah triad endodontik ?

Menurut Grossman, et.al (1995), Soendoro (1990) dan Siswandi (2001) perawatan saluran akar dibagi menjadi 3 tahap penting yaitu: preparasi, sterilisasi, dan pengisian saluran akar, dimana ketiganya harus dilakukan secara berurutan untuk menunjang keberhasilan perawatan.

a. Preparasi saluran akar

Preparasi saluran akar merupakan salah satu triad endodontik yang harus dilakukan karena sangat mempengaruhi hasil pengisian serta perawatan selanjutnya. Cara preparasi yang baik adalah tetap mempertahankan kontruksi dibagian apikal dan bentuk asli dari saluran akar bagian sepertiga apikal, oleh karena itu diperlukan pengukuran panjang gigi dimana untuk mempermudah prosedur preparasi sehingga dapat mencegah luka pada jaringan periapikal serta mendapatkan patokan untuk pemilihan bahan pengisi saluran akar.

b. Sterilisasi saluran akar

Sterilisasi saluran akar dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan semua bentuk mikroorganisme dalam saluran akar agar benar-benar dalam keadaan steril. Sebaiknya dalam pemilihan bahan sterilisasi harus memilih bahan yang tidak mengiritasi jaringan periapikal serta mudah dalam penggunaannya. Sebaiknya hanya diletakan diatas oriface dengan menggunakan gulungan kapas kecil yang sebelumnya ditetesi bahan sterilisasi seperti (ChKM) chlorophenol camphormental.

c. Pengisian saluran akar

Tahap terakir dari perawatan saluran akar adalah pengisian saluran akar dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kebocoran melalui jaringan periradikuler kedalam sistem saluran akar serta menutup semua iritasi yang tidak dapat dibersihkan. Metode yang banyak dilakukan dalam pengisian saluran akar adalah dengan metode kondensasi lateral, hal ini karena bentuk akar yang bervariasi terutama pada daerah dua pertiga koronal.Adapun macam-macam teknik preparasi saluran akar menurut Tarigan (1994); Grossman, et.al, (1995); Igle dan Backland, (1994); Sumadi, (2003), yaitu :

A. Teknik Konvensional Indikasi dari teknik konvensional adalah teknik preparasi saluran akar yang lurus dan telah tumbuh sempurna. Teknik ini dilakukan dengan ketentuan bahwa preparasi lebih mengikuti garis lurus dengan menggunakan alat yang kecil lalu yang besar secara berurutan dengan panjang kerja tetap sama untuk mencegah terjadinya step atau terdorongnya jaringan nekrotik ke apikal. Preparasi saluran akar dapat menggunakan file tipe K-flex dengan gerakan diputar dan ditarik. Selama preparasi setiap pergantian nomor jarum harus dilakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril pada saluran akar yang bertujuan untuk membersihkan sisa jaringan nekrotik maupun serbuk dentin yang terasah. Bila terjadi penyumbatan preparasi dapat diulang dengan menggunakan jarum yang lebih kecil dan dapat diberi larutan untuk mengatasi penyumbatan berupa larutan largal, EDTA atau glyde.

B. Teknik Step-Back

Indikasi teknik ini biasanya saluran akar yang tumbuh lengkap, bengkok, dan sempit pada 1/3 apikal. Preparasi dengan teknik stepback dapat memberikan kemudahan dalam preparasi saluran akar serta mendapatkan hasil yang baik. Pada saat preparasi saluran akar dapat dilakukan gerakan pull and push motion dengan menggunakan file tipe K-flex atau NiTi file yang lebih fleksibel atau lentur. Tahap pertama dalam mempreparasi saluran akar dengan menggunakan jarum dari yang terkecil no. 15 sampai ke no. 25 sesuai panjang kerja pada daerah sepertiga apikal, lalu dilanjutkan pada daerah dua pertiga koronal dengan diameter alat semakin besar serta panjang kerja semakin pendek. Setiap pergantian jarum perlu dilakukan pengontrolan panjang kerja dengan file no. 25 sebagai Master Apical File (MAF) dengan panjang kerja dikurangi 1 mm untuk jarum no. 30, 2 mm untuk jarum no. 35 dan seterusnya serta untuk mencegah terjadinya penyumbatan saluran akar karena serbuk dentin yang terasah.

C. Teknik Crown-Down Pressureless

Teknik ini hampir sama dengan teknik step-back, yaitu saluran akar tumbuh lengkap dan bengkok. Preparasi pada teknik ini dapat menggunakan instrument nikel-titanium.

D. Teknik Balanced Forces

Indikasi dari teknik ini dimana saluran akar bengkok dan sudah tumbuh sempurna. Pada teknik ini preparasi dapat menggunakan file tipe R-Flex atau NiTi Flex no. 10 dengan gerakan steam wending , yaitu file diputar searah jarum jam kemudian diikuti gerakan setengah putaran berlawanan arah jarum jam. Dilakukan dari arah servikal sampai ke apikal. Selanjutnya saluran akar dilebarkan dengan file no. 25 secara berurutan sampai dengan file no. 35 sesuai panjang kerja. Pada 2/3 koronal dilakukan preparasi dengan Gates Glidden Drill (GGD) dan setiap pergantian jarum dapat dilakukan irigasi untuk mencegah terjadinya perforasi dan pecahnya dinding saluran akar.(Perawatan Saluran Akar Pada Dens Invagenatus, http://unmas-library.ac.id/wp-content/uploads/2014/10/SKRIPSI-Maria-Oktavia-Menge-Resi.pdf )