Laporan Tugas Makalah Modul Fisioterapi Kardiovaskuler

download Laporan Tugas Makalah Modul Fisioterapi Kardiovaskuler

of 18

  • date post

    11-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    26
  • download

    5

Embed Size (px)

description

Physical Therapy

Transcript of Laporan Tugas Makalah Modul Fisioterapi Kardiovaskuler

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPenyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara didalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible dan bersifat progresif . Indikator diagnosis PPOK adalah penderita diatas usia 40 tahun, dengan sesak napas yang progresif, memburuk dengan aktivitas, persisten, batuk kronik, produksi sputum kronik. Biasanya terdapat riwayat pejanan rokok, asap atau gas berbahaya didalam lingkungan kerja atau rumah. Berdasarkan sudut pandang fisioterapi, pasien PPOK menimbulkan berbagai tingkat gangguan yaitu impairment berupa nyeri dan sesak nafas, oedema, terjadinya perubahan pola pernapasan, rileksasi menurun, perubahan postur tubuh, functional limitation meliputi gangguan aktivitas sehari-hari karena keluhan-keluhan tersebut diatas dan pada tingkat participation retriction yaitu berat badan menjadi menurun. Modalitas fisioterapi dapat mengurangi bahkan mengatasi gangguan terutama yang berhubungan dengan gerak dan fungsi diantaranya mengurangi nyeri dada dengan menggunakan terapi latihan yang berupa breathing exercise akan mengurangi spasme otot pernafasan, membersihkan jalan napas, membuat menjadi nyaman, melegakan saluran pernapasan (Kusumawati,R.dalam Helmi, 2005).Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu dari kelompok masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan factor risiko, seperti faktor pejamu semakin banyaknya jumlah perokok khususnya pada kelompok usia muda, serta pencemaran udara di dalam ruangan maupun di luar ruangan dan di tempat kerja. Penyakit tidak menular yang telah menjadiPenyakit Paru Obstruktif Kronik merupakan penyakit pernafasan yang prevalensi, tingkat morbiditas dan mortalitasnya meningkat dari tahun ke tahun. Angka kejadian PPOK di Indonesia diperkirakan mencapai 4,8 juta penderita dengan prevalensi 5,6 persen. ( Khotimah,S.2013)B. Rumusan Masalah1. Apakah definisi dari PPOK?2. Apakah etiologi dari PPOK?3. Apakah tanda dan gejala dari PPOK?4. Bagaimana patofisiologi dari PPOK?5. Bagaimana proses fisioterapi pada PPOK?C. Tujuan1. Untuk mengetahui definisi dari PPOK?2. Untuk mengetahui etiologi dari PPOK?3. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari PPOK?4. Untuk mengeahui patofisiologi dari PPOK?5. Untuk mengetahui assessment fisioterapi pada PPOK?6. Untuk mengetahui problem fisioterapi pada PPOK?7. Untuk mengetahui diagnose fisioterapi pada PPOK?.8. Untuk mengetahui intervensi fisioterapi pada PPOK?9. Untuk mengetahui evaluasi fisioterapi pada PPOK?

BAB IIKERANGKA TEORIA. DEFINISI PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronik) adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat progresif non reversible atau reversible parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan dari keduanya. Bronkitis kronis yaitu kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua bulan berturut-turut, tidak disebabkan penyakit lainnya Emfisema yaitu suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli (Kusumawati,R. dalam PDPI, 2003).

Proses pernapasan terdiri dari inspirasi dan ekspirasi. Organ yang terlibat yaitu rongga hidung, pharing, laring, trakhea dan paru-paru. Pada paru-paru terdapat percabangan dari bronkus utama yang bercabang menjadi bronki lobalis dan segmentalis. Bronki terpecah lagi menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan generasi. Percabangan terkecil terakhir dinamakan bronkioli terminalis. Saluran udara terminalis, berhubungan langsung dengan bronkus terminalis, yang juga dikenal dengan parenkim paru-paru.

Gambar 1. Saluran Pernafasan

Paru-paru berbentuk kerucut yang menempati kantong pleura parientalis dan pleura viseralis. Antara kedua pleura ini terdapat rongga yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura ini hampa udara sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk membasahi pleura, membasahi paru-paru dan dinding dada saat bernafas dan bergerak. Di dalam paru terdapat dua pasang pembuluh darah limfe yang saling berhubungan. Bagian superfisial bagian limfe yang terletak dalam pleura ini berukuran relative besar dan tampak hitam karena penghisapan zat karbon. Pembuluh limfe yang lebih kecil membentuk jala halus pada tepi lobulus. Pembuluh superfisial ini mengalir sepanjang tepi paru-paru menuju ke hilus bagian profunda atau pulmonal berjalan bersama ke bronkus sedangkan arteri pulmonalis dan bronki meluas hanya sampai ke duktus alveolaris bagian tepi. Semua mengalir kebagian pusat hilus dan bertemu dengan pembuluh limfe eferen superficial.Dalam bernapas, berperan juga otot-otot yang membantu proses inspirasi dan ekspirasi diantaranya: Otot inspirasi utama (diafragma, external intercostalis, levator costalis, scalene), Otot bantu inspirasi (sternocleiomastoideus, trapezius,seratus anterior, pectoralis mayor, pectoralis minor, latisimus dorsi), Otot ekspirasi utama (internal intercostalis), dan Otot bantu ekspirasi (internal obliq, eksternal obliq, rectus abdominis, longisimus, iliocostalis lumborum)

Gambar 2. Paru-paruKeterangan:Paru kananParu Kiri Upper lobeLower Lobe1-2. Apical- posterior1. Apical6. Superior 3. Anterior 2. Posterior7. Medial basal4. Superior 3. Anterior8. Anterior basal5. Inferior Middle lobe9. Lateral basalLower lobe 4. Lateral10. Posterior basal6. superior5. Medial7-8. Anterior basal9. Lateral basal10. posterior basal

B. Etiologi Pada PPOK terjadi gangguan pada bronkus dan alveolus atau gabungan dari penyakit bronchitis kronis dan emfisema. Bronchitis kronis yaitu terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan serta distorsi akibat fibrosis. Sedangkan emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.C. Tanda dan GejalaGejala dari PPOK adalah seperti susah bernafas, batuk kronis dan terbentuknya sputum kronis, episode yang buruk atau eksaserbasi sering muncul. Salah satu gejala yang paling umum dari PPOK adalah sesak napas (dyspnea). Orang dengan PPOK umumnya menggambarkan ini sebagai:. "Saya merasa kehabisan napas," atau "Saya tidak bisa mendapatkan cukup udara ".5,6 Orang dengan PPOK biasanya pertama sadar mengalami dyspnea pada saat melakukan olahraga berat ketika tuntutan pada paru-paru yang terbesar. Selama bertahun-tahun, dyspnea cenderung untuk bertambah parah secara bertahap sehingga dapat terjadi pada aktivitas yang lebih ringan, aktivitas sehari-hari seperti pekerjaan rumah tangga. Pada tahap lanjutan dari PPOK, dyspnea dapat menjadi begitu buruk yang terjadi selama istirahat dan selalu muncul Orang dengan PPOK kadang-kadang mengalami gagal pernafasan. Ketika ini terjadi, sianosis, perubahan warna kebiruan pada bibir yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dalam darah, bisa terjadi. Kelebihan karbon dioksida dalam darah dapat menyebabkan sakit kepala, mengantuk atau kedutan (asterixis). Salah satu komplikasi dari PPOK parah adalah cor pulmonale, kejang pada jantung karena pekerjaan tambahan yang diperlukan oleh jantung untuk memompa darah melalui paru-paru yang terkena dampak.4 Gejala cor pulmonale adalah edema perifer, dilihat sebagai pembengkakan pada pergelangan kaki, dan dyspnea.D. Patofisiologi Pada bronkitis kronik terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan serta distorsi akibat fibrosis. Emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Secara anatomik dibedakan tiga jenis emfisema:1. Emfisema sentriasinar, dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer, terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan merokok lama2. Emfisema panasinar (panlobuler), melibatkan seluruh alveoli secara merata dan terbanyak pada paru bagian bawah3. Emfisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran napas distal, duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi, fibrosis, metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas.Konsep patogenesis PPOK

Perbedaan patogenesis PPOK dan Asma

(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.2003)

E. Assesment Fisioterapi pada PPOKAssessment merupakan proses pengumpulan data baik data pribadi maupun data pemeriksaan pasien. Assessment dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasikan urutan masalah yang timbul pada pasien Parkinson Disease yang biasanya terjadi pada usia lanjut, kemudian menjadi dasar dari penyusunan program terapi dan tujuan terapi yang disesuaikan dengan kondisi pasien serta lingkungan sekitar pasien. Dalam assessment meliputi:1. Anamnesis Anamnesis merupakan cara pengumpulan data dengan jalan tanya jawab antara terapis dengan sumber data. Dilihat dari segi pelaksanaannya anamnesis dibedakan atas dua yaitu: Autoanamnesis, merupakan anamnesis yang langsung ditujukan kepada pasien yang bersangkutan dan Alloanamnesis, merupakan anamnesis yang dilakukan terhadap orang lain yaitu keluarga, teman, ataupun orang terdekat dengan pasien yang mengetahui keadaan pasien tersebut. Anamnesis yang akan dilakukan berupa a. Anamnesis umumBerisi tentang identitas penderita seperti nama, umur ,jenis kelamin, agama, alamat dan pekerjaan. b. Anamnesis khususAnamnesis khusus yang berisi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan riwayat penyakit yang diderita oleh pasien sekarang, antara lain:(1) Keluhan utamaTerdapat sesak nafas, batuk dengan dahak yang sulit dikeluarkan.(2) Riwayat Penyakit Sekarang .Adanya sesak anafas disertai batuk be