LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR - ukmindonesia.id · 1. Kota adalah Kota Denpasar. 2. Pemerintah Kota...

of 24/24
, I I LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 11 TAHUN 2006 PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG RETRIBUSI IZIN TEMPAT USAHA DAN IZIN GANGGUAN DIHIMPUN OLEH BAGIAN HUKUM SETDA KOTA DENPASARA - 2006 ( ••
  • date post

    11-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR - ukmindonesia.id · 1. Kota adalah Kota Denpasar. 2. Pemerintah Kota...

,

II

LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASARNOMOR 11 TAHUN 2006

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASARNOMOR 7 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI IZIN TEMPAT USAHADAN IZIN GANGGUAN

DIHIMPUN OLEH

BAGIAN HUKUM SETDA KOTA DENPASARA

- 2006 (

lEMBARAN DAERAH KOTA DENPASARNOMOR 11 TAHUN 2006

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASARNOMOR 7 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI IZIN TEMPAT USAHADAN IZIN GANGGUAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA DENPASAR,

Menimbang a. bahwa dengan semakinmeningkatnya perkembanganpembangunan di Kota Denpasar,maka akan semakin bertambahpula kemungkinan dampak yangditimbulkan terhadappencemaran Iingkungan;

b. bahwa untuk adanya ketertibanserta dalam rangka pengendaliandan pengawasan gunamendukung bagi terpenuhinyaKota Denpasar yang Bersih,Aman, Lestari, dan Indah, maka

-dipandang perlu untuk

1

Mengingat

mewajibkan setiap kegiatanusaha memiliki Izin Tempat Usahadan atau Izin Gangguan;

c. bahwa Peraturan Daerah KetaDenpasar Nemer 9 Tahun 2001tentang Ijin Tempat Usaha DanIjin Undang - undang Gangguan(HO) dipandang tidak sesuai lagidengan situasi dan kendisi saatini sehingga perlu ditinjau kembali;

'."r'

d. bahwa berdasarkanpe rti m ba nga n sebaga ima nadimaksud huruf a, huruf b, danhuruf c perlu membentukPeraturan Daerah tentangRetribusi Izin Tempat Usaha danIzin Gangguan ;

1. Undang-Undang Gangguan (HO)Staatsblad Tahun 1926 Nemer226 yang diubah dandisempurnakan terakhir denganStaatsblad Tahun 1940 Nemer14 dan Nomor 450 ;

2. Undang-Undang Nemor 8 Tahun1981 tentang Hukum AcaraPidana (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1981Nemer 76, Tambahan LembaranNegara Republik IndonesiaNemer 3209) ;

2

7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun2004 tentang PembentukanPeraturan Perundang - undangan(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2004 Nomor 53,Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia 4389 ) ;

8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun2004 tentan,g Pemerintah Daerah(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2004 NorTm~/125, Tambahan LembaranNegara Republik IndonesiaNomor 4437) Sebagaimanatelah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005tentang Penetapan PeraturanPemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan Daerahmenjadi Undang-Undang(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2005 Nomor108, Tambahan LembaranNegara Republik IndonesiaNomor 4548);

9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun2004 tentang PerimbanganKeuangan antara PemerintahPusat dan Pemerintahan Daerah( Lembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 126, TambahanLembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 4438);

4

10. Peraturan Pemerintah Nomor 27

Tahun 1999 tentang AnalisisMengenai Dampak Lingkungan(AMDAL) (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1999Nomor 59, Tambahan LembaranNegara Republik IndonesiaNomor 3838);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 66

Tahun 2001 tentang RetribusiDaerah ( Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 2001Nomor 119, TambahanLembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 4139);

Dengan persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAHKOTA DENPASAR

dan

WALIKOTA DENPASAR

MEMUTUSKAN :

Menetapkan PERATURAN DAERAH TENTANG IZINTEMPAT USAHA DAN IZINGANGGUAN

BAB IKETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

5

1. Kota adalah Kota Denpasar.

2. Pemerintah Kota Denpasar adalah Pemerintah KotaDenpasar.

3. Walikota adalah Walikota Denpasar.

4. Kas Daerah adalah Kas Pemerintah Daerah KotaDenpasar.

5. Tempat Usaha adalah tempat-tempat untukmelakukan kegiatan usaha yang dijalankan.~e"carateratur dalam suatu bidang usaha tertentu denganmaksud untuk mencari keuntungan.

6. Izin Tempat Usaha adalah izin yang diberikan bagitempat-tempat untuk melakukan kegiatan usaha yangdijalankan secara teratur dalam suatu bidang usahatertentu dengan maksud untuk mencari keuntunganyang kegiatan usahanya diperkirakan tidakmenimbulkan gangguan terhadap lingkungan.

7. Izin Gangguan adalah Izin yang diberikan bagi tempat-tempat usaha berdasarkan pasal 1 ayat (1) Undang-undang Gangguan / Hinder Ordonantie (HO) StaatsbladTahun 1926 nomor 226 yang diubah dandisempurnakan dengan Staatsblad Tahun 1940 Nomor14 dan Nomor 450 dan usaha-usaha tertentu lainnyayang dapat mangakibatkan bahaya, kerugian ataugangguan.

8. Tim Izin Gangguan adalah tim yang dibentuk olehWalikota untuk memberikan pertimbangan dalamrangka memberikan atau menolak atas permohonanIjin Tempat Usaha dan atau Izin Gangguan.

6

I

\

\ .

9. Perusahaan ac1alah setiap bentuk usaha yangdijalankan secara tetap dan terus menerus untukmemperoleh keuntungan.

10. Retribusi Perijinan Tertentu adalah Retribusi ataskegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalampemberian izin kepada orang pribadi atau badan yangdimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan,pengendalian dan pengawasan atas kegiatanpemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam,barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu gunamelindungi kepentingan umum dan menjagakelestarian lingkungan.

11. Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yangmenurut peraturan perundang-undangan Retribusidiwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi.

12. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnyadapat disingkat SKRD adalah surat keputusan yangmenentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang.

13. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapatdisingkat STRD, adalah surat untuk melakukan tagihanretribusi dan atau sanksi administrasi berupa bungadan atau denda.

14. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusankeberatan terhadap SKRD atau dokumen lain yangdipersamakan, SKRDKBT dan SKRDLB yang diajukanoleh Wajib Retribusi.

15. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untukmencari, mengumpulkan, dan mengolah data dan atauketerangan lainnya dalam rangka pengawasankepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi Daerahberdasarkan peraturan perundang - undangan retribusiDaerah ..

7

16. Penyidikan tindak pidana dibidang retribusi Daerahadalah serangkaian tindakan yang dilakukan olehPenyidik pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapatdisebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkanbukti yang dengan bukti itu membuat terang tindakpidana di bidang retribusi Daerah yang terjadi sertamenemukan tersangkanya.

17. penyidik Pegawai Negeri Sipil adalah penyidik PegawaiNegeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah KotaDenpasar yang diberi tugas khusus sebagai penyidikpelanggaran Peraturan Daerah.

< '/'

BAB II

PERIZINAN

Pasal 2

(1) Setiap orang atau badan hukum yang mendirikantempat usahanya wajib mendapat Izin Tempat Usahadan atau Izin Gangguan dari Walikota.

(2) Izin Tempat Usaha dan Izin Gangguan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) berlaku paling lama 5 (lima)tahun.

(3) Jenis-jenis kegiatan usaha yang memerlukan IzinTempat Usaha dan atau Izin Gangguan ditetapkandengan Peraturan Walikota.

8

BABIIITATA CARA DAN SYARAT-SYARATPEMBERIAN IZIN

Pasal 3

(1) Untuk memperoleh Izin Tempat Usaha dan atau IzinGangguan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 wajibmengajukan permohonan kepada Walikota melaluiDinas Lingkungan Hidup dengan mengisi formulir yangtersedia.

(2) Permohonan Izin Tempat Usaha dan atau IzinGangguan sebagaimana dimaksud ayat (1) harusmelampirkan persyaratan sebagai berikut :

a. KTP atau surat keterangan Domisili atauDokumen Kependudukan lainnya;

b. akta pendirian perusahaan bagi perusahaanyang berbadan hukum ;

c. surat Keterangan Kewarganegaraan bagi WargaNegara Asing (WNA) ;

d. status tanah dan atau bangunan yang dipakaitempat usaha (dilegalisasi);

e. izin Mendirikan Bangunan ;f. persetujuan prinsip mendirikan usaha bagi usaha

dibidang kepariwisataan ;g. persetujuan Prinsip Penanaman Modal dari BKPMj

BKPMD bagi Perusahaan PMA;h. surat pernyataan tidak keberatan dari penyanding;i. denah lokasi tempat usaha;j. bukti pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan tahun

terakhir;k. daftar Aktiva dan Jumlah Modal; danL pas Photo ukuran 3 x 4 sebanyak 4 (empat)

lembar (berwarna).

9

Pesal 4

(1) Walikota memberikan atau menolak permohonan lzinsebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) setelahmemperhatikan pertimbangan Tim izin Gangguan yangditetapkan dengan Keputusan Walikota.

(2) Penolakan permohonan izin sebagaimana dimaksudpada ayat (1) harus disertai dengan alasan - alasanpenolakan secara tertulis.

(3) Tim Izin Gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) ditetapkan dengan Keputusan Walikota. " '.r

Pasal 5

( 1) Apabila dalam pengajuan per-mohonan Ijin TempatUsaha dan atau Ijin Gangguan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 3 ternyata penyandingkeberatan, maka penyanding harus menyampaikanatau menyatakan keberatannya secara tertulis disertaialasan-alasan atas keberatannya.

(2) Atas keberatan penyanding sebagaimana dimaksudpada ayat (1) Tim Ijin Gangguan mengadakanpenelitian dan atau pengkajian sebagai bahanpertimbangan untuk mengabulkan atau menolakkeberatan penyanding.

Pasal 6

(1) Dalam hal persyaratan adminstrasi sebagaimanadimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) telah lengkap danbenar maka Tim Izin Gangguan melakukan verifikasiuntuk membuktikan kebenaran persyaratan dengankenyataan di lapangan atau lokasi kegiatan usaha.

10

penagihan retribusi dikeluarkan segera setelah 7(tujuh) hari kerja sejak jatuh tempo pembayaran.

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelahtanggal surat teguran / peringatan / surat lain yangsejenis, wajib retribusi harus melunasi retribusinya yangterutang.

(3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelahtanggal surat teguran atau surat peringatan atau suratlain yang sejenis disampaikan wajib retribusi belummembayar retribusi terutang maka ijin tidak dap~tdiberikan. '.r

BAB XIIIPENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN

Pasal 21

(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusidapat mengajukan permohonan pengembalian kepadaWalikota.

(2) Walikota dalam jangka waktu paling lama 6 (enam)bulan sejak diterimanya permohonan kelebihanpembayaran retribusi sebagaimana dimaksud padaayat (1), harus memberikan keputusan.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud padaayat (2) telah dilampaui dan Walikota tidakmemberikan suatu keputusan, permohonanpengembalian kelebihan retribusi dianggap dikabulkandan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktupaling lama 1 (satu) bulan.

(4) Apabila Wajib Retribusi mempunyai utang retribusilainnya, kelebihan.pembayaran retribusi sebagaimana

16

dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untukmelunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut.

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusisebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalamjangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejakditerbitkannya SKRDLB.

(6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran retribusidilakukan setelah lewat jangka waktu 2 (dua) bulan,Walikota memberikan imbalan bunga sebesar 2% (duapersen) sebulan atas keterlambatan pembayarankelebihan retribusi.

Pasal 22

(1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaranretribusi diajukan secara tertulis kepada Walikotadengan menyebutkan :a. nama dan ala mat wajib retribusi ;b. masa retribusi ;c. besarnya kelebihan pembayaran;d. alasan yang singkat dan jelas.

(2) Permohonan pengembalian pembayaran retribusidisampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat.

(3) Bukti Penerimaan oleh Pejabat daerah atau buktipengiriman pos tercatat merupakan bukti saatpermohonan diterima oleh Walikota.

Pasal 23

(1) Pengembalian kelebihan retribusi dilakukan denganmenerbitkan Surat Perintah Membayar KelebihanRetribusi.

17

(2) Apabila kelebihan pembayaran retribusi diperhitungkandengan utang retribusi lainnya, sebagaimana dimaksuddalam Pasal 17 ayat (4) ,pembayaran dilakukandengan cara pemindah bukuan dan bukti pemindahanbukuan sebagai bukti pembayaran.

BAB XIV

PENGURANGAN, KERINGANAN DANPEMBEBASAN RETRIBUSI

Pasal 24 , -/

(1) Walikota dapat memberikan pengurangan, keringanandan pembebasan retribusi.

(2) Pemberian pengurangan atau keringanan retribusisebagaimana dimaksud pad a ayat (1) denganmemperhatikan kemampuan Wajib Retribusi, antaralain, untuk mengangsur.

(3) Tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasanretribusi ditetapkan oleh Walikota.

BAB XVKEDALUWARSA PENAGIHAN

Pasal 25

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kedaluwarsasetelah melampui jangka waktu 3 (tiga) tahunterhitung sejak saat terutangnya retribusi ,. kecualiapabila wajl'b Retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi.

(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagimana dimaksudpada ayat (1) dapat ditangguhkan apabila

18

a. diterbitkan Surat Teguran, atau ;b. ada pengakuan utang retribusi dari Wajib pajak

Retribusi baik langsung maupun tidak langsung;

BAB XVI

SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 26

Dalam hal wajib retribusi tidak membayar tepat padawaktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksiadmnistrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiapbulan dari retribusi yang terutang atau kurang dibayar danditagih dengan menggunakan STRD.

Pasal 27

(1) Apabila perusahaan yang telah mendapat ijinsebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ternyata sesuaihasil pemeriksaan Tim Izin Gangguan ternyata telahmenimbulkan pencemaran terhadap lingkungan makaperusahaan tersebut diwajibkan menetralisirpencemaran tersebut dalam jangka waktu 3 (tiga)bulan terhitung sejak tanggal diterimanya hasilpemeriksaan Tim Izin Gangguan.

(2) Jika pencemaran tersebut sebagaimana dimaksudpada ayat (1) telah mencapai ambang batas yangmembahayakan, Walikota dapat memerintahkanuntuk menutup sementara kegiatan usaha tersebutsampai dapat mengatasi pencemaran tersebut.

(3) Usaha yang beroperasi tanpa memiliki Ijinsebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Walikota atauPejabat yang ditunjuk untuk itu dapat menutupperusahaan tersebu_t sampai memperoleh ijin.

19

BAB XVII

PENYIDIKAN

Pasal 28

(1) Pejabat penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkunganPemerintah Kota Denpasar diberi wewenang Khusussebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindakpidana dibidang Retribusi Daerah sesuai denganketentuan peraturan perundpng-undangan yangberlaku.

\/.(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) adalah :a. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti

keterangan atau laporan berkenaan dengan tindakpidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusiagar keterangan atau laporan tersebut menjadilebih lengkap dan jelas ;

b. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keteranganmengenai orang pribadi atau badan tentangkebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungandengan tindak pidana per'pajakan Daerah danRetribusi;

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orangpribadi atau badan sehubungan dengan tindakpidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dandokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindakpidana di bidangPerpajakan dan Retribusi ;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapat bahanbukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaanterhadap bahan bukti tersebut;

20

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangkapelaksanaan tugas penyidikan tindak pidanadibidang Perpajakan Daerah dan Retribusi;

g. Menyuruh berhenti dan / atau melarang seseorangmeninggalkan ruangan atau tempat pada sa atpemeriksaan sedang berlangsung dan pemeriksaanidentitas orang dan / atau dokumen yang dibawasebagcdmana dimaksud pada huruf e;

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindakpidana Perpajakan Daerah dan Retribusi ;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannyadan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. Menghentikan penyidikan ;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untukkelancaran penyidikan tindak pidana dibidangPerpajakan Daerah dan Retribusi menurut hukumyang bertanggungjawab.

BAB XVIIIKETENTUAN PIDANA

Pasal 29

(1) Setiap orang atau Badan Hukum yang melanggarketentuan dalam Pasal 2, Pasal 8 dan Pasal 9 dipidanadengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulanatau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- ( limapuluh juta rupiah ).

(2) Tindak pidana dimaksud pad a ayat (1) adalahpelanggaran.

21

BAB XIXKETENTUAN PERALIHAN

Pasal 30

(1) Bagi perusahaan yang telah memiliki Izin tempat usahadan atau Izin Gangguan yang telah dikeluarkansebelum berlaku Peratuaran Daerah ini dinyatakantetap berlaku sampai dengan izin tersebut dinyatakanhabis masa berlaku.

(2) Perusahaan -perusahaan yang telah berj~lan /beroperasi tetapi belum memiliki Ijin wajib mempeh:Hehizin paling lama 6 (enam) bulan sejak ditetapkannyaPeraturan Daerah ini.

BAB XXPENUTUP

Pasal 31

Pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini mulai berlakuPeraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 9 Tahun 2001tentang Ijin Tempat Usaha dan Ijin Undang-undangGangguan (HO) ( Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun2001 Nomor 9) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 32

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggaldiundangkan.

22

Agar setiap orang mengetahui memerintahkanpengundangan Peraturan Daerah ini denganpenempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Denpasar.

Ditetapkan di Den pas a rpada tanggal 22 September 2005

WALIKOTA DENPASAR,

PUSPAYOGA

Diundangkan di Denpasarpada tanggal 27 Juni 2006

SEKRETARIS DAERAH KOTA DENPASAR,

MADE WESTRA

LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASARTAHUN 2006 NOMOR 11

23

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR

NOMOR 7 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI IZIN TEMPAT USAHA DAN IZIN GANGGUf\N

I. UMUM

Menginggat Kota Denpasar adalah merupakan Kotapusat kegiatan Pemerintahan, Pariwisata, Perdaganganserta perekonomian sehingga menyebabkantumbuhnya bermacam-macam usaha yang perludikendalikan keberadaannya sehingga tidakmenyimpang dari Rencana Tata Ruang Wilayah yangada serta tidak menganggu kelestarian lingkungan.Dengan demikian akan terjamin adanya ketertibandalam berusaha.

Berhubung dengan hal tersebut diatas maka dipandangperlu mengatur ketentuan Izin Tempat Usaha dan IzinGangguan dengan Peraturan Daerah.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas.

Pasal 2

cukup jelas.

24

Pasal 3Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf 9Cukup jelas.

Huruf h

bahwa surat pernyataan tidakkeberatan dari penyanding diberikanoleh penyanding yang bersebelahandan atau berbatasan langsung dengantempat dan atau kegiatan usaha yangdimohonkan ijin.Keberatan oleh penyanding ataskegiatan usaha dan atau tampat usahaharus dinyatakan secara tertulisdengan alasan-alasannya.

25

Keberatan oleh penyanding tidak sertamerta dpat dijadikan alasan untukmenolak kegiatan usaha / tempatusaha kecuali alasan-alasan tersebut

secara adminstrasi, teknis, maupunkondisi dilapangan.

Huruf i

Cukup jelas.

Huruf jCukup jelas.

Huruf k

Cukup jelas.

Huruf I

Cukup jelas.

Pasal 4

Cukup jelas.

Pasal 5

Cukup jelas.

Pasal 6

Cukup jelas.

Pasal 7

Cukup Jelas.

Pasal 8

Cukup jelas.

Pasal 9

Cukup Jelas.

26

Pasal 10Cukup Jelas.

Pasal 11Cukup Jelas.

Pasal 12Cukup jelas.

Pasal 13Cukup jelas.

Pasal 14Cukup jelas.

Pasal 15Ayat (1)

Perusahaan Besa~ Perusahaan menengahdan Perusahaan kecil adalah Perusahaansebagaimana dimaksud dalam KeputusanMenteri Perindustrian dan PerdaganganNomor 591 / MPP / KEP / 10/ 1999 yaitu:

a. Perusahaan besar adalah perusahaanyang memiliki modal di atas Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

b. Perusahaan Menengah adalahPerusahaan yang memiliki modal Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah)sampai dengan Rp. 500.000.000,-(lima ratus juta rupiah)

c. Perusahaan Kecil adalah Perusahaanyang memiliki modal dibawah Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah)

Ayat ( 2 ) _Cukup Jelas.

27

Pasal 16

Cukup jelas.

Pasal 17

Cukup Jelas.

Pasal 18

Cukup jelas.

Pasal 19

Cukup jelas.

Pasal 20

Cukup jelas.

Pasal 21

Cukup jelas.

Pasal 22

Cukup jelas.

Pasal 23

Cukup jelas.

Pasal 24

Cukup Jelas.

Pasal 25

Cukup jelas.

Pasal 26

Cukup jelas.

Pasal 27

Cukup jelas.

Pasal 28

Cukup jelas.

28

Pasal 29

Cukup jelas.

Pasal 30

Cukup Jelas.

Pasal 31

Cukup Jelas.

Pasal 32

Cukup Jelas.

29