LI Analisis Skenario C Blok 7 2015

download LI Analisis Skenario C Blok 7 2015

of 20

  • date post

    01-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    18
  • download

    0

Embed Size (px)

description

tutorial

Transcript of LI Analisis Skenario C Blok 7 2015

1.1 Bagaimana penyesuaian fisiologis tubuh saat mendaki gunung?1.2Apa saja faktor yang mempengaruhi penyesuaian fisiologis tubuh saat mendaki gunung?

Prinsip-prinsip utama yang terjadi pada aklimatisasi:

1. Peningkatan ventilasi paru yang cukup besar

2. peningkatan jumlah sel darah merah

3. peningkatan kapasitas difusi paru

4. peningkatan vaskularisasi jaringan perifer

5. peningkatan kemampuan sel dalam menggunakan oksigen sekalipun nilai pO2 rendah. Pajanan pO2 rendah secara mendadadak akan merangsang kemoreseptor arteri sehingga kemoreseptor tersebut akan meningkatkan ventilasi alveolus menjadi maksimal 1,65 kali di atas normal. Perubahan awal

1. Terjadinya Peningkatan Frekuensi Pernafasan.

Selama minggu pertama adaptasi, terjadi perubahan yang bervariasi. Frekuensi pernafasan dan kedalamnya meningkat dalam darah, menyebabkan lebih banyak oksigen diangkut ke gelembung udara paru. Peningkatan frekuensi pernafasan dimulai pada jam awal kedatangan di ketingian kurang dari 2000 m. Hilangnya karbondioksida menyebabkan tubuh menjadi lebih alkalis (basa). Untuk mengkompensasi meningkatnya alkalinitas tubuh, ginjal akan mengeluarkan bicarbonate-unsur alkali dalam kencing. Adaptasi ini terjadi dalam 24-48 jam setelah hiperventilasi (nafas cepat) mulai.

2. Meningkatnya Frekuensi Denyut Jantung.

Sel-sel tubuh memerlukan masukan oksigen yang teratur sehingga jantung berdenyut lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan. Kecuali di ketinggian yang ekstrim, denyut jantung akan kembali ke normal setelah aklamatisasi.

3. Perpindahan Cairan

Aliran darah ke otak meningkat untuk mencukupi kebutuhan otak dengan volume oksigen yang mencukupi (sebanding dengan yang dapat diperoleh di atas laut). Di paru-paru, kapiler paru mengalami konstriksi (pengkerutan), meningkatkan resistansi aliran ke paru dan meningkatkan tekanan darah di paru. Yang berbahaya adalah tekanan darah yang tinggi dalam arteri pulponalis menyebabkan cairan lari dari kapiler dan tumpah ke paru sehingga terjadi pembengkakan di paru.

Perubahan lanjutan1. Meningkatnya Produksi Sel Darah Merah

Selama aklimitasi berlanjut, sumsum tulang berperan dengan meningkatkan produksi sel darah merah. Sel-sel darah merah yang baru akan berfungsi dalam darah setelah 4-5 hari, sehingga akan meningkatkan kapasitas darah dalam pengangkut oksigen.

2. Meningkatnya Produksi 2,3 DPG (Diphosphoglycareta)

Dengan meningkatnya produksi sel darah menjadi peningkatan 2,3 DPG. Ini adalah fosfat organic yang membantu oksigen untuk bergabung dengan sel-sel darah merah. Produksi myoglobin, protein intramuskuler pembawa oksigen dalam sel-sel darah juga meningkat.

3. Meningkatnya Jumah Pembuluh Darah Kapiler.

Tubuh mengembangkan lebih banyak pembuluh darah kapiler untuk merespon terhadap ketinggian. Ini merubah kecepatan penyerapan oksigen dengan memperpendek jarak antara sel dan pembuluh darah kapiler.a. Bagaimana perubahan fisiologi tubuh yang normal pada saat berada di ketinggian ?(pada keadaan normal dan setelah berada di ketinggian)

Terjadi perubahan fisiologis yang signifikan terhadap kinerja paru saat berada di ketinggian ataupun dataran rendah yaitu berpengaruh dalam Respons ventilasi. Saat di ketinggian tekanan barometer menurun, ventilasi meningkat untuk meminimalkan penurunan PaO2. Peningkatan ventilasi terjadi bila tekanan oksigen inspirasi menurun sampai kira-kira 13,3 kPa (kilopascal) atau pada ketinggian 3000 meter dan tekanan oksigen alveolar kira-kira 8 kPa. Peningkatan ventilasi ini merupakan akibat perangsangan hipoksia dari badan karotid yang derajatnya berbeda tiap individu.Hipoksia akut menyebabkan peningkatan ventilasi, setelah 15 menit terjadi pengurangan hiperventilasi sekitar 25-30%; pengurangan ini terjadi akibat reaksi sekunder neurotransmitter di sistem saraf pusat dan penurunan nilai metabolik serebral, walaupun mekanismenya belum diketahui. Selanjutnya setelah beberapa hari, ventilasi terus meningkat akibat kompensasi ginjal terhadap alkalosis respiratorik melalui ekskresi bikarbonat yang memperbaiki status asam basa sehingga merangsang pernapasan.Hiperventilasi karena ketinggian akan diikuti peningkatan curah jantung, frekuensi jantung dan tekanan darah sistemik. Efek ini akibat perangsangan simpatis system kardiovaskular yang menyebabkan perangsangan kemoreseptorarteri dan peningkatan inflasi paru.Selain itu mungkin juga merupakan akibat langsung efek hipoksia miokardium yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah pulmoner. Peningkatan curah jantung, vasokonstriksi hipoksik pulmoner dan rangsang saraf simpatis pembuluh darah menyebabkan peningkatan tekanan arteri pulmoner rata-rata yang selanjutnya dapat mengakibatkan hipertensi pulmoner serta peningkatan kerja ventrikel kanan.

Fisiologi tubuh di ketinggian1. Sistem respirasi

Ketinggian menyebabkan penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) inspirasi. Penurunan tekanan parsial oksigen menyebabkan penurunan tekanan oksigen kapiler alveolar. Seiring dengan penurunan PO2, tubuh akan mengkompensasinya dengan meningkatkan ventilasi. Respons ventilasi merupakan keadaan fisiologi yang terjadi akibat ketinggian. Bila tekanan barometer menurun, ventilasi meningkat untuk meminimalkan penurunan PO2.PO2 darah yang rendah pada keadaan normal tidak akan meningkatkan ventilasi alveolus secara bermakna sampai tekanan oksigen alveolus turun hampir separuh dari normal. Sebab dari berkurangnya efek perubahan tekanan oksigen pada pengaturan pernapasan berlawanan dengan yang disebabkan oleh mekanisme yang mengatur karbondioksida dan ion hidrogen. Peningkatan ventilasi yang benar-benar terjadi bila PO2 turun mengeluarkan karbondioksida dari darah dan oleh karena itu mengurangi tekanan PCO2. Penyebab langsung penurunan PCO2 adalah selalu hiperventilasi alveolar(ventilasi alveolus dalam keadaan kebutuhan metabolisme yang berlebihan). Hiperventilasi menyebabkan alkalosis respiratorik dan kenaikan pH darah. Hiperventilasi menggambarkan usaha tubuh untuk meningkatkan PO2 dengan usaha membuang CO2 yang berlebihan dari paru sehingga menimbulkan gejala sesak napas.

2. Sistem Kardiovaskular

Otot jantung seperti halnya otot rangka, menggunakan energy kimia untuk menyebabkan kontraksi. Energy ini dihasilkan terutama dari metabolisme oksidatif asam lemak dan sebagian kecil dari bahan makanan yang lain, khususnya laktat dan glukosa. Karena itu, semakin berkurang kandungan oksigen di udara, maka proses pembentukan energy pun akan terganggu, dan suplai ke jantung pun akan ikut berkurang.

3. Sistem Aliran darah

Pada penderita hipoksia (hipoksia hipotoksik), aliran darah juga terganggu akibat dari kompensasi tubuh tehadap sistem cardiovascular. Mula-mula takikardi; kemudian bradikardia jika otot jantung tidak cukup mendapat oksigen. Peningkatan tekanan darah yang diikuti dengan penurunan tekanan darah jika hipoksia tidak diatasi. 4. Sistem Eskresi

Perubahan fungsi sistem ekskresi, seperti ginjal pada ketinggian 3200 m sebagai efek langsung hipoksia sejalan dengan mekanisme kompensasi adaptasi sistem lainnya. Pengeluaran urin dan ekskresi sodium ini juga berhubungan dengan penurunan tekanan parsial Oksigen (PO2). Diuresis dan natriuresis disertai ekskresi bikarbonat dan kalium sejalan dengan penurunan inspirasi oksigen yang akut dan dimediasi oleh kemoreseptor perifer sensitive oksigen. Ketika respon hiperventilasi hipoksia dimediasi oleh kemoreseptor perifer, respon diuresis dan natriuresis hipoksia akan muncul selama 24-48 jam pertama bervariasi setiap individu hingga dampaknya bisa menyebabkan dua sampai tiga kali peningkatan ekskresi protein dan urin yang mekanismenya melibatkan perubahan permeabilitas kapiler. Dalam hal PO2 yang rendah pun, sel kortikal intestitial meningkatkan produksi eritropoietin guna membantu oksigenasi ke jaringan, yang dilepaskan sejak 1-2 jam pertama setelah paparan hipoksia dengan puncak pada 24-48 jam dan menurun setelah beberapa minggu dan terjadi penekanan feedback.5. Sistem sarafApabila sistem syaraf kekurangan suplai oksigen dapat menyebabkan ischemic pada jaringan, bila berkelanjutan dapat menyebakan nekrosis dan kemudian sel mengalami degenerasi. Kekurangan oksigen pada kelenjar juga dapat menyebabkan kurangnya produksi cairan endolimfe dan perolimfe yang mengatur keseimbangan tubuh.

1.2 Bagaimana pengaruh pendakian gunung dengan cepat tanpa berhenti terhadap tubuh?

3.1Apa tujuan pemberian Oxygen pada kasus?

3.2Apa pengaruh A dipapah turun gunung?

Penatalaksanaan Penanganan yang dapat dilakukan terhadap penderita hipoksia adalah:

Pemberian oksigen

Merupakan tindakan memberikan oksigen ke dalam saluran pernafasan dengan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen dapat dilakukan meallui tiga cara, yaitu melalui kanula, nasakm dan masker. Pemberian oksigen ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.

Penanganan pada daerah tinggi yaitu:

1) Turun segera

Dengan turun segera dari ketinggian dapat menyembuhkan gejala dalam beberapa jam, namun misi naik gunung dapat tertunda

2) Istirahat di ketinggian yang sama

Diharapkan terjadinya proses aklimatisasi(penyesuaian ketersediaan O2 yang menurun di dataran tinggi), namun gejala baru akan hilang dalam 24-48 jam.

3) Istirahat dan minum Acetazolamide, atau Deksametason, atau keduanya

Dengan Acetazolamide, gejala dapat hilang dalam 12-24 jam, namun ada efek samping obat. Sedangkan pada Deksametason dapat menghilangkan gejala dalam beberapa jam, namun hanya menyembunyikan gejala dan tidak terjadi proses aklimatisasi.

4) Terapi oksigen hiperbarik

Gejala akan hilang dalam beberapa menit, namun hanya dapat meningkatkan jumlah O2 yang larut dalam darah arteri, sehingga memberikan arti yang terbatas pada hipoksia stagnan, an