LI Afif Skenario a Blok 19

download LI Afif Skenario a Blok 19

of 32

  • date post

    30-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    44
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of LI Afif Skenario a Blok 19

LI AFIF1a 2b 2c 3a7 8 14 201a. Mekanisme merintih (Groan) pada kasus ini disebabkan rasa nyeri yang disebabkan oleh multipel traumaMerintih :Suara dalam dan tidak bermakna yang menandakan rasa nyeri, sedih atau tidak nyaman

2b Pake y Trauma bisa di klasifikasikan berdasarkan jenis dan anatomi regional:Berdasarkan jenis, terbagi atas:1. Trauma Tumpul2. Trauma Tajam3. Trauma Bakar4. Trauma LedakanBerdasarkan Anatomi regional, terbagi atas:1. Kepala2. Wajah3. Leher4. Dada (Thoraks)5. Perut (Abdomen)6. Pelvis7. EkstremitasPada kasus ini terjadi trauma tumpul di kepala, dada dan ekstrimitas sehingga perlu dimasukkan klasifikasi yang lebih spesifik dari ketiganya.1. Cedera KepalaCedera kepala dapat di klasifikasi berdasarkan mekanisme, berat dan morfologi.Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dibagi atas:1. Cedera kepala tumpul : Biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas, jatuh atau pukulan benda tumpul. Pada cedera tumpul terjadi akselerasi dan deselerasi yang cepat menyebabkan otak bergerak di dalam rongga cranial dan melakukan kontak pada protuberans tulang tengkorak.2. Cedera tembus : Biasanya disebabkan oleh luka tembak ataupun tusukan.Berdasarkan morfologinya cedera kepala dikelompokkan menjadi:1. Fraktur tengkorakFraktur tengkorak dapat terjadi pada atap dan dasar tengkorak. Fraktur dapat berupa garis/linear, multipel dan menyebar dari satu titik (stelata) dan membentuk fragmen-fragmen tulang (kominutif). Fraktur tengkorak dapat berupa fraktur tertutup yang secara normal tidak memerlukan perlakuan spesifik dan fraktur tertutup yang memerlukan perlakuan untuk memperbaiki tulang tengkorak. Fraktur basis tengkorak tidak selalu dapat dideteksi oleh foto rontgen, karena terjadi sangat dasar. Tanda-tanda klinik yang dapat membantu mendiagnosa adalah Battle sign (warna biru/ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid), ekimosis daerah kedua periorbital (racoon eyes), Rhinorrhoe (liquor keluar dari hidung), Otorrhoe ( liquor keluar dari telinga) , paresis nervus facialis dan kehilangan pendengaran. pemulihan peresis nervus facialis lebih baik daripada paresis nervus VIII. Fraktur dasar tengkorak yang menyilang kanalis karotikus dapat merusak arteri carotis.2. Lesi intrakraniala. Dapat berbentuk lesi fokali. Perdarahan epiduralDisebabkan oleh robeknya arteri meningea media akibat fraktur tengkorak. Perdarahan epidural 0,5% dari cedera otak. Dari CT scan didapatkan gambaran bikonveks atau menyerupai lensa cembung.ii. Perdarahan subduralDisebabkan robeknya vena-vena kecil di permukaan korteks cerebri. Perdarahan ini biasanyanya menutup seluruh permukaan hemisfer otak. Prognosis perdarahan subdural lebih buruk daripada perdarahan epidural.iii. Kontusio dan peradarahan intraserebral Kontusio serebri sering terjadi (20-30% dari cedera kepala berat). Area tersering adalah frontal dan temporal. Dalam beberapa jam atau hari kontusio dapat berubah menjadi perdarahan intraserebral yang membutuhkan operasi.b. lesi difus cedera otak difus yang erat biasanya diakibatkan hipoksia, iskemia dari otak akibat syok yang berkepanjangan atau periode apneu yang terjadi segera setelah trauma. Hasil CT scan dapat menunjukkan hasil yang normal, edema otak dengan dengan batas area putih dan abu abu yang kabur. Pada beberapa kasus yang jarang ditemukan bercak bercak perdarahan diseluruh hemisfer otak yang dikenal dengan cedera akson difus yang memberikan prognosis yang buruk.

Secara umum untuk mendeskripsikan beratnya penderita cedera kepala digunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian ini dilakukan terhadap respon motorik (1-6), respon verbal (1-5) dan buka mata (1-4), dengan interval GCS 3-15. Sedangkan pada anak yang tidak dapat bicara deskripsi beratnya penderita cedera kepala digunakan Children Coma Scale (CCS). Dalam penilaian GCS jika terdapat asimetri ekstremitas, maka yang digunakan adalah respon motorik yang terbaik.

Dari Klasifikasi diatas dapat disimpulkan bahwa cedera kepala OS termasuk dalam cedera kepal sedang ringan karena GCS 13 (penurunan kesadaran sedang) dan hanya terdapat luka lecet dahi pelipis sebelah kanan. Bila ingin melihat lebih pasti apakah terjadi fraktur atau adakah lesi, bisa dilakukan rujukan CT Scan

2. Trauma ThoraksTrauma thoraks terdiri atas trauma tajam dan trauma tumpul. Pada trauma tajam, terdapat luka pada jaringan kutis dan subkutis, mungkin lebih mencapai jaringan otot ataupun lebih dalam lagi hingga melukai pleura parietalis atau perikardium parietalis. Dapat juga menembus lebih dalam lagi, sehingga merusak jaringan paru, menembus dinding jantung atau pembuluh darah besar di mediastinum. Trauma tumpul toraks, bila kekuatan trauma tajam lainnya, karena faktor kerusakan jaringan yang lebih besar akibat rotasi berkecepatan tinggi tidak cukup besar, hanya akan menimbulkan desakan terhadap kerangka dada, yang karena kelenturannya akan mengambil bentuk semula bila desakan hilang. Trauma tumpul demikian, secara tampak dari luar mungkin tidak memberi gambaran kelainan fisik, namun mampu menimbulkan kontusi terhadap otot kerangka dada, yang dapat menyebabkan perdarahan in situ dan pembentukan hematoma inter atau intra otot, yang kadang kala cukup luas, sehingga berakibat nyeri pada respirasi dan pasien tampak seperti mengalami dispnea. Trauma tumpul dengan kekuatan cukup besar, mampu menimbulkan patah tulang iga, mungkin hanya satu iga, dapat pula beberapa iga sekaligus, dapat hanya satu lokasi fraktur pada setiap iga, dapat pula terjadi patahan multiple, mungkin hanya melibatkan iga sisi unilateral, mungkin pula berakibat bilateral.Dari klasifikasi Trauma thoraks diatas, dapat disimpulkan bahwa OS mengalami Trauma thoraks tumpul di bagian kanan bawah sampai samping.3. FrakturUntuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harus mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir. Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar dan tarikan.2c Pada kasus ini terjadi multipel trauma yaitu cedera kepala, trauma thorax (dada) di regio kanan bawah sampai samping dan fraktur tertutup pada paha kanan tengah2d. 1. Pastikan pasien itu sadar atau rudak3a Mekanisme Trauma pada kecelakaan OS pada kasus ini :Korban mengendarai mobil kijang pickup dengan kecepatan tinggi, kemudian menabrak tiang listrik hingga bengkok. Kronologis yang terjadi dapat dibagi menjadi 4 Fase :

Fase 1. Kendaraan Menabrak Objek, paha pengemudi mengenai dashboard mobil, menyebabkan terjadinya benturan pada lutut sehingga terjadi tekanan pada paha. (penyebab fraktur tertutp pada paha kanan)

Fase 2.Pada pengemudi yang tidak memakai safety belt badan akan terangkat kedepan, terjadi benturan dada dengan stir mobil sehingga menyebabkan trauma tumpul pada dada (thoraks)

Fase 3. Muka menabrak kaca depan, menyebabkan terjadinya luka lecet pada dahi pelipis sebelah kanan

Fase 4.Pengemudi akan terhempas kembali kebelakang (kecuali terlempar kedepan apabila kaca depan pecah). Pada kasus ini OS terlempar kedepan, meningkatkan keparahan dari trauma.

7 Anatomi KepalaA. Kulit Kepala (SCALP)Menurut ATLS terdiri dari 5 lapisan yaitu:1. Skin atau kulit2. Connective Tissue atau jaringan penyambung3. Aponeurosis atau galea aponeurotika jaringan ikat berhubungan langsung dengan tengkorak4. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar Merupakan tempat terjadinya perdarahan subgaleal (hematom subgaleal).5. PerikraniumTulang TengkorakTerdiri Kalvarium dan basis kranii. Rongga tengkorak dasar dibagi 3 fosa :1. Anterior tempat lobus frontalis2. Media tempat lobus temporalis3. Posterior tempat batang otak bawah dan serebelumMeningenSelaput ini menutupi seluruh permukaan otak terdiri 3 lapisan :1. DurameterMerupakan selaput keras atas jaringan ikat fibrosa melekat dengan tabula interna atau bagian dalam kranium namun tidak melekat pada selaput arachnoid dibawahnya, sehingga terdapat ruangan potensial disebut ruang subdural yang terletak antara durameter dan arachnoid. Pada cedera kepala pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior digaris tengah disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan serta menyebabkan perdarahan subdural. Durameter membelah membentuk 2 sinus yang mengalirkan darah vena ke otak, yaitu : sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transverses dan sinus sigmoideus. Perdarahan akibat sinus cedera 1/3 anterior diligasi aman, tetapi 2/3 posterior berbahaya karena dapat menyebabkan infark vena dan kenaikan tekanan intracranial.Arteri2 meningea terletak pada ruang epidural, dimana yang sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis dapat menimbulkan perdarahan epidural.2. Arachnoid3. PiameterLapisan ini melekat pada permukaan korteks serebri. Cairan serebro spinal bersirkulasi diantara arachnoid dan piameter dalam ruang subarahnoid. Perdarahan ditempat ini akibat pecahnya aneurysma intra cranial..D. Otak1. SerebrumTerdiri atas hemisfer kanan dan kiri dipisahkan oleh falks serebri yaitu lipatan durameter yang berada di inferior sinus sagitalis superior. Hemisfer kiri terdapat pusat bicara.2. SerebelumBerfungsi dalam kordinasi dan keseimbangan dan terletak dalam fosa posterior berhubungan dengan medulla spinalis batang otak dan kedua hemisfer serebri.3. Batang otakTerdiri dari mesensefalon (midbrain) dan pons berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan, serta medulla oblongata yang memanjang sampai medulla spinalis.E. Cairan SerebrospinalisNormal produksi cairan serebrospinal adalah 0,2-0,35 mL per menit atau sekitar 500 mL per 24 jam . Sebagian besar diproduksi oleh oleh pleksus koroideus yang terdapat pada ventrikel lateralis dan ventrikel IV. Kapasitas dari ventrikel lateralis dan ventrikel III pada orang sehat sekitar 20 mL dan total volume cairan serebrospinal pada orang