Laporan Praktikum Farmakologi II

download Laporan Praktikum Farmakologi II

of 48

  • date post

    04-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    435
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Praktikum Farmakologi II

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGIOBAT ANTITUBERKULOSIS DAN OBAT ANTI ASMA

Asisten:Nur Huda Satria Kusuma Kelompok IIG1A009002AULIA DYAH FEBRIANTI

G1A009012NOVIA MANTARI

G1A009022ROSTIKAWATY AZIZAH

G1A009032YULITA SWANDANI AZIZ

G1A009042KINANTHI CAHYANING U.

G1A009101FAIDH HUSNAN

G1A009111ARGO MULYO

G1A009121UNGGUL ANUGRAH PEKERTI

G1A009127HAFIDH RIZA PERDANA

G1A009131HERIYANTO EDY I.

G1A009136KHAFIZATI AMALINA FR

BLOK RESPIRASIFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATANJURUSAN PENDIDIKAN DOKTERUNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMANPURWOKERTO

2011LEMBAR PENGESAHAN

Oleh :Kelompok IIG1A009002AULIA DYAH FEBRIANTI

G1A009012NOVIA MANTARI

G1A009022ROSTIKAWATY AZIZAH

G1A009032YULITA SWANDANI AZIZ

G1A009042KINANTHI CAHYANING U.

G1A009101FAIDH HUSNAN

G1A009111ARGO MULYO

G1A009121UNGGUL ANUGRAH PEKERTI

G1A009127HAFIDH RIZA PERDANA

G1A009131HERIYANTO EDY I.

G1A009136KHAFIZATI AMALINA FR

disusun untuk memenuhi persyaratanmengikuti ujian praktikum Farmakologi Blok RespirasiJurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu KesehatanUniversitas Jenderal SoedirmanPurwokerto

diterima dan disahkanPurwokerto, April 2011Asisten,

Nur Huda Satria KusumaNIM. ..............

BAB IPENDAHULUANI. Judul PraktikumObat Tuberkulosis dan Obat Anti AsmaII. Tanggal PraktikumRabu, 20 April 2011III. Tujuan Praktikuma. Tujuan UmumMahasiswa mampu menjelaskan macam-macam obat antituberkulosis dan obat anti asmab. Tujuan Instruksional Khusus1. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme kerja obat antituberkulosis. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam bentuk sediaan obat antituberkulosis.3. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip pengobatan tuberkulosis.4. Mahasiswa mengetahui efek samping obat antituberkulosis.5. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme kerja obat antiasma.6. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam bentuk sediaan obat antiasma. 7. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip pengobatan asma.8. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip pengobatan status asmatikus.9. Mahasiswa mengetahui efek samping obat antiasma.10. Mahasiswa mampu membuat peresepan untuk obat antituberkulosis dan obat antiasma.IV. Binatang / Responden PercobaanTidak ada

V. Definisia. OATObat anti tuberkulosis (OAT) merupakan suatu obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit tuberkulosis. Tujuan pemberian obat anti tuberkulosis adalah untuk menyembuhkan pasien TB, mencegah kematian atau bahaya lanjutan, mencegah kekambuhan, dan mencegah penularan tuberkulosis terhadap orang lain (FK UNSRI, 2007).b. OAT KDTTablet OAT - KDT terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien (Depkes RI, 2007).Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 4 macam OAT yaitu rifampisin 150 mg, isoniasid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg. Rekomendasi WHO tahun 1999 kombinasi dosis tetap diberikan berdasarkan berat badan untuk dewasa dan dosis anak. Pada saat ini Kombinasi Dosis Tetap yang ada di Indonesia hanya terdapat RHZE dan RH (Soepandi, 2009).c. OAT KombipakAdalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT (Depkes RI, 2007).d. BakterisidMemiliki kemampuan membunuh bakteri. Jadi dalam keadaan ini bakteri mulai berkurang bahkan sampai habis. Mekanismenya bisa bekerja pada bakteri yang sedang tumbuh dan pada bakteri yang sedang dalam fase istirahat (FK UNSRI, 2009)e. BakteriostatikMenghambat atau menghentikan pertumbuhan bakteri, dalam keadaan ini bakteri jumlahnya tetap dan tidak bisa berkembang biak lagi. Sehingga bakteri ini mampu mengurangi penyebaran infeksi ke seluruh tubuh (FK UNSRI, 2009).VI. Dasar Teoria. Komponen Obat1) OATTerdiri dari obat lini pertama dan obat lini keduaObat lini pertama1. Lini pertama : a. Rifampisin (R)b. INH (H)c. Pirazinamid (Z) d. Etambutol (E)e. Streptomisin (S) (Setiabudi, Riyanto dkk. 2007)2. Lini kedua : a. suntikan ( kanamisin, kapreomisin, amikasin )b. fuorokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin)c. tionamid ( etionamid, protionamid )d. sikloserine. paraaminosalisilat (Setiabudi, Riyanto dkk. 2007)Panduan OAT yang digunakan di Indonesia WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease)a) Kategori I:1. 2HRZE/4H3R3 2. 2HRZE/4HR 3. 2HRZE/6HE Kategori tersebut untuk pasien dengan kasus:1. TB Paru BTA (+) kasus baru 2. TB Paru BTA (-), R (+) lesi luas / sakit berat 3. TB ekstra paru (Depkes RI, 2007)b) Kategori II:1. 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 2. 2HRZES/HRZE/5HRE (Depkes RI, 2007)Kategori tersebut untuk pasien dengan kasus pasien BTA (+) yang telah diobati sebelumnya: 1. Pasien kambuh 2. Pasien gagal 3. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default) (Depkes RI, 2007)c) Kategori III:1. 2HRZ/4H3R3 2. 2HRZ/4HR 3. 2HRZ/6HE Kategori tersebut untuk pasien dengan kasus:1. Penderita baru BTA (-), Ro (+) sakit ringan 2. TB ekstra paru sakit ringan (KGB, pleuritis unilateral, kulit, tulang, sendi, kelenjar adrenal ) (DEPKES RI, 2007)d) Panduan OAT yang digunakan oleh Program NasionalPenanggulangan TB di Indonesia: 1. Kategori 1 : 2HRZE/4(HR)3. 2. Kategori 2 : 2HRZES/(HRZE)/5(HR)3E3 Panduan OAT Sisipan : HRZE OAT Anak : 2HRZ/4HR2) Obat AsmaTerdiri dari:1. Simpatomimetika Terdiri dari:1) 2 agonis: salbutamol, prokaterol,albuterol, metoproterenol, terbutaline, salmeterol 2) 1 agonis: epinephrine, ephedrine, isoproterenol 2. Derivat xanthine (theofilin dan aminofilin)3. Kortikosteroid (prednisone, dexamethasone, prednisolone, cortisone, triamcinolone, metilprednisolone)4. Biskromones: kromolyn, ketotifen. 5. Antikolinergik (ipratropium bromide, oxytropium bromide, tiotropium bromide) (Depkes RI, 2009).Obat asma terdiri dari golongan pengontrol dan pelega1. Golongan obat pengontrol (anti inflamasi)a. Steroid inhalasi (flutikason propionate, budesonide)b. Antileukotrien (zafirlukast)c. Kortikosteroid sistemik (metilprednisolone, prednisolone)d. 2 agonis kerja lama (prokaterol,formoterol,salmeterol)e. Kombinasi steroid dan 2 agonis kerja lama (flutikason + salmeterol, budesonide+ formoterol) (DEPKES RI, 2009)2. Golongan obat pelega (bronkodilator)a. 2 agonis kerja cepat (salbutamol, terbutalin, prokaterol, fenoterol)b. antikolinergik (ipratropium bromide, oxytropium bromide, tiotropium bromide)c. Derivat xanthine (theofilin dan aminofilin)d. Kortikosteroid sistemik (metilprednisolone, prednisone) (Depkes RI, 2009).b. Penjelasan obat OAT & Anti AsmaObat OAT yang dijelaskan disini adalah obat OAT lini pertama, yaitu INH, Rifampisin, Etambutol, Pirazinamid, dan Streptomisin. Sementara obat asma yang dijelaskan adalah fenoterol dan aminofilin.1. Isoniazida) Bentuk sediaan obatBentuk sediaan isoniazid adalah tablet dan sirup. Dalam bentuk tablet 50, 100, 300 dan 400 mg sedangkan pada sediaan sirup 10mg/mL. Dalam tablet kadang-kadang telah ditambahkan vit B6. Isoniazid biasanya diberikan dalam dosis tunggal per orang tiap hari. Dosis biasa 5 mg/kgBB, maksimum 300 mg/hari. Untuk TB berat dapat diberikan 10 mg/kgB, maksimumnya 600 mg/hari. Anak dibawah 4 tahun dosisnya 10 mg/kgBB/hari. Isoniazid juga dapat diberikan secara intermiten 2 kali seminggu dengan dosis 15 mg/kgBB/hari. b) Farmakokinetika. AbsorbsiIsoniazid mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar puncak dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral (Istiantoro,2009).b. Metabolisme Di hati, isoniazid mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik. Pada pasien yang tergolong asetilator cepat, kadar isoniazid dalam sirkulasi berkisar antara 30-50% kadar pasien dengan asetilator lambat. Masa paruhnya pada keseluruhan populasi antara 1-4 jam. Masa paruh rata-rata pada asetilator cepat hampir 70 menit, dan pada asetilator lambat antara 2-5 jam. Masa paruh akan memanjang bila terjadi insufisiensi hati (Istiantoro,2009).c. Distribusi Isoniazid mudah berdifusi ke dalam sel dan semua cairan tubuh. Obat terdapat dengan kadar yang cukup dalam cairan pleura dan cairan asites. Kadar dalam cairan serebrospinal pada radang selaput otak kira-kira sama dengan kadar dalam cairan plasma. Isoniazid mudah mencapai material kaseosa. Kadar obat ini mulanya lebih tinggi dalam plasma dan otot daripada dalam jaringan yang terinfeksi, tetapi kemudian obat tertinggal lama di jaringan yang terinfeksi dalam jumlah yang lebih dari cukup sebagai bakteriostatik (Istiantoro,2009).d. Ekskresi 75-95% diekskresi melalui urin dalam waktu 24 jam dan hampir seluruhnya dalam bentuk metabolit (Istiantoro,2009).a) Ekskresi utama : asetil isoniazid dan asam isonikotinat.b) Sejumlah kecil : isonikotinil glisin dan isonikotilin hidrazon.c) Jumlah sangat kecil : N-metil isoniazid.c) FarmakodinamikIsoniazid bersifat bakterisid dan menghambat sintesis asam mikolat yang merupakan komponens penting dalam dinding sel mikobakteri. Isoniazid yang merupakan pr diaktivasi oleh KatG, peroksidase katalase mikobakteri. Bentuk aktif dari isoniazid akan membentuk komplek kovalen dengan protein pembawa-asil atau acyl carrier protein (AcpM) dan KasA (beta-ketoacyl carrier protein synthetase) yang akan memberikan efek letal dengan cara menyekat sintesis asam mikolat. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh methanol dari mikobakterium (Chambers, Henry F., 2002).Efek bakterisid hanya terlihat pada kuman yang sedang tumbuh aktif. Mikroorganisme yang istirahat akan mulai membelah lagi jika pengobatan dihentikan.Mekanisme resistensi isoniazid berhubungan dengan kegagalan obat mencapai kuman, ekspresi berlebihan gen inhA, mutasi atau delesi enzim KatG, ekspresi berlebihan gen jefA (Rv2459) pada