Laporan Resmi Praktikum Mce

download Laporan Resmi Praktikum Mce

of 24

  • date post

    27-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    30
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Resmi Praktikum Mce

LAPORAN RESMI PRAKTIKUMMARINE CULTURE ENGINEERING

DISUSUN OLEH :RAHMAT JOANNOVAL26020110120032

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTANJURUSAN ILMU KELAUTANFAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTANUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Budi daya ikan laut merupakan suatu peluang yang sangat besar bagi Indonesia. Selain wilayah laut dan pesisir yang begitu luas, Indonesia berada di wilayah beriklim tropis , serta memiliki spesies ikan laut ( dan biota nonikan) yang bernilai ekonomi tinggi di pasar dunia.

Potensi produk mariculture mencapai 47 juta ton/ tahun, yang sebagian besar terdiri dari ikan. Beberapa ikan penting dari kelompok ikan demersal ( ikan yang hidup di dekat atau di dasar laut) yang merupakan andalam dalam ekspor telah berhasil dibudidayakan , diantaranya Ikan kerapu, Ikan kakap, Kuda laut, Ikan nemo, dll. Budidaya ikan-ikan tersebut telah dilakukan secara penuh, karena teknologi budidayanya telah dikuasai mulai dari pembenihan hingga pembesaran.

Pengembangan Marine culture engineering merupaan salah satu tindakan yang dilakukan dalam peningkatan produksi dari budidaya laut (Marine culture) dengan melakukan rekayasa teknologi pada proses budidayanya. Sehingga dengan rekayasa ini hasil dari proses budidaya bisa meningkat dan bisa memenuhi semua kebutuhan manusia.

Perkembangan Marine culture engineering terus meningkat dari tahun-ke tahun. Hal ini terjadi karena semakin meningkatnya pengetahuan manusia dalam pengembangan budidaya laut, serta meningkatnya kebutuhan akan hasil dari laut yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Sehingga kegiatan Marine culture engineering ini diharapkan dapat melakukan proses budidaya biota laut dengan tempat sedikit, biaya murah, tapi hasilnya bisa memenuhi semua kebutuhan yang diharapkan.

Pada Prinsipnya semua ikan laut dapat dipelihara di tambak dan bak ( sistem bak resirkulasi). Namun untuk memenuhi kebutuhan optimal pada ikan , terutama kualitas air, dibutuhkan sejumlah peralatan, seperti aerator dan mesin pompa. Karena itu, biaya produksi menjadi tinggi dan usaha menjadi tidak ekonomis. Bila pemeliharaan ikan tersebut lebih ekonomis dilakukan di laut dengan menggunakan hambpang, JKD atau KJA, maka tentu lebih baik.

1.2 Tujuan Mahasiswa diharapkan mampu melakukan pengukuran parameter kualitas perairan pada budidaya sistem RAS dan konvensional Mahasiswa diharapkan mampu menganalisa parameter kualitas perairan budidaya organisme laut

1.3 Manfaat Setelah mengikuti kegiatan praktikum ini, manfaat yang diperoleh adalah pengetahuan tentang hubungan parameter perairan ( suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH) terhadap organisme budidaya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 pH (Derajat Keasaman)

Derajat keasaman atau pH air menunjukkan aktivitas ion hydrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hydrogen ( dalam mol per liter) pada suhu tertentu atau dapat di tulis : pH = -Log (H)+

Air murni (H2O) berasosiasi sempurna sehingga memiliki ion H+ dan ion H- dalam konsentrasi yang sama, dan dalam keadaan demikian pH air murni=7. Semakin tinggi konsentrasi ion H+, Akan semakin rendah Konsentrasi ion OH- dan pH 7, maka perairan bersifat alkalis ( basa).

Semakin Banyak CO2 yang dihasilkan dari hasil respirasi, reaksi bergerak ke kanan dan secara bertahap melepaskan ion H+ yang menyebabkan pH air turun. Reaksi sebaliknya terjadi dengan aktivitas fotosintesis yang membutuhkan banyak ion CO2, menyebabkan pH air naik.

pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan budidaya . Pada pH rendah ( keasaman yang tinggi) kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas pernapasan naik dan selera makan ikan akan berkurang. Hal yang sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini , maka usaha budidaya ikan akan akan berhasil baik dalam air dengan pH ( 6,5 9,0 ) dan pertumbuhan optimal terjadi pada pH 7- 8,5 (Kordi, 2011).

2.2 Suhu

Hardjojo dan Djokosetiyanto (2005) menyatakan bahwa suhu air normal adalah suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan berkembang biak. Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di air, karena bersama-sama dengan zat/unsur yang terkandung didalamnya akan menentukan massa jenis air, dan bersama-sama dengan tekanan dapat digunakan untuk menentukan densitas air. Selanjutnya, densitas air dapat digunakan untuk menentukan kejenuhan air. Suhu air sangat bergantung pada tempat dimana air tersebut berada. Kenaikan suhu air di badan air penerima, saluran air, sungai, danau dan lain sebagainya akan menimbulkan akibat sebagaiberikut: 1) Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun; 2) Kecepatan reaksi kimia meningkat; 3) Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.

Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, maka akan menyebabkan ikan dan hewan air lainnya mati. Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa, sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton .

Pengaruh suhu secara tidak langsung dapat menentukan stratifikasi massa air, stratifikasi suhu di suatu perairan ditentukan oleh keadaan cuaca dan sifat setiap perairan seperti pergantian pemanasan dan pengadukan, pemasukan atau pengeluaran air, bentuk dan ukuran suatu perairan. Suhu air yang layak untuk budidaya ikan laut adalah 27 32 0C . Kenaikan suhu perairan juga menurunkan kelarutan oksigen dalam air, memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas ikan disamping akan menaikkan daya racun suatu polutan terhadap organisme perairan). Selanjutnya Kinne (1972) menyatakan bahwa suhu air berkisar antara 35 40 0C merupakan suhu kritis bagi kehidupan organisme yang dapat menyebabkan kematian (Afrianto,1990).

2.3 Salinitas

Untuk keperluan budidaya biota laut seperti ikan, salinitas disesuaikan dengan spesiesbiota yang hendak dibudidayakan .Menurut valikangas dapat disederhanakan sebagai berikut air tawar 0-0,5 ppt ; air payau 0,5-17 ppt dan air laut di atas 17 ppt ( Nontji,1987)

Untuk keperluan budidaya biota laut, salinitas disesuaikan dengan spesies biota yang hendak dibudidayakan. Artinya, lokasi yang dipilih salinitasnya sesuai dengan spesies yang hendak dikultur.

Umumnya, ikan yang hidup di terumbu karang dan laut terbuka (ikan pelagis) tumbuh pada salinitas antara 33-35 ppt. Ikan-ikan tersebut cukup toleran terhadap perubahan salinitas yang lebar ( euryhaline), seperti bandeng ( Chanos chanos), kakap jenaha ( Lutjanus johnii).

Untuk Jenis ikan Bandeng ( Chanos chanos) , dapat hidup pada perairan laut, tambak air payau, maupun di air tawar. Ikan ini dapat berenang mulai dari perairan laut yang salinitasnya tinggi, 35 ppt atau lebih, kemudian dapat masuk mendekat ke muara-muara sungai ( salinitas 15-20 per mil) dan dapat masuk ke sungai dan danau yang airnya tawar. Sehingga Bandeng digolongkan sebagai ikan euryhaline (Kordi,2011).

2.4 DO ( Dissolved Oxygen)

Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme. Perubahan konsentrasi oksigen terlarut dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan. Sedangkan pengaruh yang tidak langsung adalah meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri. Hal ini disebabkan oksigen terlarut digunakan untuk proses metabolisme dalam tubuh dan berkembang biak (Afrianto,1990).

Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan makhluk hidup didalam air maupun hewan teristrial. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan organik yang banyak mengkonsumsi oksigen sewaktu penguraian berlangsung. Asmawi (1983) menyatakan O2 terlarut yang baik adalah 510 mg/l, CO2 bebas tidak lebih dari 12 mg/l dan terendah 2 mg/l serta NH3 yang baik adalah kurang dari 1 mg/l. Pada kadar NH3 0,053-0,280 mg/l kondisi larva udang masih cukup baik. Gangguan NH3 terhadap larva mulai terlihat pada kadar 0,6 mg/l, kandungan NH3 yang baik untuk pertumbuhan ikan kurang dari 1 mg/l dan CO2 berkisar 0,0-15,0 mg (Afrianto,1990).

Konsentrasi oksigen terlarut yang aman bagi kehidupan diperairan sebaiknya harus diatas titik kritis dan tidak terdapat bahan lain yang bersifat racun, konsentrasi oksigen minimum sebesar 2 mg/l cukup memadai untuk menunjang secara normal komunitas akuatik di periaran . Kandungan oksigen terlarut untuk menunjang usaha budidaya adalah 5 8 mg/l (Kordi,2011).

2.5 Amoniak

Amonia biasanya menjadi kendala dalam kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kesehatan ikan atau bahkan bisa mematikan. Hewan akuatik umumnya mengekskresikan amonia (NH3) sebagai hasil dari proses metabolisme dan sebagai produk ekskretori (dari ginjal, jaringan insang). Amonia juga sebagai hasil dekomposisi protein dari sisa pakan atau plankton yang mati. Kadar amonia yang tinggi umumnya terdapat pada kolam budidaya yang tidak mempunyai sirkulasi air yang baik atau kolam sistem tertutup. Kadar amonia yang tinggi tersebut dalam perairan bisa berasal dari limbah budidaya yang berupa kotoran ikan serta berasal dari sisa pakan yang tidak termakan. Sisa pakan akan mengendap di dasar perairan dan akan meracuni ikan budidaya. Namun untuk perairan yang luas (terbuka) limbah amonia yang dihasilkan akan segera tercampur dengan lingkungan sehingga kadarnya menurun atau tidak ada. Di perairan, ammonia umumnya terlarut dalam bentuk NH4+. Kemudian, Kadar Amonia di p