Lapres Tekdik Fix

of 66 /66
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MATAPRAKTIKUM TEKNIK DIGITAL Oleh: NAMA MAHASISWA NIM M. Aji Dwi Prasetiyo 111910201098

Embed Size (px)

Transcript of Lapres Tekdik Fix

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MATAPRAKTIKUM TEKNIK DIGITAL

Oleh:

NAMA MAHASISWA M. Aji Dwi Prasetiyo

NIM 111910201098

LABORATORIUM DASAR DAN OPTIK PROGRAM STUDI STRATA 1 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER TAHUN 2012

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MATAPRAKTIKUM TEKNIK DIGITAL

Diajukan sebagai prasyarat telah melaksanakan menempuh Matapraktikum Teknik Digital

LABORATORIUM DASAR DAN OPTIK PROGRAM STUDI STRATA 1 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER

Jember,28 Desember 2012 Dosen Pembina Matapraktikum PLP Laboratorium Dasar dan Optik,

Ike Fibriani,ST. MT NRP. 760011391

Agus Irwan Karyawan, A.Md,ST. NIP. 19770824 199903 1 002

LEMBAR ASISTENSI

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MATAPRAKTIKUM TEKNIK DIGITAL

Diajukan sebagai prasyarat telah melaksanakan menempuh Matapraktikum Teknik Digital

LABORATORIUM DASAR DAN OPTIK PROGRAM STUDI STRATA 1 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER

Jember, 28 Desember 2012 Asisten 1. Akhmad Akbar Yudha T. NIM. 091910201011 2. Zheni Akhbar NIM. 101910201013 3. Neny Agustin NIM. 091910201093 Tanda Tangan Nilai

KATA PENGANTAR Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan laporan Praktikum Teknik Digital. Laporan ini disusun sebagai laporan atas praktikum Teknik Digital yang telah penulis lakukan. Praktikum Teknik Digital merupakan landasan berfikir dari orang elektro, meskipun pada kenyataannya tidak hanya diperuntukkan untuk orang elektro saja. Laporan Resmi ini besiri beberapa laporan praktikum teknik digital yang terdiri dari: Gerbang Logika; Seven Segment; Decoder; Full Adder; Full Adder with Carry; dan Counter. Laporan ini merupakan langkah pertama dari sekian ribu langkah menuju kesempurnaan. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Mudah-mudahan, laporan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Jember, 24 Desember 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

1. Halaman Sampul 2. Halaman Judul 3. Lembar Pengesahan 4. Lembar Asistensi 5. Kata Pengantar 6. Daftar Isi 7. Laporan a. Percobaan 1 Gerbang Logika b. Percobaan 2 Seven Segment c. Percobaan 3 Decoder d. Percobaan 4 Full Adder Without Carry e. Percobaan 5 Full Adder With Carry f. Percobaan 6 Counter 8. Daftar Pustaka

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tujuan Mempelajari fungsi dan cara kerja dari gerbang dasar logika Mengetahui karakteristik gerbang dasar logika 1.2. Latar belakang Pada zaman modern saat ini elektronika telah sampai pada saat yang memungkinkan seseorang dapat membangun suatu peralatan hanya dengan menghubungkan blokblok IC. Demikian juga pada peralatan modern yang berupa digital. Bentuk dasar blok dari setiap rangkaian digital adalah suatu gerbang logika. Gerbang logika atau gerbang logik adalah suatu entitas dalam elektronika dan matematika Boolean yang mengubah satu atau beberapa masukan logik menjadi sebuah sinyal keluaran logik. Gerbang logika akan kita gunakan untuk operasi bilangan biner, sehingga timbul istilah gerbang logika biner. Setiap orang yang bekerja dibidang elektronika digital memahami dan menggunkan gerbang logika biner setiap hari. Ingat, gerbang logika merupakan blok bangunan untuk komputer yang paling rumit sekalipun. Gerbang logika dapat tersusun dari saklar sederhana, relay, transistor, diode atau IC. Oleh menggunaannya yang sangat luas, dan harganya yang rendah, IC akan kita gunakan untuk menyusun rangkaian digital.

BAB II LANDASAR TEORI 2.1 Landasan Teori Dalam suatu sistem digital seperti pada komputer, atau sistem pengolahan data, pengendalian, atau sistem komunikasi digital hanya memiliki beberapa operasi dasar saja. Tentunya operasi tersebut diulang-ulang dalam jumlah yang besar. Operasi dasar yang dimaksud adalah rangkaian AND, OR , NOT, NOR, XOR, XNOR, NAND, dan NOR. Operasi dasar tersebut disebut gerbang (gate) atau rangkaian logika, karena rangkaianrangkaian ini digunakan untuk memenuhi hubungan-hubungan logika. Pada bagian ini akan dipraktikumkan macam-macam hubungan logika dengan menggunakan IC (Integrating Circuit) yang sudah tersedia dipasaran. Setiap rangkaian logika memiliki satu atau lebih jalan masuk (input circuit) dan hanya satu jalan keluar (output circuit). Kemudian ada dua taraf tegangan, yaitu taraf rendah (low level) yang biasa dinamai L dan taraf tinggi (high level) yang biasa dinamai H. Taraf rendah dinyatakan dengan 0; sedangkan taraf tinggi dinyatakan dengan 1. Tabel kebenaran gerbang logika:

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Gambar Rangkaian

Gerbang AND

Gerbang OR

Gerbang NOT

Gerbang NAND

Gerbang NOR

Gerbang X OR

Gerbang X NOR 3.2 Alat dan Bahan Trainer Kit (Gerbang logika, LED, togel switch). HD74LS32P, HD74LS02P, HD74LS08P, HD74LS00P, 52A6K1N dan P0248SB Power Supply

3.3 Prosedur Praktikum Memberi masukan nilai biner pada tiap gerbang AND, OR, NAND, NOR, NOT, XNOR, dan XOR. Mencatat output led hidup sebagai logika 1 dan mati logika 0. Membahas dan membuat kesimpulan.

BAB IV ANALISA DATA 4.1 Data Percobaan 4.1.1 Tabel Kebenaran Gerbang AND A 0 0 1 1 4.1.2 Tabel Kebenaran Gerbang OR A 0 0 1 1 B 0 1 0 1 Y (LED) 0 1 1 1 B 0 1 0 1 Y (LED) 0 0 0 1

4.1.3 Tabel Kebenaran Gerbang NAND A 0 0 1 1 4.1.4 Tabel Kebenaran Gerbang NOR A 0 0 1 1 B 0 1 0 1 X (LED) 1 0 0 0 B 0 1 0 1 X (LED) 1 1 1 0

4.1.5 Tabel Kebenaran Gerbang X-OR A 0 0 1 1 B 0 1 0 1 X (LED) 0 1 1 0

4.1.6 Tabel Kebenaran Gerbang X NOR A B X (LED)

0 0 1 1 Keterangan : 1 = LED menyala 0 = LED mati

0 1 0 1

1 0 0 1

4.2 Analisis Pembahasan Praktikum pertama teknik digital ini yaitu membahas tentang gerbang logika yang terdiri dari 7 gerbang logika dasar meliputi AND, OR, NOT, NAND, NOR, XOR, dan XNOR. Setiap gerbang tersebut memiliki karakteristik masing-masing, pada gerbang dasar ada yang memiliki input satu atau lebih, sedangkan pada outputnya setiap gerbang logika hanya memiliki satu output saja. Output-outputnya bisa bernilai HIGH (1) atau LOW (0) tergantung dari level-level digital pada terminal inputnya. Gerbang logika dasar yang memiliki hanya satu pin input adalah gerbang NOT. Untuk IC yang digunakan adalah jenis IC OR (HD74LS32P), NOR (HD74LS02P), AND (HD74LS08P), NAND (HD74LS00P), X-OR (52A6K1N) dan X-NOR (P0248SB), di mana masing-masing memiliki 14 terminal (port), dengan input tegangan (Vcc) berada pada port 14 dan ground pada port 7. Berikut adalah contoh gambar IC untuk gerbang AND.

Pada gerbang logika AND, jika kedua input A dan B bernilai logika satu (high) maka keadaan outputnya akan bernilai satu (high) juga, dan jika salah satu input dari gerbang AND atau keduanya terdapat logika nol (low) maka keadaan outputnya akan bernilai nol (low) juga. Gerbang AND berfungsi sebagai pengali nilai pada inputnya misalnya jika input memiliki nilai 1 dan 0 (1 . 0) maka output akan berlogika 0, jika nilai inputnya 1 semua (1 . 1) maka nilai output akan berlogika 1

Gerbang OR adalah gerbang logika yang memiliki karakteristik kebalikan dari AND yaitu jika salah satu input atau keduanya bernilai satu maka nilai outputnya akan bernilai satu juga kecuali jika kedua input gerbang logika OR bernilai nol maka nilai outputnya bernilai nol. Gerbang OR berfungsi sebagai penjumlah nilai pada inputnya

misalnya jika input memiliki nilai 1 dan 0 (1+0) maka output akan berlogika 1, atau jika nilai inputnya 0 semua (0+0) maka nilai output akan berlogka 0.

Dari gerbang-gerbang logika yang digunakan pada praktikum kali ini hanya gerbang logika NOT yang memiliki satu kaki input, karakteristik dari gerbang logika NOT sendiri adalah membalikkan nilai input, jadi ketika input bernilai nol maka output akan bernilai satu begitu pula sebaliknya ketika nilai input bernilai satu maka output akan bernilai nol. Difungsikan sebagai pembalik logika.

Gerbang NAND merupakan inversi (kebalikan) dari gerbang AND. Bisa dikatakan bahwa gerbang NAND adalah gabungan dari gerbanng AND dan NOT dimana output pada gerbang AND dihubungkan pada kaki atau pin input pada gerbang NOT, sehingga nilai output pada gerbang logika NAND akan satu jika salah satu atau keduanya memiliki nilai nol, dan jika kedua kaki input pada gerbang ini memiliki nilai satu maka output akan bernilai nol.

Untuk gerbang NOR adalah gerbang yang memiliki sifat sama dengan gerbang OR yang pin atau kaki outputnya dihubungkan dengan gerbang logika NOT, dapat diartikan bahwa nilai output pada gerbang ini adalah kebalikan dari keadaan output yang dimiliki gerbang OR, jika salah satu atau kedua kaki atau pin dari gerbang NOR bernilai satu maka keadaan output akan bernila nol, dan jika semua kaki dari input gerbang NOR bernilai nol semua maka kaki output akan mengeluarkan logika satu.

Gerbang X-OR adalah kependekan dari Exclusive OR yaitu gerbang yang memiliki karakteristik jika nilai input pada gerbang X-OR memiliki nilai yang sama maka keadaan outputnya akan bernilai nol, begitu pula sebaliknya jika nilai berbeda terdapat pada kaki input maka keadaan outputnya akan bernilai satu.

Sedangkan untuk gerbang X-NOR adalah kebalikan dari gerbang X-OR, gerbang X-NOR adalah gerbang yang keadaan outputnya sama dengan keadaan output pada gerbang X-OR yang kaki outputnya dihubungkan dengan gerbang NOT, sehingga ketika input bernilai sama maka nilai output akan bernilai satu, dan jika keadaan input berbeda, maka keadaan output akan bernilai nol. Gerbang X-OR difungsikan sebagai pendeteksi nilai ganjil, sedangkan untuk gerbang X-NOR digunakkan untuk mendeteksi nilai genap.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Gerbang logika AND memiliki karakteristik output bernilai 1 jika semua inputnya 1 dan fungsinya sebagai pengali pada inputnya. 2. Gerbang logika OR memiliki karakteristik output bernilai 1 jika salah satu atau kedua inputnya bernilai 1 dan fungsinya sebagai penjumlah pada inputnya. 3. Gerbang logika NOT memiliki karakteristik ketika input bernilai 0 maka output akan bernilai 1 begitu pula sebaliknya ketika nilai input bernilai 1 maka output akan bernilai 0. Output NOT merupakan kebalikan dari inputnya, difungsikan sebagai pembalik logika. 4. Gerbang logika NAND memiliki karakteristik nilai output akan 1 jika salah satu atau keduanya memiliki nilai 0, dan jika kedua kaki input pada gerbang ini memiliki nilai 1 maka output akan bernilai 0. Nilai output NAND merupakan kebalikan dari gerbang AND. 5. Gerbang logika NOR memiliki karakteristik jika salah satu atau kedua kaki bernilai 1 maka output akan bernila 0, dan jika semua kaki dari input 0 semua maka kaki output akan bernilai 1. Nilai output NOR merupakan kebalikan dari gerbang OR. 6. Gerbang logika X-OR memiliki karakteristik outputnya 1 jika nilai inputnya berbeda, difungsikan sebagai pendeteksi nilai ganjil. 7. Gerbang logika X-NOR memiliki karakteristik outputnya 1 jika nilai inputnya sama. Nilai output X-NOR merupakan kebalikan dari gerbang XOR. Dan difungsikan untuk mendeteksi nilai genap.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Mahasiswa mengerti cara kerja rangkaian Seven Segment. Mahasiswa mampu menganalisis komponen Seven Segment. 1.2 Latar Belakang Seven segment display adalah sebuah rangkaian yang dapat menampilkan angkaangka desimal maupun heksadesimal. Seven segment display biasa tersusun atas 7 bagian yang setiap bagiannya merupakan LED (Light Emitting Diode) yang dapat menyala. Jika 7 bagian diode ini dinyalakan dengan aturan yang sedemikian rupa, maka ketujuh bagian tersebut dapat menampilkan sebuah angka heksadesimal. Fungsi seven segment pada suatu sistem digital biasanya digunakan untuk keperluan menampilkan bilangan, pada display seven segment misalnya pada output mikrokontroler ingin ditampilkan pada seven segment maka output pada port mikrokontoler yang berupa bilangan biner dihubungkan dengan dekoder misalnya untuk menampilkan rangkaian counter. kemudian outputnya dihubungkan dengan display seven segment. Atau pada aplikasi lainnya

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori Seven segment, lebih sedikit biasanya dikenal sebagai suatu seven-segment indikator, adalah suatu format dari alat tampilan yang suatu alternatif ke dot-matrix tampilan yang semakin kompleks. Seven-Segment adalah biasanya digunakan di dalam elektronika sebagai metoda dari mempertunjukkan umpan balik klasifikasi sistem desimal dengan operasi yang internal tentang alat. Seven segmen diatur sebagai segiempat panjang dari dua segmen yang vertikal pada masing-masing sisi dengan satu segmen yang horizontal di bagian atas dan alas. Apalagi, segmen yang ketujuh membagi dua bagian segiempat panjang secara horizontal. Secara sederhana, masing-masing LED adalah secara khas dihubungkan dengan satu terminal ke pin yang sendiri dengan diam-diam bagian luar dari paket dan LED terminal yang lain dihubungkan secara umum dengan semua lain LED di alat dan diterbitkan persis sama benar bersama pin. Pin yang bersama ini kemudian akan menyusun semua katode (terminal yang negatif) atau semua kutub positif (terminal yang positif) dari LED di alat dan demikian akan jadi yang manapun " Katode yang umum" atau " Kutub positif yang umum" tergantung dari bagaimana alat dibangun. Karenanya suatu 7 paket segmen yang lebih hanya perlu sembilan pin untuk menyajikan dan dihubungkan.

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Gambar Rangkaian

3.2 Alat dan Bahan Kit Trainer Seven Segment (LED, togel switch). IC HD74LS48P. Catu daya.

3.3 Prosedur Percobaan Menghubungkan trainer kit dengan catu daya. Memberi masukan D0D3, 1 atau 0. Memperhatikan dan mencatat output desimal. Membuat kesimpulan dari hasil percobaan yang telah dilakukan.

BAB IV ANALISA DATA 4.1 Data Percobaan Input D3 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 D2 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 D1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 D0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 Output 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

4.2 Analisa Pembahasan Pada praktikum ke-2 ini kami melakukan percobaan tentang seven segment, yaitu suatu format dari alat tampilan yang suatu alternatif ke dot-matrix tampilan yang semakin kompleks. Seven Segment biasanya digunakan di dalam elektronika sebagai metoda dari mempertunjukkan umpan balik klasifikasi sistim desimal dengan operasi yang internal tentang alat. 7 segmen diatur sebagai segiempat panjang dari dua segmen yang vertikal pada masing-masing sisi dengan satu segmen yang horizontal di bagian atas dan alas. Komponen seven segment terdiri dari tujuh bagian, alasan itulah yang menyebabkan komponen ini dinamakan seven segment, ada dua jenis seven segment yaitu seven segment common anoda dan common katoda. Ada sepuluh kaki yang dimiliki komponen seven segment delapan diantaranya digunakan untuk menentukan bentuk dari tampilan seven segment, dan dua diantaranya adalah digunakan untuk dihubungkan VCC atau Ground tergantung dari jenis seven segment itu sendiri, jika menggunakan seven segment common anoda maka dua kaki tersebut dihubungkan dengan VCC, begitu pula jika seven segment yang digunakan adalah seven segment common katoda maka dua kaki tersebut dihubungkan dengan ground dan kaki trakhir diginakan untuk menghidupkan atau mematikan titik pada seven segment. Komponen seven segment hanya dapat menampilkan angka dari 0 - 9 dan huruf dari A F. IC drivernya komponen utamanya adalah IC type 7448 atau IC type 7447, tergantung dari jenis seven segment yang digunakan, IC tersebut memiliki empat input dan tujuh output, empat nilai input pada IC digunakan untuk membaca nilai BCD yang terdapat pada rangkaian sebelum komponen IC driver peraga seven segmen tersebut, dan tujuh pin output digunakan untuk mengendalikan komponen seven segment, karena seven segment mempunyai tujuh buah kaki input data untuk dapat menyalakan segmen yang dimiliki komponen tersebut, dan untuk contoh data dapat diambil nilai 1000, maka jika didesimalkan maka akan bernilai delapan, karena nilai logika satu menempati bit tertinggi (D3), sedangkan pada komponen seven segment untuk membentuk angka delapan harus menyalakan seluruh bagian dari seven segment, sedangkan untuk membentuk angka nol maka seluruh bagian seven segment dinyalakan, kecuali bagian pada huruf g.

Pada data praktikum 1, ketika data inputan yang merupakan bilangan biner maka keluaran dari seven segment membentuk angka NOL, hal ini dikarenakan nilai biner pertama dari inputan bernilai 0x20 +0x21 +0x22 +0x23 =0 dan pada percobaan kedua jika diberi inputan 1000 maka nilai yang keluar dari seven segment adalah angka 1, karena nilai dari biner inputan 1x20 +0x21 +0x22 +0x23 =1 adalah satu. Pada praktikum kali ini kita dapat mengetahui bahwa dalam seven segment masukan berupa bilangan biner dan diubah dalam bentuk bilangan heksadesimal. Misalnya kita memberi masukan 0101 dan cara mengubah kedalam bentuk heksadesimal adalah: 0 23 1 22 0 21 1 20

Pada 22 dan 20 di input menunjukkan angka 1 sehingga yang dihitung hanya 2 2 dan 20, sehingga pada seven segment menunjukkan angka 5. Hal tersebut berlaku untuk berapapun masukannya. Nilai keluaran merupakan heksadesimal yang mana nilai dai heksadesimal adalah 1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,F. Sehingga nilai maksimal biner akan dikeluarkan pada display dengan huruf F.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Komponen seven segment terdiri dari tujuh bagian, setiap bagian digunakan untuk menentukan bentuk tampilan dari seven segment. 2. Komponen seven segment hanya bisa menampilkan angka 0 9 dan huruf dari A F. 3. Output akan menampilkan angka / huruf berdasarkan input binernya. 4. Seven segmen menampilkan bilangan desimal sesuai input binernya. 5. Nilai decimal yang didapatkan dari nilai input akan menentukan angka atau huruf yang tampil pada komponen seven segment.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Mahasiswa mengerti cara kerja rangkaian Decoder. Mahasiswa mampu menganalisis komponen-komponen Decoder. 1.2. Latar Belakang Sebagai mahasiswa teknik elektro sangatlah wajib untuk memahami sebuah teknologi digital yag didalamya terdapat materi tentang rangkaian encoder dan decoder. Encoder merupakan rangkaian yang berfungsi untuk mengubah kode-kode tertentu menjadi kode biner sedangkan Decoder merupakan rangkaian yang berfungsi untuk mengubah kode biner menjadi kode-kode tertentu. Karena pentingnya materi teknik digital bagi mahasiswa elektro,maka kali ini kami melakukan praktikum tentang rangkian Encoder dan Decoder yang merupakan dasar dari teknik digital.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori Dalam suatu sistem digital instruksi-instruksi maupun bilangan-bilangan dikirim dengan deretan pulsa atau tingkatan-tingkatan biner. Misalnya jika kita menyediakan karakter 4 bit untuk pengiriman instruksi maka jumlah instruksi berbeda yang dapat dibuat adalah 2 4=16. Informasi ini diberi kode atau sandi biner. Dipihak lain seringkali timbul kebutuhan akan suatu saklar multi posisi yang dapat dioperasikan sesuai dengan kode tersebut. Dengan kata lain untuk masing-masing dari 16 saluran hanya 1 saluran yang dieksitasi pada setiap saat. Proses untuk identifikasi suatu kode tertentu ini disebut pendekodean atau Decoding. Sistem BCD (Binary Code Decimal) menterjemahkan. Bilangan-bilangan desimal dengan menggantikan setipa digit desimal menjadi 4 bit biner. Mengingat 4 digit biner dapat dibuat 16 kombinasi, maka 10 diantaranya dapat digunakan untuk menyatakan digit decimal 0 sampai 9. Dengan ini kita memiliki pilihan kode BCD yang luas. Salah satu pilihan yang disebut kode 8421. Sebagai contoh, bilangan desimal 264 memerlukan 3 gugus yang masing-masing terdiri dari 4 bit biner yang berturut-turut dari kiri (MSB) ke kanan (LSB) sebagai berikut: 0010 0110 0100 (BCD). Pendekode (decoder) BCD ke decimal umpamakan kita ingin mendekode suatu instruksi BCD yang diungkapkan oleh suatu digit decimal 5. Opeasi ini dapat dilaksanakan dengan suatu gerbang AND 4 masukan yang dieksitasi oleh 4 bit BCD.

Perhatikan gambar , keluaran gerbang AND = 1, jika masukan BCD adalah 0101 dan sama dengan untuk instruksi masukan yang lain. Karena kode ini merupakan representasi bilangan decimal 5 maka keluaran ini dinamakan saluran atau jalur 5. Sehingga keluaran decoder ini harus dihubungkan dengan peralatan yang dapat dibaca dan dimengerti manusia.

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Gambar Rangkaian

3.2 Alat dan Bahan Trainer Kit Decoder (LED, togel switch) IC HD74LS138P Catu daya

3.3 Prosedur Percobaan Menghubungkan trainer kit dengan catu daya. Memberi masukan D0D3, 1 atau 0. Memperhatikan dan mencatat output desimal. Membuat kesimpulan.

BAB IV ANALISA DATA 4.1 Data Percobaan Input A1 0 0 1 1 A2 0 1 0 1 D0 1 0 0 0 D1 0 1 0 0 Output D2 0 0 1 0 D3 0 0 0 1

4.2 Analisa Pembahasan Pada praktikum ini kami membahas mengenai tentang decoder yang memiliki karakteristik mengubah bilangan biner ke desimal. Dalam suatu mesin digital atau suatu perangkat elektronik digital data yang di terima dan disajikan oleh mesin digital tersebut adalah berbentuk bilangan biner, sedangkan pengguna dari setiap perangkat digital atau mesin digital tidak terbiasa dengan tampilan bilangan biner yang dimengerti oleh perangkat digital tersebut, pengguna biasanya terbiasa dengan bilangan berbasis sepuluh atau yang biasa disebut bilangan desimal. Maka dari itu dari perangkat atau mesin digital diperlukan suatu rangkaian atau komponen yang berfungsi sebagai penerjemah dari informasi yang diterima oleh mesin atau perangkat digital sehingga pengguna dari perangkat atau mesin digital tersebut dapat mengerti informasi yang dikeluarkan oleh mesin atau perangkat digital tersebut. Praktikum kali ini menggunakan IC Decoder 2x4 dimana terdapat 2 inputan dan 4 outputan, dilakukan dengan memberikan masukan yang ditampilkan oleh 2 LED dan keluaran yang dihasilkan ditampilkan dengan 4 LED. Data yang diambil pada masukan pertama yaitu jika input lampu A1 dan A2 mati maka lampu D0 yang menyala. Pada masukan kedua yaitu jika input lampu A1 mati dan lampu A2 menyala maka lampu D1 yang menyala. Pada masukan ketiga yaitu jika input lampu A1 menyala dan lampu A2 mati maka lampu D2 yang menyala. Pada masukan keempat yaitu jika input lampu A1 dan A2 menyala maka lampu D3 yang menyala.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Decoder merupakan rangkaian perubah data input (biner) ke desimal. 2. Nilai outputnya sesuai dengan nilai inputnya. 3. Rangkaian decoder adalah rangkaian logika yang berfungsi sebagai pengkode ulang atau menterjemahkan kode-kode biner yang ada pada inputnya menjadi data asli pada outputnya. 4. Dari Decoder 2 to 4 diperoleh persamaan: 2-variable minterm (X'Y', X'Y, XY' , XY). 5. Nilai maksimal yang dapat diberikan pada input adalah senilai 1111 atau 15 desimal.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Mahasiswa mengerti cara kerja rangkaian Full Adder. Mahasiswa mampu menganalisis komponen-komponen Full Adder. 1.2 Latar belakang Perkembangan digitalisasi alat teknogi semakin lama semakin canggih. Segala alat untuk kehidupan sehari-hari sudah banyak yang berubah menjadi teknologi alat digital. Dipabrik-pabrik, jarang sekali ditemukan alat analog kebanyakan alat mereka sudah digital. Sebagai mahasiswa teknik elektro sangatlah wajib untuk memahami sebuah teknologi digital yag didalamya terdapat materi tentang rangkaian Full Adder. Full Adder adalah rangkaian yang berfungsi untuk menjumlahkan bilangan biner tiap-tiap bit-nya. Karena pentingnya materi teknik digital bagi mahasiswa elektro,maka kali ini kami melakukan praktikum tentang rangkian Full Adder yang merupakan dasar dari teknik digital.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori Penjumlah penuh (Full Adder) adalah rangkaian sirkuit digital atau kadangkadang berbentuk chip yang bisa dipakai untuk menghitung atau menjumlahkan pulsa atau sinyal digital yang umumnya dihasilkan dari osilator. Penghitung ini hanya bisa menghitung pulsa secara biner murni (binary counter). Dalam penghitung biner murni, perhitungan digunakan dengan cara menjumlahkan tiap bit pada bilangan biner. Rangkaian Full Adder dapat digunakan untuk menjumlahkan bilangan-bilangan biner yang lebih dari 1bit. Penjumlahan bilangan-bilangan biner sama halnya dengan penjumlahan bilangan desimal dimana hasil penjumlahan tersebut terbagi menjadi 2 bagian, yaitu SUMMARY (SUM) dan CARRY, apabila hasil penjumlahan pada suatu tingkat atau kolom melebihi nilai maksimumnya maka output CARRY akan berada pada keadaan logika 1. Sebuah Full Adder menjumlahkan dua bilangan yang telah dikonversikan menjadi bilangan-bilangan biner. Masing-masing bit pada posisi yang sama saling dijumlahkan. Full Adder sebagai penjumlah pada bit-bit selain yang terendah. Full Adder menjumlahkan dua bit input ditambah dengan nilai Carry-Out dari penjumlahan bit sebelumnya. Output dari Full Adder adalah hasil penjumlahan (Sum) dan bit kelebihannya (carry-out). Blok diagram dari sebuah full adder diberikan pada gambar di bawah.

INPU T

A Full B Adder

CBBB

CBBBO INBBB BBB

OUTPU T

Pada aplikasinya, Full Adder menggunakan gerbang logika AND, OR, dan XOR. Berikut tabel kebenaran Full Adder : INPUT A 0 1 0 1 B 0 0 1 1 OUTPUT SUM CARRY 0 0 1 0 1 0 0 1

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Gambar Rangkaian

3.2 Alat dan Bahan Trainer Kit (LED, togel switch, carry switch) IC 74LS86, 74LS08, 74LS32 Catu daya

3.3 Prosedur Praktikum Menghubungkan trainer kit dengan catu daya. Memberi masukan A0A3 dan B0B3 1 atau 0. Memperhatikan dan mencatat output dan carry out. Membuat kesimpulan

BAB IV ANALISA DATA 4.1 Data Percobaan A 0011 0010 0010 0110 1100 INPUT B 0001 0010 0011 1000 1000 OUTPUT Cin 0 0 0 0 0 SUM 0100 0100 0101 1110 0100 Cout 0 0 0 0 1

4.2 Analisa Pembahasan Pada praktikum ini kami membahas mengenai tentang full adder yang memiliki karakteristik menjumlahkan bilangan biner tiap bit-nya. Rangkaian Full Adder dapat digunakan untuk menjumlahkan bilangan-bilangan biner yang lebih dari 1bit. Penjumlahan bilangan-bilangan biner sama halnya dengan penjumlahan bilangan desimal dimana hasil penjumlahan tersebut terbagi menjadi 2 bagian, yaitu SUMMARY (SUM) dan CARRY, apabila hasil penjumlahan pada suatu tingkat atau kolom melebihi nilai maksimumnya maka output CARRY akan berada pada keadaan logika 1. Komponen atau rangkaian full adder sendiri terdiri dari gerbang AND, OR, dan XOR. IC yang digunakan biasanya tipe 74LS86 sebagai gerbang XOR, 74LS08 sebagai gerbang AND, dan 74LS32 sebagai gerbang OR. Masing-masing memiliki 4 terminal (port), yang mana inputan sumber tegangan (Vcc) berada pada port 14 dan ground pada port 7.

Untuk inputan biner yang akan dijumlahkan dan Carry in, berada pada IC 74LS86 (XOR) dan 74LS08 (AND) kemudian diteruskan dengan IC 74LS32 (OR) dengan output biner dan Carry out Input pada full adder merupakan indikator untuk bilangan biner yang dimana terdapat 2 sampai 3 input-an (A dan B) dengan Carry in jika digunakan, masing-masing input terdiri dari 4 bilangan biner (A0A3 dan B0B3), sehingga bilangan biner yang dari bilangan inputnya dapat diindikatorkan oleh LED sebanyak 8 buah. Selain input A dan B, pada full adder juga terdapat satu input biner dengan indikator satu buah LED yang digunakan sebagai Carry in. Pada outputnya ditandai oleh simbol S0S3 yang merupakan indikator dari bilangan biner dengan LED sebanyak 4 buah, dan juga output berupa Carry out dengan indikator satu buah LED. Praktikum kali ini dilakukan tanpa menggunakan Carry in, sehingga penjumlahan awal dijumlahkan dengan 0. Dengan memberikan masukan yang ditampilkan oleh 8 LED dan keluaran yang dihasilkan ditampilkan dengan 5 LED. Data yang diambil pada

masukan pertama yaitu jika input A adalah 0011 dan input B adalah 0001, dengan cara penjumlahan 0+0=0; 0+0+1=1; 0+1+1=0 sisa 1; 1+1=0 sisa 1, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0100 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 0010 dan input B adalah 0010, dengan cara penjumlahan 0+0=0; 0+0+1=0; 1+1=0 sisa 1; 0+0=0, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0100 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 0010 dan input B adalah 0011, dengan cara penjumlahan 0+0=0; 0+0+1=1; 1+1=0 sisa 1; 0+1=1, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0101 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 0110 dan input B adalah 1000, dengan cara penjumlahan 0+1=1; 1+0=1; 1+0=1; 0+0=0, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 1110 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 1100 dan input B adalah 1000, dengan cara penjumlahan 1+1=0 sisa 1; 1+0=1; 0+0=0 sisa 0; 0+0=0, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0100 dan Carry out adalah 1 karena penjumlahannya membawa sisa. Setiap penjumlahan yang membawa sisa, akan dijumlahkan ke bit selanjutnya. Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa full adder berfungsi untuk menjumlah bilangan biner pada tiap bit yang nanti keluaran yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai bilangan desimal.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Full adder merupakan rangkaian penjumlah biner tiap bit. 2. Full Adder menjumlahkan dua bit input ditambah dengan nilai Carry-Out dari penjumlahan bit sebelumnya. Output dari Full Adder adalah hasil penjumlahan (Sum) dan bit kelebihannya (carry-out). 3. Full adder menggunakan 2 sampai 3 inputan jika menggunakan carry in. 4. Full adder memiliki nilai carry apabila hasil penjumlahan pada suatu tingkat atau kolom melebihi nilai maksimumnya maka. 5. Jika terdapat nilai carry, maka carry bernilai 1. 6. Nilai carry akan dijumlahkan pada bit selanjutnya, jika tidak ada bit yang akan dijumlahkan maka nilai carry akan disimpan dalam bentuk carry out.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Mahasiswa mengerti cara kerja rangkaian Full Adder. Mahasiswa mampu menganalisis komponen-komponen Full Adder. 1.2 Latar belakang Perkembangan digitalisasi alat teknogi semakin lama semakin canggih. Segala alat untuk kehidupan sehari-hari sudah banyak yang berubah menjadi teknologi alat digital. Dipabrik-pabrik, jarang sekali ditemukan alat analog kebanyakan alat mereka sudah digital. Sebagai mahasiswa teknik elektro sangatlah wajib untuk memahami sebuah teknologi digital yag didalamya terdapat materi tentang rangkaian Full Adder. Full Adder adalah rangkaian yang berfungsi untuk menjumlahkan bilangan biner tiap-tiap bit-nya. Karena pentingnya materi teknik digital bagi mahasiswa elektro,maka kali ini kami melakukan praktikum tentang rangkian Full Adder yang merupakan dasar dari teknik digital.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori Penjumlah penuh (Full Adder) adalah rangkaian sirkuit digital atau kadangkadang berbentuk chip yang bisa dipakai untuk menghitung atau menjumlahkan pulsa atau sinyal digital yang umumnya dihasilkan dari osilator. Penghitung ini hanya bisa menghitung pulsa secara biner murni (binary counter). Dalam penghitung biner murni, perhitungan digunakan dengan cara menjumlahkan tiap bit pada bilangan biner. Rangkaian Full Adder dapat digunakan untuk menjumlahkan bilangan-bilangan biner yang lebih dari 1bit. Penjumlahan bilangan-bilangan biner sama halnya dengan penjumlahan bilangan desimal dimana hasil penjumlahan tersebut terbagi menjadi 2 bagian, yaitu SUMMARY (SUM) dan CARRY, apabila hasil penjumlahan pada suatu tingkat atau kolom melebihi nilai maksimumnya maka output CARRY akan berada pada keadaan logika 1. Sebuah Full Adder menjumlahkan dua bilangan yang telah dikonversikan menjadi bilangan-bilangan biner. Masing-masing bit pada posisi yang sama saling dijumlahkan. Full Adder sebagai penjumlah pada bit-bit selain yang terendah. Full Adder menjumlahkan dua bit input ditambah dengan nilai Carry-Out dari penjumlahan bit sebelumnya. Output dari Full Adder adalah hasil penjumlahan(Sum) dan bit kelebihannya (carry-out). Blok diagram dari sebuah full adder diberikan pada gambar di bawah.

INPU T

A Full B Adder

CBBB

CBBBO INBBB BBB

OUTPU T

Pada aplikasinya, Full Adder menggunakan gerbang logika AND, OR, dan XOR. Berikut tabel kebenaran Full Adder : INPUT A 0 1 0 1 B 0 0 1 1 OUTPUT SUM CARRY 0 0 1 0 1 0 0 1

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Gambar Rangkaian

3.2 Alat dan Bahan Trainer Kit (LED, togel switch, carry switch) IC 74LS86, 74LS08, 74LS32 Catu daya

3.3 Prosedur Praktikum Menghubungkan trainer kit dengan catu daya. Memberi masukan A0A3 dan B0B3 1 atau 0. Memperhatikan dan mencatat output dan carry out. Membuat kesimpulan

BAB IV ANALISA DATA 4.1 Data Percobaan A 0011 0010 0010 0110 1100 INPUT B 0001 0010 0011 1000 1000 OUTPUT Cin 1 1 1 1 1 SUM 0101 0101 0110 1111 0101 Cout 0 0 0 0 1

4.2 Analisa Pembahasan Pada praktikum ini kami membahas mengenai tentang full adder yang memiliki karakteristik menjumlahkan bilangan biner tiap bit-nya. Rangkaian Full Adder dapat digunakan untuk menjumlahkan bilangan-bilangan biner yang lebih dari 1 bit. Penjumlahan bilangan-bilangan biner sama halnya dengan penjumlahan bilangan desimal dimana hasil penjumlahan tersebut terbagi menjadi 2 bagian, yaitu SUMMARY (SUM) dan CARRY, apabila hasil penjumlahan pada suatu tingkat atau kolom melebihi nilai maksimumnya maka output CARRY akan berada pada keadaan logika 1. Komponen atau rangkaian full adder sendiri terdiri dari gerbang AND, OR, dan XOR. IC yang digunakan biasanya tipe 74LS86 sebagai gerbang XOR, 74LS08 sebagai gerbang AND, dan 74LS32 sebagai gerbang OR. Masing-masing memiliki 4 terminal (port), yang mana inputan sumber tegangan (Vcc) berada pada port 14 dan ground pada port 7.

Untuk inputan biner yang akan dijumlahkan dan Carry in, berada pada IC 74LS86 (XOR) dan 74LS08 (AND) kemudian diteruskan dengan IC 74LS32 (OR) dengan output biner dan Carry out Input pada full adder merupakan indikator untuk bilangan biner yang dimana terdapat 2 sampai 3 input-an (A dan B) dengan Carry in jika digunakan, masing-masing input terdiri dari 4 bilangan biner (A0A3 dan B0B3), sehingga bilangan biner yang dari bilangan inputnya dapat diindikatorkan oleh LED sebanyak 8 buah. Selain input A dan B, pada full adder juga terdapat satu input biner dengan indikator satu buah LED yang digunakan sebagai Carry in. Pada outputnya ditandai oleh simbol S0S3 yang merupakan indikator dari bilangan biner dengan LED sebanyak 4 buah, dan juga output berupa Carry out dengan indikator satu buah LED. Praktikum kali ini dilakukan menggunakan Carry in, sehingga penjumlahan awal dijumlahkan dengan 1. Dengan memberikan masukan yang ditampilkan oleh 8 LED dan keluaran yang dihasilkan ditampilkan dengan 5 LED. Data yang diambil pada masukan

pertama yaitu jika input A adalah 0011 dan input B adalah 0001, dengan cara penjumlahan 0+0=0; 0+0+1=1; 0+1+1=0 sisa 1; 1+1=10+1=1 sisa 1, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0101 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 0010 dan input B adalah 0010, dengan cara penjumlahan 0+0=0; 0+0+1=0; 1+1=0 sisa 1; 0+0=0+1=1, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0101 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 0010 dan input B adalah 0011, dengan cara penjumlahan 0+0=0; 0+0+1=1; 1+1=10+1=1 sisa 1; 0+1=1+1=0 sisa 1, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0110 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 0110 dan input B adalah 1000, dengan cara penjumlahan 0+1=1; 1+0=1; 1+0=1; 0+0=0+1=1, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 1111 dan Carry out adalah 0 karena penjumlahannya tidak membawa sisa. Jika input A adalah 1100 dan input B adalah 1000, dengan cara penjumlahan 1+1=0 sisa 1; 1+0=1; 0+0=0 sisa 0; 0+0=0+1=1, maka indikator keluarannya yang menyala dari S adalah 0101 dan Carry out adalah 1 karena penjumlahannya membawa sisa. Setiap penjumlahan yang membawa sisa, akan dijumlahkan ke bit selanjutnya. Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa full adder berfungsi untuk menjumlah bilangan biner pada tiap bit yang nanti keluaran yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai bilangan desimal.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Full adder merupakan rangkaian penjumlah biner tiap bit. 2. Full Adder menjumlahkan dua bit input ditambah dengan nilai Carry-Out dari penjumlahan bit sebelumnya. Output dari Full Adder adalah hasil penjumlahan (Sum) dan bit kelebihannya (carry-out). 3. Full adder menggunakan 2 sampai 3 inputan jika menggunakan carry in. 4. Full adder memiliki nilai carry apabila hasil penjumlahan pada suatu tingkat atau kolom melebihi nilai maksimumnya maka 5. Jika terdapat nilai carry, maka carry bernilai 1. 6. Nilai carry akan dijumlahkan pada bit selanjutnya, jika tidak ada bit yang akan dijumlahkan maka nilai carry akan disimpan dalam bentuk carry out.

BAB 1

PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Mahasiswa mengerti cara kerja rangkaian Counter. Mahasiswa mampu menganalisis komponen-komponen Counter. 1.2. Latar Belakang Perkembangan digitalisasi alat teknogi semakin lama semakin canggih. Segala alat untuk kehidupan sehari-hari sudah banyak yang berubah menjadi teknologi alat digital. Dipabrik-pabrik, jarang sekali ditemukan alat analog kebanyakan alat mereka sudah digital. Sebagai mahasiswa teknik elektro sangatlah wajib untuk memahami sebuah teknologi digital yag didalamya terdapat materi tentang register dan counter. Dalam sistem digital register merupakan tempat penampungan sementara sebuah grup bit data. Sedangkan counter merupakan pencacaha atau penghitung. Karena pentingnya materi teknik digital bagi mahasiswa elektro,maka kali ini kami melakukan praktikum tentang register dan counter yang merupakan dasar dari teknik digital.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori Penghitung atau pencacah (counter) adalah rangkaian sirkuit digital atau kadangkadang berbentuk chip yang bisa dipakai untuk menghitung pulsa atau sinyal digital yang umumnya dihasilkan dari osilator. Penghitung ini bisa menghitung pulsa secara biner murni (binary counter) ataupun secara desimal-terkodekan-secara-biner (decimal counter). Dalam penghitung biner murni, angka 9 dinyatakan dalam bentuk bilangan biner 1001, dan berikutnya angka 10 dinyatakan dalam bentuk biner 1010. Sedangkan dalam penghitung desimal-terkodekan-secara-biner, angka 9 adalah biner 1001, tetapi angka 10 dinyatakan dalam bentuk: 0001 0000. Angka desimal 100 dalam biner murni adalah 1100100, sedangkan dalam BCD adalah 0001 0000 0000 (3 buah digit desimal masing-masing dari kelompok 4 bit).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Gambar Rangkaian

3.2 Alat dan Bahan Trainer Kit Counter (LED, trigger) IC 74LS76 Resistor Catu daya

3.3 Prosedur Praktikum Menghubungkan trainer kit dengan catu daya. Menekan triger Clock n-kali Mencatat output led hidup sebagai logika 1 dan mati logika 0 Membahas dan membuat kesimpulan.

BAB IV ANALISA DATA 4.1 Data Percobaan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Clock 1 3 7 8 11 13 15 17 D0 1 1 1 0 1 1 1 1 D1 0 1 1 0 1 0 1 0 D2 0 0 1 0 0 1 1 0 D3 0 0 0 1 1 1 1 0 D4 0 0 0 0 0 0 0 1 D5 0 0 0 0 0 0 0 0

4.2 Analisa Pembahasan Pada praktikum ini kami membahas tentang counter yang merupakan bilangan pencacah dengan maksud mengubah bilangan desimal ke bilangan biner (pulsa yang bernilai 1/0). Dengan menggunakan clock sebagai pengatur bilangan desimal yang mana berfungsi sebagai inputan dan mengunakan LED sebagai indikator keluaran inputan yang merupakan bilangan biner dari clock yang di berikan, dengan berarti D 0-D5 mewakili 20 -25. Dan pada pemberian clock, nilai pertama merupakan bilangan yang harus di jumlahkan untuk menginginkan nilai yang akan diinginkan, hal ini bearti bahwa nilai clock sebelumnya merupakan bilangan yang harus diikutkan untuk membentuk nilai selanjutya. Sebagai contoh jika clock pertama adalah 2 dan bilangan selanjutnya yang diinginkan adalah 4, maka clock yang harus diberikan selanjutnya sebanyak 2 kali, hal ini berarti 2 + 2 (clock yang baru) = 4. Pada umumnya, counter menggunakan IC 74LS76 yang memiliki 16 terminal (port). Untuk masukan clock terdapat pada port 1 dan port 6, sedangkan untuk resetnya menggunakan port 2 dan 7

Dengan menggunakan indikator sebanyak 5 buah LED (D0-D5), kami dapat mengetahui data yang kami dapat saat praktikum. Dengan melihat saat clock 2 maka indikator LED yang bernilai satu (menyala) adalah D1 saja hal ini berarti bahwa D1 = 1x21 dan LED yang lain bernilai nol (mati) sehingga nilai keluaran untuk biner dari clock yang diberikan adalah 0x20+1x21+0x22+0x23+0x24+0x25 = 2. Pada saat nilai clock yang diberikan adalah 13, maka LED yang bernilai satu (menyala) adalah D0, D2 dan D3 hal ini berarti bahwa D0 = 1x20, D1 = 1x21, D3 = 1x23 dan LED yang lain bernilai nol (mati) sehingga nilai keluaran untuk biner dari clock yang diberikan adalah 1x20+1x21+0x22+1x23+0x24+0x25 =13. Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa counter berfungsi untuk mengubah bilangan desimal menjadi bilangan biner. Jika kita bandingkan dengan tabel yang diperoleh dari percobaan decoder terlihat bahwa counter adalah kebalikan dari decoder dalam hal merubah biner ke dalam bentuk desimal.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Output merupakan indikator biner untuk nilai clock yang diberikan 2. Desimal yang diberikan merupakan jumlah clock dari clock sebelumnya 3. Nilai maksimal desimal yang diberikan pada praktikum ini adalah 17 4. Nilai Minimal desimal yang diberikan pada praktikum ini adalah 1.

DAFTAR PUSTAKA Mismail, Budiono. 1998. Dasar-dasar Rangkaian Logika Digital. Bandung : ITB Bandung. Yuhefizar, 2003, Tutorial Belajar Dasar Digital Tokheim, Roger L. 1988. Prinsip-Prinsip Digital . Jakarta: Erlangga. Malvino, Albert Paul. 1983. Elektronika Komputer Digital. Jakarta : Erlangga. Modul Praktikum Teknik Digital 2008 Yuhefizar, 2003, Tutorial Belajar Dasar Digital Article, http://www.google.co.id