Laporan Pneumonia

download Laporan Pneumonia

of 13

  • date post

    24-Apr-2015
  • Category

    Documents

  • view

    95
  • download

    10

Embed Size (px)

description

laporan pneumonia

Transcript of Laporan Pneumonia

TES MAKROSKOPIS, TES RIVALTA, TES ANALISIS GAS DARAH LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK BLOK RESPIRASI

Disusun Oleh:Nama No. Stambuk Kelompok Pembimbing : Agung Perdana : 11-777-051 : () : dr. Ryzqa

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT PALU 2012

BAB I PENDAHULUAN

I.

Skenario 1 : Seorang laki-laki 25 tahun, mahasiswa kedokteran, datang ke dokter pembimbingnya untuk menyampaikan kalau ia tidak dapat mengikuti kegiatan di RS karena sakit sekaligus untuk konsultasi tentang penyakitnya. Ia mengeluh batuk berdahak yang hebat warna mukoid, kadang kuning dan disertai demam yang hilang timbul. Yang dialaminya sejak 2 minggu lalu. Selain itu ia juga mengeluh sakit kepala, myalgia, anoreksia, dan kadang-kadang diare. Suhunya mencapai 38,5 C, denyut nadi 100x/menit, tensi 115/70 mmHg, dan pernapasannya 20x/menit. Sebelumnya ia juga pernah menderita batuk dan beringus tapi sudah agak baikan setelah minum obat antitusif dan antibiotik. Ini dialaminya 1 bulan sebelum sakit yang sekarang dideritanya.

II.

Kata sulit : 1. Mukoid 2. Myalgia 3. Anorexia 4. Obat antitusif

III.

Kata Kunci : 1. Laki-laki 25 tahun 2. Batuk berdahak 3. Warna mukoid kadang kuning 4. Demam hilang timbul 5. Sakit kepala 6. kadang-kadang diare 7. Suhu 38,5o C, denyut nadi 100 x/menit, Tekanan darah 115/70, Pernafasan 20x/menit

8. Riwayat minum obat antitusif dan antibiotik IV. Pertanyaan 1. Bagaimana patomekanisme batuk berdahak, Demam, sakit kepala pada pagi hari, anorexia dan diare ? 2. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari sistem pernapasan ? 3. Bagaimana klasifikasi macam-macam sputum ? 4. Bagaimana pembagian batuk ? 5. Bagaimana hubungan penyakit terdahulu dengan penyakit sekarang ? 6. Bagaimana Diferensial diagnosa dari skenario ?

BAB II PEMBAHASAN

PNEUMONIA

I. Definisi Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dan bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.1,2,3,4,5 II. Etiologi Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, tersering disebabkan oleh bakteri. Kuman penyebab pneumonia yang tersering dijumpai berbeda jenisnya di suatu negara dan antara satu daerah dengan daerah lain pada satu negara, di luar RS dan di dalam RS, antara RS besar/tersier dengan RS yang lebih kecil. Bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia : Streptococcus pneumoniae, H. influenzae, L. pneumophilia, Klebsiella, pseudomonas, E. coli, Mycoplasma, Chlamydia, dll, sedangkan penyebab pneumonia yang bersifat non bacterial adalah tuberculosis, virus, fungi dan parasit. 1,2,3,4,5 III. Gambaran Klinis dan Klasifikasi Gambaran klinis pneumonia bervariasi berdasarkan faktor-faktor infeksi yang berperan pada pasien. Karena itu terdapat klasifikasi pneumonia, namun yang terbaik adalah klasifikasi klinis yang mengarahkan kepada diagnosis dan terapi secara empiris dengan mempertimbangkan faktor-faktor terjadinya infeksi yaitu faktor lingkungan pasien, keadaan imunitas pasien, dan mikroorganisme. Klasifikasi Klinis

1. Klasifikasi tradisional, meninjau ciri radiologist dan gejala klinis. Dibagi atas: a. Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris yang klasik antara lain berupa awitan yang aut dengan gambaran radiologis berupa opasitas lobus atau lobularis, yang disebabkan kuman yang tipikal terutama S. pneumoniae, Klebsiella

pneumoniae, atau H. influenzae. b. Pneuminia atipikal, ditandai oleh gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan gambaran infiltrate paru bilateral yang difus. Biasanya disebabkan oleh organisme yang atipikal dan termasuk Mycoplasma pneumoniae, virus, Legionella

pneumophilia, Chlamydia psitacci, dan Coxiella burnetti. 2. Klasifikasi berdasarkan lingkungan dan pejamu. a. Pneumonia Komunitas (PK), adalah pneumonia yang didapat di komunitas didefinisikan sebagai suatu penyakit yang dimulai di luar rumah sakit atau didiagnosa dalam 48 jam setelah masuk RS pada pasien yang tak tinggal dalam fasilitas perawatan jangka panjang selama 14 hari atau lebih sebelum onset gejala. Sebagian besar pasien yang menderita PK mengalami onset demam akut atau sub akut , batuk dengan atau tanpa sputum dan sesak napas.

Gejala lain yang juga sering dijumpai adalah kekakuan, menggigil, berkeringat, rasa tak enak di dada, pleuritis, kelelahan, mialgia, anoreksia, sakit kepala, dan nyeri perut. b. Pneumonia Nosokomial (PN), adalah penyakit yang dimulai 48 jam setelah pasien dirawat di RS, yang tak sedang mengalami inkubasi suatu infeksi saat masuk RS. Gejala dan tanda PN tidak spesifik namun satu atau lebih temuan klinis (demam, leukositosis, sputum purulen dan infiltrate paru-paru atau progresif pada radiografi dada) dapat muncul pada sebagian besar pasien. c. Pneumonia rekurens, terdapat dasar penyakit paru kronik.

d. Pneumonia aspirasi, terdapat pasien alkoholik dan usia tua. e. Pneumonia pada gangguan imun, pada pasien transplantasi, onkologi, AIDS.

3. Sindrom klinis 1. Pneumonia bakterial Diketahui bahwa kuman kelompok bakteri tertentu memberikan gambaran klinis pneumonia yang akut dengan konsolidasi paru, dapat berupa : a. Pneumonia bakterial tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumoni dan pneumonia lobar. b. Pneumonia bakterial tipe campuran dengan persentase klinis atipikal yaitu perjalanan penyakit yang lebih ringan dan jarang disertai konsolidasi paru. 2. Pneumonia non bakterial Dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan oleh Mycoplasma, Chlamydia pneumonia dan Legionella. Istilah sindrom pneumonia atipikal dipakai untuk merangkum pula bentuk lain dengan ciri-ciri gambaran klinis yang beraneka ragam dan gambaran radiologis yang menyimpang dari normal, refrakter terhadap terapi antibiotik standar, lambat dalam penyembuhannya, dan mempunyai tendensi untuk kambuh, yaitu yang disebabkan oleh mikobakterium, jamur, virus, atau mikroorganisme lain. 1,2,3,4,5 IV. Penegakan Diagnosis 1. Anamnesis

Ditujukan untuk mengetahui kemungkinan kuman penyebab yang berhubungan dengan faktor infeksi, meliputi evaluasi faktor

pasien/predisposisi, membedakan lokasi infeksi, usia pasien dan awitan. 2. Pemeriksaan fisis a. Awitan akut biasanya oleh kuman S. Pneumoniae, Streptococcus spp., Staphylococcus. Pneumonia virus ditandai dengan mialgia, malaise, batuk kering, dan nonproduktif. b. Tanda fisis seperti pada tipe pneumonia klasik bias didapatkan berupa demam, sesak napas, tanda-tanda konsolidasi paru (perkusi paru pekak, ronki nyaring, suara napas bronchial). Bentuk klasik berupa bronkopneumonia, pneumonia lobaris, atau pleuropneumonia. c. Warna, konsistensi, dan jumlah sputum penting untuk diperhatikan. 3. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan radiologis Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronchogram misalnya oleh Streptococcus pneumoniae;

bronkopneumonia, dan pneumonia interstisial. Distribusi infiltrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman aspirasi. Bentuk lesi berupa kavitas dengan air fluid level sugestif untuk abses paru, infeksi anaerob, gram negatif atau amiloidosis. Pembentukan kista terdapat pada pneumonia

nekrotikans/supurativa, abses, dan fibrosis akibat terjadinya nekrosis jaringan paru. b. Pemeriksaan laboratorium Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri ; leukosit normal/rendah dapat disebabkan oleh infeksi virus/micoplasma atau pada infeksi berat. Leukopenia menunjukkan depresi imunitas.

c. Pemeriksaan bakteriologis Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal, aspirasi jarum transtorakal. Torakosentesis, bronkoskopi, atau biopsi. d. Pemeriksaan khusus Titer antibodi terhadap infeksi virus, legionella, dan mikoplasma. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen. 1,2,3,4,5 V. Terapi 1. Antibiotik Dimaksudkan sebagai terapi kausal terhadap kuman penyebabnya. Dengan demikian terapi pneumonia dan bronchitis eksaserbasi akut adalah sama bila penyebabnya sama. - Penisilin G dosis tinggi 6 12 juta unit/hari - Ampicilin/Amoxcilin 3 4 x (500 1000) mg/hari - Eritromicin 3 4 x 500 mg/hari - Sefalosporin dosis sesuai jenis preparat - Cotrimoxazol 2 x (1 2) tablet 2. Terapi suportif umum a. Terapi O2 untuk mencapai PaO2 80 100 mmHg atau saturasi 95 96% berdasarkan pemeriksaan analisis gas darah. b. Humidifikasi dengan netribulizer untuk pengenceran dahak yang kental, dapat disertai nebulizer untuk pemberian bronkodilator bila terdapat bronkospasme. c. Fisioterapi untuk pengeluaran dahak

d. Pengaturan cairan. e. Ventilasi mekanis. 1,2,3,4,5 VI. Komplikasi 1. Efusi pleura dan empiema. Terjadi pada sekitar 45 % kasus. 2. Komplikasi sistemik. Dapat terjadi akibat invasi kuman atau bakteremia berupa meningitis. 3. Hipoksemia akibat gangguan difusi. 4. Pneumonia kronik yang dapat terjadi bila pneumonia berlangsung lebih dari 4 6 minggu. 5. Bronkiektasis1,2,3,4,5. VII. Prognosis Dipengaruhi oleh : 1. Umur. 2. Banyaknya lobus yang terkena. 3. Renjatan septik. 4. Gagal napas. 5. Mulainya terapi antibiotik. 6. Gagal jantung. 7. Gagal ginjal. 1,2,3,4,5

BAB III KESIMPULAN Jadi kesimpulannya bahwa Pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi paru yang merupakan salah satu penyebab seperenam kematian di Amerika serikat. Hal tersebut tidak mengejutkan karena (1) permukaan epitel paru secara terus-menerus terpajan berliter-liter udara yang tercemar; (2) flora nasofaring terus-menerus di aspirasi selagi tidur, bahkan oleh orang yang sehat; dan (3) penyakit paru lainnya yang umum terjadi menyebabkan parenkim paru rentan terhadap organisme virulen.

DAFTAR PUSTAKA

1. Aru W. Sudoyo, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Siti Setiati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jilid III Ed.5. Jakarta: Pusat penerbitan FKUI. 2009. (hal