Laporan protein catur

of 31 /31
LAPORAN LENGKAP BIOKIMIA DASAR PERCOBAAN IV “PROTEIN” NAMA : CATUR SETIYAWAN STAMBUK : A 251 14 125 KELOMPOK: IV ASISTEN : SULNIAWATI, S.Pd PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO

Embed Size (px)

Transcript of Laporan protein catur

LAPORAN LENGKAP BIOKIMIA DASARPERCOBAAN IVPROTEIN

NAMA: CATUR SETIYAWANSTAMBUK: A 251 14 125KELOMPOK: IVASISTEN: SULNIAWATI, S.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIAJURUSAN PENDIDIKAN MIPAFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS TADULAKO2016

PERCOBAAN IVPROTEINI.Tujuan Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk menguji sifat-sifat protein.II.Dasar TeoriProtein merupakan makromolekul terbanyak yang dapat ditemui dalam sel hidup, yang merupakan komponen penting dan utama untuk sel hewan dan sel manusia. Protein dapat diisolasi dari seluruh sel ke bagian sel. Dalam hal ini, protein mempunyai peranan penting dalam biologi yang sangat penting, sebagai zat pembenfuk, transport, katalisataor reaksi kimia, hormon, racun, dan yang lainnya. Protein ini mempunyai empat fungsi utamanya yaitu untuk memperbaiki jaringan yang rusak untuk pertumbuhan jaringan baru, sebagai enzim, dan sebagai hormone . (Mandle, 2012).Dalam hubungannya dengan asam amino, protein merupakan polimer dari sekitar asam amino yang berlainan disambungkan dengan ikatan peptida, yaitu rantai pendek. Karena keragaman rantai samping yang terbentuk jika asam-asam amino tersebut disambung-sambungkan, protein yang berbeda dapat mempunyai sifat kimia yang berbeda dan struktur sekunder dan tersier yang sangat berbeda. Rantai samping itu dapat bersifat polar atau nonpolar. Kandungan bagian asam amino polar yang tinggi dalam protein meningkatkan kelarutannya dalam air. Rantai samping yang paling polar ialah rantai samping amino basa dan asam amino asam. Asam-asam amino ini terdapat dalam albumin dan globulin yang larut dalam air dengan aras yang tinggi (Kuchel, dan Gregory, 2002).

Struktur asam amino yang terdapat dalam protein ditemukan dalam bentuk ionik. Warna hitam menunjukkan bagian yang umum pada semua asam -amino pada protein (kecuali prolin). Struktur ke-20 asam amino dibagi menjadi 4 golongan, yaitu: (1) golongan dengan gugus R nonpolar atau hidrofobik, (2) golongan dengan gugus R polar, tetapi tidak bermuatan, (3) golongan dengan gugus R bermuatan negatif, (4) golongan dengan gugus R bermuatan positif. Gugus R di dalam golongan ini merupakan hidrokarbon. Lima asam amino dengan gugus R alifatik (alanin, valin, leusin, isoleusin, dan prolin), dua dengan lingkaran aromatik (fenilalanin dan triptofan), dan satu yang mengandung sulfur (metionin) (Sumardjo, 2006).Golongan Asam Amino Mempunyai Gugus Polar Tidak BermuatanGugus R dari asam amino polar lebih larut dalam air, atau lebih hidrofilik, dibandingkan dengan asam amino nonpolar, karena golongan ini mengandung gugus fungsionil yang membentuk ikatan hidrogen dengan air. Golongan ini meliputi glisin, serin, treonin, sistein, tirosin, asparagin, dan glutamin (Sumardjo, 2006).Reaksi kimia asam amino mencirikan gugus fungsionil yang terkandung. Karena semua asam amino mengandung gugus amino dan karboksil, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang mencirikan gugus gugus ini. Sebagai contoh, gugus amino dapat memberikan reaksi asetilasi, dan gugus karboksil esterifikasi (Sumardjo, 2006).Reaksi pengujian terhadap asam amino dapat berupa (Whitford, 2005):Reaksi XantoproteinLarutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin, fenilalanin dan triptofan.Reaksi NinhidrinReaksi ninhidrin dapat dipakai untuk penentuan kuantitatif asam amino. Dengan memanaskan campuran asam amino dan ninhidrin, terjadilah larutan berwarna ungu yang identitasnya dapat ditentukan dengan cara spektrometri. Semua asam amino dan peptide yang mengandung gugus amino bebas memberikan reaksi ninhidrin yang positif. Prolin dan hidroksiprolin yang gugus aminonya tersubtitusi, memberikan hasil reaksi lain yang berwarna kuning (Yuwono, 2010).

III. Alat dan BahanAlat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:A. Alat1. Tabung reaksi2. Rak tabung reaksi3. Pipet tetes4. Gelas ukur5. Penangas listrik6. Spatula 7. Corong 8. Tusuk gigi9. Neraca digital10. Gelas kimia 11. Garpu B. Bahan1. Sampel albumin telur ayam kampong14. Larutan biuret2. Sampel albumin telur ayam ras15. Alkohol absolut3. Sampel albumin telur puyuh4. Sampel albumin telur ayam bebek5. Sampel albumin telur ayam itik6. Larutan urea7. Larutan kasein8. Larutan fenol9. Larutan ninhidrin10. Larutan NaOH 2M11. Larutan HNO3 7M12. Larutan Pb asetat13. Padatan NH4ClIV. Prosedur KerjaProsedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:A. Uji Ninhidrin1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan2. Memasukkan 2 mL albumin ke dalam tabung reaksi3. Menambahkan 5 tetes ninhidrin ke dalam tabung reaksi4. Mengulangi perlakuan 2-3 untuk larutan urea, larutan kasein, dan larutan fenol5. Mencatat semua hasil yang diperoleh pada table hasil pengamatanB. Uji Xanthoproteat1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan2. Memasukkan 2 mL albumin ke dalam tabung reaksi3. Menambahkan 5 tetes larutan HNO3 7 M dan memanaskan larutan4. Menambahkan tetes demi tetes NaOH 2 M ke dalam tabung reaksi5. Mengulangi langkah 2-4 untuk larutan urea, larutan kasein, dan larutan fenol6. Mencatat semua hasil yang diperoleh pada table hasil pengamatanC. Uji Belerang1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan2. Memasukkan 2 mL albumin ke dalam tabung reaksi3. Menambahkan 5 mL NaOH 2 M dan memanaskan larutan4. Menambahkan 2 tetes Pb asetat ke dalam tabung reaksi5. Memanaskan kembali larutan yang berada di dalam tabung reaksi6. Mengulangi langkah 2-5 untuk larutan urea, larutan kasein, dan larutan fenol7. Mencatat semua hasil yang diperoleh pada table hasil pengamatanD. Penggaraman Protein1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan2. Memasukkan 5 mL albumin telur bebek ke dalam tabung reaksi3. Menambahkan 5 gram padatan NH4Cl dan ditusuk-tusuk selama 2 menit dengan menggunakan tusuk gigi4. Menyaring larutan menggunakan kertas saring5. Menambahkan masing-masing 3 tetes pereaksi biuret ke dalam filtrat dan residu6. Mengulangi langkah 2-5 untuk sampel telur itik, sampel telur puyuh, sampel telur ayam kampung, dan sampel telur ayam ras7. Mencatat semua hasil yang diperoleh pada table hasil pengamatanE. Uji Alkohol1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan2. Memasukkan 5 mL albumin telur bebek ke dalam tabung reaksi3. Menambahkan 20 mL etanol dan ditusuk-tusuk selama 2 menit dengan menggunakan tusuk gigi4. Menyaring larutan menggunakan kertas saring5. Menambahkan masing-masing 3 tetes pereaksi biuret ke dalam filtrat dan residu6. Mengulangi langkah 2-5 untuk sampel telur itik, sampel telur puyuh, sampel telur ayam kampung, dan sampel telur ayam ras7. Mencatat semua hasil yang diperoleh pada table hasil pengamatan

V. Hasil PengamatanHasil pengamatan yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:NoPerlakuanHasil Pengamatan

1.

2.

3.

4.

5.

2. Uji Ninhidrina. Tabung 1 2 mL albumin + 5 tetes ninhidrin

b. Tabung 25 mL urea + 5 tetes ninhidrinc. Tabung 32 mL kasein + 5 tetes ninhidrind. Tabung 42 mL fenol + 5 tetes ninhidrin

Uji Xantoproteata. Tabung 1 2 mL albumin + 5 tetes HNO3 7M Perlakuan (a) + dipanaskan

Perlakuan (b) + tetes demi tetes NaOH 2Mb. Tabung 2 2 mL urea + 5 tetes HNO3 7M Perlakuan (a) + dipanaskan Perlakuan (b) + tetes demi tetes NaOH 2Mc. Tabung 3 2 mL kasein + 5 tetes HNO3 7M Perlakuan (a) + dipanaskan Perlakuan (b) + tetes demi tetes NaOH 2Md. Tabung 4 2 mL fenol + 5 tetes HNO3 7M Perlakuan (a) + dipanaskan Perlakuan (b) + tetes demi tetes NaOH 2M

Uji Beleranga. Tabung 1 2 mL albumin + 5 mL NaOH 2M Perlakuan (a) + dipanaskan Perlakuan (b) + 2 tetes Pb asetat

Perlakuan (c) + dipanaskanb. Tabung 2 2 mL urea + 5 mL NaOH 2M Perlakuan (a) + dipanaskan Perlakuan (b) + 2 tetes Pb asetat Perlakuan (c) + dipanaskanc. Tabung 3 2 mL kasein + 5 mL NaOH 2M Perlakuan (a) + dipanaskan Perlakuan (b) + 2 tetes Pb asetat Perlakuan (c) + dipanaskand. Tabung 4 2 mL fenol + 5 mL NaOH 2M Perlakuan (a) + dipanaskan Perlakuan (b) + 2 tetes Pb asetat Perlakuan (c) + dipanaskan

Penggaraman (salting out)a. Telur ayam ras 5 mL albumin + 5 g (NH4)2SO4+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret Residu + 3 tetes larutan biuretb. Telur puyuh 5 mL albumin + 5 g (NH4)2SO4+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret Residu + 3 tetes larutan biuret

c. Telur bebek 5 mL albumin + 5 g (NH4)2SO4+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret Residu + 3 tetes larutan biuretd. Telur itik 5 mL albumin + 5 g (NH4)2SO4+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret

Residu + 3 tetes larutan biuret

e. Telur ayam kampung 5 mL albumin + 5 g (NH4)2SO4+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret Residu + 3 tetes larutan biuret

Uji Alkohol a. Telur bebek 5 mL albumin + 20 mL alkohol absolut+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret Residu + 3 tetes larutan biuret

b. Telur puyuh 5 mL albumin + 20 mL alkohol absolut+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret

Residu + 3 tetes larutan biuret

c. Telur itik 5 mL albumin + 20 mL alkohol absolut+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret

Residu + 3 tetes larutan biuret

d. Telur ayam ras 5 mL albumin + 20 mL alkohol absolut+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret Residu + 3 tetes larutan biuret

e. Telur ayam kampung 5 mL albumin + 20 mL alkohol absolut+ ditusuk selama 2 menit + disaring Filtrat + 3 tetes larutan biuret Residu + 3 tetes larutan biuret

Larutan berwarna ungu muda

Bening kekuningan

Larutan berwarna ungu tua Larutan bening

Gumpalan putih Terdapat padatan putih dan terdapat padatan kuning Padatan kuning berubah menjadi jingga

Larutan bening Larutan bening Larutan bening

Larutan keruh Larutan keruh Larutan keruh

Larutan bening Larutan berwarna kuning Larutan berwarna hijau tua

Larutan bening Larutan berwarna kuning Larutan berwarna merah kehitaman Larutan bening

Larutan bening Larutan bening Larutan bening Larutan bening

Larutan bening Larutan bening Larutan bening Larutan bening

Larutan bening Larutan bening Larutan bening Larutan bening

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru + Residu berwarna biru +

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru (+++) Residu berwarna biru (+++)

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru (++) Residu berwarna biru (++)

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru (++++) Residu berwarna biru (++++)

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru (++) Residu berwarna biru (++)

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru (+++) Residu berwarna biru (+++)

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru (++++) Residu berwarna biru (++++)

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru (++++) Residu berwarna biru (++++)

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru + Residu berwarna biru +

Filtrat dan residu

Filtrat berwarna biru ++ Residu berwarna biru ++

VI. PembahasanProtein merupakan makromolekul terbanyak yang dapat ditemui dalam sel hidup, yang merupakan komponen penting dan utama untuk sel hewan dan sel manusia. Protein dapat diisolasi dari seluruh sel ke bagian sel. Dalam hal ini, protein mempunyai peranan penting dalam biologi yang sangat penting, sebagai zat pembenfuk, transport, katalisataor reaksi kimia, hormon, racun, dan yang lainnya. Protein ini mempunyai empat fungsi utamanya yaitu untuk memperbaiki jaringan yang rusak untuk pertumbuhan jaringan baru, sebagai enzim, dan sebagai hormone . (Mandle, 2012).Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menguji sifat-sifat dari protein. Dengan cara Uji Ninhidrin, Uji Xanthoproteat, Uji Belerang, Penggaraman (Salting Out), serta Uji Alkohol (staf pengajar, 2016).1. Uji NinhidrinUji ninhidrin merupakan uji yang digunakan untuk mengidentifikasi asam amino bebas yang terdapat dalam sampel. Ninhidrin adalah reagen yang berguna untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik dan bila bereaksi dengan asam amino akan menghasilkan warna ungu pada sampel yang diuji. Zat yang akan diujikan pada percobaan ini adalah albumin telur ayam ras, urea, kasein, dan fenol. Dalam uji ini digunkan larutan ninhidrin ( 2,2-dihidroksiindan-1,3-dion) merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk mendeteksi gugus amina dalam molekul asam amino. Asam amino bereaksi dengan ninhidrin membentuk aldehid dan satu atom C lebih rendah dan melepaskan molekl NH3 dan CO2. Ninhidirn yang telah bereaksi akan membentuk hidrindantin. Uji positif dari uji ninhidirin adalah ditandai dengan terbentuknya kompleks berwarna biru/keunguan yang disebabkan oleh molekul ninhidirn dan hidrindantin yang bereaksi dengan NH3 setelah asam amino tersebut dioksidasi ( Silvia, 2013)Perlakuan pertama pada uji ini adalha memasukkan 2 mL albumin telur ke dalam tabung reaksi kemudian menambahkan 5 tetes ninhidrin. Fungsi penambahan ninhidrin yaitu untuk menidentifikasi asam amino dan menentukan warna akhir dari albumin yang akan di uji sehingga di peroleh warna larutan yaitu ungu muda. Selanjutnya yaitu melakukan langkah di atas dengan mengganti sampel albumin dengan larutan urea, larutan casein dan larutan fenol. Hasil yang di peroleh untuk ketiga larutan tersebut yaitu untuk larutan urea berwarna bening kekuningan, larutan casein berwarna ungu tua dan larutan fenol berwarna bening. Dari hasil yang di peroleh ternyata larutan casein, albumim telur, dan larutan urea yang menghasilkan warna pada uji ini sedangkan untuk larutan fenol tidak menghasilkan warna.hal ini dikarenakan pada urea,casein dan albumin telur mengandung asam amino sedangkan fenol tidak. Jadi, zat warna ungu yang sama dihasilkan dari semua asam amino dengan gugus amino primer dan intensitas warnanya berbanding lurus dengan konsentrasi asam amino yang ada (Hart, 2003).2. Uji XanthoproteatUji Xanthoproteat adalah uji terhadap protein yang mengandung gugus fenil (cincin benzene). Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukan 2 ml albumin telur ayam ras ke dalam tabung kemudian menambahkan 1 ml larutan HNO3 7 M dan di peroleh hasil yaitu terdapat gumpalan putih. Fungsi penambahan larutan HNO3 7 M yaitu untuk merubah pH dari sampel sehingga memicu terjadinya denaturasi pada protein yang ada dalm sampel.Selanjutnya memanaskan larutan selama beberapa menit sehingga di peroleh hasil yaitu terdapat padatan putih dan terdapat padatan kuning pada larutan. Fungsi dari pemanasan yaitu untuk mempercepat proses reaksi larutan serta memicu terbentuknya warna kuning. Selanjutnya yaitu menambahkan tetes demi tetes larutan NaOH 2 M ke dalam tabung dan di peroleh hasil yaitu padatan yang tadinya berwarna kuning berubah menjadi jingga. Fungsi dari penambahan larutan NaOH 2 M yaitu untuk mendenaturasikan protein yang di uji (Girindra, 1986).Perlakuan selanjutnya melakukan langkah di atas dengan mengganti sampel albumin dengan larutan urea, larutan casein, dan larutan fenol. Hasil yang di peroleh untuk laritan urea yaitu pada setiap perlakuan menghasilkan larutan yang berwarna bening, untuk larutan kasein pada setiap perlakuannya larutan selalu berwarna keruh sedangkan untuk larutan fenol pada saat penambahan larutan HNO3 7 M larutan bening, pada saat dipanaskan larutan berwarna kuning dan pada saat penambahan larutan NaOH larutan berwarna hijau tua. 3. Uji BelerangIkatan disulfida merupakan jenis ikatan kovalen lain yang dimiliki oleh peptide dan asam amino dalam protein . Langkah pertama yang dilakukan pada uji ini yaitu mengambil 2 mL albumin telur kemudian memasukkannya ke dalam tabung reaksi. Selanjutnya menambahkan 5 mL NaOH 2 M sehingga menghasilkan larutan bening. Fungsi penambahan NaOH yaitu untuk mendenaturasikan Langkah selanjutnya yaitu memanaskan campuran sehingga menghasilkan larutan berwarna kuning. Fungsi pemanasan yaitu untuk mempercepat terjadinya reaksi. Selanjutnya menambahkan 2 tetes Pb asetat dan menghasilkan larutan berwarna merah kehitaman. Fungsi penambahan Pb asetat yaitu sebagai donor Pb+.untuk mengikat S dan membentuk PbS yang memutus jembatan disulfida pada protein Langkah terakhir yaitu memanaskan kembali campuran dan menghasilkan larutan yang menggumpal (Girindra, 1986).Perlakuan selanjutnya yaitu melakukan langkah di atas dengan mengganti sampel albumin dengan larutan urea, larutan kasein, dan larutan fenol. Hasil yang diperoleh untuk ketiga sampel larutan tersebut pada setiap penambahan larutan NaOH, Pb asetat serta pada pemanasan yaitu larutan bening.4. Penggaraman Protein (Salting Out)Kebanyakan protein (terutama protein Globular) di dalam air akan membentuk koloid hidrofil. Karena itu, faktor pengendapan pengendapan koloid berlaku pula pada protein. Pada percobaan ini kami menggunakan putih telur dan gelatin sebagai sampel proteinnya. Protein-protein ini bersifat khas yaitu pada titik isoelektriknya menghasilkan larutan yang mantap dan tetap larut dalam air (staf pengajar, 2016).Langkah pertama yang dilakukan yaitu mula-mula memasukkan 5 ml albumin telur bebek kedalam tabung. Sumber protein untuk sampel didapatkan dari albumin telur bebek, telur itik, telur puyuh, telur ayam kampung dan telur ayam ras. Dimana Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Setelah itu, menambahkan padatan NH4Cl sebanyak 5 gram, kemudian menusuk-nusuk larutan tersebut selama 2 menit. Tujuan penambahan NH4Cl pada percobaan ini adalah untuk mengendapkan protein sedangakan tujuan dari penusuk-nusukan yaitu untuk memicu terbentuknya gumpalan putih pada sampel. Selanjutnya menyaring larutan tersebut dengan tujuan untuk memisahkan filtrat dan residunya. Kemudian filtrat dan residu yang dihasilkan diuji dengan uji biuret dengan cara menambahkan 3 tetes biuret ke dalam sampel. Dimana Biuret merupakan senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua molekul urea. Adapun tujuan dilakukan uji biuret adalah untuk menentukan adanya ikatan peptida. Ion Cu2+ dari pereaksi biuret dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Dari hasil pengamatan, setelah residu dan filtrat diuji dengan uji biuret diperoleh warna biru (+++) pada filtrat maupun pada residu.Perlakuan selanjutnya yaitu mengulangi perlakuan di atas dengan telur itik, telur puyuh, telur ayam kampung dan telur ayam ras. Hasil yang diperoleh untuk telur itik yaitu larutan berwarna biru (++++) pada filtrat maupun pada residu, untuk telur puyuh larutan berwarna biru (+++++) pada filtrat maupun residu, untuk telur ayam kampung larutan berwarna biru (++) pada filtrat maupun pada residu dan untuk telur ayam ras larutan berwarna biru (+) baik pada filtrat maupun pada residu. Berdasarkan percobaan, albumin telur hanya mengandung sedikit ikatan peptida, warna biru yang dihasilkan berasal dari ion Cu2+ pada biuret. Hasil yang diperoleh pada percobaan berbeda dengan literatur, dimana pada literatur jika pada uji biuret menunjukkan warna ungu atau merah muda berarti mengandung ikatan peptida. Ikatan peptida hanya terbentuk apabila ada dua atau lebih asam amino esensial yang bereaksi. Pada uji biuret, semua protein yang diujikan memberikan hasil positif berwarna ungu. Warna ungu, terbentuk karena ion Cu2+ (yang dihasilkan dari Cu2SO4) dari pereaksi biuret dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet (Girindra, 1986).5. Uji Alkohol Pengendapan protein dilakukan dengan denaturasi protein. Denaturasi dapat dilakukan akibat adanya perubahan pH, temperature, dan penambahan senyawa kimia. Penambahan pelarut organik akan menggantikan beberapa molekul air di sekitar daerah hidrofob dari permukaan protein yang berasosiasi dengan protein sehingga menurunkan konsentrasi air dalam larutan. Dengan demikian kelarutan protein akan menurun dan memungkinkan terjadinya pengendapan (Muslim, 2010).Langkah pertama yang dilakukan yaitu mula-mula memasukkan 5 ml albumin telur bebek kedalam tabung. Sumber protein yang digunakan pada percobaan ini adalah albumin telur bebek, telur itik, telur puyuh, telur ayam kampung dan telur ayam ras. Dimana albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Setelah itu, menambahkan 20 mL larutan etanol ke dalam tabung reaksi, kemudian menusuk-nusuk larutan tersebut selama 2 menit. Tujuan penambahan larutan etanol yaitu untu memicu terbentuknya pengendapan pada sampel protein yang diuji sedangakan tujuan dari penusuk-nusukan yaitu untuk memicu terbentuknya gumpalan putih pada sampel. Selanjutnya menyaring larutan tersebut dengan tujuan untuk memisahkan filtrat dan residunya. Kemudian filtrat dan residu yang dihasilkan diuji dengan uji biuret dengan cara menambahkan 3 tetes biuret ke dalam sampel. Dimana Biuret merupakan senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua molekul urea. Adapun tujuan dilakukan uji biuret adalah untuk menentukan adanya ikatan peptida. Ion Cu2+ dari pereaksi biuret dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet.. hasil yang diperoleh setelah residu dan filtrat diuji dengan uji biuret diperoleh warna biru (+++) pada filtrat maupun pada residu.Perlakuan selanjutnya yaitu mengulangi perlakuan di atas dengan telur itik, telur puyuh, telur ayam kampung dan telur ayam ras. Dari hasil pengamatan pada saat penambahan larutan etanol untuk setiap sampel terbentuk sedikit gumpalan putih dan pada saat dilakukan penusuk-nusukan pada setiap sampel menghasilkan gumpalan yang brwarna putih. Untuk hasil uji biuret yang diperoleh untuk telur itik yaitu larutan berwarna biru (++++) pada filtrat maupun pada residu, untuk telur puyuh larutan berwarna biru (+++++) pada filtrat maupun residu, untuk telur ayam kampung larutan berwarna biru (++) pada filtrat maupun pada residu dan untuk telur ayam ras larutan berwarna biru (+) baik pada filtrat maupun pada residu. Berdasarkan percobaan, albumin telur hanya mengandung sedikit ikatan peptida, warna biru yang dihasilkan berasal dari ion Cu2+ pada biuret. Hasil yang diperoleh pada percobaan berbeda dengan literatur, dimana pada literatur jika pada uji biuret menunjukkan warna ungu atau merah muda berarti mengandung ikatan peptida. Ikatan peptida hanya terbentuk apabila ada dua atau lebih asam amino esensial yang bereaksi. Pada uji biuret, semua protein yang diujikan memberikan hasil positif berwarna ungu. Warna ungu, terbentuk karena ion Cu2+ (yang dihasilkan dari Cu2SO4) dari pereaksi biuret dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet (Girindra, 1986).Jadi pada percobaan ini didapatkan urutan sampel yang memiliki kadar protein dari yang tertinggi kerendah yaitu telur puyuh >telur itik>telur bebek>telur ayam kampung>telur ayam ras. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa kandungan protein dalam masing-masing telur sebagai berikut telur puyuh 13,4 mg, telur itik 13,3 mg, telur bebek 13,2 mg, telur ayam kampung 13,1 mg dan tlur ayam ras 12,7 mg ( Rismka,2009).

VII. KesimpulanKesimpulan yang diperoleh pada percobaan ini adalah sebagai berikut :1. Protein merupakan polimer yang tersusun dari asam amino sebagai monomernya2. a. Uji NinhidrinSemua senyawa/protein yang mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan gugus amina bebas akan bereaksi dengan ninhidrin menghasilkan CO2.b. Uji Xantoproteat Warna yang terbentuk dalam uji xantoproteat disebabkan oleh nitrasi cincin benzen oleh asam nitrat pekat.c. Uji Belerang Dalam larutan basa, belerang yang berasal dari sistein akan bereaksi dengan Pb asetat membentuk gas PbS yang berwarna hitam.d. Penggaraman proteinProtein dapat pula diendapkan atas dasar sifat-sifatnya seperti koloid. Bentuk dan sifat protein dalam pengendapan ini tetap utuh. Penambahan larutan garam sampai jenuh akan mengendapkan albumin.e. Pengaruh penambahan alkoholProtein dapat pula diendapkan atas dasar sifat-sifatnya seperti koloid. Bentuk dan sifat protein dalam pengendapan ini tetapi penambahan alkohol absolut sampai jenuh akan mengendapkan albumin.3. Jumlah protein yang terdapat dalam sampel telur yang digunakan pada uji penggaraman secara berurutan adalah telur puyuh > telur itik > telur bebek > telur ayam kampung > telur ayam ras4. Jumlah protein yang terdapat dalam sampel telur yang digunakan pada uji alkohol absolut secara berurutan adalah telur puyuh > telur itik > telur bebek > telur ayam kampung > telur ayam ras.DAFTAR PUSTAKAGirindra, Aisjah. (1986). Biokimia 1. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.Hart, Harold et al. (2003). Kimia Organik. Suminar Setiadi Achmadi, penerjamah; Jakarta (ID): Erlangga.Mandle, Ari Kumar., Pranita Jain., Shailendra K.S. (2012). Protein Structure Prediction Using Support Vector Machine. International Journal on Soft Computing ( IJSC ) Vol.3, No.1

Muslim, Wahyuew. (2010). Resipitasi Plasma Protein Untuk Uji Farmakokinetik. http://farmasi07itb.wordpress.com/2010/03/13/presipitasi-plasma-protein-untuk-uji-farmakokinetik/. 26 November 2016. Rismaka. (2009). Uji Kualitatif Protein dan Asam Amino. http://www.rismaka.net/2009/06/uji-kualitatif-protein-dan- asam-amino.html. Diaksess pada tanggal 26 November 2016.Silvia. (2013). Protein dan Asam Amino. http://calmjy.wordpress. com/2013/06/22/ protein-dan-asam-amino.html. Diakses pada tanggal 26 November 2016.Sumardjo, Damin. (2006). Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Progam Srata 1 Bioeksakta. Jakarta : Buku Kedokteran EGCStaf Pengajar. (2016). Penuntun Praktikum Biokimia Dasar. Palu: Universitas Tadulako. Kuchel, Philip dan Gregory B Ralston. 2002. Schaums Easy Outlines Biochemistry. USA : McGraw-Hill Companies.Whitford, David. (2005). Protein Structure and Function. England : John Willey and Sons.Yuwono, Tribowo. (2010). Biologi Molekular. Jakarta : Erlangga