Laporan Praktikum Shampo Fix

download Laporan Praktikum Shampo Fix

of 40

  • date post

    29-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    711
  • download

    33

Embed Size (px)

description

n

Transcript of Laporan Praktikum Shampo Fix

  • LAPORAN PRAKTIKUM

    PEMBUATAN SHAMPO MOBIL / MOTOR

    OLEH

    KELOMPOK 6

    KELAS A

    ANDI MULYA ADHA (1107111940)

    JHON FERY MARIHOT (1107114137)

    NUR KHAIRIATI (1107114208)

    SASTRA SILVESTER (1107114148)

    TEDDY PRATAMA (1107114357)

    JURUSAN TEKNIK KIMIA

    FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU

    PEKANBARU

    2012

  • ABSTRAK

    Seiring pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, kebutuhan akan pembersih

    atau shampo untuk mencuci kendaraan juga meningkat. Shampo mengangkat

    noda dan kotoran yang terdapat pada body motor atau mobil. Salah satu komposisi

    shampo yang terpenting adalah surfaktan. Surfaktan adalah surface active agent

    yang memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat

    mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Untuk menambah

    nilai jual ditambahkan bahan pewarna dan pewangi. Pada percobaan ini digunakan

    surfaktan LABSNa sebanyak 50 gram, SLS 15 gram, NaOH 35% sebanyak 10

    gram. Shampo yang dihasilkan berwarna hijau, berbusa banyak tetapi encer

    karena perbandingan LABS dan SLS tidak sesuai. Densitas shampo yang

    dihasilkan adalah 0,937 gr/ml. Hasil uji aplikasi , shampo melewati batas antara

    minyak dan air selama 3 detik.

    Kata kunci : Densitas, LABS, SLS, Surface active agent

    ABSTRACT

    Following the growth of vehicle quantity , demand for cleaner or shampoo to

    wash it also getting higher. Shampoo removing the stain and impurity that

    contaminate the body of the vehicle. One of important composition in the

    shampoo is surfactant . Surfactant is surface active agent that has hydrophilic and

    lyophobic as a result , it can sheaf oil and water. To increase the cos of the

    shampoo , we add dye and fragrance. In this experiment we use LABSNa as

    surfactant 50 grams, SLS 15 grams, NaOH 35 % 10 grams. The result is green

    shampoo , much foams but watery because comparison between the LABS and

    SLS in not appropriate. The density is 0,937 gr/ml. Application test shows that the

    shampoo need 3 seconds to pass boundary between oil and water.

    Keyword : Density, LABS, SLS, Surface active agent.

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Dewasa ini jika kita perhatikan di sekitar kita banyak sekali masyarakat

    yang mempunyai sepeda motor ataupun mobil. Ini adalah peluang bisnis sebab

    bagaimanapun juga mobil ataupun sepeda motor perlu dibersihkan dari kotoran-

    kotoran yang melekat. Jika kita perhatikan juga banyak terutama di kota-kota

    besar tempat-tempat pencucian sepeda motor umumnya dan pencucian mobil

    khususnya. Mereka sudah tahu pembersih yang tepat untuk sepeda motor ataupun

    mobil adalah shampo. Bagi mereka yang tidak tahu bila menggunakan pembersih

    selain shampo, akan dapat merusak cat sepeda motor maupun cat mobil.

    Untuk membersihkan/mencuci mobil atau sepeda motor tidak boleh

    memakai sabun sembarangan apa lagi menggunakan sabun colek atau deterjen,

    hal ini akan dapat merusak cat mobil atau sepeda motor. Karena didalam

    pembuatan sabun colek atau deterjen terdapat soda api (NaOH) maupun bahan-

    bahan yang mengandung natrium (Na). Hal ini bisa kita rasakan sewaktu kita

    menggegam deterjen akan terasa panas ditangan. Ini membuktikan adanya reaksi

    bahan-bahan yang unsur Na dengan air (H2O) akan membentuk NaOH (tangan

    kita ada unsur airnya) sehingga tangan kita akan terasa panas. Bahan kimia ini

    yang dapat merusak cat motor atau mobil anda, cat akan terkikis menjadi pudar

    dan akhirnya menghilang, hal ini sering kita jumpai pada sepeda motor. Untuk itu

    sebaiknya gunakan shampoo mobil saja.

    1.2 Tujuan Praktikum

    a. Mempelajari cara pembuatan shampoo motor / mobil.

    b. Menentukan karakteristik shampoo motor atau mobil dan bagaimana

    kinerjanya.

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Surfaktan

    2.1.1 Pengertian Surfaktan

    Surfaktan merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki gugus

    hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang

    terdiri dari air dan minyak. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan. Aktifitas

    surfaktan diperoleh karena sifat ganda dari molekulnya. Molekul surfaktan

    memiliki bagian polar yang suka akan air (hidrofilik) dan bagian non polar yang

    suka akan minyak/lemak (lipofilik). Bagian polar molekul surfaktan dapat

    bermuatan positif, negatif atau netral. Sifat rangkap ini yang menyebabkan

    surfaktan dapat diadsorbsi pada antar muka udara-air, minyak-air dan zat padat-

    air, membentuk lapisan tunggal dimana gugus hidrofilik berada pada fase air dan

    rantai hidrokarbon ke udara, dalam kontak dengan zat padat ataupun terendam

    dalam fase minyak. Umumnya bagian non polar (lipofilik) adalah merupakan

    rantai alkil yang panjang, sementara bagian yang polar (hidrofilik) mengandung

    gugus hidroksil (Jatmika, 1998).

    2.1.2 Sifat - Sifat Surfaktan

    A. Sifat sifat umum surfaktan

    Sifat sifat umum surfaktan adalah :

    1. Sebagai larutan koloid

    Mc. Bain telah membuktikan bahwa larutan zat aktif permukaan larutan

    koloid. Molekul-molekulnya terdiri dari gugus yang hidrofil (suka air) dan gugus

    yang hidrofob (tak suka air). Pada konsentrasi tinggi partikel koloid ini akan

    saling menggumpal, gumpalan ini disebut misel atau agregat baik berbentuk

    sferik/ S (daya hantar listriknya tinggi) atau lamelar/ L (daya hantar listriknya

    kecil disebut juga koloid netral) dan ada dalam kesetimbangan bolak balik

    dengan sekitarnya (pelarut atau dispersi larutan). Kesetimbangan ini akan

    mencapai konsentrasi kritik misel menurut aturan Jones dan Burry.

  • 2. Adsorpsi

    Apabila larutan mempunyai tegangan permukaan lebih kecil daripada

    pelarut murni, zat terlarut akan terkonsentrasi pada permukaan dan terjadi

    adsorpsi positif. Sebaliknya adsorpsi negatif menunjukkan bahwa molekul-

    molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga larutan daripada

    dipermukaan.Hubungan antara derajat penyerapan dan penurunan tegangan

    permukaan dinyatakan dalam persamaan Gibbs.

    3. Kelarutan dan daya melarutkan

    Murray dan Hartly dalam pernyataanya menunjukkan bahwa partikel-

    partikel tunggal relatif tidak larut, sedangkan misel mempunyai kelarutan

    tinggi.Makin panjang rantai hidrokarbonnya, makin tinggi temperatur kritik

    larutan.

    B. Sifat Sifat Khusus Surfaktan

    Sifat sifat khusus surfaktan adalah :

    1. Pembasahan

    Perubahan dalam tegangan permukaan yang menyertai proses pembasahan

    dinyatakan oleh Hukum Dupre.

    2. Daya Busa

    Busa ialah dispersi gas dalam cairan dan zat aktif permukaan memperkecil

    tegangan antarmuka, sehingga busa akan stabil, jadi surfaktant mempunyai

    daya busa.

    3. Daya Emulsi

    Emulsi adalah suspensi partikel cairan dalam fasa cairan yang lain, yang

    tidak saling melarutkan. Sama hanya dengan pembasahan, maka surfaktant

    akan menurunkan tegangan antarmuka, sehingga terjadi emulsi yang stabil.

  • 2.1.3 Klasifikasi Surfaktan

    Sifat dari pada zat aktif permukaan bergantung pada macamnya gugus

    hidrofil, yang dapat dibagi sebagai berikut :

    A. Surfaktan anionik

    Surfaktan anionik merupakan surfaktan dengan bagian aktif pada

    permukaannya mengandung muatan negatif. Contoh dari jenis surfaktan

    anionik adalah Linier Alkyl Benzene Sulfonat (LAS), Alkohol Sulfat (AS),

    Alkohol Eter Sulfat (AES), Alpha Olefin Sulfonat (AOS).

    B. Surfaktan kationik

    Surfaktan ini merupakan surfaktan dengan bagian aktif pada

    permukaannya mengandung muatan positif.Surfaktan ini terionisasi dalam

    air serta bagian aktif pada permukaannya adalah bagian kationnya.Contoh

    jenis surfaktan ini adalah ammonium kuarterner.

    C. Surfaktan nonionik

    Surfaktan yang tidak terionisasi di dalam air adalah surfaktan

    nonionik yaitu surfaktan dengan bagian aktif permukaanya tidak

    mengandung muatan apapun, contohnya: alkohol etoksilat, polioksietilen

    (R-OCH2CH).

    D. Surfaktan ampoterik

    Surfaktan ini dapat bersifat sebagai non ionik, kationik, dan

    anionik di dalam larutan, jadi surfaktan ini mengandung muatan negatip

    maupun muatan positip pada bagian aktif pada permukaannya. Contohnya:

    Sulfobetain (RN+(CH3)2CH2CH2SO

    3- (Zulfikar, 2011).

    Gambar 2.1 Struktur Surfaktan

    ANIONIK

    KATIONIK

    AMFOTER

    NON IONIK

  • 2.1.4 Contoh - contoh Surfaktan

    A. Alkil Benzena Sulfonat (ABS).

    Proses pembuatan ABS ini adalah dengan mereaksikan Alkil benzena

    dengan Belerang trioksida, asam Sulfat pekat atau Oleum. Reaksi ini

    menghasilkan Alkil Benzena Sulfonat. Jika dipakai Dodekil benzena maka

    persamaan reaksinya adalah

    C6H5C12H25 + SO3 C6H4C12H25SO3H

    (Dodekil Benzena Sulfonat)

    Reaksi selanjutnya adalah netralisasi dengan NaOH sehingga dihasilkan

    Natrium Dodekil Benzena Sulfonat.

    B. Linear Alkil Benzene Sulfonat (LAS).

    Proses pembuatan (LAS) adalah dengan mereaksikan Lauril Alkohol

    dengan asam Sulfat pekat menghasilkan asam Lauril Sulfat dengan reaksi:

    C12H25OH + H2SO4 C12H25OSO3H + H2O

    C12H25OSO3H + NaOH

    Gambar 2.2 Struktur C12H25OH

    Molekul LAS berisi cincin aromatik tersulfonasi pada posisi para dan

    melekat pada rantai alkil linier di setiap posisi kecuali karbon

    terminal.Rantai k