LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

download LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

of 36

  • date post

    12-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    377
  • download

    18

Embed Size (px)

Transcript of LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI OBAT ANTI TUBERKULOSIS DAN OBAT ANTI ASMA

Asisten: Khafizati Amalina Fitri Rosadi G1A009136 Kelompok XI Pradani Eva A. Rona Lintang Harini Hesti Putri A. Hayin Naila N. Khoirur Rijal A. Intan Puspita Hapsari Dicky Bramantyo A.P. Keyko Lampita Mariana S. Khairisa Amrina Rosyada Nurul Setyawan G1A010097 G1A010094 G1A010099 G1A010102 G1A010106 G1A010109 G1A010113 G1A010074 G1A010039 G1A008091

BLOK RESPIRASI JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

LEMBAR PENGESAHAN

Oleh : Kelompok XI Pradani Eva A. Rona Lintang Harini Hesti Putri A. Hayin Naila N. Khoirur Rijal A. Intan Puspita Hapsari Dicky Bramantyo A.P. Keyko Lampita Mariana S. Khairisa Amrina Rosyada Nurul Setyawan G1A010097 G1A010094 G1A010099 G1A010102 G1A010106 G1A010109 G1A010113 G1A010074 G1A010039 G1A008091

disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian praktikum Farmakologi Blok Respirasi Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

diterima dan disahkan Purwokerto, 17 Maret 2012 Asisten,

Khafizati Amalina Fitri Rosadi NIM. G1A00913

BAB I PENDAHULUAN Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman tuberculosis (TB) menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus, tidak berspora, tidak berkapsul, berukuran lebar 0,3 0,6 mm dan panjang 1 4 mm. Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan China. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberkulosis merupakan pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia (PDPI, 2006). Asma merupakan sebuah penyakit kronik saluran napas yang terdapat di seluruh dunia dengan kekerapan bervariasi yang berhubungan dengan dengan peningkatan kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang (wheezing), sesak napas (breathlessness), dada rasa tertekan (chest tightness), dispnea, dan batuk (cough) terutama pada malam atau dini hari. Asma merupakan penyakit kronik yang paling umum di dunia, dimana terdapat 300 juta penduduk dunia yang menderita penyakit ini. Asma dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa, dengan prevalensi yang lebih besar terjadi pada anak-anak (PDPI, 2006).

BAB II PEMBAHASAN A. Obat Anti Tuberkulosis 1) Rifampisin a. Jenis Rifampisin merupakan derivate semisintetik rifamisin B yang merupakan salah satu anggota kelompok antibiotik makrosiklik yang disebut rifamisin. Obat ini digunakan sebagai obat anti tuberkulostatik pilihan pertama. Selain itu juga obat ini digunakan untuk terapi pada lepra. Rifampisin merupakan ion zwitter yang larut dalam pelarut organik dan air yang pHnya asam (Schmitz, 2009; Syarif, 2009). b. Farmakodinamik Rifampisin terutama aktif terhadap sel yang sedang bertumbuh. Rifampisin yang berikatan pada subunit menghambat RNA polymerase yang bergantung pada DNA sehingga sintesis RNA diblokir. RNA mitokondria mamalia dapat dihambat oleh rifampisin tetapi diperlukan kadar yang lebih tinggi untuk menghambat kuman (Schmitz, 2009; Syarif, 2009). Efek yang diberikan oleh obat ini adalah bakterisid. Rifampisin merupakan obat anti tuberculosis (OAT) spektrum luas yang selain mampu membunuh Mycobacteria juga dapat membasmi bakteri gram positif dan gram negatif, Klamidia dan dalam konsentrasi yang sangat tinggi (in vitro) juga membasmi virus dan protozoa (Schmitz, 2009). Rifampisin merupakan pemacu metabolism yang kuat sehingga berbagai obat misalnya hipoglikemik oral, kortikosteroid urea yang dan kontrasepsi pada orang oral dengan berkurang diabetes efektifitasnya bila diberikan bersama rifampisin. Sulfonil diberikan mellitus akan berkurang efeknya bila diberikan bersama

dengan rifampisin sehingga harus ditambahkan dosisnya (Syarif, 2009).

c.

Farmakokinetik Kadar puncak dalam plasma darah dicapai dalam waktu 2-4 jam pemakaian oral. Absorbsinya dihambat oleh asam

setelah

aminoparasalisilat. Apabila keduanya harus digunakan bersamaan maka harus diberi jarak 8-12 jam (Syarif, 2009). Masa paruh eliminasi rifampisin bervariasi antara 1,5-5 jam dan akan memanjang bila ada kelainan fungsi hepar. Efek samping dari Rifampisin dapat mengakibatkan air seni menjadi merah. Hal ini terjadi karena rifampisin didistribusi ke seluruh tubuh dengan baik bahkan ke cairan otak. Hal ini harus diberitahukan kepada pasien karena tidak memerlukan penanganan (Syarif, 2009). Tabel 1. Farmakokinetik rifampisin (Syarif, 2009).

d.

Sediaan dan posologi Di Indonesia rifampisin terdapat dalam bentuk kapsul 150 mg dan

300 mg. Selain itu terdapat pula sediaan tablet 450 dan 600 mg serta suspense yang mengandung 100mg/ 5mL rifampisin. Pada beberapa sediaan dikombinasi dengan isoniazid. Obat ini sebaiknya diberikan sehari sekali sebaiknya 1 atau 2 jam sesudah makan. Dosis untuk orang dewasa dengan berat badan kurang dari 50 kg adalah 450g/hari sedangkan untuk yanmg lebih dari 50kg adalah 460mg/hari. Dosis untuk anak-anak adalah 10-20 mg/kgBB per hari dengan dosis maksimum 600 mg/hari (Syarif, 2009). e. Efek Samping 1) Gangguan fungsi hati

2) Keluhan gastrointestinal 3) Gangguan fungsi ginjal 4) Reaksi alergis 5) Efek teratogen pada percobaan hewan f. Indikasi dan Kontraindikasi 1) Tuberkulosis (TB) 2) Leprosy 3) Legionnaire's disease 4) Brucellosis 5) Infeksi stafilokokus f.2. Kontraindikasi 1) Hipersensitif terhadap golongan obat ini 2) Penyakit kuning (jaundice) 3) Severe hepatic disease 4) Gangguan hati yang berat g. Contoh Penulisan Resep Jika berat badan pasien 53 kg dan obat diberikan sebulan, maka resepnya adalah : dr. Pradani Eva Adiningtyas SIP. G1A010097 Perumahan Berkoh Indah Gang 5, Purwokerto Telp. 085726xxxxxx Purwokerto, 15 Maret 2012 R/ Rifampisin mg 650 tab No.XXX S 1dd. Tab I. Pc om. f.1. Indikasi

PPro Usia Alamat : Budi : 45 tahun :Purwokerto

2) Isoniazid a. Jenis Isoniazid merupakan obat yang paling aktif dalam terapi tuberculosis yang disebabkan oleh galur yang rentan. Bentuknya kecil dan larut dengan bebas dalam air (Katzung, 2010). b. Farmakodinamik Isoniazid menghambat sintesis asam mikolat, yang merupakan komponen penting dalam dinding sel mikrobakterium. Isoniazid merupakan precursor obat yang diaktifkan oleh katG, suatu katalaseperoksidase milik mikrobakterium. Bentuk aktif isoniazid membentuk kompleks kovalen dengan protein pembawa-asil (AcpM) dan KasA, suatu sintetase protein pembawa beta-ketoasil, yang menyekat sintesis asam mikolat dan membunuh sel (Katzung, 2010). c. Farmakokinetik Isoniazid cepat diserap dari saluran cerna. Dosis oralnya sebesar 300 mg (5 mg/kg pada anak) mencapai kadar puncak dalam plasma sebesar 3-5 mcg/ml dalam 1-2 jam. Isoniazid mudah berdifusi ke dalam semua cairan tubuh dan jaringan. Metabolisme isoniazid terutama asetilasi oleh N-asetiltransferase hati ditentukan secara genetic. Kadar isoniazid plasma rerata pada asetilator cepat adalah sekitar sepertiga hingga separuh kadar tersebut pada asetilator lambat. Waktu paruh rerata pada keduanya masing-masing sebesar kurang dari 1 jam dan 3 jam. Bersihan isoniazid yang lebih cepat oleh asetilator cepat biasanya tidak berdampak pada terapi jika dosis diberikan setiap hari, tetapi kadarnya bisa saja tidak mencukupi untuk terapi jika obat diberikan sekali seminggu atau jika terjadi malabsorpsi. Metabolit isoniazid dan sejumlah kecil isonazid yang tidak mengalami perubahan diekskresi terutama melalui urin. Dosisnya tidak perlu disesuaikian pada gagal ginjal (Katzung, 2010). d. Sediaan Tablet 50, 100, 300, dan 400 mg

Sirup 10 mg/ml (Syarif, 2009) e. Dosis Dosis isoniazid sebesar 5 mg/kg/hari. Dosis dewasa umumnya 300 mg yang diberikan sekali sehari. Pada keadaan infeksi berat atau malabsorpsi, dosis tersebut dapat diberikan hingga 10 mg/kg/hari. Dosis 15 mg/kg/hari atau 900mg dapat digunakan pada regimen obat yang diberikan dua kali seminggu dalam kombinasi dengan agen antituberkulosis kedua (misalnya rifampisin 600 mg) (Katzung, 2010). f. Efek samping Demam, ruam pada kulit, hepatitis yang dapat disertai hilangnya nafsu makan, mual, muntah, ikterus dan nyeri, neuropati perifer, dan berbagai reaksi lain meliputi kelainan hematologis, tercetusnya anemia defisiensi piridoksin, tinnitus, dan keluhan saluran cerna (Katzung, 2010). g. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi Isoniazid sebagai suatu agen tunggal diindikasikan dalam terapi tuberkulosis laten. Dosisnya sebesar 300 mg/hari (5 mg/kg/hari) atau 900 mg dua kali seminggu selama 9 bulan (Katzung, 2010). Kontraindikasi Kontraindikasi isoniazid pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap isoniazid itu sendiri. Isoniazid juga dikontraindikasikan pada pasien dengan penyakit hepar akut atau dulunya pernah melakukan pengobatan hepar (Becker, 2007). h. Contoh penulisan resep Jika berat badan pasien 53 kg dan obat diberikan sebulan, maka resepnya adalah : dr. Pradani Eva Adiningtyas SIP. G1A010097 Perumahan Berkoh Indah Gang 5, Purwokerto Telp. 085726xxxxxx

Purwokerto, 15 Maret 2012 R/ Isoniazid mg 300 Tab. No. XXX S 1.dd Tab I a.c Om. Pro Usia Alamat 3) Pirazinamid a. Jenis Aldinamide, Tebrazid (Lullmann, et al,2000). b. Farmakodinamik Pirazinamid bekerja secara bakterisid in vitro hanya pada pH asam. Aktivitas pirazinaid pada pH asam sangat ideal karena Mycobacterium tuberculosis bertempat di dalam fagosom yang bersifat asam pada makrofag. Basil tuberkel di dalam monosit in vitro dihambat atau dibunuh pada konsentrasi obat sebesar 12.5 mg/ml. Target pirazinamid yaitu gen asam lemak sintase I dari mycobacterium, termasuk biosintesis asam mikolat. Pirazinamid diubah menjadi asam pirazinoa