â€Legalisasi’ perusahaan sawit melalui perubahan Kehutanan Nomor...

download â€Legalisasi’ perusahaan sawit melalui perubahan Kehutanan Nomor 936/Menhut-II/2013, 20 Desember

of 31

  • date post

    08-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    250
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of â€Legalisasi’ perusahaan sawit melalui perubahan Kehutanan Nomor...

1

Legalisasi perusahaan sawit melalui perubahan peruntukan Kawasan Hutan

menjadi Bukan Kawasan Hutan di Provinsi Kalimantan Barat Laporan investigatif dan analisa pengindraan jarak jauh di 17 perkebunan kelapa sawit

Laporan Investigatif

Eyes on the Forest

Diterbitkan Desember 2018

Eyes on the Forest (EoF) merupakan koalisi LSM di Riau, Sumatra: WALHI Riau, Jikalahari Jaringan Kerja Penyelamat Hutan

Riau dan WWF-Indonesia Program Sumatra Tengah.

EoF juga membentuk jaringan kelompok anggota di Sumatra (KKI Warsi) dan Kalimantan : Environmental Law Clinic, Lembaga

Gemawan, JARI Indonesia Borneo Barat, Kontak Rakyat Borneo, POINT, Swandiri Institute, Yayasan Titian, Gapeta Borneo dan

WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat.

EoF memonitor deforestasi dan status dari hutan alam yang tersisa di Sumatra dan Kalimantan dan mendiseminasi informasi

secara luas.

Untuk lebih banyak informasi tentang Eyes on the Forest, silahkan kunjungi:

Website EoF: EoF website: http://www.eyesontheforest.or.id

Peta interaktif EoF: http://maps.eyesontheforest.or.id

Email: editor(at)eyesontheforest.or.id

Sampul depan

http://www.eyesontheforest.or.id/http://maps.eyesontheforest.or.id/mailto:editor@eyesontheforest.or.id

2

Sampul depan

Peta hasil survey PT Gemilang Makmur Subur (PT GMS). Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor

259/Kpts-II/2000, lokasi PT GMS termasuk dalam kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) seluas 4.263 hektar dan

751 hektar dalam kawasan Hutan Produksi dapat diKonversi (HPK). Namun areal kebun PT GMS setelah

keluarnya SK Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan menjadi Bukan Kawasan Hutan di Kalimantan Barat

berdasarkan SK Nomor 936/Menhut-II/2013 dan SK Nomor 733/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan

Provinsi Kalimantan Barat, tanggal 2 September 2014, berubah menjadi Areal Penggunaan Lain (APL) dan

sisanya 306 hektar menjadi Hutan Lindung (HL).

3

RINGKASAN EKSEKUTIF

Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat telah berkembang pesat sejak tahun 2000-an bak

cendawan tumbuh di musim hujan. Surat Keputusan oleh Menteri Kehutanan Nomor 936/Menhut-

II/2013, 20 Desember 2013 tentang Kawasan Hutan di Provinsi Kalimantan Barat serta SK No

733/Menhut-II/2013, 14 September 2014, tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan menjadi

Bukan Kawasan Hutan telah dikeluarkan, namun tidak mudah untuk meredam sengkarut dari tata

kelola spasial kehutanan dan perkebunan.

Selama periode November hingga Desember 2017 jaringan Eyes on the Forest yang terdiri dari

WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat, Environmental Law Clinic, Lembaga Gemawan, JARI

Indonesia Borneo Barat, Kontak Rakyat Borneo, POINT, Swandiri Institute, Yayasan Titian Lestari, dan

Gapeta Borneo kemudian melakukan investigasi pada 17 lokasi yang merujuk pada hasil analisis

tumpang susun Citra Landsat USGS 2017 dengan kawasan hutan yang mengalami perubahan

peruntukan menjadi bukan kawasan hutan. Beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang

menjadi sasaran investigasi EoF terkait dengan kejanggalan dalam operasi kebun sawit yakni

Bengkayang, Ketapang, Kubu Raya, Sanggau, Sambas, Sintang dan Kapuas Hulu.

Terpantau dari 127.459 hektar luas lahan yang teridentifikasi, ditemukan 17 kebun sawit telah

beroperasi selama bertahun-tahun, bahkan sebelum dikeluarkannya SK Nomor 936/Menhut-II/2013

tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan tanggal 20 Desember 2013. Artinya, sawit diproduksi

di kawasan hutan tanpa melalui prosedur dan ketentuan yang digariskan oleh hukum yang berlaku di

Indonesia. Selain itu, perusahaan atau mitra yang perusahaan yang teridentifikasi telah

mengembangkan sawit tanpa adanya izin Hak Guna Usaha (HGU). Kalaupun ada, tidak menutup

kemungkinan bahwa luas kebun yang dikembangkan lebih besar dari ketentuan yang ada di HGU.

Hasil analisa tumpang susun kawasan hutan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor

259/Kpts-II/2000, 23 Agustus 2000 Tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi Kalimantan Barat

merincikan 44.947 hektar terdapat pada Hutan Produksi Tetap (HP), 3.081 hektar pada Hutan

Produksi dapat diKonversi (HPK), 2.864 hektar pada Hutan Lindung (HL) dan 253 hektar pada

KSA/KPA. Setelah keluarnya Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 733/Menhut-II/2014, 2

September 2014 Tentang Kawasan Hutan di Provinsi Kalimantan Barat, masih terdapat areal kebun

yang berada dalam kawasan hutan antara lain 6.935 hektar pada Hutan Produksi Tetap (HP), 19.718

hektar pada Hutan Produksi dapat diKonversi (HPK) dan Hutan Lindung (HL) 2.131 hektar.

Dari 17 perusahaan sawit yang diinvestigasi oleh tim EoF 15 diantaranya tidak hanya berafiliasi

dengan investor nasional, tetapi juga China, Malaysia dan Amerika Serikat, sedangkan 2 perusahaan

lain belum teridentifikasi afiliasinya. Sejumlah grup sawit yang diindikasikan bermasalah dengan

melakukan perubahan Kawasan Hutan menjadi Kawasan Bukan Hutan ini adalah : Artha Graha,

Bumitama Gunajaya Agro, Cargil International Corp., Duta Palm Nusantara, Sampoerna Agro, Tianjin

Julong, Bumitama Agri, Wilmar, Gunas, Indofood Agri, Lyman, Kencana dan Sinarmas. Salah satu

perusahaan yakni PT Rejeki Kencana Prima memiliki usia pohon sawit termuda yang sudah ditanam

di kawasan hutan. Sementara PT Usaha Agro Indonesia memiliki usia kebun tertua dengan kisaran

umur 20 tahun, disusul oleh PT Indo Sawit Kekal dan PT Gemilang Makmur Subur.

Koalisi EoF meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mencabut dan meninjau

ulang Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 733/Menhut-II/2014, Tentang Perubahan Peruntukan

Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan seluas 8.389.600 hektar dan Keputusan Menteri

4

Kehutanan Nomor 936/Menhut-II/2013, 20 Desember 2013, Tentang Kawasan Hutan di Provinsi

Kalimantan Barat. Selain itu KLHK diminta untuk melakukan penyidikan dan penindakan terhadap

perusahaan sawit yang telah mengembangkan kebun sawit pada kawasan hutan sebelum

diterbitkannya Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 733/Menhut-II/2014 tanggal 2 September

2014.

Koalisi juga mendesak dilakukannya penyidikan dari temuan ini hingga berujung pada penegakan

hukum terhadap pihak yang diduga melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan perundangan

yang berlaku di negeri ini. Selain itu, meminta korporat produsen dan pembeli sawit yang sudah

mendeklarasikan komitmen kelestariannya untuk konsisten menerapkannya terutama terkait

dengan keganjilan seperti temuan EoF dalam laporan ini.

5

PENDAHULUAN

Kebijakan pemerintah dalam penunjukan kawasan hutan di Provinsi Kalimantan Barat adalah

berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 757/UM/10/1982, 12 Oktober 1982, Tentang

Penunjukan Kawasan Hutan Propinsi Kalimantan Barat seluas lebih kurang 9.204.375 hektar.

Penunjukan Kawasan Hutan ini kemudian lebih dikenal sebagai Rencana Pengukuhan dan

Penatagunaan Hutan (RPPH) atau Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Provinsi Kalimantan Barat.

Mengacu ke Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang, maka dilakukan

paduserasi antara Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalimantan Barat dan Kawasan

Hutan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 757/UM/10/1982. Sehingga Menteri

Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor

259/Kpts-II/2000, 23 Agustus 2000, Tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Propinsi

Kalimantan Barat seluas 9.178.760 hektar.

Dalam rangka penetapan RTRWP Kalimantan Barat, Gubernur Kalimantan Barat pada tahun 2008

mengusulkan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan kepada Menteri Kehutanan.

Kemudian Menteri Kehutanan tahun 2011 membentuk Tim Terpadu dalam rangka pengkajian

perubahan kawasan hutan dalam usulan revisi RTRWP Kalimantan Barat. Memperhatikan usulan

Gubernur Provinsi Kalimantan Barat terkait tambahan revisi RTRWP Kalimantan Barat tahun 2011

dan laporan tim terpadu dalam rangka pengkajian perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan

dalam usulan revisi RTRWP Kalimantan Barat pada September 2012, Menteri Kehutanan

mengeluarkan Keputusan Nomor 936/Menhut-II/2013, tanggal 20 Desember 2013 Tentang

Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan seluas 554.137 hektar,

Perubahan Fungsi Kawasan Hutan seluas 352.772 hektar dan penunjukan Bukan Kawasan Hutan

Menjadi Kawasan Hutan seluas 52.386 hektar di Propinsi Kalimantan Barat.

Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/Menhut-II/2012 dan

P.62/Menhut-II/2013 Tentang Pengukuhan Kawasan Hutan, terhadap kawasan hutan wilayah

provinsi yang telah ditunjuk mengalami perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan sejalan

dengan proses revisi tata ruang wilayah, maka terhadap kawasan hutan wilayah provinsi dilakukan

dengan Keputusan Menteri Kehutanan. Sehingga Menteri Kehutanan menetapkan Keputusan

Menteri Kehutanan Nomor 733/Menhut-II/2014, 2 September 2014, Tentang Kawasan Hutan dan

Konservasi Perairan Propinsi Kalimantan Barat seluas 8.389.601.

Fokus jaringan Eyes on the Forest di Kalimantan Barat

Jaringan EoF Kalimantan Barat melakukan investigasi terhadap perubahan peruntukan