LAPORAN RESMI PRAKTIKUM 2

download LAPORAN RESMI PRAKTIKUM 2

If you can't read please download the document

  • date post

    03-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    1.488
  • download

    67

Embed Size (px)

description

laporan farmakologi eksperimen

Transcript of LAPORAN RESMI PRAKTIKUM 2

LAPORAN RESMI PRAKTIKUMFARMAKOLOGI EKSPERIMENTAL IANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

Nama Asisten:

1. Christine2. Yolanda

Disusun oleh: Golongan IVKelompok VKelas C

NamaNIM1. Viviane AnnisaFA/092872. Anita KurniawatiFA/093173. Annisafia Rizky Damaskha FA/093204. Pridiyanto FA/093235. Mercy ArizonaFA/09326

LABORATORIUM FARMAKOLOGIDAN TOKSIKOLOGI YOGYAKARTA2013ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

I. TUJUANAgar mahasiswa dapat memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati

II. DASAR TEORIObat merupakan zat kimia, baik alami maupun sintetik yang mempunyai pengaruh atau dapat menimbulkan efek pada organisme hidup, baik efek psikologis, fisiologis maupun biokimiawi. Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak proses yang didasari oleh suatu rangkaian reaksi. Rangkaian reaksi inilah yang dialami oleh obat dari mulai dikonsumsi hingga sampai ke reseptor dan akhirnya obat dalam bentuk aktifnya akan berinteraksi dengan reseptor atau tempat aksi atau sel target yang nantinya akan bisa memberikan efek biologis yang diinginkan. Rangkaian reaksi ini dibagi menjadi tiga fase, yaiktu fase biofarmasetik, farmakodinamik, dan farmakokinetik. ( Mutschler, 1991)Fase biofarmasetik meliputi proses fabrikasi, pengaturan dosis, formulasi bentuk sediaan, hancurnya bentuk sediaan obat dan melarutnya bahan obat yang ditentukan oleh sifat-sifat galenik obat. Farmakodinamik merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara kerja obat, efek obat terhadap berbagai fungsi dalam organ, pengaruh obat terhadap reaksi kimia dan struktur obat. Sedangkan farmakodinamik dapat diartikan sebagai pengaruh obat terhadap sel hidup. Fase ini berperan dalam menentukan seberapa besar efek obat dalam tubuh. Dan farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari tentang absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat atau dapat diartikan sebagai pengaruh tubuh terhadap obat. Pada fase ini obat mengalami proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi yang berjalan secara langsung maupun tidak langsung mengikuti perjalanan obat melintasi suatu membran sel. Farmakokinetik menentukan kecepatan mulai kerja obat, lama kerja dan intensitas efek obat. Di dalam permasalahan farmakokinetik dikenal juga dengan istilah parameter farmakokinetik, yaitu besaran yang diturunkan secara matematis dari hasil pengukuran kadar obat atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva dan lainnya).Cairan hayati yang biasa digunakan untuk dianalisis kadar obat atau metabolitnya adalah cairan hayati yang berupa darah. Dipilih darah karena darah merupakan tumpuan proses absorbsi, distribusi,dan eliminasi. Artinya tanpa darah, obat tidak dapat menyebar ke lingkungan badan dan dikeluarkan dari badan. Karena itu, logis bila adanya proses absorbsi dapat ditunjukkan dengan peningkatan kadar obat dalam darah dan adanya proses distribusi serta eliminasi ditunjukkan dengan pengurangan kadar obat dalam darah. Dengan kata lain, besarnya obat yang ada dalam darah mencerminkan besarnya kadar obat di tempat absorbsi, distribusi, dan tempat eliminasi. Darah merupakan tempat dominan yang dilalui obat dan juga menjadi tempat yang paling cepat dicapai oleh obat. Berbeda dengan urin yang merupakan cairan hayati yang biasanya digunakan dalam uji fase farmakokinetik untuk mempelajari disposisi suatu obat dan menentukan kadar suatu obat untuk obat-obatan yang dieksresikan lewat urin, minimal 10% nya terdapat dalam urin dalam bentuk utuh yang belum dimetabolisme.Untuk menilai farmakokinetik obat di dalam tubuh, pendekatan langsung yang paling baik adalah dengan mengukur obat di dalam darah, serum atau plasma. Biasanya serum atau plasma diambil dari supernatan darah yang disentrifugasi dengan ditambahkan antikoagulan.Ada 3 jenis parameter farmakokinetik, yaitu parameter primer, sekunder, dan turunan. Parameter farmakokinetik primer meliputi kecepatan absorbsi, volume distribusi, dan klirens. Parameter farmakokinetik sekunder di antaranya waktu paro eliminasi dan kecepatan konstanta eliminasi, sedangkan parameter farmakokinetik turunan harganya tergantung dari dosis dan kecepatan pemberian obat. ( Donatus, 2008 ).Adapun penjelasan ketiga parameter tersebut adalah :1. Parameter pokok Tetapan kecepatan absorbsi (Ka)Menggambarkan kecepatan absorbsi, yaitumasuknya obat ke dalam sirkulasi sistemik dari absorbsinya (saluran cerna padapemberian oral, jaringan otot pada pemberian intramuskular). Cl (Klirens)Klirens adalah volume darah yang dibersihkan dari kandungan obat persatuan waktu (Neal, 2006). Volume distribusi (Vd)Volume distribusi adalah volume yang menunjukkan distribusi obat (Neal, 2006).2. Parameter Sekunder Waktu paro eliminasi (t1/2)Merupakan waktu yang dibutuhkan untuk mengubah jumlah obatdi dalam tubuh menjadi seperdua selama eliminasi (atau selama infus yang konstan) (Katzung, 2001). Tetapan kecepatan eliminasi ( Kel )Kecepatan eliminasi adalah fraksi obat yang ada pada suatu waktu yangakan tereliminasi dalam satu satuan waktu. Tetapan kecepatan eliminasimenunjukkan laju penurunan kadar obat setelah proses kinetik mencapaikeseimbangan (Neal, 2006).3. Parameter Turunan Waktu mencapai kadar puncak ( tmak )Nilai ini menunjukkan kapan kadar obat dalam sirkulasi sistemik mencapai puncak. Kadar puncak (Cp mak)Kadar puncak adalah kadar tertinggi yang terukur dalam darah atau serum atau plasma.Nilai ini merupakan hasil dari proses absorbsi, distribusi dan eliminasi dengan pengertian bahwa pada saat kadar mencapai puncak proses-proses tersebutberada dalam keadaan seimbang. Luas daerah di bawah kurva kadar obat dalam sirkulasi sistemik vs waktu (AUC)Nilai ini menggambarkan derajad absorbsi, yakni berapa banyak obatdiabsorbsi dari sejumlah dosis yang diberikan. Area dibawah kurva konsentrasiobat-waktu (AUC) berguna sebagai ukuran dari jumlah total obat yang utuh tidak berubah yang mencapai sirkulasi sistemik. (Shargel dkk, 2005)Untuk mendapatkan nilai nilai parameter farmakokinetik obat yang dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai kriteria, yaitu meliputi recovery (perolehan kembali), presisi, dan akurasi. Harga dari perolehan kembali didapat dari perhitungan:

Perolehan kembali ini merupakan tolok ukur efisiensi analisis. Sedangkan inpresisi penetapan kadar obat dapat dilihat dari kesalahan acak ( random analytical error ). Kesalahan acak atau disebut juga kesalahan tidak tergantung merupakan kesalahan yang nilainya tidak dapat diramalkan dan tidak ada aturan yang mengaturnya serta nilainya berfluktuasi. (Gholib, I.G., dan Rohman, A., 2012). Nilai dari kesalahan acak dapat dicari dengan menggunakan rumus :

Presisi menyatakan seberapa dekat nilai hasil dua kali atau lebih pengulangan pengukuran. Semakin dekat nilainilai hasil pengulangan pengukuran maka semakin presisi pengukuran tersebut. Sedangkan inakurasi penetapan kadar dapat dilihat dari kesalahan sistematiknya yang dapat dihitung menggunakan rumus:

.

Kesalahan ini bisa berupa kesalahan konstan atau proporsional karena mempunyai nilai definitif ( nilai tertentu ) yang mana dapat menyebabkan hasil dari analisis tersebut mengarah ke arah yang lebih kecil atau ke arah yang lebih besar dari rata-rata. (Gholib, I.G., dan Rohman, A., 2012). Akurasi atau bisa disebut dengan ketelitian sendiri dapat diartikan sebagai nilai kedekatan hasil pengukuran dengan true value (nilai sesungguhnya). Dari hasil analisis diharapkan mendapat hasil perolehan kembali/recovery yang tinggi (75-90 % atau lebih), kesalahan acak dan kesalahan sistematiknya kurang dari 10 % ( Pachla dkk. , 1986). Maka dari itu, metode analisis kadar obat merupakan kunci utama kesahihan data farmakokinetik yang diperoleh. Sehingga sebelum melakukan studi, langkah awal yang harus dilakukan adalah menguji suatu metode analisis. Ada 4 parameter yang digunakan untuk menilai validitas metode analisis, yaitu selektivitas, sensitivitas, akurasi dan presisi. (Ritschel,1992). Akan tetapi ada yang menyebutkan bahwa parameter yang digunakan untuk menguji validitas suatu metode ada 6, yaitu selektivitas, sensitivitas, akurasi, presisi, kekasaran dan efisiensitas (praktis). (Gholib, I.G., dan Rohman, A., 2012)1. Selektivitas Selektivitas suatu metode merupakan kemampuan suatu metode untuk membedakan suatu obat dari metabolitnya, obat lahir (dalam kasus tertentu yang berkaitan) dan kandungan endogen cuplikan hayati Artinya dalam penetapan kadar, metode tersebut tidak banyak terpengaruh oleh adanya senyawa lain. (Gholib, I.G., dan Rohman, A., 2012). Selektivitas metode menempati prioritas utama karena bentuk obat yang akan ditetapkan dalam cuplikan hayati adalah dalam bentuk tak berubah atau metabolitnya. Metode analisis yang digunakan harus memiliki spesifitas yang tinggi terhadap salah satu obat yang akan ditetapkan tersebut. (Shargel, 1988). Apabila suatu metode tidak selektif berarti yang diukur adalah obat utuh dengan metabolitnya sehingga data kadar obat dalam spesimen hayati terjadap waktu tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya tentang farmakokinetik kadar obat utuh pada tiap-tiap waktu. Hal ini menyebabkan kesalahan pada nilai parameter farmakokinetik obat tersebut. ( Hakim, 2008)

2. SensitivitasSensitivitas suatu metode adalah kepekaan metode dalam menganalisis kadar terendah yang dapat dianalisis. Artinya metode harus dapat digunakan untuk menetapkan kadar senyawa dalam kensentrasi yang kecil misalnya pada penetapan kadar zat-zat racun, metabolit obat dalam jaringan dan lain sebagainya. (Gholib, I.G., dan Rohman, A., 2012). Apabila suatu metode yang digunakan tidak sensitif, ada kemungkinan tidak terpantaunya kadar obat yang rendah selama proses absorbsi dan eliminasi. Hal ini dapat menimbulkan kesalahan dalam penetapan model dan harga parameter farmakokinetik. ( Hakim, 2008). Perlu diperhatikan bahwa terdapat keterkaitan antara kespesifikan dan kepekaan suatu metode analisis. Dalam berbagai kasus,kespesifikan suatu metode dapat ditin