Latar Belakang SSC

of 52/52
BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang Data World Health Organization(WHO) menunjukkan bahwa selama lebih dari satu abad perawatan bedah telah menjadi komponen penting dari perawatan kesehatan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap tahun ada 230 juta operasi utama dilakukan di seluruh dunia, satu untuk setiap 25 orang hidup (Haynes, et al. 2009). Penelitian di 56 negara dari 192 negara anggota WHO tahun 2004 diperkirakan 234,2 juta prosedur pembedahan dilakukan setiap tahun berpotensi komplikasi dan kematian (Weiser, et al. 2008). Tindakan pembedahan wajib memperhatikan keselamatan pasien, kesiapan pasien, dan prosedur yang akan dilakukan, karena resiko terjadinya kecelakaan sangat tinggi, jika dalam pelaksanaannya tidak mengikuti standar prosedur operasional yang sudah ditetapkan. Tim kamar bedah tentu tidak bermaksud menyebabkan cedera pasien, tetapi fakta menyebutkan bahwa ada pasien yang mengalami KTD (kejadian tidak di harapkan), KNC (kejadian nyaris cedera), ataupun kejadian sentinel yaitu KTD yang menyebabkan kematian atau cedera serius (Depkes,2008), saat dilakukan tindakan pembedahan. Oleh sebab itu diperlukan program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena sebagian KTD merupakan
  • date post

    05-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    38
  • download

    5

Embed Size (px)

description

LATAR BELAKANG

Transcript of Latar Belakang SSC

BAB ILATAR BELAKANG

A. Latar BelakangDataWorld Health Organization(WHO) menunjukkan bahwa selama lebih dari satu abad perawatan bedah telah menjadi komponen penting dari perawatan kesehatan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap tahun ada 230 juta operasi utama dilakukan di seluruh dunia, satu untuk setiap 25 orang hidup (Haynes, et al. 2009). Penelitian di 56 negara dari 192 negara anggota WHO tahun 2004 diperkirakan 234,2 juta prosedur pembedahan dilakukan setiap tahun berpotensi komplikasi dan kematian (Weiser, et al. 2008).Tindakan pembedahan wajib memperhatikan keselamatan pasien, kesiapan pasien, dan prosedur yang akan dilakukan, karena resiko terjadinya kecelakaan sangat tinggi, jika dalam pelaksanaannya tidak mengikuti standar prosedur operasional yang sudah ditetapkan. Tim kamar bedah tentu tidak bermaksud menyebabkan cedera pasien, tetapi fakta menyebutkan bahwa ada pasien yang mengalami KTD (kejadian tidak di harapkan), KNC (kejadian nyaris cedera), ataupun kejadian sentinel yaitu KTD yang menyebabkan kematian atau cedera serius (Depkes,2008), saat dilakukan tindakan pembedahan. Oleh sebab itu diperlukan program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena sebagian KTD merupakan kesalahan dalam proses pelayanan yang sebetulnya dapat dicegah melalui program keselamatan pasien. Komplikasi dan kematian akibat pembedahan menjadi salah satu masalah kesehatan global. World Health Organization (WHO) memperkirakan sedikitnya ada setengah juta kematian akibat pembedahan yang sebenarnya bisa dicegah. Di Inggris dan Wales, National Patient Safety Agency (NPSA) melaporkan 127.419 insiden terkait pembedahan pada tahun 2007.3 Di negara bagian Minnesota, AS, yang hanya berpopulasi kurang dari 2% dari total populasi AS, dilaporkan terjadi 21 operasi pada sisi yang salah hanya dalam satu tahun (Oktober 2007 s/d Oktober 2008). Keadaan sesungguhnya kemungkinan besar lebih parah lagi karena sebagian besar insiden tidak dilaporkan. Program Keselamatan Pasiensafe surgery saves lifessebagai bagian dari upaya WHO untuk mengurangi jumlah kematian bedah di seluruh dunia. Tujuan dari program ini adalah untuk memanfaatkan komitmen dan kemauan klinis untuk mengatasi isu-isu keselamatan yang penting, termasuk praktek-praktek keselamatan anestesi yang tidak memadai, mencegah infeksi bedah dan komunikasi yang buruk di antara anggota tim. Untuk membantu tim bedah dalam mengurangi jumlah kejadian ini, WHO menghasilkan rancangan berupachecklistkeselamatan pasien di kamar bedah sebagai media informasi yang dapat membina komunikasi yang lebih baik dan kerjasama antara disiplin klinisPada Juni 2008, WHO meluncurkan kampanye Safe Surgery Saves Lives. Surgical Safety Checklist digunakan untuk memastikan bahwa seluruh tim operasi mempunyai pemahaman yang sama terhadap tindakan operasi yang akan dilakukan dan kondisi pasiennya, serta memastikan bahwa intervensi seperti antibiotik profilaksi dan pencegahan deep vein thrombosis sudah diberikan. Checklist ini berisi 19 hal yang harus dilakukan dalam tiga tahap, sebelum induksi anesthesia (sign in), sebelum insisi kulit (time out), dan sebelum pasien meninggalkan kamar operasi (sign out). Halhal yang tercantum dalam checklist ini harus dikonfirmasikan secara verbal kepada pasien dan anggota tim operasi.Selain penggunaan checklist, kelompok penelitian WHO juga melakukan intervensi perkenalan tim operasi, brifing dan debrifing. Safety briefing memungkinkan anggota tim saling memperkenalkan diri dan perannya dalam tim, kondisi pasien, potensi penyulit yang mungkin muncul, kebutuhan peralatan khusus, posisi pasien, dll. Tanpa perkenalan yang cukup, tim operasi bisa jadi bekerja tanpa saling mengetahui nama masingmasing. Akibatnya, akan sulit bagi anggota tim untuk bertanya, mengingatkan atau memberitahu jika ada masalah yang terjadi. Meskipun masih banyak dokter dan perawat yang masih menganggap proses ini tidak penting, tetapi pada kenyataannya brifing berhasil meningkatkan level komunikasi dalam tim, mengurangi terjadinya error dan keterlambatan yang tidak diharapkan Berdasarkan fenomena tersebut kemudian diangkat topic analisis jurnal terkait Surgical Safety Checklist dalam proses pembedahan, dengan judul Systematic review and meta-analysis of the effect of the World Health Organization surgical safety checklist on postoperative complications

B. RumusanMasalahBerdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut rumusan permasalahan yang penulis tetapkan dalam analisis jurnal penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh WHO Surgical Safety Checklist terhadap komplikasi post operasi?

C. TujuanTujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari surgical safety checklist terhadap komplikasi post operasi.D. Manfaat1. Bagi PasienUntuk pencegahan terjadinya komplikasi pada pasien yang dilakukan tindakan pembedahan.2. Bagi Perawat BedahMemberikan informasi mengenai penerapan dan manfaat dari surgical safety checklist dalam suatu proses pembedahan sehingga dapat dilakukan koreksi apabila tidak sesuai dan dilakukan peningkatan untuk perawatan bedah.3. Bagi MahasiswaMengetahui iformasi tentang penerapan surgical safety checklist dalam suatu proses pembedahan sehingga bertambah ilmu pengetahuannya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

1. Pelayanan Bedah di Rumah Sakit Pembedahan merupakan salah satu tindakan medis yang penting dalam pelayanan kesehatan. Tindakan pembedahan merupakan salah satu tindakan medis yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mencegah kecacatan dan komplikasi (Haynes, et al. 2009). Menurut Brunner & Sudarth (2010), pembedahan dapat dikelompokkan sebagai berikut:a. Bedah Mayor Bedah mayor merupakan pembedahan yang relatif lebih sulit untuk dilakukan dari pada pembedahan minor, membutuhkan waktu, dan melibatkan resiko terhadap nyawa pasien, dan memerlukan bantuan asisten seperti contoh bedah sesar, mammektomi, bedah torak, bedah otak. b. Bedah Minor Bedah minor merupakan pembedahan yang secara relatif dilakukan secara simple, tidak memiliki risiko terhadap nyawa pasien dan tidak memerlukan bantuan asisten untuk melakukannya seperti contoh membuka abses superficial, pembersihan luka, inokuasi, superfisial neuroktomi dan tenotomi.c. Bedah Emergency Bedah emergency merupakan pembedahan yang dilakukan darurat, tidak boleh ditunda dan membutuhkan perhatian segera (gangguan mungkin mengancam jiwa) seperti contoh luka bakar sangat luas, perdarahan hebat. Dd. Bedah Elektif Bedah elektif merupakan pembedahan yang dilakukan ketika diperlukan dan kalau tidak dilakukan juga tidak terlalu membahayakan nyawa. Contoh: hernia sederhana, perbaikan vaginal.

Brunner & Sudarth (2010), membagi tingkat luka operasi menjadi luka operasi bersih, luka operasi bersih terkontaminasi, luka operasi terkontaminasi dan luka operasi kotor. Klasifikasi ini mempermudah untuk memprediksikan tingkat infeksi luka setelah operasi.a. Luka Operasi Bersih Luka operasi bersih mempunyai kriteria elektif, tidak emergency, kasus non trauma, tertutup secara primer, tidak ada peradangan akut, tidak ada kesalahan pada teknik aseptik, tidak ada luka tembus ke sistem pernafasan, pencernaa, empedu, saluran kencing dan kelamin. Bb. Luka Operasi Bersih Terkontaminasi Luka operasi bersih terkontaminasi mempunyai kriteria darurat namun tidak emergency atau luka bersih, pembedahan elektif sistem pernafasan, pencernaa, saluran kemih, tidak termasuk pembukaan saluran empedu yang terinfeksi, kesalahan minor dalam metode aseptik.c. Luka Operasi Terkontaminasi Luka operasi terkontaminasi mempunyai kriteria peradangan non purulen, luka ke dalam empedu atau saluran kencing yang terinfeksi, kesalahan mayor pada teknik aseptik, luka tembus kurang dari 4 jam. Luka terbuka kronis yang akan ditutup. d. Luka Operasi Kotor Luka operasi kotor mempunyai kriteria peradangan yang purulen (abses), perforasi saluran pernafasan preoperatif, pencernaa, empedu dan luka tembeus selama 4 jam.

Menurut Cahyono (2008), untuk merancang sistem yang aman dalam tindakan pembedahan, diperlukan beberapa hal yaitu: a. Lingkungan Kerja Lingkungan operasi harus memenuhi persyaratan agar tidak terjadinya KTD. Lingkungan kerja yang memenuhi persyaratan misalnya tenang, sinar, AC, sterilitas ruangan, terbebas dari interupsi seperti adanya panggilan atau telpon, ketersediaan dan pemeliharaan peralatan, kualitas dan kuantitas staf serta beban kerja staf. b. Tim Bedah Tim bedah harus mempunyai keterampilan, pengalaman kerja dan komunikasi verbal dan tertulis sesama anggota tim. Tim bedah harus mempunyai kondisi fisik dan psikologis yang baik (tidak lelah, stres) sehingga kejadian komplikasi atau kejadian tidak diinginkan (KTD) tidak terjadi.c. Proses dan Prosedur Rangkaian tindakan pembedahan merupakan hal yang sangat penting. Untuk mencegah terjadinya kejadian tidak diinginkan (KTD) pada prosedur dan proses pembedahan harus dilakukan verifikasi checklist tempat operasi, prosedur perhitungan instrumen operasi (kasa, gunting), adanya pedoman praktek klinis yang evidence-based, penilaian operatif dan standarisasi prosedur anestesi dan bedah d. Individu Individu yang bertugas pada proses pembedahan adalah individu yang memiliki pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan dan keterampilan seorang petugas bedah sangat penting untuk mencegah adanya komplikasi dan kematian pada pasien. Petugas bedah harus sehat fisik dan mental, bersertifikasi, lisensi dan terakreditasi.

2. Keselamatan Pasien Operasia. Pengertian Keselamatan Pasien Operasi Menurut Cahyono (2008), patient safety (keselamatan pasien) secara sederhana dapat diartikan sebagai pemberian layanan yang tidak mencederai atau merugikan pasien. Selanjutnya, Pasal 1 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/Menkes/Per/ VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit menyebutkan bahwa keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkantimbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Pasal 7 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit menyebutkan bahwa setiap rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien, yang meliputi: (1) hak pasien; (2) mendidik pasien dan keluarga; (3) keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan; (4) penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pada pasien; (5) peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien; (6) mendidik staf tentang keselamatan pasien; (7) komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasienSelanjutnya Pasal 8 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit menyebutkan bahwa setiap rumah sakit wajib mengupayakan pemenuhan sasaran keselamatan pasien yang meliputi 6 sasaran, yaitu: (1) ketepatan identifikasi pasien; (2) peningkatan komunikasi yang efektif; (3) peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai; (4) kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi; (5) pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; dan (6) pengurangan risiko pasien jatuh. Berkaitan dengan keselamatan pasien operasi, Cahyono (2008) menyebutkan bahwa keselamatan pasien operasi merupakan pemberian layanan pembedahan yang aman dan berkualitas pada pasien di ruang operasi dengan tidak mencederai atau merugikan pasien.

3. Waktu dan Cara Pelaksanaan Keselamatan Pasien Operasi Telah dipaparkan sebelumnya bahwa keselamatan pasien operasi merupakan pemberian layanan pembedahan yang aman dan berkualitas pada pasien di ruang operasi dengan tidak mencederai atau merugikan pasien. Dalam hal pembedahan dilakukan oleh tim profesional yang terdiri dari dokter bedah, dokter anestesi, perawat, dan tenaga lainnnya yang diperlukan. Tim bedah harus konsisten melakukan pembedahan dengan baik mulai dari the briefing phase, the time out phase, the debriefing phase sehingga dapat meminimalkan setiap risiko yang tidak diinginkan.Keselamatan pasien operasi dilakukan melalui 3 tahap, masingmasing sesuai dengan alur waktu yaitu sebelum induksi anestesi (sign in), sebelum insisi kulit (time out) dan sebelum mengeluarkan pasien dari ruang operasi (sign out). a) Pada fase sign in sebelum induksi anestesi dilakukan pemeriksaan apakah identitas pasien telah dikonfirmasi, prosedur dan sisi operasi sudah benar, sisi yang akan dioperasi telah ditandai, persetujuan untuk operasi telah diberikan, oksimeter pulse pada pasien berfungsi. Selain itu dilakukan konfirmasi faktor resiko pasien, apakah pasien ada risiko kehilangan darah, kesulitan jalan nafas, reaksi alergi, dan sebagainyab) Pada fase time out setiap anggota tim operasi memperkenalkan diri dan peran masing-masing. Tim operasi memastikan bahwa semua orang di ruang operasi saling kenal. Sebelum melakukan sayatan pertama pada kulit tim mengkonfirmasi dengan suara yang keras mereka melakukan operasi yang benar, pada pasien yang benar. Mereka juga mengkonfirmasi bahwa antibiotik profilaksis telah diberikan dalam 60 menit sebelumnya. c) Pada fase sign out tim bedah akan meninjau operasi yang telah dilakukan. Dilakukan pengecekan kelengkapan spons, penghitungan instrumen, pemberian label pada spesimen, kerusakan alat atau masalah lain yang perlu ditangani. Langkah akhir yang dilakukan tim bedah adalah rencana kunci dan memusatkan perhatian pada manajemen post operasi serta pemulihan sebelum memindahkan pasien dari kamar operasi (Surgery & Lives, 2008)

4. Surgical Patient Safety Checklista. Pengertian Surgical Safety Checklist Surgical Safety Checklist adalah sebuah daftar periksa untuk memberikan pembedahan yang aman dan berkualitas pada pasien. Surgical Safety Checklist merupakan alat komunikasi untuk keselamatan pasien yang digunakan oleh tim profesional di ruang operasi (Safety & Compliance, 2012) b. Manfaat Surgical Safety Checklist 1) Mengurangi Kejadian yang tidak diharapkan (KTD)Surgical Safety Checklist disusun untuk membantu tim bedah untuk mengurangi angka kejadian yang tidak diharapkan (KTD). Banyaknya kejadian tidak diinginkan (KTD) yang terjadi akibat pembedahan mengakibatkan WHO membuat program surgical safety checklist untuk mengurangi kejadian tidak diinginkan (KTD). Dalam praktiknya surgical safety checklist bermanfaat untuk mengurangi angka kematian dan komplikasi, beberapa penelitian menunjukkan angka kematian dan komplikasi berkurang setelah digunakan surgical safety checklist. Penelitian Haynes menunjukkan angka kematian berkurang dari 1,5% menjadi 0,8% dan angka komplikasi berkurang dari 11% menjadi 7,0% (Haynes, et al. 2009). Penelitian Latonsky menghasilkan hal yang serupa bahwa jika Surgical Safety Checklist dilaksanakan secara konsisten maka angka kematian mengalami penurunan dari 1,5% menjadi 0,8% dan angka komplikasi turun dari 11% menjadi 7% (Latonsky, et al., 2010). 2) Menurunkan surgical site infection dan mengurangi risiko kehilangan darah lebih dari 500 ml. Penelitian Weiser menunjukkan angka infeksi luka operasi (ILO) mengalami penurunan setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan SSCL. Angka ILO turun dari 11,2% menjadi 6,6% dan risiko kehilangan darah lebih dari 500 ml turun dari 20,2% menjadi 13,2% (Weizer, et al. 2008). 3) Menurunkan proporsi pasien yang tidak menerima antibotik sampai insisi kulitVries pada penelitian tentang a Surgical Patient Safety System menghasilkan penerapan Surgical Patient Safety System pra operasi menghasilkan waktu yang lebih lama dari 23,9-29,9 menjadi 32,9 menit, akan tetapi jumlah pasien yang tidak menerimaantibiotik sampai insisi kulit menurun sebesar 6% (Depkes RI, 2006).4) Fungsi yang paling umum adalah menyediakan informasi yang detail mengenai kasus yang sedang dikerjakan, korfimasi detail, penyuaraan fokus diskusi dan kemudian pembentukan tim (Depkes RI, 2006). 5) Penggunaan checklist kertas merupakan salah satu solusi karena checklist kertas dapat disediakan dengan cepat dan membutuhkan biaya sedikit, selain itu checklist kertas juga dapat disesuaikan ukuran dan bentuknya sesuai dengan kebutuhan serta tidak memerlukan penguasaan teknologi yang tinggi untuk mengisinya (Depkes RI, 2008).

c. Implementasi Surgical Safety Checklist Surgical safety checklist di kamar operasi digunakan melalui 3 tahap, masing-masing sesuai dengan alur waktu yaitu sebelum induksi anestesi (sign in). Sebelum insisi kulit (time out) dan sebelum mengeluarkan pasien dari ruang operasi (sign out) (Haynes, et al. 2009). Implementasi SurgIcal Safaty Checklist memerlukn seorang koordinator yang bertanggung jawab untuk memeriksa checklis. Koordinator biasanya seorang perawat, dokter atau profesional kesehatan lainnya yang terlibat dalam operasi. Surgical Safety Checklist dibagi tiga tahap yaitu sebelum induksi anestesi (Sign In), periode setelah induksi dan sebelum bedah sayatan (Time Out), serta periode selama atau segera setelah penutupan luka sebelum mengeluarkan pasien dari kamar operasi (Sign Out). Pada setiap fase, koordinator checklist harus diizinkan untuk mengkonfirmasi bahwa tim telah menyelesaikan tugasnya sebelum melakukan kegiatan lebih lanjut Fase Sign In sebelum induksi anestesi koordinator secara verbal memeriksa apakah identitas pasien delah dikonfirmasi, prosedur dan sisi operasi sudah benar, sisi yang akan dioperasi telah ditandai, persetujuan untuk operasi telah diberikan oksimeter pulse pada pasien berfungsi. Koordinator dengan profesional anestesi mengkonfirmasi resiko pasien apakah pasien ada risiko kehilangan darah, kesulitan jalan nafas, reaksi alergi. Fase Time Out setiap anggota tim operasi memperkenalkan diri dan peran masing-masing. Tim operasi memastikan bahwa semua orang di ruang operasi saling kenal. Sebelum melakukan sayatan pertama pada kulit tim mengkonfirmasi dengan suara yang keras mereka melakukan operasi yang benar, pada pasien yang benar. Mereka juga mengkonfirmasi bahwa antibiotik profilaksis telah diberikan dalam 60 menit sebelumnya. Fase Sign Out tim bedah akan meninjau operasi yang telah dilakukan. Dilakukan pengecekan kelengkapan spons, penghitungan instrumen, pemberian label pada spesimen, kerusakan alat atau masalah lain yang perlu ditangani. Langkah akhir yang dilakukan tim bedah adalah rencana kunci dan memusatkan perhatian pada manajemen post operasi serta pemulihan sebelum memindahkan pasien dari kamar operasi (Surgery & Lives, 2008).

1) Sebelum induksi anestesi (Sign In) Perawat melakukan sign in di ruang serah terima sebelum pasien masuk kamar operasi. Langkah-langkah Surgical Safety Checklist sebagai berikut:a. Perawat mengkonfirmasi kepada pasien mengenai identitas, sisi yang akan dioperasi, prosedur dan persetujuan tindakan di ruang serah terima instalasi. Setelah konfirmasi lengkap maka pasien masuk ruang operasi untuk konfirmasi tahapan berikutnya. Langkah ini sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya operasi pada pasien yang salah, sisi yang salah dan prosedur. b. Sisi yang akan dioperasi sudah ditandai Pada item pemberian sisi pada pasien yang akan dioperasi koordinator checklist harus mengkonfirmasikan bahwa ahli bedah melakukan operasi telah menandai sisi yang akan dilakukan pembedahan. c. Obat dan mesin anestesi telah diperiksa secara lengkap Koordinator meminta dokter anestesi memeriksa peralatan anestesi, sistem pernafasan (oksigen dan inhalansi) apakah berfungsi dengan baik serta memeriksa ketersediaan obat sebelum melakukan induksi anestesi. d. Pulse oksimetri pada pasien berfungsi Koordinator checklist menegaskan sebelum induksi anestesi bahwa oksimeter pulse telah dipasang pada pasien dan berfungsi dengan baik. Bila dimungkinkan sebuah sistem suara digunakan untuk mengingatkan tim bedah tentang denyut nadi dan saturasi oksigen oksimetri. Pulse oksimetri direkomendasikan oleh WHO sebagai komponen penting dalam pemberian anesetesi.e. Apakah pasien memiliki alergi Koordinator checklist menanyakan 2 pertanyaan pada anestesi profesional. Pertanyaan pertama koordinator checklist menanyakan apakah pasien mengalami alergi yang telah diketahui anestesi, kemudian sebutkan jenis alerginya, hal ini dilakukan untuk mengkonfirmasi bahwa anestesi mengetahui adanya alergi yang akan menimbulkan risiko pada pasien. Jika koordinator mengetahui bahwa anestesi tidak tahu ada alergi maka informasi ini harus dikomunikasi. f. Apakah pasien memiliki risiko aspirasi Dokter anestesi akan menulis kesulitan jalan nafas pada status sehingga pada tahapan Sign In tim bedah dapat mengetahuinya dan mengantisipasi pemakaian jenis anestesi yang digunakan. Risiko aspirasi divevaluasi sebagai bagian dari penilaian jalan nafas. Jika pasien memiliki gejala refluks aktif atau perut penuh, dokter anestesi harus mempersiapkan untuk kemungkinan aspirasi. Risiko ini dapat dikurangi dengan memodifikasi rencana anestesi, misalnya menggunakan teknik induksi cepat dan dengan bantuan asisten memberikan tekanan krikoid selama induksi untuk mengantisipasi risiko aspirasi pasien dipuasakan 6 jam sebelum operasi. g. Apakah pasien memiliki risiko kehiliangan darah lebih dari 500 ml? Kehilangan darah merupakan salah satu bahaya yang paling umu dan penting bagi pasien. Syok hipovelemik meningkat ketika darah mengalami kekurangan lebih dari 500 ml (7 mil/ kg pada anak). Pasien yang mempunyai risiko kehilangan darah lebih dari 500 ml dipersiapkan darah sehari sebelum dilakukan operasi. Dokter anestesi akan mempersiapkan infus 2 jalur atau kateter vena sentral dan tim harus mengkonfirmasikan ketersediaan darah untuk resusitasi. Untuk meningkatkan keamanan kehilangan darah harus ditinjau kembali oleh dokter bedah pada waktu time out.

2) Sebelum Insisi Kulit (Time Out) Tindakan hening sejenak dengan melakukan doa bersama dilakukan semua anggota tim bedah sebelum membuat insisi. a. Konfirmasi identitas tim bedah Konfirmasi tim bedah dengan cara tim bedah memperkenalkan diri dan peranannya masing-masing karena anggota tim operasi sering berubah. b. Dokter, anetesi dan perawat mengkonfirmasi secara lisan pasien, sisi operasi dan prosedur pembedahan. Sebelum melakukan tindakan operasi, operator memastikan identitas pasien. Secara lisan anggota tim mengkonfirmasi nama pasien, sisi operasi, telah menandai sisi yang di operasi. Sebagai contoh, perawat secara lisan mari kita Time Out dan kemudian melanjutkan apakah semua orang setuju bahwa ini adalah X pasien, mengalami Hernia Inguinal kanan. Jika pasien tidak dibius maka pasien dapat mengkonfirmasi hal yang sama. Hal ini dilakukan untuk memastikan tim bedah tidak melakukan salah sisi pada pasien.c. Antisipasi peristiwa kritis Komponen yang penting dalam operasi adalah mengantisipasi keadaan yang membahayakan, komunikasi tim yang efektif, kerja tim yang efisiensi dan pencegahan komplikasi. d. Dokter review: apa langkah kritis, durasi operasi dan kehilangan darah diantisipasi? Diskusi langkah-langkah kritis yang dilakukan untuk meminimalkan risiko pembedahan. Semua anggota tim mendapat informasi dari dokter. Risiko kehilangan darah yang cepat, cidera atau morbiditas untuk meninjau langkah-langkah yang memrukan peralatan khusus. Sebelum dilakukan operasi pasien dan anggota keluarga diberitahukan risiko tindakan dan kemungkinan perubahan prosedur tindakan. e. Anaesthesia team reviews: are there any patient-specific concerns? Anggota tim anestesi memperhatikan penyakit penyerta pasien. Tim anestesi harus memperhatikan rencana tindakan untuk resusitasi, penggunaan darah pada pasien yang berisiko kehilangan darah besar, ketidakstabilan hemodinamik atau lainnya. f. Nursing team reviews: has sterility (including indicator results) been confirmed? Are there equipment issues oe\r any concerns? Perawat menanyakan kepada dokter bedah mengenai alat-alat yang diperlukan sehingga perawat memastikan istrumen di kamar operasi telah steril dan lengkap.g. Apakah antibiotik profilaksis telah diberikan 60 menit terakhir. Anggota tim yang bertanggung jawab pada pemberian antibiotik profilaksis adalah dokter anestesi (WHO, 2009). Jika antibiotik diberikan lebih dari 60 menint sebelumnya maka tim bedah harus mempertimbangkan pemberian antibiotik ulang pada pasien. h. Ahli bedah akan memastikan pemeriksaan penunjang berupa foto apakah perlu ditampilkan di kamar operasi. Dokter bedah memberi keputusan apakah foto penunjang diperlukan dalam pelaksaan operasi atau tidak. Jika foto penunjang diperlukan tapi tidak ada maka harus diperoleh.

3) Sebelum mengeluarkan pasien dari ruang operasi (Sign Out)a. Procedure Recorded Koordinator checklist mengkonfirmasi pada dokter bedah dan tim apakah prosedur atau sebagai konfirmasi kami melakukan prosedur X, benar? b. Penghitungan instrumen, jarum dan kasa Perawat instrumen memberitahukan secara lisan kepada tim mengenai kelengkapan instrumen, jika jumlah tidak tepat maka anggota tim memeriksa di lipatan kain operasi dan jika perlu memeriksa di tempat sampah. c. Jika ada spesimen harus dilakukan pelabelan Pelabelan sangat penting dilakukan, hal ini dilakukan untuk diagnostik spesimen patologi. Perawat sirkuler dan dokter bedah membuat label dengan cara membuat label pada spesimen yang diperoleh selama prosedur operasi dengan membuat pengantar patologi dan menggambarkan bentuk dan ciri specimend. Are there any equipment problems to be addressed? Apakah ada masalah peralatan di kamar operasi yang bersifat universal sehingga koordinator harus mengidentifikasi peralatan yang bermasalah sehingga dapat ditangani. e. Surgeon, Anaesthesia Professional And Nurse Review The Key Concerns For Recovery And Management Of This Patient Pada tahap akhir, sebelum mengeluarkan pasien dari ruang operasi. Dokter bedah, anestesi dan perawat harus memperhatikan rencana pemulihan pasca operasi. Sebelum pasien dikeluarkan dari ruang operasi anggota tim melakukan pemeriksaan keselamatan, saat pasien dipindahkan dari ruang operasi maka anggota tim bedah memberikan informasi tentang pasien kepada perawat yang bertanggung jawab di ruang pemulihan. Tujuan dari langkah ini adalah efisiensi dan tepat trasfer informasi penting untuk seluruh tim (Surgery & Lives, 2008).

BAB IIIANALISIS JURNAL

A. IdentitasJurnal

Judul : Systematic review and meta-analysis of the effect of the World Health Organization surgical safety checklist on postoperative complications Penulis : Rose Seavey, Seavey Healthcare Consulting, LLC, Arvada, CO Penerbit: British Journal Surgery Society Ltd Tahun Terbit: 2014

B. LATAR BELAKANGSecara Keseluruhan, kejadian buruk di rumah sakit terjadi sekitar 10%, dimana dari kejadian tersebut terkait dengan proses operasi. Dengan tujuan meningkatkan keselamatan pasien saat operasi, sebuah checklist telah dikembangkan oleh World Health Organisasi (WHO), mirip dengan yang digunakan dalam penerbangan, aeronautika dan produk manufaktur yang disebut dengan Surgical Safety Checklist (SSC). Surgical Safety Checklist (SSC) terdiri dari 19 item dan digunakan di tiga perioperatif kritis saat: induksi, insisi dan sebelum pasien meninggalkan ruang operasi. Item tersebut mengandung konfirmasi lisan oleh tim bedah dengan melengkapi beberapa langkah kunci untuk memastikan pengiriman yang aman pada anestesi, profilaksis. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk menilai efektivitas dari WHO SSC. Sasaran pertama adalah untuk menilai efek dari SSC pada komplikasi pasca operasi dan kematian terkait dengan implementasinya, kedua adalah untuk menilai hubungan antara hasil klinis dan kepatuhan terhadap SSC.C. Metodea) Sumber dataPencarian data dilakukan melalui The Cochrane Library, MEDLINE, Embase and Cumulative Index to Nursing and Allied Health Literature (CINAHL) dilakukan secara sistematis untuk semua publikasi sampai Februari 2013. Pencarian menggunakan istilah pencarian sesuai The following medical subject heading (MeSH) dan menggunakan kata kunci baik kata kunci tunggal maupun dalam kombinasi : 'pascaoperasi complication '[MESH],' Checklist '[MESH],' postoperative complication, prevention and control'[MESH]. Strategi pencarian MEDLINE (Lampiran S1, pendukung informasi) yang disesuaikan dengan kamus database lain. Ini didampingi oleh permintaan-checklist tertentu dengan menggunakan kata kunci berikut: prevention and control [MESH], Risk Management [MESH], 'Checklist' [MESH]. Selain itu, bibliografi artikel juga dicari untuk artikel yang relevan. Selama penyusunan naskah, strategi MEDLINE adalah berkonsultasi setiap minggu untuk mengidentifikasi potensi publikasi yang relevan terbaru. Penelitian yang belum jelas atau abu-abu tidak dianggap.

b) Pemilihan PenelitianKriteria Inklusi : Penelitian menggunakan bahasa inggris . Desain penelitian yang digunakan adalah:- randomized clinical trials, - non-randomized controlled trials, - controlled beforeafter penelitianes, interrupted time series (ITS) - repeated-measures penelitianes.. penelitian kuantitatif yang berhubungan dengan dampak dari WHO SSC pada komplikasi pasca operasi, termasuk kematian pasca operasi, Kriteria Ekslusi : Penelitian dieklsusikan jika yang diteliti hanya masalah tertentu atau komplikasi tertentu saja, seperti yang hanya berfokus pada efektivitas site marking pada operasi.c) Ekstraksi dataSetelah melakukan penghapusan duplikat, pilihan pertama referensi dibuat berdasarkan judul dan abstrak. Jurnal yang terpilih untuk direview teks secara lengkap discreening sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Dua rewiewer independen melakukan ekstraksi data dan penilaian kritis termasuk penelitian, jika ada perbedaan pendapat dapat diselesaikan oleh reviewer ketiga. Tempat penelitian, desain, pemilihan dan bias dari pengukuran, dasar dari pengukuran hasil dan karakteristik, risiko kontaminasi, analisis data, hasil pelaporan selektif, risiko lainnya dari bias, dan isu-isu yang berkaitan dengan generalisasi dan keberlanjutan selanjutnya diekstraksi dan dicatat. Pengkajian untuk risiko bias dan penilaian kritis dilakukan menggunakan the Cochrane Collaborations Effective Practice and Organisation of Care Group guidelines

d) Sintesis data dan analisisData dianalisis dengan menggunakan R (bahasa dan lingkungan untuk komputasi statistik). Semua melaporkan nilai P dari dua sisi; P